Go To Hell

Go To Hell
Bab 42



Wajah Via menunjukkan kekecewaan yang sangat mendalam karena tidak bisa bertemu dengan papahnya atau pun bunda Yana, mantan istri papahnya. di dalam taksi, dia termenung duduk di jok belakang taksi, mobil melaju dijalanan, supir taksi melirik Via dari kaca spion depan mobilnya.


"Maaf mbak, sekarang mau saya antar kemana ?" Tanya supir taksi pada Via yang lantas menghela nafasnya.


"Antar saya ke Hotel Arjuna yang di jalan raya Solo-Jogja pak." Ujar Via datar sambil pandangan matanya nanar menatap keluar mobil.


"Baik mbak." Jawab supir taksi lalu menambah kecepatan mobilnya melaju dijalan raya.


Via melihat ke arah jalanan dari balik jendela kaca mobil, tatapan matanya kosong menyimpan kesedihan.


Pagi itu, Jumirah sedang berbicara di telepon dengan Sita, mamanya Via.


"Kok Via gak kasih kabar kalo udah sampe ketempatmu ?" Tanya Jumirah pada Sita.


"Memang Via udah berangkat ma? Kapan ?" Tanya balik Sita dari ponselnya.


"Loh, dia kemaren pamit berangkat sama mama, memangnya Via belum sampe disana ?" Tanya Jumirah menunjukkan rasa khawatir.


"Belum ma, kalo dia udah di sini, pasti ngabari mama." Jawab Sita, dia juga cemas karena anaknya belum ada kabar.


"Loh, jadi dimana Via sekarang ? Aduuh...Sita, mama jadi khawatir kenapa napa sama Via." Ujar Jumirah mulai sedikit panik dan cemas akan diri Via.


"Mudah mudahan dia baik baik aja ma, ga usah mikir yang negatif. Nanti Sita coba hubungi hapenya." Ujar Sita.


"Iya, nanti kasih tau mama ya." Ujar Jumirah lalu menutup teleponnya, dia menarik nafasnya, ada rasa kekhawatiran pada dirinya.


"Kamu dimana Via ?" Ujar Jumirah dengan wajah sedihnya.


Sementara Sita mencoba menghubungi ponsel Via, tapi ponsel Via tidak aktif, dia mencobanya sekali lagi, tetap ponsel Via tak dapat di hubunginya, Sita mulai cemas akan diri anaknya.


Sita lalu mengetik sebuah pesan di ponselnya.


"Kamu dimana ? kabari mama ya." Ketik Sita lalu mengirimkan pesan itu ke nomor telepon Via, dia menghela nafasnya, keresahan dan kecemasan muncul di raut wajahnya.


Via yang berada di kamar sebuah hotel di daerah Klaten terlihat sudah rapi. Dia sedang berfikir, apa yang harus dilakukannya sekarang? Kemana dia harus mencari keberadaan papahnya yang belum bisa dihubunginya. Via menarik nafas berat, lalu meraih ponselnya, mencoba menghubungi nomor telepon yang ada di kontak teleponnya. Tak ada nada panggil, nomor telepon tidak dapat dihubungi karena tidak aktif, Via kecewa, dia lalu mengetik pesan.


"Via udah di klaten sekarang, papah dimana? Via mau ketemu papah, segera balas." Ketik Via pada pesan itu, lalu mengirimkan pesan tersebut ke nomor telepon milik papahnya.


Setelah itu, Via mencari sebuah nama di kontak teleponnya, lalu memencet nomor telepon , mencoba menghubungi, dia mendengarkan nada panggil dari ponselnya. Tak lama, ponsel yang dihubungi Via tersambung, Via senang.


"Hallo? Bunda Yana ya?" Ujar Via di ponselnya. Terdengar suara menjawab dari seberang telepon.


"Iya, ini siapa ?" Jawab Yana dari seberang telepon dengan suara lemah.


"Bun, ini Via, Via sekarang di Klaten." Ujar Via dengan wajah senang karena teleponnya bisa terhubung dengan telepon Yana.


Yana yang menerima telepon dari Via dirumah paman Mulyono terdiam, dia berfikir sejenak.


"Via ? Via mana ?" Ujar Yana .


"Via anaknya papah Randi yang tinggal di depok Bun, masak lupa?" Jawab Via dari seberang teleponnya.


Mendengar itu, jantung Yana berdegup, dia tak menyangka Via menghubungi dirinya setelah sekian lama mereka tidak pernah berkomunikasi lagi. Yana terdiam, fikirannya menerawang. Terdengar suara Via dari seberang telepon.


"Buunnn...Halloo...Bunda Yanaa..." Ujar Via memanggil Yana dari seberang telepon, Yana tersadar.


"Oh, iya, iya. Sekarang kamu lagi dimana ?" Tanya Sita pada Via.


"Via sekarang di hotel Arjuna, Check in kemaren Bun, Bunda Yana dimana ? Via boleh ketemuan sama Bunda ? Via pengen ketemu." Ujar Via di ponselnya.


Yana menghela nafasnya, dia berfikir sejenak, terlihat raut wajahnya ragu.


"Kapan kita bisa ketemuan Bun ? Via mau ketemu Bunda Yana, ada hal penting yang harus Via sampaikan." Ujar Via dari seberang teleponnya.


Yana menghela nafasnya, dia berfikir , lalu kemudian dia bicara di ponselnya.


"Nanti Bunda kabari kamu kapan kita bisa ketemuan ya?" Ujar Yana dengan suara pelan dan lemah.


"Baik Bun, kabari Via ya, kasih tau juga waktu dan tempatnya nanti, biar Via bisa bersiap siap." Ujar Via di ponselnya.


"Iya, nanti Bunda kirim alamat ketemuannya." Jawab Yana datar lalu menutup teleponnya, dia menghela nafasnya.


"Apa tujuanmu datang ke Klaten ini Via ? Apa kamu juga sedang mencari papahmu ?" Gumam Yana berfikir.


Sementara itu Via terlihat wajahnya senang karena dia berhasil bicara dengan Yana , Lalu Via melihat pesan yang dikirimkan mamanya, dia sengaja tidak membuka pesan dari mamanya itu, menunda untuk membacanya.


"Maafin Via ma, Via bohongi mama, Via harus ketemu papah secepatnya, pasti nanti Via ngabari mama." Ujarnya , dia menghela nafasnya, lalu Via meletakkan ponselnya di meja rias yang ada di kamar hotel itu, dia hendak melangkah ke kamar mandi, ponselnya berbunyi, Via menghentikan langkahnya, berbalik lalu mengambil ponselnya, di lihatnya sebuah nomor yang tidak ada nama, tidak terdaftar di kontak teleponnya, dia memencet tombol telepon, menerima panggilan itu.


"Iya, siapa ya ?" Tanya Via di ponselnya.


"Ini papah nak, kamu dimana sekarang ?" Ujar Randi dari seberang teleponnya.


"Papah dimana? Via mau ketemu." Ujar Via di ponselnya.


"Iya nak, nanti papah kasih tau kamu ya, papah juga mau ketemu kamu, ada hal yang ingin papah sampaikan ke kamu selagi masih ada waktunya." Jawab Randi dari seberang teleponnya.


"Maksud papah ? Papah kalo kasih alamat yang benar dong pah, Via datang kealamat rumah yang papah kasih , tapi ternyata kata warga disana, rumah itu di jual dan pemiliknya sekarang orang Jakarta, rumah itu bukan lagi punya papah dan bunda Yana." Ujar Via bicara panjang lebar di ponselnya.


"Papah yang beli lagi rumah itu nak, papah sengaja pakai nama Sandi, mengaku dari Jakarta, Papah sengaja beli rumah itu buat warisan kamu nantinya, karena papah gak mau rumah itu jadi milik orang lain." Ujar Randi menjelaskan pada Via.


Via yang mendengar nama "Sandi" di sebut papahnya tersadar, dia ingat kalau warga yang ditemuinya bilang padanya bahwa nama orang yang membeli rumah papahnya bernama Sandi, Via menghela nafasnya.


"Tapi katanya rumah itu udah lama gak ditempati." Ujar Via lagi.


"Iya nak, papah memang gak tinggal dirumah itu, karena suatu hal." Ujar Randi dari seberang teleponnya.


"Karena papah sedang di kejar polisi ? Via udah tau semuanya pah, jadi gak usah merahasiakannya pada Via, Via mau nolong papah." Ujar Via pada papahnya.


Di tempat persebunyiannya, Randi yang sedang bicara dengan Via di telepon menghela nafasnya, raut wajahnya menunjukkan kesedihan ketika mendengar Via mengatakan bahwa dia sudah tahu tentang dirinya yang sedang di kejar polisi dan menjadi buronan, Randi tercenung.


"Paahh...Kasih tau Via, dimana papah sekarang." Ujar Via dari seberang teleponnya.


Randi menarik nafas berat, ada sesuatu yang di fikirkannya, dia lalu bicara lagi di telepon.


"Nanti papah pasti kabari kamu kalo waktunya tepat, sementara itu, papah akan kirimkan alamat dan nomor telepon serta nama seseorang, Kamu bisa datang menemui orang itu, nanti orang itu akan menjelaskan tentang keadaan dan kondisi papah." Ujar Randi sambil meneteskan air matanya, rasa rindu yang mendalam ada didalam dirinya, dia ingin segera bisa bertemu dengan anaknya itu, namun keadaan yang tidak memungkinkan, karena polisi sedang mengejarnya, mau tidak mau, dia harus membatasi ruang geraknya, dan mengurangi aktifitasnya keluar rumah, jika pun terpaksa harus pergi, dia menyamar.


"Ini nomor telepon papah yang baru ? Via save ya." Terdengar suara Via dari seberang telepon, Randi tersadar dari lamunannya mendengar suara anaknya.


"Jangan di save nak, itu nomor sekali pake, sengaja papah ganti ganti nomor biar gak ada yang tau dimana papah, nanti biar papah yang telpon kamu ya." Ujar Randi menjelaskan pada Via.


"Iya, Via tunggu kabar papah secepatnya." Ujar Via lalu menutup teleponnya.


Randi menghela nafas, dia berfikir sejenak, kemudian dia mengetik pesan, setelah selesai mengetik pesan, lalu dia segera mengirimkan pesan itu ke nomor telepon milik Via.


Di kamar hotel , Via menerima pesan yang dikirimkan papahnya, dia membaca pesan itu.


"Temui beliau, dia yang tau tentang kondisi papah sekarang, nanti kamu akan tahu semuanya." Begitu isi pesan yang di kirimkan Randi, di pesan itu tertulis sebuah nama seseorang dengan nomor ponsel yang bisa dihubungi beserta alamat lengkap dengan peta lokasinya, Via berfikir setelah membaca pesan papahnya, dia bertanya tanya pada dirinya, apa maksud papahnya mengirimkan alamat itu dan menyuruhnya untuk menemui orang tersebut? Via terdiam berfikir.


Randi tampak wajahnya sedih, dia menghapus air matanya, menatap kosong kedepan.


"Maafkan papah nak, papah bukan orang tua yang baik buatmu, maafkan papah nak, papah senang kamu menjadi anak yang baik, tidak seperti papah." Gumam Randi bicara pada dirinya sendiri.


Dirumah pamannya, malam itu Yana terlihat sedang diam membisu di kamar, dia sedang berfikir keras, berfikir dan mencari jawaban dari semua hal yang sudah terjadi pada dirinya, berfikir tentang Via yang tiba tiba muncul dan menghubungi dirinya serta ingin bertemu, setelah sekian lama tidak bertemu dan berkomunikasi Via hadir di kehidupannya, ada apa? apa tujuannya ? apa sebenarnya yang sedang direncanakan Via ? sampai kapan masalah ini terus menerus menghampiri dirinya? apakah dia bisa menjalani hidup dengan tenang nantinya ?


Begitu banyak pertanyaan pertanyaan yang bergelayut manja dalam benaknya, dan dia tidak bisa menemukan jawaban dari satu pun pertanyaan pertanyaan itu, hanya kebingungan, kecemasan, ketakutan yang ada dan dirasakannya, rasa rasa itu terus tumbuh subur didalam dirinya. Air mata kesedihan terus menerus membasahi dan menyirami kesedihan, kepedihan, kecemasan, ketakutan yang tertanam di jiwanya.


Di hari lainnya, Via terlihat berada di sebuah ruang kantor Dokter pribadi Randi, dia sengaja menghubungi dokter tersebut dan membuat janji bertemu sesuai dengan apa yang di suruh papahnya, Via duduk dihadapan dokter pribadi Randi, dokter yang selama ini memeriksa dan merawat Randi dari penyakit tumor otaknya.


"Sesuai permintaan pak Randi, saya memberikan file yang berisi hasil diagnosis dan penjelasan tentang penyakit tumor otak yang dialami pak Randi." Ujar Dokter pada Via yang terdiam, wajahnya menahan kesedihan mendengar penjelasan dokter.


"Sejak kapan papah terkena tumor otak Dok ?" Tanya Via dengan suara lirih menahan kesedihannya.


"Sudah lama, sudah tahunan, dan tumor itu semakin ganas menyerang, dengan kondisi pak Randi yang sekarang jarang melakukan terapi, akan sulit mengobatinya." Ujar Dokter pada Via , dia menghapus air matanya yang mulai jatuh di pipinya. Via semakin bertambah kesedihan pada dirinya mengetahui tentang kondisi papahnya. Dia sama sekali selama ini tidak pernah tahu, dan tidak pernah menyadari jika papahnya merahasiakan penyakitnya pada dia. Via begitu merasakan kepedihan, dan begitu sakit serta nyeri hatinya mengetahui begitu besar penderitaan dan jalan hidup yang dialami papahnya itu.


Via menghela nafasnya, menatap Dokter yang ada dihadapannya.


"Apa Dokter tau dimana papah saya?" Tanya Via dengan suara getir.


"Saya tidak tahu, beberapa bulan yang lalu, kami terakhir berkomunikasi, pak Randi hanya bilang, kalau anaknya nanti menghubungi saya, pak Randi minta agar saya menemui dan menjelaskan semua tentang penyakitnya." Ujar Dokter menjelaskan pada Via.


"Selama pak Randi merasakan sakitnya, dia harus bolak balik Jakarta Jogja hanya sekedar untuk menjalani pengobatan dan terapi dari saya." Jelas Dokter, Via menghela nafasnya. Dia paham sekarang, mengapa papahnya selama ini sering bolak balik ke Jogja, bahkan syuting pun memilih lokasi di Jogja sekitarnya, itu semua agar dia bisa sewaktu waktu datang berobat jika sakitnya mendadak kambuh.


"Terima kasih atas waktu dan semua penjelasan Dokter, saya pamit pulang Dok." Ujar Via mencoba tersenyum pada Dokter, senyumannya terasa getir, Dokter mengangguk.


"Iya, silahkan, senang bisa bertemu dan mengenal anak pak Randi, pak Randi beruntung punya anak yang baik dan peduli padanya." Ujar Dokter pada Via yang tersenyum getir menahan kesedihannya.


Via pamit keluar dari ruang Dokter, melangkah gontai di ikuti pandangan iba Dokter.


Di pinggir jalan, Via berdiri dan tercenung, dia menangis sedih, air matanya mengalir di pipinya, dia tak bisa membayangkan betapa besar penderitaan yang dialami papahnya, dia merasa menyesal tidak mengetahui lebih awal tentang penyakit papahnya, dia juga menyesal jika selama ini tidak punya waktu lebih dan lama untuk bersama papahnya, Via menangis pilu di pinggir jalan itu.


Tiba tiba ponselnya berbunyi, Via segera menghela nafasnya, menghapus air matanya, mengambil ponsel dari dalam tas, lalu menerima telepon itu.


"Bunda udah kirim alamat dan waktunya, kita bisa ketemu disana nanti." Terdengar suara Yana bicara di seberang teleponnya.


"Baik Bun, terima kasih ya." Ujar Via dengan suara yang habis menangis, telepon di tutup, Via membuka sebuah pesan yang dikirimkan Yana, membaca isi pesan itu, lalu dia menarik nafasnya, setelah membaca pesan dari Yana, Via pun membuka sebuah aplikasi , dia memesan mobil taksi online dengan tujuan hotel tempatnya menginap, setelah memesan mobil taksi online, dia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas, kemudian berdiri menunggu, beberapa saat dia berdiri dan menunggu di pinggir jalan itu, sebuah mobil berhenti di depannya, Taksi online yang di pesannya datang.


"Dengan mbak Via, benar ?" Tanya supir taksi online.


"Iya mas." Jawab Via lalu melangkah membuka pintu belakang mobil taksi online itu, kemudian taksi online berjalan meninggalkan tempat tersebut, Via duduk di jok belakang dengan wajah murung masih menyimpan kesedihan dan kepedihan di hatinya. Sepanjang jalan dia tercenung didalam mobil taksi online.


Di suatu hari, Yana terlihat duduk di sebuah kursi sebuah cafe, Yana menunggu, dia meminum jus yang di pesannya, Yana tak menyadari, jika saat itu, dirinya sedang di awasi oleh seseorang yang duduk bersembunyi dengan pakaian serba tertutup di sebuah sudut cafe, matanya menatap tajam ke arah Yana yang duduk santai di kursinya, Orang yang mengawasi Yana melirik sekitarnya, cafe itu dalam keadaan sepi, lalu orang itu merapikan masker wajah serta topinya, dia berdiri hendak melangkah, saat langkahnya sudah maju tiga langkah, tiba tiba dia menghentikan langkahnya, mengurungkan niatnya , tidak melanjutkan langkahnya, berdiri terdiam ditempatnya dengan tatapan mata yang tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat itu.