
Malam itu, Hujan masih turun dengan deras nya, membuat udara malam itu semakin dingin, di rumah nya, Via terlihat sedang menerima telepon dari Mama nya yang saat itu tengah memberikan kabar, bahwa diri nya sudah sampai dirumah bude nya yang ada di Kalimantan.
"Syukur Alhamdulillah kalo Mama udah sampe."
Ujar Via dengan wajah senang, dia mendengar suara Mama nya dari seberang telepon.
"Iya nak, Alhamdulillah diperjalanan lancar semua nya."
Ujar Mama nya.
"Ya udah, Mama istirahat, kan masih capek habis perjalan jauh naik Pesawat."
Ujar Via.
"Iya Nak, Mama istirahat dulu ya."
Hape dimatikan Mama nya, setelah itu, Via meletakkan hape nya di meja rias yang ada didalam kamar nya, saat dia hendak merebahkan tubuh nya, pandangan nya tertuju pada kotak berisi hape baru.
Via diam sejenak, dia menghela nafasnya, hendak mengambil kotak hape itu, namun dia ragu, mengurungkan niat nya, dia terdiam sejenak, beberapa saat kemudian, dia lalu mengambil kotak itu dan membuka nya, ada sebuah Hape ber merk keluaran terbaru di dalam kotak itu, Via cuma tersenyum kecil memandang hape yang ada ditangan nya.
"Terima kasih Pah."
"Kasih waktu buat Via..."
Gumam Via bicara sendiri dengan mata yang berkaca kaca menahan kesedihan nya.
Untuk beberapa saat Via hanya duduk tercenung di sisi ranjang nya, lalu, dia tersadar dari lamunan nya, meletakkan kembali hape baru itu di meja rias, kemudian merebahkan tubuh nya di kasur, memejam kan mata, berusaha untuk tidur.
Di dalam Mobil nya, Malam itu, Randi masih menyetir menyusuri jalanan menuju rumah nya. Mobil itu berjalan dengan pelan, wajah Randi terlihat dingin menatap ke depan. Mobil terus melaju menembus air hujan yang jatuh dengan deras nya di jalanan itu.
Saat Mobil nya melintas melewati perumahan perumahan yang ada, dari dalam mobil, tidak jauh dari tempat nya, dia melihat seorang anak laki laki kurus kecil berusia 8 tahun telanjang dada hanya mengenakan ****** ***** nya saja berdiri di luar, menggedor pintu rumah nya.
Randi menghentikan Mobil nya, melihat pada anak laki laki kecil yang ada di luar rumah nya tanpa pakaian itu, Randi lalu mematikan mesin mobil nya, dia turun dari mobil, melangkah berjalan mendekati anak itu.
Terdengar suara anak itu memohon mohon dalam tangisan nya.
"Bukaa Ma...tolong bukain pintu nya, biarin aku Masuk...!!"
"Maafin aku, aku janji gak bikin Mama marah lagi."
Anak laki laki itu terus menggedor pintu rumah nya, menangis memohon, tubuh nya menggigil kedinginan basah terkena air hujan.
Randi yang berdiri di jalan terpaku diam menatap ke arah anak itu.
Sekejap, bayangan diri nya di masa lalu muncul ketika melihat anak tersebut.
Saat dahulu, Randi berusia 9 Tahun.
Randi kecil menangis memohon mohon, dia memegang kusen pintu rumah, menahan tubuh nya agar tidak bisa ditarik keluar oleh ibu nya yang tampak marah.
"Ampun bu...Ampuuunnn...!"
Teriak Randi berusaha menahan diri nya, namun dia kalah kuat tenaga nya , Ibu nya berhasil melepaskan pegangan tangan nya lalu melemparkan tubuh Randi kecil keluar rumah, Randi kecil tersungkur jatuh di tanah. Dia cepat bangun, berlari, pintu sudah tertutup rapat, dia menggedor gedor pintu rumah nya, memohon untuk di buka kan pintu, tapi tak ada yang membuka kan pintu, dan tak ada orang sekitar yang menolong atau mendengar teriakan nya.
Randi kecil terduduk di tanah depan rumah nya, menangis.
Kembali ke Masa Sekarang.
Pintu rumah terbuka, muncul seorang Ibu setengah baya yang langsung memukul anak laki laki itu dengan sapu lidi.
"Kalo ku bilang diam ya diam ! Jangan berisik !! Diam kau di sini semalaman !"
Teriak nya memukul, anak laki laki itu tampak meringis menahan sakit nya kena sabetan sapu lidi. Wanita setengah baya itu kemudian menendang tubuh kurus anak laki laki itu yang lantas terjerembab ke tanah. Wanita setengah baya itu kemudian masuk kembali kedalam rumah nya.
Randi yang melihat itu menatap terpaku. Terlintas kembali bayangan masa Lalu nya saat kecil dulu.
Di Masa Lalu.
Randi kecil tampak di pukulin sapu lidi oleh ibunya, tanpa rasa kasihan, ibu nya terus memukuli tubuh Randi, badan Randi berdarah, terlihat bekas sabetan sapu lidi di sekujur tubuhnya yang telanjang dada tanpa baju dan hanya memakai ****** ***** saja.
Ibu nya menyeret Randi kecil menuju kamar mandi, Dia di masukkan paksa ibu nya kedalam kamar mandi, Ibu nya mengguyur seluruh tubuh Randi kecil dengan air dingin. Randi tampak diam pasrah. Dia hanya duduk diam di lantai kamar mandi, pasrah menerima guyuran air dingin ke tubuh nya. Tiba tiba Ibu nya menendang nya, hingga dia terjajar dan kepala nya membentur dinding, Randi kecil terbaring di lantai kamar mandi nya meringis menahan rasa sakit di tubuh nya yang terkena tendangan ibu nya.
Ibu nya lalu keluar dari dalam kamar mandi, mengunci pintu kamar mandi dari luar, mengurung Randi didalam kamar mandi.
Kembali ke Masa Sekarang.
Randi terhenyak, dia tersadar dari lamunan nya, tanpa di sadari nya air mata nya mengalir di kedua mata nya bersamaan dengan air hujan yang membasahi wajah dan rambut nya. Dia menatap iba pada anak laki laki itu.
Anak laki laki yang mendapat perlakuan buruk dari orang tua nya itu berusaha bangun dari tanah, merintih menahan sakit, Dia kaget saat ada kedua tangan memegang tubuh nya lalu membantu nya berdiri.
Randi berdiri dihadapan nya tersenyum menatap nya, dia membuka jaket yang dipakai nya, memberikan nya pada anak laki laki itu agar tubuh nya tidak kedinginan.
"Terima kasih Om."
Ujar nya datar pada Randi yang mengangguk tersenyum pada nya.
Dia lalu merangkul tubuh anak laki laki itu, membawa nya ke mobil nya.
"Malam ini kamu ikut Om ya."
Ujar Randi.
"Jangan Om, aku gak boleh pergi jauh, kalo Ibu ku tau aku gak ada didepan rumah dia pasti memukuli ku lagi, apa lagi kalo dia tau aku pergi dengan orang asing."
Ujar nya dengan wajah yang ketakutan, dia melepaskan Jaket yang diberikan Randi pada nya.
Ujar nya memberikan jaket yang dilepas dari badan nya dan memberikan pada Randi.
Anak kecil kurus itu lalu cepat berlari menuju rumah nya kembali, agar Ibu nya tak melihat nya.
Kemudian, Anak laki laki itu berdiri diam di depan rumah nya, tubuh kurus nya kembali diguyur air hujan.
Melihat itu Randi semakin terhenyak, hati nya terluka, jiwa nya berdarah, apa yang dilihat nya pada anak kecil itu adalah perwujudan diri nya di masa kecil dulu, Siksaan dan perlakuan kasar yang didapat anak kecil itu dari ibu nya, itu juga wujud diri Randi saat kecil dulu yang setiap hari mendapatkan siksaan dan tersisihkan dari keluarga nya.
Kaki Randi bergetar, tubuh nya goyah, dengkul nya lemas, dia tiba tiba terduduk di aspal jalan. Pandangan nya kosong ke depan.
Saat itu juga dia mengingat kembali kenangan kelam masa lalu nya yang pedih saat dia kecil dahulu.
Randi masuk ke dalam rumah nya, berjalan gontai, masuk ke kamar nya lalu merebahkan tubuh nya ke kasur, pandangan mata nya menatap ke atas langit langit kamar nya. Dia mengenang masa kecil nya.
Kilas balik Masa Kecil Randi Dahulu.
Susan kecil menangis, Randi kecil diam di depan nya dengan wajah bingung, dia gak ngerti kenapa Susan tiba tiba menangis. Padahal Randi kecil tidak berbuat apapun pada nya.
Teriakan tangisan Susan kecil itu membuat Ibu Randi datang dengan wajah emosi marah.
"Kenapa ?!"
Tanya nya dengan suara keras pada Susan kecil, Susan kecil menunjuk Randi kecil, lalu memegang boneka nya yang sudah copot kepala bonekanya itu.
"Dia rusakin boneka ku."
Ujar Susan kecil, Randi kecil bingung mendengar tuduhan Susan kecil pada nya.
"Kamu ini, selalu aja buat gara gara, bikin aku naik darah, gak ada kapok kapok nya kamu anak sialan !"
Teriak Ibu Randi lalu memukuli Randi kecil dengan tangan nya, Randi kecil berusaha menahan diri nya.
"Aku gak pernah pegang boneka Susan Bu. Aku baru datang, baru bangun tidur mau ke kamar mandi, Susan tau tau nangis."
Ujar Randi kecil berusaha memberikan penjelasan pada ibu nya disela sela dia menahan sakit akibat pukulan Ibu nya yang mendarat di seluruh tubuh nya, Ibu Randi tak mau tahu, karena baginya, Randi kecil sudah merusak boneka anak nya karena dia melihat sendiri boneka itu rusak, kepala nya copot.
Ibu menyeret Randi kecil dan memasukkan nya ke dalam gudang, mengambil tali yang ada di dalam gudang itu, Tali tersebut memang selalu ada di dalam gudang itu karena Randi sering di hukum di dalam gudang itu dengan di ikat tali seluruh tubuh nya. Terkadang berhari hari di kurung didalam gudang itu.
Ibu nya mengikat tubuh dan tangan Randi kecil, tubuhnya di lilit tali, lalu tali itu di tarik Ibu nya, Tubuh Randi kecil terangkat sedikit, tapak kaki nya tak bisa menapak di lantai, dia berjinjit, berusaha agar jari jari kaki nya menahan tubuh nya dan menapak dilantai, tubuh nya tergantung.
Ibu nya meraih sapu lidi lalu memukuli Randi kecil terus menerus sepuas nya, Randi kecil hanya diam menahan sakit dari sabetan sapu lidi pada tubuh nya itu. Dia sudah sering mendapatkan siksaan itu.
Kembali pada Masa Sekarang.
Randi yang terbaring di kasur nya lalu memejamkan mata nya, beberapa saat kemudian dia membuka lagi mata nya, pikiran nya menerawang jauh, pandangan nya kosong menatap ke depan, pada dinding kamar nya.
Siksaan yang dialami nya saat diri nya masih kecil begitu jelas tersimpan di dalam diri nya, dia tak bisa melupakan, apa yang sudah di alami nya saat kecil.
Di Suatu hari, Randi saat itu bersiap hendak pergi, dia membuka pintu pagar rumah nya, melintas mobil patroli polisi lewat di jalan depan rumah nya, Di susul dengan mobil ambulance.
Melihat itu Randi heran, apa yang terjadi? Dia segera melihat, keluar ke jalan berdiri melihat ke arah mobil polisi dan ambulance pergi.
Randi melihat Mobil Polisi dan Ambulance itu berhenti di sebuah rumah. Randi yang melihat itu tersadar, wajah nya tampak tegang dan cemas, rumah itu tempat tinggal anak laki laki kurus yang beberapa malam lalu dia temui diluar rumah nya.
Randi pun dengan cepat berlari, mendekati rumah yang sudah dipenuhi petugas kepolisian dan paramedis.
Paramedis keluar dari dalam rumah membawa tubuh anak kecil kurus yang sudah menjadi mayat itu.
Randi berusaha mendekat, menyeruak diantara kerumunan orang orang yang sudah berkerumun dan berkumpul di depan rumah itu.
"Ada apa ?"
Tanya Randi pada seorang warga yang berdiri di samping nya, dia ingin tahu apa yang terjadi.
"Ada perampokan dirumah bu Elly tadi malam, si Joko anak nya dibunuh perampok yang berhasil kabur."
Jelas warga, mendengar itu Randi tak percaya. Angin bertiup kencang, kain penutup wajah mayat anak kecil itu terbuka, Randi melihat wajah pucat anak laki laki kecil yang sudah kaku itu.
Randi terhenyak, dia tak menyangka anak itu mati, Pandangan mata nya kemudian beralih ke arah rumah, keluar seorang wanita setengah baya menangis histeris sambil teriak teriak memanggil Joko, anak kecil kurus yang mati itu. Wanita setengah baya itu terus menangis meraung raung, berdiri didepan rumah nya.
Mobil Ambulance pun pergi dari rumah itu membawa mayat anak kecil bernama Joko itu, Randi terus memperhatikan gerak gerik wanita setengah baya, terlihat ekspresi wajah wanita setengah baya yang bernama Elly itu tersenyum licik melirik pada ambulance yang pergi membawa mayat anak nya.
Melihat ekspresi wanita itu yang sedang berpura pura, Randi menahan geram nya, dia tahu kalau anak kecil itu mati karena perbuatan wanita itu, bukan karena perampokan.
Randi menahan amarahnya menatap pada bu Elly, wanita setengah baya itu, Randi tampak geram mengepalkan tangan nya.
"Byuuuurrr"
Tubuh Randi masuk kedalam kolam renang yang ada di rumah nya, Malam itu, Randi memutuskan untuk berenang di kolam renang milik nya, dia berusaha untuk menenangkan diri nya dengan berenang.
Tampak Tubuh Randi melayang masuk ke dalam kolam, hingga ke dasar kolam, seperti sebuah batu yang dilemparkan jatuh masuk kedalam air kolam dan diam di dasar kolam.
Di dasar Kolam itu, Randi mendiam kan tubuh nya, menahan nafas nya, membiarkan diri nya tetap berada di dalam air kolam, Hingga lima belas menit berlalu, Randi belum juga naik ke atas, keluar dari kolam itu. Tubuhnya masih tetap diam di dalam dasar kolam, untuk kemudian, beberapa saat setelah nya, Mata Randi terbuka, melotot tajam, tampak amarah terpancar dari sorot tatap mata nya itu.
Randi lalu bergerak, berenang naik ke atas dan keluar dari kolam renang nya.
Di pinggir kolam, Randi tampak wajah nya menyeringai tajam, menahan geram, di dalam diri nya saat ini menggumpal amarah yang siap meledak kapan waktu saja.
Sosok yang begitu menakutkan muncul dalam diri Randi, dia menatap Tajam ke depan.
"Hell...Lo..."
Ujar Randi menyeringai tajam.