
Siang itu, Via melangkah masuk kedalam rumah dengan langkah gontai, wajahnya murung, tampak raut kesedihan tersimpan dalam dirinya, dia meletakkan rantang kosong yang dibawa nya dari rumah Budenya di meja ruang tamu, saat hendak masuk ke kamar, dia berpapasan dengan neneknya yang baru selesai mencuci pakaian.
"Udah pulang, kirain nenek ntar sore pulangnya."
Ujar neneknya pada Via yang terlihat lesu, Via menatap wajah neneknya.
"Iya Nek, Via kan gak betah kalo lama lama nginap di rumah orang."
Jawabnya datar.
"Via Istirahat dulu ya nek, kepala Via sakit, pusing."
Ujarnya lemah, Jumirah mengangguk, Via lalu melangkah masuk kedalam kamarnya, melihat wajah sedih Via, Jumirah tahu, bahwa Via sudah mendapat kejelasan tentang papahnya dari Bude Intan. Jumirah menghela nafas, lalu melangkah keruang tamu, dia mengambil rantang kosong yang ada di atas meja, membawanya ke dapur.
Via dengan langkah gontai merebahkan tubuhnya di kasur, tatapannya nanar, menatap kosong langit kamarnya, sekosong hatinya saat itu. Dia masih belum bisa menerima kenyataan tentang papahnya.
Randi sedang menelpon seseorang, wajahnya terlihat serius saat bicara di telpon.
"Iya, harus secepatnya, udah gak ada waktu lagi, harus dibereskan sebelum Polisi terus mengejar."
Ujarnya, lalu menutup teleponnya, wajah tegang dan serius tampak pada air mukanya, tatapannya tajam. Untuk beberapa saat dia terdiam, lalu kemudian, dia memencet sebuah nomor telpon lagi.
"Hallo Pak Ramesh, maaf Pak, saya mau izin ke bapak, untuk beberapa bulan ke depan saya izin gak lanjut dulu garap sinetron, biar Bram, asisten saya yang lanjutin. Nanti kalo udah beres semua saya kabari Bapak, Iya Pak, terima kasih."
Ujarnya, lalu menutup teleponnya, dia mengantongi ponselnya, berjalan menuju mobilnya yang terparkir di pinggir jalan, dia menyalakan mesin mobil, lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Jumirah mendekati Via yang sedang menonton acara di tivi malam itu, matanya melihat kearah tivi, tapi tatapannya kosong, dia melamun.
"Gimana kabar Bude Intan ?"
Tanya Jumirah pada Via yang lantas tersadar dari lamunannya karena ditanya neneknya.
"Baik Nek."
Ujar Via datar masih melihat ke arah tivi, wajahnya masih menyimpan duka yang mendalam.
"Udah cerita Bude ke kamu?"
Tanya Jumirah, Via mengangguk lemah, dia menatap wajah neneknya itu.
"Maaf ya nek, Via gak mau cerita soal itu sekarang."
Ujarnya, Jumirah mengerti perasaan Via, dia tersenyum mengangguk, lalu pergi meninggalkan Via yang duduk di sofa menatap kosong ke layar tivi, dia membiarkan Via dengan kesendiriannya.
Di kantor kepolisian Bareskrim Klaten, Polisi 1 melangkah cepat dan masuk kedalam kantor Kapten Polisi dengan membawa berkas laporan.
"Maaf Kapten, saya dapat info penting tentang Randi."
Ujar Polisi 1 berdiri dihadapan Kapten Polisi yang duduk di kursi meja kerjanya.
"Info apa itu ?"
Tanya Kapten Polisi .
"Tentang Pembunuhan yang terjadi di rest area Tol Batang semarang."
Ujar Polisi1.
"Dari hasil investigasi kepolisian yang mengusut kasus pembunuhan tersebut, di dapat seorang pelaku dari cctv yang ada di lokasi."
Jelas Polisi 1.
"Bukannya rest area itu belum dilengkapi cctv ?"
Ujar kapten Polisi.
"Betul Kapten, tapi ternyata ada satu cctv yang terpasang di sudut rumah makan yang berada tepat disamping wc umum."
"Dari rekaman cctv itu terlihat, bagaimana cara pelaku membunuh korban saat di depan pintu masuk wc umum."
Jelas polisi 1, dia lalu mengambil sebuah flash disk dari dalam amplop coklat yang dibawanya.
"Ini berkas berkas tentang olah tekape di rest area, dan ini hasil rekamannya Kapten."
Ujar Polisi 1 memberikan berkas laporan kepada Kapten Polisi yang menerima dan melihat berkas itu, Saat melihat Flash disk di tangan Polisi 1, Kapten Polisi cepat mengambil laptopnya yang tergeletak di atas meja kerjanya.
"Cek Flash disk itu."
Ujar Kapten Polisi, Polisi 1 melangkah mendekati laptop, memasang flash disk ke laptop, lalu mengklik sebuah file yang tersimpan dari flash disk, Kapten Polisi mengamati dengan serius, ingin mengetahui apa yang terjadi didalam rekaman cctv itu.
Masih ingat dengan Bab awal tentang kematian seorang pria pemilik mobil sedan di rest area?
Dalam rekaman cctv terlihat jelas kronologi pembunuhan terjadi.
Saat malam terjadinya pembunuhan di rest area jalan tol satu tahun yang lalu.
Randi melangkah ke arah wc umum, dia berpapasan dengan pemilik mobil sedan yang sebelumnya bertengkar dengan driver rental dan dirinya, saat berpapasan itu, posisi Randi sangat dekat dengan pria pemilik mobil sedan, hampir tubuh mereka bersenggolan, ditangannya Randi memegang sebuah pisau lipat, dengan gerakan cepat, pisau menyayat leher pria pemilik mobil sedan yang tak sadar akan hal itu, pemilik sedan berjalan menuju parkiran, Randi masuk kedalam wc umum.
Kembali ke Kantor Kapten Polisi, pada saat ini.
Polisi 1 mempause adegan yang menunjukkan posisi Randi dan pria pemilik mobil sedan saat berpapasan dengan sangat dekatnya, Kapten Polisi mengambil mouse laptop, mengklik gambar, dia memilih menu slow motion.
Gambar rekaman cctv bergerak lambat, menampilkan gambar saat Randi bergerak menyayatkan pisau yang dipegangnya ke leher pria pemilik mobil sedan sebagai korban, Kapten polisi mempause di bagian gambar itu lalu memperbesarnya, terlihat di gambar rekaman itu, tangan memegang pisau berada di leher korban.
"Ini membuktikan bahwa pelaku pembunuhan di rest area itu, Randi, Tersangka Pembunuhan Berantai!"
Ujar Kapten Polisi, Polisi 1 mengangguk, membenarkan ucapan Kaptennya itu.
"Iya Kapten, wajahnya terlihat jelas dalam rekaman cctv itu, beruntung kita mendapatkan rekaman ini."
Ujar Polisi 1.
"Kerja baik, bagus ada rekaman cctv ditempat kejadian, jika tidak, akan sulit mengungkap kasus pembunuhan itu."
Ujar Kapten Polisi. Polisi 1 mengangguk puas karena mendapatkan bukti yang akurat. Kapten Polisi tampak berfikir, lalu dia berkata pada Polisi 1.
"Kenapa tersangka membunuh korban di rest area itu? apa motifnya ? Pembunuhan yang terjadi di rest area berbeda dengan korban korban sebelumnya, semua punya bukti yang sama, hanya korban di rest area yang berbeda."
Ujar Kapten Polisi berfikir keras kenapa Randi membunuh korban di rest area, dan pola pembunuhannya berbeda dengan sebelumnya dilakukannya.
"Mungkin saat itu tersangka mendadak harus membunuhnya tanpa direncanakan sebelumnya Kapten, mengingat cara membunuhnya berbeda."
Ujar Polisi 1.
"Cari informasi tentang malam kejadian itu, dimana sebelumnya tersangka Randi, dan bersama siapa dia malam itu, tanyain para pedagang yang ada di sekitar rest area, mungkin diantara mereka ada yang tahu kejadian sebelum terjadinya pembunuhan."
Ujar Kapten Polisi.
Ujar Polisi 1 beri hormat, Kapten Polisi mengangguk, lalu Polisi 1 cepat berbalik dan keluar dari ruang kantor Kapten Polisi yang tampak sedang berfikir tentang motif Randi membunuh di rest area tersebut.
Cafe milik Yana cukup ramai pengunjung yang datang malam itu, diantara pengunjung yang ada di cafe, tampak seorang pria bertopi duduk di sebuah kursi yang ada di sudut ruangan, dia memilih duduk di sudut itu menghindar agar dirinya tidak terekam cctv yang sengaja dipasang Yana, Yana memasang cctv untuk berjaga jaga setelah kejadian yang menimpa Herry dulu.
Pria bertopi itu memakai maskernya, menutup wajahnya, tangan nya meletakkan dan menempelkan sesuatu di bawah meja cafe, lalu dia berdiri, melangkah ke meja kasir, membayar makanannya, lalu melangkah keluar cafe.
Beberapa waktu berselang, para pengunjung sudah tidak ada lagi, karyawan karyawati bersiap siap untuk menutup cafe, mereka berberes, setelah rapi semua, mereka pun saling berpamitan keluar cafe.
Diluar Cafe karyawan karyawati cafe pulang, tinggal karyawati kasir yang sedang menutup rolling door cafe dan menggemboknya, setelah dirasanya semua aman, cafe sudah tertutup, dia melangkah ke motornya yang terparkir, untuk kemudian pergi dari tempat itu.
Di kejauhan , sosok pria yang tadi ada di dalam cafe mengintai, wajahnya tidak terlihat karena ditutupi masker dan memakai topi, pakaiannya serba hitam, sorot matanya menatap tajam kearah cafe milik Yana. Tangan pria itu memegang sebuah remote control berukuran kecil, dia lalu menekan tombol on dari remote control yang dipegangnya.
Didalam cafe, tepat dibawah meja, sesuatu yang diletakkan dan ditempelkan Pria misterius itu ternyata sebuah Bom rakitan, saat Pria misterius menekan tombol on, Bom rakitan itu menyala, terlihat angka waktu yang aktif, pada Bom rakitan yang sengaja diletakkan didalam cafe itu tertera angka menunjukkan waktu aktif "1 : 00 menit." yang berdetak mundur.
Sosok pria misterius itu lalu naik ke motornya, menyalakan mesin motor, memakai helmnya, lalu pergi meninggalkan cafe itu, beberapa detik kepergian sosok pria itu, terdengar dentuman keras dari arah cafe, Cafe milik Yana meledak, menghancurkan seluruh isi yang ada di cafe itu. Api tampak mulai membesar membakar seluruh ruangan cafe, dentuman keras terdengar membuat kaget orang orang disekitar.
Di pinggir sawah yang sepi malam itu, sosok pria misterius sedang menelpon seseorang.
"Sudah dihancurkan."
Ujarnya lalu menutup telponnya, dia memasukkan telponnya ke dalam kantong celananya, lalu menyalakan mesin motornya dan pergi meninggalkan tempat itu.
Mobil pemadam kebakaran tiba di depan cafe, petugas pemadam kebakaran dengan sigap dan cepat menyemprotkan air dari mobil pemadam ke arah tempat api berkobar, orang orang ramai datang melihat, Beberapa petugas Polisi tiba di cafe, langsung mengamankan lokasi, memberikan pembatas jarak antara orang orang dan lokasi kejadian.
Yana terhenyak, dia terduduk lemas dilantai rumahnya, di tangannya sebuah ponsel, dia baru saja mendapatkan kabar tentang cafe nya yang tiba tiba meledak dari polisi yang datang kerumah dan memberikan kabar padanya pagi itu.
"Kami sedang menyelidiki sebab terjadinya kebakaran dan ledakan di cafe ibu."
Ujar Petugas Polisi pada Yana yang hanya terdiam, terduduk di lantai, dia syok , tak bisa berkata kata. Badrun yang memang sedang berada dirumah Yana, berusaha menenangkannya. Badrun mengangkat tubuh Yana yang lemas itu.
"Terima kasih kabarnya Pak."
Ujar Badrun pada kedua Polisi yang datang memberikan laporan pada Yana.
"Kami permisi dulu, nanti kami kabari untuk perkembangan selanjutnya."
Ujar Petugas Polisi pada Badrun yang mengangguk, kedua polisi itu lalu pergi meninggalkan Yana dan Badrun, Tubuh lemah Yana di bawa Badrun ke sebuah kursi yang ada diruang itu, dia mendudukkan Yana ri kursi, tampak air mata mengalir di pipinya.
"Apa sebenarnya yang sedang terjadi padaku Mas ?"
"Kenapa musibah terus mengikutiku?"
"Aku seperti sedang mimpi buruk."
Ujar Yana datar dan menangis terisak sedih, Badrun menghela nafasnya.
"Kita tunggu info dari polisi, apa penyebab kebakaran di cafe."
Ujar Badrun menenangkan Yana, Yana menghapus air matanya, menarik nafas berat. Raut wajahnya menunjukkan kesedigan mendalam, dia sedang meratapi nasibnya saat itu.
Siang itu, Yana mendatangi cafe nya yang sudah hancur, sisa sisa puing bekas terbakar terlihat di situ, Yana melangkah gontai menatap cafenya.
"Usaha yang kurintis hancur dalam sesaat."
Gumamnya bicara sendiri menatap pada cafenya, dia tak sadar kalau air matanya menetes, mengalir di pipinya, kesedihan merambat didalam jiwanya.
Di sebuah taman rekreasi yang ada di Jogjakarta, terlihat Randi sedang berada disana, menikmati suasana di tempat itu, Randi mengamati orang orang yang berlalu lalang di tempat itu, lokasi wisata itu ramai dipenuhi pengunjung, Pandangan Randi tertuju pada seorang ibu yang sedang memberikan jajanan pada seorang anak berusia 7 tahun, Ibu itu tersenyum bahagia mengelus rambut anaknya, sang anak tertawa bahagia menatap ibunya. Randi menatap lekat kearah ibu dan anak itu. Dia tampak tersenyum senang, tak di sadarinya air matanya mengambang diantara kelopak matanya, dia mengingat ibunya.
"Randi kangen Mama..."
Ujar Randi pada dirinya sendiri, tatapan matanya kosong jauh ke depan, saat itu, dia merasakan kerinduan akan sosok ibu kandungnya, Mamanya yang telah meninggal.
"Cuma mama yang ngertiin Randi, hanya mama yang bisa menenangkan Randi, mengerti kemauan Randi..."
"Randi lelah dengan semua ini Ma, Randi ingin cepat cepat mengakhiri kehidupanku ini."
Ujarnya, air mata menetes di pipinya, Randi menangis meratapi dirinya dan menahan kerinduan yang begitu mendalam pada mamanya, sosok orang yang sangat disayanginya.
"Aku harus segera membalas apa yang kau perbuat padaku Yana."
Ujarnya tiba tiba dengan tatapan mata tajam, mulutnya menyeringai, wajahnya saat itu tampak menyeramkan, dia menahan geramnya, mengepalkan jari tangannya.
Via mendekati neneknya yang sedang menjemur pakaian di halaman samping rumahnya.
"Nek, apa papah gak pernah datang lagi kerumah kita?"
Tanyanya dengan wajah masih menyimpan sedih, Jumirah menghentikan pekerjaannya menjemur, dia menatap Via.
"Papahmu gak pernah datang , terakhir ya pas dia datang bawa hadiah hape dan kamu gak mau nemuinya."
Ujar Jumirah, Via terdiam, sesaat dia tercenung, Jumirah melihat wajah Via.
"Kamu kangen Papahmu? Kenapa gak kerumahnya, temui papah."
Ujar Jumirah.
"Papah gak ada dirumahnya nek, Via udah datang berkali kali kerumahnya, menunggu dan berharap papah pulang, Via bisa ketemu, tapi, papah gak juga pulang kerumah."
Ujar Via menangis, Jumirah menghela nafasnya, menepuk bahu Via, menenangkannya.
"Mungkin lagi sibuk kerja."
Ujar Jumirah.
"Gak tau nek. Iya kali."
Jawabnya datar, lalu pergi meninggalkan Jumirah yang menatap kepergiannya dengan rasa iba, Jumirah lalu kembali menjemur pakaian yang habis di cucinya.
Yana yang saat itu berada di kantor polisi terhenyak mendengar penjelasan dari Polisi tentang cafenya.
"Ada bom di cafe saya?!"
Ujarnya tak percaya, dia kaget mengetahui hal itu dari polisi, bahwa penyebab cafenya terbakar dan meledak karena bom.
"Iya bu, dari hasil yang kami temui di tekape, petugas kami menemukan sisa sisa pecahan bom rakitan didalam cafe."
Ujar Petugas Polisi.
"Dengan bukti yang kami dapat, kami menetapkan bahwa ledakan berasal dari bom yang sengaja diletakkan didalam cafe."
Petugas Polisi menjelaskan lagi pada Yana yang hanya bisa terdiam saja.
"Kami masih mencari bukti lainnya dari rekaman cctv cafe ibu, mudah mudahan, rekaman cctv masih bisa dipulihkan dan bisa ditemui pelakunya."
Jelas Petugas Polisi pada Yana yang mengangguk, dia tampak syock, jantungnya berdegup kencang, dia terdiam, wajahnya menyimpan rasa panik, cemas, bingung dan kesedihan.