
Yana mengambil ponsel miliknya dari kantong celana panjangnya, dia lalu menggunakan camera ponselnya untuk merekam semua yang dilakukan saat itu, Yana mengabadikan seluruh proses saat Via memakan makanan yang tergeletak dilantai, menjilat makanan tersebut seperti seekor anjing yang sedang makan, Via makan dengan cara seperti itu karena kedua tangannya terikat, dengan pasrah Via melakukan hal itu, Yana terlihat tersenyum puas melihat Via seperti itu, dia dengan semangatnya mengabadikan kejadian itu di ponselnya.
Saat itu, Randi sedang duduk di kursi yang ada di taman rumah lama miliknya bersama Yana, asap rokok mengebul tebal dan banyak memenuhi ruangan itu, dia sedang berfikir, membuat sebuah rencana, bagaimana cara agar dia bisa cepat menghabisi Yana.
Di atas meja taman terlihat lembar lembar photo miliknya bersama Yana di masa lalu, saat mereka menikah, photo photo saat kebersamaan dan kemesraan mereka berdua di tempat tempat wisata, Randi menyalakan api dari korek gas yang ada ditangannya, lalu membakar photo photo tersebut. Randi yang dulu tidak sempat untuk membakar semua photo kenangan dia bersama Yana, kini mempunyai waktu, Randi membakar semua kenang kenangan bersama Yana yang tersimpan di dalam rumahnya itu dan tidak tersentuh Yana setelah perceraian mereka, Yana membiarkan rumahnya dengan keadaan saat Randi masih dirumah, setelah Randi pergi dari rumah karena di usir pun Yana tetap membiarkan rumahnya dengan tata letak yang sama, tidak ada waktu buatnya untuk merapikan dan membuang semua kenangan bersama Randi, Yana hanya datang sesekali kerumah untuk menyapu dan membersihkan debu debu yang ada didalam rumah.
Api membakar lembaran lembaran photo yang menumpuk banyak di meja taman, tatapan mata Randi tajam kearah photo photo yang terbakar hangus, lembar photo photo terbakar habis, setelah photo photo itu habis terbakar, Randi membersihkan abu bekas pembakaran dan membuangnya ke tempat sampah yang sudah dipersiapkan.
Saat itu, ponsel Randi berbunyi, ada pesan yang masuk di ponselnya, Randi cepat mengambil ponselnya, berharap pesan itu dari Yana, dia memang menunggu Yana menghubunginya untuk memastikan tentang Via, anaknya yang sedang jadi sandera Yana.
Randi membuka isi pesan yang dikirimkan Yana kepadanya, dia mengklik file berisi video, Randi penasaran dengan isi di dalam video itu, dia pun langsung mengklik video yang dikirim Yana ke ponselnya itu dan melihatnya.
Mata Randi melotot tajam penuh kaget, amarah yang memuncak saat melihat isi dalam video tersebut, tubuhnya bergetar, mulutnya bergetar, tangannya bergetar, dia melihat suatu pemandangan yang tak pernah selama ini di harapkan, tanpa di sadarinya, dia meneteskan air matanya, dia sedih, menatap tajam pada video itu.
Dalam video itu terlihat jelas Via yang dengan keadaan tubuh terikat, dengan posisi orang bersujud sedang menjilati makanan yang ada dipiring, dilantai sebuah ruangan, terdengar suara tertawa Yana yang sangat puas sambil merekam video itu, Randi tidak tega melihat anaknya diperlakukan begitu.
"Bajiiiingggaaaannnnn !! Kamu mau mampus Yanaaa !!" Teriak Randi penuh amarah.
Randi tidak terima anaknya diperlakukan secara keji seperti yang ada di dalam video. Randi menangis marah menatap video.
"Maafkan papah nak, maafin papah, kamu jadi seperti itu karena papah, papah akan membalas perbuatan Yana ke kamu. Tunggu saatnya." Ujar Randi dengan menangis sedih, suaranya bergetar, menahan geram dan amarahnya.
Dia tak sanggup melihat kondisi anaknya yang seperti seekor anjing sedang makan itu.
Terlihat dalam video muncul wajah Yana.
"Anjingku pintarkan? Anjing itu nurut aku suruh makan." Ujar Yana di dalam video menatap ke arah kamera, dia sengaja merekam dirinya agar di lihat Randi.
"Hentiiikkkaaaan !!" Teriak Randi pada video itu.
"Kalo kamu gak mau melihat bagaimana aku lebih buruk memperlakukan anakmu berikutnya, cepat lepaskan Dewi, anakku !" Ujar Yana di dalam video yang direkamnya itu.
"Atur pertemuan kita, aku akan mengatur pertukaran antara anakku dan anakmu di tempat yang kamu tentukan !" Ujar Yana di video.
"Kamu kira, kamu saja yang bisa berbuat gila Randi ? aku pun bisa berbuat lebih gila dan nekat darimu! Apapun akan aku lakukan untuk menyelamatkan anakku dari tanganmu !" Ujar Yana didalam video itu, Randi geram, dia begitu emosinya.
"Keparaaaattt ! Liat saja Yana, aku akan memotong motong tubuhmu, dan melemparkan seluruh potongan tubuhmu ke anjing nanti!!" Teriak Randi.
"Aaaaarrrggggghhhhh !!" Randi mengamuk di ruangan rumah lamanya itu, diletakkannya ponselnya begitu saja di atas meja yang ada di taman rumahnya.
Dengan cepat Randi melangkah dengan sorot mata tajam, dia berjalan cepat penuh amarah menuju ke sebuah kamar, Randi membuka pintu kamar dengan kasar lalu masuk ke dalam kamarnya, melangkah mendekati Dewi yang ada di dalam kamar dengan keadaan terikat.
Randi meluapkan emosinya, menampar wajah Dewi sekuat kuatnya, melampiaskan amarahnya pada Yana, Dewi merintih menahan sakit karena tamparan keras Randi yang mendarat di wajahnya, Randi lalu mencekik leher Dewi, dia menekan kedua tangannya sekuat kuatnya pada leher Dewi, terlihat Dewi tersengal sengal mencoba bernafas, dengan geramnya Randi mencekik leher Dewi, namun, kemudian dia melepaskan kedua tangannya dari leher Dewi yang lantas mencoba mengatur nafasnya kembali.
"Aaaaarrrgggghhh, siaaall ! Siaaaaallll !!' Ujar Randi mengamuk dikamar itu, dia bergerak seperti orang sedang memukul, Randi mengamuk memukul angin, melampiaskan amarahnya. Dia mengurungkan niatnya untuk membunuh Dewi, karena dia ingat Via, Yana pasti akan membunuh Via saat itu juga jika mengetahui anaknya mati.
Dengan penuh amarah Randi lalu keluar kamar, menutup pintu dengan keras, membuat Dewi yang terikat kaget, air mata mengalir di pipi Dewi, tangis ketakutan dan rasa sakit yang diterimanya bercampur didalam jiwanya saat itu.
Di sebuah ruang keluarga rumah lama Randi, dia mundar mandir ditempat, berfikir, mencari cara untuk dapat membalas perlakuan Yana, dia ingin Yana mendapat balasan karena sudah mengancam dirinya dengan menggunakan anaknya. Wajah Randi terlihat buas dan menyeramkan saat itu, dia berfikir keras, mencari jalan, menyusun siasat, merencanakan sesuatu hal untuk dapat membalas dan menyelamatkan anaknya dari tangan Yana.
Pada waktu lain dihari yang sama, di sore hari, Yana terlihat sudah berpakaian rapi, dia hendak pergi ke butiknya yang ada di kota Jogjakarta. Yana menghampiri Handoko yang sedang berada di teras rumah pamannya itu berjaga.
"Tolong antar saya ke butik pak." Ujar Yana ramah pada Handoko.
"Baik bu." Ujar Handoko lalu beranjak dari tempatnya.
"Kalian tetap berjaga disini." Ujar Handoko pada kedua personil polisi yang juga ada disitu.
"Siaap !" Ujar kedua personil polisi.
Handoko melangkah menuju garasi rumah, masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin mobilnya, seorang personil polisi membuka pintu pagar halaman rumah, mobil lantas keluar dari garasi rumah paman Mulyono, berhenti diluar depan halaman rumah paman Mulyono, Yana melangkah masuk kedalam mobil, personil polisi menutup pintu pagar halaman rumah, setelah mobil pergi, personil polisi kembali ke posisi semula tempatnya berdiri berjaga jaga.
Mobil yang di supiri Handoko melaju dengan kecepatan sedang di jalan raya, Yana duduk diam dengan wajah dingin di jok belakang mobil, Handoko melirik Yana melalui kaca spion depan mobil.
"Maafkan saya bu, sampe saat ini belum menemukan dimana keberadaan mbak Dewi." Ujar Handoko merasa bersalah pada Yana.
"Kami tetap terus mencari keberadaan Randi yang menculik mbak Dewi." Ujar Handoko.
Yana menghela nafasnya, menatap kedepan pada Handoko yang sedang menyetir mobilnya.
"Tidak apa apa pak, saya paham, bapak semua sudah begitu banyak membantu saya, saya tahu kalian terus berusaha keras mencari anak saya." Ujar Yana.
"Saya yakin, anak saya masih hidup sampai saat ini." Ujar Yana dengan suara datar dan lirih, Handoko menarik nafasnya mengangguk, dia lalu menginjak gas mobil , menambah kecepatan mobilnya agar bisa lebih cepat tiba di butik milik Yana.
Randi yang duduk tercenung di kursi ruang tamu rumah lamanya cepat mengambil ponsel yang berbunyi di meja, nomor itu tak terdaftar di kontak teleponnya, dia berfikir, siapa yang menghubunginya, Randi lalu menerima panggilan telepon itu.
"Siapa kamu." Ujar Randi langsung memberikan pertanyaan pada si penelpon.
"Marwan bang, saya sengaja pake nomor ini sementara, setelah itu saya akan membuang simcardnya." Ujar Marwan dari seberang telepon.
Mengetahui yang menghubunginya Marwan, Randi lalu bertanya pada Marwan melalui teleponnya.
"Saya sekarang di kutoarjo, sembunyi dari kejaran polisi. Abang dimana ?" Tanya Marwan dari seberang telepon.
"Saya dirumah lama saya, barenglor." Ujar Randi memberitahukan tempatnya.
"Saya pasti nanti nemui abang, nyari waktu yang tepat." Ujar Marwan dari seberang telepon.
"Iya, kamu hati hati, jangan sampe tertangkap." Ujar Randi mengingatkan Marwan.
"Iya bang, udah dulu ya." Ujar Marwan dari seberang teleponnya.
Setelah Marwan mematikan teleponnya, Randi lalu meletakkan ponselnya kembali diatas meja ruang tamu, dia melangkah menuju ruang keluarga, di lantai tergeletak sebuah kotak kardus besar yang sudah terbungkus rapi, Randi menatap kotak kardus besar itu dengan tatapan tajam. Randi saat itu sedang merencanakan suatu hal.
Eka, istri Marwan dirumahnya, sedang menerima telepon dari Marwan, wajahnya terlihat cemas.
"Apa yang sudah kamu lakukan sebenarnya mas ? Kenapa polisi mencarimu ?" Tanya Eka di teleponnya pada Marwan.
"Aku gak bisa bilang ke kamu saat ini, aku minta, kamu jangan beritahu siapapun, khususnya polisi dimana aku sekarang." Ujar Marwan dari seberang telepon.
"Kamu dimana sekarang? Polisi ke rumah kita." Ujar Eka pada Marwan.
"Aku di kutoarjo, dikampungku. Bagaimana anak anak ?" Ujar Marwan bertanya.
"Anak anak baik, mereka nanya kenapa bapaknya gak pulang pulang." Ujar Eka menjelaskan.
"Udah dulu, nanti aku hubungi lagi." Ujar Marwan tidak menjawab, dia lalu mematikan teleponnya.
Eka terdiam, menatap ponselnya setelah Marwan mematikan teleponnya, Kuncoro dan dua personil polisi yang ada dirumahnya menatap wajah Eka yang bingung dan cemas.
"Bagaimana ? ke lacak ?" Tanya Kuncoro pada seorang personil polisi yang sedang melacak nomor ponsel Marwan.
"Waktunya gak cukup." Ujar personil polisi menggelengkan kepalanya, Kuncoro melihat Eka yang terdiam.
"Dimana alamat tepatnya kampung Marwan ?" Tanya Kuncoro pada Eka.
Ternyata, Kuncoro dan kedua polisi berada dirumah Eka sengaja menunggu Marwan menghubungi istrinya itu, Kuncoro melacak telepon Eka, agar tahu keberadaan Marwan saat dia menghubungi Eka.
Eka mengambil buku dan pulpen yang ada di atas meja , dia lantas menuliskan alamat lokasi rumah Marwan yang ada dikampungnya, Kutoarjo. Eka lalu memberikan alamat yang ditulisnya pada Kuncoro yang melihat dan membaca alamat itu.
"Cepat bergerak ! Jangan sampe dia melarikan diri lagi !" Ujar Kuncoro memberikan perintah, dua personil polisi dengan gerak cepat merapikan semua peralatan yang mereka bawa untuk melacak telepon, lalu pergi meninggalkan Eka yang diam tercenung dengan wajah sedih di ruang tamu rumahnya. Dia sedih dan kecewa pada suaminya karena telah merahasiakan sesuatu hal yang besar pada dirinya, dia yang menjadi istri Marwan tidak menyangka, jika suaminya menjadi kaki tangan Randi, membunuh orang orang. Hati Eka hancur mengetahui hal itu dari polisi, dia cemas pada suaminya yang menjadi buronan polisi. Khawatir suaminya mendapatkan hal yang buruk nantinya, Eka menangis sedih.
Di tempat lain, Marwan membuang simcard yang ada di teleponnya. Dia tercenung, mengingat kembali ucapan istrinya di telepon tadi.
"Kamu dimana sekarang? Polisi ke rumah kita." Mengingat ucapan istrinya, Marwan menyadari jika polisi saat ini berada dirumahnya. Marwan pun bersiap siap, dia naik ke motornya, menyalakan mesin motor dan segera pergi dari tempat itu. Marwan sengaja tidak menetap dan berpindah pindah tempat, agar tidak bisa di ketahui keberadaannya oleh polisi.
Marwan segera pergi dari tempat itu, untuk menghindari kejaran polisi. Dia yakin, Polisi pasti sudah mendapatkan alamatnya di Kutoarjo dari istrinya yang terpaksa memberitahukan alamat rumah di kampungnya pada polisi.
Marwan menjalankan motornya dengan kecepatan tinggi, menyusuri jalanan kampung.
Di butiknya, malam itu Yana terlihat wajahnya senang karena butiknya ramai oleh pembeli yang datang. Yana sedang berbicara pada seorang costumer, dia menjelaskan tentang pakaian yang ada pada patung, costumer mengagumi pakaian itu, pakaian yang dirancang sendiri oleh Yana terlihat indah dan anggun.
Telepon Yana berbunyi, dia segera mengambil ponselnya, meminta maaf pada costumernya untuk menerima telepon , Yana memanggil karyawatinya agar menemani costumer itu, kemudian dia pamit pergi meninggalkan costumer yang ditemani karyawati butik.
Di sudut ruangan dalam butik, Yana menerima panggilan di ponselnya.
"Liat di luar halaman butikmu, sekarang !" Ujar Randi dari seberang teleponnya, dia yang menghubungi Yana saat itu.
Yana yang mendengar suara Randi di telepon, bergegas melangkah keluar butik, menuju halaman butiknya, dia ingin tahu apa maksud Randi menyuruhnya melihat ke halaman butik. Dengan rasa was was Yana melangkah cepat, begitu dia keluar dari dalam butik, berdiri di teras depan butiknya, Yana melihat sebuah boneka yang seperti anak gadis, saat Yana melangkah, dengan cepat boneka itu meledak dan terbakar, Yana kaget, dia teriak histeris melihat itu.
"Aaaggghhh !!" Teriak Yana, teriakannya itu membuat orang orang yang ada didalam dan luar butik segera datang ketempatnya, Handoko yang ada diluar butik berjaga jaga dengan cepat berlari ke arah Yana, dia melihat sebuah boneka terbakar dihalaman butik.
"Apa maksudmu dengan semua ini!" Teriak Yana di teleponnya.
"Boneka itu hanya simulasi, berikutnya, anakmu yang akan benar benar kuledakkan !" Ujar Randi dari seberang telepon. Yana mendengar itu cemas dengan anaknya.
"Jika kamu gak mau anakmu hancur berantakan seperti boneka itu, segera lepaskan anakku ! Jika kamu sedikit saja melukai anakku lagi, atau membunuhnya, aku akan membunuh anakmu !" Ujar Randi lalu mematikan teleponnya.
"Hallooo...Hallooo...Randiii..." Ujar Yana dengan keadaan cemas dan panik, Handoko yang mengetahui bahwa si penelpon Randi dan yang mengirimkan boneka juga Randi dengan cepat bergerak melihat kesegala arah, pandangan matanya menyusuri semua tempat di dekat sekitar butik, mencari keberadaan Randi, dia yakin Randi pasti bersembunyi di suatu tempat.
Yana terlihat tubuhnya lemas, dia terduduk di lantai teras depan butiknya, penuh ketakutan akan keselamatan anaknya.
Handoko cepat mendekati Yana yang terduduk lemas itu.
"Kita pulang sekarang bu." Ujar Handoko pada Yana yang mengangguk lemah.
Handoko memapah tubuh Yana, berjalan ke arah mobilnya yang diparkir di halaman butik, Handoko membuka pintu belakang mobil, Yana masuk ke dalam mobil dan duduk di jok belakang, tatapan matanya kosong menatap jauh ke depan, Handoko cepat masuk ke dalam mobilnya, lalu menjalankan mobil, pergi dari butik itu.
Di sisi lain, Randi yang bersembunyi dan mengintai menatap ke arah butik Yana, dia melihat kepergian Yana bersama Handoko, Randi tersenyum licik, dia menyeringai tajam.
"Jangan main main denganku Yana." Ujar Randi menahan geram dan amarahnya, dia lalu masuk ke dalam mobil rental yang sengaja digunakannya, pergi meninggalkan tempat itu.