Go To Hell

Go To Hell
Bab 71



   Dalam proses pemulihan dirinya, Randi mengisi hari harinya dengan tetap berada di dalam kamarnya yang sengaja gelap dan tidak diterangi lampu, diatas meja yang ada di kamar apartemen milik Rizal ada sepiring makanan dan buah buahan serta minuman di dalam gelas, ada juga obat obatan yang sengaja di beli Rizal untuk mengobati sakit lupa ingatan Randi.


   Hari itu, Randi terlihat berdiri di depan jendela kamar apartement yang terbuat dari kaca, dia menatap jauh keluar, dari dalam kamarnya yang berada di lantai 20 apartemen, terlihat bangunan bangunan gedung gedung perkantoran serta rumah rumah penduduk, awan bergerak beriringan, berkumpul menjadi satu dan membentuk gumpalan tebal di langit, cuaca mendung sore itu, matahari memasuki senja, berproses untuk tenggelam dan menghilangkan dirinya untuk digantikan bulan yang akan menentukan datangnya malam, tatapan mata Randi kosong, sekosong fikirannya saat itu, karena tak mampu mengingat apa yang sudah terjadi pada dirinya beberapa waktu sebelum dia berada di kamar itu. 


Setiap hari, Randi selalu menghabiskan waktunya berdiri berjam jam tercenung di depan kaca jendela kamar apartemen menatap jauh keluar.


Rizal yang melihat Randi menjadi orang yang seperti kehilangan jati diri tak bisa berbuat apa apa, dia yang sebelumnya menyimpan rasa sakit hatinya pada Randi karena dulu merasa dijebak dan di khianati Randi menjadi sedikit iba, dari depan pintu kamar tempatnya mengintip melihat Randi yang berdiri tercenung, Rizal perlahan menutup kembali pintu kamar, meninggalkan serta membiarkan diri Randi sendiri dalam kegelapan dan keheningan kamarnya.


   Keesokan harinya, Rizal masuk ke dalam kamar Randi membawakan makanan untuk Randi, saat itu Randi terbangun dari tidurnya, dia membuka matanya secara perlahan lahan, melihat Rizal ada didalam kamar sedang meletakkan makanan di atas meja, Randi mengangkat tubuhnya lalu duduk di tepi ranjang, memegang kepalanya, merasakan sakit dibagian kepalanya, tepatnya di otaknya. Rizal menatap Randi yang duduk di tepi ranjangnya.


"Kamu sarapan dulu, jangan lupa diminum obatnya, aku sengaja membeli obat obatan agar kamu bisa mengingat kembali semua yang kamu lupa." Ujar Rizal, Randi hanya terdiam, menatap kosong, tak menjawab perkataan Rizal padanya, Rizal berbalik, dia melangkah meninggalkan Randi di dalam kamarnya.


"Rizal." Ujar Randi dengan suara lemahnya pada Rizal yang berhenti melangkah, diam berdiri dan berbalik menatap Randi.


"Kamu ingat namaku ?" Tanya Rizal berdiri ditempatnya, wajahnya sedikit senang karena Randi mengingat namanya. Randi mengangguk pelan dan lemah, Rizal cepat melangkah mendekati Randi yang duduk ditepi ranjang.


"Kamu tau siapa aku ?" Tanya Rizal pada Randi, dia menatap lekat wajah Randi, ingin mengetahui lebih jauh lagi apakah Randi mengingatnya.


"Kamu adik kandungku, itu yang aku tau, aku hanya gak bisa mengingat semua kejadian beberapa hari sebelumnya, dan kenapa aku terluka dan berada di kamar ini." Ujar Randi dengan suara lemahnya.


"Kamu tau siapa Via ?" Tanya Rizal ingin memastikan lagi pada Randi. Randi terdiam menatap wajah Rizal, dia berfikir.


"Dimana anakku Via ?" Tanya Randi, mendengar itu Rizal lega, Randi masih bisa mengingat anaknya.


"Sebenarnya, apa yang terjadi denganku kemaren kemaren Zal ?" Ujar Randi menatap wajah Rizal, Rizal menyeret kursi meja yang ada di kamar itu, lalu dia duduk di kursi, duduk dihadapan Randi yang duduk lemah di tepi ranjangnya.


"Kamu terluka cukup parah, perutmu di tusuk pisau sama Yana, mantan istrimu." Ujar Rizal menatap tegas wajah Randi.


"Yy...Yanaa...? Kenapa dia menusukku ?" Tanya Randi bingung pada Rizal.


"Karena kamu menyekapnya, kamu berniat membunuhnya, tapi Yana berhasil lolos dan melarikan diri darimu." Ujar Rizal menjelaskan pada Randi yang terdiam.


"Kamu selama ini dendam pada mantan istrimu itu, karena dia sudah mengkhianati pernikahan kalian, sudah menghinamu, mencacimu, merendahkan, membuangmu, menganggapmu seperti sampah, itu sebabnya kamu menyekapnya dan mau membunuh mantanmu itu." Ujar Rizal menatap tajam wajah Randi yang berusaha mengingat semua hal yang disampaikan Rizal padanya.


"Aku bisa menolongmu karena anakmu, Via yang memintaku untuk mengawasimu, dan menolongmu jika terjadi sesuatu padamu. Karena itu aku menyelamatkanmu." Ujar Rizal, Randi terdiam, dia memegang kepalanya, menarik nafas berat, Rizal diam menatap Randi sesaat, kemudian Rizal bertanya kembali pada Randi.


"Kamu tau, apa yang terjadi antara aku dan kamu ? Kamu ingat apa yang pernah kamu lakukan denganku ?" Tanya Rizal menatap tajam wajah Randi, Randi menatap Rizal bingung, dia menggelengkan kepalanya.


"Dulu, saat aku di keroyok empat pemuda, kamu datang membantuku, karena bantuanmu, kita berhasil mengalahkan mereka, tapi setelah itu, kamu dengan sengaja melaporkan aku ke polisi karena membunuh ke empat pemuda yang mengeroyok dan mencoba memerasku, karena ulahmu aku dipenjara selama 7 tahun." Ujar Rizal geram menahan marahnya pada Randi. Dia ingin saat itu juga menghabisi Randi, namun dia mengurungkan niatnya karena mengingat janjinya pada Via, Rizal memilih untuk menunggu Randi kembali pulih dan normal agar bisa membalaskan semua rasa sakit hatinya pada Randi.


Randi hanya terdiam tak bereaksi mendengar semua perkataan Rizal, Rizal terlihat kesal, karena mengira Randi tak mengingat lagi tentang kejadian itu.


Rizal lalu berdiri dari duduknya, berbalik dan berjalan hendak meninggalkan Randi sendiri di dalam kamarnya.


"Bukan aku yang melaporkanmu, tapi mama."Ujar Randi pada Rizal yang lantas terdiam menghentikan langkahnya, Rizal kaget mendengar apa yang dikatakan Randi padanya, Rizal segera berbalik dan kembali berjalan mendekati Randi.


"Apa maksudmu ? Kenapa kamu bilang mama yang melapor ke polisi ?" Tanya Rizal mendekati wajah Randi yang tetap duduk diam ditepi ranjangnya, wajah antara Randi dan Rizal sangat dekat, Rizal menatap tajam mata Randi yang menatapnya dengan tatapan dingin.


"Mama tau apa yang kamu lakukan, saat itu, mama melihat bajuku penuh darah, dengan panik dia memaksaku untuk jujur, aku gak bisa bohong pada mama, aku ceritakan semua yang terjadi." Ujar Randi menjelaskan pada Rizal.


"Aku bilang mama, kamu diperas preman preman, aku datang menolongmu, dan kamu kalap membunuh preman preman itu, mama syock, dia gak nyangka anak anaknya bisa membunuh orang." 


"Karena gak ingin anaknya terus berbuat buruk, dia memutuskan untuk melaporkan kamu kepolisi, memberitahu semua pada polisi, memberikan bukti dan lokasi kejadian yang dia dapat dariku, lalu, aku pun di suruh mama untuk kembali ke pesantren, dengan tujuan therapi, agar gak kambuh penyakitku lagi." Ujar Randi menatap dingin wajah Rizal yang terpaku diam tak percaya dengan apa yang di dengarnya dari Randi.


Rizal tak pernah menyangka, bahwa mama kandungnya yang tega memenjarakan dirinya, selama ini dia menduga Randilah penyebabnya, untuk itu dia bertekat mencari Randi setelah dia bebas dari penjara, untuk membalaskan sakit hatinya pada Randi yang memang sejak kecil dia tidak menyukainya, karena mamanya lebih peduli pada Randi. Terlihat air mata mengumpul dan menggenang di kelopak mata Rizal, dia menahan agar air matanya tidak jatuh, dengan cepat dia menghapus air matanya, lalu berbalik cepat keluar dari kamar meninggalkan Randi tanpa sepatah katapun. Randi hanya diam menatap dingin pada Rizal yang melangkah keluar pergi dari kamarnya.


"Kenapa Ma ? Kenapa mama selalu saja membela Randi, dan lebih perhatian padanya? Kenapa mama tega melakukan itu padaku? Randi jauh lebih buruk dariku, tapi kenapa mama lebih menyayangi dia dariku, kenapa Ma ?" Ujar Rizal bergumam pada dirinya sendiri, meratapi nasibnya. Dia tak pernah menyangka mamanya tega melakukan itu padanya, terngiang terus ucapan Randi yang mengatakan bahwa mamanya yang melaporkan dirinya pada polisi, hati Rizal terluka mengingat hal itu.


Hari lainnya, Randi terlihat sedang mencoba mengingat ingat kembali semua ingatannya yang hilang, jika dia berusaha untuk mengingat, saat itu juga kepalanya terasa sakit, Randi terdiam menghela nafasnya, dia menyadari, bahwa dirinya sedang memasuki proses dari akibat tumor otak yang di deritanya,  dia melangkah ke meja yang ada di dalam kamarnya itu, di atas meja Ponsel Randi tergeletak, Rizal sengaja meletakkan ponsel miliknya itu di meja agar Randi bisa menggunakannya jika diperlukannya. Randi duduk di kursi, mengambil ponselnya, membuka layar ponselnya, membuka galeri photo yang ada dan tersimpan di ponselnya, Randi melihat photo Via, anaknya, menatap lekat pada photo anaknya itu, menegaskan padangannya pada photo, mencoba untuk merekam dan menyimpan ingatannya akan wajah anaknya. Ada kerinduan yang begitu mendalam pada anaknya saat melihat photo tersebut.


Lalu untuk beberapa saat Randi terdiam, berfikir, kemudian dia menghela nafasnya, dia membuka kotak pesan di ponselnya, mengetik dan menulis kalimat kalimat berisi pesan. Randi ingin mengirimkan pesan pada anaknya, memberitahukan pada anaknya tentang semua hal, dia melakukan itu semua karena menyadari, bahwa dirinya nanti hari ke hari akan melupakan semua ingatan dan kenangan yang ada pada dirinya, sebelum hal itu terjadi, sebelum dia kehilangan semua ingatannya, dia ingin mengirimkan pesan pada anak yang sangat dikasihi dan disayanginya.


   Di hari lainnya, saat itu, di ruang tamu apartemennya, Rizal yang sedang duduk termangu meratapi dirinya yang di khianati ibu kandungnya sendiri mengambil ponsel yang berbunyi dari kantong celananya, menerima panggilan di ponselnya.


"Dia ada di kamar." Ujar Rizal bicara di ponselnya.


"Bagaimana kondisi papah?" Tanya Via dari seberang telepon, Via yang menghubungi Rizal saat ini menanyakan keadaan papahnya.


"Dia tetap gak ingat kejadian kenapa dia terluka, tapi masih ingat namaku dan juga nama kamu, dia juga ingat kejadian puluhan tahun lalu. Tapi gak bisa ingat kejadian beberapa jam bahkan dua hari yang lalu." Ujar Rizal menjelaskan.


Di rumahnya, Via yang mendengarkan Rizal dari ponselnya menghela nafasnya berat.


"Papah kena Dimensia dini Om, itu akibat tumor otaknya semakin parah.Lama lama dia akan lupa semuanya." Ujar Via mencoba memberitahu dan menjelaskan pada Rizal dengan raut wajah sedih mengingat penyakit yang di derita papahnya itu.


Rizal yang mendengar apa yang dikatakan Via kaget, dengan wajah serius dia bertanya pada Via.


"Randi kena tumor otak ?! Sejak kapan ?" Tanya Rizal ingin memastikan lagi.


"Via tau semua dari dokter pribadi papah yang ngobatinya, Via datang nemui dokternya, papah gak pernah lagi jalani therapi tumor otaknya, makanya semakin parah." Ujar Via.


"Dimensianya muncul karena trauma luka parah yang di dapatnya, ini semua karena Yana, kalo dia gak melukai papah, mungkin papah gak kan lupa ingatan karena trauma terlukanya." Ujar Via dengan wajah sedihnya, ada rasa kesal sedikit di raut wajahnya, karena itu dia hanya menyebut nama Yana tanpa sebutan "Bunda", dia kecewa dengan apa yang sudah diperbuat Yana pada papahnya.


"Apa gak bisa disembuhkan sakitnya ?" Tanya Rizal dari ponselnya pada Via.


"Gak bisa Om, sulit, apalagi papah pasti gak kan mau jalani therapi buat ngobati dimensianya." Ujar Via dengan suara parau dan sedih diteleponnya.


"Mudah mudahan papah baik baik aja Om, Via akan nemui papah dan Om secepatnya, setelah Via beresin semuanya disini." Ujar Via diteleponnya pada Rizal.


"Bagaimana Yana ?" Tanya Rizal pada Via.


"Dia di kamar Om, masih belum pulih, aku menguncinya dari luar, biar dia istirahat di dalam kamar." Ujar Via menjelaskan.


"Udah dulu ya Om, nanti ku telpon lagi." Ujar Via menutup teleponnya, lalu diam tercenung, dia berfikir.


Rizal terdiam di sofa, dia tak menyangka jika Randi punya penyakit tumor otak yang sudah parah, ada rasa kasihan pada dirinya, sebenci apapun dia pada Randi dari sejak kecil mereka, namun tak bisa dia membohongi hatinya, Rizal merasa iba atas penderitaan yang di alami abang kandungnya itu.


Tiba tiba Randi keluar dari dalam kamarnya, berjalan melewati Randi yang duduk di sofa tercenung, dia kaget melihat Randi berjalan cuek melewatinya.


"Mau kemana kamu ?" Tanya Rizal pada Randi.


"Aku ingin keluar sebentar, mau menghirup udara, bosan di kamar terus." Ujar Randi cuek berjalan tanpa melihat Rizal yang diam melihat Randi yang membuka pintu apartemennya dan melangkah keluar. Rizal membiarkan Randi pergi keluar, agar Randi bisa lebih menenangkan diri, Rizal paham, saat ini Randi butuh sendiri, butuh untuk merenung dan mengingat kembali pada ingatannya yang hilang beberapa hari sebelumnya.


   Di dalam kamar rumah kontrakan Via, Yana membuka matanya perlahan lahan, dia terbangun dari tidurnya, saat dia hendak bangun, dia kaget karena mendapatkan dirinya tidak bisa bangun dan beranjak dari tempat tidurnya, Yana  semakin kaget dan panik saat melihat dan mengetahui bahwa dirinya terbaring di tempat tidur dengan keadaan seluruh tubuh kaki dan tangannya terikat di tempat tidur. Yana menggerak gerakkan tubuhnya, berusaha melepaskan ikatannya yang kuat terikat, dia meronta teriak.


"Lepaskan, lepaskaan akuuu !! Viiiaaa...Lepaskan akuuu Viiiiaaa!!" Teriak Yana histeris dan panik karena dirinya terikat.


Di ruang tamu rumah kontrakannya, Via hanya diam tak bereaksi mendengarkan teriakan Yana dari dalam kamar, Via tak perduli dengan teriakan Yana, dia hanya duduk diam di sofa dengan tatapan dingin tanpa ada ekspresi apapun di wajahnya saat itu.


   Sementara itu, Randi saat ini berada di lantai paling atas gedung apartemen, dia berdiri di pinggir atap gedung apartemen, menatap kebawah, melihat jauh dibawah pada jalan raya yang berada disekitar gedung apartemen yang di sewa Rizal, dia lalu menatap jauh ke depan, memandang suasana gedung gedung yang menjulang tinggi dan megah serta rumah rumah penduduk yang terlihat padat dari atas atap gedung apartemen, suatu pemandangan yang indah di lihat jelas Randi saat itu, dia diam berdiri ditempatnya, menghirup udara segar, dan membiarkan angin yang saat itu menerpa tubuhnya, Randi merasakan ketenangan dan kenyamanan saat ini, dia diam membisu, dari raut wajahnya terlihat bahwa dia sedang memikirkan sesuatu hal saat ini.