
Via menghempaskan pantatnya di sofa yang ada diruang tamu rumah kontrakannya, dia tercenung, dari raut wajahnya terlihat perubahan pada air mukanya, terlihat ada rasa kecemasan yang begitu besar didalam dirinya, ada rasa ketakutan yang mendalam pada jiwanya tatkala ia membayangkan hal buruk terjadi pada papahnya.
"Semoga papah baik baik saja, cepat sadar pah." Gumam Via pada dirinya sendiri, dia memikirkan tentang kondisi papahnya saat ini yang dalam kondisi kritis, seperti yang dikabarkan Rizal padanya.
Dalam kecemasan dan ketakutannya akan papahnya yang tak sadarkan diri karena luka parah yang dideritanya, Via terlihat resah, dia tak bisa menerima kenyataan bahwa papahnya terluka parah oleh Yana, orang yang berusaha di lindunginya dari kejahatan papahnya, ada kekecewaan membekas di jiwa Via jika membayangkan semua hal yang sudah terjadi itu.
Via tiba tiba meringis menahan sakit, dia memegang kepalanya, merasakan sakit dan pusing, dia merasakan saat ini seakan seisi ruangan berputar putar, Via terus memegang kepalanya, memejamkan matanya, meringis mengejang menahan sakitnya, dia pusing dan menjadi sakit kepalanya sebab memikirkan kejadian yang menimpa papahnya.
Lalu beberapa saat kemudian, Via terdiam, dia tercenung, tatapan matanya jauh kedepan, menatap kosong ruangan rumah kontrakannya.
Terlintas kembali bayangan bayangan saat dia mencari tahu tentang kebenaran seorang psikopat seperti papahnya.
Kembali ke Masa Lalu, Masa pada saat Via resah dan cemas tentang dirinya setelah mengetahui papahnya memiliki kepribadian ganda dalam dirinya, dan seorang psikopat.
Saat lalu itu, Via mendatangi seorang psikiater, dia ingin tahu lebih banyak lagi tentang psikopat, sebelumnya Via sudah membaca artikel artikel dari situs situs internet yang di temui, dia membaca penjelasan semua artikel, dari membaca artikel artikel yang berisi tentang psikopat dia jadi lebih banyak tahu tentang bagaimana seorang psikopat, gejala yang muncul, tanda tanda orang memiliki kepribadian ganda dan berpotensi menjadi seorang psikopat, dan semua hal tentang psikopat yang di jelaskan dalam artikel di situs situs internet, Via pun membenarkan dan semakin yakin, karena semua yang dijelaskan itu, tergambar jelas dan benar ada dan nyata pada diri papahnya,Randi. Dia ingin mencari tahu lebih banyak lagi, setelah dirinya mendapatkan penjelasan dan cerita tentang papahnya yang di dapatnya dari bude Intan, saat datang berkunjung kerumah budenya sebelum dia memutuskan untuk menemui psikiater tersebut.
Diruang kerja seorang psikiater, Via duduk dihadapan sang psikiater, menanyakan sesuatu hal penting, yang berhubungan dengan sakit gangguan kejiwaan kepribadian ganda, yang biasa disebut psikopat.
Via mendengarkan baik baik semua yang dijelaskan oleh psikiater padanya.
"Psikopat sejati itu tidak bisa disembuhkan, namun, dia bisa dikendalikan, dengan cara therapi, seorang psikopat perlahan lahan akan bisa mengendalikan dirinya untuk menjadi normal, walaupun kecil kemungkinannya, tapi ada juga yang berhasil." Ujar Psikiater pada Via, menjelaskan tentang psikopat yang ditanyakan Via.
"Apakah penyakit psikopat itu bisa diturunkan kepada anaknya ?" Tanya Via dengan suara datar, dia menatap wajah Psikiater, ingin mengetahui lebih jauh lagi tentang psikopat.
"Psikopat itu juga dapat dipengaruhi oleh faktor genetik atau keturunan." Jelas Psikiater, Via terkesiap menatap Psikiater, dia sedikit kaget mendengar hal itu, namun berusaha disembunyikannya rasa kagetnya.
Psikiater melanjutkan penjelasannya pada Via.
"Anak-anak yang lahir dari orangtua yang memiliki kecenderungan psikopat, akan memiliki risiko 30 persen lebih tinggi untuk menjadi psikopat." Ujar Psikiater memberikan penjelasan pada Via.
"Sifat-sifat psikopat dan narsistik memang ada yang langsung diturunkan dari orangtua kepada anak-anak mereka."
"Bahkan sifat-sifat tersebut dapat berevolusi melalui genetik yang mereka wariskan. Bisa saja anak menjadi pribadi yang jauh lebih 'gelap' dan narsistik jika dibandingkan dengan orangtuanya." Ujar Psikiater pada Via yang terdiam, dia tercenung mendengar penjelasan psikiater itu tentang penyakit psikopat. Via terdiam, ada rasa kecemasan yang begitu besar pada dirinya mendengar penjelasan tersebut, muncul rasa ketakutan yang berlebih pada dirinya, dia gelisah dalam duduknya, tak bisa membayangkan jika dirinya akan menjadi seorang psikopat seperti papahnya, dan dia tidak mau dan tidak pernah menginginkan hal itu terjadi pada dirinya.
"Psikopat itu sosok manusia antisosial yang lebih menyeramkan lagi akibat gangguan kejiwaan. Orangnya pendiam, tenang, pandai bertutur kata , kepintarannya diatas rata rata orang pada umumnya, tetapi dia lebih sadis dan tidak segan untuk menghabisi, membunuh orang-orang yang tidak mereka suka demi kesenangan belaka, dan mereka sadar sepenuhnya atas perbuatan jahat yang sudah dilakukannya." Ujar Psikiater menambahkan penjelasannya tentang psikopat agar Via lebih banyak tahu lagi, Via hanya terdiam mendengarkan.
"Apa penyebab psikopat itu Dok ?" Tanya Via ingin tahu.
"Penyebab seseorang menjadi psikopat belum diketahui secara pasti. Namun, gangguan kepribadian ini diduga muncul karena pengaruh genetik, perubahan fungsi otak, dan juga pengalaman traumatis masa kecil." Jelas Psikiater.
"Hal ini karena seorang psikopat biasanya tumbuh dari latar belakang keluarga yang tidak harmonis, misal, sering melihat pertengkaran pada kedua orang tuanya, kekerasan yang sering di alami langsung pada dirinya, atau melihatnya dalam keluarga, dan banyak hal lagi." Ujar Psikiater menjelaskan, Via semakin resah dan cemas serta takut, membayangkan semua hal itu ada pada dirinya, dan dia tidak ingin hal itu terjadi.
"Apa bisa diketahui ciri ciri kalau seseorang itu psikopat ?" Tanya Via lagi pada Psikiater.
"Cirinya antara lain, suka berbohong, dia sering meyakinkan seseorang dengan kebohongannya agar orang terpedaya dan masuk dalam perangkapnya. Lalu tidak punya empati, suka melanggar aturan, Narsistik, psikopat itu penuh pesona, manipulatif, egois, terlalu percaya diri, merasa lebih baik dari orang lain, dan sombong." Ujar Psikiater pada Via yang tetap diam mendengarkan penjelasannya.
"Rata rata psikopat itu tidak memiliki tanggung jawab dan juga, mereka tidak punya pemikiran jangka panjang tentang kehidupan yang dijalaninya." Ujar Psikiater menambahkan penjelasan pada Via.
Via menatap wajah Psikiater, dia tersenyum pada Psikiater yang sudah memberikan informasi banyak tentang penyakit psikopat.
"Terima kasih Dok, saya rasa sudah cukup banyak dan jelas Dokter memberikan informasi pada saya." Ujar Via pada Psikiater.
"Iya, jika mbak Via ingin konsultasi lagi, datang aja, kabari saya untuk buat janji, saya pasti siap menemui mbak Via dan membantu." Ujar Psikiater tersenyum ramah pada Via.
Via berdiri dari duduknya, dia menyalami Psikiater.
"Terima kasih Dok, saya permisi dulu." Ujar Via menyalami Psikiater lalu keluar dari ruangan psikiater. Dia berjalan gontai keluar dari ruangan itu.
Kita kembali ke Masa sekarang, dimana Via saat ini sedang duduk diruang tamu rumah kontrakannya, diam tercenung, mengingat semua hal yang terjadi dan di alaminya.
Di ruangan itu, Via terlihat menyimpan rasa cemas dan takut yang begitu besar tentang dirinya, tentang papahnya.
Dia mengingat semua hal yang pernah dia lihat, Via menyaksikan langsung dengan mata kepalanya, saat dimana papahnya memukuli mamanya dengan kejam, menyeret, menjambak rambut bahkan menendang kuat mamanya hingga babak belur, setiap Via menyaksikan pertengkaran antara kedua orang tuanya, dia selalu bersembunyi, kadang tidak ada yang tahu jika dia tengah menyaksikan semua perbuatan kasar papahnya, terkadang juga neneknya, Jumirah yang melihat Via gemetar ketakutan bersembunyi, mengintip di sudut ruang membawanya pergi agar dia tidak melihat keributan dan perbuatan kasar papahnya terhadap mamanya.
Selama ini, Via membuang jauh jauh semua ingatan tentang perbuatan kasar papahnya terhadap mamanya, dan sekarang, saat kecemasan dan ketakutannya yang begitu besar serta mendalam sejak mendapat kabar papahnya terluka parah dan tidak sadarkan diri, tiba tiba saja ingatan ingatan itu kembali muncul dalam dirinya, Via terdiam, duduk terpaku menatap kosong jauh kedepan, seolah pandangannya menembus ruang dinding rumah kontrakannya itu, tatapan mata nanar dan tajam terlihat jelas pada wajah cantiknya.
Via juga mengingat kembali satu kejadian yang membuatnya syok dan ketakutan saat itu melihat papahnya yang mengamuk membabi buta dengan brutal memukuli dan menyiksa orang lain dihadapannya.
Kembali pada Masa kecil Via.
Saat dulu, ketika Via masih Sekolah dasar kelas 5, ada keributan kecil terjadi antara Via dan teman sekolahnya, bapak dari temannya tidak terima anaknya disalahin, saat dia datang ke sekolah karena dipanggil oleh guru Via, bapak temannya itu mengamuk, membentak Via, menuding, menunjuk nunjuk bahkan mendorong kening Via kecil dengan jari tangannya, menyalahkan Via, Randi, papahnya Via yang dikabarkan oleh guru Via dan diminta datang kesekolahan Via, karena anaknya berkelahi dengan teman sekolahnya dengan cepat dan wajah cemas segera datang kesekolah Via, setibanya dia di sekolahan Via, Randi, Papahnya Via yang saat itu datang memenuhi panggilan guru melihat perlakuan bapak teman Via tidak terima anak kesayangannya diperlakukan kasar seperti itu, guru berusaha menenangkan bapak teman Via, dan Randi , papah Via pun saat itu berusaha untuk tenang, dia tidak ingin melampiaskan amarahnya pada saat itu dihadapan anaknya dan guru Via.
Guru mencoba mendamaikan, namun bapak teman Via tidak mau berdamai, dia malah pergi meninggalkan guru, Via dan papahnya, membawa anaknya pulang, melihat hal itu, Randi saat itu hanya tersenyum kecil, dia lalu meminta maaf pada guru atas apa yang terjadi di sekolah karena anaknya, lalu pergi bersama Via, membawa anaknya pulang, karena saat itu jam pelajaran sudah selesai. Randi dan Via naik ke mobil, mereka melihat bapak teman Via beserta anaknya naik ke mobil dan pergi dari tempat parkir sekolahan, Randi pun menjalankan mobilnya, dengan cepat dia mengikuti mobil bapak teman Via, menyalip mobil tersebut, berhenti mendadak tepat dihadapan mobil teman Via, hingga membuat Via kaget.
"Via tunggu sebentar ya, jangan keluar, tetap dalam mobil." Ujar Randi pada Via yang mengangguk bingung, tetap diam duduk didalam mobil.
Randi cepat keluar dan turun dari mobilnya, mendatangi bapak teman Via, dengan kasar dia buka pintu mobil milik bapak teman Via, meraih baju, dan menarik paksa keluar bapak teman Via, Bapak teman Via kaget karena Randi tiba tiba bertindak kasar menariknya keluar hingga jatuh ke tanah, tanpa berlama lama, Randi menendangi tubuh bapak teman Via, menginjak injaknya, memukuli wajah bapak teman Via sekuat kuatnya, Randi mengamuk, dia melampiaskan semua amarahnya saat itu, dia tidak terima Via, anaknya diperlakukan kasar dan kepalanya dituding tuding oleh bapak teman Via.
Via dari dalam mobil membuka pintu mobil, lalu dia melangkah turun dan keluar dari dalam mobil, ingin melihat apa yang sedang dilakukan papahnya kepada bapak teman sekolahnya.
Via yang sudah berada di luar, berdiri diam menyaksikan, bagaimana papahnya saat itu dengan wajah yang menakutkan dan mata melotot tajam mengamuk terus memukuli bapak temannya, hingga bapak teman Via terluka dan mengeluarkan darah, orang orang sekitar yang melihat berusaha memisahkan mereka, sementara Via tetap berdiri ditempatnya, hanya diam menatap papahnya yang sedang memukuli dan menyiksa bapak temannya, Via tak bereaksi sama sekali, tatapan matanya dingin, sikapnya tenang saat menyaksikan hal itu, berbeda dengan temannya yang berada di dalam mobil, yang ketakutan, menangis melihat bapaknya di pukul, dihajar habis habisan oleh bapaknya Via.
"Jangan sekali kali kamu berani berbuat kasar pada anakku ! Dan ingat ! Jangan melaporkan hal ini pada polisi, jika berlanjut, aku gak kan segan segan menghabisi semua keluargamu, bahkan membunuh anakmu !" Ujar Randi dengan tegas dan geram menatap tajam penuh amarah pada bapak teman Via yang sudah terkulai lemah tak berdaya di tanah, orang orang berusaha menolongnya.
Randi sengaja memberi peringatan keras, agar bapak teman Via tidak lagi berbuat sombong, dan kasar pada Via, anaknya, bapak teman Via menuruti semua yang dikatakan Randi padanya, karena takutnya pada Randi masalah itu tidak pernah berlanjut dan diproses secara hukum.
Kembali ke masa sekarang,
Via yang duduk di sofa ruang tamu rumah kontrakannya menarik nafasnya, memegang kepalanya, meremas rambutnya, tatapan matanya dingin, dia saat itu begitu merasakan kecemasan yang begitu besar.
"Nggak, nggak mungkin, aku gak mungkin seperti itu, aku gak mau, aku gak mau jadi seperti itu." Gumam Via pada dirinya sendiri, menggeleng gelengkan kepalanya, kedua tangannya masih meremas rambutnya, tatapan matanya dingin saat itu, dia kemudian terdiam, tercenung dengan tatapan kosong. Sesaat seperti waktu berhenti, lalu, beberapa saat kemudian, dia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya, ada sesuatu hal yang sedang bermain main dalam benaknya saat itu.
Beberapa saat Via melamun terdiam dalam duduknya di sofa, Via tiba tiba berdiri, lalu beranjak dari tempat duduknya, dia melangkah santai, dengan tenang dia berjalan menuju ke kamar, dimana saat itu Yana berada.
Via membuka pintu kamar, lalu masuk ke dalam kamar, melangkah tenang berjalan mendekati Yana yang masih tak sadarkan diri , terbaring lemah tak berdaya di tempat tidur.
Via mendekatinya, setelah mendekat, Via berdiri di pinggir tempat tidur, dengan tatapan dingin dan sikap tenangnya Via menatap wajah Yana yang belum sadarkan diri, Via tercenung, menatap ke tubuh Yana, tatapannya kosong saat itu, matanya melihat pada Yana yang terbaring, namun pandangannya jelas kosong, seakan melihat ruang lain, sementara fikirannya saat itu bermain main dalam dirinya, Via terus berdiri diam menatapi Yana yang terbaring tak berdaya di tempat tidur.
Ditempat lain, Apartemen tempat Rizal selama ini tinggal, terlihat secara perlahan lahan Randi mulai tersadar, dia perlahan membuka kedua matanya, samar samar dia melihat langit langit kamar, perlahan lahan, dari pandangan buram matanya hingga menjadi jelas terlihat langit langit kamar, Randi meringis menahan sakit, memegang kepalanya, Rizal yang melihat Randi tersadar mendekatinya, berdiri di samping ranjang, melihat Rizal berdiri di samping ranjang, di dekatnya, Randi heran menatap wajah Rizal.
"Dimana aku?" Tanya Randi dengan suara yang lemah.
"Kamu di apartemenku, aku membawamu karena kamu terluka parah." Ujar Rizal menjelaskan.
Randi menatap wajah Rizal, dia heran melihat Rizal ada di situ bersamanya.
"Siapa kamu ?" Tanya Randi pada Rizal, Rizal yang mendengar Randi bertanya siapa dia, tertawa dengan suara tawa khasnya.
"Kikikikikikik, kamu masih bisa becanda pura pura gak kenal aku Ran ?" Ujar Rizal tertawa sinis pada Randi.
"Aku benar benar gak tau, kamu siapa? Kenapa aku di sini? Dan, apa yang terjadi denganku?" Tanya Randi dengan wajah bingung melihat diperutnya ada perban yang menutupi lukanya dengan bercak darah terlihat pada perban, Randi juga tidak mengenali Rizal, dia tidak tahu siapa Rizal.
Rizal yang melihat Randi seperti orang yang kebingungan dan tak ingat siapa dirinya dan dimana dia saat ini kaget, dia menatap wajah Randi .
"Kamu benar benar gak tau apa yang terjadi denganmu sebelum ke sini ?" Tanya Rizal ingin memastikan pada Randi.
"Iya, aku gak tau, gak ingat, apa yang terjadi denganku ?" Tanya Randi dengan wajah kebingungan, dia memegang kepalanya, meringis menahan sakit dikepalanya, sakit tumor otaknya mulai kambuh, Randi berusaha melawan rasa sakit itu.
Rizal terhenyak, dia terdiam menatap wajah Randi.
"Gak mungkin, gak mungkin ini terjadi, kamu gak boleh lupa semuanya Randi, kamu harus ingat dengan semua perbuatanmu dulu padaku." Ujar Rizal pada dirinya sendiri bergumam, dia terhenyak, dia berdiri, terdiam menatap tajam Randi yang masih meringis kesakitan dengan wajah kebingungan, sementara Rizal syock melihat Randi yang kehilangan daya ingatnya, dan bersikap seperti orang yang kebingungan, tak tahu dan tidak bisa mengingat semua kejadian yang dialaminya, mengapa dia terluka dan ada diapartemen Rizal. Rizal terdiam, tak bisa berbuat apapun melihat kondisi Randi yang sepertinya sedang mengalami lupa ingatan jangka pendek akibat dari sakit tumor otak yang di deritanya semakin parah karena Randi sudah tidak pernah menjalani therapi lagi, sebab lebih focus untuk membalas dendamnya.