
Kembali ke Masa Kini.
Bude Intan menatap wajah Via yang tampak serius mendengarkan kisah tentang Papah nya, air mata yang mengalir membasahi pipinya dihapus Via, dia menatap sendu wajah Bude nya.
"Lanjutin Bude, Via gak apa."
Ujarnya, Bude Intan menghela nafas, menatap Via yang tampak wajah nya menahan kesedihan itu.
"Baiklah, Bude akan lanjutin ceritanya."
Ujarnya.
"Singkat nya, setelah kejadian di tepi jurang itu, gak ada lagi kejadian aneh yang diperbuat Papahmu."
"Nenekmu terlihat senang melihat ada perubahan sedikit demi sedikit dari Papahmu."
"Papahmu tampak seperti menjadi orang yang baru, penuh semangat, dia mulai merintis karir nya secara perlahan."
"Setelah lulus sekolah, Papahmu lanjut kuliah kesenian, memilih bidang perfilman, disini lah karir papahmu dimulai."
"Papahmu punya jiwa seni yang tinggi, karir nya meningkat pesat, dia pun bekerja di film, dia mulai dari dasar, apa saja profesi di film dia jalani, meningkat, dari profesi lain ke yang lain hingga dia menjadi Sutradara yang sukses."
"Saat kesuksesan diraih Papahmu, di saat itu lah dia menjalin hubungan dengan Mama kamu."
"Mereka pasangan serasi, tak terpisahkan, Saling mencintai satu sama lain nya, dimana ada Papahmu, Mama mu selalu ada mendampingi nya."
"Hubungan itu semakin serius, hingga suatu saat Papahmu mengatakan pada Nenek, mau menikah dengan Mama kamu."
"Nenekmu dulu gak langsung setuju atau menolak, dia meminta waktu mempersiapkan segala nya buat pernikahan itu."
"Ada keraguan dan ketakutan pada diri Nenek jika Papahmu nikah, jika dia gak tinggal bersama Nenekmu."
"Nenek khawatir, Mama kamu gak bisa mengendalikan Papahmu yang sikap, karakter nya berubah ubah mengikuti suasana hati nya."
"Tapi Nenek juga gak mau buat papahmu kecewa dan sedih, dia melihat kesungguhan hati papah dan mama kamu untuk menikah, akhir nya, pernikahan pun berlangsung, hingga kamu lahir."
Ujar Bude Intan pada Via yang menatap nya serius mendengarkan cerita itu.
"Tapi, apa yang ditakuti Nenek terjadi, saat kami mendengar rumah tangga papah mama kamu berantakan, mereka bercerai."
"Dan yang membuat syock Nenek, dia mendengar kalo Papahmu menyiksa Mama mu ."
"Setiap hari Nenek menangis sedih, menyalahi diri nya sendiri, dia yang mengira berhasil menyembuhkan Papahmu dari jiwa buruk nya, ternyata salah, Jiwa buruk yang ada dalam diri Papahmu gak bisa hilang dan di sembuhkan."
"Penyiksaan yang dilakukan Papahmu pada Mama kamu itu membuat Nenek meminta tolong kembali pada Paman Syamsul Bahri, agar membawa papahmu ke pesantren nya untuk diberikan perawatan kejiwaan kembali."
"Kakek kamu yang selama ini jarang pulang karena bekerja di luar negri, mendengar kabar tentang keretakan rumah tangga Papahmu dan perbuatan sadis nya menyiksa Mama kamu menjadi syock dan stress."
"Kakek mu meninggal kena serangan jantung karena kabar itu."
Ujar Bude Intan menangis, Via menatap haru wajah Bude Intan yang menangis, dia terdiam.
"Mulai saat itu lah, kondisi Nenekmu semakin drop, karena rasa bersalah nya, sebab gagal dan mengabaikan papahmu selama ini, dia jatuh sakit."
"Penyesalan dan rasa bersalah membuat Nenek sakit Stroke."
"Papahmu yang sangat menyayangi Nenek, melihat Nenek stroke dia sangat sedih, hampir setiap hari, saat dia ada waktu, dia selalu menemani Nenek, merawat nya."
"Saat Papahmu kembali menyatakan ingin menikah lagi dan membawa calon Istrinya, Yana, Nenek tampak khawatir, tapi dia gak berdaya, dia gak bisa bicara lancar."
"Nenekmu ingin menolak, dia lebih memilih Papahmu hidup sendiri dari pada menikah lagi, Nenek gak ingin hal buruk terjadi lagi nanti."
"Itu sebab nya Bude Intan dulu bertanya tentang sejauh mana kesiapan dan keseriusan Yana menerima Papahmu menjadi suami nya, Yana saat itu meyakinkan bahwa dia siap lahir bathin menemani hidup Papahmu."
"Dengan berat hati kami izinkan dan restui mereka menikah."
"Nenek berpesan, dia hanya ingin Papahmu bahagia, tidak ada kesedihan dalam kehidupan nya."
Bude Intan terdiam, dia menarik nafas berat, menatap wajah Via yang terdiam.
"Itu kata kata terakhir Nenek, setelah itu, beberapa bulan papahmu menikah dengan Yana dan tinggal di Jogja, Nenek meninggal, menyusul Kakekmu."
Bude menatap Via, dia diam sejenak, menghela nafas nya, menenangkan diri, ada sedikit kecemasan di wajah nya.
"Bude tau Papah kamu cerai dengan bunda Yana, Papahmu cerita ke Bude."
"Papahmu saat itu menelpon Bude, menangis bilang tiba tiba Yana minta cerai padahal hubungan mereka selama menikah baik baik saja, harmonis, Bude pun tau keharmonisan mereka, karena tiap tahun, saat lebaran Bude pasti datang ke jogja, menginap di rumah mereka liburan, kamu juga kan ikut."
Ujar Bude Intan.
"Karena itu Bude juga heran kenapa Yana menggugat cerai papahmu, apa yang terjadi? Bude makin syock saat Papahmu bilang dia di usir dari rumah ."
"Yang membuat kekhawatiran Bude, saat Papahmu bilang, dia di hina Yana, di bilang cuma jadi beban dan numpang hidup."
"Bukan perkataan itu yang buat Bude Khawatir pada Yana, tapi akibat dari apa yang diperbuat nya pada Papahmu."
"Bude Khawatir, kejadian lama terulang kembali."
Ujar Bude Intan mengakhiri ceritanya, dia terdiam menghapus air mata nya, Via menatap wajah Bude nya.
"Terima kasih Bude, udah mau ceritain semua tentang Papah."
"Via lega, jadi tau kenapa Papah seperti itu."
Ujar Via pada Bude nya, dia berusaha tersenyum, menghibur diri nya sendiri, di dalam dirinya, Via merasa prihatin dan kasihan pada diri Papah nya, begitu kelam masa kecil Papahmu.
Via berfikir, jika saja saat kecil Papah nya mendapatkan kasih sayang yang baik, mendidik nya dengan benar, tentu Papah nya tidak akan menjadi seorang Psikopat.
Via memahami, apa yang terjadi dalam diri Papah nya karena faktor lingkungan dan didikan orang tua asuh nya yang salah, hingga akhirnya jiwa nya terguncang, dan muncul jiwa gelap didalam diri Papah nya.
"Kamu nginap kan ?"
Tanya Bude Intan pada Via yang tersadar dari lamunan nya, Via menatap wajah Bude Intan.
"Iya Bude, besok Via pulangnya."
Ujar Via.
"kalo gitu, kita makan yuk, habis itu temani Bude belanja ya."
"Iya Bude."
Jawab Via tersenyum.
Siang itu, Hari lain nya,
Randi tengah berada di sebuah rumah makan, dia sedang menerima telepon.
"Polisi sedang mencari abang sekarang, abang di mana ?"
Tanya suara dari seberang telepon pada Randi yang tampak santai mendengar itu.
"Saya masih di Jakarta, biar saja mereka cari saya, Terima kasih info nya Wan."
"Nanti saya kabari kamu lagi."
Ujar Randi, lalu dia menutup telepon Marwan yang memberi kabar pada nya, dia menghela nafas , terdiam dan berfikir.
Pintu rumah Sita di ketuk, Jumirah segera membuka pintu rumah nya, dua Petugas kepolisian berdiri didepan pintu rumah.
"Selamat siang Bu, Apa benar ini rumah nya saudari Via ?"
Tanya Polisi 1.
"Iya benar, ada apa ya pak ?"
Tanya Jumirah heran melihat ke dua Polisi yang datang ke rumah mereka.
"Kami dari kepolisian, bisa kami bertemu dengan Saudari Via ?"
Ujar Polisi 1 lagi. Mengetahui yang datang itu Polisi, Jumirah dengan cepat menyuruh mereka masuk ke dalam rumah.
"Silahkan Masuk Pak."
"Sebentar, saya panggil orang nya Pak."
Ujar Jumirah, Polisi mengangguk, Jumirah segera bergegas melangkah ke arah kamar Via.
Jumirah masuk kedalam kamar Via yang sedang berdandan, Jumirah mendekatinya.
"Ada Polisi mau ketemu kamu."
Ujar Jumirah.
"Polisi ?!"
Via terkesiap, jantung nya berdegup mendengar kata Polisi, bertanya tanya, ada apa? apa yang terjadi? Begitu banyak pertanyaan yang bergelayut di fikiran nya saat itu juga.
"Ayo temui."
Ajak Jumirah, Via tersadar lalu beranjak dari tempat nya, keluar dari kamar nya.
Via dan Jumirah menghampiri kedua Polisi yang ada di ruang tamu, Via dan Jumirah duduk di Sofa.
"Saya Via, ada apa ya Pak ?"
Tanya Via.
"Begini, maksud dan tujuan kami datang ke sini menemui saudari Via untuk menanyakan tentang Randi, Orang tua Saudari."
Jelas Polisi 2.
Mendengar nama papahnya di sebut dan sedang di cari, jantung Via kembali berdegup kencang, dia kaget, Via terdiam, tentang yang ditakutkan selama ini apakah terjadi ? Pertanyaan itu muncul dalam fikiran nya.
"Apakah Saudari Via tau dimana saudara Randi sekarang?"
Tanya Polisi 1.
"Sudah coba datang kerumah nya Pak?"
Tanya Via.
"Kami sudah datangi rumah nya, sesuai alamat yang diberikan teman kantor tempat nya kerja, tapi beliau gak ada, rumah kosong."
Ujar Polisi 1.
"Rumah Kosong? Biasa nya kalo gak syuting Papah pasti dirumah kok Pak."
Jelas Via.
"Kapan terakhir kali Saudari Via bertemu dan komunikasi dengan Saudara Randi ?"
Tanya Polisi 2.
"Sudah beberapa bulan saya gak ada komunikasi Pak, kami juga gak bertemu."
"Kalo papah gak ada di rumah, saya gak tau dia dimana."
"Setau saya, papah gak pernah pergi lama kalo bukan urusan kerjaan, soal nya kalo dia pergi lama gak pulang, siapa yang kasih makan tiap hari 3 ekor kucing nya di rumah?"
"Papah biasanya nitip kucing kucing nya di petshop kalo mau keluar kota, dan dia pasti bilang ke saya, gak pernah pergi diam diam dan gak bilang, kalo pun gak ketemu saya, Papah pasti datang ke sini dan berpesan pada Nenek."
Jelas Via pada ke dua polisi tersebut, Jumirah mengangguk, dia tidak bicara dan memilih diam mendengarkan saja.
"Sebenarnya, apa yang terjadi dengan Papah saya Pak ?"
Tanya Via.
"Saat ini, Saudara Randi menjadi target kami, dia tersangka pembunuhan berantai di kota Klaten."
Jelas Polisi 2, mendengar itu Via syock, Jantung nya kembali berdegup kencang, dia tak bisa berkata kata, terdiam kaku, tubuh nya bergetar, dia tak bisa menyangka dan menerima apa yang baru saja dia dengar itu, dengan datar, dia berucap pada Polisi.
"Pem...bunuh...berantai?!"
Ujar Via dengan suara datar dan pandangan melayang, dia saat itu seperti di hantam petir yang menyengat sekujur tubuhnya, membuat dirinya kaku, tampak Via menahan air mata nya yang mau jatuh, air mata nya menggenang di kelopak mata nya, Jumirah yang melihat Via pucat dan syock, menggenggam tangan cucu nya itu, memberikan ketenangan.
"Baiklah, kami permisi dulu, mohon kerja sama Saudari Via jika nanti bertemu atau berkomunikasi dengan Saudara Randi, agar segera memberi tahu kan pada kami."
Ujar Polisi 1. Via mengangguk lemah, tatapan nya kosong, antara sadar dan tak sadar diri nya saat itu.
"Terima kasih atas waktu nya, kami permisi."
Ujar Polisi 1 pamit pada Jumirah dan Via di ikuti Polisi 2, lalu mereka keluar rumah, meninggalkan Via yang lantas menangis sejadi jadi nya setelah kepergian ke dua Polisj itu.
Jumirah memeluk Via, menepuk bahu nya, dia mencoba untuk menenangkan Via.
"Sudah, sudah, jangan nangis ya."
"Papah Neek...Papah..."
"Apa yang ditakuti Mama dan Bude Intan terjadi."
"Papah tersangka Pembunuh berantai ?!"
"Via gak bisa menerima hal ini Nek, apa mungkin Papah sejahat itu , menjadi pembunuh?!"
Tanya Via dalam tangis nya, Jumirah menarik nafas nya, menatap wajah Via.
"Kita belum tau kebenaran nya, kamu jangan langsung mengambil kesimpulan tentang Papah mu ya."
Ujar Jumirah, Via tak sanggup berkata kata, yang bisa dia lakukan saat itu hanya menangis sedih.
Saat itu Randi sedang berada di PetShop, tempat penitipan hewan. dia sedang bicara pada karyawan yang ada di Petshop itu.
"Saya bayar biaya nya untuk 3 bulan ke depan sekalian buat biaya makanan kucing kucing saya ya Mas."
"Lama juga ya Pak ?"
Ujar Karyawan itu.
"Iya Mas, karena saya ada kerjaan, saya gak bisa bawa mereka ikut saya, maka nya saya titip di sini seperti biasanya, nanti kalo ada apa apa saya kabari ke sini."
Jelas Randi pada Karyawan Petshop yang lantas mengangguk pada Randi.
"Baik Pak."
"Saya pamit Mas."
Ujar Randi, Karyawan Petshop mengangguk, Randi keluar dari dalam Petshop, berjalan menuju Mobil nya.
Randi naik ke mobil nya, lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Ke Esokan harinya, Via mendatangi rumah Randi, Papah nya, dia ingin memastikan kebenaran yang disampaikan Polisi pada nya. Via menghentikan motor nya tepat di depan rumah Randi, dia turun dari motor nya, di garasi rumah tak ada Mobil Papahnya.
Dia tahu Papah nya gak ada di rumah, tapi dia tetap masuk ke rumah.
Via membuka pintu pagar rumah yang tak terkunci, dia lalu melangkah masuk menuju teras rumah . Rumah terkunci, kaca jendela tertutup horden, Via mengambil kunci dari dalam tas nya, Kunci rumah Randi, Via di berikan kunci duplikat oleh Papah nya sengaja agar Via bisa datang kapan waktu kerumah itu, Via sering datang ke rumah Randi walaupun papahnya sedang sibuk syuting dan tidak ada di rumah, dia datang kerumah kalau libur kerja untuk bermain dengan kucing kucing Randi yang ada dirumah itu.
Dengan kunci duplikat yang di miliki nya, Via membuka pintu rumah, Pintu terbuka, dia melangkah masuk kedalam rumah, menutup pintu kembali agar kucing kucing tidak lari keluar rumah, Dia melangkah menyusuri ruang tamu rumah Papah nya itu, Sepi, gak ada suara suara, kucing kucing gak ada, biasa nya jika Via datang kerumah itu, kucing kucing langsung menyambut nya berlari mendekati nya, Via terus melangkah menuju ruang lain, kosong tidak ada apa apa, dia lalu jalan keruang belakang, ruangan itu dijadikan sebagai tempat bermain kucing kucing papah nya. Tapi dia tidak juga melihat ada kucing di situ, Pet Cargo yang biasa tergeletak di sudut ruangan dekat kandang kucing pun tidak ada, Via berfikir.
"Kemana Papah ? Apa mungkin dia syuting keluar kota, kucing dititip ke Petshop ?"
Gumam Via, dia menghela nafas nya, lalu berbalik melangkah, Via terdiam sesaat di depan pintu kamar Papah nya, lalu dia membuka pintu kamar papahnya, Via melangkah masuk kedalam kamar, dia menyalakan lampu kamar, kamar pun terlihat terang, Via melihat tempat tidur berantakan, dia lalu merapikan sprei, bantal dan selimut milik Papah nya, lalu melangkah ke sebuah meja kerja papah nya yang ada di dalam kamar itu, Via melihat ke arah Cermin yang tergantung di dinding tepat disamping meja kerja Papah nya, di Kaca Cermin itu ada secarik kertas yang ditempel di kaca, Via melangkah mendekat, mengambil kertas itu, dan membaca tulisan yang ada di kertas itu.
"Haaii...Nak...lama Papah gak liat kamu, kalo Via baca surat Papah ini, artinya Via sehat dan udah mau ketemu dan datang ke rumah Papah. Papah sengaja nulis surat ini karena gak bisa telepon kamu, Papah tau, kalo kamu datang kerumah, pasti ke kamar Papah buat rapiin tempat tidur papah yang berantakan, hehehe.
Nak, Papah pamit pergi yaaa, belum tau berapa lama dan sampe kapan, Papah juga gak tau berapa lama kita nanti bisa ketemu lagi.
Papah cuma ingin Via baik baik aja, jaga kesehatan selalu, tetap semangat dan ceria, Kalau kamu izinkan, Papah ingin dengar suara kamu Nak, Papah tunggu telepon kamu ya.
Papah sayang Via."
Via meneteskan air mata nya membaca isi surat itu, dia menarik nafasnya, wajah nya sedih.