Go To Hell

Go To Hell
Bab 58



   Randi terbangun dari tidurnya, dia memegang kepalanya, rasa pusing masih ada sedikit di rasakannya, dia tersadar saat tahu dirinya saat ini berada disebuah sawung, ditengah pematang sawah, dia lalu bangun dan duduk di tepi sawung, memegang kepalanya kembali, menghilangkan rasa pusing yang dirasanya. Dia melirik sekitar, tidak terlihat Marwan, Randi lalu memegang tengkuk lehernya, memijat dengan tangannya, tubuhnya terasa pegal pegal.


Apa yang telah terjadi pada Randi ?


Untuk mengetahui kejadian yang sudah di alami Randi, kita akan mundur pada waktu beberapa jam sebelumnya.


Cerita mundur pada saat beberapa Jam sebelum misi bunuh diri yang di lakukan Marwan.


   Seseorang yang di sebut Via sebagai "Om" itu memasuki gang rumah Randi lama, dia sengaja datang ke rumah itu untuk mencari tahu keberadaan Randi, Orang tersebut memarkirkan motornya di ujung gang, di dekat sebuah rumah kosong yang di tiang teras rumahnya ada kertas bertuliskan "Rumah ini di jual". Orang tersebut turun dari motornya, mengamati rumah lama Randi, seorang warga yang melihatnya segera mendekati.


"Maaf pak, apa bapak mau liat liat rumah ini ? Tanya warga pada orang yang dipanggil "Om" oleh Via.


Orang itu melihat warga yang bertanya padanya, lalu melirik ke arah rumah kosong yang di jual.


"Oh, iya , apa bapak yang punya rumah ?" Tanya orang yang disebut "Om" itu.


"Saya saudara pemilik rumah ini pak, kebetulan, pemiliknya pindah ke solo, saya di minta untuk mengurus dan menjualkan rumah miliknya ini." Ujar warga menjelaskan.


"Oh begitu." Ujar orang yang di sebut "Om" itu, dia berpura pura mengamati bentuk luar dari rumah yang di jual itu.


Dari dalam rumah lama Randi, terlihat Randi keluar dari pintu rumahnya, berdiri di teras rumah seperti sedang menunggu, penampilan Randi berbeda saat itu, dia memakai jenggot, kumis, rambut palsu , Randi sengaja menyamarkan dirinya, berpenampilan lain, menjadi sosok Sandi yang membeli rumah tersebut. Orang yang di sebut Via sebagai "Om" melihat Randi ada di teras rumahnya tersenyum kecil. Motor Ojek online tiba dan berhenti tepat di depan teras rumah Randi, Randi segera menghampiri motor itu, driver ojek memberikan helm pada Randi yang lantas memakai helm lalu naik dan duduk di jok belakang motor, kemudian motor itu pergi membawa Randi.


"Bagaimana pak? Apa bapak mau liat ke dalam rumah ini?" Tanya warga pada orang yang di sebut "Om" oleh Via itu. Orang itu tersadar, lalu menatap wajah warga.


"Maaf pak, untuk saat ini cukup saya liat dari depan saja rumahnya, nanti saya datang lagi." Ujar orang itu pada warga.


"Baik pak. Kalo bapak datang lagi liat rumah ini, temui saja saya, saya selalu ada di sini." Ujar warga itu pada orang tersebut.


"Baik pak. Terima kasih, saya pamit." Ujar orang itu lalu segera naik ke motornya, menyalakan mesin motor.


"Sangat mudah mencarimu Randi." Ujarnya sambil memakai helm, tersenyum kecil, kemudian dia menjalankan motornya, membunyikan klakson untuk pamit pada warga yang mengangguk padanya. Orang yang di sebut "Om" itu pun pergi, dengan tujuan mengikuti kemana Randi pergi saat itu.


Motor ojek Randi melaju di jalanan, di belakang motor orang yang di sebut "Om" mengikutinya, dia menjaga jarak motornya agar tidak di ketahui Randi jika dia mengikuti.


Singkatnya, Randi turun dari motor ojek, memberikan helm pada driver ojek yang lantas pergi meninggalkan Randi, Orang yang di sebut "Om" itu menghentikan motornya agak jauh dari tempat Randi, dia melihat sekitarnya, Randi berjalan menyusuri jalan setapak di tengah tengah pematang sawah, orang itu terus memperhatikan Randi yang jalan di jalanan setapak tengah pematang sawah menuju ke sebuah sawung. 


Di sawung yang ada di situ, Randi berjalan menghampiri Marwan yang sudah menunggunya, orang yang di sebut Via sebagai "Om" mengambil sebuah teropong dari dalam tas pinggangnya, melihat dengan teropong apa yang sedang dilakukan Randi di tempat itu.


Randi menemui Marwan , begitu melihat Randi datang, Marwan menghampiri dan menyalaminya.


"Sudah kamu persiapkan semua?" Tanya Randi.


"Sudah bang." Ujar Marwan. Wajah Marwan saat itu terlihat tegang, berbeda seperti biasanya.


"Kenapa kamu gak bersiap menunggu di tempat itu , kan aku tugaskan kamu nunggu di sana sebelum aku datang." Ujar Randi bertanya pada Marwan.


"Saya sengaja nunggu abang dulu, siapa tau ada yang mau abang kasih tau lagi ke saya." Ujar Marwan.


"Gak ada, udah semua, jalani aja seperti rencana yang udah kita bahas kemaren kemaren." Ujar Randi pada Marwan, dia berjalan ke arah motor yang terparkir di depan sawung itu. Ada 2 motor di situ, Randi mendekati motor yang ada di dekatnya.


"Ini motor sebelum kamu sewa udah di cek belum? ntar di pake mogok lagi." Ujar Randi pada Marwan.


"Udah bang, motor itu sehat, siap buat di bawa kebut kebutan dijalanan." Ujar Marwan.


Randi mengangguk, dia lalu melangkah mendekati motor, saat dia hendak naik ke motor itu, tangan Marwan perlahan mengambil sesuatu dari dalam kantong celananya, dengan cepat lalu Marwan berjalan ke arah Randi, kemudian menyuntikkan jarum berisi obat bius yang di ambilnya dari kantong celananya ke leher Randi, mendapatkan suntikan bius itu Randi kaget, dia menatap wajah Marwan, mencengkram baju Marwan.


"Maafin saya bang, biar saya sendiri yang melakukan misi abang." Ujar Marwan, tangan Randi terkulai lemah, dia segera pingsan, cepat Marwan menahan tubuhnya agar tidak jatuh, lalu menggotongnya dan meletakkan tubuh Randi yang pingsan karena di bius marwan ke sawung. Orang yang di sebut "Om" melihat itu tertawa tawa tanpa suara, teropong masih menempel di kedua matanya. 


Marwan menatap Randi yang terbaring di sawung dalam keadaan pingsan.


"Saya pergi sekarang bang. Mudah mudahan abang bisa tetap jaga diri, jika saya gak ada nanti." Ujar Marwan dengan wajah sedih.


Marwan lalu melangkah ke arah motor yang satunya lagi. Dia menyalakan mesin motor itu, lalu pergi meninggalkan Randi, membiarkannya terbaring di dalam sawung, orang yang di sebut "Om" melihat Randi tertidur tak sadarkan diri di sawung karena telah di bius Marwan. Dari teropongnya dia melihat Marwan mengendarai motornya di jalanan setapak pematang sawah, dia pun lalu bersiap siap, menyimpan kembali teropong ke dalam tas pinggangnya, menyalakan mesin motor, kemudian berbalik memutar motornya , berjalan ke arah motor Marwan melaju, dia mengikuti Marwan.


Orang yang di sebut "Om" berhenti di pinggir jalan yang tak jauh dari butik milik Yana saat itu, dia melihat Motor Marwan berhenti di dekat butik Yana, lalu turun, dan bersiap siap, memakai topi serta masker penutup wajah, lalu berjalan cepat ke arah butik Yana. Orang yang disebut "Om" tersenyum melihat Marwan mulai beraksi. Orang yang di sebut "Om" itu pun mengambil ponselnya, merekam semua kejadian yang di lihatnya itu melalui ponselnya. Marwan masuk ke dalam butik, untuk selanjutnya seperti yang sudah di ceritakan pada bab sebelumnya, dimana Marwan meringkus Yana di dalam butik. Suara berisik dari dalam butik membuat Gunawan yang berjaga di luar butik melihat ke arah dalam butik, begitu melihat Yana sedang berada dalam cengkraman Marwan, Gunawan segera memanggil ke enam personil polisi yang menyamar disekitar halaman butik itu.


"Kalian bersiap siap." Ujar Gunawan sambil mengambil pistol dari pinggangnya, melihat Marwan memegang pistol, personil polisi paham situasi saat itu, lalu bersiap siap di halaman butik dengan pistol ditangan masing masing, Gunawan perlahan lahan masuk ke dalam butik Yana. Untuk selanjutnya seperti yang di ceritakan dalam bab sebelumnya. Dan orang misterius yang mengintai aksi Marwan di butik adalah orang yang selama ini di panggil Via dengan sebutan "Om".


Itulah yang terjadi, Marwan sengaja membius Randi agar dia bisa menggantikan tempat Randi menjalankan misi yang dianggapnya misi bunuh diri, memang benar yang dikatakan Marwan, misi itu adalah misi bunuh diri, dan dia sendiri yang merasakannya, tak ada ruang untuk melarikan diri dari kepungan polisi yang banyak berjaga jaga, akhirnya Marwan harus meregang nyawa, mati adalah satu satunya jalan yang bisa di lakukannya saat itu.


Kita kembali ke masa sekarang lagi.


Dimana Randi mulai tersadar dan kembali normal dari pengaruh obat bius yang diberikan Marwan padanya, wajahnya terlihat kesal.


"Marwaaann... apa yang kamu rencanakan, kenapa kamu sengaja membiusku dan menghalangi rencanaku ?" Ujarnya geram.


Tiba tiba telepon Randi berbunyi, segera dia mengambil ponsel dari kantong celananya, melihat nomor panggilan tak ada nama, dia berfikir sejenak, kemudian memencet tombol hijau menerima panggilan telepon.


"Apa kabar Ran ? Lama kita gak jumpa." Ujar orang yang menelpon Randi.


"Siapa kamu?" Tanya Randi.


"Misimu di butik Yana gagal dijalani anak buahmu." Ujar si penelpon, mendengar itu, Randi kaget, karena orang itu tahu tentang rencananya di butik Yana.


"Dari mana kamu tau !" Ujar Randi bertanya pada si penelpon itu.


"Aku akan mengirimkan video ke hapemu, liatlah apa yang terjadi di video itu." Ujar si penelpon lalu menutup teleponnya, Randi terlihat kesal, lalu masuk sebuah pesan di ponsel Randi, dia melihat ada file video yang di kirim dan masuk ke kotak pesan, segera Randi mengklik file video itu.


Randi melihat video yang di kirimkan padanya, saat melihat rekaman video itu, matanya terbelalak melihat Marwan beraksi menyekap Yana dan di kepung polisi di halaman butik Yana, Randi menyaksikan dari video itu detik detik Marwan memberikan perlawanan dan mati tertembak, serta Yana yang lolos dari maut, melihat itu Randi geram, seketika amarahnya memuncak, dia teriak mengamuk histeris di tempat yang sepi itu.


"Aaaagggghhhhh !! Bodoooh!! Toloooolll !! Gobloook, gobloookkk...gobloooookk kamu Marwaaaannnn !!" Teriak Randi, dia kalap dan marah mengetahui dari video Marwan tewas terbunuh.


"Ini ternyata tujuanmu membiusku Marwaaan !! Pikiran toloooolll, gobloookkk !!" Teriak Randi mengamuk.


"Kenapa kamu nekat melakukannya sendiri Marwaaan !! Kenapaaa !!' Teriak Randi, dia mengamuk memukul mukul udara, kalap sekalap kalapnya, lalu terduduk dengan posisi seperti orang sujud dengan tubuhnya menumpu pada kedua kakinya, meratapi kematian Marwan.


"Marwaaannn...!!" Ujarnya marah dan geram, dia tidak dapat menerima kenyataan bahwa Marwan mati terbunuh karena menjalankan misi menggantikan dirinya.


"Akan ku bunuh orang yang membunuhmu Marwan !!" Ujar Randi geram, dia mengepalkan tangannya di tanah, tatapan matanya tajam ke depan, menyeringai buas, amarah bergejolak di dalam dadanya saat itu.


   Yana yang sudah tiba di rumah pamannya lagi bersama Gunawan dan tim kepolisian berkumpul diruang tamu rumah paman Mulyono , Yana duduk di sebuah sofa, di sampingnya ada paman Mulyono, wajah Yana terlihat pucat pasi, penuh dengan ketakutan, karena nyawanya terancam dan hampir saja mati di bunuh. Jika saja Polisi tidak sigap, mungkin Yana sudah mati di bunuh Marwan, dan apa yang di lakukan Kuncoro adalah pilihan yang tepat, jika dia tidak menembak Marwan, tentu saja Yana akan terluka dan berhasil di bunuh Marwan yang kalap saat itu.


"Kita ke kantor sekarang , Handoko dan empat orang tetap di rumah ini berjaga jaga." Ujar Gunawan memberi perintah.


"Siaaap !" Ujar Handoko.


"Kami ke kantor dulu pak, menyusun rencana untuk langkah berikut pengejaran Randi." Ujar Gunawan pada paman Mulyono.


"Baik pak, terima kasih sudah menyelamatkan nyawa Yana." Ujar paman Mulyono.


"Itu sudah tugas kami pak. Kami permisi." Ujar Gunawan pamit lalu meninggalkan paman Mulyono dan Yana yang duduk diam di sofa beserta Handoko, Kuncoro pun pergi mengikuti Gunawan.


"Kalian kembali ke posisi masing masing, siaga di tempat !" Ujar Handoko pada empat personil polisi yang ada di situ, ke empat personil polisi mengangguk beri hormat lalu segera beranjak dari situ menuju tempat pos jaga mereka masing masing. Handoko pun pergi meninggalkan Yana dan paman Mulyono.


"Kamu istirahat di kamar ya?" Ujar paman Mulyono pada Yana yang terlihat masih penuh rasa takut dalam dirinya.


"Dewi gimana paman ?" Tanya Yana dengan suara lirih dan gemetar bibirnya karena masih ada rasa ketakutan , dia masih mengingat kejadian yang dialaminya saat di butik.


"Doakan Dewi baik baik aja, ya." Ujar paman Mulyono, Yana menarik nafas berat. Lalu dia berdiri dari duduknya, paman Mulyono mengikuti Yana yang melangkah gontai, paman Mulyono membantu dengan memapah Yana berjalan menuju kamarnya. Paman Mulyono mengantarkan Yana ke dalam kamarnya, membantu Yana rebahan di kasurnya, lalu paman Mulyono meninggalkan Yana sendiri di dalam kamarnya. Di depan pintu kamar Yana, seorang polisi berjaga, paman Mulyono dengan wajah sedih pergi meninggalkan ruang itu.


   Randi kembali ke rumah lamanya, saat itu dia terlihat gelisah, raut wajahnya menunjukkan bahwa saat itu dia sedang berfikir keras, mencari cara, bagaimana agar dia bisa segera membunuh Yana, wajahnya menyimpan amarah yang mendalam, Randi mundar mandir dengan gelisah di ruang keluarga rumahnya itu, tiba tiba ponselnya berbunyi, segera Randi mengambil ponselnya, ketika melihat nomor yang menghubungi ponselnya, wajah Randi berubah cerah.


"Via ?" Ujarnya melihat , di ponselnya tertulis nama si penelpon "Anakku tersayang" , menandakan jika itu nomor telepon khusus milik anaknya.


"Kamu dimana sekarang nak? Gimana kondisimu ?" Ujar Randi dengan semangat dan rasa keingin tahuan tentang keadaan anaknya itu.


"Via baik baik aja pah, kakek Mulyono membebaskan Via dari bunda Yana." Ujar Via di seberang teleponnya.


Mendengar dan mengetahui Via sudah bebas dan tidak jadi tawanan Yana lagi membuat Randi tenang, dia terlihat lega.


"Papah di rumah lama papah sekarang kan?" Ujar Via di teleponnya.


"Iya nak, kamu dimana ?" Tanya Randi.


"Via di hotel, nanti Via datang nemui papah." Ujar Via. Randi terlihat wajahnya senang sekali, rasa rindu pada anaknya muncul dalam dirinya.


"Iya nak, kabari kalo kamu mau datang, biar papah nunggu dirumah." Ujar Randi bahagia.


"Paah, boleh Via minta sesuatu agar papah mengabulkannya ?" Ujar Via di telepon, dia bertanya pada papahnya.


"Kamu mau minta apa ? bilang ke papah, apapun yang kamu mau, papah pasti langsung turuti dan penuhi." Ujar Randi yang begitu sayangnya pada anaknya.


"Lepaskan Dewi pah, jangan siksa dan libatkan Dewi, kasihan dia, cukup udah penderitaannya." Ujar Via di telepon, mendengar itu Randi terkesiap kaget, dia tak menyangka anaknya meminta hal itu.


"Papah bilang akan nuruti dan penuhi apapun yang Via minta, Via cuma minta papah lepaskan dan pulangin Dewi." Ujar Via.


"Jika papah gak mau nuruti dan penuhi permintaan Via ini, seumur hidup Via gak mau ketemu papah lagi." Ujar Via, Randi kaget mendengar yang di katakan anaknya itu, dia terhenyak, dia tak sanggup jika tidak bertemu anaknya lagi, dia sangat menyayangi anaknya, hingga tak bisa menolak apapun jika anaknya meminta sesuatu padanya.


"Via tunggu papah segera melepaskan Dewi." Ujar Via lalu mematikan teleponnya, saat telepon di matikan Randi kaget.


"Viaaa...naak..." Sudah tak terdengar suara Via, ponsel dimatikan, Randi terduduk lemas di kursi, dia bingung saat itu karena anaknya memintanya untuk melepaskan Dewi, sementara dia menahan Dewi agar bisa sesuka hatinya meneror dan mengancam serta memancing Yana agar mau menemui dirinya. Dia terduduk diam berfikir, apa yang harus di lakukannya?