
Sore itu, Via bertemu dengan seseorang yang disebutnya sebagai "Om"nya.
Di dalam cafe yang dekat dengan candi prambanan, Via duduk di sebuah kursi cafe dengan latar belakang candi prambanan yang terlihat di kejauhan , di atas meja ada 2 piring berisi makanan khas cafe itu beserta 2 gelas minuman.
Di depan Via, duduk seseorang yang disebutnya sebagai "Om".
Via dan Omnya terlihat sedang terlibat dengan suatu pembicaraan yang sangat serius sekali saat itu, Via dengan wajah serius menjelaskan semua yang ada di dalam fikirannya, sementara Omnya diam mendengarkan Via yang terlihat penuh dengan keyakinan membahas sesuatu hal. Omnya yang mendengar segala penjelasan Via mengangguk angguk dan tersenyum, dia tidak membantah sedikitpun dari penjelasan Via, hanya menatap wajah Via yang serius memberikan penjelasan.
Di tempat lain, di pematang sawah, terlihat Randi dan Marwan sedang bertemu, mereka berdiri di depan sawung yang ada di tengah tengah pematang sawah, Marwan menatap wajah Randi lekat, raut wajah Marwan menunjukkan ke khawatiran setelah mendengar rencana yang disampaikan Randi kepadanya.
"Abang serius dengan rencana ini ?" Tanya Marwan ingin memastikannya pada Randi.
"Iya." Jawab Randi tegas.
"Gak sebaiknya, cari rencana lain bang ?" Ujar Marwan dengan keraguannya.
Randi menatap wajah Marwan, tatapan matanya tajam memandang Marwan yang ada keraguan itu.
"Kenapa ? Kalo kamu takut, kamu bisa mundur sekarang, saya gak memaksamu." Ujar Randi pada Marwan.
"Bukan begitu bang, maksud saya..." Ujar Marwan, ucapannya terhenti karena langsung di potong Randi yang bicara padanya.
"Saya udah memikirkan semua resikonya, ini satu satunya jalan yang bisa di lakukan agar saya bisa membunuh Yana." Ujar Randi dengan tatapan tajamnya pada Marwan.
"Tapi itu aksi dan tindakan bunuh diri buat abang !" Ucap Marwan dengan nada keras dan tegas.
"Bang, saya gak mau abang berbuat nekat dan gelap mata karena ingin cepat membunuh Yana." Ujar Marwan menatap Randi.
"Bagaimana mungkin abang bisa melakukan hal itu disana, sementara pasti banyak polisi polisi yang menjaga Yana, dan berada di sekitarnya , melindungi Yana !" Ujar Marwan menjelaskan pada Randi agar dia berfikir ulang tentang rencananya itu.
"Kamu gak perlu memikirkan hal itu, resiko itu aku yang terima." Ujar Randi.
"Tapi bang..." Ujar Marwan.
"Kalo kamu mau bantu saya, lakukan apa yang udah saya jelaskan, siapkan saja semua yang dibutuhkan, ditempat yang sudah kita tentukan bersama." Ujar Randi memotong pembicaraan Marwan yang terdiam menghela nafas berat menatap wajah Randi.
"Tugasmu menyiapkan semua yang saya butuhkan, dan memgawasi serta melindungi saya jika polisi polisi yang melindungi Yana menyergap saya." Ujar Randi pada Marwan.
"Persiapkan dirimu, saya tunggu, jangan lupa, kamu harus sudah ada duluan di tempat itu sesuai waktu yang saya tentukan tadi." Ujar Randi menepuk bahu Marwan yang hanya terdiam.
Randi lalu pergi meninggalkan Marwan yang masih berdiri terpaku tak bisa berkata apa apa, dia tidak bisa mencegah dan merubah cara fikir Randi saat ini dalam hal menjalankan misinya, bagi Marwan, apa yang direncanakan Randi sangat berbahaya untuk keselamatan dirinya, dengan rencana Randi, Marwan yakin, mereka tidak akan berhasil meringkus bahkan membunuh Yana di tempat itu, dimana akan banyak polisi yang berjaga disekitar tempat itu.
Marwan resah, bingung, dia khawatir dengan keselamatan Randi, dia tidak ingin Randi terjebak dalam rencananya sendiri, gagal membunuh Yana, dan malah dia yang akan terbunuh, Marwan saat itu dalam posisi yang bingung, dia berfikir, apa yang harus di lakukannya, dia menatap Randi yang berjalan sudah menjauh menyusuri pematang sawah itu, hati Marwan resah, dia menarik nafasnya berat, ada beban fikiran yang begitu besar saat ini dalam dirinya.
Via yang masih berada di dalam cafe bersama Omnya memberikan secarik kertas yang diterima Omnya.
"Itu alamat rumah papah, Via yakin, papah pasti akan balik kerumah itu, selain itu, Via juga menulis alamat rumah paman Mulyono tempat bunda Yana tinggal sekarang, juga alamat cafenya dan butik bunda Yana." Ujar Via, Omnya hanya mengangguk angguk membaca tulisan di secarik kertas yang dia terima dari Via.
"Via juga udah nulis nomor hape Via dan papah, Om bisa hubungi sewaktu waktu saat dibutuhkan." Ujar Via .
"Kamu yakin dengan semua ini ?" Tanya Om pada Via.
"Yakin Om." Ujar Via mengangguk menatap wajah Omnya itu.
"Oks deh, Om turuti semua yang kamu katakan." Ujar Omnya, Via tersenyum.
Hari lainnya, Yana terlihat sudah rapi, dia hendak pergi, wajahnya masih terlihat sedikit pucat, paman Mulyono mendekatinya.
"Mau kemana kamu? Memang udah sehat ?" Tanya paman Mulyono.
"Aku gak apa apa paman, mau liat cafeku, kata tukangnya udah beres renovasinya, setelah itu aku mau ke butikku." Ujar Yana pada paman Mulyono.
"Jangan maksain dirimu Yana, istirahat saja dulu sampai kamu benar benar pulih." Ujar paman Mulyono.
"Tempatku seharusnya di cafe dan butikku paman, bukan diam di rumah terus !" Ujar Yana menatap wajah pamannya.
"Tapi paman khawatir kondisi kamu, mukamu masih pucat, masih lemah." Ujar paman Mulyono.
"Aku bakalan semakin sakit bahkan gila beneran kalo terus diam di rumah dan rebahan dalam kamar paman !" Ujar Yana mulai dengan nada tinggi pada pamannya.
"Aku ingin menghibur diriku, menenangkan diriku, dengan menyibukkan diriku di butik, aku bisa melupakan semua tentang masalahku, tentang Dewi , anakku!" Ujar Yana dengan suara keras , suaranya terdengar menahan tangis.
"Aku gak bisa melupakan semuanya kalo diam dirumah ini paman ! Aku kangen anakku, aku kangeeen paman! Kalo aku ingat Dewi, hatiku hancur, kepalaku sakit!" Ujar Yana.
"Aku gak bisa seperti itu terus, aku harus bisa melupakan sementara dan bangkit ! Karena itu aku harus menyibukkan diriku ke butik ! Disana setidaknya aku bisa bekerja dan menggunakan fikiranku dengan benar !" Ujar Yana menangis lirih, paman Mulyono terdiam, dia tak bisa berbuat apa apa, semua yang dikatakan Yana benar, paman Mulyono hanya bisa diam menatap Yana.
"Paman cuma pesan ke kamu, berhati hati, jangan lengah." Ujar paman Mulyono.
"Paman gak usah khawatir, aku udah persiapkan semuanya." Yana menunjukkan pisau dari dalam tasnya, paman Mulyono kaget melihat itu.
"Buat apa kamu bawa itu ?" Tanya paman Mulyono kaget melihat pisau di dalam tas Yana.
"Ini kugunakan untuk pertahanan diriku jika Randi menyerangku sewaktu waktu." Ujar Yana.
"Tas ini gak akan aku lepaskan dariku." Ujarnya lagi menjelaskan, paman Mulyono terdiam, hanya bisa menghela nafas menatap wajah Yana.
"Aku pergi dulu paman." Ujar Yana pada paman Mulyono.
"Sudah bilang pak Handoko untuk diantar ?" Tanya paman Mulyono.
"Aku nyetir sendiri paman, udah lama aku gak nyetir mobilku sendiri." Ujar Yana.
"Lagi pula, aku gak mau ada polisi di dekatku , biar aku pergi kemana mana sendiri, aku gak mau Randi tau kalo aku masih dijaga polisi dan membunuh Dewi." Ujar Yana.
Yana keluar dari dalam rumah menuju mobilnya yang terparkir di garasi mobil, masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin mobilnya lalu menjalankan mobil keluar dari dalam garasi, seorang petugas polisi yang berjaga di halaman depan rumah paman Mulyono segera berlari dan membuka pintu pagar halaman rumah paman Mulyono begitu melihat mobil Yana keluar dari dalam garasi, mobil Yana pun keluar dan pergi meninggalkan rumah paman Mulyono, petugas polisi yang berjaga dirumah itu lalu menutup pintu pagar halaman rumah kembali dan berlari lalu berdiri di posisi semula tempat dia berjaga.
Paman Mulyono menemui Handoko yang sedang berada di ruang belakang rumah paman Mulyono.
"Yana pergi, dia nyetir mobilnya sendiri ke butik." Ujar paman Mulyono dengan wajah penuh ke khawatiran.
"Tidak apa apa pak, biarkan saja, kami sudah tahu bu Yana akan bersikap seperti itu." Ujar Handoko menatap wajah paman Mulyono.
"Maksud pak Handoko gimana ya ?" Tanya paman Mulyono, dia tidak paham dengan perkataan Handoko padanya.
"Kami sudah mempersiapkan semuanya untuk melindungi bu Yana, tanpa sepengetahuan beliau." Ujar Handoko menjelaskan pada paman Mulyono.
"Kami sudah menempatkan banyak personil polisi di sekitar butik, mereka ditugaskan menyamar disana, sebagian ada yang menyamar sebagai karyawan dan karyawati butik, sebagian ada yang menyamar sebagai costumer yang datang melihat lihat dan sebagai pembeli di butik, ada yang menyamar sebagai petugas parkir." Ujar Handoko menjelaskan.
"Apa Yana gak curiga ? Dia kan tau mana yang benar benar karyawan butiknya, mana polisi ?" Ujar paman Mulyono.
"Diantara polisi yang menyamar, tetap masih ada karyawan karyawati butik asli di sana pak." Ujar Handoko.
"Dan saya yakin, tidak mungkin bu Yana tahu apalagi mengenali semua karyawan dan karyawati butiknya, dia pasti lebih focus dan sibuk dengan costumer yang datang membeli pakaian pakaiannya." Ujar Handoko.
"Yach...saya serahkan semua pada pihak kepolisian, gimana sebaiknya untuk melindungi Yana." Ujar paman Mulyono.
"Jangan khawatir pak, kali ini kami pasti bisa meringkus Randi." Ujar Handoko menatap wajah paman Mulyono dengan penuh keyakinan, paman Mulyono mengangguk setuju dengan ucapan Handoko padanya.
Via masuk ke dalam kamar hotel tempat dia menginap, melemparkan tasnya ke atas kasur, dia lalu menghempaskan pantatnya duduk di tepi ranjang, raut wajahnya menunjukkan kelelahan hari itu, dia mengusap wajahnya, menghela nafas, lalu mengambil ponsel pemberian papahnya, dia mencoba menghubungi Randi.
Beberapa kali Via mencoba menghubungi , tapi Randi tidak juga mengangkat dan menerima panggilan telepon darinya, wajah Via terlihat kecewa, dia meletakkan ponselnya di atas kasur.
"Apa yang sedang dilakukan papah saat ini ?" Ujarnya berfikir. Wajahnya resah karena dia tidak bisa menghubungi papahnya, dan tidak tahu keberadaan papahnya saat ini.
Sementara itu, terlihat Yana dengan wajah cerah dan tersenyum menyambut para costumer yang datang ke butiknya, tidak ada raut kesedihan sedikitpun terlihat di wajahnya, Yana dengan sikap seperti tidak ada beban masalah dengan lugas dan lancar menjelaskan pada costumer tentang pakaian yang ada di patung, costumer itu sangat mengagumi desain dari pakaian yang ada di patung, Seorang pria bertopi dan memakai cadar masuk kedalam butik, dia berjalan cepat menerobos masuk, melangkah cepat ke arah Yana yang sedang bersama costumer, melihat ada seorang pria bertopi dan memakai masker masuk, personil polisi yang menyamar di dalam butik kaget, mereka bersiap dan merespon cepat kedatangan orang itu.
Dengan langkah cepat orang itu jalan ke arah Via, lalu segera menyergap dan membekap mulut Yana, dengan kuat dia memegang dan mencengkram tubuh Yana , costumer kaget melihat itu, Yana yang tak menyadari kedatangan orang itu pun kaget, berusaha meronta, mencoba melepaskan diri, cengkraman kuat orang itu tak mampu dilawan Yana, personil polisi bergerak segera mendekati orang tersebut , satu tangan orang itu ada di leher Yana, mencekalnya keras dengan pisau ada ditangannya, dan satu tangan lagi memelintir tangan Yana ke belakang hingga Yana kesakitan.
"Randiii?!" Ujar Yana dalam cengkraman Orang itu.
"Diam kamu, sekarang kamu harus mati di tanganku !" Ujarnya pada Yana.
Melihat Yana berada di tangan orang itu, para personil polisi segera mengelilingi orang itu, mereka mengepung dengan membentuk lingkaran, orang yang menyergap Yana, Orang itu mengarahkan pisau ke leher Yana yang ketakutan, personil kepolisian yang menyamar dan mengurung orang itu segera mengarahkan pistol mereka, bersiap siap untuk segala hal yang terjadi.
"Lepaskan dia !" Ujar Kuncoro , salah satu dari polisi yang menyamar, dia mengarahkan pistolnya kepada orang yang meringkus Yana.
"Minggir kalian ! Jangan coba coba mendekat, atau ku bunuh dia !" Ujar orang itu sambil mengarahkan pisau ke leher Yana.
"Letakkan pistol pistol kalian semua! Cepat !!" Teriak orang itu, Kuncoro melihat personil polisi dan memberi isyarat untuk meletakkan pistol mereka masing masing, puluhan polisi yang mengurung orang itu meletakkan pistol mereka, Gunawan berlari menerobos masuk ke dalam butik, dia menyamar sebagai petugas parkir, melihat Yana berada dalam cengkraman Orang misterius dengan pisau ditangannya, segera bersiap siaga, melangkah dengan hati hati berjalan ke arah lain didalam butik itu tanpa diketahui orang yang meringkus Yana.
Orang misterius itu membawa Yana, berjalan mundur sambil tetap menghunuskan pisau ke leher Yana, melangkah ke arah luar butik, puluhan personil polisi beserta Kuncoro melangkah pelan mengikuti Yana dan orang yang di yakini mereka saat ini menangkap Yana adalah Randi.
Orang misterius itu membawa Yana melangkah menuju keluar butik, Gunawan yang bersembunyi melangkah dengan berhati hati. Kuncoro mendekati orang yang meringkus Yana.
"Jangan berbuat nekat Randi, kamu udah di kepung polisi, gak ada tempat buatmu lari, lepaskan bu Yana." Ujar Kuncoro.
Orang itu tidak perduli dengan ucapan Kuncoro, dia tetap melangkah keluar butik membawa Yana yang berada dalam dekapannya, Gunawan melangkah pelan dan hati hati dari sudut lain ke arah orang yang membawa Yana.
Orang itu keluar butik membawa Yana, di halaman butik, terlihat ada enam personil polisi menyamar sudah bersiap dan berjaga jaga menunggu, saat melihat mereka di situ, orang misterius mengarahkan pisau ke leher Yana.
"Buang pistol kalian, kalo gak, ku gorok lehernya !" Bentak orang itu, ke enam personil polisi menuruti perintahnya, segera meletakkan pistol mereka ke tanah, Randi melangkah, Yana melihat Gunawan yang menyelinap jalan mendekatinya dengan hati hati, Gunawan beri isyarat, Yana paham, saat orang misterius yang focus dengan ke enam personil teralihkan pandangannya, hingga dia tak melihat Gunawan.
Gunawan segera melompat ke arah orang itu, memegang tangannya untuk meraih pisau ditangannya, orang misterius kaget, dia berusaha melawan, pegangan tangannya pada Yana terlepas, Yana bebas dari cengkramannya, ke enam polisi cepat menyelamatkan dan melindungi Yana, sementara orang misterius menyerang Gunawan yang memegang tangannya dengan kuat, tangan Gunawan berdarah karena dia memegang pisau, menghalangi agar pisau tidak mengenai leher Yana saat dia menyergap tadi, perkelahian terjadi antara Gunawan yang tangannya berdarah terluka karena pisau dan orang misterius itu, orang itu membabi buta kalap menyerang Gunawan dengan pisau di tangannya, Gunawan berusaha menghindari serangannya.
Di kejauhan, tepat di pinggir jalan seberang butik Yana, sosok seseorang mengamati semua kejadian yang sedang terjadi di butik Yana itu.
Orang misterius yang menyerang Gunawan melihat Yana yang berlindung di antara personil polisi, dia dengan cepat berlari ke arah Yana menyerang, tiba tiba terdengar suara letusan senjata dari sebuah pistol, letusan pertama ke udara, dan letusan ke dua mengarah ke tubuh orang misterius yang hendak menyerang Yana, tembakan ke tiga akhirnya membuat orang itu rebah, pisau terlepas dari tangannya , tubuhnya jatuh ke tanah bersimbah darah. Kuncoro yang menembakkan pistol kepada orang misterius itu, dia keluar dari dalam butik membawa pistolnya.
Sosok orang yang mengintai dari kejauhan di seberang butik Yana melihat polisi menembakkan pistolnya bertepuk tangan, dia tertawa terbahak bahak melihat orang yang menyerang Yana roboh jatuh di tanah.
"Selamat, selamat, kalian sudah membunuhnya !" Ujarnya sambil tertawa dan bertepuk tangan.
Sementara itu, Gunawan, Yana beserta personil kepolisian melihat orang itu roboh di tanah mendekati. Dengan hati hati Gunawan berjongkok mendekati tubuh orang itu, dia memeriksa keadaan orang tersebut. Orang misterius itu tidak bergerak.
"Dia mati." Ujar Gunawan, Yana terlihat lega mendengar itu.
Gunawan perlahan lahan membuka masker penutup wajah orang yang menyerang Yana, dia membuka masker wajah itu, saat di buka, dan terlihat wajah orang misterius itu, mereka kaget.
"Marwan ??!" Ujar Gunawan kaget, dia tak menyangka kalau orang itu ternyata Marwan, kaki tangan Randi.
Mendengar nama Marwan, Yana kaget dan terhenyak, dia tak percaya, lalu berlari menyeruak mendekat dan melihat mayat itu, saat dia melihat Marwan, Yana duduk ditanah, dia terhenyak.
"Dii...dii...dia bukan Randi ?" Ujar Yana terhenyak , tubuhnya lemas seketika.
Gunawan saling pandang dengan Kuncoro dan personil kepolisian yang berada di sekeliling mereka. Mereka tak menyangka hal itu.
Orang misterius yang mengintai di seberang jalan tertawa terpingkal pingkal melihat itu.
"Bodoh, kalian bodoh, gak bisa membedakan ! Selamat, Kalian sudah di bodohin Marwan yang menyamar sebagai Randi." Ujarnya tertawa terpingkal pingkal lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Lalu, dimana Randi ? Apa yang sedang di lakukan Randi ?
Kenapa bisa Marwan sendiri yang beraksi menyerang Yana dengan nekat di dalam butik ?