
Randi menatap tajam wajah Rizal, sosok orang yang telah mendahuluinya menyelinap kerumah paman Mulyono dan membuat pingsan para penjaga dirumah itu.
"Lepaskan tanganku !" Ujar Randi menahan geram pada Rizal.
"Kikikikikikik..." Rizal tertawa dengan bunyi tawa yang khasnya.
"Aku gak kan membiarkan kamu membunuh dia." Ujar Rizal melirik paman Mulyono yang menyimpan rasa takut dalam dirinya.
"Jangan ikut campur urusanku !" Ujar Randi membentak Rizal, dia mulai marah pada Rizal, menatapnya tajam.
"Randiii...Randiii... buat apa aku nyampuri urusanmu." Ujar Rizal menyeringai , matanya melotot pada Randi, gayanya tengil.
"Aku ada di sini karena anakmu ." Ujar Rizal menatap tajam wajah Randi, mendengar itu Randi kaget.
"Apa maksudmu ?" Tanya Randi. Rizal melepaskan pegangan tangannya dari tangan Randi.
"Via memintaku untuk melindungi orang ini, dia gak ingin orang ini mati kamu bunuh." Ujar Rizal tersenyum menatap Randi.
"Kalo bukan karena anakmu, aku gak akan ada di sini." Ujar Rizal. Randi terlihat menahan emosi amarahnya, dia menatap wajah paman Mulyono yang menunjukkan wajah bingung, di hatinya dia bertanya tanya, siapa Rizal itu ? kenapa Via memintanya untuk menyelamatkan dirinya dari Randi? Pertanyaan itu muncul dalam diri paman Mulyono.
Randi menahan geram menatap Rizal.
"Kenapa kamu mau nuruti permintaan anakku ?" Tanya Randi marah.
"Ya karena aku pikir, seru juga kalo aku ikut dalam permainan berbahayamu, di samping itu, udah lama aku memang ingin menemuimu." Ujar Rizal menatap wajah Randi tajam.
"Sudahlah, gak ada gunanya kamu bunuh dia ." Ujar Rizal pada Randi sambil melirik paman Mulyono yang masih dalam keadaan terbaring di kasurnya.
Randi terdiam, dia berfikir sejenak, dia heran kenapa anaknya menyuruh Rizal melindungi paman Mulyono.
"Yana gak ada di sini, dia ada dirumahnya sekarang." Ujar Rizal dengan gaya cueknya. Mendengar itu Randi menatap tajam wajah Rizal, dia ingin memastikan kebenaran dari ucapan Rizal itu. Sementara paman Mulyono kaget mendengar Rizal memberitahu keberadaan Yana, dia menggelengkan kepalanya, mengisyaratkan pada Rizal agar tidak memberitahu dimana Yana berada saat ini, dia tidak berani bicara, sebab pasti Randi akan memukulnya jika dia berani bicara, untuk itu gerakan mata dan kepala saja yang bisa dilakukannya untuk memberitahu pada Rizal, Rizal meliriknya, dia tak perduli dengan isyarat paman Mulyono.
"Darimana kamu tau ?" Tanya Randi pada Rizal.
"Ya jelas taulah, selama ini aku mengawasi semua gerak gerikmu, aku juga tau kamu berada dirumah lamamu, aku juga tau apa saja yang dilakukan Yana dan kemana dia pergi, berapa banyak polisi yang menjaganya, semua aku tau." Ujar Rizal.
"Aku lebih tau darimu." Ujar Rizal bicara dengan mendekat ke wajah Randi, Randi semakin marah mendengar itu.
Randi lalu segera melangkah pergi meninggalkan paman Mulyono dan Rizal, keluar kamar.
"Babaaay Randiii...sampe ketemu lagi, ingat, urusan kita yang lama belum bereeess !!" Teriak Rizal ke arah perginya Randi, Randi tak perduli dengan ucapannya, dia keluar kamar dengan membanting pintu kamar paman Mulyono.
Rizal menatap tajam wajah paman Mulyono.
"Kali ini nyawamu aman karna kebaikan Via, lain kali, lebih berhati hati lagi." Ujar Rizal berbalik hendak meninggalkan paman Mulyono yang lantas bangun dan duduk di tepi ranjangnya.
"Terima kasih, tapi Kamu siapanya Via ?" Tanya paman Mulyono pada Rizal yang sudah melangkah ke depan pintu kamar, langkahnya terhenti.
"Aku Omnya Via." Ujar Rizal tanpa berbalik, lalu melanjutkan langkahnya keluar dari kamar paman Mulyono, seperginya Rizal dan Randi, paman Mulyono menarik nafasnya, dia lega karena Randi tidak membunuhnya, dia tercenung sejenak, kemudian tersadar, dan cepat berdiri lalu beranjak keluar dari kamarnya.
Paman Mulyono syock dan begitu kagetnya saat dia keluar kamar dan menemui petugas polisi yang berjaga di depan pintu kamarnya, petugas polisi itu sudah mati, darah terlihat disekitar tubuhnya, paman Mulyono gemetar, dia lalu melangkah menuju ruang keluarga, kembali paman Mulyono dibuat syock saat melihat mayat Kuncoro di lantai, paman Mulyono terdiam menatap mayat Kuncoro, lalu dia menguatkan dirinya, berjalan ke arah ruang tamunya, di ruang itu, paman Mulyono melihat Handoko telah mati dengan tubuh penuh luka darah, terkapar di kursi.
Paman Mulyono semakin gemetar ketakutan , dia syock menyaksikan kematian polisi polisi yang menjaga dirinya, cepat paman Mulyono melangkah keluar rumah, dia ingin tahu bagaimana keadaan Amir dan Hendro yang berjaga diluar rumahnya. Saat paman Mulyono keluar dari dalam rumahnya, dia kaget melihat mayat Amir dan Hendro, kaki paman Mulyono lemas, dia terduduk di lantai, tubuhnya gemetaran, tangannya terus bergerak gerak gemetar ketakutan, tatapan matanya kosong jauh ke depan, paman Mulyono mengalami syock dengan semua itu.
Bagaimana dengan Rizal ? Siapa Rizal sebenarnya ? Mengapa Randi mengenalnya ? Apa hubungan Rizal dengan Via anaknya Randi ? Mengapa seperti ada sesuatu rahasia yang disimpan Randi dan Rizal ?
Untuk mengetahui tentang Rizal, kita akan mundur kebelakang, kilas balik pada tahun saat Via pertama kali datang menemui Rizal untuk meminta bantuannya.
Kilas balik beberapa waktu di masa silam.
Rizal habis menyirami tanaman bunga yang ada di teras rumahnya, saat dia hendak berbalik, masuk ke dalam rumahnya, langkahnya terhenti karena mendengar suara seorang wanita memberi salam.
"Assalamu'alaikum Om..." Ujar Via yang berdiri di depan pagar teras rumah Rizal, motor Via terparkir didepan rumah. Rizal yang berdiri di depan pintu segera berbalik dan melihat Via.
"Wa alaikumsalam, Laaah...nongol juga anaknya..." Ujar Rizal tersenyum tengil pada Via yang tampak wajahnya menyimpan kesedihan tersenyum pada Rizal.
"Kamu pasti ke sini soal papahmu." Ujar Rizal langsung pada Via, Via kaget menatap Rizal.
"Kok om tau ?" Tanya Via heran karena Rizal tahu maksud dan tujuannya datang menemui dirinya.
"Masuklah... kayak pengamen kamu berdiri di situ." Ujar Rizal berjalan dengan gaya cueknya masuk ke dalam rumahnya, Via tersenyum melihat Omnya itu, lalu melangkah masuk ke dalam rumah juga.
Di ruang tamu, Via lalu duduk di sebuah sofa, Rizal meletakkan peralatan menyiram bunganya di lantai samping sofa panjang yang ada diruangan itu.
"Kamu mau minum apa ? Jus, sirup, teh manis, susu atau mau makan steak ?" Tanya Rizal.
"Beneran Om punya semua makanan dan minuman itu ?" Tanya Via gak yakin.
"Ya beli, sana ke cafe, mana ada di sini, kalo mie instan ada, kikikikik" Ujar Rizal dengan suara tawa khasnya, Via tersenyum menatap wajah Rizal yang bergaya cuek itu. Rizal duduk di sofa, di samping Via duduk.
"Polisi ke sini, nanya Om soal papahmu, katanya papahmu buron karena membunuh dan jadi tersangka pembunuh berantai." Ujar Rizal menatap tajam wajah Via.
"Iya Om, karena itu Via ke sini." Ujar Via dengan suara lemah.
"Kamu juga udah di datangi polisi?" Tanya Rizal pada Via yang hanya mengangguk lemah.
"Via udah tau semuanya tentang papah, sebelum ke sini, Via ke rumah bude Intan, bude cerita semua tentang papah." Ujar Via dengan wajah sedihnya.
"Via gak pernah menyangka kalo papah punya kepribadian ganda Om, dan Via juga gak pernah mengharapkan papah jadi seorang pembunuh yang sadis." Ujar Via menangis, Rizal diam menatap wajah Via tajam.
"Papahmu sejak kecil seperti itu, hampir tiap saat dia jadi lawanku karena ada saja masalah yang terjadi antara kami." Ujar Rizal pada Via.
"Via gak mau papah semakin menjadi membunuhi orang orang Om, Via gak ingin melihat papah membunuh mantan istrinya lalu mati ditembak polisi.Via gak bisa membayangkan semua itu jika terjadi." Ujar Via menangis.
"Apa urusanku? Biar saja Randi semakin liar, kan memang dari dulu dia begitu." Ujar Rizal, dia tidak mau membantu Via.
"Via mohon Om, cuma Om orang yang bisa mencegah papah." Ujar Via.
"Via mau nemui papah, Via mau mencegah agar papah gak semakin nekat, Via tau, dia pasti mau membunuh mantan istrinya karena dendam sebab merasa udah di hina." Ujar Via.
"Via cuma minta Om untuk mengawasi semua yang dilakukan papah, kemana dia, juga Via minta Om untuk mengawasi bunda Yana, mantan istri papah, Om bisa hubungi Via jika terjadi sesuatu nanti." Ujar Via.
"Cuma itu ?" Tanya Rizal menatap wajah Via.
"Iya Om, cuma itu." Ujar Via menatap Rizal yang diam berfikir. Lalu Rizal menatap wajah Via.
"Apa kamu kira papahmu bisa di halangi ? ***** keinginan membunuhnya itu sangat besar, gak kan ada orang yang bisa menghentikannya, jika muncul keinginan membunuh dari dalam dirinya." Ujar Rizal pada Via.
"Papahmu itu punya kepribadian ganda, dan dia sangat menikmati saat dirinya membunuh orang tanpa sadar, yang bisa mencegahnya cuma diri aslinya." Ujar Rizal.
"Tapi itu mustahil, gak mungkin diri aslinya mau bertentangan dengan pribadi pribadi lain yang ada dalam dirinya." Ujar Rizal pada Via.
"Untuk hal itu biar jadi urusan Via Om, Via tau cara menghentikan papah." Ujar Via.
"Yakin kamu tau caranya ?" Tanya Rizal menatap wajah Via tak yakin.
"Iya Om, Via udah merencanakan semuanya, Via akan mendahului papah, sebelum dia membunuh." Ujar Via.
"Maksudmu ? Tunggu...tungguu...Om gak ngerti omonganmu barusan ini." Ujar Rizal menatap Via.
"Pokoknya Om tolong bantu Via, Via mohon Om." Ujar Via mengalihkan pembicaraan pada Rizal. Rizal diam berfikir sejenak, kemudian dia menatap wajah Via.
"Sebenarnya Om mau menuhi permintaanmu, itu karena kamu, bukan karena papahmu, soalnya aku gak pernah suka sama papahmu." Ujar Rizal pada Via.
"Jujur, aku masih nyimpan dendam sama papahmu. Sebenarnya saat kamu minta Om bantuin kamu awasi papahmu, itu memudahkan niatku mendekati Randi, udah lama aku ingin menemuinya dan membuat perhitungan dengan papahmu , menyelesaikan masalah kami." Ujar Rizal menjelaskan pada Via. Via menatap wajah Rizal dengan tatapan tajam.
"Jangan rusak rencana Via Om, abaikan dendam Om padanya, Via cuma minta tolong, apa Om mau bantu Via, Kalo Om mau, sesampainya di jogja, Om bisa hubungi Via, agar kita bisa bahas untuk tindak lanjutnya." Ujar Via menatap tajam pada Rizal yang berfikir. Rizal menghela nafasnya menatap wajah Via.
"Kasih waktu Om buat mikirinnya, nanti Om kabari kamu." Ujar Rizal pada Via.
"Via tunggu Om, Via berangkat ke jogja minggu depan, Via harap, Om mau bantuin." Ujar Via menghapus air matanya, dia berdiri dari duduknya.
"Via pamit pulang Om." Ujar Via salim pada Rizal. Via lalu berbalik keluar dari rumah Rizal di ikuti Rizal yang mengantarnya keluar rumah, Via naik ke atas motornya, menyalakan mesin motor, lalu pergi dari rumah Rizal, setelah Via pergi, Rizal tercenung di depan teras rumahnya, berfikir, apa yang harus dilakukannya ?
Kita kembali ke masa sekarang.
Begitulah awal mula bagaimana Rizal bisa datang ke Jogja bertemu Via dan membantu Via, atas permintaan Via, Rizal yang tak bisa menolak permohonan keponakannya itu akhirnya bersedia membantu Via, karena itulah, Rizal menjalankan semua yang telah di minta dan di rencanakan Via, saat Via memintanya untuk melindungi paman Mulyono, tanpa membantah Rizal pun menjalaninya, Rizal sengaja mendahului Randi datang ke rumah paman Mulyono, karena dia tahu Randi pasti akan datang ke rumah paman Mulyono mencari Yana, karena itu, Rizal sengaja membius para polisi yang berjaga dirumah paman Mulyono, agar dia mudah menyelinap masuk kedalam rumah dan bersembunyi di suatu tempat menunggu sampai Randi datang kerumah paman Mulyono, dan dia bisa melindungi paman Mulyono jika Randi ingin membunuhnya.
Itulah yang terjadi, Rizal yang bersembunyi di kamar paman Mulyono bisa mencegah Randi saat hendak membunuh paman mulyono di kamarnya.
Di rumah paman Mulyono, mayat mayat para petugas polisi, Amir, Hendro, Handoko dan Kuncoro dibawa petugas paramedis dan dimasukkan ke dalam empat mobil ambulance yang parkir di halaman rumah paman Mulyono, petugas forensik bergerak mengamankan setiap jengkal lokasi kejadian dan tempat mayat mayat ditemukan, petugas kepolisian dan forensik menyusuri seluruh rumah paman Mulyono, Gunawan terlihat wajahnya marah, dia berdiri di halaman rumah menatap mayat mayat timnya yang berada di mobil ambulance, paman Mulyono berdiri disampingnya dengan wajah lemah.
Tak berapa lama datang sebuah mobil dan berhenti di halaman rumah paman Mulyono, berpapasan dengan kepergian empat mobil ambulance yang membawa mayat mayat petugas polisi, Kapten Polisi Harun Rasyid turun dari dalam mobilnya, segera keluar dan berjalan mendekati Gunawan, wajah Kapten Polisi sangat marah sekali, dia langsung datang kelokasi kejadian begitu mendapatkan kabar bahwa empat anak buahnya mati di bunuh saat bertugas menjaga dirumah paman Mulyono.
"Kamu bisa laksanakan tugasmu tidak ?!" Bentak Kapten Polisi Harun Rasyid begitu mendekati Gunawan yang berdiri, paman Mulyono kaget dengar bentakan Kapten Harun Rasyid, paman Muloyono menoleh pada Kapten Harun Rasyid.
"Maaf Kapten, saya gak menyangka ini bisa terjadi." Ujar Gunawan tertunduk merasa bersalah karena membiarkan ke empat petugas polisi di bunuh dan dia malah tidak ada ditempat.
"Kamu kemana aja ? Kenapa gak ada di tempat ini saat kejadian ?" Tanya Kapten Harun Rasyid marah pada Gunawan.
"Saat itu saya dari rumah bu Yana berjaga Kapten, setelah itu saya kembali ke kantor untuk mencari tau keberadaan Randi." Ujar Gunawan.
"Omong kosong, selalu saja alasan yang kamu bisa bilang ke saya !" Ujar Kapten Harun Rasyid.
"Maaf Kapten." Ujar Gunawan tertunduk. Paman Mulyono hanya bisa diam menyaksikan Gunawan di marahi kaptennya.
"Mau sampe kapan kamu biarkan Randi terus membunuh ? sampe seisi kota ini mati terbunuh dan yang tersisa cuma mayat mayat ?!!" Bentak Kapten Harun Rasyid.
"Apa saya harus ikut turun kelapangan agar bisa segera menangkap si Randi hidup atau mati ?!" Ujar Kapten Polisi Harun Rasyid, para petugas polisi dan forensik tetap sibuk dengan tugas mereka disekitar tempat kejadian, mereka tidak memperdulikan Gunawan habis habisan dimarahin Kapten Harun Rasyid di depan umum.
"Ingat ! Saya kasih waktu kamu sebulan ! Jika kamu tidak juga bisa menangkap Randi hidup atau mati, kamu akan saya skor, bahkan saya pecat ! Ingat itu !!" Ujar Kapten Harun Rasyid.
"Siaap Kapten !" Ujar Gunawan memberi hormat pada kaptennya.
"Mana pak Mulyono pemilik rumah ini ?" Tanya Kapten Harun Rasyid pada Gunawan.
"Ini pak Mulyono Kapten." Ujar Gunawan menunjuk pada paman Mulyono yang berada disampingnya dari tadi. Kapten Harun Rasyid melihat paman Mulyono lalu tersenyum menyalaminya.
"Oh, maaf pak, saya tidak mengenali bapak." Ujar Kapten Harun Rasyid.
"Tidak apa pak, memang kita baru sekarang bisa bertemu." Ujar paman Mulyono pada kapten polisi.
"Sudah dicatat semua pernyataan pak Mulyono ?" Tanya Kapten Harun Rasyid pada Gunawan.
"Sudah pak. Saya sudah meminta agar menambah tim lagi untuk berjaga jaga dirumah bu Yana, karena saya yakin Randi pasti datang kerumahnya." Ujar Gunawan menjelaskan.
"Menurut pak Mulyono, Randi tau dimana bu Yana sekarang karena di beri tau Omnya Via yang saat itu datang menyelamatkan pak Mulyono." Ujar Gunawan.
"Siapa Omnya ? Cari orang itu, selidiki dimana keberadaannya, kamu harus bisa mendapatkan info dari orang itu, orang itu pasti ada hubungannya dengan Via dan Randi, karena melindungi pak Mulyono." Ujar kapten Harun Rasyid.
"Iya Kapten, menurutnya, dia menolong saya atas permintaan Via." Ujar Paman Mulyono pada Kapten.
"Semakin rumit ini, ada sesuatu antara Via, Omnya dan Randi, kamu segera cari tahu juga keberadaan Via, jadikan dia saksi sementara ini." Ujar Kapten Polisi Harun Rasyid.
"Siap kapten , Laksanakan !" Ujar Gunawan pada kapten polisi.