
Pria yang mengawasi Yana di cafe itu berdiri diam menunggu, dia melihat ke arah Yana yang duduk, seorang pelayan cafe mendekati Yana dengan membawa makanan yang dipesan Yana, pelayan cafe itu meletakkan makanan di meja.
"Silahkan di nikmati bu." Ujar pelayan cafe.
"Terima kasih mas." Jawab Yana tersenyum menerima makanan yang diberikan pelayan padanya. Pelayan lantas pergi meninggalkan Yana yang mengambil makanan ringan dimeja lalu memakannya, Pria yang mengawasi Yana ditempatnya, mengamati situasi, setelah di lihatnya aman, tidak ada lagi orang yang mendekati Yana, dia lalu dengan cepat melangkah mendekati Yana.
"Hell...lo Yanaa..." Ujar orang yang mengikuti Yana, dia berdiri di depan Yana yang kaget melihatnya. Orang itu menyeringai menatap tajam Yana.
"Aku Randi..." Ujar Randi membuka topi dan masker penutup wajahnya. Melihat Randi yang berdiri di hadapannya, tubuh Yana bergetar hebat, seketika jantungnya berdegup keras, dia tercenung, diam tak bergeming melihat Randi yang menyeringai, tak bisa berkata apa apa. Saat itu, Via yang masuk dan datang ke cafe melihat Yana yang duduk, Via melihat Randi yang berdiri di depan Yana, dengan cepat dia memanggil papahnya.
"Papaaah !!" Ujar Via dengan suara keras yang membuat kaget Randi, seketika dia melihat ke arah Via, saat dia melihat anaknya ada di situ, Randi panik, terdiam sejenak, lalu dia melihat ke Yana, kemudian kembali melihat lagi anaknya, Randi akhirnya mengurungkan niatnya, melangkah mundur perlahan, petugas polisi yang ada didalam cafe itu kaget mendengar suara Via, dia yang duduk di sudut cafe tidak jauh dari posisi Yana melihat ada Randi berdiri di depan Yana, dengan gerak cepat petugas polisi berdiri dengan mencabut pistolnya dari pinggang.
"Randiii !!" Teriak petugas polisi begitu dia mengenali sosok Randi, Randi yang mendengar dirinya di panggil petugas polisi menoleh, melihat ada petugas polisi yang memegang pistol, dengan cepat dia lari pergi dari situ, Yana tampak wajahnya pucat pasi ketakutan, terdiam tak bergeming, tubuhnya gemetar ketakutan, keringat dingin mengalir di tubuhnya, petugas polisi melihat Randi yang lari dengan cepat bergegas lari mengejar keluar cafe, Via yang melihat petugas polisi lari mengejar papahnya pun cepat melangkah ke dalam cafe, jalan kearah Yana, dia bertabrakan dengan petugas polisi yang hendak mengejar Randi, mereka terjatuh dilantai cafe.
"Maaf, maaf pak, bapak gak apa?" Ujar Via bertanya pada petugas polisi yang lantas hendak berdiri , Via cepat memegang tangannya.
"Bapak terluka gak ? Saya gak liat tadi, maaf ya pak, tiba tiba bapak muncul di depan saya." Ujar Via memegang tangan petugas polisi yang berdiri dari lantai cafe, Via pun berdiri dihadapan petugas polisi itu.
"Saya gak apa apa, maaf mbak." Ujar petugas polisi lalu segera berlari keluar cafe untuk mengejar Randi. Via bergeser dari tempatnya memberi jalan pada petugas polisi yang lantas lari keluar cafe, Via melirik sekilas, dia tersenyum, Via sengaja menghalangi petugas polisi itu dengan menabrakkan dirinya ke tubuh polisi, agar papahnya punya waktu untuk lari menyelamatkan dirinya dari kejaran petugas polisi yang menyamar itu.
Via lalu ikut keluar dari cafe, dia juga mengejar papahnya.
Via berlari disekitar jalanan dekat cafe, dia melihat petugas polisi yang mengejar papahnya diseberang jalan, dari kejauhan sedang mencari cari, dia kehilangan jejak Randi, Via pun melihat ke arah kanan dan kiri, mengamati seluruh orang orang yang ada dijalanan itu, Via berjalan menyusuri tempat itu sambil matanya terus mencari cari, dia tak menemukan papahnya, Via lalu menghentikan langkahnya.
"Dimana kamu pah?" Gumam Via, dia lantas menarik nafasnya, kemudian berbalik melangkah untuk kembali ke cafe.
Yana yang masih terdiam kaku, tak percaya bahwa dia akan bertemu dengan Randi di cafe itu, Yana gemetar ketakutan, dia menangis takut, tubuhnya berkeringat, wajahnya pucat pasi, dia tak tahu harus bagaimana dirinya saat itu, Via masuk kedalam cafe, mendekati Yana.
"Buunn...Bunda kenapa ?" Tanya Via pada Yana , Via melihat wajah Yana yang pucat pasi dan gemetar ketakutan itu, Yana menatap wajah Via.
"Pergi kamu ! Kamu sengaja memberitahu Randi aku ada di sini kan ?!" Teriak Yana penuh ketakutan pada Via, mendengar itu Via heran.
"Maksud bunda apa ?" Tanya Via.
"Jangan bohong kamu ! Kamu sengaja menjebakku, membuat janji bertemu denganku disini, lalu kamu kabari papahmu agar dia bisa menangkap dan membunuhku disini !" Teriak Yana, Via heran, dia melirik sekitarnya, orang orang memperhatikan dirinya dan Yana, Via menjadi tidak enak hati, ada rasa malu pada dirinya karena jadi pusat perhatian orang orang di cafe itu.
"Via gak tau kalo papah di sini, Via juga gak tau kenapa dia bisa nemui bunda dan datang ke sini !" Ujar Via dengan nada keras pada Yana.
Yana berdiri, tubuhnya sempoyongan, petugas polisi yang mengejar Randi masuk ke dalam cafe, dia melihat Yana sedang bersama Via. Petugas polisi melangkah mendekat dan berdiri dibelakang Yana.
"Anak sama bapak sama aja ! Dasar kalian manusia manusia hina, berfikiran picik !! Kalian cuma bisanya membuat orang menderita, membebani hidup orang lain dengan tabiat busuk kalian , kalian keluarga monsteer !! Pergiiiii...!!" Teriak Yana pada Via, dia mendorong tubuh Via yang terdiam berdiri kaku dihadapan Yana, dia tak menyangka harus mendengar ucapan kasar dari mulut Yana, hatinya hancur, perih dan sedih mendengar itu, Via membiarkan tubuhnya di dorong dan di pukulin Yana yang kalap karena takut itu, Via diam tak bergeming, tubuh Yana semakin lemah sempoyongan, dia terkulai lemah, saat dia hendak terjatuh, petugas polisi yang ada di belakangnya segera menangkap tubuh Yana agar tidak terjatuh, Yana pingsan, melihat Yana pingsan wajah Via kaget.
"Buuunnnn...Bunda Yanaaa !!" Teriak Via mendekati Yana yang pingsan dalam pelukan petugas polisi.
"Maaf mbak, biarkan dia untuk sementara waktu." Ujar petugas polisi pada Via yang akhirnya mengangguk menghela nafasnya.
Petugas polisi itu segera membopong tubuh Yana yang pingsan, membawanya keluar cafe, dimasukkannya ke dalam mobil yang terparkir di halaman depan cafe, Via mengikuti, melihat Yana dibawa masuk kedalam mobil, Via mendekati petugas polisi.
"Mau dibawa kemana bunda saya pak ?" Tanya Via pada petugas polisi.
"Ke rumah sakit Cipto." Ujar petugas polisi lalu menutup pintu mobil kemudian menyalakan mesin mobil dan menjalankan mobil untuk segera pergi dari cafe itu, Via memandang kepergian petugas polisi yang membawa Yana itu, dia menghela nafasnya.
Di ruang rawat rumah sakit Cipto, Yana terbaring lemah dengan selang infus di tangannya, paman Mulyono yang datang karena di kabari petugas polisi yang menjaga dan menemani Yana. Melihat Yana belum sadarkan diri itu membuat paman Mulyono sedih.
Petugas polisi memberi isyarat pada paman Mulyono agar mengikutinya keluar dari ruang rawat itu, paman Mulyono pun mengikuti petugas polisi.
Diluar, depan ruang rawat, paman Mulyono mendekati petugas polisi yang menjaga Yana.
"Apa yang terjadi sebenarnya pak Gunawan ?" Tanya paman Mulyono pada Gunawan, nama petugas polisi itu.
"Randi tiba tiba muncul di cafe saat bu Yana menunggu Via, anaknya Randi." Ujar Gunawan.
" Itu yang saya khawatirkan !" Ujar paman Mulyono.
"Saya pikir, Randi sudah lama mengintai dan mengawasi bu Yana, kalau dugaan saya, Randi mengikuti bu Yana sejak berangkat dari rumah ke cafe." Ujar Gunawan.
"Dan Via, anaknya, saya yakin dia gak tau kalau bapaknya datang ke cafe, dari ekspresi wajah kagetnya saat menegur bapaknya, dan gelagat Randi melihat ada anaknya di situ, mereka sama sama tidak tahu kalau akan bertemu." Ujar Gunawan, petugas polisi.
"Saya kira bu Yana salah paham dengan Via, dia menuduh Via yang membocorkan tempat pertemuan mereka, bu Yana histeris, kalap hingga pingsan karena cemas dan ketakutan yang berlebihan." Jelas Gunawan pada paman Mulyono yang diam mendengarkan penjelasannya.
"Kasihan Yana." Ujar paman Mulyono lirih.
Via datang ke rumah sakit itu, dia melangkah mendekati petugas polisi dan paman Mulyono, saat melihat dan mengenali petugas polisi, Via langsung bertanya padanya.
"Bagaimana keadaan bunda Yana pak? Boleh saya masuk? Saya mau liat kondisi bunda." Ujar Via bertanya pada petugas polisi.
"Saat ini kondisinya masih lemah karena stres dan rasa cemas ketakutan yang berlebihan." Jelas Gunawan pada Via.
"Sebaiknya mbak saat ini jangan dulu nemui bu Yana, biar dia istirahat hingga tenang, mbak bisa nemuinya saat bu Yana sudah pulih kembali." Ujar petugas polisi melarang Via untuk bertemu Yana, petugas polisi yakin Yana akan makin marah dan panik saat itu jika melihat kedatangan Via, karena dia mengira Via bekerjasama dengan papahnya untuk menjebak dirinya.
Via terdiam berfikir.
"Baiklah pak, saya menunggu kabar." Ujar Via.
"Apa kabar Via ? Saya Mulyono, paman bunda Yana, kita pernah ketemu sekali beberapa tahun lalu saat lebaran kamu liburan ke kota ini." Ujar paman Mulyono menyapa Via. Via melihatnya tersenyum mengangguk.
"Kabar Via baik kek." Jawab Via tersenyum.
"Kamu bisa nemani kakek di sini, kalau kamu mau ikut kerumah juga boleh, nanti kakek yang jelasin kesalah pahaman bunda Yana padamu." Ujar paman Mulyono yang tersenyum menatap wajah Via.
"Terima kasih kek, Via cuma kasihan liat kondisi bunda." Jawab Via lirih dan sedih.
Di suatu tempat, Randi terlihat wajahnya kecewa dan sangat marah sekali karena aksinya gagal menculik Yana, dia tak menyangka kalau dirinya akan bertemu dengan anaknya, sebab menurutnya, rencana yang sudah dilakukannya pasti akan berjalan lancar, dia sudah memperhitungkan segalanya, dari mulai memantau rumah paman Mulyono berhari hari, mempelajari apa saja yang dilakukan penghuni rumah itu, dan melihat berapa banyak orang yang ditugasi menjaga Yana dirumah. Randi dengan mudah mendatangi dan mengintai rumah paman Mulyono karena dia tahu alamat rumahnya, dulu Randi sering datang berkunjung bahkan sampai menginap dirumah paman Mulyono bersama Yana saat mereka masih suami istri, karena itu, Randi setelah mendapat info dari Via anaknya tentang Yana tinggal dirumah paman Mulyono, dia pun membuat rencana untuk meringkus Yana.
Kembali ke beberapa jam sebelum pertemuan Randi dan Yana serta Via di cafe.
Di rumah paman Mulyono, terlihat Yana sudah rapi, dia bersiap siap hendak pergi .
"Kamu yakin akan baik baik saja ketemu Via disana ?" Tanya paman Mulyono.
"Iya paman, Aku baik baik aja, Aku sengaja ketemu Via, karena ingin tau dan dengar dari Via, apa mau dan tujuannya." Jelas Yana.
"Kamu tetap waspada." Ujar paman Mulyono pada Yana.
"Iya, Randi gak kan mungkin nekat menangkap dan membunuhku di dalam cafe yang banyak orang." Ujar Yana.
"Buat orang seperti Randi, dia bisa berbuat nekat sesukanya, di parkiran mall yang besar dan begitu banyaknya orang saja dia nekat membunuh Badrun, apalagi di cafe." Ujar paman Mulyono mengingatkan Yana agar pikirannya tidak kosong dan tetap waspada. Yana yang mendengar penjelasan pamannya terdiam, dia lalu menarik nafasnya tersenyum pada paman Mulyono.
"Paman gak usah khawatir, kan aku dijagain sama pak Gunawan, petugas polisi." Ujar Yana.
"Bagaimana dia bisa melindungimu, kalau sekarang saja dia gak ada di sini, dan kamu perginya sendiri, yang buat paman cemas itu saat kamu sendirian." Ujar paman Mulyono.
"Biar pak Santoso yang menyupir, nganter dan nemani kamu selama diperjalanan, jangan pergi sendiri." Ujar paman Mulyono pada Yana yang mengangguk tersenyum pada pamannya itu.
Yana pun akhirnya masuk ke mobil miliknya, pak Santoso, petugas keamanan yang menjaga dirumah paman Mulyono duduk di jok depan, memegang stir mobil dan menyalakan mesin mobil, Sementara Randi, dari sudut jalan dekat rumah paman Mulyono menatap tajam ke arah rumah paman Mulyono, Randi melihat mobil Yana keluar dan pergi dari rumah paman Mulyono yang lumayan besar itu, Randi merapikan masker wajah dan topinya, lalu menyalakan mobil rental yang sengaja digunakannya untuk mengintai , dia lalu mengikuti mobil Yana yang sudah lebih dulu melaju dijalanan.
Saat tiba di cafe tempat janjian Yana dan Via, Yana memilih kursi di tempat yang bisa terlihat jelas oleh Gunawan , petugas polisi yang sudah lebih dulu ada di dalam cafe, petugas polisi itu dihubungi Yana dan di beritahu agar melindunginya di cafe itu. Yana melirik ke arah Gunawan, petugas polisi memberi isyarat pada Yana agar bersikap wajar, seolah mereka tidak saling kenal, tak lama, masuk Randi dengan memakai topi dan masker kedalam cafe, melangkah ke sudut cafe dan duduk di sebuah kursi, petugas polisi tidak melihat kedatangan Randi, dari kursinya Randi melihat ke arah Yana yang duduk dikursinya sedang memesan sesuatu, pelayan ada dihadapannya, lalu pelayan itu pergi, Randi melihat suasana cafe itu, para pengunjung keluar masuk cafe tersebut, Randi menunggu waktu yang tepat untuk menjalankan aksinya.
Kembali pada masa sekarang.
Randi meluapkan emosinya karena gagal meringkus dan menculik Yana di cafe.
"Siaaaalll !! Kenapa Via harus ada di cafe itu ! Padahal rencanaku udah matang, aku yakin hari ini Yana bisa ku habisi !" Ujar Randi geram.
"Aku harus lebih berhati hati lagi, ternyata kamu membayar orang lagi untuk menjaga dan melindungimu Yana, tunggu saja, aku pasti bisa meringkus dan membunuhmu. " Ujar Randi menyeringai tajam, tatapan matanya menyimpan amarah dan dendam yang mendalam pada Yana.