Go To Hell

Go To Hell
Bab 30



Setelah mengetahui tentang Papah nya, sikap dan raut wajah Via berubah, dia lebih banyak diam sekarang, tidak seriang dan se ceria biasa nya, raut wajah nya menunjukkan rasa kecewa yang mendalam, dia belum bisa menerima segala perbuatan Papah nya atas apa yang baru diketahui nya.


Via tampak sedih, tak menyangka begitu menyakitkan apa yang sudah dialami Mama nya, Dia tak habis fikir mengapa Papah nya tega berbuat keji, padahal apa yang di lakukan Mama nya hanya demi membantu ekonomi keluarga.


Via juga tak dapat menerima kenyataan jika ia memiliki seorang bapak yang berpenyakit kejiwaan, seorang psikopat, yang bisa saja menjadi seorang pembunuh.


Via tak dapat membayangkan semua keburukan keburukan yang bisa saja terjadi pada Papah nya.


Setiap Via berangkat kerja, dia selalu menunjukkan wajah yang menyimpan duka mendalam, tubuh nya lesu, Sita yang melihat keadaan anak nya itu jadi merasa bersalah, namun, dia juga tak bisa berbuat apa apa. Karena memang sudah seharus nya anak nya itu mengetahui kebenaran yang terjadi, mengapa kedua orang tua nya bercerai.


Di Suatu hari, Sita melangkah gontai mendekati Ibu nya yang sedang menyapu halaman rumah mereka. Melihat Sita datang, Jumirah menghentikan pekerjaan nya, menatap wajah anak nya yang tampak murung.


"Aku jadi merasa bersalah sama Via."


" Dia jadi berubah setelah tau kisah papah nya."


Ujar Sita, Wajah nya sedih, penuh rasa bersalah, Jumirah melangkah mendekati nya.


"Biarkan Via sendiri saat ini sampai dia tenang dan bisa menerima kenyataan."


Ujar Jumirah menenangkan Sita yang tampak gundah itu, dia tak tega melihat anak nya bersedih.


Di tempat kerja nya, Via lebih banyak melamun, dia tidak bisa focus dan konsentrasi pada pekerjaan nya, sejuta pertanyaan mengelayut dalam benak fikiran nya, dia masih juga terus memikirkan tentang kondisi yang di alami keluarga nya.


Telepon Via berbunyi, dia melirik pada telepon nya, melihat siapa yang menelpon. Di layar hapenya tertulis "Papahku-My Hero". Ternyata telepon dari Papah nya.


Via melihat ke layar hape nya, membiarkan hape nya terus berbunyi, lalu telepon pun mati, tak lama hape nya berbunyi lagi, Via tetap membiarkan nya, tidak mau mengangkat telepon itu.


Via seperti nya sedang enggan untuk bicara dengan Papah nya, karena masih teringat akan cerita Mama nya. Dia sedang berusaha menghindar dari Papah nya.


Setelah hape tak berbunyi lagi, Via cepat mematikan hape nya, agar Papah nya tidak bisa menghubungi nya. Meletakkan hape nya di laci, dia menghela nafas berat.


Di tempat lain, Randi berusaha mencoba untuk terus menelpon Via, tapi terdengar dari seberang hape memberitahukan bahwa nomor yang di tuju tidak aktif.


Randi heran, gak biasa nya anak nya begitu, dia tahu, selama ini jika dia menelpon anak nya, pasti langsung diterima.


Randi berfikir, ada apa? Kenapa hape anak nya mati?


"Aneh, gak biasa nya telpon ku gak diangkat nya."


Gumamnya.


"Ah, mungkin dia lagi sibuk dikerjaan nya, nanti ku coba lagi."


Ujar nya, lalu menyimpan telepon nya ke dalam kantong celananya dan melangkah berjalan menuju Mobil nya.


Hari berganti hari, Setiap hari juga, Setiap kali Randi menelpon Via ,dia tak bisa tersambung, selalu tak terjawab dan bahkan hape Via sering di matikan sekarang.


Randi menjadi bingung, atas perubahan anak nya itu, ada ke khawatiran di raut wajah nya, dia cemas sedang terjadi sesuatu hal pada anak nya.


Randi mengetuk pintu rumah, dia saat itu datang ingin menemui anak nya, karena rasa khawatir nya pada Via , dia ingin tahu keadaan anak nya.


Pintu rumah terbuka, Jumirah berdiri tersenyum di depan pintu menatap Randi.


"Maaf bu, Via nya ada?"


Randi langsung bertanya begitu Jumirah membuka pintu rumah nya.


"Via kerja, belum pulang."


"Via baik baik aja kan bu? Dia sehat kan?! Gak terjadi apa apa sama Via kan?!"


Ujar Randi memberondong pertanyaan pertanyaan pada Jumirah karena rasa khawatir nya pada anak nya.


Randi memang begitu sayang pada anak semata wayang nya itu, bagi nya, Anak nya itulah satu satu nya penyemangat hidup nya, dia bisa bertahan hidup dari semua yang sudah dialami nya karena anak nya.


"Via sehat kok, dia baik baik aja."


Ujar Jumirah tersenyum, mendengar penjelasan Jumirah, Randi pun lega.


"Baguslah, Saya khawatir, karena beberapa minggu ini hape nya gak bisa saya hubungi."


Ujar Randi.


"Oh, hape nya rusak, belum sempat di service kata nya."


Ujar Jumirah berbohong pada Randi, Padahal Jumirah tahu bahwa hape Via tidak rusak, itu semua dilakukan nya untuk menghindar dari Randi. Hanya saja, Jumirah tidak ingin melukai hati Randi jika dia menjelaskan yang sebenar nya bahwa Via tidak mau bertemu dengan nya.


"Sudah lama hape nya rusak? Kenapa gak bilang, kalo bilang pasti saya beliin yang baru."


Ujar Randi, Jumirah cuma tersenyum saja menatap wajah Randi .


"Terima kasih bu, Saya pamit dulu."


Ujar Randi pamit pada Jumirah yang mengangguk pada nya, Setelah kepergian Randi, Jumirah pun langsung menutup pintu rumah nya.


Di lain hari, Randi tampak datang ke tempat kerjaan Via di sebuah Mall, dia berdiri menunggu Via pulang kerja malam itu.


Dari dalam Toko nya, Via melihat Randi sedang berdiri menunggu nya, Via pun menghela nafas nya. Lalu dia masuk ke dalam toko nya.


Beberapa lama Randi menunggu, dia tak melihat Via keluar dari toko nya, sementara toko tempat Via kerja sudah tertutup dan seluruh karyawan sudah pulang, Mall itu sepi, Randi heran.


"Kemana Via?"


"Apa aku gak liat dia keluar dari tokonya ya?"


Gumam nya berfikir, dia bingung kenapa tidak melihat Via , kemudian dia berbalik melangkah keluar dari dalam Mall yang sepi.


Sementara di tempat parkiran Mall, Via naik ke atas motor nya, dia sengaja keluar dari sisi belakang toko nya yang bisa tembus langsung keluar ke arah parkiran, sehingga Randi tidak tahu dia pulang.


Via sengaja berbuat hal itu karena menghindari bertemu dengan Randi.


Via belum bisa dan belum siap untuk bertemu Papah nya dan bersikap seperti biasa nya lagi saat ini.


Via menjalankan motor nya, keluar dari parkiran Mall.


Di Mobilnya, tampak wajah Randi kecewa karena tak berhasil bertemu dengan anak nya.


Wajah Randi muram, Semuram suasana Malam saat itu.


Sita tampak sedang berkemas, dia bersiap siap, merapikan koper nya, Via mendekati Mama nya.


"Hati hati di jalan ya Ma, kabari kalo udah sampe."


Ujar Via. Sita tersenyum memandang wajah Via, mencium kedua pipi anak nya dengan kasih sayang.


"Kamu jangan sedih lagi ya, harus tetap ceria, semangat!"


Ujar Sita.


"Mama juga, Mama wajib bahagia.Semangat!"


Ujar Sita tersenyum mesra pada Mama nya yang membalas senyum nya. Mereka berpelukan.


"Mama berangkat sekarang ya, gak enak kelamaan taksi nya."


"Iya Ma, nanti kalo Via dapat izin cuti, Via nyusul Mama."


Ujar Sita, Mama nya mengangguk tersenyum, lalu mengangkat koper nya, melangkah keluar rumah .


Di halaman rumah, Jumirah sudah menunggu nya, Sita menghampiri Ibu nya, memeluk nya dengan kehangatan.


"Baik baik di sana ya."


Ujar Jumirah, Sita mengangguk tersenyum pada Ibu nya, lalu melihat pada Via yang melambaikan tangan tersenyum pada nya, Sita lalu melangkah menuju Taksi, memasukkan koper nya ke bagasi, lalu masuk dan duduk di jok belakang Mobil. Beberapa saat Mobil pun pergi meninggalkan rumah itu di iringi tatapan wajah Via yang menyimpan kesedihan pada Mama nya.


Via sedih, karena trauma dan takut bertemu Papah nya, Mama nya terpaksa mengungsi pergi jauh, menghindar dari bertemu dengan Papah nya.


Jumirah merangkul Via yang berdiri tercenung, dia tersenyum menatap wajah Via, mengajak nya untuk masuk ke dalam rumah nya, Via pun mengikuti Nenek nya masuk kedalam rumah.


Di Lokasi Syuting, tampak Randi tidak bisa focus pada adegan yang dikerjakan nya hari itu, dia tampak lebih banyak termenung, Kru nya heran melihat sikap nya, tapi tak ada yang berani menegur dan mengingatkan nya.


Tak lama Randi tersadar dari lamunan nya, dia menarik nafas nya, berdiri dari duduk nya.


"Kita break dulu hari ini ya, Saya gak fit."


Ujar nya lalu berjalan meninggalkan set, Kru dan pemain bingung, saling pandang karena tiba tiba Randi menghentikan proses syuting, tapi mereka juga tidak bisa protes akan keputusan Randi sebagai Sutradara.


Randi melangkah gontai ke mobil nya, masuk ke dalam mobil, dia tercenung sejenak, menghela nafas nya, lalu menyalakan mesin mobilnya, untuk kemudian menjalankan mobilnya, pergi meninggalkan lokasi syuting begitu saja.


Mobil Randi berhenti di depan rumah Sita, dia terdiam sejenak, menatap ke arah rumah, menghela nafas, lalu dia mengambil sebuah bungkusan plastik yang di dalam nya ada sebuah kotak berisi sesuatu, dia lantas mengambil secarik kertas, menulis sesuatu di kertas itu, Kemudian dia keluar dari dalam mobilnya, Melangkah menuju rumah Sita untuk menemui anak nya.


Randi mengetuk pintu rumah Sita, tak terdengar sahutan, sepi, tidak ada siapa siapa, Randi mencoba mengetuk pintu rumah itu lagi.


"Vi...Viaa... Ini Papah nak, Papah kangen sama kamu."


"Via sehat kan? Papah pengen ketemu kamu nak, kamu ada di rumah kan?"


Ujar nya sambil terus mengetuk pintu rumah itu, tapi pintu tetap terkunci, tak ada suara jawaban dari dalam rumah, Randi menghela nafas nya, raut wajah nya menyiratkan kesedihan, ada rasa rindu dihati nya.


Randi lalu meletakkan kantong plastik berisi kotak didalam nya, dia menggantungkan nya di handel pintu rumah, Lalu dia memasukkan kertas yang tadi sudah di tulis nya kebawah celah pintu rumah.


"Papah bawain hadiah buat kamu, semoga kamu suka nak."


Ujar nya, lalu berbalik melangkah pergi meninggalkan rumah itu, Randi melangkah gontai berjalan menuju ke Mobil nya. Tak sadar, air mata menetes di pipinya, dia menyadari, bahwa anak nya sedang berusaha menghindar dari nya, tapi dia tak tahu, kenapa anak nya tiba tiba berubah sikap dan menghindari diri nya.


Randi melangkah gontai masuk ke dalam Mobilnya, lalu menjalankan mobilnya, pergi dari rumah itu.


Di dalam rumah, di depan pintu, Via terduduk di lantai dalam rumah nya, menangis tersedu, mengambil kertas yang diberikan Randi pada nya, dia membaca tulisan di kertas itu.


"Papah sangat rindu pada kamu nak, Papah gak bisa tenang sebelum melihat dan bertemu kamu, Papah kangeeen kamu. Kenapa Via gak mau ketemu Papah? Kalo Papah punya salah, Maafin Papah nak, Maafin Papah kalo Papah gak sadar pernah menyakiti hati kamu.Papah sayang kamu selama nya, Kamu penyemangat hidup Papah."


Via menangis membaca tulisan di kertas itu, dia serba salah, tak berdaya, hanya mampu menangis yang bisa dilakukan nya saat itu. Dia memeluk kertas yang berisi tulisan Papah nya itu, menangis sedih.


Nenek nya yang melihat Via meratap dengan tangisan nya mendekati nya, memegang bahu Via, membelai nya, memberi ketenangan.


"Maafin Via Pah, Maafin Via. Maafin Via kalo buat Papah terluka dengan cara Via ini."


"Maafin Via Pah, Via gak bisa ketemu Papah."


Ujarnya dalam tangisan sedih nya, Jumirah berdiri dan membuka pintu rumah nya sedikit, dia melihat ada bungkusan plastik tergantung di handel pintu, Jumirah mengambil bungkusan itu, lalu menutup kembali pintu rumah dan mengunci nya.


Jumirah mengambil kotak yang ada didalam bungkusan plastik itu, melihat kotak berisi hape baru, Jumirah memberikan nya pada Via.


"Papahmu beliin hape baru buat kamu."


"Dia percaya kalo nenek bilang tempo hari hape kamu rusak jadi gak bisa terima telpon dari nya."


Jumirah meletakkan kotak berisi hape baru itu di lantai, didepan Via, dia melihat ke kotak hape itu, kembali menangis.


"Papahmu benar benar sangat perhatian dan menyayangi kamu Via."


"Maafin Papahmu, Jangan tambah lagi luka di hati nya."


Ujar Jumirah pada Via yang masih tetap menangis itu, dia tak bisa berkata apapun juga, hanya tangisan nya yang pecah, rebah dalam pelukan nenek nya. Jumirah mengelus rambut Via lembut, memberikan ketenangan pada nya.


"Sudah ya... kamu jangan nangis lagi, jangan terus terusan larut dalam kesedihan."


Ujar Jumirah terus menenangkan Via agar menghentikan tangisan nya itu.


Randi turun dari Mobilnya, lalu melangkah berjalan meninggalkan mobilnya dengan langkah gontai, menyusuri lorong jalanan yang diterangi lampu jalan , Cuaca Malam itu dingin, sedingin hati Randi saat itu, Angin dengan kencang nya berhembus menerpa wajah Randi yang kusam dan kelam, seakan menampar nya, wajah Randi tampak mendung dipenuhi kesedihan, Langit pun Mendung, seakan mengikuti suasana hati nya saat itu, petir menggelegar dengan keras nya, mengiringi langkah gontai Randi menyusuri lorong jalanan itu.


Di tepi Jalan, langkah Randi terhenti, dia berdiri menatap tajam ke depan, air mata nya menetes di pipi nya, kesedihan sedang bergelayut manja didalam diri nya, tangis sedih karena menahan rasa rindu yang dalam pada anak nya tak tertahan kan, Randi tak tahu harus bagaimana mengatasi semua rasa itu.


"Aaaaaaggggghhhhhggghhh!!"


Tiba tiba Randi berteriak sekeras kerasnya di tepi jalan yang sepi itu, menumpahkan segala rasa yang dirasakan nya menumpuk di dalam dirinya. Lalu dia terjatuh tersungkur duduk di aspal jalanan.


"Maafin Papah nak, kasih tahu papah, apa salah papah sama kamu, jangan diam dan menghindar dari Papah, Papah gak bisa tenang tanpa melihatmu."


Ujar nya menangis sedih, meratapi dirinya itu, begitu sakit rasa nya dia tak bisa bertemu dengan anak nya yang begitu dirindukan dan disayangi nya.