Go To Hell

Go To Hell
Bab 18



   Malam itu, dirumah Jetak, di dalam kamarnya, Yana termenung, dia berfikir, mengingat kembali wajah Randi ( Sandi ) yang dilihatnya di dalam mobil saat pergi dari Cafe miliknya.


"Apa mungkin diaa...kalo dari samping seperti yang kuliat sepertinya iya."


Ujar Yana pada dirinya sendiri.Yana lalu menepiskan pikirannya yang melintas.


"Ah, tapi ya gak mungkin, penampilannya aja beda, mungkin perasaanku aja ini."


Gumam Yana menghela nafasnya. Yana mematikan lampu kamarnya, lalu merebahkan tubuhnya dikasur, berusaha untuk memejamkan matanya dan tidur.


   Siang itu, Yana tampak berada dipemakaman, Yana mengunjungi makam Sekar.


"Mama datang Sekar."


Ujarnya pada makam Sekar sambil tersenyum memandang kepada batu Nisan.


"Mama kangen sama kamu."


Ujarnya sambil meneteskan air matanya menatap batu nisan sekar, Yana berjongkok didepan makam.


"Mama kangen dengan semua yang ada di kamu nak."


Ujarnya lagi .


Yana teringat akan keceriaan Sekar selama ini.


Sekar yang memang dikenal ceria dan cerewet itu setiap hari selalu meramaikan rumahnya dengan canda dan tawanya.


Jika Sekar sakit atau pun tidak ada dirumah, Rumah itu terasa sepi , Jika Sekar ada dirumah, maka Suasana rumah pun kembali ramai dan ceria. Yana sangat merindukan Sekar, Yana menghapus air matanya.


"Kamu yang tenang disana ya nak, tunggu Mama, kita pasti berkumpul lagi nanti."


Ujar Yana, Yana lalu membelai batu nisan Sekar, kemudian Yana mengecup batu nisan Sekar.


"Mama pulang dulu ya, Mama pasti sering datang nemui kamu disini."


Ujar Yana, lalu berdiri, sejenak menatap pada makam Sekar, kemudian Yana berbalik melangkah menjauh tinggalkan makam Sekar.


   Sandi ( Randi ) saat itu bertemu dengan Herry, mereka berjabatan tangan.


Surat akte rumah Yana dipegang Sandi ( Randi ), Kwitansi pembeliam rumah diserahkan Sandi ( Randi ) pada Herry.


Herry melihat nominal yang tertulis di kwitansi itu , "Satu Milyar ! " tertulis.


Herry senang menerimanya.


"Sesuai kesepakatan kita, sengaja saya tulis dikwitansi itu seharga yang Mas Herry katakan, sementara satu milyar dua ratus juta rupiah sudah saya transfer kerekening Mas Herry. Mohon di cek."


Ujar Sandi ( Randi ) pada Herry yang tampak senang mendengar penjelasan Sandi ( Randi ).


"Terima kasih pak Sandi atas kerjasamanya."


Ujar Herry. Sandi ( Randi ) tersenyum,menatap wajah Herry lekat penuh arti.


"Kapan Pak Sandi mulai tinggal dirumah itu ?"


Tanya Herry pada Sandi ( Randi ).


"Oh, bukan untuk saya Mas. Saya sengaja beli rumah itu untuk saya berikan ke orang yang special dihati saya selama ini."


Jelas Sandi ( Randi ) pada Herry.


"Oh begitu, beruntung orang itu Pak."


Ujar Herry tersenyum pada Sandi ( Randi ). Sandi ( Randi ) hanya mengangguk senyum saja.


"Baiklah Mas,saya permisi dulu."


Ujar Sandi ( Randi ) pamit pada Herry . Randi pergi meninggalkan Cafe itu, sementara Herry tampak wajahnya senang.


   Dirumah Yana, Herry menemui Yana, tampak wajah Yana sedikit kesal pada Herry.


"Aku kan udah bilang Mas, kalo kamu ketemuan lagi sama orang yang mau beli rumahku,kabari aku, aku pemilik rumah, jadi mau ketemu langsung."


Ujar Yana kesal.


"Iya, maaf aku salah, tapi Pak Sandi mendadak datang ngasih kabar, jadi gak sempat kabari kamu."


Jelas Herry pada Yana.


"Ya sudah, jangan marah gitu ah, kan yang penting rumahmu sudah laku dibeli pak Sandi."


Ujar Herry mencoba merayu dan tersenyum pada Yana. Yana menatap Herry, tampak Yana mulai mereda kesalnya.


"Sekarang uangnya mana ? Surat surat dan akte nya udah kamu kasih semua ?"


"Uang ada direkeningku, kita ke bank, akte umah udah dipegang pak Sandi, tinggal dia urus balik nama kepemilikan rumah."


Ujar Herry pada Yana.


"Ya udah, kita ke bank besok pagi ambil uangnya."


Ujar Yana pada Herry.


"Siap bos."


Ujar Herry tersenyum pada Yana, Yana melirik Herry lalu kemudian tersenyum juga pada Herry, Herry memeluk Yana mesra.


   Keesokan harinya Yana dan Herry ada di Bank mengambil uang hasil penjualan rumahnya.


Pihak Bank mentransfer sejumlah satu milyar dari rekening bank milik Herry ke rekening milik Yana.


Proses itu berjalan lancar, Uang pun masuk kedalam rekening bank milik Yana, Kemudian Yana dan Herry pun pergi meninggalkan Bank.


Yana dan Herry tiba dirumah Yana di Jetak, Yana duduk dikursi, tampak wajahnya lega.


"Akhirnya aku bebas dan lepas dari rumah itu."


Ujar Yana menghela nafas lega.


"Dulu memang rumah itu aku sangat suka Mas, aku yang maksa Randi buat setuju beli rumah itu, tapi setelah lingkungannya gak nyaman karena tetangga samping rumah itu, juga kenangan kenangan masa lalu bersama Sekar dan Randi, aku kuatkan hati jual rumah itu."


Jelas Yana pada Herry yang hanya diam mendengarkan semua cerita Yana.


"Sekarang apa rencanamu setelah punya uang satu milyar ?"


Tanya Herry pada Yana.


"Aku akan gunakan buat usaha lain, sebagian mau aku beliin mobil baru, buat armada rental mobil Mas Badrun, biar kalo ada tamu yang dibawanya bisa milih mobil untuk disewa."


Jelas Yana.


"Aku akan kasih kamu karena udah jualin rumahku Mas."


Ujar Yana pada Herry.


"Sisanya aku simpan buat Dewi, karena biar gimana juga nantinya itu jadi warisan Dewi anakku."


Ujar Yana pada Herry yang diam, Dihatinya Herry senang bakal dapat duit lagi dari Yana selain uang dua ratus juta yang didapatnya dari harga jual rumah tanpa sepengetahuan Yana.


   Yana sedang berada di Showroom mobil bersama Mas Badrun.


Yana melihat lihat mobil mobil yang terpajang di ruangan itu, Mas Badrun mengikutinya.


"Yang mana Mas ?"


Tanya Yana pada Badrun.


"Ya gimana kamu ajalah,aku ngikut."


Ujar Mas Badrun.


"Looh, kan Mas Badrun yang ngerti soal rental mobil dan mobil gimana yang sering diminta konsumennya."


Ujar Yana.


"Ya kalo kamu mau yang jok 6 atau lebih, bisa muat kalo bawa tamu sekeluarga."


"Kalo tamunya satu atau dua orang mobil sedan yang sekarang sih cukup, mobil itu juga banyak tamu yang suka, nyaman katanya."


Jelas Mas Badrun pada Yana.


"Ya udah kalo gitu, aku beli yang jok enam aja mobilnya ya, biar ada variasi mobil direntalmu."


Ujar Yana pada Mas Badrun. Mas Badrun mengangguk. Seorang Marketing Showroom mobil datang mendekati Yana dan Mas Badrun.


"Tertarik dengan mobil yang mana bu ?"


Tanya Marketing pada Yana.


"Saya mau yang itu Mas, Warna yang biru metalic itu."


Ujar Yana menunjukkan kesebuah mobil keluaran baru yang model dengan jok 6 orang lebih.


Tampak Mobil itu gagah dan bagus, Yana pintar dan tahu mana mobil yang bagus dan berkelas.


"Baik bu, bisa saya minta data datanya ?"


Ujar Marketing pada Yana.


"Baik Mas."


Ujar Yana.


"Mari bu, ikut saya ke ruangan saya."


Ujar Marketing Showroom Mobil.


"Tunggu ya Mas."


Ujar Yana pada Mas Badrun yang mengangguk , Yana mengikuti Marketing Showroom mobil, Mas Badrun duduk disebuah bangku panjang yang ada diruang tunggu showroom mobil itu.


Seorang karyawan mendekati Mas Badrun yang duduk, memberikan cemilan makanan dan segelas air mineral.


"Silahkan pak."


Ujar Karyawan.


"Oh iya, terima kasih mbak."


Ujar Mas Badrun.


Ujar Karyawan menunjuk satu ruangan yang sengaja disediakan makanan untuk para costumer showroom mereka.


"Iya mbak, terima kasih."


Ujar Mas Badrun lagi.


Karyawan pergi tinggalkan Mas Badrun yang lantas mengambil gelas air mineral, membukanya dan meminumnya, Mas Badrun melihat cemilan makanan, lalu kemudian mengambil dan memakannya.


   Yana keluar dari salah satu ruangan ditemani Marketing Showroom mobil, Yana dan Marketing Showroom mobil berdiri didepan mobil yang dipilih dan dibeli Yana, lalu mereka berphoto, kemudian Marketing Showroom menyalami Yana.


"Terima kasih bu, kami akan mengantarkan mobilnya ke rumah ibu."


Ujar Marketing Showroom mobil pada Yana.


"Baik Mas, saya permisi."


Ujar Yana.


"Terima kasih bu."


Ujar Marketing Showroom mobil.


"Sama sama Mas."


Ujar Yana pada Marketing Showroom Mobil itu. Yana melihat Badrun.


"Ayuk Mas Badrun."


Ajak Yana pada Badrun yang lantas berdiri dan mengikuti Yana keluar dari Showroom mobil itu. Yana dan Badrun masuk kedalam mobil Sedan milik Yana.


"Garasi rumahmu cukup kan Mas kalo buat dua mobil ?"


Tanya Yana pada Badrun.


"Cukup."


Ujar Badrun sambil menjalankan Mobilnya meninggalkan Showroom mobil itu.


Dijalanan, Mobil Yana melaju dengan kecepatan sedang, disetir Badrun.


"Kamu mau langsung pulang atau mau kemana ?"


Tanya Badrun.


"Ke Jogja Mas, ada yang mau aku urus soal bisnisku berikutnya."


Ujar Yana pada Badrun.


"Siap, laksanakan."


Ujar Badrun pada Yana.


"Halaah lagakmu Mas,kayak tentara kecemplung got."


Ujar Yana pada Badrun, Badrun tertawa, Yana pun ikut tertawa. Mobil melaju dengan kecepatan sedang dijalanan itu.


   Dikamar Hotel, Randi tampak sedang berkemas kemas pakaiannya yang dimasukkannya kedalam kopernya, saat itu Randi menatap sebuah bungkusan yang besar dan tinggi seukuran pinggangnya.


Menatap bungkusan itu.


"Hadiah yang kusiapkan dulu belum sempat kuberikan padamu Yana, mungkin udah saatnya sekarang kamu terima buat kejutan."


Ujar Randi sambil memegang bungkusan seukuran sepinggangnya itu.


   Siang itu Randi tampak berada di kantor salah satu ekspedisi khusus pengiriman barang/paket, Randi membawa bungkusan tinggi seukuran sepinggangnya itu, dengan hati hati Randi menggendong paket itu, meletakkannya dilantai.


Karyawan ekspedisi menerima paket Randi, menimbang beratnya, lalu mengukur volume barang yang ada didalam bungkusan paketnya. Karyawan lalu kembali ketempat duduknya, mengetik.


"Tolong dikasih fregile ya Mas, soalnya ini barang pecah belah dari kaca."


Ujar Randi.


"Oh gitu Pak, kalo gitu wajib packing kayu pak untuk amannya."


Jelas Karyawan ekspedisi pada Randi.


"Waduh,kalo harus packing kayu saya gak punya bahannya Mas."


Ujar Randi.


"Packing di sini Pak, kami menyediakan bahannya."


Ujar Karyawan Ekspedisi.


"Nanti ada biaya tambahan untuk packingnya."


Jelas Karyawan Ekspedisi lagi.


"Iya gak apa Mas, atur aja gimana baiknya."


Ujar Randi.


Karyawan Ekspedisi lalu mengangguk melanjutkan mengetik alamat tujuan yang tertulis.


"Maaf Pak, Pengirimnya atas nama siapa ?"


Tanya Karyawan Ekspedisi pada Randi.


"Tulis no name aja Mas."


Ujar Randi.


Karyawan Ekspedisi mengangguk.


Tak lama Karyawan ekspedisi berdiri,lalu masuk keruang belakang bagian gudang, kemudian keluar lagi dengan salah satu karyawan dengan membawa kayu dan peralatan.


Karyawan itu mulai melakukan packing pada paket Randi. Sementara Karyawan Ekspedisi yang mengetik, memberikan resi pada Randi.


"Ini nomor resinya Pak."


Ujar Karyawan Ekspedisi.


Randi menerima Resi itu,melihat nominal harga paket yang tertera.


Randi mengeluarkan uang seratus ribu, memberikannya pada karyawan ekspedisi itu.


"Kembaliannya pak."


Ujar Karyawan Ekspedisi pada Randi.


"Ambil aja Mas."


Ujar Randi lalu pergi melangkah keluar dari kantor ekspedisi itu. Randi lalu menjalankan mobilnya, pergi dari tempat itu.


   Di Cafe milik Yana tampak Herry wajahnya tegang dan cemas, dihadapannya berdiri seorang wanita, karyawan karyawan cafe sekilas mencuri pandang ke Herry, kemudian mereka pura pura tidak tahu. Herry menarik tangan wanita itu keluar dari Cafe.


Dijalanan tak jauh dari Cafe Yana itu, Herry berdiri menatap wanita yang datang menemuinya.


"Kamu kenapa nekat sih datang ke sini ? aku kan udah bilang, jangan sekali kali kamu datang kesini,bisa rusak semua rencanaku selama ini."


Ujar Herry dengan kesalnya pada Wanita itu. Wanita itu pun tak kalah kesalnya pada Herry.


"Ya habisnya kamu susah aku hubungi, kamu bilang udah dapat duit habis jual rumah si Yana, tapi habis itu kamu hilang gak ada kabarnya, ya aku datanglah kesini."


Ujar Wanita itu.


"Kamu jangan macam macam sama aku ya Her, bisa ku bongkar rahasiamu sama si Yana."


Ancamnya pada Herry.


"Ingat, aku izinin kamu bermain main dengan Yana karena demi anak kita yang masih berusia 2 tahun, kalo bukan karena uang, gak bakal aku izinin kamu main gila begini ."


Ujar Wanita itu yang ternyata adalah Istri dari Herry.


Herry sudah punya istri ternyata sebelum dengan Yana. Dan Yana tidak mengetahui hal itu.


Herry membodohi Yana selama ini.


"Kapan kamu mau kasih uangnya ke aku ?"


Tanya wanita itu.


"Nanti aku kerumah, jangan sekarang."


Ujar Herry.


"Awas aja kamu bohong, ku buka rahasiamu!"


Ancamnya pada Herry. Matanya melotot, Lalu Dia pergi tinggalkan Herry.


"Yeeenniiii....tunggu."


Panggil Herry.


Wanita Istri Herry itu ternyata bernama Yenni.


Yenni menghentikan langkahnya menoleh pada Herry yang lari mendekatinya.


"Kamu harus janji, jangan buka rahasia ini, demi kita, demi anak dan kebahagiaan kita, biar aku bisa terus manfaatkan Yana."


Ujar Herry pada Yenni berbisik.


"Asal kamu gak macam macam dibelakangku, aku bisa nyimpan rahasia itu."


Ujar Yenni tegas pada Herry.


"Aku Janji,aku gak kan macam macam, tujuanku cuma satu, manfaatkan Yana sebanyak banyaknya agar hidup kita mapan dan nyaman."


Ujar Herry pegang tangan Yenni. Yenni lalu mengangguk dan pergi dari situ.


Herry berbalik pergi menuju masuk kedalam Cafe nya. Herry tak sadar jika moment nya saat dari awal bertemu Yenni hingga akhir memegang tangan Yeni di abadikan dengan Jepretan sebuah kamera dari arah seberang jalan. Herry tak tahu kalau dia sedang di awasi oleh seseorang.