Go To Hell

Go To Hell
Bab 32



Siang itu, di tempat kerjaan nya Via sedang Istirahat, dia sedang berbicara di telepon nya.


"Iya Bude, Nanti Via kabari kalo Via jadi main ke rumah Bude."


"Terima kasih ya Bude."


Via menutup telepon nya, dia menarik nafas berat, masih ada kemurungan yang tersisa di raut wajah nya, Via lantas mengambil Nasi bungkus yang di beli nya, lalu dia pun makan.


Di Kantor Polisi Klaten, tampak Kapten Polisi sedang berbicara dengan Polisi 1.


"Menurut data informasi yang di dapat, saat berusia 10 Tahun dia pernah membunuh seorang anak, sempat di masuk kan ke penjara anak untuk kemudian di masukkan ke panti rehabilitasi anak, agar mendapat perawatan khusus."


Ujar Polisi 1.


"Arti nya, dia punya riwayat sebagai pelaku pembunuhan saat kecil."


Ujar Kapten Polisi.


"Begitu lah Kapten."


Jawab Polisi 1.


"Jika begitu, dia tetap kita jadikan target, lakukan pencarian keberadaan nya."


"Saya yakin, dia pelaku pembunuhan yang sudah terjadi selama ini."


Ujar Kapten Polisi.


"Siap Kapten!"


Ujar Polisi 1.


Di rumah nya, Bu Elly, Wanita setengah baya, Ibu dari anak kecil kurus bernama Joko yang meninggal sedang menyapu halaman rumah nya, wajah nya tampak senang, dia tidak menyadari jika kegiatan nya itu sedang di intai seseorang dari balik pohon dijalanan perumahan, tak jauh dari rumah nya.


Selesai menyapu, Bu Elly lalu kembali masuk ke dalam rumah nya, menutup pintu rumah nya.


Sosok orang yang mengintai Bu Elly tampak menyeringai menahan geram.


Polisi menemui Yana hari itu, mereka sedang terus menyelidiki kasus pembunuhan yang terjadi di lingkungan rumah lama Yana dulu.


Yana menyambut ramah para Polisi yang mendatangi nya itu.


"Saya gak tau, dimana dia sekarang tinggal Pak."


"Mungkin, Ibu bisa kasih kami keterangan, siapa keluarga nya yang bisa kami hubungi dan temui?"


Tanya Polisi 1 pada Yana yang diam sejenak berfikir, lalu dia menghela nafas menatap ke dua polisi yang ada di hadapan nya itu.


"Saya cuma tau rumah almarhum orang tua nya di bekasi, tapi saya rasa dia gak tinggal di sana, sebab, rumah itu di tempati adik nya Rizal, mereka gak akur selama ini."


Jelas Yana, dia terdiam lagi, lalu berkata pada kedua polisi yang masih menginginkan lebih banyak penjelasan dari nya.


"Dia punya anak gadis, selama ini dia rutin berkomunikasi dan bertemu dengan anak nya itu, dari kami masih menikah dulu."


"Bapak bapak mungkin bisa bertanya pada anak nya, dimana bapak nya tinggal."


Ujar Yana.


"Ada kontak yang bisa kami hubungi ?"


Tanya Polisi 2.


"Ada, sebentar Pak."


Yana lalu mengambil hape nya, di daftar kontak hape nya, dia mencari cari satu nama, setelah menemukan nya, dia memberikan nomor kontak tersebut pada Polisi 2 yang lantas mencatat nomor kontak hape yang di berikan Yana.


"Baik bu, terima kasih atas waktunya, kami permisi dulu."


Ujar Polisi 1.


Saat ke dua Polisi itu berdiri hendak melangkah keluar dari ruang tamu rumah Yana, Yana cepat berdiri dan berkata pada mereka.


"Apa... Tersangka nya sudah benar benar ditetap kan dia Pak?"


"Untuk sementara ini Bu, karena hanya dia yang sesuai dengan data yang kami dapatkan."


Jelas Polisi 1, Yana yang tampak cemas itu meremas jari tangan nya lalu menatap wajah Polisi.


"Saya berharap, Pelaku nya bisa segera ditangkap Pak."


"Jika benar dia tersangka nya, saya khawatir dengan keselamatan diri saya dan anak saya."


"Mengingat, pernah terjadi juga pembunuhan teman saudara saya saat menginap dirumah ini."


"Dan saya yakin itu semua ada hubungan nya dengan Dia."


Jelas Yana pada Kedua Polisi tersebut, Polisi menatap wajah Yana yang penuh dengan rasa takut dan khawatir itu.


"Kami berusaha untuk cepat mengungkap kasus ini bu."


"Ibu bisa menghubungi kami jika nanti merasa nyawa ibu terancam, atau mendapatkan teror."


Ujar Polisi 2, Yana menarik nafas nya sedikit lega mendengar penjelasan Polisi itu.


"Apa saya bisa meminta perlindungan Pak ?"


Tanya Yana.


"Jika Tersangka benar benar meneror dan mengancam nyawa ibu, kami akan memberikan perlindungan maksimal kepada ibu dan keluarga."


Ujar Polisi 2.


"Kami minta kerja sama Ibu dengan kami, apa saja yang mencurigakan, yang berhubungan dengan tersangka, Ibu bisa cepat melaporkan nya kepada kami."


Ujar Polisi 1.


"Baik Pak, saya pasti hubungi, saya sudah menyimpan nomor telpon bapak."


Ujar Yana tersenyum, Ke dua Polisi itu pun Pamit kepada Yana untuk melanjutkan Investigasi mereka ke tempat lain.


"Kami permisi dulu bu."


Pamit Polisi pada Yana yang mengantarkan mereka keluar dari rumah nya.


Setelah kepergian ke dua Polisi itu, Yana pun menutup pintu rumah nya, melangkah masuk ke dalam kamar nya.


Bu Elly, Wanita setengah baya, Ibu dari Joko, seorang anak kecil yang meninggal sedang asyik menonton sinetron di televisi Malam itu, saat seru seru nya dia menonton sinetron di tivi, tiba tiba semua lampu di dalam rumah nya mati, Bu Elly tampak kesal.


"Ealaaah, pake mati lampu segala lagi seru serunya nonton."


Oceh nya mengomel karena listrik tiba tiba mati, dia pun melangkah ke ruang tamu, lalu membuka horden jendela rumah nya, melihat keluar rumah.


"Laah, itu lampu depan rumah tetangga nyala."


Dia penasaran, membuka pintu rumah nya lalu keluar melangkah kehalaman rumah nya, Menoleh ke kanan dan ke kiri, pada rumah tetangga nya.


Bu Elly kemudian melangkah menuju ke jalanan komplek perumahan tempat nya, lampu lampu di jalanan menyala terang, begitu juga lampu lampu di tiap tiap rumah. Suasana di perumahan Malam itu tampak sepi seperti biasa nya.


"Aneh, kok cuma rumahku aja yang mati lampu?"


Ujar nya berfikir, lalu Bu Elly berbalik melangkah ke rumah nya, dia memeriksa meter listrik nya, Melihat tombol on off meteran listrik.


"Halaah, jepret ternyata, tumben jepret, padahal gak kelebihan arus listrik."


Oceh nya sambil mengembalikan tombol On pada meteran listrik rumah nya, Lampu lampu dirumah nya pun kembali menyala, menerangi rumah nya.


Wajah nya senang, lalu dia cepat masuk ke dalam rumah nya, menutup pintu rumah dan mengunci nya dari dalam.


"Ada ada aja, lagi seru nonton sinetron kesukaan malah jepret tuh listrik."


Omel nya sambil kembali menyala kan tivi nya. di layar kaca tivi yang mati terlihat sosok bayangan orang berdiri di satu sudut, Bu Elly tak menyadari nya, dia memencet remote dan tivi menyala, Saat dia hendak duduk di kursi di depan layar tv, dia kaget mendengar suara menyapa nya.


"Hell...Lo..."


Ujar Suara itu, Bu Elly dengan gerak refleks cepat berbalik karena kaget mendengar tiba tiba ada suara di belakang nya.


"Ngapain kamu masuk kerumahku?!"


Bentak Bu Elly melihat ke arah orang tersebut, dengan cepat orang tersebut mencengkram tubuh Bu Elly, menutup mulutnya dengan sapu tangan yang sudah di beri obat bius, Bu Elly seketika pingsan.


Jumirah mendekati Via yang sedang duduk santai di ruang keluarga rumah nya menonton tivi.


"Udah ngabarin Bude Intan kalo kamu besok mau ke rumah nya?"


Tanya Jumirah.


"Udah kok Nek."


Jawab Via.


"Oh, Jam berapa kamu berangkat nya? Biar Nenek masakin lauk buat bude Intan nanti."


Ujar Jumirah.


"Paling habis zuhur Nek, kalo kemalaman Via nginap, sekalian nemani Bude dirumah nya."


"Pakde Ruslan katanya sedang ke Medan ada kerjaan, jadi bude sendirian dirumah."


Jelas Via pada Jumirah yang lantas mengangguk tersenyum menatap wajah Via.


"Ya udah, besok pagi Nenek siapin makanan buat kamu bawa."


Ujar nya, Via mengangguk, Jumirah lantas melangkah pergi meninggalkan Via sendirian di ruang itu, Wajah Via masih diselimuti kesedihan yang mendalam.


Di kamar, Bu Elly tampak terikat dan di dudukkan di sebuah kursi, Sosok Pria yang ternyata Randi berdiri di hadapan nya, menyeringai menatap tajam pada Bu Elly yang baru tersadar dari pingsan nya.


Wajah Randi tampak menyeramkan, itu bukan sosok diri Randi yang normal biasa nya, tapi satu sosok lain yang ada di dalam dirinya. Ya, sosok menyeramkan itu saat ini adalah Rahman.


Bu Elly berusaha meronta ronta hendak melepaskan ikatan yang melilit tubuh nya, tapi sia sia, Bu Elly menatap Randi (Rahman) mencoba bicara namun tak jelas apa yang di ucapkan nya karena mulut nya di tutup Lakban.


"Kamu membunuh anakmu."


"Perampok gak pernah masuk ke rumahmu ini, itu cuma kebohonganmu kan."


"Joko bukan mati karena dibunuh perampok, tapi dia mati karena kamu siksa."


Ujar Randi (Rahman) dengan suara berat dan datar, Mata Bu Elly melotot ketakutan mendengar itu.


"Karena perbuatanmu, aku datang mengadilimu, membalas perbuatanmu pada Joko."


"Kamu akan ku antar ke Neraka!"


Ujar Randi (Rahman) menyeringai menakutkan. Bu Elly berusaha meronta ronta, dia menangis ketakutan, tubuhnya berkeringat dingin, melihat begitu menyeramkan nya orang yang ada di hadapan nya itu membuat nya begitu takut. Dia meronta menggeleng gelengkan kepalanya, seakan berkata agar Randi (Rahman) melepaskan nya dan tidak membunuhnya.


"Bersiaplah untuk kematianmu, karena aku, sang Pengadil, akan mengadilimu sekarang!"


Ujar Randi (Rahman) dengan suara datar dan berat, wajah nya semakin menakutkan , Bu Elly semakin bergidik ngeri saat melihat Randi (Rahman) mengambil sebuah pisau dari pinggang nya, mengarah kan pisau itu kepada diri nya.


Lalu kemudian, Mata Bu Elly melotot, dari ekspresi mata nya tampak dia merintih menahan sakit, Pisau di hujam kan berkali kali oleh Randi (Rahman) ke perut Bu Elly, darah segar keluar dari perut nya yang di tusuk pisau.


Randi (Rahman) terus menusuk kan pisau itu ke tubuh nya dengan ekspresi dingin, dengan tatapan mata yang menyeramkan.


Tak ada yang mengetahui apa yang terjadi Malam itu di dalam rumah Bu Elly, karena para tetangga di perumahan memang terbiasa dengan kesibukan diri mereka masing masing, tidak memperdulikan apa yang terjadi didalam rumah tetangga samping rumahnya.


Via mendatangi Jumirah yang sedang memasak di dapur rumah nya pagi itu, mencium aroma dari masakan nya.


"Waaaah...enak nih, jadi lapar Nek."


Ujar Via ketawa, Jumirah tertawa dan tersenyum melirik pada Via yang tampak senang itu.


"Kamu duduk aja yang manis di ruang makan, Nenek siapin makanan buatmu."


Ujar Jumirah.


"Siaap Nek."


Ujar Via tersenyum memberi hormat pada Nenek nya, Via mencium pipi Jumirah lalu berlari menuju ruang makan, Nenek nya tersenyum senang melihat sikap cucu nya itu.


Tukang sampah yang biasa mengambil sampah di komplek Perumahan itu membuka pintu pagar rumah Bu Elly, dia melangkah masuk ke halaman rumah Bu Elly untuk mengambil sampah, dia sudah biasa masuk ke halaman rumah Bu Elly mengambil sampah, karena tempat sampah memang di letakkan Bu Elly di sudut teras rumah nya. Tidak di luar rumah.


Saat Tukang sampah melangkah masuk kehalaman rumah, jalan menuju teras mendekat ke tempat sampah, dia kaget, mata nya terhenyak, tubuh nya gemetar, dia kaget dan terjatuh, terduduk di tanah, dengan tatapan penuh ketakutan ke arah Pohon besar yang ada di depan teras rumah Bu Elly.


Di Pohon itu, terlihat Tubuh Bu Elly yang sudah kaku menjadi mayat terikat, tubuh nya penuh dengan luka luka, Mulut nya berdarah dan tersobek seperti bekas di gunting paksa, di jari jari tangan nya ada darah yang menghitam, Bu Elly mati meregang nyawa dengan kondisi yang mengerikan.


Randi menyetir Mobil nya di jalan raya, wajah nya tampak tenang, musik klasik terdengar dari dalam mobil nya. Tampak di Bagasi mobilnya beberapa koper tergeletak.


Randi saat itu hendak melakukan perjalanan jauh seperti nya.


Mobil Polisi, Mobil Ambulance terlihat ada di sekitar rumah Bu Elly yang menjadi korban pembunuhan, Tampak Polisi sedang berbicara dengan salah seorang warga disana, sementara Paramedis menggotong tubuh Bu Elly dan memasukkan nya ke dalam Ambulance. Seluruh warga Di Komplek Perumahan itu di geger kan oleh Pembunuhan untuk ke dua kali nya, belum selesai kasus Joko, anak nya yang mati, kini Ibunya yang mati. Warga bertanya tanya apa yang sudah terjadi dengan Bu Elly, kenapa ada yang membunuh nya. Polisi pun mendapatkan pekerjaan yang sulit, harus bisa mengungkap kasus pembunuhan tersebut.


Via tiba di rumah Bude Intan, mencium tangan Bude nya lalu masuk ke dalam rumah, Motor Via parkir di garasi rumah Bude Intan,


Rumah Bude Intan cukup asri, dia tinggal di daerah Bogor, sengaja memilih kota bogor karena dia suka dengan suasana dan udara nya.


"Ini dari Nenek buat Bude."


Kata Via memberikan rantang berisi makanan kepada Bude Intan yang menerima nya dengan senang.


"Pake repot repot bawain makanan, kebetulan sih, Bude belum masak."


Ujar nya ketawa, Via pun ikut ketawa , Via duduk di sofa ruang tamu , Bude Intan melangkah masuk kedalam rumah nya, meletakkan rantang makanan di meja makan, Dia lalu membuat sirup.


Via yang sedang duduk di sofa mengamati isi ruangan rumah Bude nya itu melihat Bude Intan datang membawa nampan berisi gelas sirup dan makanan ringan.


"Eet, biarin aja Bude, Via bisa ambil sendiri kok kalo haus, ngerepotin Bude."


Ujar Via membantu Bude Intan meletakkan gelas sirup dan makanan ringan ke atas meja yang ada diruang tamu.


"Gak apa, kamu kan udah lama gak ketemu dan main kerumah Bude, Bude kangen tau."


Ujar Bude Intan mencubit pipi Via yang tersenyum menatap nya.


Bude Intan, kakak dari Randi, Papah nya Via, Bude Intan sangat sayang pada Via, dia sudah menganggap Via sebagai anak nya sendiri, karena Bude Intan memang belum juga di karuniain anak dari pernikahan nya, padahal umur nya sudah mendekati 60 tahun.


Via pun sangat manja pada Bude Intan.


Bude Intan duduk di sebuah Sofa, menatap wajah Via yang saat itu sedang tercenung.


"Malah ngelamun."


Ujar Bude Intan menyadarkan Via dari lamunan nya, Via pun tersadar dari lamunan nya.


"Eeh, maaf Bude."


"Kamu kenapa? Ada masalah?"


Tanya Bude Intan menatap wajah Via , Via terdiam tak menjawab pertanyaan Bude nya.


"Bude pasti tau kalo kamu ada masalah, kamu gak bisa bohongin Bude."


"Cerita ke Bude, ada masalah apa?"


Tanya Bude Intan yang lantas berpindah duduk, dia duduk di samping Via yang duduk di sofa panjang. Via tampak diam, dia ragu, Gak tau harus mulai dari mana, wajahnya bingung.


"Malah kayak orang kebingungan gitu."


"Kita makan dulu yaa, ntar ntar aja cerita nya, yuk."


Ajak Bude Intan menghibur Via, dia sengaja mengajak makan agar Via bisa menenangkan diri nya.


Saat Bude Intan berdiri hendak melangkah, Via menatap Bude nya.


"Tentang Papah."


Mendengar perkataan Via, Bude Intan heran, dia berbalik menatap wajah Via.


"Papahmu ?"


Tanya nya melirik Via.


Via mengangguk lemah, Bude Intan terdiam ditempat nya berdiri, dia berfikir, ada sesuatu yang terjadi pasti nya, saat Via mengatakan Masalah itu tentang Papah nya.


"Via ingin tau tentang Papah."


Jelas Via, Bude Intan masih terdiam berdiri menatap wajah Via yang menyiratkan kesedihan.