Go To Hell

Go To Hell
Bab 68



  Dengan cepat sosok Roni yang muncul dalam diri Randi berjalan dengan langkah cepat mendekati Yana yang teriak memaki, lalu dia memukuli wajah Yana sekuat kuatnya, dia mengamuk, menghajar wajah Yana hingga babak belur bengkak berdarah, lalu dia menendang Yana yang duduk terikat di kursi, tendangan Roni membuat Yana yang dalam posisi terikat di kursi jatuh terjerembab kebelakang, Roni yang mengamuk hendak menginjak tubuh Yana, tiba tiba secara refleks, dia terbanting dan terjatuh ke lantai, sosok Randi yang muncul kembali dalam dirinya mendorong Roni agar tidak memukuli Yana.


"Sudah cukup ! Hentikan Roni, Hentikan !! Dia bisa mati nanti !!" Teriak Randi membentak Roni, Randi cepat mendekati Yana, membangunkan Yana yang terjatuh, Yana kembali di dudukkan di kursi masih dalam keadaan terikat.


"Aku gak bisa melakukan ini, aku gak bisa ! Udah cukup, hentikan !" Teriak Randi memegangi kepalanya, Yana terlihat ketakutan melihat Randi, seakan seperti terjadi keributan pada dua orang, padahal yang di lihat Yana, hanya Randi seorang saja di hadapannya, sedang memainkan peran pribadi Roni yang tiba tiba terpental jatuh seperti di dorong, lalu Randi yang marah dan menolong dirinya.


Tiba tiba Rahman muncul, memukul Randi hingga terjajar ke belakang, jatuh di lantai, Yana kaget melihat Randi seperti di pukul dan di lempar seseorang, lalu bicara sendiri .


"Laki laki cengeng !! Baru begitu saja kamu udah luluh, kasihan sama perempuan murahan ini !" Ujar Rahman melotot marah pada Randi lalu menampar wajah Yana, Yana teriak kesakitan karena tamparan Rahman . Randi memegang tangan Rahman, menahan agar tangannya tidak memukuli Yana lagi.


"Hentikan! Aku gak mau kalian ikut campur lagi dengan urusanku !!" Teriak Randi panik, dia cepat mendekati Yana, memegang wajah Yana.


"Kamu gak apa kan Yan ?" Tanya Randi penuh rasa sayang pada Yana, dia menghapus darah yang mengalir di pinggir mulut, pelipis dan pipinya karena hantaman pukulan Roni tadi.


"Aku akan akhiri sampai di sini, aku gak mau kamu di siksa terus, aku akan melepaskanmu !" Ujar Randi, dia lalu hendak melepaskan ikatan di tubuh Yana, namun tiba tiba dia terjerembab ke belakang, terduduk di lantai, seperti di dorong, muncul Sanur dengan tatapan bengis .


"Kamu benar benar gila Randi ! Kamu mau lepaskan dia, lalu dia melaporkanmu ke polisi, lalu polisi menembakmu !  itu mau kamu ?!" Bentak Sanur pada Randi.


"Aku gak peduli ! Jangan halangi aku !" Teriak Randi marah pada Sanur.


"Manusia tolol !!" Ujar Sanur geram memukul Randi, Randi terjajar jajar jatuh bangun seperti terkena pukulan dan memberi perlawanan memukul dan menyerang Sanur.


perkelahian antara Sanur dan Randi di saksikan Yana dimatanya hanya lah sosok Randi sendiri, yang seolah sedang berkelahi dengan orang lain, melihat tingkah Randi itu Yana semakin ngeri.


Randi berlari mendekati Yana, kembali dia mencoba melepaskan ikatan di tubuh Yana.


"Aku ingin kita kembali bersama, aku akan memberimu kesempatan, kita mulai lagi dari awal pernikahan kita, kamu mau kan Yana ? Mau kan ?" Ujar Randi bertanya pada Yana, dia menatap lembut wajah Yana, penuh harapan dan kasih sayang. Yana menatap Randi, dia heran, namun dia berfikir, dia harus mencari cara agar bisa melepaskan diri dari cengkraman Randi saat ini.


"Iya Randi, aku mau, aku mau ! Maafkan aku, maafkan aku udah buat kamu kecewa !" Ujar Yana menatap lekat wajah Randi, mencoba meyakinkan diri Randi.


"Omong kosong !! Semua ucapanmu busuk !! Jangan tertipu dengan mulut kotor dia Randi !" Bentak Sandi tiba tiba muncul berganti dengan sosok Randi yang sedang berusaha melepaskan ikatan di tubuh Yana. Sandi memukul Yana, mendorong Randi hingga terjatuh, duduk di lantai, Randi geram menatap Sandi, lalu menyerang Sandi, Sandi terjatuh kena pukulan Randi. Yana terdiam, tak tahu harus bagaimana melihat kenyataan itu, Randi bertingkah seolah sedang berhadapan dengan empat orang lain, Yana juga heran, mengapa Randi tiba tiba berubah fikiran dan ingin menyelamatkannya? tidak ingin membunuhnya ? apakah memang selama ini, bukan keinginan Randi membalas dendam dan berniat membunuhnya ? apakah itu hanya keinginan empat orang yang berada di dalam diri Randi ?


Yana cepat memutar otaknya, berfikir, mencari cara dan jalan keluar agar dia bisa bebas, dan lepas dari maut.


Randi kembali cepat membuka ikatan di tubuh Yana, dia menatap lekat wajah Yana.


"Aku selalu percaya padamu Yana ! Aku selalu menunggu kamu kembali padaku !" Ujar Randi penuh kasih sayang pada Yana.


"Iya Randi, aku mau kembali padamu, maafkan aku, aku gak tau kenapa aku bisa mengkhianati orang baik sepertimu, aku udah kena pengaruh jahat Herry yang membuatku meninggalkanmu, maafkan aku !" Ujar Yana menatap wajah Randi yang menatapnya lekat, Yana berkata demikian, mencoba meyakinkan Randi, dia berpura pura ingin kembali bersatu dengan Randi, agar dia bisa bebas dan selamat saat ini, padahal, kenyataannya, Yana tidak akan pernah mau kembali seumur hidupnya pada Randi, apalagi Randi sudah menghancurkan hidupnya. Namun, melihat sikap Randi yang aneh saat ini, mau tidak mau dia harus mencari cara untuk menyelamatkan dirinya.


"Jangan lepaskan dia Randi !" Tiba tiba Roni teriak , Yana kaget karena tiba tiba Randi yang berubah jadi sosok Roni tiba tiba teriak kuat di hadapannya.


"Aku akan memberi kesempatan pada Yana untuk memperbaiki hubungan kami ! Aku memaafkannya ! Jadi, jangan ikut campur urusanku lagi , pergi kalian, pergi !!" Teriak Randi kesetanan penuh amarah, Yana tercekat, melihat Randi yang mengamuk sendirian itu , tidak ada siapa siapa di situ, Yana yang melihat Randi yang terganggu kejiwaannya dan memiliki empat kepribadian ganda seperti yang di hitungnya prihatin dan sedih, bagaimana pun Randi adalah suaminya dulu, dia tidak menyangka Randi mempunyai kepribadian ganda, seorang psikopat, Yana yang selama ini mengenal Randi orangnya kalem, pendiam, tenang, baik dan perhatian, tak menyangka jika di dalam dirinya bertolak belakang, dia liar, kejam, bengis, dan buas serta mempunyai emosi amarah yang meledak ledak seperti yang kini di saksikannya muncul dalam diri Randi. Ada rasa bersalah pada dirinya, membuat Randi seperti itu karena perceraian mereka, namun Yana juga tidak pernah bisa mengerti, bagaimana awalnya dan kenapa dia bisa meninggalkan Randi, menceraikannya dan menjalin hubungan dengan Herry, padahal sebelumnya Yana tidak pernah punya fikiran untuk berkhianat dan menghancurkan rumah tangganya, Yana menangis sedih, saat dia memikirkan apa yang sudah dilakukannya, kepalanya sakit, Yana meringis menahan sakit di kepalanya, dia mencoba menatap wajah Randi, tatapannya kosong, Yana tercenung, fikirannya kosong saat ini.Yana terpaku, dia melamun, sementara Randi berusaha melepaskan ikatan Yana, satu persatu ikatan yang mengikat tubuh Yana terlepas, saat Randi akan melepaskan ikatan yang melilit kedua kakinya, Yana pun tersadar dari lamunannya, menyadari tangannya sudah terlepas dari ikatan tali tambang yang melilit tangan dan tubuhnya Yana senang.


"Sekarang kamu bebas Yana, kita bisa mulai kembali hidup bersama di sini, di rumah ini, rumah ini aku beli dan ku siapkan untukmu, menyambut kembalinya kamu padaku." Ujar Randi tersenyum penuh harap pada Yana, Yana mencoba tersenyum pada Randi, dia mengangguk, melihat Randi yang sedang melepaskan ikatan tali tambang yang melilit ke dua kakinya, Yana melihat pisau yang masih menancap di atas pahanya, lalu dengan gerakan cepat, dia mencabut pisau dengan tangannya, dia menahan sakitnya, berusaha agar tidak teriak karena merasakan sakit yang luar biasa saat pisau di cabut paksa dari atas pahanya. Randi tidak menyadari hal itu, Ikatan di kedua kaki Yana sudah terlepas, Randi terlihat senang, dia berdiri, saat itulah Yana dengan cepat menghujamkan pisau ke perut Randi, menusuk perut Randi, Randi kaget mendapatkan serangan secara tiba tiba itu, dia terdiam, memegang perutnya yang mengeluarkan darah karena tusukan pisau ditangan Yana. Randi menatap wajah Yana.


"Kenapa kamu menikamku Yana ?" Tanya Randi, raut wajahnya terlihat sedih menatap wajah Yana yang sangat geram dan penuh kebencian pada Randi.


"Enyahlah kamu Randi !! Jadilah debu neraka !!" Ujar Yana dengan geramnya  lalu menghujamkan kembali pisau di tangannya keperut Randi, Randi terhenyak, meringis sakit karena pisau yang tajam itu merobek perutnya, darah keluar dari perut Randi, dia terhuyung kebelakang, terlihat di kelopak mata Randi menggenang air mata, dia menatap sendu wajah Yana yang terlihat penuh rasa jijik, benci dan marah pada dirinya.


Beberapa saat kemudian Randi terhuyung huyung, tubuhnya lemah, dia lalu terjatuh ke lantai, terjerembab, terbaring di lantai dengan tangannya memegang perutnya yang terluka, air mata mengalir keluar dari pinggir kedua kelopak mata Randi, Yana dengan penuh kebencian menatap tubuh Randi yang terbaring tak berdaya dilantai, dia meludahi tubuh Randi, lalu Yana melangkahi tubuh Randi, dan cepat berlari keluar dari rumah itu, tanpa peduli dengan keadaan Randi, saat ini yang ada di pikiran Yana adalah, dia harus segera keluar dari rumah dan melarikan diri lalu melaporkan keberadaan Randi pada polisi. Randi berusaha bergerak pelan, menggeser tubuhnya di lantai, berusaha untuk bangun dan berdiri, namun dia tak kuat mengangkat tubuhnya, dia kembali lemah dan terkulai lemas di lantai, diam tak bergerak, matanya yang mengalir air mata hanya bisa menatap lebar ke arah Yana berlari pergi meninggalkannya.


   Yana dengan cepat berlari keluar rumah, menyelamatkan dirinya, dengan langkah tertatih tatih, menahan nyeri sakit karena luka tusukan pisau di pahanya serta pukulan besi pada kakinya dia memaksakan dan menguatkan diri untuk terus berlari, Yana membuka pintu garasi rumah dengan susah payah, lalu dia keluar dengan menyeret kakinya yang terluka dan berdarah, cepat meninggalkan rumah tanpa menutup pintu garasi rumah itu. Dengan wajah bengkak, lebab dan berdarah, dia lari tertatih tatih, menahan sakit di kakinya, Yana berlari menyusuri jalanan sekitar rumah lamanya itu, Jalanan sekitar lingkungan dekat rumah lamanya itu terlihat sepi, Yana terus berjalan cepat dengan tertatih tatih menyeret kakinya yang terluka, dia berharap ada seseorang yang ditemuinya saat ini, agar dirinya bisa di tolong dan di selamatkan, Yana terus menyusuri jalanan , memaksakan diri berlari maupun berjalan cepat dengan tertatih tatih, darah mengalir dari luka yang menganga di pahanya, Yana meringis menahan sakit, sesaat dia menghentikan langkahnya, mengatur nafasnya, memegang kakinya yang terasa sakit karena pukulan besi dan tusukan pisau di pahanya, Yana menangis menahan sakit, dia menguatkan dirinya, melanjutkan kembali perjalanannya, mencari tempat persembunyian ataupun perlindungan, dia tak ingin Randi ataupun ada komplotan Randi yang mengejarnya lalu menangkapnya kembali. Dengan tekat kuat walau penuh luka dan kondisi pincang kakinya, Yana memaksakan diri terus berjalan dengan cepat menyusuri jalanan jalanan.


   Di rumahnya, paman Mulyono terlihat sedang berfikir, ada rasa khawatir yang begitu besar pada dirinya memikirkan tentang keselamatan nyawa Yana, dia tak ingin terjadi hal buruk pada diri Yana, saat paman Mulyono berfikir, tiba tiba dia teringat akan sesuatu hal, dengan cepat paman Mulyono mengambil ponselnya yang tergeletak di meja ruang keluarga, lalu menelpon seseorang.


Gunawan yang sedang menyetir mobil di jalan raya, menerima telepon dari paman Mulyono.


"Iya pak, ada apa ?" Tanya Gunawan pada paman Mulyono dari ponselnya.


"Saya teringat ucapan Omnya Via saat menolong saya waktu Randi mau membunuh saya waktu itu pak." Ujar paman Mulyono di teleponnya.


"Tentang apa pak ?" Tanya Gunawan penasaran ingin tahu.


"Kalo saya gak salah dengar, waktu itu Omnya Via bilang, dia tau kalo Randi tinggal dirumah lamanya dulu saat bersama Yana, dan bersembunyi di sana." Ujar paman Mulyono memberikan penjelasan pada Gunawan di teleponnya.


"Baik pak, terima kasih infonya ! Saya segera meluncur ke lokasi bersama tim !" Ujar Gunawan, dia senang mendapatkan info dari paman Mulyono, ada benarnya juga yang dikatakan paman Mulyono, kenapa dia tak pernah berfikir dan menyadari kalau Randi berada dan kembali kerumah lamanya ? Gunawan memukul setir mobilnya, dia kesal kenapa tak terpikir akan hal itu, dengan cepat dia memutar balik mobilnya, menjalankan mobilnya ke arah lain, lalu dia mengambil ponsel dari kantong bajunya, menghubungi timnya agar segera ke lokasi yang diarahkannya. Dengan cepat mobil Gunawan melaju di jalan raya itu, menuju ke rumah lama Yana dan Randi.


   Sementara itu, Yana masih terus berjalan cepat tertatih tatih menyeret kakinya menyusuri jalanan , dia bertemu seseorang, dan meminta tolong pada orang tersebut, namun, orang tersebut malah takut melihat Yana yang berdarah dan terluka parah itu, orang tersebut dengan cepat menghindari Yana dan berlari pergi meninggalkannya, Yana terlihat kecewa, dia lalu melanjutkan jalannya, memaksakan dirinya untuk tetap bisa kuat berjalan cepat. Setiap Yana bertemu seseorang, berharap di tolong, orang orang yang ditemuinya malah ketakutan melihat kondisi Yana yang terluka dan berdarah, rata rata orang yang ditemui Yana tidak mau malah nanti dilibatkan dan dijadikan saksi, yang membuat rumit urusannya.


   Mobil taksi online yang di tumpangi Via melaju di jalan raya, berbelok ke sebuah jalanan yang menuju ke arah rumah lama papahnya, Via terlihat memandangi sekitar jalanan dari dalam mobil itu.


"Tolong lebih cepat lagi pak, saya gak mau telat." Ujar Via pada supir mobil taksi online yang lantas mengangguk dan menambah kecepatan mobilnya. 


Mobil taksi online menyusuri jalanan, masuk ke jalanan setapak yang menuju ke rumah lama papahnya, dari arah yang berlawanan terlihat Yana berjalan cepat dengan menyeret kakinya tertatih tatih melangkah cepat ke arah datangnya mobil taksi online Via.


Saat mobil taksi online mendekati Yana yang berjalan dengan tertatih tatih, Via terkesiap kaget melihatnya.


"Bunda Yana ?!" Ujar Via tersadar begitu dia melihat Yana yang berjalan dengan tertatih tatih dengan kondisi wajah bengkak, lebam dan berdarah.


"Stop pak, stop ! Saya mau menolong ibu itu." Ujar Via menyuruh supir mobil taksi online berhenti, supir dengan cepat menginjak rem dan menghentikan mobilnya tepat di dekat Yana yang terdiam berdiri di tempatnya, menghentikan langkahnya, menatap mobil taksi online yang berhenti. Dia berharap ada orang yang keluar dari dalam mobil dan menolongnya.


Via pun turun dari dalam mobil taksi online, di luar mobil, dia berdiri di hadapan Yana yang kaget dan terhenyak melihat Via yang ada di hadapannya, dia tak mengharapkan Via yang datang menolongnya, karena dia benci pada Via, melihat Via sama saja baginya melihat Randi yang membuatnya muak dan jijik.


Yana yang tidak suka melihat Via berbalik, hendak melangkah pergi meninggalkan Via di situ.


"Tunggu Bunda, Via datang mau menolong bunda." Ujar Via dengan lembut, Yana terdiam ditempatnya tanpa membalikkan tubuhnya, Via tersenyum, dengan santai dia melangkah mendekati Yana.


"Bunda gak usah takut, Via gak ada maksud jahat kok sama bunda. Justru Via sengaja datang ke sini karena tau papah ngurung bunda dirumahnya. Via tau dari Om Rizal." Ujar Via tersenyum ramah pada Yana, Yana menatap lekat wajah Via, mencari tahu kebenaran tentang yang di katakan Via, Via tersenyum lalu merangkul Yana.


"Kita pergi sekarang, luka bunda harus cepat di obati." Ujar Via lalu membawa Yana masuk ke dalam mobil taksi online.


Yana pun masuk dan duduk di jok belakang, duduk di samping Via.


"Jalan pak, kita balik ke tempat awal saya naik tadi. Nanti saya tambahi ongkosnya." Ujar Via pada supir mobil taksi online yang mengangguk lalu menjalankan mobilnya meninggalkan tempat itu.


Yana melirik wajah Via, Via menatapnya tersenyum, memegang tangan Yana, Yana menggerakkan tangannya, melepaskan pegangan tangan Via, dia tidak mau di pegang Via, tubuhnya gemetar, masih merasakan sakit dan rasa takutnya. Via tersenyum, menatap jauh ke depan, dengan tatapan pandangan mata yang penuh arti saat itu.