Go To Hell

Go To Hell
Bab 54



   Mobil Handoko tiba di rumah paman Mulyono, Handoko turun dari dalam mobil dan membuka pintu pagar rumah, lalu dia masuk kembali ke dalam mobil, mobil berjalan memasuki pelataran halaman rumah menuju garasi rumah.


Di dalam garasi rumah, Handoko mematikan mesin mobilnya, Yana membuka pintu mobil, berjalan gontai menuju ke dalam rumahnya, Handoko berjalan mengikutinya di belakang.


Yana masuk kedalam rumah, berjalan gontai, Gunawan yang baru datang bersama Kuncoro juga masuk ke dalam ruang tamu rumah paman Mulyono, Yana menghempaskan pantatnya, duduk di sofa dengan wajah tegang, dia diam sediam diamnya.


"Apa yang terjadi ? Aku langsung ke sini begitu kamu kabari." Ujar Gunawan pada Handoko.


"Randi mulai neror lagi, di butik , dia sengaja meledakkan boneka, itu sebagai pesan ancaman kepada bu Yana." Ujar Handoko menjelaskan.


Paman Mulyono datang dari arah lain dalam ruangan rumahnya, menemui mereka yang berkumpul di ruang tamu rumahnya.


"Kurang ajar ! Dia semakin nekat !" Ujar Gunawan geram.


"Ada apa lagi ini ? Yana kenapa ?" Tanya paman Mulyono yang heran melihat Yana terduduk diam dengan wajah tegang di sofa.


"Bu Yana dapat ancaman lagi dari Randi, belum tau motifnya meledakkan boneka di depan butik bu Yana." Ujar Handoko menjelaskan.


Mendengar itu paman Mulyono kaget, dia menghampiri Yana, duduk disampingnya.


"Kamu gak apa apa kan ?" Tanya paman Mulyono pada Yana yang menggeleng lemah dengan tatapan mata yang kosong jauh ke depan.


"Ini pasti ada hubungannya dengan anak bu Yana yang di culik Randi." Ujar Kuncoro menduga aksi yang dilakukan Randi ada hubungannya dengan Dewi yang di culik.


"Kita harus bergerak cepat ! Jangan sampai Randi berbuat nekat dan melukai anak bu Yana." Ujar Gunawan.


"Cari semua bukti dari cctv yang ada di butik dan sekitar jalanan dekat butik ! Kejar Randi kemana pun dia lari dan sembunyi !" Ujar Gunawan pada Kuncoro.


"Siaap !" Jawab Kuncoro.


"Ingat ! Jangan sampai hal ini didengar Kapten Harun Rasyid ! Dia bisa ngamuk nanti !" Ujar Gunawan mengingatkan pada Kuncoro yang mengangguk paham.


Kuncoro lalu pergi meninggalkan ruangan itu, untuk segera mencari bukti dari semua cctv yang terpasang di sekitar jalanan butik.


Tiba tiba Yana berdiri, wajahnya penuh amarah, dia melangkah cepat ke dalam rumah, melihat Yana yang bersikap aneh itu, paman Mulyono dan Gunawan beserta Handoko heran, mereka saling pandang.


"Mau kemana kamu Yana ?" Tanya paman Mulyono memanggil Yana, tapi Yana cuek dengan pertanyaan paman Mulyono, dia terus melangkah ke dalam ruangan, paman Mulyono semakin heran, dia lalu cepat mengikuti Yana, Gunawan dan Handoko pun mengikuti paman Mulyono, mereka ingin tahu apa yang akan di lakukan Yana.


"Hentikan Yana, Hentikan ! Kamu mau ngapain ? Jangan berpikiran sempit !" Ujar paman Mulyono, dia khawatir Yana akan berbuat hal yang tidak di inginkannya, dia tak mau Yana nekat bunuh diri karena frustasi dengan semua kondisi yang telah di alaminya itu.


Paman Mulyono mengejar Yana, dia memegang tangan Yana, menahan langkah Yana, Yana meronta melepaskan pegangan tangan pamannya.


"Lepaskan paman !" Ujar Yana menatap tajam pada pamannya.


"Kamu jangan nekat ! Bunuh diri bukan solusinya !" Ujar paman Mulyono menahan Yana , agar tidak melakukan hal yang buruk .


Yana melepaskan pegangan tangan pamannya, menatap tajam wajah pamannya , dia tak bicara sepatah katapun, Yana langsung pergi meninggalkan paman Mulyono, dia berjalan cepat menerobos masuk ke dalam kamar kosong, paman Mulyono beserta Gunawan dan Handoko mengikutinya.


Yana masuk ke dalam kamar kosong, dengan wajah penuh amarah dia mendekati Via yang terikat duduk di kursi, Yana menarik tubuh Via, Via pun berdiri dari duduknya, dengan cepat Yana menarik Via agar mengikutinya, Via yang kakinya terikat, melompat lompat melangkah mengikuti badannya yang di tarik Yana keluar kamar. Di depan pintu kamar Via terjatuh ke lantai, Yana melihatnya, lalu menarik tangan Via yang terikat, membawanya keluar kamar dengan di seret.


Saat Yana keluar kamar, dia berpapasan dengan paman Mulyono beserta Gunawan dan Handoko, mereka kaget begitu melihat Yana keluar dengan menyeret Via dalam keadaan terikat dan ada di lantai.


"Yanaaa !! Apa yang kamu lakukan sama Viaaa !!" Teriak paman Mulyono kaget melihat keadaan Via.


"Minggir paman ! Jangan halangi aku ! Aku akan membalas Randi ! Jangan kira si Randi bisa ngancam aku bunuh anakku ! Aku juga bisa membunuh anaknya sekarang juga!" Teriak Yana meluapkan emosinya.


"Bu Yana, ibu tenang dulu, kita bicarakan baik baik, bukan begini caranya menyelesaikan semua masalah ibu ." Ujar Gunawan mencoba menenangkan Yana.


"Kalian jangan ikut campur lagi urusanku ! Hentikan mulai saat ini juga terlibat dengan urusanku ! Aku akan menghadapi Randi sendirian!" Ujar Yana dengan tatapan tajam penuh amarah.


"Yanaa, lepaskan Via, kasihan dia kamu ikat begitu ! Sudah berapa lama kamu mengikatnya dikamar?" Tanya paman Mulyono, dia kasihan melihat Via yang terikat itu. Tubuh Via terlihat lemah.


"Bu Yana, jika ibu bertindak nekat tanpa berfikir dulu, akibatnya bisa fatal bu." Ujar Kuncoro mengingatkan Yana.


"Ini satu satunya jalan agar Randi mau melepaskan anakku !!" Teriak Yana meluapkan emosi marahnya, dia menangis diantara amarahnya.


"Aku gak mau anakku mati, aku gak mau anakku dibunuh dia !! Aku mau menolong anakku !!" Ujar Yana teriak dan menangis histeris.


Paman Mulyono menarik nafasnya, dia paham dengan apa yang dirasakannya, dia juga akhirnya mengerti kenapa Via pergi begitu saja tanpa pamit padanya, karena tidak mungkin Via pergi sebelum memberitahukan pada dia, paman Mulyono paham, ternyata Yana sengaja menyandera Via untuk membalas ancaman Randi.


"Aku sengaja mengikat dia agar Randi mau melepaskan anakku ! Dia sudah tahu anaknya aku tawan! Dan aku akan mengancamnya agar segera melepaskan Dewi !" Ujar Yana dengan suara keras diantara isak tangisnya. Via yang terlihat lemah di lantai hanya terdiam.


"Tapi bukan begini caranya bu, kalo ibu berbuat nekat, mencelakai, apalagi sampai membunuh Via, anak ibu tidak akan kembali, mungkin juga Randi akan membunuhnya !" Ujar Gunawan.


"Karena langkah pilihan ibu yang salah, ibu akan merugikan diri sendiri, anak ibu tidak kembali ke pelukan ibu, dan ibu di penjara karena membunuh Via, sementara Randi lolos dari jeratan hukum, berkeliaran terus mengancam kehidupan keluarga ibu." Ujar Gunawan memberi penjelasan pada Yana, dia berusaha untuk meyakinkan Yana agar tidak melakukan hal yang dilarang oleh hukum, Gunawan tidak ingin, karena gelap mata Yana menjadi pembunuh seperti Randi.


"Aku akan menerima semua resikonya !! Ini jalan terakhirku ! Aku yakin, Randi akan melepaskan anakku jika dia melihat anaknya ku siksa !!" Ujar Yana teriak histeris, dia menarik tangan Via kembali, saat Yana akan membawa Via, Kuncoro memegang tubuh Yana dengan kuat, menahannya, paman Mulyono cepat melepaskan tangan Yana dari tangan Via, sementara Gunawan cepat menolong Via, membuka semua ikatan yang ada di tangan dan kaki Via, Yana meronta ronta teriak.


"Lepaskaaan !! Lepaskan akuuuu !! Jangan bebaskan dia !! Aku harus membawanya ke Randi !! Lepaskaaan!!" Teriak Yana menangis.


"Paman, tolong, biarkan aku membawa Via, cuma ini cara aku menolong anakku ! Tolong mengerti aku paman !" Ujar Yana menangis menatap wajah paman Mulyono yang hanya diam.


"Pak Gunawan, Pak Kuncoro ! Tolong, biarkan saya melakukan semua rencana saya ! Saya mohon pada kalian !!" Ujar Yana menangis menatap wajah Gunawan dan Kuncoro.


Yana semakin menangis, dia teriak teriak dalam tangisnya, sementara paman Mulyono memapah Via, dia membawa Via ke ruang keluarga.


Yana terduduk lemah di lantai depan kamar kosong dirumah paman Mulyono, menangis tersedu sedu.


"Dewiiiii...anakkuuu..." Ucap Yana dalam tangisannya penuh kesedihan, dia meratapi dirinya, rasa ketakutan semakin menjalar di dalam dirinya tentang anaknya. Dia tak tahu lagi harus bagaimana menyelamatkan anaknya setelah rencananya di cegah paman dan polisi yang ada di rumah pamannya itu.


Gunawan menatap haru pada diri Yana, lalu dia mengangkat tubuh Yana untuk berdiri, dengan keadaan tubuh gontai dan lemah Yana berdiri.


"Sebaiknya bu Yana istirahat untuk menenangkan dirinya." Ujar Kuncoro pada Gunawan.


"Saya antar ibu untuk istirahat ya." Ujar Gunawan memapah Yana, Kuncoro cepat melangkah bergegas menuju kamar Yana, membuka pintu kamarnya, membantu Gunawan membawa Yana masuk ke dalam kamar, Gunawan dan Kuncoro lalu merebahkan tubuh lemah Yana di kasur, tatapan mata Yana kosong, air mata menetes di pipinya. Gunawan dan Kuncoro melangkah keluar kamar meninggalkan Yana sendiri di dalam kamar, terbaring lemah tak berdaya di kasurnya.


Di luar kamar Yana, Gunawan menepuk bahu Kuncoro yang hendak pergi.


"Tugaskan satu orang buat berjaga di depan kamar bu Yana, jaga agar jangan sampai bu Yana melakukan hal buruk." Ujar Gunawan pada Kuncoro.


"Baik." Jawab Kuncoro pada Gunawan, Kuncoro lalu pergi meninggalkan Gunawan yang segera melangkah keruang keluarga, menemui Via yang saat itu sedang berada bersama paman Mulyono.


Paman Mulyono memberikan air pada Via yang lantas menghabiskan air minum dalam gelas ditangannya, dia terlihat sangat haus sekali, wajah pucat dan tubuh lesu yang di alami Via saat itu karena beberapa hari kurang makan dan minum, dia dehidrasi. Paman Mulyono sangat iba melihat kondisi Via.


"Kita ke rumah sakit ya ?" Ujar paman Mulyono lembut pada Via.


"Via gak apa kek, gak usah kerumah sakit, biar Via istirahat, nanti juga pulih." Ujar Via dengan kondisi lemah. Dia lega karena dirinya berhasil bebas dari Yana.


Gunawan datang menghampiri Via dan paman Mulyono, dia menatap wajah Via.


"Apa ada yang terluka mbak ?" Tanya Gunawan pada Via.


"Cuma kepala saya, tapi gak apa kok pak." Ujar Via mencoba tersenyum lemah pada Gunawan.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya paman Mulyono pada Via yang menarik nafasnya berat.


"Via juga gak tau persisnya Kek, kenapa bunda Yana jadi begitu sama Via." Ujar Via dengan suara melasnya.


"Apa sebelumnya mbak Via bertengkar dengan bu Yana ?" Tanya Gunawan mencari tahu tentang awal mula Via di sandera Yana.


"Nggak kok pak." Jawab Via menggeleng menatap wajah Gunawan.


"Seingat saya, waktu itu, setelah bapak pergi dari rumah dan gak lama Kakek juga pergi kerja, saya nutup pintu, terus saya jalan mau istirahat di kamar, bunda nunggu saya berdiri di ruang keluarga." Ujar Via menjelaskan, dia berusaha mengingat kejadian yang di alaminya.


"Apa ada yang aneh dengan sikap bu Yana saat itu ? Mungkin dia habis terima telpon dari Randi ?" Tanya Gunawan lagi pada Via.


"Seingat saya bunda gak ada terima telpon, sikapnya juga biasa, dia tersenyum liat saya, saya sempat sih nanya ke bunda, apa dia pusing saat itu, bunda bilang gak apa." Ujar Via memberi penjelasan kronologi saat kejadian.


"Saat saya mau jalan ke kamar, tiba tiba kepala saya dipukul , saya gak tau pake apa, langsung aja saya pingsan dan gak ingat apa apa lagi, sadar sadar saya udah di ikat dan bunda berdiri di depan saya marah marah." Ujar Via sedih.


"Mungkin dengan vas bunga kepalamu di pukul Yana, vas bunga yang ada diatas meja ruangan ini gak ada, kemungkinan hancur, dan bekasnya dibersihkan Yana." Ujar paman Mulyono.


"Via gak ngerti kenapa bunda ngamuk sama Via dan berbuat kasar sama Via." Ujar Via dengan suara lirih. Paman Mulyono menepuk bahu Via, menenangkan diri Via yang sedih itu.


"Mungkin bu Yana sedang kalut saat itu, berfikir pendek, dengan gelap mata dia melukai mbak Via dan mengikat mbak Via, dia mengikuti cara Randi yang menculik dan mengikat anaknya." Ujar Gunawan.


"Saya yakin, bu Yana berfikir, dengan mbak Via di jadikannya sandera, maka nyawa anaknya akan aman, Randi tidak akan berbuat macam macam pada anaknya selama mbak Via, anak Randi di sandera bu Yana." Ujar Gunawan.


"Bu Yana jadi semakin gelap mata dan nekat setelah mendapat ancaman boneka yang sengaja diledakkan di depan butiknya, seperti yang dibilang Handoko." Ujar Gunawan.


"Bu Yana gelap mata dan berniat mau membunuh mbak Via karena ancaman Randi." Ujar Gunawan mencoba mencari tahu motif Yana menjadikan Via sandera, paman Mulyono mengangguk paham mendengarkan penjelasan Gunawan, sementara Via hanya terdiam, dia menghapus air matanya.


"Beruntung mbak Via, kita menggagalkan niat bu Yana, jika saja kita gak ada, mungkin bu Yana sudah menjadi pembunuh, karena membunuh mbak Via." Ujar Gunawan, Via menatap lekat wajah Gunawan yang tersenyum padanya.


"Sekarang mbak Via istirahat, pulihkan diri lagi, jangan di ingat apa yang sudah mbak alami dan terjadi, berusaha lupakan, agar mbak bisa tetap semangat jalani hari hari mbak Via." Ujar Gunawan pada Via, dia memberi semangat pada Via yang terlihat sedang down itu.


"Terima kasih pak, saya coba saran bapak." Ujar Via dengan suara lemah dan lirih.


"Mau kakek antar ke kamarmu sekarang ?" Tanya paman Mulyono tersenyum pada Via.


"Iya Kek." Jawab Via mengangguk lemah pada paman Mulyono, Via dibantu paman Mulyono berdiri, dengan langkah gontai Via berjalan, paman Mulyono memapah Via menuju kamarnya.


Gunawan menatap kepergian Via dan paman Mulyono, dia menarik nafas berat, berfikir, ada beban tanggung jawab yang besar dalam diri Gunawan, karena sampai saat ini dia bersama timnya belum juga berhasil meringkus Randi sebagai buronan pembunuh berantai. Gunawan berbalik, melangkah keluar rumah.


Di depan pintu kamar Yana, seorang petugas kepolisian berdiri, dia berjaga di situ, sementara di dalam kamar, Yana terlihat sedang tertidur pulas di ranjangnya.


   Paman Mulyono membantu Via naik ke atas kasurnya, Via lalu merebahkan tubuhnya di kasur, Via merasa lega sekali saat rebahan di kasur, dia menikmati kasur itu, rasa pegal tubuhnya menjadi sedikit hilang karena kasur yang terasa nyaman itu, paman Mulyono tersenyum melihatnya.


"Tidurlah, biar kembali segar, kalo ada yang kamu butuhkan, panggil aja kakek, ya." Ujar paman Mulyono ramah.


"Iya kek, terima kasih udah baik dan nolongin Via." Ujar Via tersenyum pada paman Mulyono.


"Iya, ya sudah, tidurlah." Ujar paman Mulyono. Via mengangguk, dia lalu memejamkan matanya, mencoba untuk tidur, beberapa saat paman Mulyono berdiri di samping ranjang , setelah dia melihat Via sudah terlelap tidur, paman Mulyono pun berbalik melangkah keluar dari kamar Via. Perlahan paman Mulyono membuka pintu kamar lalu menutupnya kembali dengan perlahan, dia tidak ingin Via terganggu dengan suara pintu.


   Beberapa saat setelah paman Mulyono keluar dari kamar, tiba tiba mata Via terbuka, dia menatap tajam ke langit langit kamar. Dari raut wajahnya tersirat sesuatu hal, dalam tatapan tajamnya itu, fikirannya bermain main dalam dirinya.