
Randi meluapkan amarahnya, dia tidak dapat menerima kenyataan bahwa Yana menjadikan anaknya sebagai sandera. Dengan wajah penuh amarah dia mengambil ponselnya, menghubungi Yana kembali, tatapan matanya menyimpan amarah yang besar.
Saat terdengar suara Yana dari ponselnya, Randi langsung berkata pada Yana melalui telepon.
"Apa rencanamu dengan menjadikan anakku tawananmu ?" Tanya Randi geram.
Di sebuah kamar, Yana tersenyum sinis menerima telepon dari Randi, wajahnya menunjukkan kepuasan karena berhasil menyerang balik Randi.
"Kamu kira, cuma kamu yang bisa berbuat sesukamu ? Kamu sudah memberiku contoh, kalo kamu bisa menculik anakku Dewi, aku pun bisa menculik anakmu !" Ujar Yana dengan nada sinis.
"Aku gak akan mengampunimu jika kamu melukai Via !" Teriak Randi .
"Posisi kita sekarang imbang Randi, satu satu. Dan ingat ! Sekarang, aku yang memegang kendali, remote ada ditanganku sekarang, dan sewaktu waktu aku bisa menekan tombol remote dan...Buuuummm....meledak, tubuh anakmu hancur !" Ujar Yana tertawa senang, dia merasa menang.
"Keparaaaattt !! Jangan main main denganku, lepaskan anakku, jika tidak, aku akan memotong motong tubuh anakmu dan mengirimkan potongan tubuhnya kepadamu !" Teriak Randi meluapkan amarahnya di telepon pada Yana.
Di tempatnya, Yana tenang menanggapi semua perkataan Randi yang mengancamnya itu.
"Randii...Randiii... jangan kamu kira aku terus lemah dan bisa bertekuk lutut ke kamu . Aku tau, kamu sangat menyayangi anakmu, dan aku tau, kamu gak kan mau anakmu terluka." Ujar Yana diteleponnya.
"Jangan mengancamku dengan mengatakan kamu akan memotong motong tubuh anakku, karena aku akan melakukan hal yang sama dengan anakmu jika itu kamu lakukan !" Ancam Yana di telepon pada Randi.
Randi yang mendengar itu semakin kalap, dia tampak semakin marah pada Yana.
"Apa maumu sekarang ?" Tanya Randi di teleponnya.
"Tunggu kabar dariku, apa yang harus kamu lakukan selanjutnya nanti. Aku akan menyimpan nomormu agar bisa menghubungimu !" Ujar Yana lalu menutup teleponnya.
Mengetahui telepon dimatikan Yana, Randi semakin kalap, dia uring uringan, mengamuk marah.
"Aaaagggghhhhh, kepaarrraaaattt!!" Teriak Randi, suaranya keras menggelegar memecahkan keheningan di tempat persembunyiannya itu.
Sementara itu, terlihat wajah Yana menunjukkan kebahagiaan, dia merasa menang saat ini, dengan dijadikannya Via sebagai sandera, maka tak ada lagi yang harus di khawatirkan dia tentang Dewi, anaknya yang diculik Randi.
Mengapa Via bisa menjadi sandera Yana ? Apa yang terjadi sehingga Yana mengambil tindakan menjadikan Via sebagai sandera untuk menyerang balik Randi ?
Kita kembali ke beberapa jam sebelum Yana mengikat dan mengurung Via di kamar kosong yang ada di rumah pamannya.
Saat itu, setelah paman Mulyono pergi dari rumah menghadiri acara pertemuan, Yana melangkah dan berdiri disamping meja yang ada vas bunga diruang keluarga, sementara Via menutup pintu rumah, lalu melangkah menuju ruang keluarga tempat Yana berdiri.
Sikap Yana saat itu terlihat berbeda, ada rasa kebingungan dalam dirinya, dia berdiri tercenung di ruang keluarga, ada yang sedang di fikirkannya saat itu, Via melangkah mendekati Yana, melihat Yana yang seperti orang bingung dan cemas , Via mendekati dan bertanya padanya.
"Bunda sakit ?" Tanya Via, Yana menggelengkan kepalanya menatap wajah Via.
"Gak ada apa apa kok." Ujar Yana tersenyum pada Via.
"Oh, ya udah, Via mau ke kamar dulu ya bun, kalo bunda perlu, panggil aja Via." Ujar Via tersenyun pada Yana yang mengangguk.
Via melangkah meninggalkan Yana, tiga langkah Via berjalan, tiba tiba Yana dengan cepat tangannya meraih vas bunga besar yang ada dimeja dekatnya berdiri lalu memukulkan vas bunga itu ke kepala Via, vas bunga hancur, dan tubuh Via seketika ambruk ke lantai, pingsan, kepala Via terluka.
"Aku harus melakukan ini, karena ini satu satunya jalan mencegah papahmu berbuat nekat pada Dewi." Ujar Yana yang bingung melihat Via pingsan, dia bingung harus diapakan Via yang pingsan itu.
Yana berfikir sejenak, memutar otaknya, menyusun rencana, lalu dia menemukan ide, Yana pun kemudian memegang kedua kaki Via yang pingsan, dia menyeret tubuh Via dengan susah payah, dia sengaja menyeret tubuh Via karena tidak kuat untuk mengangkatnya.
Dengan susah payah Via menyeret tubuh Via ke kamar kosong yang ada di dekat ruang keluarga rumah pamannya itu, Yana membuka pintu kamar kosong yang tidak terkunci dengan lebar, lalu dia menyeret tubuh Via kembali masuk kedalam kamar kosong itu, setelah berhasil membawa Via masuk kedalam kamar kosong, Yana cepat menutup dan menutup pintu kamar, di dalam kamar kosong itu Yana berusaha mengangkat tubuh Via , dengan susah payah dia berhasil mengangkat tubuh Via dan mendudukkan tubuh Via di kursi yang ada di dalam kamar itu, lalu dengan cepat Yana lari keluar kamar.
Yana berlari kearah garasi rumah paman Mulyono , seorang polisi yang berjaga melihat Yana yang lari tergopoh gopoh masuk kedalam garasi heran. Dia melihat Yana yang tampak sedang mencari cari sesuatu, Yana melihat gulungan tali tambang ada di sudut garasi, dia mengambil gulungan tali tambang, saat Yana melihat ada pisau tergeletak dilantai, beserta linggis, Yana pun mengambil pisau dan linggis itu , dia kemudian bergegas lari masuk kedalam rumah, petugas polisi heran melihat sikap Yana itu, namun dia tidak berani untuk bertanya, petugas polisi kembali ketempatnya berjaga.
Yana masuk kedalam kamar kosong, dilihatnya Via masih belum sadarkan diri, dengan cepat Yana mengulurkan gulungan tali tambang yang dibawanya, dia mulai mengikat tubuh Via di kursi, setelah Via sudah terikat dengan kuat, Yana menatapnya, berdiri diam menunggu, Yana terus memandangi wajah Via, beberapa saat kemudian, Via mulai sadar, perlahan lahan dia membuka kedua matanya, samar samar dia melihat Yana berdiri di hadapannya, Via merasakan pusing dan sakit dibagian kepalanya, saat hendak memegang kepalanya yang sakit, Via kaget karena mengetahui tangannya terikat, dia sadar lalu melihat tangan dan kakinya serta badannya terikat di kursi . Via dengan jelas melihat Yana yang berdiri di depannya memegang pisau dan linggis di tangan kiri dan kanannya. Melihat itu Via kaget, dia menatap wajah Yana.
"Apa maksudnya ini bun ? Kenapa Via di ikat ?" Tanya Via bingung, mengapa Yana mengikatnya di kamar itu.
"Apa salah Via bun ? Tolong lepaskan Via." Ujar Via memelas pada Yana yang menatap tajam wajah Via.
"Salahmu, kamu berada didekatku, dirumah ini, dan itu membuatku mendapatkan ide, menjadikanmu jaminan ke papahmu yang menahan anakku." Ujar Yana pada Via.
"Apa salah Via sama bunda ? Tolong, lepaskan bun." Pinta Via, namun Yana tidak bergeming.
"Sebenarnya aku gak suka melihatmu ada di dekatku ! Tapi demi menghormati pamanku, aku membiarkanmu di sini." Ujar Yana yang membuat kaget Via.
"Aku berpura pura bersikap baik didepan paman dan lainnya padamu, sebenarnya aku jijik ! Melihatmu sama saja aku melihat papahmu ! Karena bagiku, kalian semua sampah busuk yang hanya mengganggu ketenangan hidupku dan keluargaku, membawa hama penyakit dalam diriku !!" Ujar Yana dengan nada tegas dan geram . Via termangu mendengar ucapan Yana itu.
"Sampah ? bunda bilang Via sampah ?" Ujar Via dengan wajah sedih menatap Yana, dia tak mengira mendapatkan hinaan seperti itu dari Yana. Via berusaha tenang.
"Selama kamu disini, didekatku, selama itu juga aku memikirkan satu rencana, bagaimana agar aku bisa menyingkirkan kamu dan papahmu dari kehidupanku !" Ujar Yana.
"Saat papahmu berbuat gila menculik Dewi, saat itu juga aku ingin melukaimu, menahanmu, dan mengancam Randi dengan menjadikanmu tawananku !" Ujar Yana.
"Sekarang saatnya tiba. Papahmu harus merasakan bagimana rasa sedih dan sakitnya melihat anak kesayangannya di culik, di ikat dan di siksa !" Ujar Yana dengan tatapan tajam.
Terdengar bunyi telepon dari ponsel Yana, dia segera mengambil ponsel dari kantong celananya, melihat ke nomor , nomor itu sengaja dinamakan Yana dengan nama " Setan " untuk menandakan Randi yang menelponnya. Yana tersenyum sinis . Dia mengangkat ponsel yang ada ditangannya, menunjukkannya pada Via yang terikat.
"Lihat, begitu papahmu tau anak kesayangannya dijadikan tawanan, langsung menelponku ." Ujar Yana tersenyum sinis merasa berhasil dengan rencananya, Via terlihat menatapnya dengan tatapan tajam.
Yana menerima panggilan telepon dari Randi di ponselnya.
Untuk kemudian , kelanjutannya seperti pada cerita sebelumnya, dimana Randi berbicara dengan Yana.
Kembali ke masa sekarang, pada saat ini.
Di kantor Bareskrim, Harun Rasyid, Kapten Polisi mendatangi Gunawan yang sedang berada di ruang kerjanya.
"Bagaimana , sudah ada hasilnya ?" Tanya Harun Rasyid, kapten polisi pada Gunawan.
"Belum Kapten, Kuncoro sedang mengambil berkas hasil lab dibagian forensik." Ujar Gunawan menjelaskan.
Tak berapa lama, Kuncoro masuk keruang kerja mendekati Gunawan dan kapten polisi.
"Hasilnya sudah keluar, dari hasil lab forensik, diketahui bahwa jejak sidik jari pada kayu yang ada di rumah bu Yana tempat dua korban pembunuhan ditemukan itu cocok dengan sidik jari Marwan, teman Randi." Ujar Kuncoro.
"Marwan ?!" Gunawan kaget mendengar itu.
"Bukankah Marwan itu pernah kamu panggil sebagai saksi kasus pembunuhan berantai yang terjadi di kampung bareng lor yang menewaskan Riyadi dan keluarganya ?" Ujar Kapten Polisi.
"Iya Kapten, dia pernah memberikan kesaksian, menguatkan alibi Randi saat itu." Ujar Kuncoro pada Harun Rasyid, kaptennya.
"Jadi selama ini yang membantu Randi sebagai kaki tangannya Marwan ? Kita benar benar sudah dipermainkan mereka." Ujar Kapten Polisi.
"Mereka benar benar penjahat profesional, semua dijalani dengan rapi dan bersih, tanpa cacat, dan sulit menemukan kelemahannya." Ujar Kapten Polisi.
"Bagaimana sidik jari Marwan bisa ditemukan ?" Tanya Kapten Polisi.
"Dari sepotong kayu yang dijadikan senjata kapten, kayu itu sepertinya dibuang Marwan setelah membunuh kedua korban dirumah bu Yana saat itu, dan mungkin, sebelum menjalankan aksinya, dia memegang kayu tanpa menggunakan sarung tangan." Ujar Kuncoro memberikan penjelasan pada kapten polisi.
"Kalau begitu, tunggu apalagi ? Segera tangkap Marwan dan bawa ke sini !" Ujar kapten polisi dengan tegas memberikan perintah.
"Siap, laksanakan !" Ujar Gunawan dan Kuncoro menuruti perintah kaptennya, lalu mereka segera pergi dari ruang kerja itu meninggalkan kapten polisi yang terlihat wajahnya kesal karena pihaknya belum juga bisa menangkap Randi sebagai pelaku pembunuhan berantai yang terjadi.
Di tempat persembunyiannya, Randi terlihat gelisah , mundar mandir di ruangan , wajahnya menunjukkan rasa marah yang begitu besar, tatapannya tajam, Randi berfikir, dia melihat ke ponselnya yang tergeletak di meja, menunggu dan berharap Yana segera menghubunginya dan memberitahukan rencananya. Randi tampak resah, dia kini sangat khawatir dan cemas akan diri anaknya, dia tidak ingin anaknya terluka, Randi merasa frustasi saat itu, dia berfikir, untuk melukai bahkan membunuh Dewi, anaknya Yana tidak mungkin dilakukannya, sebab, jika itu dia lakukan, bukan tidak mungkin Yana akan membunuh Via, dan Randi tidak ingin anaknya terbunuh. Randi pun berfikir mencari cara, harus bagaimana untuk bisa menyelamatkan anaknya dari tangan Yana.
Randi sama sekali tidak pernah menyangka dan menduga jika Yana punya rencana menjadikan Via sebagai target tawanannya untuk menyerang balik dirinya. Randi merasa terpojok, tidak bisa melanjutkan rencananya saat itu karena anaknya disandera Yana, dia cuma bisa menahan geram dan marah , dendam semakin berkecamuk dalam dirinya pada Yana yang telah berani menyandera bahkan melukai kepala anaknya hingga terluka, seperti yang dia lihat didalam video diponselnya, video yang sengaja direkam Yana lalu mengirimkan pada Randi, menunjukkan bahwa Via saat itu menjadi tawanan Yana, dari video itu terlihat jelas kepala Via yang berdarah, karena Yana saat itu mendekatkan kamera ponselnya ke wajah Via.
Randi murka, dia memukul mukulkan tangannya ke dinding ruangan , melampiaskan amarahnya .
Gunawan dan timnya mendatangi rumah Marwan, rumah itu terlihat kosong dan sepi, seorang tetangga lewat, Gunawan segera menghampirinya.
"Maaf pak, apa pak Marwan ada dirumah ?" Tanya Gunawan.
"Mungkin masih dipasar pak, beliau kan jualan ayam potong dipasar, biasanya sih kalo gak jam segini ya sorean sebelum maghrib pulangnya." Ujar Tetangga Marwan menjelaskan.
"Oh begitu, baiklah, terima kasih infonya pak." Ujar Gunawan tersenyum.
"Sama sama pak, mari, permisi." Ujar Tetangga pergi meninggalkan Gunawan dan timnya.
"Kita kepasar !" Ujar Gunawan memerintahkan kepada timnya, mereka lalu segera pergi dari rumah Marwan menuju pasar.
Di pasar yang sudah mulai sepi itu, Kuncoro ditugasi Gunawan bertanya pada pedagang pedagang yang berjualan dipasar, seorang pedagang yang mengenal Marwan menunjuk ke arah sebuah kios yang berada disudut pasar, Kuncoro pun berterima kasih dan kembali untuk memberikan laporan pada Gunawan yang menunggunya.
"Kiosnya di sudut itu, nama kiosnya Kios Eka." Ujar Kuncoro.
"Ayo, kita kesana ." Ujar Gunawan, Kuncoro mengangguk, mereka segera berjalan ke arah kios Marwan.
Setibanya Gunawan dan tim di kios Marwan, Gunawan mendekati Eka, istri dari Marwan yang ada di kios dan sedang berbenah untuk menutup kiosnya.
"Maaf bu, apa benar ini kiosnya pak Marwan ?" Tanya Gunawan.
"Iya, betul. ada apa ya pak ?" Tanya Eka memperhatikan Gunawan dan timnya satu persatu, dia heran kenapa banyak orang yang mencari suaminya.
"Apa pak Marwan ada didalam ?" Tanya Gunawan.
"Suami saya sedang pergi dari pagi gak ada di kios." Ujar Eka, istrinya Marwan.
"Maaf bu, boleh kami melihat kedalam kios ?" Ujar Gunawan, dia tak percaya dengan perkataan Eka, dan hendak mencari kedalam kios, pikirannya mungkin saja Marwan ada didalam kios bersembunyi.
"Silahkan saja di lihat kedalam kalo gak percaya." Ujar Eka dengan wajah bingung, dia bertanya tanya, apa yang dilakukan suaminya hingga banyak orang datang mencarinya. Gunawan perintahkan dua polisi untuk memeriksa ke dalam kios, ke dua polisi bergegas masuk kedalam kios.
Di kejauhan, Marwan yang mengendarai motornya melaju dipasar itu, saat dia menuju ke arah kiosnya, seorang pedagang dipasar , teman Marwan menghalangi motor Marwan.
"Tunggu Wan, stop! Ada banyak polisi nyari kamu." Ujar pedagang, teman Marwan.
"Polisi ?" Ujar Marwan kaget.
"Iya, tuh, disana, mereka sedang di kiosmu. Ada apa sih Wan ? Tumben polisi nyariin kamu, ada masalah ?" Tanya pedagang , teman Marwan, dia ingin tahu.
"Aku aja gak ngerti maksud polisi itu datang nemuiku." Ujar Marwan, dia melihat ke arah kiosnya, dari kejauhan itu dia bisa melihat banyak polisi sedang bicara dengan istrinya di depan kios.
"Aku pulang dulu. Nanti lagi ke sini jemput istriku." Ujar Marwan memutar balik motornya lalu pergi dari pasar itu, teman Marwan yang melihat Marwan pergi begitu saja heran. Dia lalu melangkah mendekati kios Marwan.
Kedua polisi keluar dari dalam kios, mereka memberitahu kalau didalam kios tak ada Marwan, pedagang, temannya Marwan datang mendekati Gunawan dan tim.
"Maaf pak, bapak nyari pak Marwan ya ? Barusan orangnya ada, tapi mutar balik lagi terus pergi dengan motornya ." Ujar pedagang, teman Marwan. Eka melotot menatap wajah pedagang itu yang memberitahukan keberadaan Marwan, dia kesal, namun tak bisa berbuat apa apa.
"Pergi kearah mana pak ?" Tanya Gunawan pada pedagang, teman Marwan .
"Kearah barat sana pak." Ujar teman Marwan menunjukkan ke arah perginya Marwan.
"Ayo kejar." Ujar Gunawan pada timnya yang lantas bergegas untuk mengejar Marwan.