Go To Hell

Go To Hell
Bab 23



   Pihak kepolisian ada didalam ruangan rumah tempat ditemukannya mayat Herry.


Polisi mengamankan TKP ( Tempat kejadian perkara ) beberapa petugas forensik tampak sedang memeriksa seluruh TKP, Paramedis juga ada disitu ,Tubuh Herry diturunkan dari rantai yang mengikat lehernya.


Mayat Herry dibaringkan di lantai rumah kosong itu, mulut nya tampak luka sobek berdarah seperti digunting paksa, kuku kuku jari tangan nya terlepas semua, jari jarinya ada darah yang menghitam.


Pihak Forensik mengambil gambar mayat Herry.


Lalu beberapa petugas Paramedis datang membawa tandu, mengangkat tubuh Herry dan membawanya keluar dari ruangan itu.


Kapten Polisi mendekati tim kepolisian yang ada didalam ruangan.


"Sepertinya pembunuh berantai mulai lagi aksinya."


Ujar Kapten Polisi.


"Iya Kapten, dari luka luka yang ditemui pada mayat, ditemui kesamaan dengan korban satu tahun lalu."


Ujar Polisi 1.


"Iya, korban pertama bernama Riyadi, dan ada kesamaan pola juga dengan korban kedua bernama bandi."


Ujar Kapten Polisi.


"Kita harus bergerak lebih cepat lagi untuk menangkap pembunuh berantai itu, jangan sampai dia membunuh lagi."


Ujar Kapten Polisi.


"Siap Kapten."


Ujar Polisi 1.


"Dimana saksi yang melapor ?"


Tanya Kapten Polisi.


"Ada di luar Kapten, menunggu dimobil ambulance."


Jawab Polisi 2. Kapten Polisi pun segera melangkah keluar ruangan menemui saksi.


Diluar rumah kosong tak terpakai itu, duduk Yana dipinggir mobil ambulance ditemani Mas Badrun yang datang karena di telepon nya.


Tampak wajah Yana menunjukkan ketakutan, tubuhnya lemas. Mas Badrun tampak merangkul Yana untuk menenangkannya.


Kapten Polisi bersama Polisi 1 dan Polisi 2 berjalan mendekati Yana yang terlihat masih ketakutan itu.


"Bu Yana ?"


Tanya Kapten Polisi.


Yana mengangguk lemah.


"Bisa ibu jelaskan bagaimana ibu bisa datang ketempat ini ?"


Tanya Kapten Polisi pada Yana.


"Saya dapat alamat ini dari sebuah nomor gak dikenal dihape saya, katanya,kalo saya mau ketemu Herry datang ke sini."


Jelas Yana pada Kapten Polisi.


"Boleh saya lihat isi pesan dihape ibu ?"


Tanya Kapten Polisi.


Yana lalu dengan lemah mengambil hapenya didalam tas, kemudian memberikan hape nya pada polisi, Polisi 1 menerima hape itu.


"Kamu cek dan lacak nomor yang ada dihape ini."


Jelas Kapten Polisi.


"Siap Kapten."


Kata Polisi 1.


"Hape ibu untuk sementara kami bawa dulu untuk keperluan penyelidikan kami."


Ujar Kapten Polisi.


"Dan kami juga meminta ibu untuk datang ke kantor guna memberi keterangan lebih lanjut lagi."


Jelas Kapten Polisi.


"Baik Pak."


Ujar Yana.


"Kami permisi bu."


Ujar Kapten Polisi pada Yana.


Para Polisi pergi meninggalkan nya.


Tak lama petugas ambulance datang lalu menyuruh Yana untuk masuk kedalam mobil ambulance, Yana masuk kedalam mobil ambulance, Pintu mobil ambulance ditutup, Mas Badrun berdiri melihat kepergian mobil ambulance itu.


Badrun lalu melangkah ke mobilnya, masuk kemobil dan meninggalkan tempat itu.


   Di ruang tamu rumahnya Randi tampak menyetel musik dengan keras, Randi berdansa dilantai ruang tamunya mengikuti alunan musik yang ada.


Wajah Randi menyiratkan kebahagiaan, Randi memegang gelas ditangannya, sambil menari, memutar tubuhnya , Randi meneguk air minum yang ada didalam gelas itu.


   Yana terbaring lemah diruang rawat sebuah rumah sakit, Badrun menemani nya.


"Ini pasti perbuatan Randi Mas."


Ujar Yana pada Badrun.


"Jangan menuduh."


Ujar Badrun.


"Aku yakin Mas, sebelumnya, Randi tiba tiba memberikan hadiah souvenir keramik patung kaca padaku, lalu, dia mengirimkan photo photo Herry bersama Istri dan anaknya."


Ujar Yana lemah.


"Aku yakin, Randi udah lama mengawasi aku dan Herry."


"Dan firasatku bilang, Randi menculik dan membunuh Herry karena sakit hati."


Jelas Yana.


"Semua masih pradugamu, biarkan polisi yang menyelidiki kasus ini. Kamu cukup menjelaskan semua yang kamu tau dan alami saat nanti ditanya polisi."


Ujar Badrun.


"Jangan langsung kamu mengatakan Randi pelakunya, karena jika bukan, kamu bisa dituntut karena menuduh tanpa ada bukti."


Jelas Badrun pada Yana.Yana menghela nafasnya lemah.Menatap wajah Badrun.


"Tapi aku takut Mas, aku takut pulang kerumah."


"Apalagi,sebelum kematian Herry, beberapa hari sebelumnya ada bangkai ayam didepan rumahku."


"Itu seperti pertanda buruk buatku."


Ujar Yana pada Badrun.


"Terus, apa yang mau kamu lakukan?"


Tanya Badrun pada Yana.


"Aku minta tolong kamu Mas, buat jagain aku sama Dewi, sampe masalah ini beres dan pelaku pembunuh Herry ditangkap polisi."


Ujar Yana.


"Iya, aku akan jagain kalian. Nanti aku minta bantuan teman temanku buat nemani aku jagain kalian."


Ujar Badrun menenangkan Yana.


Air mata Yana mengalir dari pinggir kelopak matanya. Badrun tampak iba melihat apa yang dialami Yana itu.


   Di ruang rapat, Para Polisi yang menyelidiki kasus pembunuhan berantai sedang meeting.


Photo photo dari korban pertama Riyadi, korban kedua Bandi dilihat ulang Polisi, bekas luka jari dengan kuku terlepas, mulut rusak digunting paksa, dan bekas benda tumpul yang dipukul ke kepala korban. Photo mayat Herry pun ada disitu.


"Diantara korban korban ini ditemui kesamaan luka, sepertinya itu menjadi ciri dari si pembunuh berantai."


Ujar Polisi 1.


"Selain itu,ditiap tempat kejadian perkara , ada tulisan " Hell..Lo " ," Lo ke Neraka " ," Waktumu tiba."


Jelas Polisi 1.


"Dan tulisan itu juga ditemui di rumah korban pembunuhan sekeluarga, yakni istrinya korban Riyadi."


"Ditembok rumahnya ada tulisan yang sama."


Ujar Polisi 1 sambil menunjukkan photo photo yang ada tulisan "Hell...Lo..." di tiap tiap tempat kejadian perkara para korban.


"Artinya ,ini benar benar kasus pembunuhan berantai. Kita hampir menemukan polanya, dan mencari siapa pelakunya."


Ujar Polisi 1 menjelaskan.


"Bagaimana dengan korban Antok yang meninggal dirumah sakit ?"


Tanya Kapten Polisi.


"Oh iya Kapten, Korban Antok juga sepertinya dibunuh oleh pelaku yang sama, bukan meninggal wajar."


Ujar Polisi 1.


"Apa sebabnya ?"


Tanya Kapten Polisi.


"Ditemukan dibawah Lantai rusbang tempat tidur korban secarik kertas bertuliskan kalimat yang sama Kapten."


Jelas Polisi 2.


Kapten Polisi diam, berfikir sejenak, Menatap Photo photo korban, Lalu dia menatap anak buahnya.


"Artinya pembunuh berantai itu mengenal para korban?"


" Jika begitu, Pelaku sepertinya bukan orang jauh."


Ujar Kapten Polisi menyimpulkan dari semua hasil yang mereka temukan selama ini.


"Baik, mulai sekarang, selidiki orang orang terdekat dan panggil ulang para saksi dan tetangga tetangga korban semuanya."


Ujar Kapten Polisi.


"Siap Kapten."


   Di rumah Via,


Via sedang bersiap siap hendak berangkat kerja, Sita, Mamanya mendekati Via.


"Udah mau berangkat Vi ?"


Tanya Sita.


"Iya Ma."


Jawab Via.


Sita diam menatap Via, Via yang merasa ada yang aneh dengan sikap Mamanya lalu bertanya.


"Kenapa Ma ? Ada yang aneh sama baju Via ?"


Tanya Via pada Mamanya.


"Ah, nggak. cuma..."


Sita ragu.


"Cuma apa Ma ? Via Cantik ya ?"


Ujar Via menggoda Mamanya. Mamanya tersenyum memandang wajah anaknya itu.


"Pasti cantik kayak Mama."


Jawab Sita tersenyum juga. Beberapa saat kemudian, dengan menghela nafas berat Sita bertanya pada Via.


"Nak, kamu sering ketemu papahmu ?"


Tanya Sita .


"Gak sering sih Ma, kalo pas Via libur kerja aja. Kenapa Ma ?"


Tanya Via.


"Kamu jangan ajak Papahmu kerumah ini ya ?"


Ujar Sita pada Via yang menatapnya heran.


"Laah, emang kenapa gak boleh Ma?"


Tanya Via.


"Mama minta tolong sama kamu ya, Jangan suruh papahmu kesini, Mama gak mau ketemu."


Ujar Sita.


"Kok gak mau ketemu, emangnya kenapa sama Papah ?"


Tanya Via heran dengan perkataan Sita. Sita tampak wajahnya menyiratkan kecemasan.


"Mama belum bisa dan belum siap kalo ketemu papahmu."


Ujar Sita.


"Tapi kan papah..."


Via tidak melanjutkan ucapannya karena sudah langsung dipotong oleh Sita.


"Udah pokoknya turuti permintaan Mama ya , tolong banget."


Ujar Sita pada Via. tampak wajah Sita menyimpan ketakutan, Via yang melihat sikap Mamanya yang aneh itu lalu mengangguk.


"Iya deh, Via nurut."


Jawab Via tersenyum pada Sita yang terlihat lega sedikit mendengar jawaban anaknya itu.


"Ya udah Via berangkat dulu ya Ma."


Ujar Via lalu salim tangan pada Sita. Sita mengiringi kepergian Via yang berangkat dengan motornya, Sita menghela nafasnya berat. Wajahnya menunjukkan kecemasan, lalu dia menutup pintu rumahnya.


   Sepertinya Sita tidak bisa melupakan apa yang pernah dialaminya saat masih hidup bersama Randi, hal itu menjadi trauma berkepanjangan dalam diri nya. Apalagi sejak dia bertemu kembali dengan Randi setelah bertahun tahun tenang tanpa pernah bertemu dan melihat Randi, Sita menjadi parno, penuh rasa cemas dan takut, fikiran nya sering melamun.


Hal itu membuat dirinya tersiksa, Namun Sita berusaha untuk tetap tenang.


   Di kantor Polisi tampak Yana hadir sedang memberikan keterangan atas apa yang terjadi.


Kesaksian Yana sangat diperlukan Polisi, sebab Yana lah orang pertama yang menemukan mayat Herry.


Polisi mencatat semua penjelasan yang disampaikan Yana, dari menghilangnya Herry, Yana mendapat teror, Yana yang diberikan photo photo Herry yang menunjukkan kalau Herry sudah punya istri dan anak, sampai Alamat tempat mayat Herry ditemukan.


Yana juga menjelaskan bahwa Herry sempat marah pada Randi, mantan suaminya yang memberikan souvenir padanya. Setelah itu Herry menghilang.


Dari Penjelasan Yana Polisi pun dapat merangkum, Bahwa mereka harus memanggil Randi dan menanyakan hal itu pada Randi , Karena nama Randi disebut Yana.


Yana akhirnya pamit dengan petugas kepolisian setelah memberikan penjelasan yang lengkap.


   Di ruang kerja Kapten Polisi, Polisi 1 masuk kedalam dan menemui Kapten Polisi.


"Korban sebelumnya marah dengan mantan suami Saksi, bu Yana ."


Jelas Polisi 1.


"Dari keterangan tetangga tetangga sekitar korban ,saya juga mendapatkan informasi, bahwa keluarga Riyadi pernah ribut dan melabrak masuk kedalam rumah bu Yana ,saksi kunci dari korban Herry."


"Dan dari penjelasan warga yang sempat menyaksikan keributan itu, anak korban Riyadi bernama Antok sempat mengancam akan membunuh Randi kalo ketemu dijalan."


Jelas Polisi 1.


"Artinya, Randi bisa kita jadikan tersangka sementara ini."


Ujar Kapten Polisi.


"Iya Kapten, selain itu, Korban bernama Bandi yang mayatnya ditemukan di rawa jombor juga sempat bersitegang dengan Randi saat menjadi keamanan lingkungan."


Ujar Polisi 1.


"Masalahnya ?"


Tanya Kapten Polisi.


"Korban Bandi yang menjadi keamanan dengan kasar menegur Randi yang menerima tamu sampai tengah malam saat itu dirumahnya."


"Saya mendapat info ini dari warga yang mendengar dari Yana, Saksi korban Herry yang saat itu menjadi istri Randi, dari cerita warga itu, Randi tampak tersinggung dengan ucapan Korban Bandi yang menegur nya tidak dengan sopan santun ."


Ujar Polisi 1.


"Kalau begitu, segera lakukan  pencarian dan penjemputan Randi."


"Kerahkan tim untuk mencari keberadaannya."


Ujar Kapten Polisi.


"Siap Kapten."


Ujar Polisi 1 ,lalu mengangguk pamit dan keluar dari ruang Kapten Polisi.


   Dirumah Yana, Badrun menemani Yana, 2 orang teman nya bernama Bram dan Moses menunggu duduk diteras depan rumah Yana, berjaga jaga.


"Gimana kalo Randi nekad menyerang dan membunuhku Mas?"


Ujar Yana.


"Gak usah mikirin yang bukan bukan, kamu tenang aja, kan ada aku yang jagain."


Jawab Badrun pada Yana.


"Kenapa semua ini harus menimpa hidupku Mas ?"


Tanya Yana Lirih.


"Aku belum bisa melupakan sepenuhnya kematian Sekar anakku, udah muncul masalah baru yang membuatku seperti sedang bermimpi buruk,menakutkan."


Ujar Yana.


Badrun hanya bisa diam saja menatap Yana yang tampak cemas dengan keselamatan dirinya.


"Aku gak pernah berfikir apalagi mengharapkan, jika perceraianku bakal menjadi seperti ini."


"Aku hanya ingin tenang, ingin bahagia bersama anak anak, tapi kenapa malah masalah datang kepada keluargaku?"


Ujar Yana menangis. 


"Sudah, jangan nangis, semua sudah terjadi, sekarang kamu harus kuat, dan berfikir bagaimana caranya bisa terbebas dari semua ini."


Ujar Badrun pada Yana.


Yana menghapus air matanya, mengangguk lemah. Dewi yang berdiri dipintu kamarnya, melihat Mamanya ikut menangis sedih, Dewi menghapus air matanya , menatap penuh rasa kasihan pada Mamanya yang mengalami masalah besar ini.


   Saat itu, Dirumahnya, Sita yang sedang berjalan didapur nya kaget mendengar suara.


"Hell...Loo."


Panci yang dipegang Sita terlepas karena kaget melihat sosok pria yang tiba tiba berdiri didepannya, Sita mengenal suara itu, Ya, Suara Randi.


Saat Sita menatap wajah Randi yang menyeringai tajam padanya Sita ketakutan, belum sempat Sita lari ,Tangan Randi sudah meraih rambut Sita dan menariknya.


Sita yang hendak lari kesakitan karena rambutnya ditarik paksa Randi.


Sita meronta, Tapi cengkraman tangan Randi pada rambut Sita semakin kuat, menariknya paksa, tubuh nya berbalik dan terjatuh dilantai, dia meronta ronta menahan sakit, Randi tak perduli, menyeret nya.


"Kamu harus mati ."


Ujar Randi sambil menarik rambut panjang Sita. Sita diseret paksa Randi, Rambutnya ditarik terus sama Randi yang melangkah keluar dapur, membuka pintu dapur dan menuju kepekarangan belakang rumah Sita.


   Sita diseret terus oleh Randi yang tampak wajahnya dingin dan menyeringai kejam.


"Lepaskaaan, Lepaskan aku...Tolooonggg..."


Teriak Sita meronta ronta ,namun tak ada seorangpun yang datang menolongnya , Sita terus diseret, ditarik rambutnya menyusuri tanah tanah basah yang ada dipekarangan belakang rumahnya itu.


"Tolong, Lepaskan, jangan bunuh aku Randi, Tolong, Lepaskan aku!!"


Teriak Sita histeris ketakutan, Randi masih terus menyeret tubuh nya, Tak perduli dengan segala rengekan Sita.


Dipekarangan belakang rumah Sita, Randi menyeret tubuh Sita ke sebuah lubang yang cukup dalam .


Randi menarik Rambut Sita dengan paksa, berusaha agar Sita berdiri, Karena rambutnya ditarik keatas, dengan rasa sakit yang sangat dia pun berdiri mengikuti tarikan rambutnya yang dilakukan Randi.


Randi melotot tajam pada Sita, kemudian menyeringai, wajahnya sangat menakutkan, Sita semakin panik dan ketakutan.


"Jangaaan...tolong...demi Via...demi anak kita...tolong hentikan...jangan bunuh aku Randi,jangan bunuh aku.."


Ratap Sita memohon ampun, Tiba tiba tubuh nya dilemparkan Randi dengan cepat kedalam lubang yang ada ditanah pekarangan halaman belakang rumahnya itu.