
Begitulah awal mula bagaimana Marwan bagaimana dia menjadi kaki tangan Randi dan melakukan pembunuhan yang keji dan sadis bersama Randi, bagi Marwan, pembunuhan yang dilakukan pada Riyadi adalah yang pertama kalinya, tapi tidak dengan Randi, jauh sebelumnya, Randi sudah membunuh beberapa orang di masa lalunya, dan tidak diketahui banyak orang, secara sadar tidak sadar, Randi yang seorang psikopat dengan memiliki empat pribadi lain dalam dirinya, sudah membunuh orang orang yang menurutnya telah mengusik dan mengganggu ketenangan dirinya.
Marwan sangat menikmati proses pembunuhan yang dilakukannya bersama Randi, dia sangat kagum pada Randi karena begitu sangat terencana sekali dalam menyusun siasat untuk membunuh, Marwan yang sebelumnya memang sudah menaruh hormat dan segan pada Randi karena telah menyelamatkan hidupnya dengan membantunya bangkit jalani usaha dulu saat dia bangkrut, semakin menghormati Randi, bagi Marwan, Randi adalah segalanya, dia akan siap berkorban apapun untuk Randi.
Seperti saat Randi menyampaikan idenya kepada Marwan untuk merencanakan pembunuhan berikutnya, dimana target itu adalah Bandi, keamanan erte dilingkungan rumahnya, Marwan tanpa berfikir panjang langsung menyetujui dan siap menjalankan semua perintah dan tugas dari Randi kepadanya.
Waktu itu, jauh sebelumnya, di Tahun lalu saat sebelum kematian Bandi, keamanan erte lingkungan rumah Randi.
Randi yang tersinggung dengan sikap Bandi yang tidak sopan dan kasar saat menegur Marwan yang datang bertamu kerumahnya menyimpan dendam.
Dia merencanakan pembunuhan terhadap Bandi, Randi yang mengetahui dimana Bandi berjualan menjelaskan pada Marwan , bahwa Bandi berjualan makanan di tempat wisata rawa jombor, Randi menyusun siasat, agar Marwan paham dan mengetahui apa yang harus dilakukannya.
Malam itu, Bandi yang baru saja menutup kios makanannya yang ada di salah satu sawung di wisata rawa jombor melangkah menuju parkiran motor, Bandi menyalakan mesin motornya dan pergi meninggalkan tempat itu.
Di jalanan sekitar rawa jombor yang sangat sepi setiap siang dan malam harinya, bandi melaju diatas motornya, menyusuri pekatnya malam dan hawa dingin yang menerpa tubuhnya. Jalanan sekitar itu terlihat sepi, di kiri jalan terlihat rawa rawa, dan di sisi kanan hanya tanah berbukit bukit , ditumbuhi pepohonan serta rumput rumput liar. Tiba tiba dari arah lain sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi kearahnya, Bandi yang terhalang karena sorot lampu tembak yang berasal dari mobil terlihat gugup, pandangan matanya tak bisa melihat jelas jalanan, mobil itu meluncur dengan kecepatan tinggi ke arahnya dan menghantam motor Bandi hingga terpental jauh, Bandi jatuh terguling guling dijalanan itu, mental ke rumput rumput liar yang ada di pinggir jalan itu, mobil Marwan yang menabrak Bandi berhenti di dekat tubuh Bandi yang tergeletak tak sadarkan diri dengan kepala dan tangan berdarah, dari dalam mobil, segera Randi turun dan dengan cepat melangkah mendekati Bandi yang tergeletak di aspal jalan, Marwan lalu keluar dari dalam mobilnya, dia melihat sekitar lokasi itu, tidak ada seorang pun yang terlihat. Randi berdiri menatap Bandi yang tergeletak tak sadarkan diri itu.
"Hell...lo...Bandi ! Lo ke Neraka sekarang karena mulut sampahmu !" Ujar Randi geram, sosoknya saat itu menjadi sosok yang sangat menyeramkan.
Randi segera dengan buas dan liarnya menghujamkan pisau ke perut dan dada Bandi berkali kali, dia meluapkan segala emosi dan amarahnya pada Bandi, dengan tatapan mata yang mengerikan Randi terus menusukkan pisau ke tubuh Bandi, lalu terakhir dia menyayat leher Randi hingga mengeluarkan darah.
"Bay Bandiii..." Randi menyeringai puas menatap mayat Bandi.
Setelah puas dia melampiaskan amarahnya, dia lalu tersenyum sinis pada mayat Bandi, lalu melap darah Bandi yang ada diwajahnya, menjilat darah itu dengan cara menikmatinya, Marwan mendekat dan segera menggotong mayat Bandi yang terbujur kaku di rerumputan pinggir jalan itu. Marwan menggotong mayat Bandi dan membawanya pergi dari tempat itu di ikuti Randi yang melangkah tenang dan santai dibelakangnya.
Marwan meletakkan mayat Bandi di sebuah perahu yang memang ada ditempat wisata rawa jombor sebagai salah satu objek wisata yang biasa digunakan pengunjung , Randi dan Marwan yang memang sudah merencanakan diawal, sudah menyiapkan perahu itu sebelumnya, Marwan melempar mayat Bandi ke dalam perahu, Randi melangkah tenang naik ke perahu, mendekati mayat Bandi, lalu menyayat nyayat mulut Bandi yang sudah jadi mayat itu, Randi merusak mulut Bandi, lalu dia mencabuti paksa kuku kuku jari tangan Bandi yang sudah menjadi mayat, setelah puas melakukannya, Bandi lalu menuliskan kalimat yang menjadi ciri khas dia selama ini saat membunuh, dengan menggunakan darah Bandi, dia menulis, kalimat yang ditulis seperti pada bab sebelumnya yang diceritakan saat polisi menemukan kesamaan pesan yang ada di tempat kejadian .
Setelah melakukan aksi kejinya, Randi dan Marwan segera meninggalkan tempat itu, mereka menjalankan aksinya lalu pergi tanpa sedikitpun meninggalkan jejak, Mayat Bandi ditemukan seminggu setelah terbunuh.
Itulah balasan yang diberikan Randi kepada Bandi dan juga orang orang yang sudah bersikap kasar bahkan menyepelekan dan merendahkan dirinya tanpa rasa hormat, Randi melampiaskan semua dendamnya dengan cara membunuh mereka yang sudah menghina dan merendahkan dirinya.
Marwan sangat menikmati aksinya menjadi kaki tangan Randi saat melakukan pembunuhan, dia yang juga merasa tersinggung karena ditegur tanpa sopan santun oleh Bandi akhirnya bisa lega karena Bandi akhirnya mati.
Aksi Marwan sebagai kaki tangan Randi berlanjut, dia semakin larut dalam kesenangan saat menjalankan semua perintah Randi, melancarkan teror pada Yana dengan meletakkan bangkai ayam didepan pintu rumah Yana yang baru, mengamati segala kegiatan yang dilakukan Yana dan Herry di cafe lalu melaporkannya pada Randi, juga Marwan menjalankan aksi sendirinya saat membantai kedua teman Badrun dirumah Yana, kedua teman Badrun yang saat itu menemani Badrun menjaga Yana dirumahnya mati ditangan Marwan yang dulu menyelinap masuk kerumah Yana, membantai dengan sadis kedua teman Badrun dan membuat Badrun jatuh pingsan saat dulu.
Marwan juga yang menuliskan pesan sama seperti yang dilakukan Randi setelah membunuh, itu dilakukannya sesuai dengan perintah Randi.
Semua sepak terjang yang dilakukan Marwan berasal dari perintah Randi yang menjadi otak segala kejahatan yang mereka lakukan.
Itulah kilas balik kisah Marwan yang menjadi kaki tangan Randi, Marwanlah sosok pria misterius yang selama ini digambarkan dan disampaikan dalam cerita ini tidak diketahui siapa dirinya. Kini terungkap sudah, Marwan sebagai kaki tangan Randi, selain Sugeng yang telah mati.
Kita kembali ke masa sekarang,
Saat itu, Randi terlihat masih menyimpan amarahnya, dia dengan cepat dan wajah menahan amarah masuk ke dalam kamar dimana dia mengikat Dewi, anaknya Yana.
Randi masuk ke kamar itu dan mendekati Dewi yang tertidur di kursi dengan kondisi tubuh terikat dan mulut ditutup perban, Randi membuka ikatan diseluruh tubuh Dewi yang dililit ke kursi, Dewi terbangun dari tidurnya, dengan wajah pucat dan lemas dia melihat Randi yang sedang melepaskan ikatannya dari kursi.
Belum juga Dewi sadar sepenuhnya Randi dengan kasar menarik rambut Dewi hingga jatuh kelantai. Dewi merintih menjerit kesakitan karena rambutnya ditarik paksa dan diseret dengan keadaan kaki dan tangannya masih terikat, Randi tak perduli, dengan bengisnya dia menyeret Dewi keluar dari kamar itu.
Dewi meronta ronta kesakitan, tubuhnya terus diseret Randi keluar dari rumah tempat persembunyian Randi, dia menyeret Dewi ke mobilnya, lalu mengangkat tubuh Dewi dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil yang sudah terbuka, mulut Dewi yang tertutup lakban tak bisa berteriak untuk meminta pertolongan, Randi lalu menutup bagasi mobilnya, naik ke dalam mobil, menyalakan mesin mobil, lalu menjalankan mobilnya, pergi meninggalkan tempat itu.
Mobil Randi dengan kecepatan sedang melaju dijalanan menyusuri kepekatan malam itu, membawa tubuh Dewi yang terikat berada didalam bagasi mobil. Dia pergi meninggalkan tempat persembunyiannya saat itu menuju ketempat persembunyiannya yang baru.
"Paman berangkat kerja dulu ya." Ujar paman Mulyono, Yana melihatnya tersenyum.
"Iya paman, hati hati dijalan, aku juga nanti mau pergi ke butikku, mau cek laporan keuangan butik." Ujar Yana menjelaskan.
"Ingat, jangan lengah, tetap waspada, tetap ikuti arahan pak Gunawan, dan selalu minta ditemani polisi buat jaga dan mengawalmu." Ujar paman Mulyono tersenyum memandang wajah Yana.
"Iya paman."Jawab Yana tersenyum.
"Ya sudah , paman berangkat." Ujar paman, saat dia hendak melangkah, dia berhenti lalu berbalik melihat Yana.
"Kok paman gak liat Via dari kemaren sore paman pulang kerja ya?" Tanya paman Mulyono, mendengar itu jantung Yana berdegup, dia kaget pamannya bertanya tentang Via, Yana berusaha bersikap tenang dihadapan pamannya.
"Oh, Via izin ke aku kemaren sore paman, bilangnya mau ambil semua pakaiannya di hotel terus check out buat tinggal disini." Ujar Yana menjelaskan dengan berbohong pada paman Mulyono.
"Oh begitu, ya memang harus begitu, biar gak kena chas terus di hotel, gak tidur dihotel malah ngeluarin uang terus tiap hari." Ujar paman tersenyum.
"Iya paman." Ujar Yana tersenyum tipis menatap paman Mulyono.
"Ya udah, paman pergi, kalo ada apa apa, cepat bilang ke polisi yang berjaga didepan rumah." Ujar paman Mulyono, Yana mengangguk.
Paman Mulyono melangkah pergi meninggalkan Yana yang lantas menarik nafas lega, dia lega karena paman Mulyono tidak tahu kalau dia menyekap dan mengikat Via di kamar kosong.
Dewi duduk dengan posisi terikat, dia mengamati seluruh isi ruangan, dia mengenal tempat itu, Dewi menyadari jika saat itu dia berada dirumah lamanya. Randi ternyata sengaja memindahkan dan membawa Dewi dan menyekapnya di rumah lama dia bersama Yana yang sudah dibelinya, selain kunci rumah yang diberikannya pada Via saat dulu, Randi menyimpan kunci serep rumah itu, dia sengaja membawa Dewi ke rumah lamanya, karena berfikir tidak akan ada yang tahu dan menduga jika dia kembali kerumah lamanya membawa Dewi sebagai sanderanya, sebab, selama ini orang orang sekitar tahu jika rumahnya itu telah dijual dan dibeli orang lain yang berasal dari Jakarta, warga termasuk pak erte Samsir tidak ada yang tahu jika orang yang membeli rumah Yana dan Randi itu ternyata diri Randi sendiri yang menyamar sebagai pembeli dan orang Jakarta.
Randi duduk santai dihadapan Dewi, dia menyeringai menatap wajah Dewi yang terlihat takut pada Randi.
"Selamat datang dirumah kita kembali Wi." Ujar Randi dengan tatapan tajamnya ke arah Dewi yang hanya diam, dia tak mau melihat wajah Randi, membuang muka merasa jijik pada Randi.
"Kamu tenang saja disini ya, gak lama lagi kita akan berkumpul lagi seperti dulu, mamamu akan datang ke sini menemui kita." Ujar Randi menyeringai tersenyum pada Dewi yang tetap diam tak bergeming.
Yana masuk ke dalam kamar kosong, melemparkan piring berisi makanan ke lantai di depan Via yang terikat di kursi. Yana melangkah mendekati Via, dengan penuh kebencian dia mendorong tubuh Via hingga terjatuh ke lantai, jatuh tepat di depan piring berisi makanan, Yana melihat Via merasa muak dan marah, karena baginya, melihat Via sama saja dia melihat Randi.
Yana bersikap kasar pada Via untuk melampiaskan amarahnya pada Randi, dia menganggap Via saat itu adalah Randi, karena itu dia memperlakukan Via dengan kasar, seolah dia sedang memperlakukan Randi dengan kasar.
Via yang terjatuh dilantai menatap piring berisi makanan, wajahnya terlihat merasa terhina dengan perlakuan Yana padanya, dia tak menyangka Yana bisa sekasar itu perlakuannya pada dirinya.
Yana mendekati Via, mencekal tengkuk leher Via, menekannya dan mendekatkan wajah Via ke piring makanan.
"Cepat makan !" Perintah Yana dengan suara geram pada Via yang meronta berusaha agar Yana melepaskan cekalan tangan Yana dilehernya, tapi Yana terus menekan tengkuk lehernya hingga wajahnya menyentuh makanan yang ada dihadapannya.
"Ayo makan, makan kataku ! Kalo kamu gak makan, aku akan memukulimu !" Ujar Yana dengan kasar , akhirnya, mau tidak mau, Via pun memakan makanan yang ada di piring itu, dia menjilati makanan itu seperti seeokor anjing yang sedang memakan makanannya. Via menahan segala rasa yang berkecamuk dalam dirinya, mencoba bersikap untuk tenang menerima segala perlakuan Yana, Via pasrah dirinya saat itu diperlakukan buruk oleh Yana.
"Baguuusss, kamu harus menghabiskan makanan itu !!" Ujar Yana tertawa puas melihat Via yang makan seperti seekor anjing, wajah Yana puas, dia melihat wajah Via, dalam hayalannya saat itu, bukan Via yang sedang makan seperti anjing, tapi wajah Randi, dalam hayalannya dia melihat Randi terikat dan sedang makan dengan cara menjilati makanan seperti seekor anjing.
Yana tertawa terpingkal pingkal, merasa senang, bahagia dan puas melihat Via yang makan bagai seekor anjing, Yana tertawa bertepuk tangan kegirangan, dia bertingkah bagai seorang yang tak waras, Via melirik Yana yang tertawa terpingkal pingkal merasa puas itu, Via menghela nafasnya. Yana melihat Via berhenti makan lalu membentaknya.
"Kenapa berhenti ! Makan lagi ! Makanan itu belum habis !!" Teriak Yana kasar dengan mata melotot pada Via. Via pun melanjutkan makannya, dia kembali menjilati makanan itu dan menelannya dengan susah payah, dia membiarkan dirinya diperlakukan seperti seekor anjing oleh Yana yang merasa bahagia melihat dirinya seperti itu. Via berusaha tegar dan tidak menangis saat itu, menerima segala perlakuan buruk yang didapatnya dari Yana, orang yang hendak diselamatkan dan di tolongnya dari incaran Randi, papahnya, niat baik Via saat itu dibalas Yana dengan kebencian dan sikap perlakuan buruk padanya, apa yang dilakukan Yana pada dirinya, itu telah menghina dan merendahkan dirinya, karena Yana telah menyamakan dirinya seperti seekor anjing yang sedang kelaparan .