Go To Hell

Go To Hell
Bab 64



   Dikantornya, Gunawan sedang mencari informasi tentang Rizal dan Via, dia ingin mengetahui lebih banyak lagi tentang siapa sebenarnya Rizal, dan apa hubungannya dengan Via maupun Randi, apa tujuannya menyelamatkan nyawa paman Mulyono saat Randi datang ingin membunuhnya.


Dari data yang di dapatnya, ditemukan sebuah kebenaran tentang Rizal, Gunawan membaca lembaran kertas yang telah di printnya, berisi tentang catatan data dan riwayat hidup Rizal.


Ekspresi wajah Gunawan kaget begitu membaca dan mengetahui bahwa ternyata Rizal adik kandung Randi, dari data itu diketahui bahwa Rizal lebih muda empat tahun dari Randi.


Yang membuat Gunawan lebih kaget lagi, ternyata Rizal punya riwayat hidup daftar hitam, dia pernah dipenjara selama 2 tahun karena kasus penganiayaan kedua temannya hingga mengakibatkan cacat. Gunawan mengernyitkan keningnya, dia berfikir, dia lalu menemukan jawaban bahwa Via adalah keponakan Rizal , adik kandung Randi, bapak Via.


Gunawan mencoba berfikir mencari tahu hubungan ke tiga orang tersebut berada di Klaten.


Gunawan berfikir, dia ingat bahwa kedatangan Via nemui Yana dengan tujuan untuk melindungi Yana dan mencegah papahnya agar tidak melakukan pembunuhan terhadap Yana.


"Aku harus bertanya pada bu Yana, apa dia tau tentang Rizal ?" Ujarnya bicara sendiri sambil melihat lembaran kertas berisi riwayat hidup Rizal , dia menarik nafasnya, kemudian dia merapikan berkas berkas itu dan menyimpannya di atas meja kerjanya, kemudian dia segera pergi keluar dari ruang kerjanya.


   Yana tiba di depan rumah lamanya, dia turun dari ojek, melepas dan memberikan helm yang dipakainya kepada tukang ojek yang menerimanya, lalu Yana mengeluarkan selembaran uang lima puluh ribu rupiah, dan memberikannya pada tukang ojek.


"Ambil aja semuanya pak." Ujar Yana, melihat uang itu tukang ojek terlihat senang.


"Terima kasih bu." Ujarnya, Yana mengangguk lalu beranjak meninggalkan tukang ojek yang lantas pergi dari tempat itu, Yana memandangi rumah lamanya itu, dia melihat sekitarnya, suasana di sekitar rumah itu hening, sepi, tidak ramai seperti dulu saat dia tinggal di rumah itu bersama Randi dan anak anaknya, Yana menghela nafasnya, dia lalu mengambil ponselnya dari tasnya, merapikan tas senapan yang ada dibahunya. Yana menelpon Randi.


"Aku udah sampe, dimana kamu." Ujar Yana dengan wajah tegang.


"Apa ada yang liat kamu datang?" Tanya Randi dari seberang teleponnya.


"Gak ada, sepi, gak ada siapa siapa diluar sini." Ujar Yana diteleponnya.


"Oke, kamu masuk aja, garasi gak di kunci." Ujar Randi dari seberang telepon, Yana lalu mematikan teleponnya, memasukkan ponsel ke dalam tasnya, kemudian dia berjalan menuju garasi rumah yang berada disamping rumah, perlahan dia mendorong pintu garasi rumah lamanya itu, pintu garasi terbuka, Yana pun melangkah masuk ke dalam garasi rumahnya, di dalam garasi dia melangkah menuju pintu samping taman di dalam rumahnya,  pintu samping taman terbuka, Yana melangkah masuk ke dalam, melihat sekitar taman yang berada di dalam rumah, suasana sepi, tak ada Randi di situ, Yana melangkah masuk keruang makan, tak ada Randi, dia lalu melangkah ke ruang keluarga dan ruang tamu mencari Randi, tapi Randi tidak juga ditemukannya.


"Keluar kamu Randi, jangan sembunyi !" Teriak Yana pada Randi di dalam rumah, Yana terlihat kesal karena tidak juga menemukan Randi di ruang itu.


"Naiklah, aku ada di kamar atas !" Teriak Randi, mendengar suara teriakan Randi yang bergema dari lantai atas rumahnya, Yana segera menoleh ke lantai atas, dia lalu melepaskan tas senapannya, mengambil senapannya, meletakkan begitu saja tas senapan di lantai, dia memegang senapan, bersiap waspada mengarahkan senapannya ke depan, Yana melangkah berjalan menaiki anak tangga, menuju ke lantai atas rumah itu.


Setelah sampai di lantai atas, ruang itu terlihat gelap, karena seluruh ruangan tertutup, tak ada cahaya matahari sedikitpun yang masuk, Yana melangkah dengan hati hati sambil mengarahkan senapan berburunya ke depan, dia siap siaga jika sewaktu waktu Randi menyerang , dia akan menembak Randi, di ruang tamu lantai atas rumahnya itu tak ada Randi,  Yana semakin kesal karena tidak juga melihat Randi ada di situ, dia segera melangkah secara perlahan ke salah satu kamar, membuka pintu kamar secara perlahan, dia melihat ke dalam kamar, kosong, tidak ada Randi, lalu Yana jalan menuju kamar lain yang berada disamping kamar yang tadi dia lihat, di kamar itu tidak juga ditemuinya Randi, dia berjalan menuju kamar bekas kamar Sekar, anaknya dulu, dia buka pintu kamar, kosong , tidak ada Randi di dalam kamar, Yana berbalik, dia berfikir, tinggal satu kamar lagi, kemungkinan Randi berada di kamar kosong yang biasanya mereka isi dengan kardus kardus dan barang barang yang tidak terpakai, kamar itu lebih sering digunakan sebagai gudang dulu oleh Yana dan Randi, Yana melangkah menuju kamar tamu itu, dia membuka engsel pintu kamar, pintu terbuka sedikit, dengan ujung senapannya dia mendorong pintu itu hingga terbuka lebar, kamar itu gelap, Yana berdiri di depan pintu kamar tamu itu, dia melihat sosok orang duduk di kursi yang berada di ujung sudut kamar, dengan gerak cepat Yana mengarahkan senapannya, dia mengira bahwa sosok yang duduk di kursi itu Randi, dengan wajah geram penuh amarah, dia langsung menembakkan senapan ditangannya ke arah sosok orang yang berada di kursi dalam kamar, Yana menembak hingga empat kali, setelah itu, dia pun melangkah berjalan masuk ke dalam kamar tamu itu, dia ingin melihat apa yang terjadi dengan sosok orang yang ditembaknya itu.


"Sekarang, mampus kamu Randi." Ujar Yana tersenyum geram sambil berjalan mendekati sosok orang yang berada di kursi itu. Karena kamar itu gelap, dia tidak bisa melihat jelas sosok orang yang memakai topi hitam dan berpakaian hitam itu.


Saat Yana berdiri di depan sosok orang itu, dia mengambil topi dari kepala sosok itu, sosok orang itu terjatuh ke lantai, Yana syock dan kaget ketika melihat, ternyata sosok orang yang di kira Randi itu hanya sebuah boneka yang sengaja di letakkan Randi menyerupai dirinya untuk menjebak Yana.


Merasa dirinya dipermainkan dan di bodohi Randi dengan boneka itu, Yana kalap, dia marah.


"Kurang ajaaar ! Dimana kamu Randi, keluar kamu !! Temui aku Jahanaaaamm !!" Teriak Yana sambil mengarahkan senapannya, dia menendang dan menginjak injak boneka yang ada dilantai , meluapkan amarahnya yang memuncak, saat Yana berbalik hendak keluar kamar, saat itu juga Randi muncul dihadapannya, langsung menyergap Yana. Randi bersembunyi disudut kamar, tidak terlihat Yana karena kamar gelap dan Yana lebih focus pada sosok boneka.


"Hell...lo Yana...!" Ujar Randi , lalu dengan gerak cepat dia mendekap Yana sekuat kuatnya, lalu membius Yana dengan jarum suntik yang ada di tangan, jarum suntik itu sudah di isi Randi dengan obat bius, Yana yang diserang secara mendadak oleh Randi berusaha meronta, tapi pengaruh obat bius itu kuat, Yana pun seketika terkulai lemas, dia pingsan. Randi melepaskan pegangan tangannya dari tubuh Yana, membiarkan tubuh Yana jatuh ke lantai, Randi menatap wajah Yana yang pingsan terbaring di lantai, dia menyeringai buas menatap tajam pada Yana. Randi menggerakkan kepalanya, terdengar bunyi "Kreek" dari lehernya, Randi menyeringai, wajahnya terlihat sangat menyeramkan saat itu, dengan mata melotot, menatap tajam ke wajah Yana yang pingsan.


Gunawan yang tiba di rumah Yana segera turun dari mobilnya, dia cepat berjalan menuju rumah Yana, membuka pintu utama rumah Yana lalu masuk ke dalam rumah.


Di dalam rumah Gunawan segera melangkah berjalan ke ruangan dimana dia tahu Yana berada selama ini, Gunawan melangkah masuk ke ruang tempat biasa Yana duduk menunggu Randi, Gunawan tidak melihat Yana ada di situ, dia lalu cepat berjalan ke ruang lain, di ruang lain tidak ada Yana, Gunawan langsung berjalan menuju kamar Yana, dia membuka pintu kamar, tidak terkunci, dia lalu membuka pintu kamar, masuk dan melihat ke dalam kamar, kosong, Yana tidak ada di dalam kamarnya, dengan cepat Gunawan keluar dari kamar, berjalan ke belakang rumah Yana, dia membuka pintu dapur lalu keluar menemui petugas polisi yang berjaga dibagian luar belakang rumah Yana.


"Dimana bu Yana ?" Tanya Gunawan pada petugas polisi.


"Kami belum liat bu Yana ke dapur atau ke luar sini." Ujar petugas polisi pada Gunawan, mendengar itu Gunawan cepat berbalik masuk ke dalam rumah meninggalkan kedua petugas polisi yang saling pandang melihat Gunawan yang pergi dengan sikap anehnya.


Gunawan segera melangkah keluar dari dalam rumah Yana, dia mendatangi Mulyo yang berada di teras depan rumah Yana.


"Beliau belum keluar keluar rumah dari kemaren." Ujar Mulyo. Gunawan menarik nafasnya, perasaannya tidak enak, dia punya firasat bahwa Yana pergi diam diam dari rumahnya, cuma dia tidak tahu bagaimana caranya Yana keluar rumah tanpa diketahui petugas polisi yang banyak berjaga ditiap sudut luar rumahnya.


Gunawan berjalan cepat menghampiri Manto yang berada di depan pintu pagar halaman rumah Yana, wajah Gunawan terlihat tegang dan cemas.


"Kamu liat bu Yana pergi dari rumah ?" Tanya Gunawan pada Manto, petugas polisi yang berjaga di depan pagar halaman rumah Yana.


"Mobilnya ada di garasi, bu Yana gak pernah keluar rumah setau saya." Ujar Manto pada Gunawan.


Mulyo yang penasaran dengan sikap Gunawan yang bertanya tentang Yana segera berlari mendekati Gunawan.


"Sebenarnya ada apa pak ?" Tanya Mulyo pada Gunawan.


"Bu Yana gak ada di dalam rumah, sudah saya cari ke semua ruangan dan kamar, kosong." Ujar Gunawan.


"Mana mungkin, dari mana dia perginya ? Kan banyak petugas yang berjaga di luar rumahnya, kalo dia pergi, pasti kami melihat dan mencegahnya." Ujar Mulyo, Manto mengangguk, membenarkan apa yang disampaikan Mulyo pada Gunawan yang terlihat berfikir keras itu.


"Apa ada petugas yang berjaga di lantai atas loteng rumah ?" Tanya Gunawan pada Mulyo dan Manto yang berdiri dihadapannya.


"Gak ada , karena bu Yana melarang kami berjaga di dalam rumah, jadi petugas gak ada yang berjaga di lantai atas, petugas cuma berjaga di luar samping rumah." Ujar Manto pada Gunawan.


Gunawan segera berlari masuk ke dalam rumah Yana, Manto dan Mulyo saling pandang lalu lari mengikuti Gunawan.


Gunawan naik ke lantai atas rumah Yana, dia berjalan keluar ke teras lantai atas loteng rumah Yana, dia melihat sekitarnya, di sisi teras lantai atas itu, Gunawan melihat ke bawah, dia melihat ada dua petugas polisi berjaga, Gunawan lalu berfikir, mencari tahu bagaimana cara Yana pergi dengan menghindari para polisi. Pandangan mata Gunawan lalu melihat ke arah atap genteng rumah tetangga Yana, dia melangkah mendekat, mengamati jarak antara rumah Yana dan rumah tetangganya, Gunawan melihat di atap genteng rumah tetangga Yana, ada beberapa genteng yang pecah dan retak berantakan, seperti habis di injak orang, Gunawan menghela nafasnya, lalu berjalan ke sisi samping teras, melihat ke arah samping rumah tetangga Yana, dia melihat ada tempat pemakaman keluarga di samping dan belakang rumah tetangga Yana. Gunawan terlihat kesal, Manto dan Mulyo mendekatinya.


"Siaal ! Bu Yana berhasil membodohi kalian ! Dia kabur melalui atas rumah tetangganya itu." Ujar Gunawan, Mulyo dan Manto kaget, mereka saling pandang heran.


"Bu Yana melompat ke atap genteng rumah tetangganya, lalu turun dan jalan ke arah pemakaman keluarga, menyelinap pergi, dia sengaja pergi dari atas sini agar tidak ada petugas yang melihat dan mencegahnya." Ujar Gunawan.


"Aku yakin, dia pasti memaksakan dirinya pergi dengan cara nekat melompat dari atas rumah untuk menemui Randi." Ujar Gunawan.


"Kerahkan semua petugas, buat patroli dan mencari keberadaan bu Yana, lacak dimana dia melalui ponselnya, Kuncoro dulu udah memasang alat pelacak di ponselnya." Ujar Gunawan memberi perintah pada Mulyo dan Manto.


"Siaap. Laksanakan !" Ujar Manto dan Mulyo bersamaan, kemudian mereka segera berlari masuk ke dalam rumah Yana, Gunawan menarik nafas, dia kesal karena Yana di nilainya nekat dan tidak menghargai mereka sebagai petugas polisi yang selama ini berusaha melindungi dirinya.


Gunawan segera berbalik, melangkah masuk ke dalam rumah dengan wajah kesal dan kecewanya pada Yana.


   Di dalam taksi, Via terlihat sedang menerima telepon dari Rizal , sementara supir taksi online terus menyetir mobilnya.


"Aku otw Om, agak jauh dari tempatku, Om tetap berjaga jaga di situ, kabari aku lagi nanti jika terjadi sesuatu." Ujar Via dengan wajah dinginnya. Lalu dia menutup teleponnya, memasukkan ponsel ke dalam tasnya, lalu dia menatap keluar, ke jalanan, menempelkan pipinya ke kaca pintu mobil, tatapannya tajam jauh memandang jalanan. Ada sesuatu hal yang sedang bermain main dalam fikiran Via saat itu.


   Sementara itu, Yana terlihat sudah dalam keadaan terikat di kursi, Randi berdiri di hadapannya, menatap tajam pada Yana, dia menunggu Yana sadar dari pingsannya. Randi menyeringai, saat itu, bukan Randi yang normal seperti biasa, melainkan Sanur, kepribadian yang ada dalam diri Randi yang muncul dan berdiri dihadapan Yana dengan raut wajah yang menyeramkan.


Tak berapa lama kemudian, Yana mulai tersadar, dia membuka matanya secara perlahan, dia masih merasakan sedikit pusing di kepalanya akibat pengaruh obat bius yang di berikan Randi padanya, hingga membuatnya pingsan, setelah secara perlahan kesadaran Yana pulih, dia menyadari dirinya dalam keadaan terikat di kursi, lalu dia melihat Randi yang berdiri menyeringai di depannya, Yana melihat senapan berburu yang dibawanya tergeletak dilantai dengan kondisi sudah terbelah dua, Randi sengaja merusak dan mematahkan senapan Yana agar tidak bisa digunakan Yana, dengan kapak yang ada di atas meja, Randi mematahkan senapan itu, Yana melirik ke atas meja, dia melihat ada beberapa peralatan serta gergaji dan pisau, ada besi bulat, ada palu, ada gunting seng, dan sebagainya sejenis benda benda dan senjata tajam lainnya yang sudah dipersiapkan Randi.


"Akhirnya aku bisa mengantarkanmu ke neraka, berkumpul dengan anak anakmu." Ujar Randi menyeringai buas pada Yana yang menatapnya dengan wajah marah penuh kebencian.


"Bunuh aku...bunuh aakuuu, cepaaattt !!" Teriak Yana pada Randi yang tersenyum sinis menatapnya.


"Tenang aja Yana, aku pasti membunuhmu. Waktumu sudah dekat." Ujar Randi pada Yana.


Randi lalu mengambil sepotong besi dari atas meja, dia melangkah mendekati Yana, menatap Yana dengan tatapan tajam yang menyeramkan, Yana semakin muak dan jijik melihat Randi yang mendekat ke wajahnya, Yana meludahi Randi, Randi terdiam, wajahnya dipenuhi air ludah Yana, Randi semakin melotot, menatap tajam pada Yana, dia menyeringai geram.