
Setelah pertemuan Randi dan Sugeng, mereka pun mulai membuat rencana untuk menjalani misi mereka, Randi menjelaskan pada Sugeng, apa saja yang harus di lakukannya dan bagaimana dia nanti akan beraksi.
Sugeng mematuhi semua arahan Randi kepadanya. Sementara, Marwan tidak ikut dengan rencana mereka saat itu dikarenakan dia harus pergi ke kampungnya, kutoarjo, menjenguk bapaknya yang sedang sakit tua.
Alasan Randi merekrut Sugeng, karena Marwan tak bisa membantunya untuk menjalani semua rencana yang sudah disusunnya, untuk itu, Randi yang teringat akan Sugeng mendatangi dan mengajaknya agar bergabung dengannya. Sugeng yang memang menaruh dendam pada mantan istrinya karena merasa di khianati tanpa berfikir panjang menyetujui semua ide Randi.
Aksi pertama yang dilakukan Sugeng bersama Randi adalah membunuh mantan istri dan suami dari mantan istri Sugeng. Mayat Melati, mantan istri Sugeng beserta suaminya mati terbunuh dengan kondisi yang sangat mengerikan, wajah Melati yang tersayat dengan mulut di sobek pisau dengan paksa, kuku kuku yang terlepas dari jari jari tangannya, leher yang menganga bekas sayatan pisau, dan luka luka mengerikan juga terdapat pada tubuh suami dari Melati, bahkan lebih sadis, Mayat Melati beserta suaminya di buang begitu saja oleh Sugeng di pekarangan kebun belakang rumah Melati, ke dua mayat itu di temui seorang warga yang sedang berada di kebun, bau bangkai yang menyengat membuat warga mendekati asal bau tersebut, ketika melihat ada dua mayat tergeletak di kebun itu, dengan panik dan rasa takut warga tersebut melaporkan hal itu pada ketua erte setempat. Polisi pun bergerak cepat mendatangi lokasi kejadian dan menyusuri lokasi kejadian mencari bukti bukti dari pembunuhan, sementara mayat Melati dan suaminya dibawa Paramedis dengan mobil ambulance. Kematian Melati dan suaminya itu menggegerkan seluruh warga kampung disekitar lokasi kejadian.
Malam itu, Suminto, Pengacara kasus perceraian Yana dan Randi, yang juga pengacara dari Melati mantan istri Sugeng sedang bersiap hendak pulang, Kantor itu sepi, hanya ada Suminto malam itu yang memang tengah bekerja lembur saat itu, Suminto keluar dari dalam kantornya, mengunci pintu kantor lalu melangkah menuju mobilnya yang terparkir di halaman kantor. Saat Suminto hendak membuka pintu mobil, tiba tiba Sugeng yang memakai penutup wajah menyergapnya, membius Suminto hingga pingsan, dengan cepat Sugeng menggotong tubuhnya dan membawanya lalu memasukkannya kedalam mobil miliknya.
Disebuah gubuk usang tak terpakai, yang berada ditengah pematang sawah, malam itu, tubuh Suminto dibawa Sugeng dan disekap dalam gubuk.
Randi tampak berdiri dihadapan Suminto yang duduk di sebuah kursi dengan keadaan dirinya terikat, Suminto tersadar dari pingsannya, samar samar dia melihat wajah Randi yang berdiri dihadapannya, sisa sisa obat bius masih dirasakannya, Suminto dengan kondisi lemah menatap dan bertanya pada Randi.
"Siapa kamu?" Tanya Suminto dengan suara lemah, Randi menyeringai menatapnya.
"Kamu lupa denganku?" Ujar Randi melangkah mendekat kedepan Suminto yang terduduk.
"Aku Randi, mantan suami Yana yang menjadi klienmu." Ujar Randi menatap Suminto yang masih bingung menatap Randi, dia berfikir.
"Aku gak ingat." Ujar Suminto.
"Gara gara kamu membuat tuduhan tuduhan palsu dan kebohongan, aku bercerai dengan istriku. Apa yang kamu tulis dalam gugatan cerai semua dusta." Ujar Randi dengan geramnya.
"Demi uang, kamu menghalalkan segala cara, agar hakim memenangkan kasusmu, kamu buat gugatan yang merugikan diriku, isi gugatanmu itu mencemarkan nama baikku, dan semua fitnah !" Ujar Randi teriak padanya, Suminto mulai menyadari siapa Randi , dia mulai mengingat wajah Randi karena mereka pernah bertemu di kantor pengadilan agama dan sempat berbicara saat dulu dia meminta Randi menunggu untuk mengikuti proses mediasi.
"Semua yang kutulis dalam surat gugatan cerai itu berdasarkan keterangan klienku." Ujar Suminto berusaha membela diri.
"Memang, itu berdasarkan klienmu, hanya poinnya, Yana hanya ingin cerai denganku karena berselingkuh, dan dia memintamu bagaimana caranya agar dia memenangkan gugatan cerainya tanpa proses berlarut larut, itu makanya kamu sengaja membuat poin poin yang memberatkanku, hingga hakim menerima gugatan kalian !" Teriak Randi dengan marah dan memukul wajah Suminto hingga berdarah, Suminto meringis kesakitan menahan pukulan Randi.
"Jika saja kamu gak ikut campur urusanku dan Yana, pasti kami gak kan bercerai !" Ujar Randi menatap tajam wajah Suminto.
"Karena itu, atas semua kebohongan yang sudah kau lakukan dan perbuatanmu memfitnahku tanpa bukti nyata , kamu harus menerima segala akibat dari perbuatanmu !" Ujar Randi.
"Setiap pembohong harus dimusnahkan dari dunia ini, agar dunia ini bersih dari para pembohong sepertimu ." Ujar Randi menyeringai tajam, Sugeng yang berdiri tidak jauh dari Randi hanya diam melihat, Randi mengambil sebuah pisau yang tergeletak disebuah meja, di atas meja itu banyak senjata senjata tajam yang memang sudah di siapkan untuk aksi mereka, Randi memutar mutar pisau yang dipegangnya tepat didepan wajah Suminto , Suminto yang melihat hal itu raut mukanya ketakutan, dia berusaha meronta agar dilepaskan.
"Tolong, jangan bunuh aku, maafkan aku, maafkan aku, tolong...! Aku akan mengganti semua kerugianmu , berapa uang yang kamu mau ?!" Ujar Suminto berusaha bernegosiasi dengan Randi, mendengar perkataan Suminto itu, Randi menyeringai, dia tertawa menyeramkan, menatap tajam wajah Suminto.
"Aku gak butuh uangmu, uangku lebih banyak darimu !" Ujar Randi.
"Yang aku butuhkan saat ini nyawamu, aku akan mengambil nyawamu sebagai penebus dosa dosamu padaku ." Ujar Randi dengan tatapan mata yang mengerikan.
"Bukan saja aku yang menjadi korban kebusukanmu karena uang, tapi dia juga, karena ulahmu yang sok menjadi pahlawan, menjadi pengacara, dia juga bercerai dengan istrinya." Teriak Randi sambil menunjuk ke arah Sugeng, Suminto melirik pada Sugeng yang membuka penutup wajahnya, menatap tajam pada Suminto yang menyadari siapa Sugeng.
"Untuk masalah dia, hakim memutuskan cerai karena terbukti dia mengancam akan membunuh klienku, kalo saja klienku tidak menghentikan masalah itu, dia mungkin sudah dipenjara karena kasus ancaman pembunuhan." Jelas Suminto pada Randi, mendengar itu Sugeng meradang, dengan wajah marah dia menerjang Suminto, meraih sebuah pisau lalu menusuknya keperut Suminto.
"Diam lu Setaaann !!" Teriak Sugeng dengan amarah membabi buta, dia menghujamkan berkali kali pisau ditangannya keperut Suminto hingga mengeluarkan darah segar dari perut dan mulutnya, Randi yang melihat itu menyeringai tajam, Suminto mati terbunuh.
Mayat Suminto dibuang begitu saja oleh Randi dan Sugeng di tengah tengah pematang sawah, luka mengerikan ada pada seluruh tubuh Suminto, luka sayatan pisau dimulut, kuku kuku jari yang terlepas semua, perut yang berdarah, Suminto mati mengenaskan. Mayatnya berhari hari tergeletak di pematang sawah itu, hingga satu minggu kemudian, seorang petani menemukan mayatnya.
Begitulah aksi Sugeng yang memilih bekerjasama dengan Randi membalaskan dendamnya pada istri dan pengacara istrinya, setelah aksi mereka itu, Sugeng pun mematuhi dan menuruti semua perintah dan tugas yang disuruh Randi untuknya.
Sugeng juga yang ternyata menyelinap masuk bersembunyi dikamar Herry lalu menyergap dan memukul Herry hingga pingsan, kemudian menculiknya.
Sugeng lah yang di lihat Herry saat berada di sebuah gudang tak terpakai, lokasi tempat terbunuhnya Herry. Sugeng saat itu ditugaskan Randi menculik dan menyiksa Herry, membuatnya agar mengakui semua perbuatan dan rencananya pada Yana, Sugeng merekam semua pengakuan Herry lalu memberikannya pada Randi setelah Randi datang ke gudang tempat diculiknya Herry, setelah mendapatkan pengakuan Herry, Randilah orang yang mengeksekusi Herry hingga mati terbunuh dengan luka luka yang mengerikan.
Aksi Sugeng bukan hanya sebatas itu saja, dia jugalah yang ternyata mendatangi cafe Yana dan memasang bom rakitan, Sugeng juga yang membuat dan merakit bom, atas suruhan Randi, Sugeng meledakkan cafe Yana, dengan tujuan sebagai peringatan kehancuran hidup Yana. Cafe itu mata pencarian Yana saat itu, ketika mata pencariannya hancur lebur, maka kehidupannya pun akan hancur lebur, itu pemikiran Randi. Tanpa bantuan Sugeng, mustahil Randi dapat menjalani setiap aksi terornya dengan rapi. Untuk itu Randi butuh bantuan orang orang yang dapat dipercaya dan mudah dipengaruhinya agar mau membantunya, dan pilihannya pada Sugeng sangat tepat.
Dikantor Bareskrim Klaten, Kepolisian terlihat disibukkan dengan kasus pembunuhan yang terjadi atas korban Melati dan suaminya serta Suminto, seorang pengacara, Polisi menemukan kesamaan dari luka luka korban, dan mereka pun memutuskan bahwa pelaku pembunuhan adalah Randi, tersangka yang saat ini sedang mereka buru, sebagai pembunuh berantai.
Dengan ditemuinya mayat mayat lainnya dengan kesamaan pola dari korban korban sebelumnya, Polisi polisi pun semakin gencar untuk menyisir semua lokasi dan tempat, mencari keberadaan Randi.
Kepolisian juga mengetahui dari bukti yang ada, bahwa aksi Randi itu dilakukannya tidak sendirian, tapi ada kaki tangan yang membantunya, mungkin yang membunuh Randi, tapi proses sebelum dibunuh pasti campur tangan dari anak buah Randi, itu kesimpulan Polisi.
Perburuan pencarian Randi oleh pihak kepolisian membuat ruang gerak Randi semakin terbatas, dia tak bisa sebebas dulu berkeliaran dijalanan dan disembarang tempat, Randi harus memakai masker untuk menutupi wajahnya agar tidak dikenali sebagai buronan, hingga dia berkali kali mengganti dengan sengaja nomor plat mobilnya agar tidak terlacak oleh pihak kepolisian. Randi pun bersembunyi disebuah rumah yang berada di desa terpencil, yang jauh dari jangkauan orang orang.
Dalam pelarian dan persembunyiannya, Randi tetap menugaskan kaki tangannya untuk terus mengintai dan mengikuti gerak gerik Yana setiap hari, dan memerintahkan agar segera menculik Yana begitu ada kesempatan.
Sugeng mengikuti semua perintah Randi, dia pun memata matai pergerakan Yana, kemanapun Yana pergi, dengan diam diam Sugeng mengikutinya, pergi ke cafe, ke pusat perbelanjaan, kemana saja Yana pergi, dia selalu di ikuti Sugeng.
Sugeng mencari cara dan waktu yang tepat agar segera dapat menculik Yana, dia berhati hati agar aksinya tidak ceroboh, sebab Yana setiap hari selalu didampingi oleh Badrun dan 2 temannya yang mengawal, Badrun sengaja mengawal ketat Yana, karena semua peristiwa yang sudah terjadi di sekitar Yana, Badrun tidak ingin lengah lagi seperti dulu, untuk itu dia meminta temannya untuk bersedia mendampinginya mengawal kemanapun Yana pergi, sementara 2 orang teman lainnya berada di rumah Yana, berjaga jaga di rumah, agar tidak ada orang yang menyusup diam diam masuk kedalam rumah lagi.
Saat itu, Yana baru selesai berbelanja di pusat perbelanjaan, Badrun yang berjalan disampingnya dan 2 teman Badrun dibelakang tampak melangkah menuju ke parkiran pusat perbelanjaan. Badrun membuka pintu depan mobil sedan milik Yana, saat Yana hendak masuk kedalam mobil, Badrun berbisik padanya.
"Kita di ikuti Yan, kamu bersikap wajar aja ya." Bisik Badrun, Yana sedikit kaget, namun kemudian berusaha tenang mengangguk lalu masuk kedalam mobilnya. Badrun dan kedua temannya lalu masuk kedalam mobil.
"Kamu yakin mas kita di ikuti?" Tanya Yana saat sudah berada didalam mobil.
"Yakin, bukan kali ini, sudah beberapa hari aku curiga, aku tau ada yang mengikuti mobil kita , kemanapun kita pergi, orang itu selalu ada, seperti sekarang ini." Ujar Badrun.
"Kamu kenal orangnya ?" Tanya Yana.
"Nggak, dia pake masker dan topi, tapi beberapa kali aku sempat memergokinya dan berpapasan dengannya saat memantau kamu dipasar, saat itu dia berpura pura sebagai pembeli, aku sengaja bersikap biasa saja waktu itu, ingin tau sejauh mana dia ngikuti." Ujar Badrun pada Yana.
"Apa Randi mas ?" Ujar Yana.
"Nggak mungkin, sosok tubuhnya beda dari Randi." Ujar Badrun. kedua teman Badrun melihat ke arah luar pusat perbelanjaan, tampak tak jauh dari tempat mereka Sugeng berdiri mengamati.
"Kita gulung sekarang aja Drun." Ujar Samuel.
"Jangan, tunggu waktu yang tepat, baru kita gulung tuh orang." Ujar Badrun pada Samuel.
"Iya, sekarang kita ikuti aja cara mainnya." Ujar Gilbert, teman Badrun yang satunya.
"Kamu pokoknya bersikap wajar aja, pura pura gak tau kalo kamu di ikuti dan diawasi, sambil aku ngatur siasat." Ujar Badrun pada Yana yang mengangguk dengan wajah cemas.
Badrun lalu menyalakan mesin mobilnya, menjalankan mobilnya pergi dari parkiran pusat perbelanjaan, Sugeng yang melihat kepergian Yana dengan cepat berlari mendekati mobilnya yang terparkir, menyalakan mesin lalu menjalankan mobilnya untuk mengikuti mobil Yana.
Malam itu, suasana hening dan sepi, rumah Yana terlihat sepi, lampu pijar menyala di teras rumah, sementara lampu di seluruh ruangan didalam rumahnya mati, tidak terlihat 2 teman Badrun di teras rumah berjaga jaga seperti biasa, sosok pria berpakaian serba hitam dengan memakai masker dan topi menyelinap masuk kedalam rumah, dia celingak celinguk mengamati suasana sekitar, tak ada siapa siapa, dia lalu secara perlahan lahan melangkah kesamping rumah, lalu memanjat sebuah tembok yang ada disamping rumah Yana, naik ke atas atap rumah Yana, Sosok pria itu melangkah pelan diatas atap rumah, dia lalu menyelinap masuk kedalam rumah melalui sebuah lubang ventilasi udara yang memang hanya di tutupi sebuah papan triplex , sengaja di buat terbuka sebagai pembuangan saluran udara yang berasal dari dalam ruangan itu yang tak ada jendelanya. Sosok pria itu melompat turun masuk kedalam ruangan, lalu perlahan membuka pintu ruangan itu, melangkah keluar, dia dengan langkah pelan berjalan menyusuri ruangan ruangan yang ada di dalam rumah Yana, Sosok Pria itu melangkah masuk ke ruang keluarga, melangkah hendak mendekati sebuah kamar, kamar tidur yang ditempati Yana, secara perlahan dia melangkah menuju arah kamar Yana, dia ingin cepat dapat meringkus Yana , suasana yang sepi itu tanpa ada siapapun didalam rumah seakan mendukung rencananya.
Sosok pria itu mendekati pintu kamar, tangannya hendak meraih gagang pintu, saat hendak membuka pintu kamar itu, Lampu lampu diseluruh ruangan menyala dengan terangnya, sosok pria yang ternyata Sugeng itu kaget mengetahui hal itu, dia cepat berbalik, saat melihat Badrun dan ke empat temannya berdiri dihadapannya dengan tersenyum, Sugeng pun bersiap siap, dia meraih pisau yang ada dipinggangnya, bersiap siap memberi perlawanan.