Go To Hell

Go To Hell
Bab 25



Sore itu, dirumahnya, Marwan sedang menemui Polisi yang datang kerumah nya.


Marwan menjelaskan dan menjawab semua pertanyaan yang di ajukan pihak kepolisian pada nya.


Marwan menjelaskan pada Polisi bahwa benar dia sedang dirumah Randi dan bersamanya, saat Malam menghilangnya dan matinya Riyadi, tetangga Randi yang di bunuh.


Marwan juga memberi keterangan bahwa memang benar saat ia ada dirumah Randi sampai tengah malam, pihak keamanan erte bernama Bandi menegur mereka dengan cara kasar dan tidak sopan, namun menurut penjelasan Marwan pada pihak polisi, mereka tidak ribut mulut, Randi saat itu meminta maaf pada Bandi, keamanan erte dan Marwan setelah itu pulang.


Semua keterangan yang diberikan Marwan di catat oleh pihak ke polisian sebagai bukti alibi dan kesaksian Marwan.


Pihak kepolisian pun pamit pada Marwan setelah mereka merasa sudah cukup untuk menanyakan segala hal pada nya.


Marwan mengantarkan kepergian pihak Polisi dari rumah nya, Istri Marwan setelah pihak kepolisian pergi mendekati Marwan.


"Ada apa Mas ?"


"Gak apa, Polisi cuma bertanya, mereka sedang menyelidiki kasus pembunuhan tetangganya bang Randi."


Ujar Marwan pada istri nya, Eka, istri Marwan heran mendengar penjelasan Marwan.


"Apa hubungan nya dengan Mas ?"


Tanya Eka.


"Ya karena, menurut Polisi, dari bukti cctv dirumah bang Randi yang mereka dapatkan, orang terakhir yang bertemu korban Riyadi aku sama bang Randi."


"Saat itu kami mau pergi cari makan, korban Riyadi ada di depan rumah bang Randi sedang nge las besi,bikin pagar."


Jelas Marwan pada Istrinya, yang mulai sedikit tenang dengan penjelasan suami nya itu.


"Polisi juga bertanya tentang kejadian saat keamanan erte menegur kami pada malam menghilangnya korban keamanan erte itu."


Jelas Marwan.


"Tapi memang gak ada yang terjadi sama kamu kan Mas ?"


Tanya Eka.


"Ya nggak lah, aku gak ada masalah dengan para korban itu."


Ujar Marwan tersenyum pada istrinya yang menatapnya lekat penuh rasa khawatir.


Eka pun lalu meninggalkan Marwan ,masuk kedalam kamarnya. Sementara Marwan duduk di kursi ruang tamu rumahnya ,berfikir.


Pagi itu, Cafe Yana tutup, Yana sedang menemui Karyawati nya yang biasa datang lebih awal untuk membuka Cafe.


"Hari ini libur aja dulu, Lusa baru buka lagi."


"Saya mau ada urusan di rumah Jogja.Nginap disana."


"Baik Bu."


Ujar Karyawati.


"Kalo gitu saya pamit pulang dulu bu."


Ujar Karyawati pada Yana yang mengangguk tersenyum pada nya. Setelah kepergian Karyawati cafe nya, Yana naik ke motornya, menyalakan mesin motor nya lalu pergi meninggalkan Cafe .


Randi yang sudah mulai berangsur membaik kondisi kesehatannya yang sempat drop tampak sedang bertemu Marwan hari itu di sebuah Cafe.


"Saya yakin Polisi nanti akan menemui abang."


Ujar Marwan.


"Gak apa Wan, terima kasih kamu udah kasih info."


Marwan mengangguk pada Randi yang menyeruput jus yang di pesannya di sebuah cafe tempat mereka bertemu.


"Saya akan secepatnya menjalani apa yang abang tugasin."


Ujar Marwan.


"Iya Wan, biar cepet beres, gak ada waktu lagi buat berlama lama."


Ujar Randi pada Marwan yang mengangguk, Marwan pun memakan makanan yang ada dimeja.


Bram sedang menjalani proses Syuting , menggantikan Randi sebagai Sutradara karena Randi sakit. Tampak Bram serius menggarap adegan nya.


Randi datang ke Lokasi syuting, turun dari mobilnya, lalu melangkah mendekat ke arah set tempat syuting dilakukan.


Randi melihat Bram yang sedang mengarahkan para pemain di set, Randi terdiam memperhatikan nya.


Tiba tiba kepalanya terasa sakit, Randi menahan Sakit dikepala nya itu.


"Kalo lu terus sakit, bisa bisa posisi lu digeser dan ditendang sama bos lu ,liat si Bram, dia udah kayak sutradara beneran ngalahin elu!"


Ujar Sanur yang berdiri disamping Randi, Randi kaget melirik ke arah Sanur.


"Apaan sih ? Gak semudah itu gantiin posisi gua."


Ujar Randi.


"Lu lupa, kalo lu dulu dengan mudahnya gantiin sutradara lu yang meninggal?"


"Lu naik jabatan jadi sutradara karena sutradara lu dulu meninggal di lokasi syuting."


Ujar Sanur.


"Dan bukan gak mungkin, elu juga bakal mati mendadak dilokasi syuting karena penyakit lu."


Ujar Sanur menyeringai tertawa, mendengar itu Randi terdiam, matanya menatap tajam ,melihat ke arah Bram.


Selintas Randi teringat akan sebuah kejadian saat di Lokasi syuting dulu,ketika dia masih menjadi Co.Sutradara.


Pada Saat Masa Lalu .


Randi tampak sedang di tegur dan di bentak oleh Sutradara nya karena tidak mengikuti instruksi.


"Elu itu ngerti gak sih ? kalo gua suruh itu elu harus ngikut, bukan malah ngerubah adegan seenak lu!"


"Tolol banget lu jadi orang ! kalo lu gini terus, selama nya lu gak kan sukses, bisa bisa jadi gembel lu karena gak ada yang mau pake lu jadi asisten atau co.sutradara mereka!!"


Bentak Sutradara pada Randi yang terdiam, dia tertunduk, namun tampak wajahnya menahan amarah pada Sutradara nya yang membentak dan memaki nya di depan umum.


Randi melirik, para kru semua melihat ke arah Randi yang di bentak Sutradara, termasuk para artis yang ada, Randi menahan rasa malu nya karena merasa sudah di rendahkan didepan umum.


"Kita break dulu ! Pusing gua ngadepin orang tolol kayak dia ini !!"


Ujar Sutradara sambil menunjuk ke arah Randi lalu pergi meninggalkan Randi yang masih berdiri terdiam.


Randi masuk ke dalam kamar mandi yang ada di lokasi tempat Syuting mereka, di Wastafel, Randi menatap ke kaca, wajah nya menahan geram. Tak lama Randi meringis menahan sakit ,dia memegang kepala nya yang terasa sangat sakit, lalu beberapa saat kemudian, Randi terdiam, Wajah nya menegang, tatapannya tajam menatap Kaca yang ada di dalam kamar mandi itu, mulut nya menyeringai.


"Lu udah menghina dan merendahin gua didepan umum, Lu harus gua beri pelajaran !"


Ujar nya dengan suara berat, berbeda dengan suara normal sebelumnya.


Tampak Sutradara yang tadi membentak Randi sedang ada di set memberi arahan pada para pemain nya, sementara Randi tidak jauh dari posisi nya berdiri memperhatikan.


"Udah jelas kan apa yang gua kasih tau ?"


Tanya Sutradara pada para pemain nya yang lantas mengangguk paham.


"Gua ke toilet dulu, habis itu kita Take, kru stand by ya."


Ujar Sutradara, dia melangkah melewati Randi tanpa melihat kepada Randi, melengos pergi begitu saja.


Randi berusaha bersikap wajar dan biasa saja melihat sikap Sutradara nya.


Sutradara membuka pintu kamar mandi, lalu melangkah masuk kedalam kamar mandi, saat itu, kaki nya tergelincir, dia terpeleset karena kaki nya menginjak sabun yang ada di lantai kamar mandi, Sutradara terjatuh terjerembab, kepala nya membentur pinggir Wc duduk yang ada di dalam kamar mandi itu, lalu terkulai di lantai kamar mandi yang penuh dengan busa sabun dan licin.


"Pak ,Coba di cek."


Ujar Pak Jay pada Randi.


Randi menggelengkan kepalanya pada Pak Jay, menolak suruhan pak Jay.


"Suruh unit aja Pak, ntar ngamuk lagi kalo saya yang manggil nya."


Ujar Randi. Pak Jay pun melihat sekitar nya, melihat ada Erwin diantara kru di set, dia memanggilnya.


"Wiiin, coba kamu liat, sedang ngapain pak Susilo !"


Ujar Pak Jay pada Erwin, unit Manager yang lantas mengangguk dan berlari memenuhi perintah Pak Jay,pimpinan produksi mereka.


Erwin melihat pintu kamar mandi terbuka sedikit, dia lalu mendekati pintu kamar mandi itu, melangkah hendak masuk. Erwin kaget melihat Pak Susilo si Sutradara terkapar di lantai kamar mandi.


"Paak, Pak Silooo..."


Ujar Erwin menepuk nepuk wajah Pak Susilo, tak ada reaksi, Erwin memeriksa denyut nadi dan merasakan udara nafas dari hidung Sutradara itu, tak ada nafas,Erwin kaget, dia langsung berdiri lari keluar dari kamar mandi.


Erwin berlari mendekati pak Jay yang sedang berada tidak jauh dari meja monitor syuting.


"Tolllooongiiinn....Pak Susilooo...Pak Susilooo pingsan dikamar mandi."


Teriak Erwin, mendengar itu orang orang kaget lalu cepat berlari kearah kamar mandi untuk melihat apa yang terjadi, Randi pun mengikuti mereka.


Petugas Paramedis menggotong tubuh Susilo yang tertutup kain putih seluruh badan dan wajahnya, para kru dan artis melihat mayat Susilo di masukkan ke dalam ambulance dan pergi dari lokasi itu.


Didalam ruangan Pak Ramesh Singh, tampak Randi duduk di hadapan Pak Ramesh Singh, Pemilik rumah produksi sekaligus bos Randi di perusahaan film ,Pak Jay juga ada di dalam ruangan itu.


"Menurut keterangan dokter, Pak Susilo meninggal karena jantung Pak, kemungkinan sakit jantung nya kambuh dan terjatuh di kamar mandi membentur wc duduk, murni kecelakaan."


Ujar Pak Jay, Pimpinan Produksi pada pimpinan nya itu, sementara Randi hanya diam saja.


"Untuk itu saya memanggil Pak Randi keruangan saya."


"Karena Pak Susilo meninggal, dan kita sedang kejar tayang untuk sinetron serial di tv, saya menugaskan Pak Randi sebagai Sutradara melanjutkan produksi."


Ujar Pak Ramesh Singh kepada Randi yang tampak senang mendengar nya.


"Terima kasih atas kepercayaan nya Pak, Saya akan bekerja dengan baik dan semaksimal mungkin."


Ujar Randi senang, Pak Jay menyalami Randi untuk memberi nya selamat karena naik jabatan.


------


Kembali ke Masa Sekarang.


"Lu beruntung karena Roni cepat mengambil tindakan dulu buat matiin si bajingan Sutradara lu dulu!"


Ujar nya berbisik pada Randi, Randi melirik pada Sanur yang tertawa pada Randi yang diam masih tercenung.


"Hati hati Ran...nasib lu bisa berakhir sama.."


Ujar Sanur tertawa, Randi kesal mendengar apa yang diucapkan Sanur pada nya.


"Diam luu !""


Bentak Randi.


Tiba tiba terdengar suara teriakan memanggilnya.


"Paaak Randiii...!!"


Randi kaget,lalu memegang kepala nya lagi menahan sakit ,sesaat kemudian menenangkan dirinya kembali ke keadaan normal.


Teriakan itu menyadarkan nya dari lamunan.


"Paakkk... kenapa gak bilang kalo mau datang ?"


Ujar Bram berlari mendekati Randi yang tampak kikuk karena Bram, Asisten Sutradara yang menggantikan nya sementara itu menyambut nya ramah.


"Ah..oh,saya memang sengaja pengen liat."


Ujar Randi.


"Silahkan Pak, dilanjutkan, saya manut ke bapak."


Ujar Bram menyerahkan kembali posisi sutradara pada Randi, Pak Jay, Pimpinan Produksi yang melihat kedatangan Randi pun menyambutnya, menyalami Randi dan tersenyum.


"Udah siap keliatannya buat garap lagi Pak."


Ujar Pak Jay, Randi tersenyum melihat Jay,lalu Randi melihat kepada Bram.


"Kamu lanjutin aja buat hari ini sesuai schedulu Bram, besok baru saya yang lanjutin."


Ujar Randi.


"Siap Pak, saya lanjut dulu ya."


Ujar Bram pamit tinggalkan Randi dan Jay ,dia lari ke Set untuk melanjutkan proses Syuting nya.


Seorang Pembantu Umum datang membawa kan dua kursi dan memberikan nya pada Randi.


"Silahkan duduk Pak."


"Bapak mau kopi apa Teh ?"


Pembantu Umum menawarkan minuman pada Randi yang lantas tersenyum melihatnya.


"Kopi boleh, kayak biasa ya Jang."


Ujar Randi pada Pembantu Umum nya yang bernama Ujang itu, Pembantu umum mengangguk lalu pergi meninggalkan Randi dan PakJay yang duduk di kursi.


Mata Randi menatap serius ke arah set tempat dilakukan nya proses Syuting saat itu.


Sosok bayangan orang berkelebat didalam rumah Yana malam itu. Suasana malam itu sepi, dari atas genteng rumah Yana terdengar suara air Hujan yang jatuh, Malam itu Hujan deras, Udara dingin.


Badrun yang sedang menyeduh kopi di dapur tak mengetahui jika ada Sosok orang yang masuk kedalam rumah itu, Badrun selesai menyeduh kopi nya, Dia melangkah menuju keruang tamu ,ditangan nya ada 3 gelas kopi diatas nampan, Kopi itu dibuat untuk nya bersama ke dua teman nya yang sedang berjaga di rumah Yana.


Saat Badrun melangkah ke ruang tamu, Badrun kaget dan nampan terlepas dari pegangannya, Di lantai satu teman nya tampak terkulai sudah tak bernyawa di ruangan itu, di perut nya tertancap sebuah pisau, Badrun segera mendekat dan melihat nya, Badrun sama sekali tak mendengar ada keributan didalam rumah karena memang hujan deras dan suara berisik air hujan di genteng menutupi keributan yang terjadi, jarak antara dapur dan ruang tamu rumah Yana juga lumayan jauh,karena rumah Yana di Jetak itu cukup luas juga hampir menyamai rumah nya yang sebelumnya, Rumah yang sudah dijual dan di beli Randi.


Badrun lalu dengan cepat melangkah berlari ke ruang lain mencari satu teman nya lagi.


Saat Badrun masuk ke dalam ruang keluarga, langkah nya terhenti, wajah nya tegang, dia menelan ludah nya, kaget luar biasa, Teman nya tampak tergantung di ruang keluarga itu dengan darah segar mengalir di leher dan perut nya, di lantai ada pisau berlumuran darah, tergeletak.


Badrun dengan rasa kaget berusaha untuk menenangkan diri, dia bersiap, lalu mengambil pisau lipat yang selalu terselip di pinggang nya untuk keamanan dirinya selama ini.


Saat ia hendak melangkah mendekati tubuh teman nya yang telah menjadi mayat, Sosok Pria Misterius berdiri dihadapannya, ditangan nya memegang sebuah kayu, Badrun kaget.


"Hell...Loo"


Ujar Sosok Pria Misterius pada Badrun yang berbalik menoleh pada Sosok Pria Misterius.


"Siapa kamu !!"


Bentak Badrun, lalu seketika dia menyerang Sosok Pria misterius itu dengan pisau ditangannya. Sosok Pria Misterius menghindar dari serangan tusukan pisau serta pukulan Badrun.


Mereka berkelahi, Pukulan demi pukulan dilancarkan mereka , tampak Badrun terpojok,Pisau terlepas dari tangan nya, Sosok Pria Misterius berhasil memukul nya, Badrun terjajar hendak jatuh karena kena tendangan dari Sosok Pria Misterius itu, saat Badrun hendak berdiri dan mau menyerang, Sosok Pria Misterius dengan cepat menghantamkan sebuah kayu yang dipegangnya ke kepala Badrun , Badrun terhuyung jatuh ke lantai dapur karena kepalanya di pukul. Darah segar mengalir di kepala nya, terkulai lemah tak berdaya, Sosok Pria Misterius itu pun pergi meninggalkan Badrun, dia melangkah menuju ke sebuah kamar, Sosok Pria Misterius itu masuk ke dalam kamar, mengamati seluruh isi kamar , kosong, tidak ada Dewi, anak nya Yana didalam kamar itu, Sosok Pria Misterius itu lalu keluar dari kamar melanjutkan langkah nya lagi, mencari cari, dia masuk ke sebuah kamar lain yang ada di salah satu ruangan rumah Yana, Tapi di dalam kamar itu, Yana tidak ada, Sosok Pria itu tampak kesal. Dia lalu melangkah keluar kamar, di ruang keluarga tempat mayat teman Badrun ada dan Badrun yang pingsan, Sosok Pria Misterius itu melumurin darah ke tangan nya yang memakai sarung tangan Latex, lalu dia menulis sesuatu di dinding ruang keluarga itu.


"Hell...Loo.."


"Waktumu Sudah tiba...Lo Ke Neraka!"


Tulis nya di dinding ruangan itu, lalu bergegas pergi keluar dari rumah Yana, menyelinap menembus pekat nya malam dan air hujan yang turun sangat deras nya malam itu.