
Yana tampak terduduk dikursi cafenya, wajahnya menunjukkan kekecewaan, sekilas Yana menatap lagi kelembaran photo photo yang berserakan diatas meja, menarik nafasnya.
Yana berdiri dari duduknya, lalu melangkah gontai mendekati karyawati cafe nya yang berada di tempat kasir.
"Apa ada wanita yang sering datang ke cafe ini menemui pak Herry ?"
Tanya Yana kepada Kasir.
"Beberapa waktu lalu bu, keliatannya Pak Herry dan wanita itu ribut omongan."
Ujar Kasir.
"Terus?"
Tanya Yana lagi.
"Pak Herry nyeret wanita itu keluar dari cafe, selanjutnya pak Herry ngobrol sama wanita itu diluar cafe,terus pergi."
Jelas Kasir.
Yana berfikir. Siapa Wanita itu,dan apa tujuannya datang ke cafe menemui Herry.
"Maaf bu, Saya gak lapor ke ibu, saya takut jadi masalah."
Ujar Kasir pada Yana .
"Gak apa. terima kasih info kamu."
Jawab Yana lalu berbalik melangkah keluar dari cafe nya. Yana melangkah menuju Motornya yang terparkir di tempat parkir cafe nya.
Saat Yana hendak memakai helmnya, hape nya berbunyi, Yana meletakkan helmnya diatas kaca spion motor, mengambil hape nya dan cepat menerima panggilan telepon.
"Udah terima kirimanku ?"
Tanya suara diseberang telepon pada Yana.
"Apa maksudmu mengirimkan photo photo itu ? Aku udah bilang, jangan usik ketenanganku, kalo kamu terus terusan begini, ku laporin kamu kepolisi."
Ujar Yana marah pada orang yang menelponnya, orang tersebut ternyata Randi.
"Aku gak ada maksud apa apa, aku sengaja ngirim photo photo itu biar kamu tahu bagaimana selama ini si Herry yang kamu puja itu."
Ujar Randi dari seberang telepon.
"Kamu pikir dengan begitu kamu bisa misahkan aku dengan Herry ? Jangan mimpi kamu !"
Ujar Yana sangat marah pada Randi, Yana pun mematikan hapenya, Tidak mau lagi melanjutkan pembicaraannya dengan Randi.
Yana memasukkan hapenya kedalam tasnya, lalu memakai helmnya, setelah itu dia naik ke atas motornya.
"Criing"
Bunyi pesan di hape Yana.
Yana segera mengambil hapenya kembali dari tasnya. membuka pesan wa yang masuk dari Randi.
"Datanglah ke alamat ini, semuanya akan jelas nantinya."
Tulis pesan dari Randi pada Yana.
Di pesan itu ada sebuah peta lokasi alamat rumah. Yana yang membacanya berfikir, lalu menarik nafasnya. Kemudian dia mengklik alamat yang dikirimkan Randi itu, melihat peta alamat tersebut.
Yana tahu lokasi alamat itu, lalu dia memasukkan hapenya ke tas, menyalakan mesin motor ,dan segera pergi dari cafe nya.
Panorama alam yang ada disekitar itu sangat Indah sekali, Tampak, Cameraman Randi mengabadikan lokasi itu dengan cameranya.
Randi menghampiri kru nya yang sedang menunggunya habis menelpon.
"Kita cari makan yuk, saya lapar."
Ujar Randi pada kru nya.
"Oke pak."
Jawab pak Jay. Pimpinan produksinya.
Mereka pun akhirnya meninggalkan tempat itu.
Yana menghentikan motornya, mengambil hapenya dari dalam tasnya, melihat ke alamat yang ada di kirim Randi.
"Titiknya sampe disini, mana rumahnya ya ?"
Gumam Yana melihat sekelilingnya.
Yana pun melanjutkan perjalanannya, menjalankan motornya perlahan sambil mencari cari alamat pasti yang ditujunya.
Saat itu motor Yana berhenti ,Yana melihat Yenni ada diteras rumahnya sedang menggendong anaknya yang berusia 2 Tahun.
Melihat Yenni, Yana memperhatikan dari motornya, Yana berhenti tidak jauh dari rumah Yenni, memakai helmnya.
"Itu wanita yang diphoto ."
Gumam Yana melihat Yenni.
Yenni mencium anaknya, kemudian Yenni memberikan anaknya kepada ibu asuh/babysitter yang menerima dan menggendong anak Yenni.
"Nanti kalo Pak Herry pulang, suruh tunggu saya ya bu. Kemana tuh orang, udah seminggu gak nengokin anaknya."
Ujar Yenni.
Yana yang berada tak jauh dari tempat Yenni mendengar ucapan Yenni.Tampak wajah nys sedih mendengar itu, Yana melihat anak berusia 2 tahun yang digendong babysitter, lalu menoleh melihat ke Yenni.
Yana menghela nafas berat.
"Ibu pergi dulu ya nak."
Ujar Yenni pada anaknya sambil mencium anaknya. Melihat Yenni hendak pergi, cepat Yana menyalakan motornya dan pergi dari tempat itu, menghindar agar tidak dilihat Yenni. Yenni naik ke motornya pergi meninggalkan rumahnya.
Dipinggir jalan tidak jauh dari rumah Yenni, motor Yenni melintas melewati motor Yana yang berhenti di pinggir jalan.
Yana melihat motor Yenni, menunggunya, setelah motor Yenni menjauh dan menghilang dari pandangannya, Yana memutar balik motornya, menuju ke rumah Yenni.
Motor Yana berhenti dihalaman rumah Yenni.
Yana segera melepas helm dan turun dari motornya, kemudian berjalan kearah rumah Yenni.
Melihat Yana datang, Ibu Asuh yang sedang menggendong Bayi Yeni heran.
"Maaf bu, numpang tanya, apa benar ini rumahnya pak Herry ?"
Tanya Yana pada babbysitter/ibu asuh.
"Oh iya mbak, ada perlu apa ya?"
Tanya Ibu Asuh pada Yana.
"Saya dari Asuransi, Ibunya ada ?"
Tanya Yana berpura pura.
"Istrinya baru aja pergi tadi bu.Gak lama ibu datang perginya."
Ujar Ibu Asuh.
Mendengar Yenni disebut istri Herry, Yana kaget, namun berusaha disembunyikannya rasa kagetnya itu, Yana tersenyum pada ibu asuh itu.
"Baiklah bu kalau begitu nanti saja saya datang lagi kalo Pak Herry nya sudah dirumah."
Ujar Yana.
"Iya bu, Pak Herry belum pulang kerumah satu minggu ini."
Jelas Ibu Asuh.
"Oh begitu, ya ga apa bu, nanti saya coba hubungi beliau untuk menanyakan soal asuransi."
Ujar Yana.
"Saya permisi bu, mari."
Ujar Yana mengangguk dan tersenyum pada Ibu Asuh yang mengangguk pada Yana.
Yana kembali ke motornya, memakai helm ,menyalakan mesin motor, kemudian pergi dari rumah Yenni.
Dijalanan, diatas motor Yana berfikir,ada begitu banyak pertanyaan yang menggelayuti otaknya, Wajahnya tampak menunjukkan rasa kecewa, sedih dan marah pada kenyataan yang baru saja dilihatnya. Dia tak menyangka dengan apa yang sudah di lihatnya itu.
Didalam sebuah ruangan , tampak Herry tubuhnya semakin lemah karena seminggu terikat didalam ruangan itu. Sesosok pria yang memakai penutup wajah mendekati Herry.
"Hell..Lo.."
Ujar Sosok Pria itu sambil melangkah pelan dan santai kearah Herry yang terikat dikursi.
Melihat ada yang datang mendekatinya,Herry dengan terengah engah lemah melihat ke arah orang tsb.
"Tolong,beri aku air..."
Ujar Herry pada Sosok pria yang wajahnya tak terlihat karena memakai penutup wajah.
Sosok Pria itu mendekati Herry dengan membawa sebotol air mineral, membuka tutup botolnya, lalu menuangkan air itu tepat diatas mulut Herry.
Air yang tumpah itu cepat disambut Herry dengan mengarahkan mulutnya ke air yang jatuh dan mengulurkan lidahnya agar bisa merasakan air itu.
Tak lama sosok pria itu menyiramkan sisa air didalam botol ke wajah Herry, lalu memukul wajah Herry berkali kali. Herry yang mendapatkan pukulan merasakan sakit yang luar biasa.
"Apa maumu ? Siapa kamu ?"
Ujar Herry lemah sambil menahan sakit, darah segar ada dipelipis dan pinggir bibirnya. Mulutnya pun berdarah.
"Waktumu sudah tiba."
"Semua ini akibat apa yang sudah kamu lakukan selama ini."
Ujar Sosok Pria itu.
"Aa..a...pa...maksudmu ?"
Tanya Herry tidak paham maksud pria itu. Sosok Pria itu menatap tajam pada Herry.
"Kamu selama ini udah merusak rumah tangga orang, membuatnya bercerai, menghancurkan kebahagiaannya,mengambil istrinya untuk kamu manfaatkan buat kepentinganmu dan istrimu!"
Ujar Sosok Pria itu.
Mendengar ucapan Pria itu, Herry kaget, kenapa bisa tahu tentang semua itu ?
Tanya Herry lemah berusaha menatap Sosok Pria itu.
"A..apaa..kamu Randi?"
Tanya Herry.
Mendengar itu , Sosok Pria tersebut mendekati wajah Herry. Menyeringai dan berbisik pada Herry.
"Randi gak ada disini, kalo dia ada disini, kamu gak kan bisa bernafas lagi."
Ujar Sosok Pria itu.
"Sss...ssiii...siapa kamu?"
Tanya Herry lagi, Herry ingin tahu siapa Pria itu jika bukan Randi. Herry meronta ronta hendak melepas ikatannya, tapi usahanya sia sia.
"Sebelum mengantarmu ke neraka,aku akan bermain main dulu denganmu."
Ujar Sosok Pria itu.
"T..too..tolong...jangan...jangan bunuh aku, aku punya anak, tolong, lepasin aku."
Ujar Herry memohon pengampunan dan belas kasihan, Herry mulai takut dengan apa yang akan terjadi pada dirinya.
"Apa yang udah kamu pilih, harus bisa kamu terima dan bertanggung jawab dengan semua akibat perbuatanmu."
"Ma..aaf..maafin aku...a..aku salah..tolong...bilang Randi,aku salah..."
Ujar Herry lemah dan memelas.
"Laki laki sampah sepertimu cuma menyebarkan bau busuk saja."
Ujar Sosok Pria itu marah dan menendang Herry hingga Herry terjatuh kelantai masih dalam posisi terikat dikursi.
Sosok Pria itu melangkah mendekati Herry, dan menginjak kaki Herry.
"Aaaagggghhhh...."
Herry teriak kesakitan karena kakinya di injak, Sosok pria itu berdiri diatas kaki Herry.
Herry merintih menahan sakit.
Sosok Pria itu kemudian berjalan kearah sebuah meja, mengambil sebuah gunting seng, lalu melangkah mendekati Herry.
Sosok Pria itu berdiri dihadapan Herry yang ada dilantai, Sosok Pria itu lalu menginjak alat kelamin Herry.
"Aaaaagggghhhh..!!!"
Herry teriak kesakitan karena kelaminnya di injak paksa. Pria itu melepaskan injakannya, lalu berjongkok dihadapan Herry.
"Sebelum pengadilanku datang padamu, buatlah pengakuan dihadapanku."
Ujar Pria itu pada Herry.
"bb...baik...baik, aku akan mengakui semuanya."
Ujar Herry terbata bata menahan sakitnya. Sosok Pria itu menatap Herry.
"Setelah pengakuanmu, maka kamu akan menerima segala balasannya dariku."
Ujar Pria itu menatap tajam pada Herry. Pria itu lalu memegang jari jari tangan Herry, mengamati jari jari itu, lalu, Pria itu mengarahkan Gunting seng ke jari Herry.
Pria itu mencabut paksa kuku jari tangan Herry.
Herry teriak keras merintih menahan rasa sakit yang sangat, suaranya bergema didalam ruangan itu.
Di kamarnya, Yana tampak termenung, teringat akan ucapan ibu Asuh / Babbysitter Herry saat Yana datang kerumah Yenni.
Yana mengingat kembali ucapan Ibu Asuh yang mengatakan bahwa Yenni adalah istri Herry. Yana tampak menangis, menarik nafasnya.
"Kamu sudah membodohiku selama ini Mas Herry ?"
"Apa tujuanmu mendekatiku?"
Ujar Yana bicara pada dirinya sendiri, Yana tak dapat memahami dan menerima segala kenyataan yang terjadi padanya itu.
Air mata mulai menetes dipipi Yana, kesedihan dan kekecewaan terlihat jelas diraut wajahnya.
Dijalan tol menuju Jakarta, Mobil Randi meluncur dipekatnya malam itu, Mobil di stir Pak Jay kali ini, sementara kru pada tidur di jok masing masing.
Randi yang duduk disamping pak Jay yang menyetir baru saja mengirimkan sebuah pesan dihapenya.
Randi lalu memasukkan hapenya ke kantongnya, tersenyum penuh arti.
Yana tampak terlelap tidur dikamarnya malam itu, tubuh dan fikirannya sangat lelah sekali, Yana tak mendengar suara pesan yang masuk kedalam hapenya. Jam menunjukkan pukul 02:35 wib malam itu.
Pagi itu, Pak Jay membelokkan mobilnya kesebuah rest area yang ada dijalan tol menuju Jakarta. Pak Jay memarkirkan mobilnya, mematikan mesin mobil.
"Kita sarapan dulu pak Randi."
Ujar Pak Jay.
"Baik pak."
Jawab Randi lalu melirik kepada krunya yang masih tidur. Pak Jay membangunkan Erwin unit managernya.
"Bangun Win, kita istirahat dulu, sarapan."
Ujar Pak Jay pada Erwin yang duduk di jok tengah mobil, Erwin bangun mengucek matanya sebentar lalu membangunkan kru lainnya.
Yana sudah rapi, lalu Yana mengambil hapenya, melihat ke hape. ada notif pesan dihapenya.
Yana kemudian membuka pesan itu.
Isi pesan tersebut berupa sebuah rekaman video yang dikirimkan kepadanya.
Si pengirim tak dikenal karena tidak ada namanya dikontak telepon Yana, hanya tercantum nomornya saja.
"Apa lagi ini ?"
Gumam Yana. Yana lalu duduk dikursi meja rias yang ada dikamarnya.
Yana lalu mengklik video yang diterimanya di pesan wa nya .
Video itu terbuka, Yana melihat rekaman video itu.
Saat melihat didalam Video itu Herry yang terikat dikursi dengan bibir dan pelipis berdarah, Yana kaget.
"Mas Herry..?!"
Ujarnya kaget. Yana melihat ke video yang di terimanya itu, terdengar suara Herry.
"Maafkan aku Yana, aku selama ini sudah membohongi dan membodohimu"
"Sejak aku mengenalmu dulu saat dikenalkan Tika temanmu,aku menyukaimu, tapi kamu gak pernah membalas cintaku, tapi, setelah kita bertemu lagi saat acara hajatan dirumah Tika, rasa cintaku masih tetap sama seperti dulu, tapi sekali lagi kamu cuek kepadaku. Walaupun aku sudah beristri, tapi aku tetap mencintaimu."
Ujar Herry direkaman itu sambil mengatur nafasnya berusaha untuk bisa bicara tenang.
"Karena itu aku memakai cara agar kamu bisa kumiliki. Aku memakai jalan pintas dengan cara kedukun dan memakai pelet agar kamu lupa dengan suamimu dan bisa dekat denganku."
Ujar Herry.
"Setelah aku berhasil dan kamu jatuh kedalam pelukanku dan bercerai, aku dan istriku punya rencana untuk memanfaatkanmu, mengambil sedikit demi sedikit uang dan harta warismu yang ada."
Jelas Herry di video itu.
Mendengar itu Yana terhenyak, tak menyangka jika Herry benar benar hanya memanfaatkannya.
"Aku melakukan ini karena merasa kamu tolak cintaku."
"Maafkan aku Yana."
Ujar Herry ,terlihat didalam rekaman video itu, setelah ucapan Herry terakhir, sebuah pukulan menghantam wajahnya hingga jatuh kelantai, lalu kamera itu mati."
"Maass..Herry..."
Teriak Yana melihat didalam video Herry dipukul dan jatuh. Yana panik, bingung, gelisah, kecewa , semua bercampur aduk dalam dirinya.
"Criing."
Bunyi sebuah pesan dihape Yana. Yana cepat melihat pesan dan membacanya.
"Temui Herry ditempat ini."
Ujar si pengirim tak dikenal dan tak bernama itu. Didalam pesan itu ada sebuah Peta Lokasi yang mengarahkan sebuah alamat tempat Herry berada.
Yana mencoba menelpon ke nomor itu, namun nomor itu sudah tak aktif.
Terdengar nada telepon tidak aktif, Yana berkali kali mencoba telepon, tapi telepon tetap tidak aktif. Dia lantas cepat meraih tasnya, bergegas keluar dari kamarnya.
Yana menjalankan motornya dengan kecepatan tinggi, dia hendak buru buru tiba dilokasi Herry. Motor nya melaju kencang dijalanan, melewati kendaraan kendaraan lain yang ada dijalanan itu.
------
Di Rest Area, Pak Jay bersiap siap untuk membayar makanan dan minuman mereka, Pak Jay melihat Randi.
"Udah cukup istirahatnya pak ?"
Tanya Jay pada Randi yang sedang menyeruput kopinya. Setelah itu Randi meletakkan gelas kopi nya dan berdiri.
"Udah, yuk lanjut jalan lagi."
Ujar Randi pada kru nya.
Mereka mengangguk.
Pak Jay lantas membayar makanan dan minuman yang mereka pesan, sementara Randi dan kru masuk kedalam mobil. Erwin duduk di jok tengah mobil.
Tak lama Pak Jay masuk kemobil, membuka pintu depan mobil dan naik kemobil, dia menyalakan mesin mobil,Mobil pun keluar dari rest area jalan tol melanjutkan perjalanan.
Matahari sudah semakin tinggi, masuk waktu menjelang siang hari. Yana menghentikan motornya disebuah tempat, tampak sebuah rumah kosong yang disekitar halamannya penuh dengan rumput liar, rumah yang tak terurus bertahun tahun.
Yana turun dari motornya, membuka helm, lalu melangkah menuju rumah itu, perlahan dia membuka pintu rumah itu, melangkah masuk, celingak celinguk melihat seisi ruangan, dia melangkah menuju sebuah ruangan lain yang ada didalam rumah itu.
Didalam sebuah ruangan, Yana melihat Herry tergantung dengan tubuh kaku.
"Mas Herry...!!"
Yana kaget melihat mayat Herry tergantung, kaki Yana lemas seketika, Yana terkulai lemas dan duduk dilantai, wajahnya menatap tegang kearah Herry yang tergantung sudah terbujur kaku,Mati.