Go To Hell

Go To Hell
Bab 45



 Hari ini adalah hari yang bersejarah bagi Yana, pada hari ini dia akan meresmikan butik yang selama ini di impikannya, wajah Yana terlihat sumringah, bersiap siap hendak berangkat menuju lokasi tempat acara peresmian pembukaan butiknya di langsungkan, paman Mulyono dan Via mengantarkan kepergian Yana yang ditemani Gunawan beserta Santoso dan beberapa personil dari kepolisian yang ditugasi mengawal dan menjaganya, sesuai permintaan paman Mulyono sebagai lurah untuk keselamatan Yana, keponakannya dari incaran pembunuh berantai.


Yana tersenyum menatap wajah paman Mulyono, lalu dia menatap wajah Via yang berdiri dihadapannya dengan senyum manisnya.


"Beneran kamu gak ikut bunda ?" Tanya Yana pada Via.


"Nggak bun, biar Via istirahat aja di sini, toh bunda kan udah banyak yang jaga." Ujar Via tersenyum.


"Ya udah kalo gitu, bunda berangkat dulu ya." Ujar Yana lalu cium pipi kiri kanan Via.


"Aku pergi dulu paman." Ujar Yana pamit pada pamannya.


"Iya, hati hati di jalan." Ujar paman Mulyono tersenyum.


Yana pun melangkah masuk kedalam mobil di ikuti paman Mulyono dan Via yang mengantarkan kepergiannya, Gunawan pamit pada paman Mulyono lalu masuk ke dalam mobil yang ada di belakang mobil Yana, Santoso yang bertugas sebagai supir Yana menyalakan mesin mobil, lalu menjalankan mobilnya pergi meninggalkan rumah paman Mulyono di ikuti mobil Gunawan yang berjalan di belakangnya beserta satu mobil yang berisi empat personil kepolisian. Via melambaikan tangan pada Yana yang membalas melambaikan tangannya, lalu, mobil Yana hilang dari pandangan Via dan paman Mulyono.


"Ayo kita masuk Vi." Ajak paman Mulyono pada Via.


"Iya kek, oh ya kek, memang butik bunda dimana sih ?" Jauh gak dari sini ?" Tanya Via pada paman  Mulyono yang berbalik menatap wajah Via.


"Butiknya di Jogja, satu jam lebih lah kalo dari sini, tepatnya di jalan Kali urang, persis dj samping  Pandawa Plaza." Ujar paman Mulyono.


"Oh, kirain Via masih di Klaten sini, jauh ternyata." Ujar Via.


"Makanya, harusnya kamu ikut, biar sekalian tau jalan jalan ke Jogja." Ujar paman Mulyono tersenyum padanya.


" Lain kali kalo Via ada waktu main ke sini kek." Ujar Via tersenyum, paman Mulyono tertawa, lalu dia melangkah masuk kedalam rumahnya, Via berdiri menatap kejalan, tertegun ditempatnya berdiri.


   Saat itu, Randi bersiap siap hendak pergi, dia melangkah cepat keluar dari rumah tempat persembunyiannya yang ada di tengah tengah rumput rumput liar, tempat itu tak bertuan, cocok buat persembunyian Randi, Tempat persembunyian itu di temukan Sugeng dan diberikan padanya, saat Sugeng awal bergabung dengan Randi, sebelum dia mati terbunuh .


Randi melangkah masuk ke dalam mobil, mobil rental yang sengaja di sewanya untuk aktifitasnya. Randi duduk di jok mobil, mengambil ponselnya.


"Aku berangkat sekarang, kamu stand by di tempat sampe nanti aku kabari lagi." Ujar Randi, lalu tak lama dia menutup teleponnya, dan menyimpan telepon itu di kantong celananya, Randi menyalakan mesin mobil, kemudian menjalankannya dan pergi dari tempat itu.


   Sita cepat mengangkat teleponnya begitu ponselnya berbunyi, saat dia melihat yang menelponnya Via, dia senang.


"Iya nak, kamu di mana ? mama khawatir sama kamu." Ujar Sita bicara di ponselnya.


"Via baik baik aja kok ma, maafin Via ya, udah bohongi mama sama nenek, Via gak jadi nyusul mama, sekarang Via ada di Klaten." Ujar Via bicara diseberang teleponnya.


"Tempat siapa kamu di Klaten ?" Tanya Sita.


"Via mau ketemu sama papah ma, mau mencegah papah agar gak berbuat lebih buruk lagi, sekarang Via bersama bunda Yana." Ujar Via menjelaskan dari teleponnya.


"Syukurlah, mama lega sekarang kamu udah ngabari." Ujar Sita dengan wajah senang.


"Bagaimana keadaan bunda Yana ?" Tanya Sita. Dia tahu yang di sebut bunda Yana oleh anaknya pastilah mantan istri Randi. Karena Via pernah dan sering dulu cerita tentang Yana saat Via liburan ke rumahnya bersama bude Intan.


"Bunda Yana baik ma, mudah mudahan gak terjadi apa apa sama dia.Via berusaha menjaganya agar papah gak bisa mendekati bunda." Ujar Via.


"Iya, gak apa nak." Ujar Sita.


Jumirah yang datang mendekat bertanya pada Sita yang sedang menelpon itu, melihat wajah Sita senang dan bahagia dia pun ingin tahu bicara dengan siapa Sita.


"Siapa ?" Tanya Jumirah pada Sita.


"Via ma." Jawab Sita.


" Nak, nenek mau bicara sama kamu." Ujar Sita lalu memberikan ponselnya pada Jumirah yang lantas menerima ponsel dari tangan Sita.


"Aduuuhhh cucu kesayangan nenek, hampir copot jantung nenek kamu gak ada kabarnya." Ujar Jumirah senang.


"Maafin Via ya nek, udah bohongi nenek, ini semua Via lakuķan buat kebaikan semuanya." Ujar Via di telepon.


"Iya, tapi sampe kapan kamu gak pulang, gimana kerjaanmu ?" Tanya Jumirah.


"Ya udah, kamu baik baik disana, jaga dirimu, jangan lupa makan, jaga kesehatan." Ujar Jumirah.


"Iya nek, udah dulu ya, salam buat mama, nanti Via telpon lagi." Ujar Via dari seberang teleponnya, setelah ponsel mati, Jumirah tersenyum senang menatap Sita, mereka berpelukan, merasa lega karena sudah mendapatkan kabar dari Via.


Peresmian pembukaan butik Yana cukup meriah dilaksanakan, banyak para undangan yang datang menghadiri acara peresmian itu, butik Yana terlihat megah dan indah bangunannya, membuat kagum orang orang yang melihatnya, Yana benar benar total dan serius membangun usaha butik yang memang selama ini dia impikannya, akhirnya bisa terlaksana. Ucapan selamat datang dari para undangan membuat hati Yana bahagia, musik pun bergema, mengiringi suasana, para undangan menikmati sajian makanan yang disediakan , hidangan menu makanan yang istimewa tersedia, Yana benar benar mempersiapkan acara ini dengan matang, dia ingin berjalan sukses acaranya, tidak ingin para undangan yang hadir kecewa, untuk itu dia menyiapkan segalanya yang terbaik.


Randi yang berada di seberang pinggir jalan, tidak jauh dari lokasi butik Yana mengawasi, matanya terus menatap ke arah butik tersebut, saat itu Randi menyamar, dia memakai jenggot dan kumis palsu serta memakai kaca mata dengan menggunakan wig rambut di kepalanya. Dia sengaja menyamar, agar identitasnya tidak diketahui jika para polisi yang ada disekitar Yana mencium keberadaannya di dekat Yana saat itu.


Ada satu hal yang menarik, mengapa Randi bisa tahu lokasi tempat diadakannya acara peresmian butik Yana, dan mengapa nanti juga Randi sudah persiapkan orang suruhannya untuk stand by di salah satu jalan lain yang akan di lalui Yana saat pulang dari acara nantinya.


Kita kembali ke waktu beberapa jam sebelumnya, waktu disaat Yana baru saja berangkat pergi ke lokasi.


   Saat itu, setelah paman Mulyono masuk kedalam rumahnya, Via yang tercenung berdiri ditempatnya berfikir, lalu dia mengambil ponsel yang diberikan Randi padanya, mengetik sebuah pesan.


"Yana sekarang berangkat ke butiknya, lokasi ada di jalan kali urang, persis di samping pandawa plaza jogja, hati hati, disekitarnya banyak polisi menjaganya." Ketiknya di pesan itu lalu mengirimkannya pada Randi. Kemudian Via menelpon mamanya.


Via lah yang memberitahukan keberadaan Yana pada Randi, hingga tahu dimana Yana, dan berapa banyak orang yang menjaganya, Via juga yang memberitahu agar Randi berhati hati mengejar Yana, karena polisi menyusun rencana untuk menjebaknya.


   Di tempat persembunyiannya, Randi terlihat wajahnya senang karena anaknya memberitahukan keberadaan Yana, dia lalu menghubungi seseorang.


"Bersiap, kamu tunggu di perempatan lampu merah jalan raya kali urang, tunggu sampai mobil Yana tiba ke arah menuju Klaten." Ujar Randi bicara di telepon , lalu kemudian menutup teleponnya.


Di teras rumah paman Mulyono, Via duduk disebuah kursi, fikirannya menerawang jauh, dia punya alasan melakukan hal itu, dia sengaja memberitahukan tentang posisi dimana Yana berada agar Randi, papahnya tidak lengah, dan bisa berhati hati, tidak gegabah dalam mengikuti Yana, karena itu Via sengaja memberitahu kalau polisi berencana menjebaknya, Ponsel yang diberikan Randi digunakannya untuk memberikan informasi itu, dia yakin, dengan dirinya memberitahukan semua hal itu, papahnya tidak akan tergesa gesa bertindak, sebab Yana dilindungi polisi, tidak mudah menangkapnya.


Namun, apa yang dipikirkan dan di harapkan Via berbeda dari apa yang di pikir dan direncanakan papahnya, Randi semakin bersemangat mendapat info dari anaknya, dia semakin bertekat untuk bisa menghancurkan Yana, untuk itu dia segera menyusun rencana yang begitu nekat, menjebak balik para polisi itu dengan aksi tak terduga yang sudah dipersiapkannya.


   Hari mulai gelap, saat itu sudah berganti malam, para undangan yang hadir ke acara peresmian pembukaan butik Yana bubar, masing masing dari mereka melangkah keluar meninggalkan tempat menuju mobil mobil yang terparkir dihalaman parkir depan butik , satu persatu para undangan pergi meninggalkan tempat, hingga akhirnya yang tersisa hanya Yana beserta para penjaganya, Yana melangkah masuk ke dalam mobilnya, Santoso sudah menunggu di dalam mobil, Gunawan mengikuti masuk ke dalam mobilnya, di susul ke empat personil polisi yang juga masuk kedalam mobil mereka.


Randi yang masih mengintai dan mengawasi melihat mereka dan bersiap siap, mobil Yana pergi meninggalkan butik , di ikuti mobil Gunawan dan ke empat personil polisi yang mengikutinya di belakang mobil Yana.Randi menjalankan mobilnya, meninggalkan tempatnya, lalu memutar arah balik mobilnya dijalan itu, segera Randi mengikuti mobil Yana yang sudah menjauh darinya, Randi mempercepat laju mobilnya agar tidak kehilangan pandangan pada mobil Yana.


Mobil Yana yang di supirin Santoso melaju di jalan raya, melintas melewati mobil mobil yang lalu lalang, disusul mobil Gunawan dan ke empat personil polisi, di belakang mobil mereka, mobil Randi terus mengikuti dengan menjaga jarak agar tidak diketahui jika dia sedang mengikuti mobil Yana.


Mobil Yana berbelok menuju jalan raya lainnya, jalan raya yang terlihat sepi malam itu, saat itu jam sudah menunjukkan pukul 11: 55 wib malam, wajar keadaan di jalan sepi, acara peresmian butik Yana memang dilaksanakan sehari penuh oleh Yana.


Santoso menghentikan mobilnya karena lampu merah menyala, mobilnya berhenti paling depan, tidak ada mobil lainnya, lalu mobil Gunawan melaju dan berhenti tepat disamping mobil Yana, mobil ke empat personil mengikuti Gunawan dan berhenti di belakang mobil Gunawan. 


Sementara, mobil Randi jauh dibelakang mereka, dia tak bisa lagi mendekat karena posisinya terhalang oleh dua buah truk bermuatan pasir yang berhenti di depannya karena lampu merah.


Santoso mengambil ponselnya dan menelpon, dia membuka kaca depan , memberi isyarat pada Gunawan agar membuka kaca depan mobilnya, Gunawan membuka kaca mobilnya.


"Kita di ikuti terus dari tadi, aku tau Randi sedang mengikuti kita sejak di butik." Teriak Santoso pada Gunawan yang mengangguk paham, Santoso lalu memberi isyarat pada Gunawan, dia paham maksud isyarat Santoso itu, lalu Santoso melihat ke belakang pada Yana yang duduk di jok belakang mobilnya.


"Maaf bu, ibu pindah ke mobilnya Gunawan, buat ngelabui Randi yang mengikuti kita di belakang." Ujar Santoso.


Yana langsung menoleh kebelakang, dia kaget karena Randi mengikutinya, lalu cepat dia membuka pintu mobil , keluar dari mobil Santoso dan berpindah masuk lalu duduk di jok belakang mobil Gunawan yang posisinya berada di samping mobil Santoso.


Perpindahan Yana itu tidak di lihat Randi , karena pandangannya terhalang 2 truk besar didepannya.


Randi yang kesal karena pandangannya terhalang dari melihat mobil Yana lalu mengambil ponselnya.


"Bersiap siap, setelah lampu hijau,  mobilnya datang." Ujar Randi bicara di ponselnya, kemudian dia menutup telepon dan meletakkan  ponselnya di dashboard mobil.


Lampu lalu lintas yang tadinya berwarna merah berubah menjadi hijau kembali, mobil Santoso pun berjalan , melanjutkan perjalanan, Santoso menjalankan mobilnya di ikuti mobil Gunawan dan mobil ke empat personil polisi, setelah kedua truk pembawa pasir berjalan, Randi pun menjalankan mobilnya, dia mencoba menyalip ke dua truk itu, tapi tidak ada tempat buatnya menyalip.


Saat mobil Santoso melaju diperempatan jalan raya , dari arah lain sebuah mobil berukuran tiga perempat melaju kencang ke arah mobil Santoso dan menabrakkan mobilnya ke mobil Santoso yang lantas terpental di jalanan itu, benturan keras yang berasal dari tabrakan ke dua mobil membuat mobil Santoso terpental jauh berputar putar dijalan lalu membentur tiang listrik, sementara mobil yang menabrak mobil Santoso dengan cepat menjalankan mobilnya meninggalkan tempat itu, melihat kejadian tersebut, mobil ke empat personil mengejar mobil yang menabrak mobil Santoso ke arah jalan lainnya, sementara Gunawan yang kaget tak menyangka akan hal itu menghentikan dan menginjak rem mobilnya secara mendadak, membuat Yana hampir terbentur jok mobil jika tidak menggunakan sabuk pengaman.


Gunawan cepat keluar dari dalam mobilnya, dia menoleh pada Yana.


"Ibu menunduk, bersembunyi di bawah jok, jangan perlihatkan diri ibu." Ujar Gunawan menegaskan, Yana yang bingung ada apa hanya mengangguk, dia lalu bersembunyi di bawah jok mobil dengan wajah bingung dan takut, dia melihat tabrakan yang terjadi itu.


Gunawan yang keluar dari mobilnya cepat berlari ke arah mobil Santoso yang hancur, dia berusaha membuka pintu mobil Santoso yang rusak karena benturan keras dari mobil si penabrak, pintu tak bisa terbuka, Gunawan melihat Santoso yang tak sadarkan diri didalam mobil, kepalanya berdarah , terluka parah karena benturan keras yang terjadi.


Mobil Randi melintas pelan dijalanan itu, dia melihat ke arah mobil Santoso dan Gunawan yang sedang berusaha menyelamatkan Santoso, mobil itu hancur , Randi tersenyum puas melihat itu, dia menjalankan mobilnya meninggalkan tempat itu, seolah tak terjadi apa apa. Randi tampak wajahnya puas, dia merasa bahwa rencananya berhasil kali ini, dan Yana mati dalam kecelakaan yang sengaja dipersiapkan dan direncanakannya itu.