
Saat itu, Via sedang makan bersama paman Mulyono di sebuah cafe, paman Mulyono sengaja mengajak Via makan bersamanya, agar dia semakin akrab dengan Via dan mengetahui apa tujuan Via datang ke Klaten. Paman Mulyono memperhatikan Via yang terlihat menikmati makanannya.
Via selesai menyantap makanannya, dia lalu minum, paman Mulyono tersenyum menatapnya.
"Kok udah makannya ? gak nambah?" Tanya paman Mulyono ramah.
"Udah kek, Via biasa makan dikit." Ujarnya tersenyum.
"Bagaimana keadaan bunda Yana kek ?" Tanya Via.
"Udah mulai baikkan, kemungkinan besok atau lusa udah boleh pulang." Ujar paman Mulyono.
"Syukurlah." Jawab Via lega .
"Kakek boleh tau tujuan kamu datang ke Klaten dan nemui bunda Yana ?" Tanya paman Mulyono pada Via yang lantas menghela nafasnya.
"Via datang ke kota ini, tujuannya untuk mencegah papah berbuat buruk pada bunda Yana." Ujarnya.
"Via tau apa yang udah dilakukan papah selama ini." Ujarnya lagi.
"Via mau ketemu bunda Yana tujuannya untuk bicara dengan bunda tentang masalahnya dengan papah hingga semua ini terjadi." Jelas Via pada paman Mulyono yang diam mendengarkan.
"Via gak mau terjadi apa apa dengan bunda Yana, seperti yang pernah terjadi dengan mama Via dulu." Ujar Via.
"Kenapa mama kamu?" Tanya paman Mulyono penasaran.
"Papah ribut besar dengan mama karena masalah mereka, intinya, karena mama menceraikan papah, akhirnya papah ngamuk, dia menyiksa mama dengan kalap, sampai sekarang, kejadian itu membekas dan membuat trauma berkepanjangan pada diri mama, sampe sekarang ." Ujar Via menahan tangisnya.
"Saat Via tau papah jadi tersangka pembunuhan dan di buru polisi, Via ingat bunda Yana, ingat kejadian yang pernah menimpa mama, dan Via gak ingin papah berbuat hal yang buruk kepada bunda Yana, cukup perbuatan buruk itu dilakukannya dengan mama." Jelas Via menghapus air matanya. Via menatap wajah paman Mulyono yang diam memperhatikannya.
"Via memaksakan diri datang kesini , dengan niat mencegah tindakan papah, Via yakin, bisa menghentikan niat papah pada bunda Yana, Via mau melindungi bunda Yana." Ujarnya.
"Tapi bunda salah paham dengan niat Via, menuduh Via kerjasama dengan papah, padahal, Via belum ketemu papah, Via juga gak tau kalo papah datang ke cafe tempat kami janjian." Ujar Via menatap lekat wajah paman Mulyono.
"Via semakin yakin, papah gak akan berbuat nekat ke bunda Yana jika dia melihat ada Via di dekat bunda, seperti saat di cafe, mungkin, jika saat itu Via gak ada di cafe, papah udah berhasil melukai bunda Yana." Ujar Via dengan wajah sedihnya.
"Sudah, nanti biar kakek yang bicara dengan bunda Yana ya, Kakek akan jelasin semuanya." Ujar paman Mulyono pada Via yang mengangguk lemah.
Malam itu, Via baru pulang dari rumah sakit menjaga Yana yang masih dalam perawatan, wajahnya menunjukkan kekecewaan karena belum bisa juga bertemu dan bicara langsung dengan Yana, Via membuka pintu kamar hotelnya, melangkah masuk ke kamar, saat Via melangkah masuk, tiba tiba Randi muncul dari belakang masuk ke dalam kamar Via.
Melihat Randi yang tiba tiba ada dihadapannya , dia kaget.
"Papaah ?!" Ujar Via dengan kagetnya melihat Randi, Randi cepat menutup kamar Via.
"Apa kabar nak ?" Ujar Randi tersenyum menatap wajah Via.
"Kabar Via baik, kenapa Via susah ketemu papah?" Ujarnya.
"Maafin papah nak." Ujarnya memeluk anaknya, dia menumpahkan rasa rindunya pada anaknya itu, Via memeluk tubuh Randi, lalu beberapa saat kemudian, Randi melepaskan pelulannya, dia menatap wajah Via.
"Darimana papah tau kalo Via ada di hotel ini ?" Tanya Via heran karena papahnya bisa menemuinya.
"Papah ikuti kamu sejak dari rumah sakit sampe ke sini nak, papah tau kamu nemani Yana, papah terus ngawasi kamu dari jauh." Ujar Randi menjelaskan pada anaknya.
"Papah gak banyak waktu, kamu udah ketemu dengan Dokter Fariz ?" Ujar Randi.
"Udah pah, Via udah tau semua dari Dokter , kenapa papah gak pernah bilang tentang penyakit papah?" Ujar Via menatap wajah Randi.
"Papah gak mau kamu jadi sedih dan terbebani kalo tau papah sakit. Papah sengaja merahasiakannya, dan papah berfikir, saat ini sudah waktunya kamu harus tau semua tentang papah." Ujar Randi.
"Via udah tau semua dari mama dan bude Intan tentang papah, tentang masa kecil papah. Tentang papah yang tersangka pembunuhan berantai, tentang papah yang jadi buronan, Via tau dari polisi yang datang ke Via nanyain papah." Jelas Via menangis menatap wajah papahnya.
"Maafin papah kamu jadi kebawa masalah papah nak." Ujar Randi.
"Pah, akhiri semua ini sekarang, hentikan, jangan lakukan lagi perbuatan buruk itu." Ujar Via menghapus air matanya menatap wajah Randi.
"Jangan sakiti dan lukai bunda Yana, udah cukup pah, bunda Yana udah cukup menderita." Ujar Via.
Randi terdiam, menatap wajah Via lekat, dia sebenarnya tak suka anaknya melarang dia membalaskan dendamnya pada Yana, tapi berusaha di sembunyikannya rasa tidak sukanya itu pada anaknya.
"Ini kunci rumah yang papah beli, rumah itu untukmu, hadiah ulang tahunmu bulan depan, kamu bisa tinggal dan gunakan rumah itu sesuka kamu." Ujar Randi memberikan kunci rumahnya pada Via yang lantas menerima kunci rumah dari tangan Randi.
Randi mengambil sebuah ponsel dari balik jaketnya dan memberikan ponsel itu pada Via.
"Gunakan hape ini untuk hubungi papah, jangan ada yang tau, papah sengaja beli hape ini agar kamu bisa hubungi papah, karena papah selama dalam pelarian ini berganti ganti nomor telepon." Ujar Randi pada Via yang menerima ponsel dari tangan Randi.
"Papah pergi dulu nak, nanti kalo ada waktunya kita ketemu lagi." Ujar Randi.
"Tapi pah..." Ujar Via , dia tak jadi melanjutkan bicaranya karena Randi sudah pergi keluar dari kamar hotel itu, Via menarik nafas berat, dia menatap ponsel yang ditangannya itu, lalu keluar kamar hotel, di koridor hotel sepi, sudah tidak ada Randi, Via lalu masuk ke dalam kamar menutup pintu dan menguncinya. Dia melangkah dan duduk di tepi ranjang, memperhatikan ponsel yang diberikan papahnya, Via lalu melihat kunci rumah yang diberikan Randi, tanpa sadar dia menangis.
"Papah selalu ingat ulang tahunku, terima kasih hadiah istimewanya pah." Ujar Via menangis haru, dia menyadari jika papahnya begitu menyayanginya, tak pernah sedikitpun papahnya melupakan dirinya. Itu yang membuat dirinya bertekat untuk mencegah dan melindungi papahnya agar tidak semakin berbuat nekat.
Yana sudah sehat, paman Mulyono yang menemaninya di kamar ruang rawat senang melihat kondisi Yana yang sudah pulih itu.
"Via kirim salam buatmu, dia setiap hari jagain kamu disini." Ujar paman Mulyono.
"Aku gak mau dengar namanya paman." Ujar Yana datar, dia tidak suka pamannya menyebut nama Via.
"Via gak salah, kamu yang salah paham, niat Via baik sama kamu." Ujar paman Mulyono, Yana menatap wajah pamannya.
"Paman udah bicara dari hati ke hati sama Via, dia menjelaskan semuanya, tujuannya datang ke Klaten ini untuk mencegah papahnya , agar tidak semakin berbuat nekat, dan dia juga ingin melindungi kamu dari papahnya." Ujar paman Mulyono.
"Maksud paman ?" Tanya Yana tidak mengerti apa yang dikatakan pamannya.
"Via cerita tentang perceraian mamanya dulu dengan Randi, dan bagaimana mamanya di siksa terus menerus hingga trauma berkepanjangan hingga sekarang, saat dia tau tentang papahnya dari polisi, dia teringat kamu." Jelas paman Mulyono menatap wajah Yana yang kaget mendengar bahwa mantan istri Randi, ibunya Via pernah di siksa Randi.
"Iya, Via ingat kamu, dia khawatir sama kamu, takut terjadi hal buruk padamu, seperti yang dialami mamanya, dan dia gak ingin itu terjadi, dia gak ingin papahnya semakin buas melukai bahkan membunuh." Ujar paman Mulyono.
Yana terdiam, dia tercenung, tanpa disadarinya air matanya mengalir, ada rasa bersalah dalam dirinya pada Via karena telah salah paham dan memarahinya. Yana menatap wajah paman Mulyono.
"Sekarang Via dimana paman ?" Tanya Yana.
"Dia semalam bilang ke paman, mau pulang dulu ke hotel buat ganti bajunya, nanti pasti dia datang." Ujar paman Mulyono.
"Suruh dia datang paman, bilang ke dia, kapan saja dia bisa ketemu aku." Ujar Yana, paman Mulyono tersenyum pada Yana, dia senang melihat Yana akhirnya mengerti dan memahami niat baik Via padanya.
"Nanti paman bilang ke Via ya." Ujar paman Mulyono tersenyum, Yana mengangguk.
Sita mengetuk pintu rumahnya, memanggil manggil ibunya, terdengar suara teriakan dari dalam rumah.
"Iya sebentaar ." Teriak Jumirah dari dalam rumah, tak berapa lama pintu terbuka, Jumirah kaget melihat Sita berdiri di depan pintu teras rumah, tersenyum padanya.
"Sitaa ?! Kenapa gak bilang kamu pulang ?" Ujar Jumirah memeluk Sita, mereka berpelukan, melepaskan rasa kangennya.
"Aku sengaja gak kabari mama." Ujarnya melangkah masuk kedalam rumah di ikuti Jumirah, mereka duduk di sofa ruang tamu rumahnya.
"Aku khawatir dengan keadaan Via, seminggu lebih belum juga ada kabar darinya, aku cemas, gak tenang, makanya aku putuskan untuk balik ke sini buru buru." Ujar Sita menjelaskan.
"Kemana Via sebenarnya ? Mama juga gak di hubunginya." Ujar Jumirah.
"Ma, apa setelah Via tau tentang papahnya dari aku, dia datang nemui kak Intan ?" Tanya Sita.
"Iya, dia kerumah Intan, nginap disana." Ujar Jumirah.
"Pulang dari rumah Intan dia murung berhari hari, bahkan gak mau ketemu papahnya." Ujar Jumirah pada Sita.
"Aku yakin Via udah tau semua kebenaran tentang Randi dari budenya, dan aku yakin, Via pasti sekarang sedang mencari atau menemui papahnya." Ujar Sita.
"Dia pernah kerumah papahnya, tapi papahnya gak ada dirumah, dia kerumah Randi setelah polisi ke sini bilang kalo Randi buronan tersangka pembunuh berantai." Ujar Jumirah.
"Apa?! Pembunuh berantai ?" Tanya Sita kaget tak percaya mendengar apa yang dikatakan Jumirah.
"Iya, itu yang dikatakan polisi, dan Via syock saat itu." Ujar Jumirah, raut wajahnya menunjukkan rasa prihatin dan kasihan pada Via.
"Aku semakin yakin, pasti Via berfikir Randi ada di jawa, dengan harapan bisa ketemu papahnya, dan aku pikir, Via juga nemui mantan istri Randi , Via pasti bingung dan cemas tentang papahnya, makanya dia memutuskan untuk berbohong pada kita dan pergi ke jawa." Ujar Sita pada Jumirah yang mengangguk setuju dengan perkataan Sita itu.
"Semoga aja semuanya baik baik, dan Via bisa melewati semuanya dengan kebaikan nantinya." Ujar Jumirah.
"Iya ma, mudah mudahan gak terjadi apa apa." Ujar Sita.
Sore itu, Via datang menemui Yana di kamar ruang rawat, Via melangkah ragu, paman Mulyono memberikan isyarat agar dia mendekati Yana, Via melangkah pelan mendekat ke arah Yana yang tersenyum melihat Via datang.
"Bagaimana keadaan bunda ?" Tanya Via pelan , Yana tersenyum.
"Alhamdulillah bunda udah sehat, terima kasih ya kamu udah jagain bunda dirumah sakit ini ." Ujar Yana tersenyum menatap Via yang tertunduk tak berani menatap wajah Yana.
"Via, sini, mendekatlah." Ujar Yana tersenyum, dia merentangkan kedua tangannya, Via menatap wajah Yana, kemudian Via mendekat, Yana memeluk tubuh Via.
"Maafin bunda ya, maafin bunda udah berkata kasar dan membentak kamu di cafe, maafin bunda salah paham sama kamu." Ujar Yana memeluk erat tubuh Via.
"Bunda menyesal, gak seharusnya bunda mengatakan hal yang buruk padamu, maafin bunda yang emosi gak sadar diri mengucapkan kata kata itu." Ujar Yana menangis dalam pelukan Via, Via lalu memeluk tubuh Yana.
"Gak apa bunda, Via paham kok." Ujar Via, Yana melepaskan pelukannya, dia menghapus air matanya, lalu menatap wajah Via yang diam menatapnya.
"Kamu ikut bunda kan ? Hari ini bunda pulang." Ujar Yana pada Via. Via melirik paman Mulyono yang tersenyum mengangguk padanya.
"Iya bunda. Via akan nemani bunda kerumah." Ujar Via lembut dan tersenyum pada Yana yang juga tersenyum menatap wajahnya.
Akhirnya, Yana pun kembali kerumah paman Mulyono . Yana terlihat wajahnya senang karena bisa kembali kerumah setelah beberapa hari dirinya bosan berada di rumah sakit. Yana duduk di sebuah sofa, dia menatap wajah pamannya.
"Pak Santoso dimana paman ?" Tanya Yana pada paman Mulyono.
"Pak Santoso sedang ke kantornya memberi laporan ke atasannya, kenapa ?" Ujar paman Mulyono.
"Aku besok mau ke Jogja rencananya, mau urus peresmian butikku yang di Jogja." Ujar Yana.
"Kenapa gak di tunda waktunya?" Tanya paman Mulyono.
"Udah beberapa kali di tunda karena masalah yang ada, aku gak mau kelamaan lagi." Ujar Yana.
"Maaf bu Yana, ada yang mau saya bahas dengan ibu." Ujar Gunawan.
"Maaf bun, Via ke kamar dulu ya." Ujar Via menyadari kalau mereka akan bicara hal penting, dan dia tidak mau mengganggunya.
"Kamu disini aja temani bunda." Ujar Yana tersenyum pada Via, akhirnya Via pun mengangguk dan tetap berada di dekat Yana.
"Ada yang penting mau di bahas pak?" Tanya Yana pada Gunawan, petugas polisi yang menjaga Yana.
"Kalau ibu mau pergi dan mengurus usaha ibu, sebaiknya penjagaan ibu lebih diperketat dari sebelumnya." Ujar Gunawan.
"Saya akan mengerahkan personil polisi untuk menjaga dan mengikuti kemanapun ibu pergi dan berada, disamping itu, kita bisa menjebak dan menangkap Randi jika dia mengikuti bu Yana." Ujar Gunawan menjelaskan, Via hanya diam saja mendengar, Yana mengangguk.
"Saya setuju, mohon diatur aja gimana langkah baiknya pak." Ujar Yana .
"Baik bu, saya akan susun rencana buat menjebak Randi." Ujar Gunawan. Yana mengangguk, dia melirik Via yang diam, Yana tersenyum pada Via dan mengelus kepala Via yang juga tersenyum padanya.
Malam itu, ditempat persembunyiannya, Randi sedang membaca sebuah pesan yang masuk ke ponselnya.
"Hati hati kalo mengintai dan menculik Yana, Polisi sedang membuat jebakan." Bunyi isi pesan tersebut, membaca pesan tersebut, Randi menyeringai tajam, wajahnya menahan kemarahan.
"Kalian pikir bisa menangkapku ?!" Ujarnya geram, lalu dia mengambil satu ponsel lain yang tergeletak di meja, memencet sebuah nomor telepon yang ada di kontak teleponnya, menghubungi nomor itu.
"Dimana kamu ? Aku butuh bantuanmu, siapkan semuanya seperti yang di rencanakan, udah waktunya jalani misi berikutnya, tunggu info selanjutnya dariku buat bergerak ." Ujar Randi bicara di teleponnya, tatapan matanya tajam menatap jauh kedepan dengan senyum liar menyeringai buas.