
Badrun sedang menelpon Samuel, tapi ponsel Samuel tidak aktif, Badrun mencoba menghubungi ponsel Gilbert, ponsel tetap tidak bisa terhubung, Badrun lalu menelpon ke ponsel Bakri, tapi tetap saja ponselnya tidak dapat di hubungi, Badrun heran karena ketiga temannya yang membawa Sugeng ke kantor polisi tidak bisa di hubungi, wajahnya kesal.
"Kemana sih mereka, di hubungi semua gak aktif hapenya." Ujar Badrun kesal.
"Mungkin mereka sedang di kantor polisi mas, jadi hape sengaja dimatikan." Ujar Yana pada Badrun.
"Iya juga kali ya." Ujar Badrun lalu mengantongi ponsel ke dalam saku celananya.
Badrun lalu menghempaskan pantatnya pada sebuah sofa yang ada di ruang tamu rumah Yana.
"Aku istirahat dulu mas, kepalaku pusing." Ujar Yana pada Badrun yang mengangguk.
Yana lalu melangkah pergi masuk ke kamar meninggalkan Badrun sendirian.
Tak lama kemudian ponsel Badrun berbunyi, dia lalu mengambil ponsel dari saku celananya. Dia melihat ke nomor telepon, tidak ada nama, Badrun heran, lalu menerima telepon itu.
"Iya, siapa ini ?" Tanya Badrun pada si penelpon karena nama penelpon tidak ada di daftar kontak teleponnya. Terdengar suara datar, berat dan parau dari seberang telepon.
"Aku udah mengantarkan ketiga temanmu ke neraka." Ujar si penelpon dengan suara berat , datar dan parau.
Mendengar itu Badrun kaget, dia langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Apa maksudmu? Jangan becanda ya !" Tanya Badrun dengan nada tegas.
"Aku sudah habisi ketiga temanmu, kalo kamu terus ikut campur urusanku, giliranmu akan tiba." Ujar si penelpon pada Badrun yang mulai marah.
"Tunjukkan batang hidungmu, temui aku kalo kamu berani, jangan bisanya sembunyi diketiak anak buahmu !" Teriak Badrun dengan nada keras dan marah karena mengetahui siapa si penelpon tersebut.
"Santai aja Badrun, waktumu akan tiba, tunggu saja." Ujar si penelpon lalu menutup teleponnya, Badrun semakin marah dibuatnya.
"Kurang ajar ! Pengecut !" Ujar Badrun teriak marah, dia menggenggam ponselnya dengan kuat, menahan amarahnya, Yana yang mendengar teriakan Badrun cepat keluar dari kamar menghampiri Badrun, Yana terlihat kaget mendengar Badrun teriak marah diruangan itu.
"Kamu kenapa mas ?" Tanya Yana pada Badrun yang menahan emosi.
"Bajingan yang neror kamu nelponku, dia bilang, ketiga temanku sudah di habisinya ." Ujar Badrun geram, Yana kaget.
"Apa maksudnya ? Teman temanmu kan sedang dikantor polisi bawa orang yang menyerang kita?" Ujar Yana pada Badrun.
"Entahlah, aku gak ngerti maksud ucapannya bilang sudah menghabisi teman temanku." Ujar Badrun berfikir keras.
Badrun lalu mengambil ponselnya, mencoba lagi menghubungi ponsel ketiga temannya, tapi ponsel Samuel, Bakri dan Gilbert tetap tidak aktif. Badrun semakin kesal.
"Sial ! Mereka gak bisa juga di hubungi." Ujar Badrun, dia terlihat cemas dengan teman temannya karena tidak bisa menghubungi mereka melalui ponsel.
Si Penelpon yang tak lain adalah Randi tertawa puas setelah menelpon Badrun, saat itu Randi berada di rumah Badrun, dia duduk di teras rumah Badrun, Randi berselfi ria dengan ponselnya di teras rumah Badrun, mengabadikan dirinya yang sedang berada di rumah Badrun. Wajahnya tertutup dengan masker dan topi, saat dia berphoto selfi , dia sengaja memposisikan dirinya tidak terlihat bagian wajah, semua photo photonya diambil dengan posisi memunggungi, hanya punggung badan saja yang terlihat dengan background rumah Badrun, dengan menunjukkan jari telunjuknya ke arah rumah Badrun.
Sebuah pesan masuk ke ponsel Badrun, dengan cepat Badrun membuka dan melihat isi pesan di ponselnya, Badrun melihat photo photo yang terkirim di ponselnya, melihat photo photo itu Badrun semakin geram dan marah. Badrun melihat di photo ada sosok orang membelakangi kamera ponsel dengan background rumahnya.
"Setaaaaannn ! Liat saja nanti, aku gak kan mengampunimu !" Ujar Badrun geram.
Yana kembali lari tegopoh gopoh mendekati Badrun karena mendengar Badrun teriak marah sendirian, Yana bingung lihat sikap Badrun seperti itu.
"Apalagi sih mas, kamu bikin aku kaget!" Ujar Yana pada Badrun.
Badrun menunjukkan photo photo yang ada di ponselnya pada Yana, Yana mengambil ponsel Badrun, melihat photo photo, Yana heran.
"Apa maksudnya ini mas ?" Tanya Yana pada Badrun, dia tidak mengerti dengan semua itu.
"Peneror itu tau rumahku, dia sengaja mengirimkan photo sedang berada dirumahku, memberitahu aku, seperti sedang memberi peringatan." Ujar Badrun.
Mendengar itu Yana kaget, dia tidak menyangka akan hal itu, Yana menatap wajah Badrun.
"Bagusnya ke dua anakmu gak ada dirumah mas." Ujar Yana.
"Iya, kalo mereka ada dirumah, aku yakin, bajingan itu pasti sudah menculiknya untuk jadi sandera." Ujar Badrun. Dia lalu memencet sebuah nomor di ponselnya.
"Ini papah, kamu gak usah balik dulu kerumah kalo liburan, bilang juga adikmu, tetap tinggal di tempat kalian sekarang." Ujar Badrun menelpon anaknya.
"Papah ada masalah yang belum bisa papah jelasin sekarang, nanti kalo kondisi sudah tenang, papah kabari kamu dan adikmu, ingat, jangan pulang kerumah dulu sampe papah yang hubungi kalian lagi." Ujar Badrun pada anaknya berpesan. Dia khawatir kalau anaknya pulang saat liburan kerja, bukan tidak mungkin, anak anaknya akan menjadi korban, dan Badrun tidak menginginkan hal itu terjadi.
Setelah menutup teleponnya, Badrun terlihat berfikir, lalu dia menatap wajah Yana yang terlihat menyimpan kecemasan.
"Aku balik kerumahku sebentar ya, mau ngecek, apa orang itu menyimpan sesuatu di dalam rumahku." Ujar Badrun pada Yana.
"I...Iyaa mas." Jawab Yana, tapi di sisi lain dia terlihat cemas dan takut akan keselamatan dirinya. Badrun yang melihat raut muka Yana panik itu lalu berkata pada Yana.
"Yoyok tetap ada di sini menemani dan menjaga kamu, aku gak lama, pasti langsung balik lagi ke sini." Ujar Badrun pada Yana. Yana akhirnya mengangguk lemah, walau hatinya resah tapi dia tidak bisa mencegah Badrun.
"Yooookkkk...!!" Teriak Badrun pada Yoyok, tak lama Yoyok datang berlari menghampiri Badrun.
"Ada apa ?" Tanya Yoyok pada Badrun.
"Aku mau pulang ke rumahku sebentar, kamu jangan lengah, tetap focus jaga rumah dan lindungi Yana, begitu urusanku selesai, aku langsung ke sini!" Ujar Badrun tegas pada Yoyok.
"Siap !" Ujar Yoyok.
"Aku pinjam motormu." Ujar Badrun pada Yoyok, Yoyok memberikan kunci motor pada Badrun yang menerimanya, lalu Badrun segera pergi keluar dari rumah Yana. Setelah kepergian Badrun, Yana kembali masuk ke kamarnya, meninggalkan Yoyok sendiri diruang tamu, akhirnya Yoyok berbalik dan melangkah menuju teras rumah Yana. Kembali untuk berjaga jaga.
Di rumahnya, Via hari itu sedang libur kerja, dia mendekati neneknya yang sedang istirahat rebahan di sofa panjang ruang keluarga.
"Nek..." Ujar Via dengan suara lembut, Nenek yang melihat kedatangan Via segera bangun dan duduk di sofa.
"Ada apa?" Tanya Jumirah pada Via.
"Via minggu depan ketempat mama ya." Ujar Via.
"Udah nek, bos Via kasih libur cuti selama dua minggu, katanya bonus buat Via karena selama kerja dengan dia, Via gak pernah ambil cuti." Ujar Via.
Mendengar penjelasan Via, Jumirah pun tersenyum, dia memegang kepala Via, membelai rambutnya.
"Udah pesan tiketnya ?" Tanya Jumirah, Via mengangguk.
"Udah kabari mama? Pasti dia senang dengar kamu mau datang nemui dia." Ujar Jumirah pada Via.
"Udah tadi nek, mama senang pas Via kabari mau datang ketempatnya." Ujar Via tersenyum menatap wajah Jumirah yang juga tersenyum padanya.
Dirumahnya, Badrun langsung sibuk menggeledah seluruh isi yang ada didalam rumahnya, mencari cari sesuatu, dia khawatir jika di dalam rumahnya di simpan bom atau alat penyadap, semua ruangan di geledah Badrun.
"Aman, gak ada yang aneh, semua bersih." Gumam Badrun dengan wajah lega.
Setelah merasa aman, tidak ada apa apa di rumahnya, wajah Badrun menjadi lega. Dia langsung keluar dari rumahnya, naik ke atas motor, menyalakan mesin motor, dan pergi dari rumahnya.
Yana sedang menemui polisi yang datang kerumahnya memberi kabar bahwa telah terjadi kecelakaan yang mengakibatkan kematian ketiga orang yang dikenal Yana, Polisi mendatangi Yana, karena berdasarkan nomor polisi yang ada di plat mobil sedan terdaftar atas nama Yana, Polisi pun datang untuk mengkonfirmasi kebenaran atas pernyataan Yana.
Mendengar penjelasan Yana tentang kecelakaan hebat yang terjadi membuat dirinya syock, wajahnya menyimpan ketakutan yang mendalam, panik dan cemas, Setelah kepergian polisi dari rumahnya, Yana hanya bisa duduk terhenyak di sofa, dia diam dengan raut wajah menyimpan kegelisahan, Yoyok yang mendengarkan penjelasan polisi juga kaget, dia tidak menyangka jika teman temannya mati karena kecelakaan saat membawa Sugeng, orang yang mengintai dan menyerang mereka. Melihat Yana yang panik dan ketakutan itu, Yoyok tak dapat berbuat apa apa, dia hanya berdiri diam di teras rumah.
Badrun tiba di rumah Yana, motor masuk kedalam garasi rumah, Badrun melepas helmnya lalu melangkah mendekati Yoyok, melihat kedatangan Badrun, Yoyok cepat mendekatinya.
"Polisi datang tadi ke sini." Ujar Yoyok.
"Ngapain ?" Tanya Badrun pada Yoyok.
"Kasih kabar, kalo mobil Yana kecelakaan, didalam mobil empat orang tewas." Ujar Yoyok datar.
"Maksudmu? Samuel, Gilbert dan Bakri...?" Tanya Badrun pada Yoyok yang mengangguk lemah.
"Iya, dari data yang mereka temui, korban kecelakaan itu Samuel, Bakri dan Gilbert, polisi bilang, satu korban lagi gak diketahui identitasnya karena gak ada kartu pengenal yang dibawanya." Jelas Yoyok pada Badrun yang menahan geramnya.
"Itu bukan kecelakaan, tapi pembunuhan yang memang sengaja direncanakan." Ujar Badrun geram menahan marah, Yoyok menatap Badrun, dia tidak mengerti maksud dari ucapan Badrun.
"Maksudmu?" Tanya Yoyok.
"Aku ditelpon si peneror, dia bilang, kalo dia udah habisi ketiga temanku, itu artinya, Samuel, Gilbert dan Bakri dibunuhnya." Ujar Badrun.
"Jadi kecelakaan itu sengaja ?" Tanya Yoyok pada Badrun.
"Iya, dia merencanakan hal itu untuk membungkam anak buahnya agar gak buka mulut dihadapan polisi!" Tegas Badrun, Yoyok paham dan mengerti.
"Kurang ajar! Sekarang, apa yang harus kita lakukan ?" Tanya Yoyok.
"Kita susun siasat, nanti aku fikirkan, mulai sekarang, perketat penjagaan, lindungi Yana, aku yakin, target sebenarnya Yana." Ujar Badrun, Yoyok mengangguk.
"Yana dimana ?" Tanya Badrun.
"Dia diruang tamu." Ujar Yoyok, Badrun segera melangkah masuk kedalam rumah untuk menemui Yana.
Di ruang tamu, ketika melihat Yana yang terduduk lemah dan menangis ketakutan, Badrun mendekatinya. Yana menatap nanar wajah Badrun. Badrun paham apa yang sedang di rasakan Yana saat itu.
"Aku udah dengar semuanya dari Yoyok." Ujar Badrun pelan pada Yana yang terisak.
"Semua milikku hancur, habis gak tersisa mas." Ujar Yana di sela isak tangisnya dengan suara datar dan lirih.
"Sebenarnya apa mau orang itu padaku? sampe kapan dia terus membuatku tersiksa dengan kondisi ini? Aku gak tahan mas, gak tahan, lama lama aku bisa gila!!" Ujar Yana teriak menangis, Badrun yang merasa kasihan pada Yana mencoba menenangkannya, dia memeluk tubuh Yana.
"Kamu tenang, yang sabar, semua ini pasti akan cepat berakhir, aku pasti akan menemui keberadaan orang itu, dan membuat perhitungan dengannya." Ujar Badrun.
"Aku bersumpah, gak kan melepaskan orang itu, dia harus mendapatkan balasan yang besar atas semua perbuatannya padamu, pada teman temanku yang di bunuhnya." Ujar Badrun.
"Ini perbuatan Randi mas, aku yakin itu, gak ada orang lain yang jadi musuhku , cuma dia !" Ujar Yana.
"Aku semakin yakin setelah mendapat kabar dari Atik temanku, kalo pengacara yang mengurus perceraianku dengan Randi dulu mati terbunuh dengan cara yang sama seperi korban korban tetangga rumah lamaku!" Ujar Yana menangis, mendengar itu Badrun semakin geram menahan amarahnya.
"Sudah, kamu tenang, jangan menangis, Aku pasti akan membuat perhitungan dengan Randi!" Ujar Badrun, raut wajahnya menahan marah, sementara Yana masih terus menangis terisak isak, dia meratapi dirinya.
Via sedang menelpon saat itu, dia sengaja menghubungi papahnya untuk mengetahui keberadaan papahnya.
"Papah sekarang dimana ?" Tanya Via.
"Papah masih di luar kota nak." Jawab Randi dari seberang teleponnya.
"Iya, diluar kotanya dimana ? Di jawa ?" Tanya Via mendesak papahnya agar mengatakan yang sebenarnya dimana dia berada saat ini.
"Kenapa papah gak mau bilang ke Via kalo papah di jawa sekarang?" Ujar Via.
"Via pengen ketemu papah, Via kangen papah, kapan Via bisa ketemu papah? Atau Via datang nyusul ketempat papah?" Ujar Via memberondong semua pertanyaan pada papahnya.
"Iya Nak, papah di jawa, sedang di jogja, ada urusan." Jawab Randi dari seberang teleponnya, akhirnya Randi memberitahukan dimana dia berada, dia tidak bisa membohongi anak yang sangat di cintai dan di sayangnya itu, begitu anaknya memberondong pertanyaan, membuat Randi gugup dan akhirnya jujur memberitahukan.
"Kasih Via alamat papah, nanti Via datang." Ujar Via pada papahnya.
"Iya nak, kalo kamu mau datang, kabari papah, biar di jemput." Ujar Randi dari seberang teleponnya.
"Iya, nanti Via kabari, kirim alamat papah, jangan lupa." Ujar Via tegas lalu menutup teleponnya.
Randi yang habis menerima telepon Via terlihat wajahnya bingung karena anaknya memaksa dirinya untuk memberitahukan tempat dia tinggal sekarang, Randi terlihat berfikir keras, bagaimana caranya memberikan alasan pada anaknya agar tidak membohongi anaknya.
"Aku harus beresin semua secepatnya, sebelum anakku datang menemuiku." Gumam Randi pada dirinya sendiri, wajahnya menyimpan raut muka yang menahan geram, kebengisan terlihat jelas dari tatapan matanya yang tajam.