
Sore itu, Via menemui orang yang biasa di panggilnya dengan sebutan "Om", mereka duduk di sudut cafe, wajah Via terlihat tenang.
"Melihat papah yang menjadi pembunuh buas, aku sering berfikir om, apa aku juga nanti akan seperi papah ?" Ujar Via dengan suara datar dan tatapan mata yang dingin. Orang yang di sebut "Om itu tersenyum menatap wajah Via.
"Hanya kamu yang tau jalan hidupmu." Ujar Omnya pada Via, si Om terdiam sejenak, lalu menatap wajah Via.
"Papahmu membunuh anak Yana." Ujar orang yang disebut "Om" itu pada Via yang meliriknya dengan raut wajah yang datar, tidak menunjukkan rasa kaget sedikitpun.
"Aku tau Om, Papah pasti tetap membunuhnya, biarpun aku mencegahnya, papah gak bisa dihentikan, ***** keinginan membunuhnya semakin besar." Ujar Via dengan suara datar dan tatapan mata yang dingin.
"Kalo kamu udah tau begitu, buat apa kamu mau mencegahnya?" Tanya orang yang disebut "Om" pada Via.
"Aku hanya ingin membantu papah agar dia gak tertangkap karena bertindak ceroboh." Ujar Via.
"Om, tolong awasi dan lindungi kakek Mulyono dirumahnya, Via yakin, papah nekat datang kerumah itu untuk mencari dan menangkap Yana." Ujar Via menatap dingin wajah Omnya itu.
"Kamu yakin ? Udah kamu pikirkan akibatnya ? Kamu malah bisa menjadi musuh papahmu kalo terus menghambat aksinya ?" Ujar si Om pada Via.
"Nggak Om, justru aku akan mempermudah langkah papah nanti." Ujar Via dengan suara datar, Omnya menatap tajam wajah Via.
"Aku cuma minta Om jalani seperti yang sudah aku bilang sebelumnya. Awasi papah, jika terjadi sesuatu padanya, cepat kabari aku." Ujar Via menatap Omnya.
"Ya...ya...ya...Om akan kabari kamu nanti." Ujar Omnya santai. Via tercenung dengan tatapan dingin memandang ruang cafe, Omnya melirik dia, lalu menyeruput jus yang ada diatas meja cafe.
Yana baru pulang dari bepergian, mobil masuk ke dalam rumahnya, saat mobil Yana masuk ke dalam garasi rumah, dia heran karena melihat ada seseorang yang muncul dan menutup pintu pagar rumahnya. Setelah dia memarkirkan mobilnya di garasi rumah, Yana turun dan keluar dari dalam mobilnya, dia berjalan menuju teras rumahnya, di tangannya, dia menenteng tas besar dan berat. Di teras rumah, Yana semakin kaget dan heran, karena melihat ada seorang polisi yang berdiri dan berjaga di depan pintu teras rumahnya. Petugas Polisi yang menutup pagar rumah datang mendekati Yana.
"Ngapain kalian dirumahku ?" Tanya Via pada kedua petugas kepolisian.
"Maaf bu, kami ditugaskan pak Gunawan untuk berjaga dan melindungi ibu di rumah ini sebagai saksi dan korban dari Randi." Ujar Manto, petugas polisi yang tadi menutup pintu pagar rumahnya.
"Saya gak perlu dijagain, lebih baik kalian tinggalkan saya sendiri." Ujar Yana kesal.
"Maaf bu, demi keselamatan ibu, kami tidak bisa menuruti permintaan ibu." Ujar Susilo, petugas polisi satunya yang berjaga di teras depan rumah Yana.
Yana melihat mereka dengan wajah kesal, lalu berjalan masuk ke dalam rumahnya dengan menenteng tas besar di tangannya. Susilo kembali berjaga di depan pintu teras rumah Yana, sementara Manto beranjak menuju halaman rumah Yana, dia berdiri di depan pintu pagar rumah Yana, berjaga jaga ditempatnya.
Yana melangkah di dalam rumahnya, dia melihat seorang petugas polisi ada di dalam ruang tamu rumahnya, petugas polisi itu memberi hormat saat melihat kedatangan Yana, Yana menarik nafasnya, dengan wajah tidak senang dia cepat berjalan meninggalkan petugas polisi yang berada diruang tamu itu, saat Yana hendak masuk ke dalam kamarnya, dia melihat ada seorang petugas polisi lagi yang berdiri di depan pintu kamarnya, Yana semakin kesal. Dia melangkah cepat masuk ke dalam kamarnya, menutup dan mengunci pintu kamarnya, sementara petugas polisi tetap berdiri berjaga di depan pintu kamar Yana.
Di dalam kamar, Yana dengan wajah kesal meletakkan tas besar yang dibawanya, dia lalu duduk di tepi ranjang kamarnya. Yana menatap keluar kamar, berfikir sejenak, kemudian dia melihat tas besar yang dibawanya, Yana segera mengambil barang barang yang ada di dalam tas besar itu.
Dari dalam tas besar terlihat sebuah senapan berburu di pegang Yana, ternyata Yana pergi sengaja membeli Senapan berburu , dia membeli senapan tersebut untuk melindungi dirinya jika Randi datang hendak membunuh dirinya.
Yana mengamati Senapan itu, lalu dia meletakkan senapan tersebut di kasur, kemudian mengambil peluru peluru dari dalam tas besar yang dibawanya, ada 6 kotak berisi peluru , Yana meletakkannya di atas kasur, kemudian dia mengeluarkan Pisau yang biasa di gunakan para pendaki gunung dari dalam tas besarnya, Yana memegang pisau dan melihat lihat pisau itu, wajahnya terlihat tenang, dia lalu meletakkan pisau yang dipegangnya diatas kasur, Yana merapikan tas besar yang sudah tidak ada isinya, dia merapikan senapan, kotak kotak berisi peluru dan pisau, berjejer diatas kasur kamarnya, Yana memandangi senjata senjata itu dengan tatapan dingin, ekspresi wajahnya datar, tidak menunjukkan beban fikiran apapun saat itu.
Di rumah paman Mulyono, terlihat Amir mundar mandir berjaga di halaman rumah paman Mulyono, sementara Hendro berdiri di teras rumah paman Mulyono berjaga, polisi polisi itu tetap tinggal dirumah paman Mulyono untuk melindungi paman Mulyono, sesuai dengan tugas yang diberikan Gunawan pada mereka.
Di ruang tamu, Handoko dan Kuncoro terlihat duduk menunggu dengan sikap waspada. Setiap hari mereka berada dirumah paman Mulyono.
Di lain hari, di rumahnya, terlihat Yana duduk di sebuah kursi yang ada di ruang keluarga dengan sikap dan posisi sedang menunggu kedatangan seseorang, di tangannya ada sebuah senapan berburu yang sudah berisi peluru peluru dan sebilah pisau yang terselip di pinggangnya, mulai saat itu Yana mempersiapkan dirinya dan menunggu kedatangan Randi, baginya, sudah saatnya memberi perlawanan pada Randi, dia sudah tidak lagi khawatir dengan keselamatan dirinya, sejak kematian ke dua anaknya, Yana sudah bertekat untuk membalas perbuatan Randi, dan dia akan berusaha melawan , bahkan membunuh Randi jika datang untuk membunuhnya.
Gunawan yang baru tiba dari kantor kepolisian bertanya pada Manto dan Susilo di teras rumah Yana. Dua orang polisi yang sebelumnya berjaga di ruang tamu dan depan kamar Yana terlihat berdiri berjaga di depan pagar rumah Yana.
"Bagaimana kondisi bu Yana?" Tanya Gunawan.
"Beliau melarang kami masuk ke dalam rumahnya, dia bilang, kami cuma boleh berjaga disekitar luar rumahnya." Ujar Manto memberi penjelasan pada Gunawan.
"Bu Yana punya senapan pak." Ujar Susilo, Gunawan kaget.
"Sepertinya bu Yana sengaja membelinya, dan merencanakan akan menggunakan senapan itu melawan Randi." Ujar Susilo, Gunawan berfikir, dia menarik nafasnya, lalu berjalan masuk ke dalam rumah Yana.
Saat Gunawan berjalan melangkah menuju ruang keluarga dimana Yana duduk menunggu, begitu mendengar langkah kaki ada yang datang ke arahnya mendekat, dengan sigap dan gerak cepat Yana mengarahkan senapannya ke arah Gunawan, melihat dirinya di todong senapan oleh Yana, Gunawan kaget dan mengangkat kedua tangannya berdiri di depan Yana.
"Ini saya bu, Gunawan." Ujar Gunawan memberitahukan pada Yana, agar Yana tidak menembaknya.
Yana melihat Gunawan berdiri di depannya, segera meletakkan senapannya diatas pahanya, Gunawan menurunkan ke dua tangannya.
"Tinggalkan saya sendiri pak. Biar saya sendiri yang ada di dalam rumah saya." Ujar Yana dengan suara parau tanpa menatap wajah Gunawan.
"Tapi, untuk apa senapan itu bu?" Tanya Gunawan pada Yana.
"Saya sedang menunggu kedatangan Randi, saya akan menembak Randi dengan senapan ini jika dia datang ke sini." Ujar Yana dingin. Gunawan menghela nafasnya.
"Tolong tinggalkan saya pak, saya hanya izinkan bapak dan tim berjaga di luar rumah saya." Ujar Yana pada Gunawan.
Mau tidak mau, Gunawan pun akhirnya berbalik, melangkah berjalan kembali keluar rumah.
Gunawan keluar dari dalam rumah, menemui Manto dan Susilo di teras rumah Yana.
"Kalian jangan sampai lengah, jangan biarkan Randi datang dan masuk kedalam rumah ini, jika kalian lengah, nyawa bu Yana terancam, karena tidak ada satu pun orang yang menjaganya di dalam rumah." Ujar Gunawan tegas.
"Siaaap, laksanakan !" Ujar Manto dan Susilo bersamaan. Gunawan lalu berjalan meninggalkan mereka, Gunawan masuk ke dalam mobilnya, melihat Gunawan yang hendak pergi, petugas polisi yang berjaga di depan pintu pagar rumah Yana segera membuka pintu pagar, mobil Gunawan meluncur keluar pergi meninggalkan rumah Yana, petugas polisi segera menutup pagar kembali dan berjaga di posisinya semula tadi.
Di ruang keluarga, Yana dengan sikap tenang, duduk diam di kursinya, dia menatap ke depan, dengan tatapan dingin.
"Ayo Randi...tunjukkan batang hidungmu, datanglah, aku siap menghadapimu." Ujar Yana menahan geramnya, dia bersiap siap memegang senapannya. Setiap hari 24 jam 7 hari Yana tetap duduk di kursinya menunggu kedatangan Randi dengan bersiap siaga memegang senapan yang di belinya, Yana hanya sesekali meninggalkan tempatnya untuk ke kamar mandi membersihkan dirinya dan sekedar makan mengisi perutnya yang kosong, sementara para petugas kepolisian tetap berjaga jaga di sekitar luar rumah Yana, menyusuri seluruh rumah Yana dari depan, samping hingga belakang rumah, melihat ke arah kebun Yana yang berada tepat di samping rumahnya dengan pembatas tembok, petugas polisi terus siap siaga berjaga jaga dari segala kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi tanpa terduga. Melihat sepak terjang Randi sebagai pembunuh berantai yang nekat dan bertindak buas, bukan tidak mungkin tiba tiba Randi muncul di rumah itu. Penjagaan ekstra ketat diberlakukan dan diberikan oleh pihak kepolisian guna melindungi Yana sebagai saksi kunci dan korban Randi.
Di lain hari, saat Malam, suasana seperti biasa disekitar rumah paman Mulyono, hening dan sepi, Amir berjaga di depan pintu pagar halaman rumah paman Mulyono, Hendro berdiri berjaga di depan pintu masuk utama teras rumah paman Mulyono, Handoko bersama Kuncoro berjaga di ruang tamu dan ruang keluarga rumah paman Mulyono, sementara seorang petugas polisi berjaga di depan pintu kamar tidur paman Mulyono. Mereka berjaga jaga dan waspada ditempat masing masing. Udara dingin dan hawa kantuk berusaha mereka tahan, mereka tidak ingin lengah, dipaksakan untuk melawan rasa dingin dan kantuk yang menyerang diri mereka.
Sosok orang berpakaian serba hitam dengan penutup wajah dan kepala melintas, menyelinap mendekati rumah paman Mulyono, dia menembakkan pistol berisi jarum bius ke arah Amir yang berjaga di depan pagar rumah, seketika, saat jarum bius menancap di leher Amir, dia pun terjengkang jatuh ke tanah, pingsan, lalu sosok orang itu mengintai dari balik pagar rumah, dia melihat Hendro yang berada diteras rumah, sosok orang itu mengisi pistolnya dengan jarum berisi obat bius lagi, lalu bergerak ke samping rumah, mencoba agar posisinya lebih dekat dengan posisi Hendro, lalu mengarahkan pistol dan menembakkannya ke tubuh Hendro, Seketika, tanpa di duga Hendro, jarum berisi obat bius menancap di tubuhnya, Hendro ambruk diteras rumah, seketika pingsan. Sosok orang itu melihat situasi yang aman dengan cepat naik ke atas pagar rumah paman Mulyono, melompati pagar dan melangkah cepat menyusuri halaman rumah menuju teras, di teras rumah, dia melihat Hendro yang pingsan, dia menggeser tubuh Hendro yang menghalangi jalannya di depan pintu masuk rumah, setelah memindahkan tubuh Hendro yang pingsan, dengan perlahan dia membuka pintu rumah, lalu masuk ke dalam rumah sambil mengisi pistol dengan jarum bius, dengan langkah cepat dia berjalan ke arah ruang tamu, dengan cepat dia menembakkan pistol yang dipegangnya ke arah Handoko yang sedang duduk menonton pertandingan bola di tv, Handoko yang tak menyadari kedatangan sosok orang itu, kaget, belum sempat dia berdiri dan mengambil pistolnya di atas meja, sosok orang itu sudah menembakkan jarum bius ke lehernya, Handoko pun pingsan, dengan cepat sosok orang itu memasukkan kembali jarum bius ke pistolnya, melangkah cepat ke ruang keluarga, Kuncoro yang menyadari kedatangan sosok orang itu hendak menyerang, namun pistol lebih cepat dari gerakan tubuhnya, Kuncoro berdiri ditempatnya, terdiam sesaat, memegang lehernya yang tertancap jarum bius, matanya melotot menatap ke sosok orang di depannya, lalu Kuncoro pun terkulai lemas dan pingsan di lantai, sosok orang itu melihat Kuncoro yang pingsan, dia lalu memasang jarum bius lagi ke dalam pistolnya, melangkah masuk ke dalam ruang lain di rumah paman Mulyono.
Sosok orang itu melihat seorang petugas polisi berdiri di depan pintu kamar tidur paman Mulyono.
"Heii..." Panggil sosok orang itu, petugas polisi begitu mendengar suara langsung berbalik melihat, saat dia melihat sosok orang berjalan cepat mendekatinya, dia hendak mengambil pistol dari pinggangnya, namun terlambat, sosok orang itu lebih dulu menembakkan jarum bius dari pistolnya ke leher petugas polisi yang lantas jatuh terjerembab di lantai depan kamar.
Sosok orang tersebut memandang sekitar ruangan, setelah di rasanya aman, karena sudah tidak ada lagi orang yang berjaga, dia menatap ke arah kamar tidur paman Mulyono. Sosok orang tersebut yang memang sudah mengawasi rumah paman Mulyono tahu berapa orang polisi yang ada di rumah itu, dia sudah merencanakan semuanya , dengan membawa pistol berisi obat bius miliknya, dia pun menjalankan aksinya. Sosok orang itu perlahan membuka pintu kamar paman Mulyono, dia mengintip ke dalam kamar, melihat paman Mulyono yang tertidur nyenyak di kasurnya, sosok orang itu pun masuk ke dalam kamar paman Mulyono.
Di luar rumah, datang Randi, saat dia berdiri di depan pintu pagar rumah, dia melihat Amir tergeletak pingsan di tanah dengan jarum bius di lehernya, Randi heran melihat itu, lalu dia cepat membuka pintu pagar yang tidak di gembok, dia berhenti sejenak, lalu berjongkok di depan Amir, dengan cepat dia menggorok leher Amir dengan pisau di tangannya, membunuh Amir, dia lalu melangkah masuk ke halaman rumah, segera melangkah menuju teras rumah, di teras rumah dia melihat Hendro yang pingsan, segera Randi menggorok leher Hendro yang pingsan, dia sengaja menghabisi nyawa Hendro agar tidak sadar dan bangun lalu menghalangi aksinya saat itu, dengan cepat Randi membuka pintu rumah dan masuk kedalam rumah. Lagi lagi dia heran melihat Handoko pingsan di kursi depan tivi ruang tamu, Randi pun dengan cepat menggorok leher Handoko hingga mati, Randi menatap seisi ruangan, kemudian melangkah keruang keluarga, di ruang itu kembali dia melihat pemandangan yang tak di duganya, Kuncoro tergeletak di lantai, Randi pun kesal, dengan wajah kesal dan geram dia mendekati Kuncoro, menarik kepala Kuncoro.
"Kamu yang membunuh Marwan, sekarang, aku akan membunuhmu." Ujar Randi berbisik di telinga Kuncoro yang pingsan, lalu menggorok leher Kuncoro hingga mengeluarkan darah segar, setelah itu Randi cepat melangkah masuk keruang lain, dia menggeledah kamar, kosong tak ada Yana, dia melihat kamar kamar lain, tidak ada Yana, lalu dia jalan menuju kamar paman Mulyono, di situ dia pun menggorok dan membunuh petugas polisi yang pingsan di depan kamar, lalu Randi cepat masuk kedalam kamar paman Mulyono.
Di dalam kamar, Randi melangkah cepat mendekati paman Mulyono, dia mencekik leher paman Mulyono yang sedang tidur, merasakan lehernya tercekik, paman Mulyono terbangun, begitu melihat Randi yang mencekiknya, mata paman Mulyono melotot kaget.
"Dimana Yana ?" Tanya Randi geram pada paman Mulyono. Paman Mulyono meronta, dia memegang tangan Randi yang mencekik lehernya, berusaha untuk di lepaskan.
"Bilang cepat ! Kalo kamu gak mau mati, bilang, dimana Yana ?!" Tanya Randi. Randi melonggarkan cengkraman tangannya dari leher paman Mulyono untuk memberinya kesempatan bicara. Paman Mulyono mengatur nafasnya. Menatap tajam wajah Randi.
"Aku lebih baik mati daripada memberitahukanmu dimana Yana." Ujar paman Mulyono menantang Randi, mendengar perkataan paman Mulyono Randi semakin marah.
"Kamu lebih memilih mampus ternyata!" Ujar Randi geram.
Randi terlihat marah, dia menyeringai tajam menatap wajah paman Mulyono, lalu mengangkat tangannya, mengarahkan pisau ke leher paman Mulyono, saat Randi hendak menggorok leher paman Mulyono, tiba tiba tangannya tertahan karena ada tangan yang memegang tangannya dengan kuat, mencegahnya membunuh paman Mulyono, Randi kaget, cepat berbalik melihat ke belakang, saat melihat sosok orang berdiri di belakangnya memegang tangan Randi, wajahnya kaget begitu sosok orang itu membuka penutup wajahnya dan menyeringai pada Randi.
"Rizaaal ?!" Ujar Randi pada sosok orang tersebut, Randi mengenali sosok orang yang saat ini berada di belakangnya dan mencegahnya membunuh paman Mulyono.