Go To Hell

Go To Hell
Bab 59



   Randi duduk terpaku di sofa, dia terdiam , terngiang kembali ucapan anaknya yang memintanya untuk segera membebaskan Dewi, jika Randi tidak menuruti permintaan anaknya, dia tidak akan bisa bertemu lagi dengan anaknya, Randi resah, dia tidak ingin hal itu terjadi, dia yang sangat menyayangi dan merindukan anaknya itu tak kan mampu menerima kenyataan jika benar benar anaknya menghindar dan tidak ingin bertemu dia lagi.


Tiba tìba Randi meringis menahan sakit, dia memegang kepalanya, mengerang kesakitan, beberapa saat dia dalam keadaan melawan rasa sakit di kepalanya itu, lalu sesaat kemudian dia terdiam, matanya melotot dengan tatapan tajam, menyeringai buas, saat itu, bukan lagi diri Randi yang normal, tapi Roni, salah satu kepribadian yang ada di dalam diri Randi muncul.


"Aku gak kan biarkan Yana tersenyum karena melihat anaknya bebas !" Ujar Roni menatap tajam dan menyeringai.


"Kalo kamu sampe melepaskan anak Yana, kamu tolol !" Ujar Roni.


Tiba tiba diri Randi mengerang, dia berubah sikap, kali ini yang keluar dari dalam dirinya sosok Sanur.


"Kamu lupa, apa yang udah di perbuat si Yana itu sama anakmu ?" Ujar Sanur dengan suara berat dan menahan geram.


"Anakmu udah diperlakukan kayak anjing Randi, kayak anjiiing !!" Teriak Sanur.


Randi mengerang kesakitan, memegangi kepalanya, kemudian sikap dan gerak tubuhnya kembali berbeda dengan sebelumnya, kali ini lebih tenang.


"Cemen, baru di ancam anakmu aja, kamu udah mau nyerah, terus mau balikin anaknya si Yana ?" Ujar Rahman mencibir.


Randi memutar kepalanya, mengerang menahan rasa sakit, lalu menatap tajam jauh ke depan.


"Kamu harus membalas perbuatan Yana pada anakmu Randi ! Buat dia lebih menderita dari apa yang udah kamu rasakan saat meliat anakmu dibuat seperti anjing !!" Ujar Sandi, sosok kepribadian ganda dalam diri Randi lainnya.


Randi terdiam, dia mengingat semua kejadian yang di lihatnya dalam video tentang Via, anaknya yang diperlakukan Yana seperti seekor anjing yang sedang makan di lantai. Wajah Randi terlihat geram, namun tiba tiba dia memegang kepalanya, merintih kesakitan.


"Tidaaak, aku gak bisa mengabaikan permintaan anakku !! Aku harus turuti permintaan anakku." Ujar Randi.


Dia lalu melangkah cepat ke arah kamar tempat Dewi di ikatnya. Wajahnya terlihat cemas.


"Jangan halangi aku, aku harus membebaskan Dewi !" Ujar Randi.


Saat dia berada di depan pintu kamar, langkahnya terhenti, sikapnya kembali berubah, kali ini Roni muncul dari dalam dirinya.


"Kamu gak bisa kami biarkan ! Lebih baik kamu diam ! Biar semuanya aku yang urus ! Jangan takut dengan ucapan anakmu !" Ujar Roni dengan suara keras.


"Aku akan membalas perbuatan Yana, liat saja, dia akan mendapatkan balasan yang lebih besar dariku !" Ujar Roni lalu menerobos masuk ke dalam kamar.


Di dalam kamar, Randi yang sudah berubah menjadi sosok Roni, salah satu dari empat kepribadian ganda yang di miliki Randi dalam dirinya masuk ke kamar dan menemui Dewi yang terikat, Roni menatap tajam wajah Dewi yang terlihat lemah di kursi dengan kondisi terikat, Roni menyeringai, tatapan matanya mengerikan, Dewi terlihat takut saat Roni mulai melangkah mendekatinya.


"Hell...lo Dewi...!" Ujar Roni menatap tajam wajah Dewi yang ketakutan.


"Aku akan mengantarkanmu pulang sekarang..." Ujar Roni menyeringai.


Mendengar bahwa dia akan di antar pulang, sorot mata Dewi menunjukkan rasa senang, dia meronta ronta, berusaha untuk bicara, namun tak bisa karena mulutnya di lakban Randi.


Roni berjalan pelan ke belakang Dewi yang duduk di kursi dalam keadaan terikat, dia berdiri tepat di belakang Dewi, lalu tangannya membelai rambut Dewi dengan lembut, mata Dewi menyiratkan ketakutan melihat sikap Randi seperti itu.


Roni melingkarkan lengannya dileher Dewi, mendekapnya dari belakang dengan lembut, lalu dia mendekatkan wajahnya ke wajah Dewi.


"Sudah saatnya kamu ku antar..." Ujar Roni berbisik di telinga Dewi, dia mengendus telinga Dewi, mencium pipi Dewi, untuk kemudian menatap tajam dan menyeringai.


"Kau ke neraka sekarang !' Ujar Roni lalu mencekik leher Dewi sekuat kuatnya dengan lengannya yang berada dileher Dewi, tangan kiri Roni memegang kepala Dewi, menarik rambutnya, Dewi meronta ronta karena susah bernafas, Roni dengan menyeringai buas dan menyeramkan itu dengan sekuat tenaga mencekik leher Dewi, lalu dengan sekali tarikan yang kuat dari tangan kirinya, terdengar bunyi "Kreekk" dari leher Dewi, lalu Roni melepaskan cengkraman tangannya dari leher Dewi yang sudah terkulai lemah dengan lehernya yang patah. Roni tersenyum puas menatap Dewi yang mati meregang nyawa di tangannya. Dengan santai Roni berjalan dengan bersiul siul keluar dari dalam kamar, meninggalkan mayat Dewi yang terbujur kaku di kursi dengan keadaan terikat dan leher yang patah. Dewi akhirnya di bunuh oleh Roni, sosok kepribadian ganda yang ada di dalam dirinya.


   Di waktu lain, sebuah mobil pick up berhenti di jalan depan rumah paman Mulyono, seseorang turun dan melangkah cepat ke arah belakang mobil, dengan memakai masker dan sarung tangan dia mengangkat sebuah karung yang berat, dengan cepat dia menurunkan karung itu, kemudian meletakkannya di luar depan rumah paman Mulyono, petugas polisi yang berdiri dan berjaga di teras rumah paman Mulyono melihat apa yang di lakukan orang itu dikejauhan, karena jarak teras dan halaman rumah paman Mulyono dengan depan jalanan itu lumayan lebar, segera petugas polisi itu berlari ke arah orang yang menurunkan karung di jalan depan rumah paman Mulyono, melihat petugas polisi yang berlari ke arahnya, dengan cepat dia masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya yang memang sengaja dalam keadaan menyala saat berhenti tadi.


"Hei tunggu !" Ujar petugas polisi setelah mendekat, dia cepat membuka pagar halaman rumah dan keluar berdiri di jalan depan rumah paman Mulyono, dia melihat mobil itu sudah pergi menjauh, dia tak tahu siapa orang itu dan apa maksudnya meletakkan karung di depan rumah paman Mulyono.


Petugas Polisi itu melihat ke arah karung yang tergeletak di aspal jalan depan rumah, dia berfikir sejenak, dengan kakinya dia menendang karung itu, mencoba mencari tahu apa isi dalam karung tersebut.


Petugas polisi itu lalu berjongkok, secara perlahan dia mulai membuka tali yang mengikat karung itu, setelah tali pengikat di lepas, dia membuka karung , melihat ke dalam karung, mencari tahu isi di dalam karung itu.


Saat dia membuka lebar karung itu, muncul kepala Dewi yang terkulai karena patah, petugas polisi refleks kaget, dia terduduk di aspal jalan melihat mayat di dalam karung.


"Astagaaa , mayat !!" Ujarnya kaget sekaget kagetnya , karena tidak menyangka isi karung itu sosok mayat.


Lalu dia berusaha menenangkan dirinya, membuka kembali karung itu, menegaskan lagi matanya melihat sosok kepala itu, petugas polisi semakin kaget ketika mengetahui siapa sosok mayat itu.


"Aaagghh...mbak Dewi !" Ujarnya syock, dia lalu dengan cepat menggotong mayat di dalam karung itu, masuk ke dalam rumah berlari dengan susah payah karena beban berat yang dibawanya dari tubuh Dewi yang ada di dalam karung. Hendro, petugas polisi yang juga berjaga di teras rumah paman Mulyono melihat petugas polisi yang menemukan mayat Dewi itu bertanya.


"Apa itu Mir ?" Tanya Hendro, pada petugas polisi yang membawa karung berisi mayat Dewi .


"Mayat mbak Dewi." Ujar Amir tetap terus berjalan cepat masuk ke dalam rumah paman Mulyono, Hendro kaget mendengar itu lalu karena penasaran ingin tahu, dia juga ikut masuk ke dalam rumah paman Mulyono.


Amir yang masuk kedalam rumah menemui Gunawan yang sedang berkumpul bersama Kuncoro dan Handoko di ruang tamu, melihat Amir yang membawa karung jalan dengan susah payah itu mereka heran.


Amir tidak menjawab, dia cepat meletakkan karung di lantai rumah, membuka karung dan menunjukkan isi di dalam karung itu.


"Dewiii !!" Teriak Gunawan, Kuncoro, Handoko bersamaan, mereka kaget melihat tubuh Dewi berada di dalam karung.


Gunawan cepat mendekati karung yang ada di lantai, mengeluarkan tubuh Dewi dengan di bantu Kuncoro, sementara Handoko terpaku menyaksikan hal itu, melihat mayat Dewi itu ada rasa penyesalan dan bersalah pada dirinya, karena dialah, Dewi di culik Randi dan akhirnya mati di bunuh. Handoko terdiam, tubuhnya kaku.


Gunawan dan Kuncoro berhasil mengeluarkan tubuh Dewi dari dalam karung, mereka meletakkan tubuh kaku Dewi dengan hati hati di lantai ruang tamu itu, wajah Gunawan terlihat iba melihat Dewi yang sudah menjadi mayat, dia lalu menutup mata Dewi yang masih terbuka, dengan wajah sedih dan menahan marah pada Randi, Gunawan melepaskan lakban yang ada di mulut Dewi, Kuncoro membantunya melepaskan ikatan dari tangan dan kaki Dewi, lalu mereka berdiri , menatap mayat Dewi yang tergeletak di lantai ruangan.


"Kita harus memberitahu hal ini ke bu Yana." Ujar Gunawan dengan suara lirih.


"Biar saya yang bilang ke beliau." Ujar Kuncoro, Gunawan mengangguk, Kuncoro lalu bergegas jalan menuju kamar Yana.


Di depan pintu kamar Yana, Kuncoro bertanya pada petugas polisi yang berjaga di situ.


"Bu Yana masih di dalam kamar kan Man ?" Tanya Kuncoro pada Sutarman, nama petugas polisi yang menjaga di depan kamar Yana.


"Ada pak, beliau tidak keluar keluar kamar." Ujar Sutarman pada Kuncoro.


Kuncoro dengan pelan mengetuk pintu kamar Yana, dia memanggil Yana.


"Bu...Bu Yana...bisa tolong keluar kamar ?" Ujar Kuncoro, tak ada respon dari dalam kamar, Kuncoro mengetuk pintu kamar lagi secara perlahan.


"Bu Yana...tolong keluar bu, ada yang mau saya sampaikan pada ibu." Ujar Kuncoro, belum juga ada tanda tanda Yana keluar dari dalam kamarnya. Kuncoro menghela nafasnya, terdiam sejenak, kemudian dia mengetuk pintu kamar kembali.


"Ini penting bu, soal mbak Dewi." Ujar Kuncoro memberitahukan, lalu dia menunggu di depan pintu kamar, tak berapa lama kemudian pintu kamar terbuka, Yana berdiri di depan pintu kamarnya.


"Dewi udah pulang pak ?" Tanya Yana pada Kuncoro, wajah Yana terlihat senang, dia cepat keluar kamar begitu mendengar nama Dewi di sebut Kuncoro.


"Dimana Dewi sekarang pak ? Dia baik baik aja kan ? Saya kangen, saya mau ketemu anak saya, dimana dia ?" Tanya Yana pada Kuncoro yang berdiri diam tertunduk di depan Yana, dia tak berani menatap wajah Yana yang terlihat senang itu, karena mengira anaknya berhasil ditemukan dan kembali kerumah untuk bersamanya lagi.


Kuncoro menghela nafas berat, dia menatap wajah Yana yang terlihat bahagia itu.


"Sebaiknya ibu ikut saya sekarang, saya mohon, ibu bisa tenang saat bertemu mbak Dewi nanti." Ujar Kuncoro pada Yana.


"Ayo cepat pak, saya udah gak sabar pengen cepat ketemu anak saya." Ujar Yana senang, Kuncoro beranjak, pergi meninggalkan kamar itu di ikuti Yana yang terlihat bersuka cita senang, Sutarman, yang berjaga di depan pintu kamar Yana pun mengikuti Kuncoro dan Yana ke ruang tamu.


Kuncoro bersama Yana dan Sutarman tiba di ruang tamu, tubuh Dewi yang tergeletak di lantai masih di tutupi Hendro, amir, Handoko dan Gunawan agar tidak di lihat Yana.


"Mana Dewinya pak ?" Tanya Yana saat berada di ruang tamu itu, dia heran karena di ruangan itu, dia tidak melihat Dewi.


"Mbak Dewi di sana bu." Ujar Kuncoro menunjuk ke lantai tempat Dewi di letakkan, saat itu, Gunawan, Handoko, Hendro dan Amir yang menutupi tubuh Dewi bergeser, memberi ruang, hingga Yana bisa dengan jelas melihat tubuh Dewi di lantai.


Yana terpaku melihat ke arah lantai yang di tunjuk Kuncoro, dia melihat tubuh Dewi tergeletak di lantai ruangan itu, Yana terdiam sejenak.


"Dewii..." Ujar Yana dengan suara pelan melihat ke arah Dewi yang di lantai.


"Kenapa anakku tidur dilantai pak?" Tanya Yana pada Kuncoro yang berada di dekatnya, Kuncoro hanya diam saja, Yana pun akhirnya berjalan pelan mendekati Dewi yang tergeletak di lantai, dia ingin tahu kenapa Dewi tertidur di lantai.


Setelah Yana mendekati Dewi, dia pun duduk di lantai, melihat anaknya, mata Dewi terpejam, Yana yang melihat anaknya seperti sedang tidur menepuk nepuk pelan pipi anaknya.


"Wii...bangun nak, ini mama...bangun sayang...Dewi udah dirumah sama mama sekarang." Ujar Yana berusaha membangunkan Dewi, namun Dewi tidak juga bergerak.


Yana memegang wajah, tangan dan tubuh Dewi, dia merasakan tubuh Dewi dingin dan kaku. Yana menatap wajah Gunawan yang berdiri di dekatnya.


"Kenapa Dewi pak ? Kenapa badannya dingin dan kaku ?" Ujar Yana mulai menangis.


"Wiii...kamu sakit nak ? mama antar berobat ya?" Ujar Yana menatap wajah Dewi yang diam itu, Yana pun membenarkan duduknya, dia mengangkat kepala Dewi, dengan niat ingin memangku Dewi di pahanya, ketika dia mengangkat kepala Dewi, leher dan kepala Dewi terlihat terjuntai ke arah kiri, Yana melihat itu syock, dia memegang leher dan kepala Dewi, Yana menyadari bahwa leher Dewi patah.  Dia segera meraba leher Dewi, mulai rasa panik, cemas, takut dan sedih menyelimuti diri Yana.


"Kenapa anak saya pak ? Apa yang terjadi pada anak saya ?" Ujar Yana bertanya, dia teriak dan menangis, menciumi anaknya.


"Mbak Dewi sudah meninggal bu." Ujar Gunawan dengan suara pelan memberitahukan pada Yana.


Mendengar itu Yana pun meraung menangis sejadi jadinya, memeluk tubuh anaknya, menciuminya terus menerus.


"Tidaaaakkk !! Bangun Wiii...banguuunnn !! Jangan tinggalin mama !! Mama gak mau kamu ninggalin mama, cukup mbak Sekar yang pergi ninggalin kita !" Ujar Yana histeris menangis meraung meratapi kematian Dewi.


"Tidaaaaakkkk !! Dewwwwiiiiiii !!" Teriak Yana histeris dalam tangisnya.


Paman Mulyono yang baru pulang kerja, masuk ke dalam rumahnya kaget mendengar teriakan histeris Yana, saat dia mendekat dan melihat Yana memeluk tubuh Dewi yang kaku , sudah menjadi mayat, paman Mulyono lemas, tas kerja terlepas begitu saja dari tangannya, menatap nanar pada Yana dan Dewi, menangis sedih melihat cucunya meninggal.


"Keparaaaatttt kamu Raaaannndddiii !! Ku bunuh kamu, ku buuunnnuuuuhhhh !!" Teriak Yana histeris, dia menangis meraung, memeluk erat tubuh kaku anaknya itu, amarah dan kesedihan berkecamuk di dalam dirinya saat itu, dia tak bisa menerima kenyataan akan kematian anaknya itu.