
Kembali ke beberapa jam sebelum terjadinya pembunuhan Yana yang dilakukan Via.
Via membuka pintu kamar setengah, semburat cahaya masuk ke dalam kamar saat pintu terbuka, mengenai wajah Yana yang terikat di atas tempat tidur, Yana cepat menoleh kearah datangnya Via yang berjalan santai dan tenang mendekatinya.
"Via...Viaa tolong, lepasin bunda, lepasin bunda, biarkan bunda pergi dari sini ya, tolong Via..." Ujar Yana memelas pada Via yang menatapnya dengan tatapan sorot mata yang dingin, wajah Yana terlihat penuh dengan rasa kecemasan dan ketakutan melihat sikap dingin Via.
"Kamu harus di hukum atas semua perbuatanmu pada papahku." Ujar Via dengan suara datar menatap dingin wajah Yana yang ketakutan, dia merasakan ada hal yang aneh pada diri Via saat melihat wajahnya, perasaan Yana menjadi semakin cemas, dia merasakan akan terjadi sesuatu hal yang tidak pernah dibayangkannya sebelumnya.
Via mendekati Yana yang terikat diatas tempat tidur, masih menatap tajam dengan sorot mata dinginnya.
"Kamu tau, begitu menyakitkannya hatiku, saat pertama kali aku mendengar langsung dari papah kalo dia di usir, dicampakkan, dibuang dan di hina olehmu." Ujar Via dengan sikap dingin.
"Saat papah menjelaskan padaku alasan dia balik ke jakarta menyakitkanku, melihatnya menangis saat itu membuatku terluka. Tapi aku berusaha menyembunyikan semua rasa itu dari papah. Diluar diriku tenang, didalam jiwaku bergemuruh amarah." Ujar Via menatap geram Yana yang semakin takut melihat sikap dingin Via itu.
"Aku marah kamu mengatakan papahku hanya beban hidupmu . Apa kamu lupa ? Harta yang kamu miliki itu sebagian dari hasil kerja keras papahku bekerja, berusaha jalani bisnis kalian ? Apa kamu lupa rumah besar dan mewah kalian itu di beli dari uang papahku dan kamu hanya menambahkan lima belas persen uang dari warisanmu?!" Ujar Via menatap tajam Yana.
"Apa kamu juga mengingkari, bahwa modal usaha toko pakaian dan ekspedisi yang dijalani papahku semua modal dia dan modal dari bude intanku ?!" Bentak Via marah pada Yana.
"Kamu perempuan gak tau malu Yana ! Perempuan hina ! Lebih rendah dari pelacur yang masih punya rasa malu, punya hati !" Ujar Via geram, Yana terlihat menggerak gerakkan tubuhnya berusaha melepaskan ikatan di tubuhnya, namun usaha itu tentu saja sia sia, karena ikatan yang melilit tubuhnya begitu kuat di buat Via.
"Semua tentang papah aku tau, karena dia selalu cerita apa saja padaku, tentang kerjaan dan usaha yang dijalaninya bersamamu, aku juga tau ! Itu sebabnya aku gak terima kamu hina dia, kamu campakkan demi nafsumu ! Hanya demi seorang laki laki yang lebih hina cuma bermodalkan ***** belaka !" Ujar Via lagi, dia terlihat menahan segala amarahnya yang sudah mulai bergejolak didalam jiwanya.
"Aku merencanakan semuanya, aku datang ke kota ini, berpura pura untuk mencegah papahku menyakitimu, berpura pura agar mendapatkan rasa simpatik darimu dan pamanmu ! Itu kulakukan agar aku bisa dekat denganmu, tau semua yang kamu lakukan, dan agar aku lebih mudah membunuhmu, melancarkan niat papahku membunuhmu !" Ujar Via tersenyum sinis.
"Aku yang membocorkan semua rencanamu dan polisi pada papah, aku yang bilang dimana butikmu, agar papahku tau semuanya." Ujar Via, mendengar itu Yana kaget, dia tak menyangka semua itu hanya kebohongan yang dilakukan Via, sikap baiknya selama ini hanyalah kebohongan, Yana menjadi jijik melihat Via, yang tak jauh beda dengan Randi.
"Aku juga yang membuat papah kuat tekatnya membunuh anakmu Dewi." Ujar Via dengan tatapan dingin, Yana kaget, dia menatap lekat wajah dingin Via, ingin tahu apa maksud dari ucapan Via itu.
"Aku tau bagaimana diri papahku, semakin dia di larang, di cegah, semakin kuat keinginan membunuh muncul dalam dirinya."
"Aku sengaja bilang ke papah agar jangan membunuh Dewi anakmu, dengan tujuan sebaliknya, dan tepat , seperti yang sudah ku duga, sebaliknya, papah justru membunuhnya, ooohhh, itu membuatku senang." Ujar Via tertawa sinis pada Yana yang begitu syock dan kaget mendengar pengakuan Via itu.
Via yang pandai memutar balik kata berhasil mempengaruhi Randi untuk membunuh anaknya, air mata Yana jatuh di pipinya , dia begitu sedih dan perih mendengar dan mengetahui semua kenyataan itu.
"Dan satu hal lagi Yana, kamu tau ? Aku sengaja membiarkanmu menyiksaku, mengurungku, mengikatku, dan memperlakukanku seperti anjing saat itu, agar semua melihat bahwa aku adalah korban." Ujar Via melotot pada Yana.
"Aku tau, jika aku berpura pura menjadi korban kekerasanmu, maka pamanmu akan menolong dan membelaku, dan itu benar adanya." Ujar Via tersenyum, Via yang memang sejak kecil sudah terbiasa memainkan playing Victim, berpura pura menjadi korban, berhasil menipu semua orang, termasuk paman Mulyono dan juga Yana yang tak menyangka jika Via begitu liciknya.
"Aku yang menugaskan Om Rizal untuk mengawasimu dan papah, aku sengaja menyuruhnya untuk mencegah papah saat dia membunuhmu, untuk itu aku tau dimana kamu di sembunyikan papah, karena itu aku datang dan bisa ketemu kamu di dekat rumah lama kalian itu." Ujar Via pada Yana yang terdiam syock.
"Kenapa aku lakukan itu ? agar aku bisa membunuhmu dengan tanganku sendiri ! Melampiaskan rasa sakit hatiku karena kamu udah menyakiti dan menghancurkan hidup papahku !" Ujar Via menatap tajam Yana dengan geram.
"Satu kesalahan yang udah kamu lakukan pada papah dan juga aku, kamu gak tau, kalo semua hinaanmu, perbuatanmu menghidupkan kembali sisi gelap dalam diri papah, dan juga aku ! Kamu udah mengundang pribadi pribadi kami lainnya untuk menghakimimu !" Ujar Via tertawa sinis, Yana semakin takut melihat perubahan sikap Via yang berdiri di sampingnya, di tepi tempat tidur.
"Jika papahku hancur hidupnya, hidupmu juga harus hancur , Jika papahku tersiksa hidupnya, maka kamu pun harus tersiksa seumur hidupmu, apa yang kamu lakukan, harus dibalas!" Ujar Via menatap tajam Yana yang diam.
Via menggerakkan tangan kanannya yang dari awal dia masuk ke kamar berada dibelakang punggungnya, di tangannya ada pisau yang begitu tajam, melihat pisau di tangan Via, Yana semakin ketakutan.
"Maafkan aku Via, maafkan aku, aku salah, aku salah !! Tolong, ampuni aku!" Ujar Yana memelas, memohon belas kasihan pada Via.
Dengan tatapan mata dingin dan sikap tenang, Via membungkukkan tubuhnya, wajahnya mendekat ke wajah Yana.
"Kamu harus mati Yana, mati dalam penderitaan dan kehinaan !" Ujar Via geram berbisik di telinga Yana, Yana menggeleng gelengkan kepalanya, meronta takut.
"Tolong Via, lepaskan aku, maafkan aku, biarkan aku pergi, tolong, aku mohon, jangan bunuh aku, tolong, kamu anak baik, kamu pasti gak kan mau jadi pembunuhkan ?! Ku mohon, lepaskan aku, jangan bunuh aku!" Ujar Yana menangis meronta ronta mengemis belas kasihan pada Via yang hanya diam menatap tajam wajah Yana yang begitu ketakutannya.
"Udah waktunya kamu mati Yana, akulah malaikat pencabut nyawamu saat ini." Ujar Via dengan suara datar dan tenang berbisik di telinga Yana, Yana membuka matanya lebar lebar, bola matanya berputar putar, menunjukkan ketakutan yang begitu hebat dalam dirinya, dia tidak ingin Via membunuhnya, Yana menggeleng gelengkan kepalanya.
"Jangan bunuh aku Via, ampuni aku, maafin aku !" Ujar Via menangis dalam ketakutannya, Via dengan geram memegang kepala Yana dengan tangan kirinya, mencengkram rambut dan menekan kuat kepala Yana agar tidak bergerak terus, Via menatap tajam ke wajah Yana, sorot mata yang menunjukkan kekejaman terlihat jelas saat Yana menatap matanya. Via menggerakkan pisau ditangannya dari pipi Yana ke leher Yana, terdiam sejenak, tersenyum sinis menatap wajah takut Yana, lalu dia mendekati wajahnya, mengecup dahi Yana dengan tangan yang memegang pisau bergerak memotong leher Yana, mata Yana melotot menahan sakit, dia tak bisa bergerak saat itu karena kepalanya di tahan Via dan Via sengaja mencium dahinya untuk menindih dan menahannya agar tidak bergerak. Via menyayat leher Yana, darah segar segera mengalir cepat dari luka leher Yana, tubuh Yana kejang kejang sesaat, matanya terbelalak lebar, untuk kemudian, tubuhnya diam tak bergerak, Yana terkulai tak berdaya di tempat tidur dengan posisi terikat dan leher terluka parah. Yana menghembuskan nafas terakhirnya, dia mati di tangan Via.
Setelah melihat Yana sudah meregang nyawa, mati, Via menatap tubuh Yana dan tersenyum puas, dia membersihkan darah Yana yang mengenai pakaiannya, tiba tiba ...
"Triiingg..." Terdengar bunyi pesan masuk dari ponselnya. Via menoleh ke ponselnya yang tergeletak di atas meja rias yang ada di kamar itu, dia segera melepaskan sarung tangan latek dari tangan kirinya, membersihkan bekas darah yang ada di sarung tangan latek di tangan kanannya, Via meletakkan pisau yang menempel darah Yana di tepi tempat tidur, dia melepaskan sarung tangan latek ditangan kanannya, lalu menekan tombol, menerima pesan yang terkirim di ponselnya, lalu selanjutnya, seperti yang sudah di ceritakan dalam bab sebelumnya.
Begitulah kejadian yang tragis di alami Yana, dia harus meregang nyawa ditangan Via, anak kandung Randi, dia tak pernah menduga, bahkan siapapun tak kan pernah menduganya, bukan Randi yang membunuh Yana, melainkan Via yang membunuhnya dan sudah merencanakannya dari awal kedatangannya menemui Yana.
Kematian Randi yang tragis, kini juga harus dialami Yana, diapun mati dengan tragis.
Di kantor kepolisian, terlihat Gunawan sedang merapikan barang barangnya di meja kerjanya, dia berkemas kemas, memasukkan semua buku buku miliknya ke dalam kardus, para petugas kepolisian, juga Manto hanya berdiri diam melihatnya berkemas, Kapten Harun Rasyid datang mendekatinya. Gunawan mengangkat kardus kardus berisi barang barang miliknya, menatap wajah Kapten Harun Rasyid yang berdiri di hadapannya.
"Saya pamit Kapten, terima kasih atas semuanya, saya bangga pernah mengabdi di kepolisian selama ini, maafkan saya sudah mengecewakan dan tidak bisa bekerja dengan maksimal." Ujar Gunawan pada Kapten Harun Rasyid yang diam, dia mengangkat tangannya, mengajak Gunawan bersalaman, Gunawan menjabat tangan Kapten Harun Rasyid.
"Sebenarnya saya tidak ingin kamu mengundurkan diri Gun, saya cuma memberimu hukuman selama 1 bulan, bukan memecatmu." Ujar Kapten Harun Rasyid pada Gunawan.
"Tidak apa Kapten, ini sudah niat saya, saya malu karena gagal menjalankan tugas saya menangkap buronan dan membiarkannya mati begitu saja, karena itu saya mengundurkan diri, karena merasa gagal dan gak pantas berada di sini." Ujar Gunawan mencoba tersenyum walau getir, Kapten Harun Rasyid menepuk bahu Gunawan, memberinya semangat.
"Semoga kamu mendapatkan kemudahan dan pekerjaan yang lebih baik di luar sana." Ujar Kapten Harun Rasyid.
"Terima kasih pak, saya pamit." Ujar Gunawan pada Kapten Harun Rasyid, Manto bertepuk tangan, di ikuti para petugas kepolisian yang ada di ruangan itu.
"Tetap semangat pak Gun !" Teriak lantang Manto, di ikuti petugas kepolisian lainnya, mereka bertepuk tangan, memberikan aplaus pada Gunawan atas kinerja baiknya selama ini di kepolisian itu selama menjabat sebagai letnan dua, dibawah Kapten Harun Rasyid.
Gunawan tersenyum menatap semua rekan rekan kerjanya, wajahnya terlihat sedih, dia menarik nafasnya, lalu berjalan membawa kotak kardus berisi barang barang miliknya, ada 3 kardus berukuran sedang di tangannya, Gunawan berjalan keluar ruangan di iringi suara tepuk tangan aplaus dari rekan rekan kerjanya, mengantarkan kepergian Gunawan yang telah mengundurkan diri karena merasa bertanggung jawab dan gagal menjalankan tugasnya selama mengejar dan menangkap Randi, buronan pembunuhan berantai yang diburu selama ini.
Di pagi harinya, setelah terjadinya pembunuhan Yana, terlihat seorang bapak separuh baya berjalan membawa tempat makanan hewan ditangannya, bapak separuh baya itu membuka pintu pagar tempat dimana dia mengurung 3 ekor anjingnya, dia heran karena pintu pagar tidak terkunci, suara gonggongan anjing anjingnya terdengar sangat keras, membuat berisik di sekitar tempat itu, bapak separuh baya itu segera masuk ke kandang anjing, memberikan makanan yang dibawanya, dia heran ke tiga anjingnya cuek , tidak menyambut kedatangannya seperti biasa saat masuk membawa makanan, anjing anjing itu terlihat berada di belakang kandang, masih menggonggong, bapak separuh baya mencium sesuatu yang aneh dan berbau busuk, dia segera mendekati dimana anjing anjingnya berada, saat dia mendekati anjing anjingnya, bau aneh dan busuk semakin jelas tercium dan begitu menyengat hidungnya, bapak separuh baya menutup hidungnya, mendekati anjing anjingnya, saat dia melihat ada sosok mayat tergeletak di tanah dan di kerumunin tiga ekor anjing miliknya, dia terhenyak kaget, matanya melotot melihat mayat terbujur kaku di tanah dan anjing anjingnya menjilati tubuh mayat itu dan menggigitinya. Bapak separuh baya yang syock segera teriak.
"Tolllooooongggg...ada mayaaaaattt, tooollloooonnnggg !!" Teriaknya histeris dengan ekspresi wajah yang ketakutan.
Singkatnya, petugas kepolisian dan paramedis serta ahli forensik kepolisian datang ke lokasi ditemukan mayat, mereka datang setelah bapak separuh baya dibantu warga warga melaporkan penemuan mayat itu.
Gunawan yang sudah tidak bekerja di kepolisian juga datang kelokasi kejadian, dia tahu penemuan mayat itu karena diberi tahu Manto yang mengatakan bahwa ciri ciri mayat yang ditemukan seperti Yana, orang yang mereka cari keberadaannya. Karena penasaran dan ingin tahu Gunawan pun datang ke lokasi.
Mayat yang ditemukan dibawa oleh petugas paramedis, saat hendak dimasukkan ke dalam mobil ambulance, Manto menghentikan mereka.
"Sebentar, biar saya lihat mayat ini." Ujar Manto pada petugas paramedis, Manto membuka kain penutup wajah dan tubuh mayat dengan tangannya yang memakai sarung tangan, disampingnya berdiri Gunawan, Manto sengaja memberikan keleluasaan pada Gunawan agar dia juga bisa melihat siapa mayat tersebut.
Saat Manto membuka kain penutup wajah mayat, matanya terbelalak, Gunawan juga kaget, wajahnya terlihat geram.
"Biadaaab ! Ini Bu Yana, dia di bunuh !" Terlihat Gunawan menahan amarahnya, dia geram melihat kenyataan bahwa mayat itu ternyata Yana.
Seorang petugas forensik berlari lari ke arah Manto dan Gunawan, dan memberikan secarik kertas yang ditemukannya, Manto membaca tulisan di secarik kertas itu, dia geram dan memberikan kertas pada Gunawan yang cepat menerima dan membacanya.
"Ini hadiah dariku buat kalian semua, sampai bertemu lagi, ku harap kamu Gunawan bisa bermain main denganku, Mari bermain sebagai pemburu dan mangsa denganku, Via." Begitu isi pesan di secarik kertas itu.
"Viiiaaaa...!! Aku pasti akan menangkapmu !!" Ujar Gunawan geram, tatapan matanya penuh amarah yang begitu besar, dia tak menyangka bahwa Via membunuh Yana, selama ini dia sudah berhasil di perdaya oleh Via yang berpura pura bersikap baik didepannya.
TAMAT