Go To Hell

Go To Hell
Bab 24



Randi melotot tajam pada Sita, kemudian menyeringai, wajahnya sangat menakutkan, Sita semakin panik dan ketakutan.


"Jangaaan...tolong...demi Via...demi anak kita...tolong hentikan...jangan bunuh aku Randi, jangan bunuh aku.."


Ratap Sita memohon ampun, Tiba tiba tubuh nya dilemparkan Randi dengan cepat kedalam lubang yang ada ditanah pekarangan halaman belakang rumahnya itu.


"Aaaagggghhh..."


Sita terjatuh dari tempat tidurnya, lalu membuka matanya, melihat dirinya yang berada dilantai, saat mengetahui dirinya berada didalam kamar Dia lega.


Ternyata semua yang dialaminya baru saja itu mimpi buruk.


Sita tampak terduduk ketakutan di lantai sisi tempat tidurnya, memeluk kedua kakinya, Jumirah masuk menerobos ke kamar Sita karena mendengarnya teriak ditengah malam itu.


"Kamu kenapa ?!!"


Tanya Jumirah mendekati Sita yang terduduk dilantai ,wajahnya ketakutan dan penuh kecemasan.


"Mimpi itu...aku mimpi itu lagi Ma."


Ujar Sita gemetar ketakutan.


Via Masuk ke kamar Mamanya itu karena terganggu tidurnya mendengar teriakan Mamanya.


Melihat Mamanya duduk dilantai dengan wajah pucat ketakutan dan gemetar, Via heran mendekat.


"Mama kenapa ?"


Ujar Via. Sita hanya diam saja masih dengan ketakutannya. Via tampak cemas.


"Kamu mimpi apa ?


Tanya Jumirah.


"Mimpi yang sama Ma, Aku mimpi dia menyiksaku seperti dulu."


Ujar Sita pelan ,suaranya masih gemetar takut, Jumirah paham siapa yang dimaksud "Dia " oleh Sita.


"Sudah, itu cuma mimpi, karena kamu terlalu memikirkan dan mengingat ingatnya."


Ujar Jumirah menenangkan Sita. Sita menghela nafas berat, Via masih bingung.


"Sudah, gak ada apa apa, tenangin dirimu."


Ujar Jumirah sambil mengangkat tubuh Sita dan membaringkannya di kasurnya. Jumirah menyelimuti tubuh Sita yang berbaring dikasur.


Via tampak wajahnya bingung dan prihatin pada Mamanya, Dia mendekati Mamanya dan mencium pipi mamanya.


"Mama baik baik ya."


Ujar Via, Sita cuma mengangguk lemah dan mencoba memejamkan matanya untuk tidur kembali.


Melihat Sita sudah memejamkan matanya, Jumirah melangkah keluar kamar, Via pun berbalik ikut keluar kamar.


Namun langkahnya terhenti, karena tangan nya dipegang Mamanya, Via berbalik melihat mama nya.


"Temani mama tidur malam ini."


Ujar Sita lemah melirik Via, Via pun tersenyum mengangguk, Lalu dia naik ke tempat tidur mama nya, merebahkan tubuhnya disamping mama nya dan memeluk nya.


Pagi itu, tampak Randi dan seluruh kru nya sedang bersiap siap hendak melaksanakan kegiatan syuting ftv serial mereka.


Tampak masing masing kru tiap departemen nya sibuk bekerja, ada yang sedang menata property di set, ada kru yang sibuk menata letak lampu lampu, ada kru yang sedang mengecek menu Kamera, ada juga kru yang bertugas sebagai penata rias sedang merias artis yang akan syuting hari itu.


Randi tampak duduk santai di kursi khusus nya sambil membaca Skenario.


Via mendekati Jumirah yang saat itu sedang memasak didapur dengan wajah menyimpan tanda tanya tentang Mama nya.


"Nek, sebenarnya Mama kenapa ? Via perhatiin, sejak ketemu Papah sikap nya beda ?"


Tanya Via, Jumirah menghela nafasnya, berusaha santai menghadapi Via.


"Biar Mama mu tenang dulu ya, nanti mama mu sendiri yang cerita ke kamu, apa yang pernah terjadi pada nya dan Papahmu."


"Maksudnya ?"


"Via gak ngerti, Nenek ngomong apa sih?"


Ujar Via semakin bingung dengan perkataan Neneknya itu tentang orang tua nya.


"Sudah, kamu sarapan sana, udah Nenek siapin."


Ujar Jumirah.


"Via nunggu Mama bangun baru sarapan."


Ujar nya.


"Biarin mama istirahat."


Ujar Jumirah dengan senyum nya pada Via, Via pun menghela nafas, lalu pergi melangkah meninggalkan Jumirah masih membawa pertanyaan besar didalam dirinya.


Polisi sedang menemui Yana di rumahnya, mereka tampak sedang bicara serius.


"Jadi Ibu gak tau dimana Pak Randi tinggal sekarang setelah bercerai ?"


"Iya pak, yang saya tau, Beliau cuma bilang sedang syuting di Jogja, lokasi pastinya saya gak di kasih tau nya."


Jelas Yana pada Polisi.


"Baik lah Bu, Kalo begitu kami permisi, terima kasih atas waktu dan kerja sama nya."


Ujar Polisi pamit pada Yana yang mengangguk.


Polisi itu pun pergi, Yana lalu masuk kedalam rumah nya. Mengunci pintu rumahnya.


Proses Syuting berjalan lancar, adegan demi adegan sukses di ambil gambar nya oleh Randi dan Tim nya.


Saat itu, Randi tengah mengerjakan sebuah adegan serius, tampak ke dua artis di set sedang berlatih adegan dengan di dampingi asisten Sutradara Randi bernama Bram.


Randi yang duduk di kursinya, melihat ke layar Monitor yang ada di depan nya. Randi mengamati artis yang sedang berlatih di set sebelum melakukan syuting, Randi tampak memegang kepalanya dan memijat mijat seluruh kepalanya.


Rasa sakit akibat Tumor otak di kepala nya muncul,Dia berusaha menahan rasa sakit itu dengan memijat mijat kepala, tengkuk leher nya, memijat kedua mata nya, Lalu mengambil obat dari tas pinggang nya yang tergantung di pinggir kursi, meminum obat nya.


Bram, Asisten Sutradara Randi tampak bergegas mendekati Randi yang duduk masih menahan sakit di kepalanya.


"Bisa kita mulai syuting nya pak ?"


Ujar Bram.


"Ayo kalo udah siap semua."


Ujar Randi menahan dan menyembunyikan rasa sakit nya. Bram mengangguk dan bersiap kembali ke Set. Memberi tahukan pada seluruh kru.


"Kita mulai Take ya...!!"


"Semua kru stand by, pemain stand by."


Ujar Bram.


"Caaameeeraaaa...!!"


Teriak Randi memberikan aba aba pada Cameraman agar bersiap melakukan syuting.


"Roolll !"


Ujar Cameraman.


"Aaaccctiiioon !!"


Teriak Randi. Syuting pun berlangsung, Artis beradu acting di Set, mengeluarkan seluruh kemampuan terbaik mereka dalam acting untuk mendapatkan hasil yang bagus dan maksimal.


Randi dari layar monitor mengamati dengan serius adegan yang sedang di rekam itu.


Sita tampak lesu, wajahnya sayu, dia melangkah gontai mendekati Jumirah yang sedang menyetrika di ruang keluarga.


"Via udah berangkat kerja Ma ?"


Tanya nya.


"Udah."


"Ada baik nya Via tau semua nya, biar dia gak bingung."


Ujar Jumirah pada Sita yang duduk lemah di sofa yang ada diruang keluarganya itu. Dia menghela nafas nya.


"Aku gak tega kalo Via sampe tau apa yang pernah terjadi sama kedua orang tua nya dulu."


"Mau sampe kapan kamu nyimpan rahasia itu ? Gak baik nanti jadi nya kalo sampe Via tau bukan dari kamu langsung."


Jelas Jumirah, Sita terdiam, tampak berfikir, Wajahnya menunjukkan kecemasan.


"Tapi Ma..."


"Kalo kamu terus terusan dihantui bayang bayang masa lalu mu itu, terus bermimpi buruk tentang yang pernah kamu alami dulu, bukan gak mungkin Mama akan cerita ke Via tentang papah nya yang pernah menyiksa Mama nya."


Ujar Jumirah tegas pada Sita, Mendengar itu Sita menatap Mama nya.


"Jangan Ma, jangan cerita ke Via, kasih waktu aku buat bisa cerita ke dia nanti."


Ujar Sita.


"Via udah makin dewasa,udah 21 Tahun, Mama yakin dia pasti akan mengerti dan memahami."


"Apa yang terjadi sama orang tua nya itu saat dia masih berumur 9 tahun lebih, dan dia gak pernah tau apa yang terjadi sama orang tua nya karena kamu bisa merahasiakannya."


Ujar Jumirah, Sita mengangguk lemah, Dia terdiam sejenak, lalu menarik nafas nya dengan berat.


"Iya Ma, cuma aku khawatir kalo aku nanti jadi sering ketemu papah nya Via."


"Kalo lihat muka nya, aku pasti ingat kejadian dulu."


Jelas Via dengan wajah bingung dan rasa cemas yang menyelimuti dirinya.


Sita Tidak tahu harus bagaimana menyikapi semua hal itu. Jumirah tampak berfikir, lalu menatap Sita.


"Apa kamu mau tinggal di rumah bude Mirna di kalimantan?"


"Untuk sementara waktu sampe kamu tenang dan melupakan semuanya?"


Ujar Jumirah memberikan saran pada Sita, Sita diam berfikir, menghela nafasnya.


"Kalo aku tiba tiba pergi, apa gak lebih bingung Via nanti ?"


Ujar Sita.


"Ya kamu ceritain dulu yang terjadi, lalu bilang bahwa alasan mu untuk pergi buat nenangin diri dari papah nya."


Jelas Jumirah pada Sita yang tampak terdiam berfikir, Bathin nya bergejolak, bingung bercampur cemas. Dia hanya menarik nafas nya berat.


"Aku pikirin dulu Ma, apa yang terbaik buat ku."


Ujar nya, Jumirah mengangguk, lalu tinggalkan Sita sendiri yang duduk di sofa dengan wajah termenung, Jumirah melanjutkan pekerjaannya kembali.


Saat itu adegan yang dilakukan artis di set salah, Randi berulang kali memberi aba aba untuk mengulang adegan tersebut, setelah dilanjut syuting, Randi menghentikan lagi, karena artis dianggap nya salah menafsirkan apa yang sudah disampaikan nya.


Randi berdiri mendekati artis tersebut, menjelaskan letak kesalahan sang artis, lalu memberikan penjelasan bagaimana harus nya artis itu ber akting sesuai yang dibutuhkan skenario.


Randi pun kembali duduk di kursi nya memberi kan aba aba untuk mulai kembali melanjutkan Syutingnya.


"Aaactiiiooonn !!"


Teriak nya, Syuting pun berlangsung, Dialog dialog keluar dari mulut artis, mereka mulai beradu acting di set , Randi mengamati di layar monitor, Tiba tiba pandangannya berkunang kunang, Dia meringis menahan sakit, Pandangan nya mulai buram, Tubuhnya bergoyang lemah, Randi memegang kepala nya, Tak lama tubuhnya oleng dan jatuh dari kursinya terjerembab di lantai, Kru yang bertugas sebagai Sound,yang duduk di samping Randi kaget.


"Pak Randiii..."


Teriak Soundman yang panik karena melihat Randi jatuh pingsan dilantai.


"Tolooonggiiin woooii...!!"


Teriak Soundman, seluruh Kru yang melihat berlari mendekati Randi yang pingsan, Lalu beberapa kru hendak menggotong tubuh Randi.


"Bawa Kemobil saya cepat."


Ujar Pak Jay, Pimpinan Produksi yang melihat Randi jatuh pingsan itu kepada kru yang menggotong Randi.


"Braaaam, kamu lanjutin syuting, nanti saya balik lagi setelah dari rumah sakit."


Ujar Pak Jay, Bram, asisten Sutradara Randi pun mengangguk pada Pak Jay.


Kru kru menggotong tubuh Randi yang pingsan itu ke mobil Pak Jay, Pak Jay membuka kan pintu mobilnya, Kru memasukkan Randi dan merebahkan tubuhnya di Jok tengah mobil.


"Kalian ikut saya ke rumah sakit, cepat!"


Ujar Pak Jay, Kru kru yang menggotong Randi pun cepat masuk kedalam mobil, yang satu duduk di jok depan, yang satu nya duduk di jok tengah menemani dan menjaga Randi.


Di rumah sakit, Dengan sigap para petugas rumah sakit memberikan pertolongan, mereka dengan tanggap dan cepat segera membawa Randi ke ruang UGD ( Unit Gawat Darurat ) agar Randi dapat ditangani langsung oleh Dokter yang bertugas dan bertanggung jawab.


Pak Jay dan kru kru yang menggotong Randi tampak berdiri menunggu di ruang tunggu di dekat ruang UGD rumah sakit tersebut.


Di dalam ruangan, Dokter dan tim nya tampak sedang memeriksa kondisi Randi.


Pak Jay dan kru masih menunggu dengan cemas di ruang tunggu rumah sakit. Mereka ingin tahu perkembangan Randi.


Di Cafe nya, tampak Yana sedang duduk di samping meja Kasir Cafe, Wajahnya tercenung, tampak raut wajah nya menyiratkan kesedihan yang mendalam atas apa yang dialaminya.


Seseorang tampak berdiri di luar Cafe Yana ,Orang tersebut memakai topi dan Jaket hitam, Celingak celinguk melihat ke dalam Cafe yang sepi tak ada pengunjung, hanya ada karyawan karyawati Cafe didalam bersama Yana.


Sosok Orang itu masih terus berdiri diam melihat ke Cafe, Yana yang melihat orang tesebut heran, Dia memperhatikan orang tersebut.


Sosok Orang tersebut masih terus berdiri di depan cafe, Yana tampak takut, namun dia juga penasaran, siapa gerangan orang itu, apa maksud dan tujuan nya berdiri di cafe nya.


Yana pun memberanikan dirinya, Dia berdiri dan melangkah cepat mendekati Sosok Pria yang ada diluar depan cafe nya.


Melihat Yana datang mendekatinya, Pria itu pun bersiap.


"Mau apa kamu berdiri di sini terus?"


Ujar Yana ketus, Sosok Pria itu mengulurkan tangannya pada Yana, Yana kaget.


"Tolong bantu saya bu, saya belum makan...tolongin saya buat makan..."


Ujar Sosok Pria itu yang ternyata Pengemis. Mengetahui hal itu Yana lega, Dia yang sudah Parno karena teror dan apa yang dialaminya menjadi tenang.


"Kalo bapak lapar, ayo makan didalam pak."


Ajak Yana ramah pada Pengemis itu, Pengemis ragu, Yana menatapnya tersenyum, kemudian pengemis itu pun melangkah masuk ke dalam cafe mengikuti Yana.


Yana memang selama ini dikenal sangat baik dan murah hati serta ringan tangan pada siapapun, Randi tahu itu, Maka nya dulu Yana pernah dimanfaatkan teman nya yang menipu nya, menghiba agar Yana memberikan nya pinjaman 30 juta tapi tidak berniat bayar,ditagih Yana malah tidak merasa berhutang, Randi yang akhirnya menyelesaikan dan memaksa temannya Yana untuk melunasi hutangnya.


Yana tak bisa dan tak tega jika melihat ada orang yang disekitarnya kesusahan, pasti di bantu nya, jiwa sosial dan kedermawanan Yana sangat besar pada sesama.


Yana pun meminta karyawannya untuk memberikan makanan pada pengemis yang duduk disebuah kursi cafe, tak lama makanan diletakkan karyawan cafe dihadapan pengemis yang tampak wajahnya senang, langsung memakan hidangan yang tersedia.


Yana tersenyum senang melihatnya. Dia bahagia bisa berbagi pada sesama ditengah kesulitan hidup yang sedang menimpa nya.


Di ruang ICU Rumah sakit, tampak Pak Jay berdiri menatap Randi yang masih terlihat lemah.


"Bawa saya pulang Pak."


"Saya harus melanjutkan Syuting, kalo gak kita rugi,bisa jebol budjet operasional."


Ujar Randi berusaha bangun dari ranjang nya. Pak Jay menahan nya.


"Syuting tetap berjalan, Pak Bram yang lanjutin."


"Pak Randi biar istirahat saja dulu dirumah sakit sampe pulih dan segar kembali."


Ujar Pak Jay.


"Tapi Pak, saya gak apa apa, sudah baik kan."


Ujar Randi pada Pak Jay yang tampak menyimpan rasa iba pada Randi karena Dia mengetahui dari Dokter bahwa Randi mengidap penyakit tumor otak yang sudah jalan masuk Stadium 3.


"Nanti kalo udah segar beneran, saya yang antar bapak pulang, sekarang istirahat dulu di sini."


Ujar Pak Jay berusaha menenangkan Randi, Randi menarik nafas lemah.


"Saya paling gak betah berlama lama di rumah sakit ."


Ujar Randi. Tiba tiba Dia bangun dan berdiri, Sedikit sempoyongan , Pak Jay kaget menahan tubuh Randi yang sempoyongan.


"Bapak mau ngapain?"


Ujar nya.


"Pulang Pak!"


Tegas Randi, Pak Jay bingung melihat Randi yang keras hati untuk segera pulang itu.


"Baik..baik Pak, kita pulang, tapi tunggu ,biar saya menyelesaikan administrasi nya dulu."


Ujar Pak Jay, Randi mengangguk, Pak Jay lalu memapah Randi, mereka berjalan keluar dari ruangan itu.