Go To Hell

Go To Hell
Bab 27



Di dalam kamarnya, Sita sedang melipat pakaian pakaian nya dan memasukkan nya kedalam koper yang ada di atas ranjang, dia merapikan pakaian pakaian yang ada di dalam koper .


Jumirah, Ibunya Sita masuk ke dalam kamar,melangkah mendekati Sita yang sedang merapikan pakaian pakaian nya .


"Sudah kamu ceritaian ke Via semua nya ?"


"Belum Ma."


Jawab Sita masih dengan sibuk mengambil pakaian pakaian dari dalam lemari pakaian lalu memasukkan pakaian pakaian itu ke dalam koper nya.


"Kok belum? Mau kapan kamu ceritain kalo kamu udah mau pergi?"


Ujar Jumirah.


"Rencana hari ini Ma, Via libur kerja, aku udah janji sama dia."


Ujar Sita menutup koper nya lalu mengunci nya. Jumirah lega mendengar nya.


"Syukurlah kalo kamu mau jujur ceritain ke Via."


"Kasihan Via, dia memang harus tau bagaimana papah nya."


"Mudah mudahan Via bisa menerima kenyataan nanti nya."


Ujar Jumirah, Sita mengangguk lemah menatap Jumirah yang tersenyum pada nya.


Jumirah lalu melangkah keluar kamar Sita, meninggalkan nya sendiri di dalam kamar .


Tepuk tangan,sorak sorai para kru dan pemain riuh terdengar menyambut kehadiran Randi kembali di Lokasi Syuting hari itu.


Randi tampak senang melihat sambutan yang diberikan pada nya.


"Syukurlah gak terjadi apa apa dengan Bapak."


"Kami khawatir liat Pak Randi di bawa Polisi kemaren."


Ujar Pak Jay, Randi tersenyum menepuk bahu Pak Jay, memandang seluruh kru dan pemain nya.


"Polisi cuma minta keterangan saya saja sebagai saksi, bukan tersangka."


Ujar Randi tertawa, Pak Jay pun ikut tertawa mendengar perkataan Randi itu.


"Iya Pak, Saya Erwin dan tim yang ikut hunting ke Jogja juga sempat ditanyain polisi kemaren, kata nya mau menyamakan keterangan kami dengan pak Randi saat itu."


Jelas Pak Jay.


"Iya Pak, sekarang udah clear masalah nya."


Ujar Randi.


"Braaammm...!!"


Panggil Randi dengan keras pada Bram, Asisten nya yang lantas berlari cepat menghampiri nya.


"Siap Pak."


Jawab Bram berdiri di hadapan Randi.


"Adegan apa sekarang ?"


Tanya Randi pada Bram, Bram menunjukkan skenario ,Randi membaca adegan dalam Skenario yang di tunjuk Bram itu, Sementara Pak Jay,Pimpinan Produksi mereka pergi meninggalkan Randi dan Bram.


"Ya udah, kasih tau make up costum biar nyiapin pemain buat adegan ini."


Ujar Randi.


"Siap, semua udah siap, stand by Pak, tinggal Take !"


"Camera, Lampu ,properti semua sudah ready di set, tinggal action."


Jelas Bram, Randi menatap wajah Bram yang tampak serius wajah nya berdiri didepan Randi.


"Ok, kita mulai."


Ujar Randi ,lalu melangkah menuju kursi khusus nya yang sudah tersedia di depan meja monitor.


"Semua stand baaaayyyy....!!"


Teriak Bram memberi kan aba aba bahwa Syuting akan segera di mulai, Randi duduk di kursi nya, memakai head set di kepala nya.


"Caaameeerrraaa...!!"


Teriak Randi memberi kan aba abanya untuk memulai proses Syuting hari itu.


"Roooolll !"


Jawab Cameraman.


"Aacctiiiooonn !!"


Teriak Randi, lalu Para Pemain pun terlihat beradu acting mereka di set, Set adegan saat itu sebuah taman yang sangat Indah dan romantis, sengaja di setting oleh tim Artistik ,karena adegannya saat itu adalah adegan Pernikahan .


Sita duduk di sofa ruang keluarga rumah nya, wajah nya memperlihatkan kegelisahan dan rasa cemas, namun berusaha di simpan nya, dia tak ingin Via melihat semua itu dan menjadi semakin bingung nanti nya.


Tak lama kemudian Via datang mendekati Sita, lalu duduk di hadapan Mama nya .


"Via udah siap Ma."


Ujar nya tersenyum manis pada Mama nya yang lantas membalas senyum nya itu.


Sita menarik nafas nya berat, menatap wajah Via, anak nya dengan lekat. Via tersenyum pada nya.


"Sudah saat nya kamu tahu sebuah rahasia yang selama inj mama simpan."


Ujar Sita, mendengar itu Via mengernyitkan kening nya, menatap wajah mama nya heran.


"Dulu, saat kami baru menikah, Mama dan Papahmu hidup bahagia, Papahmu orang yang benar sangat mencintai Mama ,dia pandai menghibur dan memberi kebahagiaan pada Mama."


Mendengar itu Via tersenyum senang, menatap wajah Mama nya yang melanjutkan cerita nya.


"Kebahagiaan itu semakin kami rasakan saat kehadiranmu, Papahmu begitu bahagia karena kamu lahir, Dia semakin sayang dan mencintai Mama dan juga kamu."


"Karir Papahmu pun semakin sukses setelah kehadiran kamu, Papahmu semakin semangat bekerja, dia benar benar pekerja keras."


"Syuting pagi pulang pagi setiap hari dilakukan Papahmu demi memberikan semua kebahagiaan buat kamu, anak tersayang nya."


Ujar Sita tersenyum mengelus pipi Via yang juga tersenyum bahagia mendengar nya.


"Hingga akhir nya, Kebahagiaan itu dikit demi sedikit berkurang."


"Saat kamu berumur 6 Tahun, Karir Papahmu mulai naik turun, karena Perusahaan nya memakai dua sutradara dari luar selain Papahmu, itu permintaan stasiun tivi agar sutradara nya bukan cuma Papahmu saja."


"Papahmu juga menjadi uring uringan, kadang sikap nya baik, ramah, menyenangkan, tapi kadang tanpa sebab dia marah, uring uringan di rumah."


"Hingga akhirnya, Produksi syuting di stop, kontrak tayang tidak diperpanjang pihak tivi karena rating anjlok."


"Papahmu sempat protes, karena menurutnya rating anjlok itu karena ada nya banyak sutradara yang ngerjain project serial."


"Bos nya udah pasrah, akhirnya membubarkan seluruh tim dan menghentikan kegiatan operasional kantor nya. Off tanpa batas waktu ditentukan."


"Saat itu Papahmu menganggur, keuangan makin menipis, sementara kebutuhan semakin banyak, yang utama untuk biaya sekolah dan kebutuhan pokok lainnya."


"Mama akui, karena hal itu kami sering terlibat cekcok jadi nya."


Sita menarik nafas, Via serius mendengarkan semua yang diceritakan Mama nya itu.


Tatapan Sita menerawang ke depan, mengenang pada saat Masa Lalu dulu bersama Randi.


Saat itu, 10 Tahun Lebih yang Lalu.


Sita dan Randi terlibat pertengkaran di dalam rumah nya itu.


"Kok kamu nyalahin aku ?"


Ujar Sita.


"Iya, karena kamu gak bisa mengatur keuangan dengan benaar!!"


"Aku kan udah bilang, rejeki ku rejeki harimau, kadang dapat, kadang berbulan bulan gak ada job, nganggur !"


"Kamu harusnya gunakan yang bener uang dariku, bukan dihambur hamburkan, kalo udah begini, aku nganggur, kamu bisa nya cuma menuntut saja !"


Ujar Randi.


"Heee Randi !! Aku gak pernah minta uangmu ya, semua karena kamu yang kasih, aku udah bilang, jangan semua uang hasil yang kamu dapat kamu kasih kan ke aku, di simpan buat jaga jaga, buat biaya tak terduga !"


"Tapi kamu bilang gak apa,uangmu itu adalah uangku juga, wajib buatku kamu bilang ! Lantas, siapa yang salah ?!"


"Aku juga gak buang buang duitmu begitu aja, semua ku gunakan sesuai kebutuhan, Buat makan sehari hari, buat kebutuhan Via ,anak kita, buat renovasi rumah!"


Jelas Via.


"Aaahhh, Alasan aja kamu !"


Teriak Randi.


"Semua pengeluaran yang aku lakukan pake uang mu kucatat dalam buku, bukti bukti kwitansi pun ada ku simpan kalo kamu gak percaya !"


Tegas Sita.


"Kalo kamu gunakan sesuai kebutuhan, gak kan mungkin semua uang ditanganmu habis, uang yang kuhasilkan itu puluhan juta, bahkan ratusan juta !"


"Kamu kemanakan sisa uang nyaaa!!!??"


Teriak Randi melotot pada Sita, Air mata Sita mengambang dikedua mata nya,menahan tangis mendengar ucapan Randi yang mempertanyakan uang yang sudah diberikannya itu.


"Kamu tanya aku kemanakan uangmu?"


"Iyaaa !!"


Jawab Randi tegas.


"Kamu nanyain uang yang udah kamu kasih ke aku sebagai istrimu yang menjadi tanggung jawabmu memberikan nafkah ?"


"Kamu gak ikhlas memberikan uangmu kepadaku istrimu Ran ?"


Ujar Sita mulai menangis.


"Aku nanya karena aku wajib tau kamu habisin untuk apa uang uangku !!"


"Kalo kamu nanyain,baik, aku akan kembalikan semua uang yang udah kamu kasih ke aku."


"Akan ku ganti semuanya, anggap saja aku berhutang padamu."


Ujar Sita lalu pergi meninggalkan Randi yang tampak semakin emosi karena Sita pergi meninggalkannya.


"Heeeeii!! Mau kemana kamuu..!!"


Teriak Randi, Sita menghentikan langkahnya berbalik menatap pada Randi.


"Aku gak mau bicara lagi denganmu."


Ujar Sita lalu pergi meninggalkan Randi, Randi mengejar Sita yang dengan cepat masuk kedalam kamar lalu mengunci pintu kamar, Randi menggedor gedor pintu kamar nya.


"Sitaa...!! Bukaaa Pintunyaa !!"


Teriak Randi sambil terus menggedor gedor pintu kamarnya, Sita yang di dalam kamar terduduk dilantai depan pintu kamar nya.


"Tega kamu Randi sama aku."


Ucap Sita dalam tangisan kesedihan nya itu, sementara Randi terus menggedor gedor pintu kamar.


Di hari lain nya,


Randi tampak sedang menelpon seseorang saat itu, wajah nya tampak lesu.


"Jadi, gak ada job buat saya di kantor bapak ?"


"Kantor saya tutup,bubar pak, maka nya saya nyari job di tempat bapak, siapa tau bapak mau kasih saya kesempatan buat jadi Sutradara di tim bapak."


Ujar nya.


"Maaf Pak Randi, Sutradara di sini ada 15 tim, udah full."


Jawab suara dari seberang telepon, mendengar itu Randi lantas menutup telepon nya. Dia tampak kesal dan kecewa karena tidak mendapatkan pekerjaan.


Segala macam usaha yang dilakukan Randi tidak ada hasilnya, semua menolak nya, tidak ada yang memberikan pekerjaan, karena memang rata rata setiap kantor film yang ada sudah mempunyai tim Sutradara nya masing masing, jadi sulit jika Sutradara lain untuk masuk bekerja jika bukan permintaan langsung dari perusahaan.


Sita tampak sedang berbicara dengan Jumirah di dapur, Wajah Sita menunjukkan rasa keprihatinan.


"Aku sebenarnya gak tega liat Randi menganggur Ma."


"Aku gak menyalahin dia, apalagi memaksa dan menuntutnya buat nyari duit."


"Aku paham situasi dan kondisi dia saat ini,tapi kebutuhan rumah dan buat anak gak bisa di tunda, mau gak mau aku harus bilang ke dia."


Jelas Sita, Jumirah mengangguk paham dengan penjelasan Sita, anak nya itu.


"Kamu yang sabar, yang terpenting, kamu tetap dukung suamimu,biar bagaimanapun keadaan nya."


Ujar Jumirah.


"Aku berpikir, mau kembali kerja lagi Ma."


Ujar Sita, Jumirah menatap wajah Sita, menegaskan, dilihat nya wajah Sita menyiratkan kesungguhan.


"Kamu yakin ? Sudah lama kamu gak kerja, sejak kamu nikah dengan Randi kamu berhenti kerja."


"Aku yakin Ma, cuma itu satu satunya jalan."


Ujar Sita.


"Kerja apa ?"


Tanya Jumirah.


"Ada, aku menghubungi teman temanku, diantara mereka ada yang kasih aku kerjaan."


Ujar Sita.


"Iya, tapi kerja apa ?"


Tanya Jumirah penasaran, Sita hanya tersenyum menatap wajah Jumirah yang bertanya tanya.


"Nanti aku kasih tau kalo udah jadi kerja beneran nya Ma."


Ujar Sita tersenyum menatap Mama nya yang menghela nafas menatap Sita.


"Terus, Via ditinggal seharian kalo kamu kerja."


"Randi gimana, dia bolehin gak kamu kerja?"


Tanya jumirah.


"via udah hampir 7 Tahun, udah bisa di tinggal kok, kan udah sekolah, aku titip Via ke mama ya."


Ujar Sita tersenyum menatap Jumirah ,Jumirah berfikir lalu kemudian mengangguk.


"Iya, Via gak apa sama Mama, terus gimana dengan Randi ?"


"Ya dia gak bisa larang aku, mau gak mau dia harus membiarkan aku kerja, kalo gak, dari mana kami bisa bertahan hidup ?"


"Kalo Randi marah aku kerja, ya dia harus bisa mendapatkan pekerjaan."


"Aku kerja cuma membantu meringankan beban dia aja sebagai kepala rumah tangga Ma, aku prihatin dengan keadaan nya, wajar kan aku kerja buat bantu ekonomi keluarga ku? Membantu suami ?"


Jelas Sita pada Jumirah yang mengangguk paham dengan tujuan Sita bekerja itu.


"Ya semoga aja Randi mau ngerti dan memahami jalan yang kamu pilih ini buat kebaikan rumah tangga kalian."


Ujar Jumirah.


"Iya Ma, aamiin."


Jawab Sita tersenyum memeluk Jumirah yang juga memeluknya dan mengelus rambut Sita dengan penuh kasih sayang dan kelembutan.


Hari Lainnya, Saat itu.


Randi tampak wajah nya menahan kesal dan marah, dia melangkah cepat mendekati Mertua nya, Jumirah yang sedang bersiap siap hendak pergi.


"Sita kemana Ma ?"


"Tiap hari begini terus, pergi pagi, pulang pagi, bahkan sering gak pulang pulang, ada apa sih!"


"Sita ada urusan diluar sana."


Jelas Jumirah, mendengar itu Randi kaget dan tampak kesal menatap Jumirah


"Pergi ada urusan ? Kemana ?!"


"Kenapa gak bilang ke aku, harus diam diam perginya ?!"


"Sudah dua minggu dia begini terus ,tiap aku tanya diam, menghindar ,dianggapnya apa aku ?!"


Ujar Randi kesal berkata pada Jumirah yang menarik nafasnya melihat Randi.


" Pergi keluyuran pagi buta, anak di tinggal gak di urus, istri apa itu !!"


Ujar Randi marah, mendengar itu Jumirah menghela nafas nya lalu menatap Randi,dia berusaha tenang menghadapi Randi yang marah itu.


"Sita pergi bukan buat ngelayap keluyuran main main."


Ujar Jumirah.


"Terus kemana? Ngapain ?!"


"Dia sengaja pergi pagi buta pas aku masih tidur biar bisa main ketempat teman nya!"


"Dia tau, kalo bilang ke aku, gak bakalan aku izinin !"


"Mentang mentang suami pengangguran, dia mau macam macam ngelayap kemana mana !"


Bentak Randi, mendengar itu Jumirah jadi sedikit kesal, dia menatap Randi dengan tegasnya.


"Sita pergi itu kerja ."


Ujar Jumirah dengan nada penekanan yang tegas kepada Randi, mendengar itu Randi kaget.


"Kerja ?!"


"Kerja Mama bilang ?" Kerja apa pergi pagi pulang pagi bahkan gak pulang berhari hari ?!!"


Ujar Randi meluapkan emosi nya pada Jumirah yang hanya diam saja.


"Kerja apa dia Ma ?!" Dimana kerjaan nya ?!"


Tanya Randi marah pada Jumirah yang menarik nafas menatap tajam pada Randi.


"Biar Sita kerja, kamu gak perlu tau dimana tempat kerjaannya."


"Aku wajib tau, aku suaminya !"


Bentak Randi.


"Kalo kamu gak mau Sita kerja, kamu harus kerja !"


Tegas Jumirah akhirnya pada Randi yang mendengar itu terhenyak diam.


"Sita memutuskan bekerja dan menerima pekerjaan itu karena terpaksa, demi rumah tangganya."


"Dia kerja buat membantu kamu, nolongin kamu, meringankan beban kamu sebagai kepala rumah tangga."


Tegas Jumirah pada Randi yang terhenyak mendengarnya, Dia kaget karena Sita ternyata selama ini bekerja.


"Mama jemput Via dulu ke sekolah nya."


Ujar Jumirah meninggalkan Randi yang masih terhenyak, tak percaya dengan apa yang di dengarnya dari Mertua nya itu.


Bukan Prihatin mendengar istrinya bekerja, Randi malah tampak menunjukkan kekesalan yang mendalam.


"Aaaggghhh !! Apa maksudmu kerja Sitaaaa !"


"Mau merendahkan dan menghina kehormatanku sebagai suami, kepala rumah tangga !!"


Teriak Randi dengan penuh amarahnya. Meluapkan rasa kekesalan nya itu.