Go To Hell

Go To Hell
Bab 38



Sugeng yang terpojok saat itu tidak punya pilihan lain selain harus bertarung dengan Badrun beserta teman temannya,  Badrun menatap wajah Sugeng yang tampak bersiap siap untuk menyerang.


"Ternyata kamu yang selama ini ngikuti kami." Ujar Badrun pada Sugeng yang kaget mendengar itu, dia tak menyangka jika Badrun mengetahui kalau dirinya sudah memata matai mereka selama ini.


"Lebih baik kamu nyerah, gak ada gunanya melawan kami berlima ini." Ujar Badrun, Sugeng mengamati satu persatu teman teman Badrun yang berdiri di samping Badrun, tanpa fikir panjang, Sugeng pun menyerang Badrun, dengan gerak refleksnya Badrun menghindar serangan Sugeng. 


Perkelahian yang tak seimbang pun terjadi, Sugeng yang seorang diri di keroyok Badrun dan teman temannya, beberapa kali Sugeng terjajar karena terkena pukulan dari Badrun dan teman temannya, perlawanan Sugeng dengan menggunakan pisau sia sia, Samuel berhasil melepas pisau dari tangan Sugeng, memberinya pukulan keras ke rahangnya dan menendang perutnya hingga Sugeng terjajar jatuh di lantai, tanpa menyia nyiakan kesempatan, ke empat teman Badrun segera membekuk Sugeng, Gilbert menginjak tangan kanan Sugeng, sementara Yoyok memegang tangan kirinya, dan Bakri memegangi kakinya bersama Samuel, Sugeng meronta berusaha melepaskan dirinya, tapi kekuatannya kalah oleh tenaga ke empat orang itu, Badrun melangkah mendekati Sugeng.


"Berdirikan dia." Ujar Badrun pada teman temannya. ke empat teman teman Badrun yang memegangi tubuh Sugeng, berdirikan Sugeng, dengan tubuhnya masih dipegangi mereka.


"Bawa dia ke kamar kosong." Ujar Badrun, ke empat temannya menyeret tubuh Sugeng dan membawanya ke sebuah kamar kosong yang ada dirumah Yana.


   Di kamar kosong, Sugeng di dudukkan disebuah kursi kayu, Badrun mengikat seluruh tubuh Sugeng pada kursi kayu, lalu setelah selesai mengikat, dia melepaskan masker penutup wajah Sugeng, Badrun ingin tahu siapa orang yang menyerang dan mengintai mereka selama ini.


Saat masker terlepas dari wajah Sugeng, melihat wajah Sugeng, Badrun heran. 


"Siapa kamu ? Apa tujuanmu mengintai kami ?" Tanya Badrun, Sugeng hanya diam saja.


"Jawab kalo ditanya!" Ujar Gilbert sambil menghantamkan sebuah pukulan yang mendarat diwajah Sugeng, Sugeng diam tak bergeming menahan sakit terkena pukulan.


Yana masuk ke kamar kosong itu, menyeruak mendekat, dia ingin tahu siapa orang itu, saat melihat Sugeng, Yana terdiam, dia tak mengenal Sugeng, diamatinya wajah Sugeng, lalu dia menatap Badrun.


"Siapa dia mas ?" Tanya Yana pada Badrun yang menggelengkan kepalanya.


"Belum tau, dia belum ngaku, dia bukan orang yang membunuh kedua temanku, orangnya beda." Jelas Badrun, dia mengenali sosok penyerang dan pembunuh kedua temannya terdahulu, sosok perawakan tubuhnya berbeda dengan sosok perawakan tubuh Sugeng yang ada di hadapan mereka.


"Kayaknya dia ini orang bayaran, atau bisa jadi salah satu anak buahnya." Ujar Badrun. 


Badrun lalu mendekati Sugeng, menatap wajahnya, Badrun mencengkram wajah Sugeng, mengangkat wajahnya agar melihat kepada Badrun.


"Siapa yang menyuruhmu ?" Tanya Badrun, Sugeng tetap diam tak menjawab.


Badrun memberikan isyarat pada Yoyok untuk memukuli Sugeng, Yoyok pun menghujani Sugeng dengan pukulan pukulannya, beberapa kali pukulan pukulan mendarat di tubuh dan wajah Sugeng hingga mengeluarkan darah segar, tapi Sugeng tetap diam membisu.


"Aku tanya sekali lagi, jawab kalo kamu mau tetap hidup." Ujar Badrun menatap Sugeng yang mulai melemah karena dipukulin dan berdarah darah.


"Siapa bosmu? Siapa yang menyuruhmu memata matai kami?" Tanya Badrun.


"Apa kamu sengaja dibayar buat mata matai Yana dan mencelakainya?" Tanya Badrun, Sugeng tetap diam tak bergeming, dia membisu, melihat itu Bakri kesal. Dia langsung memukul Sugeng berkali kali.


"Sudah cukup, cukup ! Jangan dipukulin lagi, nanti dia bisa mati, jadi panjang urusannya!" Tegas Yana menghentikan Bakri yang memukul Sugeng.


"Mau kamu gimanakan ini orang ?" Tanya Badrun pada Yana.


Yana terdiam, dia melihat Sugeng yang tampak sudah lemah tak berdaya dengan luka lukanya, Yana menghela nafasnya.


"Serahkan saja ke kantor Polisi, biar polisi yang mengurusnya." Ujar Yana. Badrun menatap lekat wajah Yana.


"Kamu yakin ? Gak mau tau suruhan siapa dia? Kita bisa bikin dia sampe mau mengaku." Ujar Badrun.


"Gak apa mas, nanti juga polisi pasti tau dia suruhan siapa, daripada kalian siksa terus, dapat pengakuannya nggak, malah mati dia." Ujar Yana pada Badrun yang diam berfikir, Badrun lalu melirik ke Sugeng yang lemah tak berdaya.


"Oke kalo itu mau kamu, tapi , aku minta waktu sebentar, sebelum dia kita seret ke kantor polisi." Ujar Badrun.


"Yok, geledah dia, ambil hapenya." Suruh Badrun pada temannya Yoyok, Yoyok lalu menggeledah tubuh Sugeng, dari dalam saku jaketnya, ditemukan sebuah ponsel, Yoyok mengambil ponsel Sugeng dan memberikannya pada Badrun. Badrun menerima ponsel itu, lalu membuka layar ponsel Sugeng , tapi ponsel itu terkunci, Badrun lalu meraih tangan Sugeng yang lemah, menarik jari telunjuk dan jempolnya lalu mengarahkannya ke layar ponsel, Ponsel Sugeng terbuka dengan sidik jari jempol Sugeng, Badrun kemudian melihat riwayat panggilan telepon di ponsel Sugeng.


Badrun memencet sebuah nomor ponsel yang tertera paling atas dari riwayat panggilan telepon terakhir, dia mendengarkan nada panggilan dari ponsel itu, terdengar suara dari seberang ponsel.


"Sudah kamu bereskan? dimana kamu sekarang?" Tanya suara di seberang ponsel, Badrun menyeringai mendengarkan suara itu.


"Aku sudah beresin anak buahmu, sekarang dia aku tahan, kalo kamu masih butuh dia, datang ke sini temui aku." Ujar Badrun.


"Kalo kamu gak datang, tau sendiri resiko dan akibatnya." Ujar Badrun lalu mematikan teleponnya.


   Di sebuah ruangan, dalam gubuk tempat persembunyiannya, Randi tampak kalap dan marah, dia emosi, dihancurkannya semua barang barang yang ada di dekatnya.


"Siaaaalll !! Setaaaannn !! Bajingaaaan!" Teriak Randi mengamuk. Dia sangat marah karena mengetahui Sugeng tertangkap dan gagal menjalankan misinya.


"Kalian mau coba coba menantangku?! Baik Badrun, bersiaplah menerima kematianmu!" Ujar Randi dengan wajah geram, tatapannya tajam menyiratkan amarah yang sangat besar sekali. Randi lalu terdiam sebentar, dia berfikir, kemudian diambilnya ponselnya, lalu memencet sebuah nomor telepon yang ada di kontak teleponnya.


"Kamu dimana? Bagus, kalo gitu, sekarang juga bersiap buat jalani tugas dariku, nanti ku sms tugas dan alamatnya." Ujar Randi bicara di ponselnya.


"Iya, kamu hanya jalani apa yang aku perintahkan saja." Ujar Randi lalu menutup teleponnya, kemudian dia mengetik pesan, mengirimkan pesan kepada orang yang baru saja di teleponnya.


   Yana terlihat gelisah, dia melangkah mendekati Badrun yang berkumpul bersama teman temannya, sementara Sugeng masih dalam kondisi lemah tak berdaya, terikat disebuah kursi kayu.


"Sudah dua jam lewat mas, orang itu gak datang, aku yakin, dia gak mau tau apa yang terjadi dengan temannya." Ujar Yana pada Badrun yang diam berfikir.


"Iya juga, mungkin karena cuma suruhan, jadi gak guna buat orang itu." Ujar Badrun.


"Gilbert, Samuel, kalian bawa deh orang itu ke kantor polisi, ceritakan semua kejadiannya dari awal sampe akhirnya, jangan ada yang kelewat." Ujar Badrun pada Gilbert dan Samuel yang mengangguk, lalu Gilbert melepaskan ikatan rantai dari tubuh Sugeng di kursi kayu, setelah terbebas dari ikatan itu, Gilbert dengan cepat mengikat kedua tangan Sugeng dengan rantai, agar dia tidak bisa melawan dan melarikan diri.


Gilbert dan Samuel menyeret tubuh lemah Sugeng untuk di bawa ke kantor polisi, menyerahkan Sugeng agar diproses oleh pihak yang berwajib.


"Aku dan Yoyok ikut atau tetap di sini ?" Tanya Bakri pada Badrun.


"Kamu yang nyupir, biar aku sama Yoyok jaga dirumah ini." Ujar Badrun pada Bakri. 


"Siaap !" Ujar Bakri dengan sigap lalu segera melangkah mengikuti Samuel dan Gilbert yang lebih dulu pergi keluar rumah membawa Sugeng.


   Sosok Pria memakai masker penutup wajah sedang mengintai mereka dari seberang jalan yang tak jauh dari posisi rumah Yana, yang berada di dekat pinggir jalan.


Samuel dan Gilbert memasukkan Sugeng ke dalam mobil, mendudukkannya di jok belakang, kemudian mereka berdua masuk dan duduk disamping Sugeng, sementara Bakri membuka pintu depan mobil, menjadi supir, Bakri menyalakan mesin mobil sedan Yana yang saat itu diserahkan Badrun pada Bakri untuk membawanya, tak lama kemudian, mobil sedan Yana berjalan keluar dari garasi rumah Yana menuju keluar ke arah jalan raya.


Dipertigaan gang rumah Yana, mobil sedan Yana yang di supiri Bakri berbelok ke kanan, melintas dijalan raya, sosok pria yang mengintai lalu bersiap, dia masuk kedalam mobilnya, menjalankan mobilnya dan mengikuti mobil sedan Yana yang membawa Sugeng.


Bakri menyetir mobil dengan kecepatan sedang, Sugeng duduk diam dengan tubuh lemah, dia diapit oleh Samuel dan Gilbert di sisi kiri dan kanannya, mereka tak tahu kalau saat itu, mereka sedang di ikuti seseorang. Kemanapun mobil melaju, sosok pria tetap terus mengikuti mereka.


   Sementara itu, di rumah Yana, tampak wajah Yana semakin cemas melihat kejadian yang terjadi di rumahnya.


"Aku rasa, ini semua suruhan Randi mas, dia semakin nekat, aku yakin, dia gak bakal berhenti menerorku sebelum aku menyerah atau di tangkapnya, bahkan dibunuhnya." Ujar Yana pada Badrun.


"Kamu gak usah khawatir dan panik, aku tetap akan menjaga kamu 24 jam 7 hari, berjaga jaga, kalo benar Randi nekat , dia akan berurusan denganku." Ujar Badrun pada Yana, dia berusaha menenangkan diri Yana yang terlihat cemas dan panik itu.


   Ditempat persembunyiannya, Randi sedang duduk terdiam di sebuah kursi, pikirannya menerawang jauh, dia menunggu, teleponnya tergeletak diatas meja, wajah Randi menunjukkan raut wajah yang penuh amarah , dia seperti tak sabar ingin segera mendapatkan kabar dan hasil dari orang suruhannya. Randi duduk diam menatap layar ponselnya, menunggu kabar.


   Mobil Bakri melaju dijalanan, masuk ke jalan umum yang cukup sepi, sosok pria yang mengikuti beebelok ke arah jalan lain, meninggalkan mobil Bakri, sosok pria itu tidak mengikuti mobil Bakri, dia pergi kearah jalan lainnya, mobil Bakri terus melaju dijalanan, menyusuri jalanan sepi, dijalanan yang sepi itu tidak banyak kendaraan yang berlalu lalang di jalanan itu, Bakri menghentikan mobilnya karena saat itu sedang lampu merah, dijalanan sepi itu hanya ada satu dua mobil saja, Sementara, di pertigaan jalan lainnya dekat dari persimpangan jalan mobil Bakri, menunggu sebuah mobil truck besar , didepan stir sosok pria terlihat menunggu.


Lampu lalu lintas berubah menjadi hijau, Bakri dengan cepat menjalankan kembali mobilnya, melaju di jalanan itu, di pertigaan jalan, Bakri membelokkan mobilnya, belok ke kiri, mobil melaju dijalanan itu ke arah tempat mobil truk yang sudah menunggu, sosok pria itu sengaja menunggu di jalan itu karena tahu, bahwa Bakri dan ke dua temannya akan membawa Sugeng ke kantor polisi, sesuai yang diarahkan Randi, sosok pria itu mengikuti semua perintah Randi.


Ketika dari kejauhan sosok pria melihat mobil Bakri melaju dengan kecepatan sedang jalan menuju ke arahnya, sosok pria itu bersiap siap, dia menyalakan mesin mobil truknya, menginjak gas sekencang kencangnya, mobil truk melaju dengan kecepatan tinggi, berjalan ke arah datangnya mobil Bakri, mobil truk melaju cepat dan semakin mendekati mobil Bakri, Samuel yang melihat mobil truk melaju dengan kecepatan tinggi mengarah ke arah mereka panik, dia teriak mengingatkan Bakri.


"Awaaaas Kriii...ada truk ngebuut...!!" Teriak Samuel mengingatkan, Bakri yang tersadar melihat mobil truk yang melaju dengan kecepatan tinggi tidak sempat untuk membanting setirnya, mobil trukpun menghantam mobil Bakri, tabrakan sekeras kerasnya terjadi, Bakri yang tak siap menghindar mau tak mau harus menerima benturan keras antara mobilnya dengan truk, mobil yang di supirin Bakri terpental, terguling guling dijalanan itu, tabrakan keras yang terjadi membuat mobil sedan Yana yang dibawa Bakri hancur , terpental jauh , terguling di aspal jalanan, sementara itu, sosok pria yang mengendarai truk, melihat mobil Bakri sudah terguling dijalan dan hancur, cepat dia turun dan keluar dari dalam truk, lalu dengan memakai topi dan maskernya, dia pergi , lari dengan cepat dari tempat itu, kendaraan yang lalu lalang di jalanan itu kaget dengan kejadian tabrakan itu, orang orang sekitar pandangannya tertuju pada mobil Bakri yang terbalik dan hancur, mereka tak menyadari jika sosok pria yang mengendarai truk sudah kabur.


Dari dalam mobil, terlihat Samuel berusaha keluar menyelamatkan dirinya, kondisinya terluka parah, sementara, didalam mobil yang hancur terbalik itu, Bakri sudah tak bernyawa, dia mati seketika, begitu juga dengan Gilbert dan Sugeng, mereka mati didalam mobil, hanya Samuel yang tetap hidup saat itu, dan dia berusaha dengan susah payah keluar dari dalam mobil, sementara, percikan api mulai menyala dari sela sela mobil dan menjalar membakar bensin mobil yang tercecer di aspal sekitar mobil, orang orang yang berusaha menolong, melihat percikan api mulai membesar dan membakar mobil panik, mereka ingin menolong Samuel yang hidup, tapi mereka juga ragu dan takut karena mobil mulai terbakar.


Saat itu, ada seorang petugas polisi yang sedang berpatroli dengan motornya, melihat kejadian itu, petugas polisi berusaha menyelamatkan Samuel, namun, saat petugas polisi melangkah cepat hendak mendekati mobil dan tubuh Samuel, mobil sedan yang hancur terbakar itu meledak, petugas polisi terlempar jatuh ke aspal jalanan, mobil sedan milik Yana meledak terbakar dan hancur lebur, sementara Samuel mati, tidak sempat di selamatkan, dia menyusul teman temannya yang mati. Orang orang yang disekitar tersadar, mereka cepat bergerak ke arah truk, tapi mereka tidak menemui supir truk tersebut, supir truk telah melarikan diri.  Bakri, Samuel dan Gilbert akhirnya meregang nyawa di jalanan itu saat mengantarkan Sugeng ke kantor polisi.


   Di tempat lain, sosok pria terlihat sedang berbicara di teleponnya, memberi kabar tentang aksinya saat itu.


"Clear semua, Sugeng udah dibungkam agar gak buka mulut sama polisi." Lapor sosok pria itu.


Di tempat persembunyiannya, Randi tampak raut wajahnya senang, dia merasa lega dan puas sekali.


"Tugas yang sempurna kamu jalani, tunggu info berikutnya." Ujar Randi lalu menutup teleponnya, Randi tampak wajahnya riang gembira mendapatkan kabar bahwa Sugeng mati kecelakaan bersama orang orang yang menangkapnya. Randi menari nari riang diruangan itu.