Go To Hell

Go To Hell
Bab 72



 Siang itu, di kantor kepolisian, Gunawan dan Manto sedang menemui seorang Dokter yang sengaja datang memberikan laporan kepada pihak kepolisian.


"Mengapa setelah berhari hari bapak baru datang melapor ?" Tanya Gunawan.


"Sebenarnya saya ragu dan takut, hanya saja, kok ya hati saya bergejolak terus, jadi saya niatkan diri untuk memberanikan diri melapor ke sini." Jelas sang Dokter.


"Bapak kenal dimana dengan Rizal?" Tanya Gunawan.


"Dia kawan baik adik saya pak, mereka satu profesi, kerja di kantor film yang sama sebagai editor, karena Rizal sering datang kerumah kalo pas liburan ke jogja, dia kenal saya." Ujar Dokter memberi penjelasan.


"Saat itu dia hubungi saya, minta tolong,abangnya katanya terluka di tusuk orang, saya suruh bawa kerumah sakit, dia bilang gak bisa, dia minta tolong terus ke saya, akhirnya saya datang menemuinya dan mengobati abangnya yang terluka." Ujar Dokter, Gunawan dan Manto mendengarkan penjelasannya.


"Saat saya obati dan menjahit luka perut abangnya, saya perhatikan wajah pasien, kok saya kayak pernah liat, tapi di mana? sepulangnya dari tempat Rizal saya terus mikir, pernah liat dimana, sampai saya ingat, bahwa pasien yang saya obati itu buronan polisi, saya pernah liat photonya di koran koran dan televisi." Ujar Dokter memberikan keterangan.


"Berarti, Rizal yang menyelamatkan Randi saat terluka?" Ujar Manto.


"Begitulah pak." Ujar Dokter.


"Artinya, Rizal kaki tangan Randi, Bapak bisa kasih tau alamat lengkap apartemennya ?" Tanya Gunawan pada Dokter yang mengobati Randi.


"Bisa pak." Ujar Dokter. Manto memberikan secarik kertas pada dokter yang lalu menuliskan alamat lengkap apartemen tempat Rizal berada bersama Randi saat ini, setelah menuliskan alamatnya, dia memberikan secarik kertas itu pada Gunawan yang menerima dan membaca alamat yang tertulis.


"Baik pak, terima kasih atas laporannya, jika kami memerlukan kesaksian bapak, kami akan menghubungi lagi." Ujar Gunawan.


"Baik Pak." Ujar dokter mengangguk.


"Kerahkan tim untuk segera ke lokasi." Perintah Gunawan pada Manto.


"Siap, laksanakan !" Ujar Manto lalu bergegas pergi meninggalkan Gunawan dan Dokter. Dokter lalu pamit pulang, mereka bersalaman, setelah kepergian dokter, Gunawan pun segera bersiap siap, lalu pergi untuk segera mengejar dan menangkap Rizal serta Randi.


   Seperti hari hari sebelumnya, Randi terlihat berada di atap gedung apartemen, dari ketinggian atap gedung apartemen itu dia melihat ke bawah, banyak mobil mobil yang melintas di jalan raya, gedung gedung menjulang tinggi berdiri gagah dan kokoh, Randi diam berdiri, dia tercenung, masih memikirkan tentang kondisinya.


Randi melihat ponsel yang dipegangnya, membuka draft berisi pesan yang di ketik dan di simpannya, dia menghela nafasnya. Dia membaca isi pesan dalam draft pesan yang di buatnya, Randi sengaja menyimpan pesan itu dalam draft , agar saat waktu yang dirasanya tepat dia bisa langsung mengirimkan pesan tersebut pada anaknya, dalam draft pesan bukan saja berisi tulisan yang tersimpan, namun ada pesan suara yang disiapkan Randi dan akan di kirimkannya pada Via, anaknya. Randi termenung, menatap ke langit langit yang berwarna biru, cuaca cerah saat itu, semburat cahaya matahari terlihat menyinari, awan awan indah berarak.


Sementara itu, Rizal yang sedang duduk santai menikmati acara film di televisi melalui saluran jaringan tivi kabel luar negri mendengar ketukan pintu, dia dengan cuek dan tetap duduk menatap layar tivi teriak.


"Buka aja pintunya Ran... gak di kunci, pake ngetuk segala, biasa juga main langsung nyelonong !" Ujar Rizal cuek.


Tiba tiba pintu terbuka, dua petugas kepolisian dengan cepat masuk ke dalam apartemen, Rizal kaget melihat dua polisi ada di dalam apartemennya. 


"Siapa kalian ?" Ujar Rizal kaget lalu cepat berdiri.


"Kami dari kepolisian, anda kami tangkap." Ujar petugas polisi 1.


Mengetahui bahwa yang ada dihadapannya polisi, Rizal kaget, dengan gerak cepat dia melemparkan gelas dan asbak besar yang terbuat dari kaca ke arah kedua polisi, lalu melompat cepat menyerang ke dua polisi itu, Rizal mendorong ke dua polisi yang mencoba menghalanginya, kedua polisi terjajar mundur kebelakang karena di dorong Rizal, tak menyangka kalau Rizal menyerang, Rizal lalu lari keluar dari dalam apartemen, di depan pintu luar dia kaget karena Manto dan Gunawan sudah menunggunya di situ, dengan cepat Rizal menyerang dan memukul Manto hingga terjatuh, Gunawan menyerang Rizal, Rizal memberi perlawanan, memukul Gunawan, lalu dia cepat berlari.


"Berhenti Rizal !" Teriak Gunawan, Manto berdiri, ke dua polisi keluar dari dalam apartemen, mereka segera mengejar Rizal yang melarikan diri.


Randi melangkah gontai menuruni anak tangga gedung apartemen yang di sewa Rizal, dia melangkah untuk kembali ke apartemen Rizal, tubuhnya terlihat lelah. Randi membuka pintu darurat lalu keluar dan masuk ke koridor kamar kamar apartemen, berjalan santai.


Rizal yang berlari ke arahnya melihat Randi yang datang segera teriak dan mendekatinya.


"Lari Ran, cepat lari ! Selamatkan dirimu, polisi polisi datang mencarimu !!" Ujar Rizal teriak, Randi gugup dan kaget mendengar teriakan Rizal itu, dia melihat di kejauhan, dari arah belakang tempat kedatangan Rizal berlari ada empat orang yang berlari ke arahnya, Randi geram, dia terlihat marah.


"Keparat ! Kamu sengaja melaporkan aku Zal ?!" Teriak Randi marah pada Rizal yang lantas menggeleng.


"Bukan aku ! Aku gak tau, tiba toba mereka udah muncul dihadapanku, makanya aku lari !" Ujar Rizal memberi penjelasan.


"Gak ada waktu lagi, cepat lari, jangan sampe tertangkap !" Ujar Rizal mendorong Randi agar segera berbalik dan berlari, Randi pun dengan cepat berbalik dan lari , dia membuka pintu darurat, dengan cepat dia berlari menaiki anak tangga menyusuri lantai demi lantai gedung apartemen di ikuti Rizal dan para petugas kepolisian yang berada jauh di belakang mereka terus mengejar. Kejar kejaran diatas anak tangga gedung apartemen pun terjadi, Randi tidak ada tujuan kemana dia berlari, dia hanya mengikuti gerak kakinya berlari dan kemana membawanya pergi, terus lari menaiki anak anak tangga.


Gunawan yang mengejar di belakang berhenti sejenak, mengatur nafasnya, dia menyuruh Manto dan dua petugas polisi untuk terus mengejar Rizal dan Randi, tidak menunggunya, Manto dan kedua polisi berlari melewati Gunawan yang lantas mengambil ponselnya, menghubungi salah satu timnya.


"Kalian sudah siap di posisi masing masing di luar gedung ?" Tanya Gunawan di ponselnya.


"Sudah pak, kami sudah siapkan semuanya ." Ujar petugas polisi yang di hubungi Gunawan dari seberang telepon.


   Randi terpojok, dia sekarang berada di lantai paling atas gedung apartemen yang di sewa Rizal, berada di atas atap gedung yang tempat dia biasanya merenungi dirinya setiap hari, mengetahui dirinya berada di atas atap gedung apartemennya dan tidak ada tempat bersembunyi dan melarikan diri, Rizal pun menghentikan larinya, berdiri di tempatnya terakhir kali tiba, mengatur nafasnya, Manto dan dua petugas polisi tiba di tempat itu, mereka bersiap siap, mencabut dan memegang pistol milik mereka masing masing, mengarahkannya pada Rizal dan Randi, tak berapa lama kemudian, datang Gunawan ke tempat itu, dia segera menghentikan larinya, menatap Rizal dan Randi.


Randi yang melihat sudah ada petugas polisi di tempat itu dengan pistol ditangan, perlahan lahan melangkahkan kakinya lalu naik ke atas tembok pembatas atap gedung apartemen.


"Hentikan Randi ! Jangan lakukan itu !" Teriak Gunawan mencegah Randi yang sepertinya akan melompat dari atas gedung apartemen itu.


Rizal yang melihat Randi berdiri di atas tembok pembatas atap gedung apartemen kaget, Randi membalikkan tubuhnya ke arah Rizal dan para polisi, berdiri dengan sikap tenang menatap mereka semua yang ada di situ.


"Turun Ran, apa yang kamu lakukan di situ ?!" Teriak Rizal pada Randi.


Manto dan kedua polisi tetap bersiap siaga mengarahkan pistol pada Randi dan Rizal, berjaga jaga dengan segala hal yang mungkin bisa saja terjadi saat ini, mereka tidak ingin kecolongan lagi dan Rizal kembali menyerang mereka.


"Waktuku udah tiba Zal, jika bukan sekarang, besok atau lusa pun aku akan mati, udah gak ada harapan, waktuku semakin dikit, penyakitku semakin parah , sebelum aku melupakan semua kenanganku, lebih baik aku akhiri sekarang." Ujar Randi dengan sikap tenangnya berkata pada Rizal, mendengar perkataan Randi itu Rizal terlihat sedih, dia menundukkan kepalanya, menghela nafas berat.


"Menyerahlah Randi !" Teriak Gunawan pada Randi yang tersenyum getir menatap wajah Gunawan.


"Sampe kapanpun aku gak kan membiarkan kalian menangkap dan memenjarakanku." Ujar Randi tersenyum menatap Gunawan yang terlihat memberikan isyarat agar timnya jangan bertindak ceroboh saat itu, dia ingin agar Randi turun dan menangkapnya dalam keadaan hidup.


Perlahan tangan Randi masuk kedalam kantong celananya, melihat pergerakan tangannya itu, petugas polisi curiga Randi akan mengambil senjata dari dalam kantong celananya.


"Jangan bergerak ! Cepat keluarkan tanganmu dari dalam kantong celanamu !" Teriak Manto pada Randi, dua petugas polisi bersiap siap mengarahkan pistolnya pada diri Randi, begitu juga Manto. Randi tersenyum, dia mengeluarkan ponsel dari kantong celananya.


"Santai aja pak polisi, saya cuma ambil hape." Ujar Randi tersenyum dan menunjukkan ponsel yang dipegangnya.


Melihat ponsel ditangan Randi, petugas polisi, Gunawan dan Manto sedikit tenang.


Rizal hanya diam berdiri di tempatnya, tak bisa berbuat apapun saat itu, karena polisi memegang pistol, jika dia sedikit saja berbuat hal yang mencurigakan pasti para polisi akan menembaknya, Rizal diam berfikir, dia menatap Randi yang berdiri di atas tembok pembatas atap gedung apartemen.


Randi dengan cuek dan sikap yang santai melihat ponsel, dia membuka layar ponselnya, lalu mengklik kotak pesan, dia mencari pesan yang sudah dibuatnya dalam draft penyimpanan pesan, lalu dia menatap pada Rizal.


"Sampaikan salamku pada anakku Zal, katakan, bahwa papahnya selalu mencintainya, sampai kapanpun." Ujar Randi dengan suara yang tenang, tatapan matanya dingin menatap Rizal yang terpaku diam mendengar ucapan Randi.


"Jangan nekat Ran, jangan lakukan itu." Ujar Rizal dengan suara lirihnya menatap dengan sedih pada Randi yang berdiri dengan wajah yang tersenyum.


Randi diam sejenak, dia menatap lekat wajah Rizal yang terlihat menunjukkan kesedihan dalam dirinya, lalu membagi pandangannya pada Gunawan, Manto serta kedua polisi yang bersiap siaga dengan pistol ditangan masing masing.


Sesaat kemudian, Randi melihat ke kotak draft penyimpanan pesan, jari tangannya sudah bersiap di menu "Mengirim pesan", saat Randi mengangkat ponselnya dengan tangannya, reflek Manto teriak.


"Awas boom !" Teriak Manto, dia mengira Randi akan menekan tombol dari ponselnya untuk meledakkan bom yang sudah di siapkannya.


"Hentikan !" Teriak Manto sambil menembakkan peluru dari pistolnya ke udara, memberi peringatan pada Randi agar tidak menekan tombol di ponselnya, Randi terdiam menatapnya. Dia tak perduli dengan perintah Manto.


"Selamat tinggal Rizal, maafkan aku selama ini." Ujar Randi tersenyum menatap wajah Rizal yang berdiri termangu tiada daya.


Tanpa menunggu perintah, karena panik dan takut jika benar ada bom, kedua polisi pun dengan cepat menembakkan pistol ke arah Randi, melihat polisi polisi menembak Randi, Rizal panik dan teriak histeris.


"Jangan tembak, hentikan !!" Teriak Rizal, dia dengan cepat bergerak lari ke arah polisi polisi yang menembak, mencoba menghalangi, akibatnya Rizal pun tertembak oleh peluru peluru yang ditembakkan kedua polisi, Rizal menerima hantaman peluru peluru yang menembus di tubuhnya, Manto menembakkan pistolnya pada Randi tepat saat Randi juga menekan tombol "mengirim pesan" di ponselnya, tembakan Manto mengenai dada Randi yang segera membuat tubuh Randi goyah, melihat itu Gunawan teriak pada Manto.


"Berhenti ! Jangan tembak lagi !" Teriak Gunawan, Manto pun dengan cepat menghentikan tembakannya, Rizal yang terkena tembakan kedua polisi roboh dan jatuh tersungkur di lantai atap gedung apartemen, dari tubuhnya mengeluarkan darah segar.


"Gak ada bom di sini, kenapa kalian menembaknya." Ujar Rizal dengan suara lemah terbaring di lantai karena tertembak. Sementara Randi karena tubuhnya goyah terkena tembakan, jatuh dari atas tembok pembatas atap gedung apartemen, Gunawan berlari kearah jatuhnya Randi, berusaha untuk menangkap dan menolong agar tak terjatuh, namun terlambat, tubuh Randi sudah terjatuh dari atas atap gedung apartemen, Gunawan menatap kebawah, dimana terlihat tubuh Randi dalam keadaan posisi terlentang dengan di tangan kanannya memegang ponsel, wajahnya tersenyum, melesat cepat di udara, turun kebawah.


Untuk beberapa saat kemudian, terdengar bunyi keras "Buuummm", tubuh Randi jatuh ke lantai halaman gedung apartemen dengan posisi terlentang, ponsel yang ada ditangannya terlepas, hancur berantakan dan tergeletak di lantai, berada di sekitar tubuh Randi yang mengeluarkan darah dari kepalanya. Orang orang panik melihat Randi yang jatuh dari atas atap gedung apartemen, mereka teriak histeris melihat Randi yang berdarah, petugas keamanan beserta petugas kepolisian yang berjaga di luar gedung apartemen berlari mendekat pada tubuh Randi yang sudah tak berdaya. datang mendekat dan melihat kondisi Randi, mereka segera mengamankan sekitar tempat terjatuhnya Randi. Gunawan yang diatas atap gedung apartemen terdiam menatap ke bawah, melihat pada tubuh Randi yang sudah terkapar di lantai halaman gedung apartemen.


"Kenapa kalian menembak tanpa ada perintah ?!!" Teriak Gunawan pada Manto dan petugas kepolisian, dia marah karena gagal menangkap hidup hidup Randi akibat kecerobohan timnya yang bertindak tanpa menunggu perintahnya.


Rizal yang terbaring di lantai atap gedung apartemen terlihat mengeluarkan air matanya, dia bukan menangisi dirinya, namun menangisi diri Randi, dia tak menyangka abangnya akan mengakhiri hidupnya dengan jalan seperti itu, dengan tubuh lemah tak berdaya dan luka parah ditubuhnya karena peluru peluru dari polisi serta banyak mengeluarkan darah, dengan nafas terengah engah, Rizal bergumam.


"Maafin Om Via,Om gak bisa mencegah papahmu." Ujarnya dengan suara lemah, tatapan matanya nanar dan kosong, sesaat kemudian dia sudah tak bergerak, diam kaku dengan mata terbuka menatap kosong jauh ke depan.


   Dirumah kontrakannya, ponsel Via yang tergeletak di meja kamar berbunyi, mata Via melirik pada ponselnya, lalu tangannya bergerak, dia mengambil ponselnya, menekan tombol di ponsel dan menerima pesan yang masuk di ponselnya, mata Via melihat, pesan yang masuk dari papahnya. Via segera membuka ponselnya, membaca pesan dari papahnya, saat membaca isi pesan yang di kirimkan Randi, papahnya, mata Via terbelalak, tatapan matanya dingin, dia diam melihat pada isi pesan yang diterimanya saat itu.