Go To Hell

Go To Hell
Bab 55



   Via bangun dari tidurnya, dia duduk di tepi ranjang, masih sedikit merasakan sempoyongan dan pandangan matanya berkunang kunang, Via menarik nafasnya , menguatkan dirinya, perlahan dia berdiri, beranjak dari ranjangnya, dengan tubuh lemah dia berjalan dengan sempoyongan, melangkah mendekati meja rias yang ada di kamar, lalu mengambil tasnya yang tergantung di kursi meja rias. Via duduk di kursi, membuka tasnya, mengambil ponselnya, dia meletakkan tasnya di atas meja rias, melihat ponselnya, mengecek apakah ada pesan atau telepon yang masuk di ponselnya.


Tidak ada pesan ataupun telepon yang masuk di ponselnya, Via menghela nafasnya, berfikir sejenak, dia ingin menghubungi papahnya, namun ada keraguan di hatinya, lantas dia berusaha untuk menenangkan dirinya, memencet sebuah nomor dari ponsel yang diberikan papahnya, mencoba menghubungi papahnya, Via menunggu , nada panggilan terdengar dari ponselnya, tidak ada jawaban, nada panggil berhenti, Via mengulangi lagi, mencoba menghubungi kembali, tapi tetap tidak ada tanda tanda teleponnya diterima papahnya. Via kembali menghela nafasnya, dia lalu menyimpan ponselnya ke dalam tas, kemudian melangkah kembali ke ranjang, dan merebahkan tubuhnya, dia memegang kepalanya, masih ada tersisa rasa sakit bekas pukulan Yana di belakang kepalanya, Via mencoba memejamkan matanya dengan fikiran yang menerawang jauh.


Sementara itu, Kuncoro berhasil mendapatkan bukti dari rekaman cctv yang didapatnya dari jalanan dekat butik Yana, terlihat dalam gambar, sosok Randi yang sedang mengintai di sudut jalan, Kuncoro mencatat nomor plat mobil yang digunakan Randi, dari cctv milik butik Yana juga terekam aksi Randi saat meletakkan boneka dihalaman butik Yana , wajahnya tertutup masker dan topi, tapi saat berbalik dan dirinya menghadap ke arah cctv saat hendak pergi , terekam bahwa yang ada di cctv itu Randi.


Kuncoro lalu melacak keberadaan plat mobil yang dipakai Randi saat melakukan aksinya, dari penelusurannya, ditemukan bahwa mobil yang di gunakan Randi milik rental mobil, Kuncoro pun mendatangi rental mobil tersebut.


Saat di rental mobil, Kuncoro menyelidiki dan bertanya kepada karyawan rental yang melayani costumer saat menyewa mobil rental mereka, dari data yang ada pada rental, tidak ditemukan nama Randi tertulis, dalam catatan yang sesuai dengan plat mobil yang di sewa, tertulis costumer yang menyewa mobil bernama Rahman, Kuncoro lalu menunjukkan photo Randi yang dibawanya, bertanya pada karyawan rental mobil, melihat photo Randi, karyawan rental mobil mengenali wajah yang ada di photo, dia membenarkan, bahwa orang yang bernama Rahman itu orang yang sama di photo. Karyawan rental mobil memberikan penjelasan, bahwa orang yang di photo itu pelanggan tetap rental mereka, sering menyewa dengan ganti ganti jenis mobil yang ada di rental mobil mereka, dari penjelasan karyawan rental mobil juga, Kuncoro mengetahui, bahwa mobil yang di gunakan Randi belum kembali ke rental, masih di pakai Randi.


Kuncoro senang , usahanya ada hasil, dia berterima kasih pada karyawan rental mobil karena telah bekerjasama dengan baik memberikan informasi yang jelas padanya, Kuncoro pun pergi meninggalkan tempat rental mobil itu.


Kuncoro pun memberikan informasi atas penemuannya itu pada Gunawan yang lantas segera mengerahkan timnya untuk melacak dan mencari mobil yang digunakan Randi, mereka bekerjasama dengan pihak polisi lalu lintas, mencari mobil dengan nomor plat mobil yang di gunakan Randi.


Pihak kepolisian bergerak cepat, mereka berbagi tugas masing masing mencari keberadaan mobil dan Randi.


Patroli polisi dilakukan di jalan jalan besar dan kecil, Razia darurat dilakukan pihak kepolisian, menghentikan semua mobil yang ada dijalanan, dan mengecek nomor plat mobil dan pengendara mobil masing masing.


Randi yang mengendarai mobilnya tidak mengetahui kalau kepolisian sedang melakukan razia besar besaran, beberapa akses jalan di tutup dan digunakan untuk tempat razia kendaraan, saat Randi melintas di jalan raya, di kejauhan dia melihat ada polisi polisi yang bertugas merazia tiap kendaraan yang lewat, Randi segera menginjak rem mobilnya, dia menghentikan mobil, melihat polisi polisi yang sedang merazia para pengendara, wajah Randi terlihat kesal.


"Siaaal !!" Ujar Randi kesal memukul stir mobil dengan tangannya, dia lalu memutar balik mobilnya, berbalik arah meninggalkan tempat itu.


Saat Randi berputar balik arah dan melintas di jalan raya lain, mobilnya berpapasan dengan mobil patroli yang berkeliling dijalanan itu, dari dalam mobil, petugas polisi yang melakukan patroli melihat mobil Randi, matanya tertuju pada plat nomor mobil Randi, saat melihat plat nomor mobil "B7507PW", polisi itu ingat, bahwa plat mobil itu adalah plat mobil yang sedang dicari.


"Lihat mobil itu To, plat mobilnya sama dengan yang kita cari." Ujar polisi yang bernama Kusno itu pada temannya yang bernama Prapto. Prapto yang duduk di samping Kusno yang menyetir mobil segera melihat ke arah yang di tunjuk, dia melihat mobil dengan plat nomor yang sama mereka cari.


"Cepat kejar !" Ujar Prapto pada Kusno yang lantas menambah kecepatan mobilnya, berputar balik, mengejar mobil Randi yang sudah berjalan menjauh, sirene mobil di bunyikan, Prapto memberi informasi melalui radio panggil yang ada di dalam mobil patroli kepolisian itu, dia memberitahukan bahwa telah ditemukan mobil dengan berplat nomor "B7507PW", dan Prapto memberitahukan serta mengarahkan patroli polisi lainnya agar mengejar Randi ke arah kemana mobil Randi pergi.


Mobil Patroli pun bergerak cepat, mereka serentak pergi mengejar mobil Randi.


Di jalanan, Randi yang mengendarai mobilnya mendengar suara sirene polisi yang seperti mendekat ke arahnya, Randi melirik dari kaca spion depan mobil, terlihat jauh dibelakang mobil patroli polisi melaju cepat menuju ke arahnya dengan lampu sirene polisi yang menyala, Randi lalu melirik ke kaca spion samping depan mobilnya, terlihat mobil patroli polisi berusaha mengejarnya.


Melihat itu, Randi semakin kesal dan marah.


"Setaaaan !! Mereka berhasil menemukanku !!" Ujar Randi geram, dia lalu menginjak gas mobil sekuatnya, mobil pun melaju dengan cepat, melihat mobil Randi yang menjauh dengan kecepatan tinggi, Kusno yang menyetir menambah kecepatan mobilnya, berusaha mengejar mobil Randi agar tidak kehilangan jejak.


Kejar kejaran pun terjadi antara Randi dengan pihak kepolisian, aksi kebut kebutan bagai sedang balapan pun terjadi.


Randi terus menyetir dengan kecepatan tinggi, meliuk liuk melewati mobil mobil yang ada dijalanan , mobil mobil polisi terus mengejarnya.


Mobil Randi berbelok ke jalan lainnya, berpapasan dengan mobil patroli polisi yang melaju ke arahnya, melihat mobil Randi melintas, dengan cepat mobil patroli polisi itu berputar balik dan mengejar mobil Randi.


Randi berusaha untuk dapat melepaskan diri dari kejaran polisi polisi itu, di persimpangan jalan, Randi berbelok arah ke jalanan sempit, mobilnya masuk ke jalanan itu, lalu Randi menghentikan mobilnya dan segera keluar dari dalam mobil, dia melihat ke belakang, tidak ada mobil mobil polisi yang mengejarnya. Randi cepat berlari meninggalkan mobilnya, dia lari menyusuri rumah rumah warga, terus berlari dan mencari tempat persembunyian.


Mobil mobil patroli polisi tiba di jalanan sempit itu, mereka melihat mobil Randi ada di jalanan sempit tersebut, para polisi lalu turun, mereka segera berjalan ke arah mobil Randi yang terparkir, dengan memegang pistol di tangan, berjaga jaga jika sewaktu waktu Randi menyerang secara tiba tiba.


Polisi polisi itu mendekati mobil, seorang polisi membuka pintu mobil secara hati hati, mengarahkan pistolnya ke dalam mobil, tidak ada Randi di dalam mobil, dia melihat teman teman polisinya, menggelengkan kepala, Kusno memberi isyarat agar mereka menelusuri semua tempat , menjelajah jalanan dan rumah rumah warga, mencari Randi.


   Randi terus berlari, dia menyusuri jalan setapak pematang sawah, sesekali dia melihat ke belakang, dia khawatir kalau polisi mengejarnya, melihat tidak ada seorang polisi yang mengejarnya, Randi terus berlari, di ujung jalan, Randi melihat tembok pembatas pematang sawah, dia lalu melompat, berusaha naik ke tembok pembatas itu, dengan susah payah Randi berhasil naik, dia langsung melompat dari tembok pembatas itu.


Jauh di belakangnya, polisi polisi berlari kearah Randi, mereka melihat Randi yang berhasil melompat dari tembok pembatas, polisi polisi itu berusaha mengejar Randi, memanjat tembok, lalu melompat dan lanjut mengejar Randi.


Di ujung jalan lain, di balik tembok pembatas pematang sawah, para polisi saling pandang, mereka sudah tidak melihat Randi, di depan mereka ada pertigaan jalan setapak, mereka berfikir, ke arah jalan mana Randi lari. Prapto lalu memberi arahan , agar mereka berpencar berbagi tugas, membuat tiga kelompok yang masing masing pergi ke arah pertigaan jalan tersebut.


Randi yang terus berlari tiba di pinggir jalan besar, dia melihat di kejauhan ada taksi melintas, segera Randi menyetop taksi itu, dia cepat masuk ke dalam taksi.


"Ke Klaten pak !" Ujar Randi pada supir taksi.


"Taksi saya khusus area jogja pak, kalo ke Klaten kena chas." Ujar supir taksi memberitahukan pada Randi.


"Iya ga apa , nanti saya tambahin, jalan cepat pak." Ujar Randi sambil menoleh keluar mobil.


Supir taksi melirik Randi yang duduk di jok belakang dari kaca spion depan mobilnya, dia sedikit curiga atas sikap Randi yang terlihat seperti orang yang cemas, namun dia berusaha mengabaikan rasa curiganya, supir menjalankan mobilnya, Randi menghela nafasnya, menenangkan diri.


Setelah kepergian Randi yang naik taksi, para polisi tiba di pinggir jalan raya itu, mereka saling pandang, merasa kecewa karena gagal mengejar dan menangkap Randi. Polisi polisi itu pun akhirnya berbalik, berjalan kembali menuju mobil mereka.


Hari ini, Randi berhasil lolos dari kejaran polisi yang memburunya. Baju Randi basah karena keringat yang banyak, di sebabkan dia berlari lari sepanjang jalan.


Ke esokan harinya, Via menemui paman Mulyono yang sedang duduk santai membaca koran di ruang keluarga rumahnya, Terlihat Via sudah berpakaian rapi, menenteng tasnya, dia mendekati paman Mulyono.


"Kek, Via pamit pergi ya." Ujar Via , paman Mulyono meletakkan koran diatas meja, menatap wajah Via, dia heran.


"Kenapa mau pergi ? Tetap di sini aja sama kakek dan bunda Yana." Ujar paman Mulyono lembut pada Via.


"Gak apa kek, Via gak mau buat bunda Yana gak nyaman karena Via ada di sini terus." Ujar Via.


"Lagian kan Via bukan siapa siapanya bunda, bukan juga cucu kakek, Via cuma org lain yang sekedar numpang disini, nyari papah." Ujar Via.


"Huss, gak boleh bilang gitu, buat kakek , kamu ya cucu, dan anak bunda Yana, biar bukan anak kandungnya." Ujar paman Mulyono.


"Kan papah udah cerai sama bunda kek, jadi Via bukan siapa siapa lagi, Via sadar kok posisi Via." Ujarnya tersenyum menatap paman Mulyono.


"Memang gak bisa ya, nuruti permintaan kakek buat tetap tinggal di sini." Ujar paman Mulyono menatap wajah Via.


"Maafin Via kek, Via gak mau bunda jadi terbebani karena kehadiran Via di sini." Ujar Via.


"Terus kamu mau tinggal dimana ? apa mau pulang ke Jakarta ?" Tanya paman Mulyono pada Via.


"Via balik ke hotel kek, Via tetap di Klaten sampe Via bisa nemui papah." Ujar Via.


Paman Mulyono menarik nafasnya, dia menatap wajah Via yang terlihat sudah kuat keinginannya untuk pergi dari rumahnya. Paman Mulyono berdiri, dia memeluk tubuh Via.


"Hati hati di jalan ya, kasih kabar ke kakek, kalo ada perlu apa aja, kasih tau kakek." Ujar paman Mulyono pada Via .


"Iya kek. Via pamit." Ujar Via lalu mencium tangan paman Mulyono.


"Maafin kalo Via ada salah selama tinggal di sini." Ujar Via tersenyum sedih menatap wajah paman Mulyono yang tersenyum padanya.


"Kamu gak punya salah apapun. Jangan pernah berfikir begitu." Ujar paman Mulyono tersenyum menatapnya.


"Iya Kek, Via pamit. Mungkin mobil online yang jemput udah datang." Ujar Via pamit pergi, paman Mulyono mengangguk, Via lalu melangkah keluar rumah di ikuti tatapan mata paman Mulyono yang merasa prihatin dengan apa yang dialami Via baru baru ini.


Via melangkah keluar rumah, berjalan meninggalkan rumah paman Mulyono, dia berdiri menunggu di pinggir jalan. Tak berapa lama, mobil online yang di pesan Via datang, berhenti tepat di depan Via yang berdiri di pinggir jalan, supir mobil online itu mengenali Via karena Via menjelaskan ciri ciri dia dan pakaiannya serta mengatakan bahwa dia nunggu di pinggir jalan samping laundry.


Via segera masuk ke dalam mobil, meletakkan tasnya di jok belakang, dia lalu duduk di jok belakang , disamping tasnya. Supir menjalankan mobil, berbalik arah, pergi meninggalkan rumah paman Mulyono.


Via pergi dari rumah paman Mulyono dengan membawa banyak kenangan saat berada di rumah paman Mulyono, segala kenangan indah akan kebaikan paman Mulyono, kenangan pahit yang didapatnya dari perlakuan Yana padanya , semua kenangan itu di ingat Via, pandangan matanya menatap keluar mobil, melihat jalanan, dia pergi membawa kenangan dan luka dalam dirinya atas perbuatan Yana yang memperlakukan dia seperti seekor anjing. Via melamun didalam mobil yang melaju di jalanan itu.


   Di rumahnya, paman Mulyono melangkah ke kamar Yana, polisi yang berjaga didepan pintu memberi hormat padanya, paman Mulyono mengangguk tersenyum, dia lalu membuka pintu secara perlahan, melihat ke dalam kamar, di dalam kamar, Yana duduk di tepi ranjang, sedang melamun, paman Mulyono masuk ke dalam kamar, melangkah jalan mendekati Yana.


"Via pergi, dia balik ke hotel." Ujar paman Mulyono memberitahu tentang Via pada Yana.


"Jangan sebut namanya paman, baguslah dia pergi, jadi gak numpang hidup dirumah ini kayak papahnya." Ujar Yana dengan sinis. Mendengar itu paman Mulyono menggelengkan kepalanya, dia menatap wajah Yana.


"Kamu gak boleh bilang begitu, kan paman yang minta Via tinggal di sini nemani dan jaga kamu." Ujar paman Mulyono mencoba menyadarkan Yana, mengingatkan bahwa perkataannya itu salah mengatakan Via numpang hidup dirumahnya.


"Cukup paman, aku udah bilang kan, jangan sebut namanya lagi, aku muak, pengen muntah dengernya, najiiissss !!" Teriak Yana marah, paman Mulyono menarik nafasnya.


"Sudah, sudah, paman minta maaf." Ujar paman Mulyono, dia tidak ingin memperpanjang masalah , memilih mengalah karena melihat sikap Yana yang penuh kebencian itu.


"Tinggalkan aku sendiri paman, aku gak mau di ganggu siapapun." Ujar Yana , dia tidak menatap wajah pamannya, menatap ke depan, paman Mulyono menghela nafas, dia berbalik dan melangkah keluar kamar.


Setelah paman Mulyono keluar dan menutup pintu kamar, Yana melampiaskan amarahnya dengan melempari bantal bantal dan guling yang ada di kasurnya. Dia memegang rambutnya, menarik rambutnya sekuat kuatnya, menahan geram dan amarah, matanya memerah, menahan segala gejolak amarah dalam dirinya, dia teriak histeris di dalam kamar.


Polisi yang berjaga di depan pintu kamar ingin masuk ke dalam kamar saat mendengar teriakan Yana, paman Mulyono menahannya.


"Biarkan dia meluapkan emosinya. Gak apa apa." Ujar paman Mulyono pada Polisi yang lantas mengangguk menuruti perkataan paman Mulyono, Paman Mulyono perlahan membuka pintu kamar, dari celah pintu kamar yang terbuka sedikit dia melihat Yana yang meraung raung menangis di atas ranjangnya, paman Mulyono merasa iba dengan penderitaan Yana.