
Paman Mulyono mendekap dan memeluk erat tubuh Yana yang semakin panik karena rasa takutnya pada keselamatan diri anaknya, paman Mulyono berusaha menenangkan Yana yang teriak histeris menangis meraung raung meratapi anaknya. Via terdiam menatap Yana.
"Sudah, sudah, kamu tenang, jangan begini terus, kamu harus tenang agar bisa berfikir jernih." Ujar paman Mulyono. Yana terus menangis teriak.
"Dengar paman, Yana, dengar ! Dewi tidak akan kembali dengan cara kamu meraung raung teriak menangis seperti ini !" Ujar paman Mulyono, Yana terisak, mulai menahan tangisnya, dia memeluk erat pamannya, menangis dalam pelukan sang paman.
"Bagaimana hasilnya, bisa di lacak nomor telepon yang menghubungi hape bu Yana ?" Tanya Gunawan pada Kuncoro.
"Nomor hape itu sudah gak aktif, kemungkinan besar Randi sengaja memakai nomor itu sekali pakai dan langsung membuangnya, sama seperti nomor nomor yang menelpon sebelumnya." Ujar Kuncoro menjelaskan pada Gunawan yang mengangguk paham.
Suasana diruangan itu sunyi sejenak, tiba tiba telepon Yana berbunyi, mereka yang ada di ruangan itu saling pandang, melihat ke ponsel yang berbunyi, tergeletak diatas meja, Yana hendak mengambil ponsel itu, Gunawan mencegahnya.
"aktifkan pengeras suaranya, biar kita juga bisa mendengarnya." Ujar Gunawan pada Yana yang mengangguk. Yana lalu mengambil ponselnya yang berbunyi, di lihatnya sebuah nomor tak terdaftar, dia menerima panggilan telepon lalu mengaktifkan pengeras suara, kemudian Yana meletakkan ponselnya di meja.
"Sudah terima paket dariku Yana ?" Ujar Randi yang menelpon Yana.
Gunawan dan yang lainnya saling pandang begitu tahu Randi yang menelpon.
"Apa maksudmu mengirimkan itu padaku ?" Tanya Yana di ponselnya.
"Itu peringatan buatmu, karena kamu gak juga nuruti kemauanku." Ujara Randi di seberang teleponnya.
"Apa maksudmu ?!" Tanya Yana lagi.
"Kamu belum menyingkirkan polisi polisi itu, mereka masih tetap berada didekatmu." Ujar Randi dari seberang teleponnya.
Yana melirik Gunawan, Gunawan beri isyarat agar Yana terus bicara pada Randi.
"Ingat Yana, kalo kamu gak menyingkirkan polisi polisi itu, kamu akan menerima paket berisi potongan tubuh Dewi." Ujar Randi dari seberang teleponnya.
Mendengar itu raut wajah Yana marah, dia teriak di ponselnya.
"Lepaskan Dewi !! Anakku gak bersalah ! Jangan libatkan dia !" Teriak Yana di ponselnya.
Terdengar suara ketawa Randi dari seberang telepon.
"Kalo kamu mau anakmu ku bebaskan, kamu harus datang menemuiku, sendiri !" Ujar Randi dari teleponnya.
"Dimana kamu mau ketemu, bilang sekarang , biar aku datang !" Ujar Yana marah.
"Temui aku jam 5 sore ini di jalanan Malioboro, duduklah di kursi yang ada di depan Mall." Ujar Randi diteleponnya.
"Baik, aku akan datang, tapi lepaskan anakku dulu !" Ujar Yana.
"Aku akan melepaskan Dewi kalo kamu udah bersamaku nanti, kamu sebagai pengganti Dewi." Ujar Randi.
"Ingat, kamu harus datang sendirian, jangan libatkan polisi polisi itu, turuti apa kataku, jika gak mau Dewi mati !" Ujar Randi dari teleponnya, lalu menutup dan mematikan teleponnya, mengetahui ponsel sudah diputus Randi, Yana menghela nafasnya. Lalu Yana berdiri dari duduknya.
"Aku harus bersiap siap sekarang." Ujar Yana, namun langkahnya di tahan Gunawan.
"Tunggu dulu bu, jangan bertindak gegabah, ibu harus tenang." Ujar Gunawan.
"Tapi saya harus menuruti maunya, kalo saya gak datang, anak saya dibunuhnya !" Ujar Yana.
"Kalian tidak usah mengikuti saya, biar saya sendiri yang pergi menemui Randi." Ujar Yana pada Gunawan.
"Kami tidak bisa membiarkan ibu sendirian bertemu Randi, demi keselamatan ibu, mohon ikuti saran saya." Ujar Gunawan pada Yana.
"Jalanan Malioboro itu ramai orang orang, Randi gak mungkin nekat membunuhku di depan ratusan orang yang ada dijalanan itu !" Ujar Yana kesal karena dicegah Gunawan untuk menemui Randi sendirian.
"Randi sengaja memilih lokasi yang ramai orang agar dia bisa mengelabui kami dan menculik ibu, saya yakin, Randi pasti berfikir, kami akan tetap melindungi ibu walaupun dia sudah melarang ibu." Ujar Gunawan.
"Sebaiknya ibu tetap diam dirumah, kami akan menggunakan orang kami menggantikan ibu, menyamar sebagai bu Yana, dan saya akan mengatur tim saya untuk berjaga jaga dan sembunyi di sekitar Jalanan Malioboro dekat tempat yang ditentukan Randi ." Ujar Gunawan.
"Begitu Randi datang menemui orang yang menyamar sebagai ibu, kami akan menyergap dan menangkapnya ." Ujar Gunawan, Yana terdiam.
"Sebaiknya, ikuti arahan pak Gunawan, serahkan semua kepada beliau sebagai yang berwenang." Ujar paman Mulyono menjelaskan pada Yana, Yana pun menarik nafas berat, dia lalu duduk di sofanya, sementara Via yang mendengar itu hanya diam menatap wajah wajah seluruh orang orang yang ada diruangan itu. Di hati kecil Via, ada kekhawatiran akan keselamatan diri papahnya jika nanti polisi berhasil menangkapnya, di satu sisi lagi Via merasa prihatin dengan keadaan Yana , terutama Dewi yang di culik, Via merasa, papahnya sudah semakin bertindak diluar batas, dengan melibatkan Dewi. Fikiran Via bermain main dalam benaknya.
"Kita akan menyusun siasat mulai sekarang." Ujar Gunawan pada Kuncoro dan Handoko yang mengangguk padanya.
Di tempat persembunyiannya, Randi sedang bicara dengan seorang kaki tangannya, orang itu menggunakan penutup wajah dan jaket hitam yang menutupi kepalanya, wajahnya tidak terlihat.
"Ingat, begitu kamu merasa dan melihat ada bahaya, segera hubungi saya ke nomor khusus yang saya berikan di ponsel kamu." Ujar Randi.
"Siap, saya akan pantau lokasi." Ujar sosok kaki tangan Randi itu.
Randi pun mempersiapkan dirinya untuk segera datang ke lokasi yang sudah ditentukannya pada Yana.
Gunawan dan timnya bersiap siap hendak pergi, Yana, Via dan paman Mulyono juga ada diruangan itu.
"Kami berangkat sekarang bu, saya sudah menugaskan empat orang yang berjaga di sini menemani ibu." Ujar Gunawan pada Yana yang mengangguk.
Gunawan dan tim pergi meninggalkan Yana, Via dan paman Mulyono, setelah kepergian Gunawan dan tim kepolisiannya, paman Mulyono menatap wajah Yana.
"Paman ada undangan pertemuan sore ini, kamu paman tinggal gak apa kan ?" Tanya paman Mulyono pada Yana.
"Nggak apa paman, ada Via yang nemaniku." Ujar Yana dengan suara lemah dan datar, dia berusaha tersenyum pada pamannya.
"Ya sudah kalo gitu, paman berangkat dulu ya. Ingat, tetap diam didalam rumah." Ujar paman Mulyono, Yana mengangguk, paman Mulyono lalu pergi keluar rumah.
Yana berbalik melangkah ke ruang keluarga, dia berdiri di samping sofa, didekat meja yang ada vas bunga di situ, sementara Via menutup pintu rumah, lalu berbalik melangkah menuju tempat Yana.
Sore itu, terlihat suasana ramai dengan para pejalan kaki yang berlalu lalang di sekitar jalanan Mallioboro , terlihat seorang wanita duduk di kursi taman depan sebuah Mall , penampilan wanita tersebut sangat mirip dengan Yana, pihak kepolisian sengaja menggunakan wanita itu dan merias dirinya agar mirip dengan Yana.
Di sudut sudut ruko ruko dan toko toko yang ada di sekitar itu, terlihat personil kepolisian bersembunyi dan bersiap siap mengawasi serta menunggu kedatangan Randi di situ.
Gunawan bersembunyi di dalam mall, samping pintu masuk, melihat ke arah wanita yang menyamar sebagai Yana, sementara Handoko dan Kuncoro duduk di sebuah kursi, tak jauh dari tempat wanita yang menyamar itu, mereka menyamar sebagai pengunjung sambil mata mereka terus mengintai mengamati sekitar.
Dari dalam sebuah toko pakaian, tidak jauh dari tempat wanita yang menyamar sebagai Yana duduk, Sosok pria kaki tangan Randi berdiri di depan etalase melihat ke luar jalanan, dari dalam toko pakaian itu, dia bisa jelas melihat dan mengamati sekitar jalanan.
Jam menunjukkan pukul 17:00 wib.
Beberapa menit kemudian, terlihat seorang pria tua berpenampilan rambut putih bertopi koboi, memakai jenggot dan kumis serta perut buncit melangkah dijalanan itu menuju ke arah wanita yang menyamar sebagai Yana.
Pria tua yang ternyata Randi sedang menyamar sebagai pria tua itu melihat sosok wanita yang duduk di kursi depan mall, lalu dia melanjutkan langkah kakinya.
Dari dalam toko pakaian sosok pria kaki tangan melihat kedatangan Randi yang menyamar sebagai pria tua, pandangan matanya dia arahkan ke sekitar jalanan, melihat situasi, sosok pria kaki tangan Randi melihat dua polisi yang berdiri di dekat wanita yang menyamar sebagai Yana, dua polisi itu bolak balik melihat ke arah wanita yang menyamar sebagai Yana, sosok pria kaki tangan Randi menyusuri pandangan matanya kearah lain, dia melihat Handoko dan Kuncoro yang berada di dekat wanita yang menyamar sebagai Yana itu, lalu sosok pria kaki tangan Randi menegaskan pandangannya, dia melihat dengan menggunakan teropong, terlihat jelas sosok wanita yang duduk di kursi bukan Yana, melihat hal itu, sosok pria kaki tangan Randi langsung mengambil ponselnya dan menelpon.
"Batalkan misi, ini jebakan !" Ujar sosok pria kaki tangan Randi memberi tahu pada Randi melalui telepon.
Randi yang menyamar sebagai pria tua menerima telepon dari kaki tangannya, dia bersikap wajar dan berjalan pelan sambil mendengarkan suara yang menghubunginya di telepon, mengetahui bahwa polisi sedang mengintai untuk menjebaknya, Randi yang menyamar tersenyum tipis, dia memasukkan kembali ponsel ke kantong bajunya, berjalan santai dengan sikap wajar.
Gunawan dan timnya terus berjaga dan bersiap siap di posisi mereka masing masing, wanita yang menyamar sebagai Yana itu masih duduk menunggu, dia melirik ke sekitarnya, mencari cari dan mengamati orang orang yang berjalan disekitar tempat itu, tak terlihat Randi .
Randi yang menyamar sebagai pria tua terus berjalan menyusuri jalanan itu, dia mendekat ke arah wanita yang menyamar sebagai Yana, dengan sikap wajar seolah sebagai wisatawan yang datang ke tempat itu, Randi berjalan, saat dia dekat dengan wanita yang menyamar sebagai Yana, Randi meliriknya, Randi pun tahu kalau wanita yang duduk itu bukan Yana, tapi polisi yang menyamar dan menggantikan Yana. Randi terus jalan melewati wanita itu, pergi meninggalkan tempat tersebut.
Tidak ada satu orang polisi yang mengintai di tempat itu mengetahui Randi , penyamarannya sempurna sebagai pria tua dengan perut buncit, dia tak dapat dikenali, dan bisa bergerak bebas di tempat itu. Sosok pria kaki tangan Randi pun keluar dari dalam toko pakaian setelah melihat kepergian Randi dari jalanan itu, dia segera menyusul Randi.
Di sudut sebuah gang, disamping sebuah ruko yang ada di sekitar jalan Malioboro itu Randi bersembunyi, sosok pria kaki tangannya tiba ditempat itu dan mendekati Randi.
"Kamu tunggu di mobil, ada hal yang harus saya lakukan." Ujar Randi pada kaki tangannya.
"Siap." Jawab kaki tangan Randi, Kaki tangan Randi lalu bergerak pergi meninggalkan Randi, Randi lalu berjalan kearah lain.
Di pinggir jalan sekitar Malioboro, seorang personil polisi duduk di dalam mobil menunggu, dia ditugaskan Gunawan menunggu di mobil untuk bersiap siap jika Randi berhasil di bekuk.
Randi yang masih menyamar sebagai pria tua itu melangkah mendekati mobil personil polisi, dia mengetuk kaca mobil, personil polisi yang ada di dalam mobil melihat ke Randi, Randi segera membuka pintu mobil itu, begitu pintu mobil terbuka, dengan gerak cepat Randi menghujamkan pisau ditangannya ke dada dan perut personil polisi yang kaget melihat Randi membuka pintu mobil, dia tidak siap dengan serangan Randi, personil polisi itu pun mendapatkan luka luka di dada dan perutnya, darah mengalir keluar dari dada dan tubuhnya.
"Mau coba coba bermain main denganku ya ! Ku antar kau ke neraka !" Ujar Randi dengan menyeringai tajam, dia menusuk berkali kali keperut personil polisi, lalu, mengakhirinya dengan menyayat leher personil polisi, setelah puas, Randi pun menutup pintu mobil lalu pergi meninggalkan tempat itu. Tak ada yang mengetahui aksi brutal Randi saat itu, karena posisi parkir mobil personil polisi itu di sudut jalan yang sepi, sengaja memilih tempat itu agar Randi tidak tahu jika ada mobil polisi yang menunggunya.
Randi melangkah dengan cepat sambil melepaskan rambut palsunya serta jenggot dan kumis, lalu membuang semuanya di tempat sampah yang ada di sekitar jalanan itu, Randi membuka bajunya, lalu melepaskan bajunya serta buntelan busa yang ada diperutnya, buntelan busa digunakan untuk membuat perut Randi kelihatan buncit, Randi berjalan menuju tempat dimana kaki tangannya sudah menunggu dengan mobilnya. Tiba ditempatnya, Randi langsung masuk ke dalam mobil, duduk di jok depan samping supir, sosok kaki tangan lalu menyalakan mesin mobil dan menjalankan mobil untuk segera pergi meninggalkan tempat itu.
Gunawan keluar dari dalam mall, dia mendekati wanita yang menyamar sebagai Yana, di ikuti dua personil polisi yang bersembunyi dan juga Kuncoro serta Handoko, mereka berkumpul, memandang sekitarnya.
"Dia gak datang." Ujar Gunawan, wajahnya terlihat kesal karena gagal menangkap Randi.
"Apa mungkin dia tau penyamaran kita ini ?" Ujar Handoko pada Gunawan.
"Bisa saja begitu, dia tahu kalo ada kita, lalu membatalkan niatnya menangkap bu Yana." Ujar kuncoro.
"Ya sudah, kita balik kerumah sekarang, kita susun rencana lainnya." Ujar Gunawan.
Gunawan dan tim beserta wanita yang menyamar sebagai Yana pergi meninggalkan tempat itu, ada kekecewaan dan kekesalan pada diri mereka, karena lama menunggu dan gagal meringkus Randi.
Gunawan dan tim mendekat ke mobil polisi yang terparkir di sudut jalan, Kuncoro lalu membuka pintu depan mobil, dia kaget melihat personil polisi yang sudah mati dengan darah yang ada di sekitar tubuh dan mobil.
"Siaaalll !!" Ujar Kuncoro kesal, Gunawan dan yang lain melihat personil polisi mati menjadi sangat marah.
"Setaaan !! Dia berhasil mengelabui kita !" Ujar Gunawan geram, dia sangat marah sekali melihat anak buahnya mati, menjadi korban sadis Randi.
"Aku akan menangkapmu Randi, tidak akan ku berikan ampunan buatmu !" Ujar Gunawan geram.
Di tempat persembunyiannya, Randi terlihat wajahnya menahan amarah yang meluap luap dalam dirinya.
"Kamu benar benar merendahkanku Yana, kamu benar benar mempermainkanku !" Ujar Randi geram. Dia lalu mengambil ponselnya, menghubungi Yana.
Terdengar suara Yana dari seberang telepon, menerima panggilan telepon Randi.
"Kamu mau main main denganku Yana, kamu kira, dengan menyuruh polisi menyamar sebagaimu aku tertipu ?! Ingat akibatnya, karena kamu sudah merendahkanku dengan tidak menuruti perintahku, maka aku akan membunuh anakmu !" Teriak Randi penuh amarah.
Di sebuah kamar , Yana yang sedang menerima telepon Randi terlihat wajahnya tenang sekarang, tak ada lagi rasa takut diwajahnya menghadapi dan mendengar suara Randi, Yana tersenyum tipis.
"Tunggu Randi, jangan matikan teleponmu, aku akan mengirim sebuah video buatmu. Pasti kamu menyukainya." Ujar Yana. Dia lantas segera mengirimkan sebuah video ke nomor telepon Randi.
Ditempatnya, Randi terlihat marah mendengar perkataan Yana padanya itu.
"Video ? Apa maksudmu ?" Tanya Randi, tapi tak ada suara jawaban dari Yana.
Masuk sebuah pesan di ponsel Randi, ada sebuah file video yang di kirimkan Yana ke ponsel Randi, dia heran melihat itu, lalu cepat membuka file video tersebut. Wajah Randi berubah pucat dan semakin menahan amarah saat melihat video yang di kirim Yana padanya.
Di dalam video itu, terlihat jelas Via di ikat pada sebuah kursi dengan kepalanya yang berdarah dan terluka.
"Setaaaannn !! Keparat kamu Yana, keparaaattt !!" Ujar Randi teriak mengamuk begitu melihat Via, anaknya di ikat Yana, Randi dengan kalap memukul kaca yang tergantung di dinding ruangan itu dengan tangannya hingga retak dan pecah. Tangan Randi berdarah terkena serpihan pecahan kaca, Randi sangat marah sekali saat itu.