Go To Hell

Go To Hell
Bab 40



Via membuka pesan yang terkirim di ponselnya, dia membaca isi pesan yang diterimanya , pesan itu di kirim papahnya.


"Ini alamat tempat tinggal papah selama di jogja ya nak." Bunyi isi pesan wa dari Randi , di pesan itu juga Randi melampirkan peta lokasi rumah. Via mengetik dan membalas pesan papahnya.


"Oke pah, makasih ya." Jawab Via membalas pesan Randi, lalu dia memasukkan ponsel kembali ke dalam kantong celana jeansnya.


Sementara itu, Randi yang masih bersembunyi di tempat persembunyiannya menelpon seseorang.


"Jalani misi berikutnya sesuai yang saya katakan." Ujar Randi bicara di ponselnya, lalu kemudian dia menutup teleponnya, meletakkan ponsel di atas meja, Randi mengambil sebatang rokok dan membakarnya, dia menikmati rokoknya.


Malam itu, hujan turun dengan derasnya, suasana sekitar perumahan tempat tinggal Yana terlihat sepi, tidak ada warga yang keluar rumah dikarenakan saat itu hujan dan dingin, suara petir menggelegar sahut sahutan, angin bertiup dengan kencangnya. Di rumah Yana tampak sepi, tidak ada Yana dan Badrun di rumah, Badrun sedang menemani Yana pergi ke Jogja untuk menemui anak Yana Dewi di rumah adiknya. Hanya ada Yoyok yang tinggal di rumah Yana, dia berjaga jaga di sekitar teras rumah Yana.


Yoyok yang berdiri di teras rumah, dengan menahan dingin mundar mandir mengamati sekitar area rumah, berjaga jaga , selang beberapa saat, Yoyok duduk di sebuah kursi, dia terlihat mengantuk, namun berusaha di tahannya, dia mengambil sebuah gelas berisi kopi yang ada di atas meja, menyeruput kopi yang sudah dingin, setelah itu, dia mengambil ponsel dari kantong celananya, membuka sebuah aplikasi game, lalu memainkan game yang ada di ponselnya. Dia menghibur dirinya dari suasana sepi sendiri dirumah itu.


Sosok pria menyelinap masuk dari samping rumah Yana, melompati pagar tembok pembatas rumah Yana dengan kebun milik Yana, yang berada di samping rumah. Yoyok yang serius bermain game di ponselnya tidak menyadari kehadiran sosok pria yang menyelinap masuk ke rumah Yana.


Dengan langkah dan gerakan cepat, sosok pria yang menyelinap itu menyerang Yoyok yang tentu saja kaget karena tidak siap di serang, sosok pria menghantam wajah Yoyok hingga jatuh terjerembab, tanpa memberi kesempatan pada Yoyok untuk bangun, sosok pria itu terus menyerang Yoyok membabi buta, Yoyok dihajar brutal habis habisan, tubuhnya luka luka berdarah karena terkena pukulan kayu dari sosok pria misterius itu, Yoyok yang mulai lemah tak berdaya berusaha bangun dari lantai teras, sosok pria langsung menarik rambut Yoyok, menyeret dan membenturkan kepala Yoyok sebanyak tiga kali ke tembok teras rumah, kepala Yoyok berdarah karena dihantamkan ke tembok teras rumah, sosok pria menghunus pisau lipat yang di ambilnya dari kantong celananya, mencengkram leher Yoyok sekuat kuatnya hingga Yoyok susah bernafas, tanpa rasa belas kasihan sedikitpun, sosok pria itu lalu menyayat leher Yoyok dengan pisau ditangannya, darah segar keluar dari leher Yoyok, tidak berhenti sampai di situ saja, sosok pria itu lalu menghujamkan pisau ke perut Yoyok, menusuknya berkali kali, sebanyak 12 tusukan hingga Yoyok tak berdaya, sosok pria melepaskan cengkramannya, Yoyok terjerembab lemah jatuh ke lantai teras rumah, sosok pria berjongkok mendekat ke wajah Yoyok, lalu menyayat nyayat mulut Yoyok hingga meregang nyawa , Yoyok di siksa hingga mati, tak ada satu pun warga yang mengetahui kejadian sadis itu.


Yana dan Badrun pagi itu baru pulang dari rumahnya di Jogja, Yana saat ini memakai mobil yang baru di belinya, karena mobil sedannya hancur karena di tabrak dan belum selesai diperbaiki. Mobil masuk ke jalanan pelataran depan rumah Yana, lalu berhenti di depan rumah Yana, menunggu pintu pagar rumah dibukakan, beberapa saat Yana dan Badrun menunggu, pintu pagar tidak di buka, Badrun menekan klakson mobil, tapi pintu pagar tidak juga di buka.


"Kemana si Yoyok, molor kali tuh anak ya." Ujar Badrun lalu turun dari mobilnya dan membuka pintu pagar, kemudian dia masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya, mobil masuk ke dalam garasi rumah Yana.


Yana turun dari mobil, lalu menutup pintu pagar rumahnya, Badrun kemudian keluar dari mobil setelah mematikan mesin mobil , mereka melangkah ke teras rumah.


Begitu mereka melangkah ke teras rumah, Yana dan Badrun kaget karena di lantai teras ada tulisan bertinta merah darah, tulisan itu berbunyi " Hell...Lo...Waktumu tiba! Lo ke Neraka!"


Membaca tulisan itu membuat Yana dan Badrun kaget, Badrun dengan gerak reflek cepat berlari ke arah rumah, mencari Yoyok, saat Badrun mau membuka pintu rumah, pandangan matanya melihat ke samping teras rumah, terlihat ada sepasang kaki tergeletak disitu, Badrun dengan cepat melangkah mendekat, ketika Badrun melihat, sepasang kaki itu milik Yoyok dan melihat tubuh Yoyok terbujur kaku di situ, Badrun kaget.


"Yoyoookkk...!!" Ujar Badrun dengan kagetnya melihat temannya mati, Yana mendengar ucapan Badrun cepat mengikuti Badrun, Badrun mencegah Yana agar tidak melihat kondisi Yoyok.


"Tahan Yana, jangan lihat." Ujar Badrun.


"Gak apa mas, kenapa mas Yoyok ?" Tanya Yana melepaskan pegangan tangan Badrun.


Yana melangkah dan melihat ke arah tempat yang dilihat Badrun, begitu melihat mayat Yoyok tergeletak di samping teras rumahnya penuh luka dan berlumuran darah, Yana terkesiap kaget dan teriak, tubuhnya lemas seketika, dia terjatuh duduk di lantai teras, wajahnya panik dan ketakutan.


"Setaaan ! Orang itu pasti datang dan sengaja membunuh Yoyok saat kita gak ada dirumah." Ujar Badrun.


"Aku lapor polisi mas, ini gak bisa di biarkan terus, Randi semakin nekat!" Ujar Yana, dia cepat mengambil ponsel dari dalam tas untuk menghubungi polisi, sementara Badrun menahan amarahnya menatap wajah Yoyok, temannya yang terbujur kaku, mati.


Randi menerima telepon dari sosok pria yang ditugasi untuk menculik Yana.


"Target gak ada ditempat, hanya ada satu orang, dan sudah saya habisin." Ujar orang yang menelpon Randi.


Randi menutup teleponnya, wajahnya terlihat menahan marah, tatapannya tajam.


"Sekali lagi kamu beruntung lolos dariku Yana, berikutnya, aku pasti akan menghabisimu." Ujar Randi dengan wajah geramnya.


Untuk yang ke dua kalinya, dirumah Yana terjadi pembunuhan, dan pihak kepolisian pagi itu dengan cepat datang ke lokasi kejadian, mengamankan tempat terjadinya pembunuhan, memasang garis pembatas, petugas paramedis yang datang membawa mayat Yoyok dan memasukkan ke dalam ambulance, petugas forensik sibuk dengan pekerjaan mereka, mengambil dan mencari bukti bukti pembunuhan. Seorang petugas kepolisian memotret tulisan yang ada di lantai teras rumah Yana, di simpan sebagai bukti perkara pembunuhan, sementara Yana terduduk lemah disebuah kursi yang ada di ruang tamu rumahnya, dia ditemani Badrun, petugas polisi terlihat sedang berbicara dengan Yana dan Badrun, mencari informasi dari mereka. Warga warga sekitar ramai berkumpul menyaksikan, mereka heran, kenapa terjadi pembunuhan lagi dirumah Yana, ada apa sebenarnya yang terjadi pada Yana sebagai pemilik rumah? mereka bertanya tanya pada masing masing warga.


Di dalam kamarnya, Via terlihat sedang berkemas merapikan dan memasukkan pakaian pakaian yang akan dibawanya kedalam tas koper miliknya, Via mempersiapkan dirinya untuk berangkat pergi ke Kalimantan menemui mamanya. Jumirah masuk kedalam kamarnya dengan membawa mantel dan selimut tebal milik Via yang baru saja di setrikanya.


"Ini mantel sama selimut kamu jangan lupa di bawa, nenek baru nyetrikanya tadi." Ujar Jumirah memberikan mantel dan selimut tebal pada Via yang menerimanya. Via lalu memasukkan mantel dan selimut tebalnya itu ke dalam tas koper , lalu mengunci tas kopernya.


"Beres nek, udah semua." Ujar Via tersenyum menatap wajah neneknya yang juga tersenyum padanya.


"Nenek gak apa kan sendirian dirumah selama Via pergi ?" Tanya Via.


"Gak apa kok, yang penting kamu senang bisa ketemu mama nanti." Ujar Jumirah. Via mengangguk.


Sore itu, dirumahnya, Yana terlihat lesu tak bersemangat, Badrun duduk di sofa yang ada didepannya.


"Harus bagaimana sekarang mas?" Tanya Yana.


"Gak ada jalan lain kecuali aku minta perlindungan sama polisi." Ujar Yana.


"Kamu tetap tenang, masih ada aku yang menjaga kamu." Ujar Badrun.


"Tapi aku gak mau nanti kamu berakhir seperti teman temanmu." Ujar Yana cemas pada keselamatan diri Badrun.


"Kamu gak usah khawatir, aku bisa jaga diri, tenang aja." Ujar Badrun menenangkan diri Yana.


"Aku yakin, Randi pasti akan datang lagi kerumahku, dia pasti semakin nekat karena belum berhasil menangkap dan membunuhku." Ujar Yana.


"Apa mau warga mas? setauku, sudah beberapa tahun di sini gak pernah ada lagi ronda." Ujar Yana lemah.


"Pak erwe bilang ke aku, karena dua kali terjadi kasus pembunuhan, dia udah sampaikan ke warga saat rapat dipertemuan warga buat aktifin ronda lagi." Ujar Badrun.


"Kemungkinan ronda dimulai malam nanti." Ujar Badrun.


"Baguslah kalo gitu mas, aku juga mau minta tolong polisi buat jadi keamanan, paling tidak, mereka berpatroli di sekitar rumah, keliling beberapa malam, secara bergantian, aku akan kasih biayanya nanti." Ujar Yana, Badrun mengangguk.


Malam itu, ronda pun di mulai, ada delapan warga yang bertugas ronda, Yana dan Badrun menemui mereka, memberikan makanan dan minuman pada bapak bapak yang bertugas ronda. Yana dan Badrun meletakkan makanan dan minuman di pos ronda.


Yana memang niat untuk memberikan mereka makanan ringan dan minuman kopi setiap berjaga ronda malam, sebagai bentuk tanda terima kasihnya kepada warga yang sudah peduli padanya.


Warga warga yang ronda malam itu berjalan berkeliling disekitar perumahan, mengitari seluruh rumah rumah warga, terutama rumah Yana, mereka sangat berhati hati menjaga keamanan lingkungannya.


Sementara, mobil patroli polisi beberapa kali wara wiri masuk ke area perumahan Yana, berpatroli malam itu.


Di pinggir jalan, jauh dari rumah Yana, sosok pria yang membunuh Yoyok sedang mengawasi, dia mengambil teleponnya lalu berbicara di telepon.


"Ada penjagaan ketat dari warga dan polisi di sekitar rumahnya." Ujarnya di telepon.


"Kamu balik, tunda dulu, nanti kita buat rencana lain untuk meringkusnya." Ujar Randi dari seberang telepon.


"Baik." Ujar sosok pria misterius itu, dia lalu mematikan teleponnya, memasukkan ponsel ke kantong celananya, lalu menyalakan mesin motornya dan pergi meninggalkan lokasi.


Yana dan Badrun berada di dalam mobil, mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju arah ke Jogja. Matahari terik siang itu.


"Aku sedikit lega karena warga mau ngeronda, dan polisi juga patroli disekitar rumah." Ujar Yana didalam mobil.


"Iya, paling tidak, itu mempersulit ruang gerak si Randi kalo mau beraksi lagi." Ujar Badrun.


"Kapan tuh orang bisa ketangkap sama polisi ya mas, udah puluhan loh yang jadi korban pembunuhannya." Ujar Yana.


"Sudah lebih setahun belum juga ketangkap." Ujar Yana menghela nafas.


"Ada saatnya pasti polisi bisa menangkapnya." Ujar Badrun pada Yana.


Badrun dan Yana didalam mobil asyik ngobrol tidak menyadari kalau mereka sedang di ikuti Randi. Di belakang mobil mereka, tidak terlalu jauh jaraknya , Randi mengikuti mobil Yana , Randi sengaja menggunakan mobil rental agar tidak bisa di lacak polisi keberadaannya.


Mobil yang di setir Badrun terus melintas di jalan raya, sementara mobil Randi terus mengikuti dibelakang mereka.


Mobil Yana masuk ke pelataran parkir sebuah pusat perbelanjaan yang besar, Badrun mencari tempat parkir, dia membelokkan mobil ke tempat parkir mobil yang kosong, memarkirkan mobilnya, sementara, Randi yang mengikuti juga memarkir mobilnya, dia sengaja mengambil tempat parkir yang sedikit jauh dari tempat parkir Badrun agar tidak diketahui keberadaannya.


"Kamu gak ikut nemani aku kedalam mas ?" Tanya Yana pada Badrun.


"Nggak ah, ngapain, kamu pasti lama di dalam, kan banyak yang mau kamu beli, biar aku nunggu di sini aja sambil ngerokok." Ujar Badrun.


"Tapi nanti kalo si Randi..." Ujar Yana, belum selesai dia bicara, Badrun sudah memotong pembicaraannya.


"Gak mungkin si Randi nekat culik kamu di dalam mall ini, gak mungkin juga kamu di bunuhnya didepan orang orang yang banyak didalam mall." Ujar Badrun.


"Udah kamu santai aja." Ujar Badrun menenangkan Yana, Yana akhirnya mengangguk tersenyum.


"Aku ke dalam dulu ya mas." Ujar Yana, Badrun mengangguk.


Yana melangkah masuk kedalam pusat perbelanjaan itu, sementara Badrun keluar dari dalam mobil, dia duduk disebuah batu pembatas parkiran yang ada di samping depan mobilnya, Badrun mengambil rokok dan membakarnya, dia duduk santai di situ menunggu Yana yang sedang berbelanja.


Tak berapa lama, tanpa disadari Badrun, Randi berjalan cepat ke arahnya dan menyerang Badrun, kepala bagian belakang Badrun dihantam kayu, Badrun seketika terjerembab jatuh ke lantai parkiran, Randi lalu menginjak injak perut Badrun, Badrun tidak diberi kesempatan Randi melawan, dia terus terusan memukuli wajah Badrun, aksinya saat itu tidak di ketahui orang orang, karena ditempat parkiran mobil memang tidak ada orang orang disitu. Hanya ada Badrun saja yang ada, dia salah memilih tempat menunggu, bukan ke tempat depan pintu masuk yang biasa digunakan orang yang habis berbelanja menunggu datangnya mobil jemputan mereka.


Tanpa ampun Randi memukuli Badrun hingga berdarah, lalu Randi mencengkram leher Badrun, mencekiknya hingga sulit bernafas, satu tangannya menarik rambut Badrun, Randi berjongkok dihadapan Badrun, menatap wajahnya tajam penuh kemarahan, saat itu, Randi sedang dirasuki oleh salah satu kepribadian yang ada didalam dirinya yakni Sandi.


"Kamu bilang mau habisi aku Badrun? sekarang, kamu yang akan kuhabisi!" Ujarnya pada Badrun yang mulai lemah, dia tak menyangka mendapat serangan mendadak dari Randi ditempat itu.


"Akhirnya, setelah sekian lama berhari hari aku mengikuti kalian, aku bisa juga membunuhmu." Ujar Randi yang sudah berubah menjadi pribadi Sandi itu.


"Apa tujuanmu melakukan semua ini pada Yana?" Tanya Badrun dengan suara lirih dan lemah karena lehernya di cekik Randi.


"Cinta itu gila Badrun, Cinta bisa membuat orang berkorban apa saja, cinta juga bisa membuat orang menjadi berubah sikapnya, dan cinta juga yang membuat orang terbunuh. Dan pada akhirnya, apakah cinta yang seperti itu menjadi sebuah dendam atau pengorbanan diri?" Ujar Randi berbisik di telinga Badrun.


Randi lalu semakin kuat mencengkram leher Badrun dengan tangannya, kemudian dia melepaskan cengkraman tangannya dari leher Badrun, Badrun langsung mengambil nafas, berusaha untuk bisa bernafas normal kembali, Randi yang tangan satunya masih menarik rambut Badrun tiba tiba membalikkan tubuh Badrun hingga posisinya tengkurap. Randi lalu menarik rambut dan kepala Badrun kearah belakang badannya, Badrun menahan rasa sakitnya, saat dia hendak berteriak, Randi dengan cepat menginjakkan kakinya ke tengkuk leher Badrun berkali kali, kemudian dia menahan kakinya tetap berada di tengkuk leher belakang Badrun, menarik kepala Badrun ke arah belakang sekuatnya ,terdengar suara "Kreek" dari leher Badrun, leher Badrun patah, kepala Badrun menjadi mendongak ke arah belakang tubuhnya, Badrun pun menghembuskan nafasnya, dia mati terbunuh di tangan Randi.