
Via check in di sebuah hotel yang berada di tengah tengah kota antara Klaten dan Jogjakarta, sebuah hotel yang sederhana di pilih Via untuk tempat peristirahatannya.
Via membuka pintu kamar hotel, lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamar hotel kembali.
Via meletakkan tasnya di dalam lemari pakaian yang ada di kamar hotel, lalu dia berjalan dan duduk di tepi ranjang, dia termenung. Via sedang memikirkan sesuatu hal, bagaimana cara agar dia segera bertemu papahnya dan menyelesaikan semua masalah yang terjadi karena perbuatan papahnya. Dia menarik nafasnya berat, lalu berdiri dan melangkah menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar hotel tempatnya menginap itu. Saat hendak masuk ke dalam kamar mandi, ponselnya berbunyi, Via cepat berbalik dan berjalan mengambil ponselnya dari dalam tas, dia melihat ponsel pemberian papahnya, tidak ada panggilan masuk di ponsel itu, lalu Via memasukkan ponsel dari papahnya dan mengambil ponsel lainnya dari dalam tas, dari ponsel itu ada panggilan telepon yang masuk, dia segera menerima panggilan itu, nomor telepon yang menghubunginya saat itu tidak terdaftar dalam kontak teleponnya.
"Iya, ini siapa ?" Tanya Via.
"Apa kabarnya Via cantik ?" Ujar suara si penelepon pada Via.
"Siapa sih ini ? Jangan main main ya." Ujar Via kesal.
"Duuuh...duuuhh...galaknya...ini Om Via." Ujar si penelpon pada Via.
"Beneran ini Om ?" Tanya Via, wajahnya terlihat senang.
"Ya iyalah, pasti iya ." Jawab si penelpon.
"Om dimana sekarang ?" Tanya Via senang.
"Om udah beberapa hari di Jogja. Kamu susah di hubungi. Hampir aja om balik pulang." Ujar si penelpon pada Via.
"Maafin Via om, Via lagi ada masalah, jadi gak bisa terima telepon." Ujar Via memberi penjelasan.
"Kirain Via om gak mau datang." Ujar Via.
"Awalnya memang gitu, cuma om pikir, gak ada salahnya om datang menuhi permintaan kamu. Kayaknya seru kalo om ikut." Ujar si penelpon pada Via yang tersenyum mendengarnya di telepon.
"Via sekarang nginap di hotel dekat prambanan om. Nanti Via kabari om buat ketemuan ya." Ujar Via.
"Oks deh." Jawab si penelpon.
"Om...makasih ya, udah mau datang menuhi permintaan Via." Ujar Via senang.
"Gak masalah, buat kamu, apa aja pasti om penuhi." Ujar si penelpon.
"Om tunggu kabarmu ya." Ujar si penelpon lagi.
"Iya Om, secepatnya Via kabari." Jawab Via. Lalu telepon dimatikan, Via menarik nafasnya, dia lega, raut wajahnya terlihat senang, mengetahui Omnya datang juga ke Jogja menyusulnya.
Siapa Om Via yang menelponnya itu ? saat ini, biar kita jadikan misteri, untuk membuatnya menjadi yang tak terduga nantinya di bab bab ke depannya.
Via menyimpan ponselnya di dalam tasnya, meletakkan tasnya di atas meja rias yang ada di kamar hotel. Lalu melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
Di tempat lain, Marwan sedang mengendarai motornya, dia menghentikan motornya di depan sebuah mini market, melepas helmnya, mematikan mesin motornya yang diparkir di depan mini market, lalu Marwan turun dari motor untuk kemudian berjalan masuk ke dalam mini market.
Di dalam mini market, Marwan mengambil makanan dan minuman yang di butuhkannya, lalu berjalan ke meja kasir, membayar semua makanan dan minuman yang dibelinya, lalu pergi keluar dari mini market.
Saat Marwan keluar dari dalam mini market, dia melihat seorang polisi berjalan ke arahnya, Marwan berusaha bersikap tenang, dia berjalan tenang dengan menundukkan kepalanya, Polisi itu berpapasan dengan Marwan yang berjalan menuju motornya, naik ke motornya, meletakkan kantong plastik berisi makanan dan minuman ke dalam jok motornya, lalu memakai helm, lalu segera menyalakan mesin motor dan cepat pergi dari tempat itu. Polisi yang berpapasan dengan Marwan masuk ke dalam mini market, tiba tiba dia berhenti melangkah di depan pintu mini market, dia menoleh ke arah Marwan yang pergi, dia memikirkan sesuatu, kemudian dia teringat, seperti pernah melihat wajah Marwan saat mereka berpapasan tadi dan dia melirik wajah Marwan yang berjalan tertunduk seperti menghindari dirinya.
Polisi itu tersadar, lalu cepat keluar dari mini market, melihat Marwan sudah tidak ada di situ.
"Sial ! Itu Marwan, buronan." Ujarnya, dia lalu cepat naik ke motornya, menyalakan mesin motornya, lalu cepat menjalankan motornya, mengejar Marwan.
Marwan berhenti di depan lampu merah, menunggu lampu lalu lintas berganti hijau, di belakang motor polisi melaju ke arahnya, motor polisi berhenti karena sedang lampu merah. Setelah lampu lalu lintas berganti hijau, Marwan menjalankan motornya, berbelok ke kanan jalan, di belakangnya, polisi menambah kecepatan motornya agar bisa mengejar Marwan.
Motor Marwan menyusuri jalanan itu, di belakangnya, motor polisi ngebut dan mendekat ke arahnya, Polisi berhasil mendekati motor Marwan, dia menyuruh Marwan untuk berhenti, memberikan isyarat dengan tangannya, melihat motor polisi mencoba menghadang motornya, Marwan tersadar, bahwa dia di ikuti polisi, Marwan pun segera menghindar, dia menambah kecepatan motornya agar bisa menjauh dari kejaran polisi, melihat Marwan yang ngebut, Polisi kesal, dia lalu menyusul dan mengejar Marwan, kejar kejaran diatas motor pun terjadi, Marwan dengan kecepatan tinggi mengendarai motornya berusaha menghindari kejaran polisi, dia berbelok ke jalan lain, terus melaju masuk ke dalam gang gang rumah orang orang, motor polisi terus mengejarnya, Marwan menoleh kebelakang, dia melihat motor polisi terus mengejarnya, Marwan menambah kecepatan motornya lagi, berusaha untuk kabur, di perempatan jalan raya, motor Marwan melaju dengan kecepatan tinggi, menerobos lampu lalu lintas yang sedang menyala merah, dia menghindari sebuah mobil yang melaju ke arahnya, hampir saja dia menabrak mobil itu, Marwan terus menjalankan motornya, di belakang, motor polisi terus mengejar, menerobos lampu lalu lintas, patroli polisi lalu lintas yang ada di pos perempatan jalan raya melihat motor Marwan dan motor polisi ngebut menerobos lampu lalu lintas, segera polantas naik ke motornya, mengejar Marwan dan polisi yang mengejar Marwan.
Sekarang Marwan di kejar oleh dua polisi, Marwan terus mengebut, meliuk liuk di jalan raya, menyalip mobil mobil dan motor yang ada dijalanan, dengan kecepatan tinggi motor Marwan menyalip sebuah mobil truk bermuatan pasir, supir truk menekan klakson, memberi peringatan pada Marwan, dia kaget karena motor Marwan tiba tiba menyalipnya dan berada di depan truknya, Marwan sengaja seperti itu untuk menghindari kejaran motor polisi, dengan dia menyalip mobil truk dan berada di depannya, pandangan kedua polisi yang mengejar dia terhalang, Marwan cepat membelokkan motornya ke sebuah gang sempit yang ada di pinggir jalan raya itu, terus melaju menyusuri gang sempit itu, sementara kedua polisi terus melaju dijalan raya itu, mereka tidak melihat jika Marwan berbelok ke sebuah gang sempit, motor kedua polisi berada di samping mobil truk, memberi isyarat agar mobil truk mengurangi kecepatannya, supir truk melihat polisi yang diatas motor sedang mengacungkan tangan memberi isyarat, dia segera mengurangi kecepatan mobil truknya, memberi jalan pada polisi yang lantas dengan cepat melaju di depan mobil truk untuk melanjutkan pengejaran terhadap Marwan.
Melihat ternyata orang yang dikejarnya itu anggota kepolisian, polantas memberi hormat, polisi yang mengejar Marwan pun mengangguk.
"Siapa orang yang ngebut menerobos lampu merah tadi ?" Tanya Polantas pada Polisi yang mengejar Marwan.
"Dia buronan kaki tangan pembunuh berantai yang sedang di cari." Ujar Polisi yang mengejar Marwan pada Polantas.
"Ooh...siap ! Bisa dimengerti." Ujar Polantas.
"Saya balik kantor dulu, buat laporan." Ujar Polisi pada Polantas yang mengangguk padanya.
Polisi yang mengejar Marwan naik ke motornya, menyalakan mesin motor, lalu segera pergi meninggalkan polantas sendiri, Polantas kemudian berjalan menuju motornya, naik ke atas motor, menyalakan mesin motor dan pergi untuk balik ke pos penjagaannya di perempatan jalan raya.
Marwan menghentikan motornya di area pematang sawah yang sepi, dia melihat ke sekitarnya, sepi.
"Aku harus lebih hati hati lagi, polisi itu ternyata bisa mengenaliku." Ujarnya berfikir. Marwan menarik nafas, dia terlihat lega karena berhasil lolos melarikan diri dari kejaran polisi, dia lantas kembali menjalankan motornya, melanjutkan perjalanannya.
Malam itu, Via terlihat sedang tidur di kasur empuknya di kamar hotel tempatnya menginap. Via gelisah dalam tidurnya, ada keringat di dahinya, tubuh Via bergerak gerak gelisah, dia sedang bermimpi. Dalam mimpinya, Via mengingat kembali semua kejadian yang telah dialaminya saat itu, saat Yana memukulinya, menamparnya, menendangnya yang dalam posisi terikat di kursi, dalam mimpinya itu juga dia mengingat kilas balik saat Yana memaksa dirinya memakan nasi di piring yang tergeletak di lantai, dengan cara makan seekor anjing, dalam ingatannya itu, Via melihat Yana yang tertawa puas menatapnya sambil merekam diri Via yang sedang makan seperti anjing, Via lalu tersadar, membuka matanya, dia terbangun lalu duduk di atas kasurnya. Menghapus peluh keringat di dahi dan wajahnya, menutup wajahnya dengan kedua tangannya, lalu menghela nafasnya, kemudian dia menatap kedepan, tatapannya kosong jauh ke depan, Via tak bisa melupakan semua kejadian yang telah menimpa dirinya.
Ada sesuatu hal yang sedang berkecamuk di dalam dirinya pada saat itu, Via berusaha untuk menahannya, dalam duduknya, dia mencoba memejamkan matanya, saat matanya terpejam, kilas balik wajah Yana yang menyeringai tertawa saat memperlakukan dirinya seperti anjing melintas kembali dalam ingatannya, Via menggelengkan kepalanya, berusaha menghilangkan ingatan itu, namun tak juga hilang dan pergi dari ingatannya, Via cepat beranjak dari kasurnya, dia berlari masuk ke dalam kamar mandi, kemudian dia menyalakan keran, air mengucur deras dari selang shower, Via mengguyur seluruh tubuhnya dari kepala hingga kakinya, dia membiarkan tubuhnya dibasahi air, berusaha untuk mendinginkan tubuhnya. Dalam guyuran air dari selang shower yang tergantung di dinding kamar mandi hotel itu, Via berdiri diam dengan tatapan mata kosong kedepan, membiarkan air terus mengucur membasahi tubuhnya.
Di sebuah rumah petak berukuran kecil yang di sewa Marwan, pagi itu, terlihat Marwan sedang mengganti plat nomor motornya dengan nomor plat motor lainnya, plat nomor polisi yang baru dipasangnya itu dia dapatkan dari kenalannya yang biasa membuat plat nomor polisi, atas bantuan kenalannya itu, dia dibuatkan plat nomor motor palsu, tentunya Marwan membayar mahal untuk jasa kenalannya. Marwan melihat motornya, dia tersenyum.
"Sekarang, polisi pasti gak akan mengenali motorku lagi." Gumam Marwan.
Marwan lalu mengambil ponselnya, lalu mengambil sebuah simcard dari kantong bajunya, memasukkan simcard itu ke ponselnya, Marwan lalu menghubungi sebuah nomor yang tersimpan di ponselnya.
"Bang, ini Marwan . Saya sekarang siap beraksi lagi." Ujar Marwan bicara di ponselnya.
"Baguslah, tunggu kabar dariku." Ujar Randi, orang yang di hubungi Marwan saat ini.
"Siap bang, saya akan ikuti semua perintah abang." Ujar Marwan lagi dari teleponnya, lalu dia menutup teleponnya, memasukkan ponselnya ke dalam kantong celananya.
Marwan lalu naik ke atas motornya, memakai helm, menyalakan mesin motornya, kemudian dia menjalankan motornya, pergi dari rumah petak yang di sewanya.
Di kamarnya, Via terlihat baru bangun dari tidurnya, wajahnya terlihat sudah sedikit tenang saat ini, tidak lagi resah seperti semalam saat dia bermimpi dan mengingat kejadian buruk yang di alaminya, dia melihat jam tangannya, lalu cepat bangun dan beranjak dari kasurnya, dia kaget melihat jam sudah menunjukkan waktu siang hari, jam 13:15 wib, Via pun mengambil ponselnya, duduk di kursi depan meja rias, menghubungi seseorang.
"Hallo Om, Jam empat sore ini kita ketemu di cafe candi prambanan ya." Ujar Via bicara di teleponnya.
"Siap bos." Jawab Omnya dari seberang telepon.
"Sampe ketemu nanti om." Ujar Via mematikan teleponnya, lalu menyimpan ponselnya kembali ke dalam tas, lalu bergegas masuk ke kamar mandi.
Di rumah lamanya, tempat persembunyian Randi, terlihat dia sedang menelpon seseorang.
"Ok, thanks bro, nanti aku kesana ambil mobilnya ya, sorry banget jadi ngerepotin , soalnya gak ada rental mobil yang bisa ku sewa mobilnya, pada keluar semua kata rentalnya." Ujar Randi ditelepon, lalu dia mematikan teleponnya. Randi sengaja meminta tolong salah seorang temannya di Jogja, temannya itu seorang pekerja film seperti dia juga yang sudah tidak aktif dan menetap di Jogja buka usaha lain.
Randi sengaja untuk tidak menggunakan jasa rental mobil lagi setelah polisi melacak dirinya melalui rental mobil yang di sewanya. Dia berfikir, dengan meminta bantuan temannya, dia bisa memakai mobil tanpa di lacak polisi lagi.
Randi pun bersiap siap pergi menemui temannya hari itu untuk mengambil mobil yang akan di gunakannya saat menjalankan semua rencana yang sudah di persiapkan, tiba tiba Randi merasakan nyeri dan sakit di kepalanya, dia memegang kepalanya yang terasa sakit, berjalan sempoyongan, Randi berusaha untuk duduk di sofa, menahan rasa sakit di kepalanya. Dia cepat mengambil botol obat yang selalu dibawa dan berada didalam kantong celananya, segera dia meminum obat penahan rasa sakit di kepalanya akibat tumor otak yang di deritanya, lalu dia menelan obat itu, menenangkan dirinya.
"Jangan sekarang, Aku minta jangan kambuh, kasih aku waktu buat nyelesaikan urusanku dengan Yana." Ujarnya meringis menahan sakit, dia memejamkan matanya, menarik nafasnya, berusaha menenangkan dan menghilangkan rasa sakit di kepalanya, dia duduk diam untuk beberapa saat, kemudian matanya terbuka, menatap ke depan, Randi menghela nafasnya, sakit di kepalanya perlahan lahan mulai hilang.
Terdengar suara klakson motor dari luar rumah dan teriakan menyebut ojek motor online yang sudah di pesan Randi, mendengar kedatangan ojek online, dia pun lantas berdiri dari duduknya, memakai masker penutup wajah, memakai topi dan kaca mata hitamnya kemudian berjalan pelan keluar rumahnya. Dia sengaja berpenampilan seperti itu agar tidak di kenali warga.
Randi segera menemui ojek motor online yang menunggu, lalu naik dan duduk di jok motor belakang pengemudi ojek, motor itu pun pergi dari rumah lama Randi itu, suasana di sekitar rumah lama Randi terlihat sangat sepi, sejak terjadinya pembunuhan dan kematian keluarga Riyadi, lingkungan rumah di sekitarnya sangat sepi sekali, tidak ada kesibukan warga warga di sekitarnya. Banyak warga yang memutuskan untuk pindah rumah karena kasus pembunuhan yang terjadi, warga yang tinggal pada takut akibat kejadian itu, banyak rumah yang kosong di sekitar dekat rumah lama Randi itu, yang membuat Randi sedikit merasa aman, cctv yang ada di dalam rumah Randi pun sudah tidak terpasang, Randi sengaja melepas semua cctv dirumahnya itu, agar dia tidak terekam di cctv.