Go To Hell

Go To Hell
Bab 60



 Paman Mulyono beserta keluarga dan sanak famili mengantarkan Dewi ke tempat peristirahatannya yang terakhir, di samping paman Mulyono terlihat Yana dengan wajah sedih dan mata bengkak karena menangis terus menerus meratapi kepergian anaknya yang meninggal dengan cara tragis.


Suasana di lokasi pemakaman itu hening dan khidmat, Yana berjongkok di sisi makam Dewi, menaburkan bunga bunga, menyiramkan air dari botol, lalu mengelus lembut batu nisan yang bertuliskan nama Dewi. Yana menangis tersedu sedu.


Paman Mulyono menenangkan Yana, dia mengangkat tubuh Yana, Yana berdiri menatap makam Dewi yang berada tepat di samping makam Sekar, anak pertama Yana yang sudah meninggal lebih dulu.


"Dewi udah gak merasakan sakit lagi sekarang, Dewi udah ketemu mbak Sekar, kalian bisa bersenang senang di syurga, tunggu mama ya, kita pasti akan berkumpul nanti." Ujar Yana menangis sedih, paman Mulyono menepuk lembut bahu Yana, memberinya ketenangan.


Orang orang yang hadir melangkah pulang meninggalkan lokasi pemakaman, paman Mulyono mengajak Yana untuk pergi meninggalkan makam.


"Mama pulang dulu ya Wi...Sekar... nanti mama datang lagi." Ujar Yana dalam tangisannya memandang ke makam Sekar lalu menatap ke makam Dewi. Yana berbalik, melangkah pergi meninggalkan makam bersama paman Mulyono.


   Dirumah lamanya, Randi terlihat duduk di sofa, dia tercenung, menggerak gerakkan badannya di tempat.


"Maafin papah Via, maafin papah gak bisa menuhi permintaanmu."


"Papah harus melakukan hal itu untuk membalas perbuatan Yana padamu." Ujar Randi menatap tajam ke depan, pada ruang kosong di dalam ruang keluarga rumahnya.


"Setelah papah selesai membalaskan dendam papah, papah akan menghilang selamanya, papah rela jika Via gak mau bertemu papah lagi, karena memang papah gak pantas untuk bertemu kamu nak." Ujar Randi.


Di satu sisi dia merasa bersalah pada anaknya karena tidak bisa memenuhi permintaan Via untuk membebaskan Dewi, di sisi lain Randi harus memutuskan untuk menyiksa jiwa Yana dengan membunuh Dewi, Randi ingin Yana seumur hidupnya mendapat siksaan bathin yang menyakitkan, sebagai bentuk balasan dan perbuatan yang di lakukannya pada Randi. 


   Di hari lainnya, terlihat Yana masih dengan wajah pucat dan tubuh lemah tak bersemangat berjalan mendekati paman Mulyono yang sedang duduk santai di ruang keluarga membaca koran. Yana sudah berpakaian rapi, di tangannya ada tas berisi pakaian, paman Mulyono yang melihat kedatangan Yana dengan membawa tas pakaian serta sudah berpakaian rapi heran, dia meletakkan koran di atas meja, berdiri mendekati Yana.


"Kamu mau kemana ?" Tanya paman Mulyono lembut penuh kasih sayang pada Yana.


"Yana mau balik ke rumah paman." Ujar Yana dengan suara lirih dan lemah.


Paman Mulyono menghela nafas, menatap wajah Yana.


"Paman lebih tenang kalo kamu tetap tinggal di sini, bersama paman." Ujar paman Mulyono.


"Aku gak mau merepotkan paman terus dengan masalahku, aku juga gak ingin terjadi apa apa dengan paman, cukup orang orang dekatku yang menjadi korban Randi." Ujar Yana menatap wajah pamannya dengan wajah sendu.


"Paman baik baik aja, di sini aman, ada polisi yang menjaga." Ujar paman Mulyono tersenyum pada Yana.


"Sudah cukup lama aku meninggalkan rumahku paman, aku ingin merapikan semua milik Dewi." Ujar Yana menatap paman Mulyono.


"Yakin kamu mau pulang ke rumahmu? Di sana kamu tidak aman, sewaktu waktu Randi bisa datang menemuimu." Ujar paman Mulyono.


"Aku udah gak mikirin itu paman, aku udah gak takut sama semua ancaman Randi, aku udah pasrah dengan apapun yang akan terjadi nanti." Ujar Yana menangis lirih.


"Aku siap menghadapi Randi jika dia datang kepadaku, aku harus melawan dan membalasnya karena telah membunuh anakku ." Ujar Yana menangis sedih tersedu sedu, paman Mulyono menarik nafas, dia memeluk tubuh Yana, mengelus kepala Yana lembut, memberi ketenangan.


"Ya sudah, kamu boleh pulang kerumahmu, paman akan meminta bantuan pak Gunawan agar berjaga jaga dan mengawasi kamu dirumahmu." Ujar paman Mulyono pada Yana yang mengangguk lemah, Yana menghapus air matanya yang sudah membasahi pipinya.


"Aku pamit paman, terima kasih untuk semua yang udah paman berikan padaku dan Dewi selama kami di sini." Ujar Yana menangis menatap wajah paman Mulyono.


"Itu sudah tanggung jawab paman sebagai pengganti kedua orang tuamu yang sudah tiada." Ujar paman Mulyono tersenyum, dia menghapus air mata Yana, menatap wajah Yana yang menatapnya dengan tatapan sendu penuh kesedihan.


"Paman senang melihatmu tegar menghadapi beban masalah hidupmu, dan paman yakin, kamu akan segera bebas dan lepas dari semua masalahmu, Tuhan selalu bersamamu, bersabarlah." Ujar paman Mulyono tersenyum menatap Yana, Yana mengangguk lemah, dia lalu mencium tangan pamannya untuk segera pamit pergi.


Setelah itu, Yana pun berjalan gontai membawa tas pakaiannya, melangkah keluar rumah, paman Mulyono mengikutinya.


Di teras rumah paman Mulyono, Handoko dan Amir yang melihat Yana hendak pergi segera mendekatinya, paman Mulyono memberi isyarat dengan tangannya agar membiarkan Yana pergi, akhirnya Handoko dan Amir , polisi polisi yang berjaga dirumah paman Mulyono diam ditempat mereka berdiri melihat Yana yang berjalan menuju garasi mobil.


Yana membuka bagasi mobil, meletakkan tas pakaiannya, lalu berjalan ke depan, membuka pintu mobil dan masuk ke dalam mobil, Yana menyalakan mesin mobilnya, lalu tak lama kemudian, dia menjalankan mobilnya, Hendro, petugas polisi yang berjaga di depan pagar rumah paman Mulyono melihat mobil Yana keluar dari dalam garasi segera membuka pintu pagar rumah, mobil Yana pun melaju keluar dari halaman rumah paman Mulyono, menghilang dari pandangan paman Mulyono, beserta Amir dan Handoko, Hendro menutup pintu pagar halaman rumah dan kembali ke posisi semula tempatnya berdiri berjaga jaga.


Handoko melihat paman Mulyono yang menghela nafas dengan raut wajah menunjukkan keprihatinan pada Yana.


"Bu Yana mau kemana pak ?" Tanya Handoko.


"Balik kerumahnya, kangen sama rumah katanya." Ujar paman Mulyono tersenyum.


"Gunawan pesan, agar Yana tidak di biarkan pergi kemana mana sendirian, saya akan menyusulnya, saya gak mau nanti disalahin Gunawan jika terjadi apa apa dengan bu Yana." Ujar Handoko, dia hendak pergi, namun segera tangannya di pegang paman Mulyono.


"Biarkan saja pak, kasih waktu buat Yana sendirian, dia butuh menyendiri dirumahnya." Ujar paman Mulyono.


"Tapi pak, Randi nanti..." Ujar Handoko khawatir, paman Mulyono memotong ucapan Handoko.


"Saya akan minta pak Gunawan untuk tetap memberi perlindungan pada Yana dirumahnya sana." Ujar paman Mulyono tersenyum menatap Handoko, paman Mulyono lalu berbalik pergi masuk ke dalam rumahnya, Handoko terdiam dan tercenung ditempatnya. Tak bisa berbuat apa apa.


   Gunawan dan Kuncoro sedang mengamati cctv yang ada di jalan depan rumah paman Mulyono, dari cctv yang di zoom, diperjelas gambarnya, terlihat jelas sosok orang yang membuang karung di jalan depan pagar rumah paman Mulyono adalah Randi, dalam rekaman itu terlihat Randi menurunkan karung yang berisi tubuh Dewi dari mobil pick up dan meletakkannya di jalan depan pintu pagar rumah paman Mulyono, lalu segera naik ke mobilnya yang dalam keadaan menyala, terlihat juga dalam cctv saat Amir berlari dari halaman rumah mengejar Randi lalu melihat karung berisi Dewi di dalamnya.


"Benar benar sudah semakin diluar batas perbuatan Randi." Ujar Gunawan geram, Kuncoro mengangguk.


Kapten Polisi Harun rasyid datang menemui mereka dengan wajah kesal dan marah.


"Bagaimana ? Kalian ini bisa kerja tidak ? Sudah berapa lama tidak juga ada hasilnya, bukannya tertangkap, Randi semakin terus membunuh !!" Ujar Kapten Polisi Harun Rasyid membentak Gunawan dan Kuncoro yang terdiam.


"Apa saya harus turun kelapangan buat nangkap Randi ?! Mau sampe kapan kalian membiarkan Randi membunuh orang orang ?!" Tanya Harun Rasyid pada Gunawan dan Kuncoro.


"Kami pasti secepatnya bisa meringkus Randi kapten." Ujar Gunawan.


"Iya Kapten, dia sudah tidak punya kaki tangannya lagi sejak Marwan tewas, itu mempermudah kami meringkusnya." Ujar Kuncoro.


"Jangan cuma teori ! Buktikan hasil kalian ! Saya tidak mau mendengar ada lagi yang mati karena di bunuh Randi, cari dan tangkap Randi hidup atau mati !!" Ujar Kapten Polisi Harun Rasyid pada Gunawan dan Kuncoro.


"Siaap ! Laksanakan Kapten !" Ujar Gunawan dan Kuncoro bersamaan, mereka memberi hormat pada kapten polisi lalu pergi meninggalkan kapten Harun Rasyid yang terlihat kesal dan tangannya memukul meja, dia geram karena sampai saat ini polisi belum juga berhasil menangkap Randi yang menjadi buronan lama sebagai pembunuh berantai.


   Saat Gunawan hendak masuk ke dalam mobilnya, teleponnya berbunyi, dia segera menerima panggilan telepon di ponselnya.


"Iya pak, gimana ? Apa ? Baik, baik pak, saya akan menugaskan tim buat segera kerumah beliau." Ujar Gunawan, lalu dia menutup telepon dan cepat masuk ke dalam mobil, duduk di jok depan samping supir, Kuncoro yang duduk di jok supir bertanya pada Gunawan.


"Telepon dari siapa ?" Tanya Kuncoro pada Gunawan.


"Pak Mulyono, beliau bilang, bu Yana pulang ke rumahnya, beliau minta agar kita berjaga dan mengawasi bu Yana di rumahnya." Ujar Gunawan, mendengar itu Kuncoro kesal.


"Kenapa sih bu Yana keras hati, ini kan jadi buat kita repot." Ujar Kuncoro kesal. Gunawan diam saja, dia lalu menelpon Handoko.


"Han, kamu bersama tim lainnya segera meluncur ke rumah bu Yana, tugas kalian pindah ke rumah bu Yana mulai sekarang, awasi dan lindungi bu Yana dirumahnya, ikuti kemana pun dia pergi tanpa sepengetahuan dia ." Ujar Gunawan di telepon memberi arahan.


"Jangan sampai Randi tau kalau polisi mengikuti kemanapun bu Yana pergi, ingat ! Waspada !" Ujar Gunawan lalu menutup teleponnya dan mengantongi ponselnya dalam kantong celananya.


"Kita berangkat Kun." Ujar Gunawan.


"Kerumah pak Mulyono ?" Tanya Kuncoro.


"Kerumah bu Yana, mulai sekarang kita tidak lagi berjaga dirumah paman Mulyono, pindah ke rumah bu Yana." Ujar Gunawan.


"Apa tidak sebaiknya tetap menugaskan beberapa tim buat tetap berjaga dirumah pak Mulyono, aku yakin Randi belum tau bu Yana balik kerumahnya, bisa saja dia datang ke rumah pak Mulyono, dan itu bisa mengancam keselamatan pak Mulyono jika tidak ada kita di sana." Ujar Kuncoro menjelaskan.


"Aku yakin, jika Randi datang ke rumah pak Mulyono dan tidak menemukan Yana, dia pasti mengancam beliau agar memberitahukan keberadaan Yana, bukan tidak mungkin Randi membunuhnya." Ujar Kuncoro, mendengar itu Gunawan terdiam, dia berfikir, menarik nafas, segera mengambil ponselnya kembali dari kantong celananya, dia menelpon Handoko kembali.


"Han, tugasin empat orang untuk tetap berjaga dirumah pak Mulyono, kamu bisa membawa tim lainnya buat berjaga di rumah bu Yana." Ujar Gunawan , lantas menutup teleponnya dan memasukkan ponselnya kembali ke kantong celana. Kuncoro menjalankan mobilnya, segera pergi dari halaman parkir kantor kepolisian.


   Yana sudah berada di dalam rumah miliknya kembali, dia melangkah gontai menyusuri ruangan ruangan yang ada di dalam rumahnya itu, terasa sepi dan hening di dalam rumah, dengan raut wajah memancarkan kesedihan, Yana terus melangkah menatap seisi ruangan rumahnya, kesedihan, kerinduan menyatu dalam jiwanya saat ini, dia melangkah masuk ke dalam kamar Dewi, melangkah pelan dan gontai dengan tubuh lemahnya masuk ke dalam kamar, Yana merapikan buku buku pelajaran sekolah Dewi yang tergeletak di meja belajarnya, dia merapikan buku buku itu, lalu melangkah ke kasur Dewi, merapikan sprei , bantal dan guling, lalu melipat serta merapikan selimut yang dipakai Dewi tidur. Yana tersenyum saat melihat boneka kesayangan Dewi ada di kasur, dia mengambil boneka itu, mengelusnya dan memeluk serta mencium lembut boneka, dia sedang merasakan boneka itu Dewi yang dipeluknya saat ini, lalu Yana meletakkan boneka itu di kasur, mengelus kepala boneka, dia tersenyum, air mata menetes dari kelopak matanya, jatuh membasahi kasur, Yana kemudian berbalik melangkah keluar dari kamar Dewi.


Di luar kamar, Yana berjalan perlahan dengan gontai kembali menyusuri selasar dan ruangan lain di dalam rumahnya, di ruang keluarganya, Yana melangkah gontai mendekati bingkai photo yang terpajang di dinding ruangan, di bingkai photo itu ada photo Dewi bersama Sekar, Yana mengambil photo itu, menatap photo anak anaknya itu, mengelus photo tersebut dengan penuh kasih sayang dan kerinduan, dia menangis sedih menatap wajah Sekar dan Dewi, anak anaknya di photo itu, Yana begitu merindukan kehadiran mereka berdua, dia mulai menangis terisak isak menciumi photo Sekar dan Dewi yang tersenyum cantik di photo itu, di photo itu terlihat wajah Sekar dan Dewi tersenyum menatap ke depan, seolah olah sedang menatap wajah Yana.


"Mama sangat merindukan suara Sekar dan Dewi, suara kalian yang meramaikan rumah bagaikan alunan lagu yang merdu di dengar, bagai simphoni menggetarkan jiwa." Yana meneteskan air matanya, air matanya itu jatuh dan membasahi kaca bingkai photo, Yana menghapus air matanya yang ada di kaca bingkai photo, menatap kembali pada photo kedua anaknya.


"Mama rindu dengan canda tawa kalian selama ini, karena kalian harta karunku yang sangat berharga, Mama rindu dengan senyuman kalian yang bagaikan untaian perhiasan yang berkilau menerangi hari hariku, Mama rindu pelukan dan ciuman kalian selama ini, karena itu adalah karunia buat mama yang memiliki anak anak baik seperti kalian." Ujar Yana menangis terisak isak menatap photo Sekar dan Dewi, Yana menangis berdiri di tempatnya, dia mendekap dan memeluk erat erat photo kedua anak anaknya itu.


"Maafin mama, maafin mama, karena mama, kalian harus mengalami hal ini, maafin mama anak anakku." Ujar Yana menangis, tubuhnya semakin lemah, kakinya lemas, akhirnya Yana pun terduduk di lantai ruangan menangis tersedu sedu sambil tetap memeluk dengan erat photo yang bergambar Sekar dan Dewi yang sedang tersenyum. Menangis sejadi jadinya tanpa mengeluarkan suara, saat ini, begitu sakit dan sedihnya diri Yana, kematian anak anaknya membuat kepedihan yang begitu sakit menyayat jiwanya.