Go To Hell

Go To Hell
Bab 26



Malam itu, Roni habis menerima telepon, wajah nya tampak marah,tatapan mata nya buas, dia mengamuk melemparkan hape ke lantai dan menendang meja tamu yang ada didepan nya.


"Berani berani nya dia mempermainkan kita !!"


Ujar Roni marah sekali. Dia Marah karena merasa gagal tidak bisa menculik Yana.


"Dia pikir dengan lari dan sembunyi, gak bisa ditemui ?!"


Ujar Roni lagi. Sanur menyeringai tajam,mundar mandir melangkah diruangan itu.


"Kita pasti bisa menangkapnya, kita pasti bisa !"


Ujar Sanur.


"Sepertinya dia tau bakal di datangi kerumah ,makanya dia ngungsi."


Ujar Rahman.


"Gak mungkin dia tau, itu cuma faktor beruntung aja !"


Ujar Sandi .


"Dia pasti ada di rumah Jogja,nginap."


Ujar Randi dengan nada datar tertunduk duduk di sofa.


Tiba tiba Roni menendang sofa.


"Aaagghhh...Siiiaaall !!"


Ujar nya dengan kalap. Kesal dan marah, dia makin kalap mendengar Yana dirumah Jogja.


"Datang dan culik aja ke rumah Jogja nya."


Ujar Sandi memberi saran, Randi dengan cepat memotong ucapan Sandi.


"Jangan, jangan libatkan banyak orang lagi."


"Kenapa !?"


Bentak Sanur.


"Kalo libatin orang banyak, bakal ketauan nanti nya."


Ujar Randi.


"Benar kata Randj, kita harus main bersih, jangan ninggalin jejak ataupun sampe diketahui orang banyak."


Ujar Rahman.


"Terus, mau nunggu kapan ?!"


Ujar Roni.


"Kita atur strategi lagi, lebih detil lagi agar tau kemana saja pergerakan si Yana itu, kita sergap dia kalo gak di cafe nya atau dirumahnya lagi."


Ujar Sandi.


"Ya udah kalo gitu."


Ujar Rahman.


"Aku mau istirahat ,kepala ku sakit."


Ujar Randi melangkah pergi dari ruangan itu, masuk kedalam kamar nya.


Paramedis menggotong ke dua mayat teman Badrun dan memasukkan nya ke dalam mobil Ambulance yang terparkir didepan halaman rumah Yana. Garis Polisi ada di sekitar rumah Yana.


Sementara Badrun duduk di kursi teras dengan kepala nya di balut Perban karena luka pukulan kayu saat duel semalam.


Di hadapan Badrun berdiri seorang Polisi yang tengah meminta keterangan dan penjelasan nya tentang peristiwa semalam itu, Badrun menjelaskan semua yang dia tahu dari awal hingga akhir dia jatuh pingsan kepada Polisi, Polisi mencatat semua keterangan Badrun.


Para tetangga ramai berkumpul berdiri kasak kusuk melihat dan ingin tahu kejadian yang sebenar nya.


Polisi itu lalu mengangguk pamit pada Badrun, meninggalkan nya sendiri duduk di kursi teras ,Badrun meringis memegang kepala nya yang terluka dan di perban itu, menahan denyut sakit.


Pagi itu suasana benar benar tampak mencekam di perumahan itu karena terjadi kasus pembunuhan.


Yana dan Dewi tiba dirumah, langsung menerobos hendak masuk, Polisi menahan nya.


"Saya pemilik rumah ini ."


Ujar Yana, Polisi lalu memberikan jalan pada Yana dan Dewi setelah tahu bahwa Yana pemilik Rumah.


Yana berlari masuk ke teras rumah di ikuti Dewi, mendekati Badrun yang tampak wajah nya pucat dan lesu duduk di kursi teras rumah.


"Kamu gak apa Mas ?"


Tanya Yana mendekati Badrun, Badrun menggeleng lemah menatap Yana.


"Kenapa bisa terjadi Mas ? Aku langsung buru buru balik dengar kabar dari kamu."


Ujar Yana.


"Kejadian nya tiba tiba, aku gak nyangka kami di serang."


"Untung kamu lagi gak di rumah."


Ujar Badrun , Yana menarik nafas, dia tampak berfikir menatap wajah Badrun.


"Ini pasti ulah dia !"


Ujar Yana.


"Gak tau Yan,dia pake masker dan topi,pake jaket hitam juga. Wajah nya gak jelas."


"Kalo dari sorot mata nya, bukan dia ."


Ujar Badrun pada Yana, Seorang Polisi mendekati Badrun dan Yana di teras itu.


"Kami permisi dulu Pak, Bu. Jika kami membutuhkan keterangan Bapak, kami akan memanggil bapak untuk datang ke kantor."


Ujar Polisi itu pada Badrun, Badrun mengangguk pada Polisi itu yang kemudian pergi .


"Ma, Dewi gak mau ah tinggal disini, mau di rumah jogja aja sama om Iqbal."


Ujar Dewi, wajah nya menyiratkan ketakutan, Yana menghela nafas, Badrun menatap nya.


"Sebaik nya begitu untuk sementara waktu Yan, Dewi takut."


"Sampe semua nya aman lagi."


Ujar Badrun pada Yana yang terdiam berfikir, lalu dia menghela nafas nya.


"Sebenarnya aku gak mau libatkan Iqbal dengan masalah ku."


"Kamu tau sendiri watak adik ku itu Mas."


Ujar Yana.


"Apapun yang aku bilang ke dia, tetap aja aku yang disalahin nya, gak kan perduli dia."


"Aku juga gak mau bahayai diri Iqbal, khawatir aja kalo aku tinggal dirumah jogja bersama Iqbal, orang itu datang lagi mau bunuh aku, itu membahayakan nyawa Iqbal, bisa kena sasaran."


Ujar Yana.


"Ya Dewi aja yang tinggal disana sementara, izin dulu ke sekolah nya untuk beberapa hari."


"Kamu tetap di sini, aku temani, nanti aku akan lebih ketat mengawasi dan menjaga rumah mu,biar gak kecolongan lagi."


Ujar Badrun, Yana diam berfikir sejenak, menarik nafas nya berat, dia melirik Dewi yang tampak takut itu.


"Ya udah kalo gitu, Mama antar kamu ke rumah Jogja buat tinggal sama Om Iqbal ya."


Ujar Yana pada Dewi yang lantas mengangguk cepat, tampak sedikit lega.


"Kamu sebaik nya ke rumah sakit Mas, biar luka mu di obatin yang bener."


Ujar Yana.


"Gak apa, aku udah obatin sendiri , dirumahmu lengkap peralatan P3K, jadi aku mudah ngobatin luka ku, lengkap obat obatan nya."


Ujar Badrun.


"Iya Mas, aku memang dari dulu terbiasa nyiapin peralatan obat obatan apa saja dirumah, buat jaga jaga dan persiapan kalo terluka dan sakit."


Jelas Yana pada Badrun yang mengangguk mendengar penjelasan Yana itu.


Setelah kepergian para Polisi dan Paramedis dengan ambulance nya, warga warga pun membubarkan diri nya.


"Aku antar Dewi dulu ke rumah jogja gak apa kan Mas ?"


Tanya Yana.


"Iya, gak apa, aku mau istirahat."


Ujar Badrun.


"Kalo gitu,kami pergi dulu Mas."


Ujar Yana, Dewi salim mencium tangan Badrun,lalu mereka pergi meninggalkan Badrun yang lantas berdiri dari duduk nya dan melangkah masuk ke dalam rumah Yana,mengunci pintu rumah nya.


Via tampak sedang bersiap siap hendak berangkat kerja, Sita, Mama nya mendekati nya.


"Kamu libur kerja kapan Nak?"


Tanya nya.


"Besok Via libur Ma, kenapa ?"


Tanya Via.


"Nggak, ada yang mau Mama omongin sama kamu."


"Kalo kamu libur, Mama minta waktunya ya, jangan pergi main dulu sama teman temanmu."


Ujar Sita pada Via.Via menatap wajah Mama nya yang tampak serius dan tegang itu.


"Iya, Via besok seharian dirumah."


"Mau ngomongin apa sih Ma?"


Tanya Via.


"Besok aja ya."


Ujar Sita tersenyum mengelus kepala Via dan mengelus rambutnya.


"Oke deh Ma, Via berangkat kerja dulu yaa."


Suasana di lokasi Syuting tampak hening, para aktor dan artis sedang beradu acting di set yang ada, Randi tampak serius mengamati dan melihat adegan itu dari layar monitor, Proses Syuting sedang berjalan, dan Randi sudah kembali mengambil alih posisi sebagai Sutradara setelah untuk beberapa hari digantikan Asisten nya karena sakit.


Sebuah Mobil masuk ke lokasi syuting, memarkirkan mobil ditempat parkir, disamping sebuah mobil yang terparkir di situ.


2 Orang berpakaian jaket keluar dari dalam mobil, mengamati sekitar lokasi Syuting, lalu kemudian melangkah menuju set ,tempat di laksanakan nya Syuting.


Ke dua Orang itu berdiri di belakang Randi yang duduk di kursi khususnya, dibelakang kursi yang diduduki Randi tertulis "Sutradara", menunjukkan bahwa kursi itu milik Sutradara.


2 orang itu mengamati dan melihat, mereka menunggu proses syuting selesai, agar tidak mengganggu.


"Ok Cuuuttt, good ! next scene !"


Teriak Randi, Kru dan para pemain tampak lega karena adegan telah selesai, Randi lalu berdiri dari kursinya, saat dia hendak melangkah ke set, dia di panggil.


"Pak Randi."


Ujar Polisi 1 pada Randi yang lantas berbalik melihat ke dua orang yang ternyata Polisi itu.


"Selamat siang Pak Randi, maaf mengganggu, kami dari kepolisian."


Ujar Polisi 1.


"Iya, ada apa ya Pak."


Ujar Randi tenang. Para Kru dan pemain melihat ke arah kedua polisi yang sedang bicara dengan Randi itu.


"Boleh minta waktu nya Pak Randi untuk ikut kami ke kantor guna dimintai keterangan nya?"


Ujar Polisi 2.


"Sekarang ?"


Tanya Randi.


"Iya Pak, jika bersedia."


Ujar Polisi 1.


Randi mengangguk paham, lalu dia memanggil Bram, Asisten Sutradaranya.


"Braaaamm...!!"


Teriak Randi, Bram yang di panggil langsung cepat berlari mendekati Randi.


"Siap Pak."


Ujar Bram.


"Kamu lanjutin dulu untuk hari ini, saya ada urusan dikit."


Ujar Randi.


"Siaap !"


Ujar Bram.


"Ayo Pak."


Ujar Randi pada ke dua polisi yang lantas mengangguk dan mengajak Randi untuk ikut mereka ke mobil.


Para kru dan artis yang melihat Randi di jemput dua orang polisi saling berbisik kasak kusuk, mereka bertanya tanya, ada apa, kenapa Polisi datang jemput Randi ? berbagai macam pertanyaan terlontar dari mulut mereka.


"Okee, kita lanjut adegan berikutnya ya."


Ujar Bram pada Kru dan Pemain .Para Kru dan pemain membubarkan diri dari saling kasak kusuk, melanjutkan kegiatan dan tugas masing masing.


Sementara itu Mobil Polisi yang membawa Randi pergi meninggalkan lokasi Syuting.


Dirumah nya, Yana sedang bicara dengan Badrun ,buah buahan ada di meja ,sengaja di beli Yana buat Badrun.


"Aku pikir, ada baik nya aku minta tolong Polisi buat jagain aku dan rumahku Mas."


Ujar Yana.


"Buat apa ?"


Tanya Badrun.


"Biar lebih aman aja."


Ujar Yana.


"Kamu gak percaya sama aku ?"


"Aku udah minta 4 orang teman ku preman preman buat nemaniku jagain kamu."


Ujar Badrun pada Yana, Yana menarik nafas, merasa gak enak hati pada Badrun.


"Bukan begitu maksudku Mas, aku khawatir aja sama kamu, takut kamu kenapa napa."


"Nanti kalo kamu kenapa napa aku yang disalahin anak anakmu Yuli dan Yuni."


Ujar Yana.


"Mereka gak tau, kan mereka pada kerja di luar kota."


Ujar Badrun.


"Waktu itu aku lengah aja, karena ku kira gak mungkin ada yang nekat masuk kerumah mu,apalagi sampe membantai teman temanku."


Ujar Badrun.


"Aku udah minta teman teman premanku buat bawain senjata rakitan yang biasa mereka pake kalo ke sini nanti."


Ujar Badrun.


"Pistol ?!"


Tanya Yana, Badrun tersenyum mengangguk, Yana tampak wajahnya cemas.


"Buat apa Mas ?"


"Ya buat pertahanan diri, orang yang nyerang aku punya ilmu bela diri yang lebih bagus, makanya aku kalah."


"Pistol rakitan itu aku gunakan buat pertahanan terakhir kalo aku kalah."


Ujar Badrun, Yana menghela nafasnya, menatap Badrun untuk menegaskan, Tampak wajah Badrun serius menatap Yana.


"Ya gimana baiknya menurut kamu aja Mas,aku manut."


Ujar Yana. Badrun tersenyum, Yana lalu berdiri dari duduknya, tinggalkan Badrun, Dia masuk ke dalam kamar nya.


Diruang interogasi kepolisian, Randi duduk disebuah ruangan ditemani seorang Polisi, Polisi 2 masuk ke dalam ruangan itu ,mendekati Randi dan Polisj 1.


"Bagaimana ?"


Tanya Polisi 1.


"Semua penjelasan Pak Randi cocok, Menurut penjelasan para Kru ,Malam saat kejadian Pak Randi sedang berada dilokasi Syuting ."


Ujar Polisi 2.


Randi tersenyum mendengar penjelasan polisi 2 itu, dia tampak tenang.


"Baiklah, terima kasih atas waktu nya Pak Randi."


Ujar Polisj 1.


"Gak apa Pak, saya senang bisa membantu bapak bapak."


Ujar Randi.


"Saya permisi Pak."


Ujar Randi lalu berdiri dan keluar dari ruangan itu.


"Semua alibi nya benar, apa yang dijelasinnya sesuai dengan keterangan dari Marwan yang kita tanyain sebelumnya sebagai saksi."


Ujar Polisi 1.


"Ini artinya, kita belum nemuin titik terang dari pelaku nya ."


Ujar Polisi 2.


"Iya, kita harus menggali lebih dalam lagi kasus inj, Saya masih curiga, dan kuat keyakinan kalo pelaku nya Randi."


Ujar Polisi 1.


"Ada yang ganjil dari sikap dan nada bicara Randi saat proses interogasi, suara nya berubah ubah, dan gerak serta sikap nya juga ber beda beda tiap menjawab pertanyaan."


Ujar Polisi 1.


"Kita harus mencari tahu siapa sebenarnya Randi itu."


Ujar Polisi 2.


"Iya."


Jawab Polisi 1.


Mereka tampak sangat serius dalam mencari kebenaran atas terjadi nya pembunuhan, Mereka menganggap pembunuhan yang terjadi di rumah Yana dengan korban ke dua teman Badrun memiliki motif yang sama dengan korban sebelum nya, karena mereka menemukan tulisan "Hell...Loo.." yang sama di dinding rumah Yana saat olah Tempat Kejadian Perkara ( TKP ).


Diluar kantor Polisi tampak Randi keluar dengan melangkah tenang dan santai, wajah nya tersenyum senang , melangkah bebas.


Tak berapa Lama datang Marwan dengan mengendarai motor nya, Marwan menjemput Randi di kantor Polisi itu karena Randi menelpon Marwan dan memberi tahukan nya untuk menjemput nya di kantor Polisi.


"Gimana bang?"


Tanya Marwan pada Randi yang mendekati motor Marwan, Marwan memberikan helm, Randi menerima dan memakainya.


"Aman."


Ujar Randi tersenyum, Marwan mendengar itu tampak wajah nya lega.


"Sekarang, abang mau saya antar kemana ?"


Tanya Marwan.


"Ke Lokasi Syuting saya, gak apa kan ?"


Ujar Randi.


"Siaaap bang !"


Ujar Marwan, Randi senyum lalu naik dan duduk di jok belakang motor Marwan, Motor pergi dari kantor Polisi itu, Randi duduk di boncengan.


Sepanjang jalan ,dalam boncengan Marwan diatas motornya, Randi merentangkan ke dua tangan nya menghirup udara dan menikmati angin dijalanan, tampak dirinya tersenyum senang sekali.