
Paman Mulyono terlihat wajahnya sedih, dia cemas sekali, menunggu dan berharap kabar baik dari Gunawan tentang Yana, keponakan yang sangat disayanginya itu, anak dari adik kandungnya.
"Mudah mudahan kamu baik baik saja Yana." Ujar paman Mulyono.
"Tuhan, tolong lindungi dan selamatkan Yana, jangan biarkan Randi membunuhnya, aku mohon Tuhan." Ujar paman Mulyono berdoa dengan cara yang dianut agamanya, ya, paman Mulyono seorang khatolik, berbeda agama dengan Yana yang menjadi mualaf dan menjadi muslim. Namun itu tidak membuat hubungan keluarga mereka pecah, walaupun banyak yang berbeda agama dan keyakinan dalam keluarga, mereka tetap hidup rukun, harmonis dan saling menyayangi satu sama lainnya, tidak ada permusuhan diantara mereka, seperti paman Mulyono yang begitu menyayangi Yana dan melindungi dirinya.
Sementara itu, di tempat lain, Gunawan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, melintas melewati mobil mobil yang ada dijalan raya, suara sirene terdengar berbunyi dari mobil Gunawan, orang orang yang mengendarai mobil di jalan raya mau tidak mau harus mengalah dan memberikan jalan pada mobil Gunawan yang melintas dengan kecepatan tinggi, Gunawan ingin cepat sampai di lokasi rumah lama Randi, dia tidak ingin gagal lagi, kali ini dia bertekat harus bisa meringkus dan menangkap Randi hidup atau mati seperti yang diperintahkan oleh kapten Harun Rasyid. Menangkap Randi adalah pertaruhan pekerjaan bagi Gunawan, jika dia gagal lagi dan tidak bisa menangkap Randi, bukan tidak mungkin dia akan di skor, bahkan yang lebih parah dia bisa di pecat Kaptennya dari tugas kepolisian, Gunawan tidak ingin itu terjadi, dengan penuh optimis dan semangat tinggi dia yakin kali ini akan berhasil menangkap Randi hidup atau mati.
Gunawan menginjak gas mobil, menambah kecepatan mobilnya yang segera melesat cepat dijalan raya.
Di perempatan jalan raya, 2 mobil patroli datang, melaju ke arah mobil Gunawan yang berada di jalan raya bagian lainnya, mobil mobil patroli itu bergabung dengan mobil Gunawan, suara sirene mobil polisi terdengar keras dan nyaring, membuat sedikit berisik dijalan raya yang mereka lalui.
Gunawan membelokkan mobilnya ke kanan jalan, memasuki jalanan kecil yang masih bisa di lalui mobil berukuran kecil dan sedang seperti miliknya, melaju menyusuri jalanan, 2 mobil patroli polisi mengikuti dari belakang mobilnya. Dari arah lain muncul 3 mobil patroli polisi lagi menuju ke arah mobil Gunawan lalu bergabung dengan mereka, melaju di jalanan yang menuju ke arah rumah lama Randi dan Yana.
Orang orang yang mendengar suara berisik sirene dari mobil polisi keluar dari rumah masing masing, melihat ke jalanan, mereka heran apa yang terjadi, mengapa begitu banyak mobil polisi datang ke lingkungan tempat mereka, apa yang terjadi ? dari raut wajah masing masing warga penghuni rumah di lingkungan itu menunjukkan kebingungan, ada yang khawatir dan cemas, berfikir telah terjadi pembunuhan lagikah?
Mobil Gunawan berhenti di depan gang rumah lama Randi, dia memarkir mobilnya di pinggir jalan itu karena jalan masuk ke dalam rumah lama Randi itu sempit, hanya cukup untuk mobil sedan, itupun dipaksakan dan pas pasan dengan kiri kanan tembok rumah warga.
ke lima mobil patroli polisi juga ikut berhenti dan parkir dibelakang mobil Gunawan. Gunawan cepat turun dari dalam mobilnya, para petugas kepolisian ikut turun dan keluar mobil, dengan cepat mereka bergerak mengikuti Gunawan yang sudah lebih dulu berjalan dengan cepat memasuki gang rumah lama Randi.
Diantara petugas polisi yang ikut saat ini terlihat ada Manto yang sebelumnya menjaga di rumah baru milik Yana. Dia ikut atas perintah dari Gunawan langsung yang memimpin penyergapan Randi saat ini.
Sesampainya mereka didepan rumah lama Randi, Gunawan memberi isyarat agar para petugas kepolisian bersiap siaga, masing masing petugas polisi termasuk Manto mencabut pistol dari sarungnya yang terselip di pinggang. Gunawan melihat pintu garasi yang terbuka segera melangkah dengan hati hati sambil memegang pistol , dia membuka pintu garasi rumah lalu masuk ke dalam di ikuti lima petugas kepolisian. Sementara Manto dan empat petugas kepolisian menyusuri sisi lain dari rumah lama Randi, mereka berjalan menuju ke belakang rumah, ke arah kebun bambu.
Gunawan dengan hati hati penuh kewaspadaan masuk kedalam rumah lama Randi, menyusuri setiap ruangan rumah, tak ada tanda tanda adanya Randi di tiap ruangan yang mereka periksa, begitu juga dengan kamar, Gunawan memberi isyarat pada ke lima petugas polisi agar naik ke lantai atas, para petugas kepolisian itupun bergerak menaiki anak tangga dan naik ke lantai atas rumah lama Randi itu, Gunawan mengikuti dari belakang.
Setibanya mereka di lantai atas, diruang tamu lantai atas itu kosong, tidak ada Randi di ruangan itu, Gunawan memberi isyarat pada ke lima petugas polisi agar memeriksa tiga kamar yang ada dilantai atas rumah lama Randi, masing masing dua petugas polisi memeriksa satu kamar, tidak mereka temukan ada Randi maupun Yana di dalam kamar, mereka memberitahu Gunawan bahwa tidak ada siapa siapa di dalam kamar. Gunawan melangkah hati hati menuju satu kamar yang tersisa belum diperiksa, dengan mengarahkan pistol ditangannya ke depan, bersiap siaga, dia melangkah perlahan menuju kamar kosong yang pintunya terbuka lebar, Gunawan masuk ke dalam kamar itu, di dalam kamar tidak ada seorang pun yang ditemukannya, Gunawan kesal karena tidak menemukan Yana dan Randi di dalam rumah itu.
Kemana Randi ? Mengapa dia bisa melarikan diri dengan kondisi terluka parah di perutnya ? Akan di ceritakan secara terpisah nantinya.
Gunawan melihat ada darah berceceran dilantai kamar itu, dan tali tambang serta kursi, juga peralatan peralatan senjata senjata tajam di atas meja, Gunawan tahu tali tambang itu dipakai pasti untuk mengikat Yana, dan senjata senjata tajam yang ada disitu pasti akan digunakan untuk menyiksa dan membunuh Yana. Gunawan wajahnya kesal, dia mulai terlihat marah, melihat darah dilantai, mengira bahwa Yana sudah di bunuh Randi.
"Siaaalll !! Dia sudah kabur, kita telat !!" Ujar Gunawan kesal menendang kursi yang ada dikamar itu.
Gunawan lalu berbalik, berjalan cepat dengan wajah marah keluar dari kamar, turun dari lantai atas rumah lama Randi, ke lima petugas polisi mengikutinya.
Di luar rumah, Gunawan berdiri di depan garasi rumah lama Randi, dia berfikir, kemana Randi pergi menghilang? Apakah Randi tahu kedatangannya kerumah ini ? Gunawan berfikir keras, Manto beserta ke empat petugas polisi datang dari arah belakang rumah lama Randi, mereka mendekati Gunawan.
"Gak ada Randinya ?" Tanya Manto, Gunawan menggeleng kesal.
"Apa kalian menemukan tanda tanda di kebun bambu itu ?" Tanya Gunawan pada Manto.
"Kami menemukan bercak darah di sekitar tembok dan tanah dikebun bambu itu, sepertinya Randi melarikan diri lompat dari tembok membawa Yana." Ujar Manto memberikan penjelasan pada Gunawan.
"Sudah diambil darahnya buat di cek ?" Tanya Gunawan.
"Sudah diamankan sebagai barang bukti." Ujar Manto.
"Susuri seluruh rumah rumah warga dan jalan jalan sekitar sini, tanyain orang orang, apa mereka ada yang melihat Randi atau Yana." perintah Gunawan. Para petugas kepolisian lantas bergerak cepat, berbagi tugas untuk mencari tahu keberadaan Randi dengan bertanya mencari saksi di lingkungan sekitar rumah lama Randi itu.
Gunawan berjalan menyusuri jalanan setapak, dia menghampiri seorang pria tua yang sedang duduk di teras rumahnya.
"Selamat sore pak, maaf ganggu, boleh saya bertanya ?" Ujar Gunawan sambil menunjukkan identitas dirinya sebagai polisi, melihat Gunawan seorang polisi, dengan cepat pria tua berdiri dihadapannya. Gunawan mengambil ponselnya, membuka galery photo di ponselnya, mencari photo Randi yang disimpannya.
"Ada apa ya pak ?" Tanya pria tua pada Gunawan.
"Maaf, apa bapak pernah melihat orang ini ?" Ujar Gunawan menunjukkan photo Randi dari ponselnya. Pria tua melihat photo Randi di ponsel Gunawan, dia menggelengkan kepalanya.
"Saya gak liat, tapi, kayak pak Randi, yang dulu tinggal dirumah tingkat kuning emas, di erte tiga sana ya?" Ujar pria tua itu mengenal Randi dari photo tersebut.
"Iya pak, dia Randi, kami sedang mencarinya, terima kasih ya pak." Ujar Gunawan lalu pergi meninggalkan pria tua itu yang heran kenapa polisi mencari Randi?
Gunawan balik ke tempat dimana mobilnya dia parkir, menunggu, tak berapa lama, para petugas kepolisian kembali, mereka segera mendekati Gunawan.
"Gimana, ada hasil ?" Tanya Gunawan pada para petugas polisi itu. Kesembilan petugas polisi menggelengkan kepala, mereka tidak mendapatkan hasil.
"Ada apa ?" Tanya Gunawan heran melihat Manto yang berlari lari itu.
"Saya dapat info, kata beberapa warga, mereka sempat berpapasan dan melihat bu Yana di jalanan dengan kondisi terluka dan berdarah." Ujar Manto.
"Terus, dimana bu Yana ?" Tanya Gunawan penasaran.
"Para warga yang saya temui semua sama omongannya, mereka bilang bu Yana minta tolong ke mereka, tapi karena mereka takut dijadikan saksi, malah biarin bu Yana dijalanan dengan kaki pincang luka parah." Ujar Manto, mendengar itu Gunawan kesal.
"Keterlaluan warga warga itu ! Gak punya rasa kemanusiaan sedikitpun !" Ujar Gunawan geram.
"Ya mereka gak bisa disalahin, karena mereka pikir akan ribet urusannya kalo nolongin , rata rata kan begitu gak kan ada yang mau jadi saksi kalo nolongin , apalagi orang yang ditolong luka parah." Ujar Manto.
"Terus, mereka ada yang tau kemana bu Yana perginya ?" Tanya Gunawan.
"Gak ada yang tau, mereka langsung pergi ninggalin bu Yana begitu aja karena takut liat bu Yana yang terluka berdarah." Ujar Manto.
"Kemana perginya dia ya ?" Ujar Gunawan berfikir keras.
"Paling tidak, ini berarti membuktikan, bahwa bu Yana berhasil lolos dari Randi, dia pasti lari nyari tempat persembunyian agar tidak dikejar Randi." Ujar Gunawan mengambil kesimpulan dari info yang di dapat tentang Yana.
"Itu artinya juga, Randi sedang berkeliaran dijalanan mencari dan mengejar bu Yana yang berhasil melarikan diri darinya." Ujar Gunawan, Manto dan para petugas kepolisian mengangguk, mereka sepakat dengan semua yang dikatakan Gunawan.
"Kita harus cepat bergerak, susuri semua jalanan maupun sudut sudut kampung dan kota, periksa tiap tiap rumah warga, siapa tau Randi atau bu Yana bersembunyi disalah satu rumah warga." Ujar Gunawan. Para petugas kepolisian dan Manto pun bergerak, mereka cepat masuk kedalam mobil patroli mereka masing masing, Gunawan masuk kedalam mobilnya, menyalakan mesin mobil, lalu segera pergi menjalankan mobilnya meninggalkan tempat itu di ikuti mobil mobil patroli kepolisian.
Di sebuah ruangan, Via terlihat sedang menerima telepon dari Rizal, Omnya yang memberikan suatu kabar padanya, wajah Via terlihat muram, air mukanya berubah menjadi sedih mendengar apa yang disampaikan Omnya di telepon.
"Sekarang, bagaimana kondisi papah Om ?" Tanya Via dengan suara bergetar parau dan sedih menahan tangisnya. Dia syock mendengar dari Rizal , kalau papahnya terluka cukup parah karena di tusuk berkali kali perutnya oleh Yana. Via gemetar berdiri diam ditempatnya, air mata menetes di pipinya, tatapan matanya jauh kedepan, menatap tajam dan kaku.
"Belum ada perubahan, Om udah obati dan jahit lukanya, tadi di obati sama dokter kenalan Om, sengaja Om minta tolong dan dia mau." Ujar Rizal di telepon pada Via.
Via menghela nafasnya, dia memejamkan matanya, air mata jatuh dari kelopak matanya yang tertutup, lalu beberapa saat kemudian dia membuka matanya, menatap tajam dan lebar ke depan, dengan sikap kaku dan tenang, dia bicara ditelepon.
"Tolong jaga papah Om, kabari Via jika terjadi sesuatu dengan papah." Ujar Via dengan suara bergetar. Dia lalu menutup teleponnya, meletakkan ponselnya di atas meja yang ada diruangan itu, berdiri kaku dan terdiam, dia tercenung, berfikir, dari raut wajahnya terlihat ada lintasan lintasan suatu fikiran yang bermain main dalam dirinya. Dengan sikap masih tetap berdiri ditempatnya, dia memalingkan kepalanya, menoleh ke arah kamar, dimana Yana berada saat ini.
Di dalam kamar, Yana terbaring tak berdaya dengan kondisi pingsan dengan luka yang masih menganga dari paha atasnya bekas tusukan pisau, serta kakinya membengkak dan berdarah karena terkena hantaman besi yang dipukulkan Randi saat dirinya di tawan.
Di sebuah kamar, Rizal menatap tajam wajah Randi yang tak sadarkan diri dengan perut yang sudah diperban.
"Jangan mati dulu Ran, urusanku denganmu belum selesai, aku harus buat perhitungan denganmu atas apa yang udah pernah kamu perbuat padaku dulu." Ujar Rizal menyeringai menatap Randi yang dalam kondisi pingsan tak sadarkan diri.
Bagaimana Randi bisa berada di kamar apartemen tempat Rizal tinggal selama di jogja ?
Kita akan mundur sebentar ke belakang, menceritakan tentang saat saat moment dimana Rizal datang menolong Randi yang dalam keadaan kritis.
Beberapa waktu yang lalu, saat Yana berhasil melarikan diri dan Randi terkapar dilantai dengan luka parah dibagian perutnya.
Randi terbaring pingsan di lantai, tidak sadarkan diri, darah menetes dari perutnya yang terluka sayatan pisau yang menembus keperutnya berkali kali.
Rizal yang memang selama ini terus mengikuti, memantau, mengawasi gerak gerik Randi dan bersembunyi di dalam ruangan rumah lama Randi itu mengetahui jika Yana berhasil kabur, dan Randi terluka parah.
Rizal masuk ke dalam ruang kamar kosong, melihat Randi yang terluka, terbaring di lantai. Dia mendekati Randi, membalikkan tubuh Randi, saat tubuh Randi dalam posisi terlentang, Rizal melihat luka yang cukup parah dibagian perut Randi, dia menatap tajam wajah Randi.
"Kamu bisa tertolong berkat anakmu yang sayang padamu Randi, kalo saja Via gak minta aku ikuti dan mengawasi kamu, pasti kamu udah mati." Ujarnya pada Randi yang tak sadarkan diri itu, lalu dengan cepat Rizal mengangkat tubuh Randi, dia menggotong tubuh Randi, lalu berjalan kearah pintu samping lantai atas rumah lama Randi, pintu terbuka, dengan cepat Rizal keluar dengan menggotong tubuh Randi, berjalan di teras lantai atas ke pinggir tembok pembatas, Rizal melihat kebawah, berfikir sejenak, lalu dia menurunkan tubuh Randi, kemudian dia melemparkan tubuh Randi begitu saja ke bawah, ke kebun bambu.
"Sorry Ran, cuma cara ini yang bisa buat bawa kamu turun dan pergi dari sini." Ujarnya melihat tubuh Randi yang tergeletak di tanah masih dalam keadaan pingsan itu, lalu dengan cepat Rizal melompat turun dari tembok pembatas rumah ke kebun bambu, tangannya yang terkena darah Randi menempel di pinggir tembok pembatas. Lalu dengan cepat Rizal menggotong kembali tubuh Randi, dan cepat membawanya pergi dari kebun bambu itu, ada bercak darah tertinggal di tanah dan tembok pembatas antara rumah lama Randi dan kebun bambu, darah milik Randi.
Rizal cepat memasukkan tubuh Randi ke belakang jok mobilnya yang sengaja diparkirnya didepan halaman kebun bambu itu, dia melihat sekitarnya, mengawasi, berjaga jaga jika ada yang melihatnya, setelah dirasanya aman, Rizal cepat naik dan masuk kedalam mobilnya, mobil rental yang biasa disewanya dan digunakannya untuk mengintai Randi bahkan Yana.
Lalu dengan cepat Rizal menjalankan mobilnya , pergi meninggalkan tempat itu.
Begitulah yang terjadi, Karena Rizal, Randi masih bisa tertolong, walau keadaannya masih tetap sama, dalam kondisi tak sadarkan diri, apakah Randi bisa sembuh atau malah berakhir dengan kematian karena luka parah dan sudah mengeluarkan darah yang banyak dari luka perutnya? Akan terjawab nanti dalam cerita di bab berikutnya.