
Setelah Randi yang saat itu telah berubah menjadi sosok Roni yang ada dalam dirinya melucuti seluruh pakaian Sekar dan juga melepaskan pakaiannya, hal yang selama ini tidak pernah di inginkan dan di duga pun terjadi pada diri Sekar.
Malam itu, kesucian Sekar pun direnggut oleh Randi, yang memiliki kepribadian ganda dalam dirinya, hingga tidak perduli dengan Sekar sebagai anak sambungnya.
Dalam keadaan pingsan terbius Sekar tertidur dan tidak mengetahui jika saat ini dirinya sedang disetubuhi bapak angkat yang selama ini dianggapnya sebagai bapak kandungnya sendiri, Randi yang berubah menjadi sosok Roni dengan menyeringai mengerikan sangat menikmati dirinya menyetubuhi Sekar, dalam melakukan itu, terlintas kilatan kilatan sekelebat bayang wajah Yana bergant ganti dengan wajah Sekar, seakan dia membayangkan sedang menyetubuhi Yana.
Sekar tak berdaya, dia jatuh ke dalam pelukan Randi, malam itu Sekar di perkosa Randi hingga berkali kali, ke empat sosok kepribadian yang ada dalam diri Randi secara bergantian muncul dan menyetubuhi Sekar.
Setelah selesai melakukan perbuatan biadabnya pada anak sambungnya, Randi pun tersenyum puas, dia lalu mengangkat tubuh Sekar yang masih pingsan karena obat bius ke lantai, dengan cepat Randi melepas sprei kasur Sekar, membersihkan dan menghilangkan jejak bekas perbuatannya menyetubuhi Sekar. Randi sengaja mengganti sprei kasur Sekar agar saat bangun, anaknya itu tidak menyadari bahwa dirinya sudah di setubuhi. Setelah semua rapi dan bersih, Randi merapikan pakaian Sekar kembali, mengangkat dan meletakkan tubuh Sekar di kasurnya, lalu dia pergi keluar dari kamar meninggalkan Sekar yang tetap dalam kondisi tertidur pulas. Randi membawa sprei kasur Sekar, meletakkannya di mesin cuci yang ada di kamar mandi lantai atas rumahnya, lalu berjalan dan masuk ke kamar tamu, di dalam kamar, dia merebahkan tubuhnya, raut wajahnya menunjukkan rasa puas.
Keesokan harinya, Sekar tersadar dan bangun, dia merasakan nyeri di tubuhnya, memegang dan merasakan perih di bawah perutnya, Randi yang sudah terbangun tidur masuk ke dalam kamarnya, berpura pura tak terjadi apa apa malam itu, Sekar heran melihat sprei kasurnya sudah berganti.
"Papah ganti spreimu semalam karena basah kena keringat dan kena minyak gosok." Ujar Randi pada Sekar.
"Bagaimana kondisi kamu sekarang, udah sehat kan ?" Tanya Randi pada Sekar.
"Udah pah, cuma sedikit perih aja dibawah perut." Ujar Sekar dengan tubuh lemah dan wajah pucatnya.
"Gak apa, nanti juga hilang sakitnya, nanti kalo masih terasa sakit papah obati lagi." Ujar Randi tersenyum menatap wajah Sekar yang mengangguk lemah.
Perbuatan biadab yang dilakukan Randi tidak berhenti hanya malam itu saja, saat ada kesempatan, Randi pun melakukan hal yang sama, saat Sekar kambuh sakit dan memintanya untuk menyembuhi sakitnya, Randi pun dengan senang hati melakukannya, dia dengan mudah memberikan obat bius di dalam gelas berisi air dan meminumkannya pada Sekar, setelah pingsan karena pengaruh obat bius dia pun kembali menyetubuhi Sekar.
Randi terus menyetubuhi Sekar saat dia merasa kesepian karena Yana sering pulang larut malam, tidur terpisah, bahkan saat Yana tidak pulang kerumah, Randi pun melampiaskan kekesalan, kekecewaannya pada Sekar, terkadang, Randi sengaja menemui Sekar dikamarnya, memberikan air berisi obat bius yang sangat kuat pengaruhnya pada Sekar, dengan alasan obat untuk sakit asma Sekar, Sekar yang percaya penuh pada Randi, meminum air berisi obat bius tanpa rasa curiga sedikitpun.
Sebenarnya Randi tidak ingin melakukan hal bejat itu pada Sekar, namun, karena seringnya dia tanpa sengaja memergoki Sekar dan melihat tubuh Sekar saat tidak berpakaian atau selesai mandi, membuat sosok sosok kepribadian dalam diri Randi berontak dan mempengaruhi jiwanya.
Randi sering tanpa sengaja memergoki Sekar sedang buang air kecil di kamar mandi lantai atas tanpa pernah menutup pintu kamar mandinya, kebiasaan Sekar yang tak pernah menutup pintu kamar mandinya itu membuatnya terjebak dalam perangkap dan pelukan Randi. Saat Randi naik ke lantai atas rumah hendak mencuci pakaian dan meletakkan pakaian kotor di mesin cuci yang ada di kamar mandi lantai atas, sering memergoki Sekar sedang berjongkok buang air kecil, dan Randi sudah sering menegurnya agar menutup pintu kamar mandinya, awalnya Randi gugup saat melihat Sekar berjongkok dan dia melihat jelas pada sesuatu milik Sekar yang tidak seharusnya dia lihat, pandangan itu membuat Randi terkesiap, namun berusaha ditepis dan dibuangnya jauh jauh dari ingatannya, saat mandi pun terkadang Sekar tidak menutup pintu kamar mandi, kadang pintu kamar mandi ditutupnya tidak rapat, masih terbuka sedikit. Sekar yang sudah kuliah itu tapi masih kadang suka berfikiran seperti anak kecil, sangat manja, berbeda dengan Dewi, adiknya yang lebih dewasa darinya, Sekar tidak pernah menutup pintu kamar mandi lantai atas rumahnya karena merasa aman dan nyaman, tidak ada orang lain di fikirnya, hanya ada dirinya, adiknya, mama serta papahnya, Randi, yang sudah dianggapnya papah kandungnya sendiri.
Saat Randi hendak masuk ke kamar mandi lantai atas rumahnya itu, Randi kaget melihat Sekar sedang mandi, dia mengira tidak ada Sekar di dalam kamar mandi karena pintu terbuka sedikit, mau tak mau Randi pun melihat sebuah pemandangan yang tak harus dia lihat, tubuh anak sambungnya tanpa sehelai pakaian dibadan dengan keadaan basah dengan air. Randi menegur Sekar agar menutup dan mengunci pintu kamar mandi, Sekar hanya mengangguk tapi tetap lupa hal itu.
Karena itu, saat Randi merasa kesepian, menunggu Yana, Istrinya pulang ke rumah, sering kilatan kilatan lintasan bayang bayang muncul dalam benaknya tentang saat saat dia melihat Sekar di kamar mandi tanpa sehelai pakaian, saat Sekar buang air kecil, saat Sekar sedang berganti pakaian di dalam kamarnya. Gejolak bathin terjadi dalam diri Randi jika mengingat hal itu, rasa kecewa pada Yana karena dia membayangkan Yana sedang bersenang senang di luar dengan selingkuhannya, muncul keinginan Randi untuk berhubungan badan.
Sebab itulah, ketika ada kesempatan, dan rasa sakit hati hingga luka kecewanya semakin lebar dibuat Yana, Randi pun melakukan perbuatan biadab itu pada Sekar.
Begitu ada kesempatan, Randi pasti menyetubuhi Sekar, dan Sekar tidak pernah tahu jika dirinya di setubuhi Randi, karena selalu dalam keadaan pingsan pengaruh obat bius yang diberikan Randi.
Hal itu terus terjadi hingga tanda tanda kehamilanpun mulai ada dalam diri Sekar, seperti yang pernah di ceritakan sebelumnya dalam bab terdahulu, Sekar terasa mual dan muntah waktu datang bersama mamanya mengambil dan membawa pergi kucing kucing kesayangannya, dan Randi berpura pura tak mengetahui hal itu.
Persetubuhan antara Randi dan Sekar berjalan terus, dan berakhir saat Yana membawa Sekar dan Dewi, anaknya pindah dari rumah mereka kerumah jetak, karena Yana sudah mentalak Randi, dan mereka sedang berproses untuk cerai.
Sementara, tanpa pernah diketahui Sekar, bahkan Yana, perut Sekar semakin hari semakin membesar, dia pun hamil, dan kehamilan itu pun menghancurkan diri Sekar dan Yana, seperti yang sudah di sampaikan dalam bab awal awal sebelumnya.
Kita kembali ke masa sekarang.
Yana mendengar cerita Randi itu menangis dan sangat marah pada Randi, dengan penuh jijik dan kebencian yang mendalam, Yana meludahi Randi.
"Biaaadaaabbb !! Jahanaaaamm kamu Randiiii, Jahannnnaaaammm, Seeetttaaaann, kamu bukan manusia , Seeeetaaaan,ibliiiisss !!" Teriak Yana sekeras kerasnya, dia histeris menangis mengetahui anaknya di hamili Randi, selama ini dia, bahkan Sekar tidak tahu siapa yang menghamili Sekar, dan sekarang, dia harus menerima dan mendengar langsung dari mulut Randi yang melakukan hal itu pada Sekar.
"Tegaaa kamu Randiii... Tegaaa!! Kamu memperkosa Sekar yang udah menganggapmu sebagai bapak kandungnya sendiri !! Apa kamu gak merasa kasihan padanya saat melakukan itu pada Sekaaaarr?!!" Teriak Yana dalam tangis dan amarahnya, Randi yang saat itu menjadi sosok Roni hanya menggelengkan kepalanya cuek dan menatap tajam wajah Yana yang penuh amarah itu.
"Kaaamuuu harus matiii Randiii...!!" Teriak Yana lagi , dia meluapkan amarahnya pada Randi, karena Randi, Sekar frustasi, dan mengakhiri hidupnya.
Tiba tiba kepala Randi sakit, dia memutar kepalanya, tangan kirinya memegang kepalanya, matanya melotot, lalu sesaat kemudian dia terdiam, dan kini, sosok diri Roni sudah berganti dengan sosok Sandi, kepribadian lain yang ada dalam diri Randi.
Yana heran melihat sikap Randi sekarang menjadi lebih tenang, raut muka yang dingin, dan berbeda sebelumnya.
"Atas kebohongan dan pengkhianatanmu, maka kamu harus dihancurkan, kami gak kan membiarkanmu hidup bahagia, kami bertekat akan menghancurkan kehidupanmu, menyiksamu selama hidupmu !" Ujar Sandi menatap tajam wajah Sekar.
Yana mengernyitkan keningnya, dia heran kenapa Randi menyebut "Kami" ? padahal tidak ada siapa siapa selain Randi dan dirinya di rumah saat ini ? Yana mulai merasakan semakin ada kejanggalan dalam diri Randi, Yana pun bergidik takut, karena perubahan perubahan karakter, sikap Randi dihadapannya.
"Kamu wanita bodoh Yana, bodoh ! Kamu lari dari Randi dan memilih laki laki yang lebih buruk dari Randi." Ujar Sandi.
"Kamu sudah gelap mata, tak pernah sadar, karena pengaruh daya pikat yang dilakukan selingkuhanmu itu, hingga kamu abaikan dan gak peduli biarpun orang mencoba mengingatkanmu agar meninggalkan selingkuhanmu itu !" Ujar Sandi menahan geramnya.
"Aku sengaja datang ke cafemu menyamar sebagai Sandi, dan membeli rumah kita ini kembali, agar bisa kita berkumpul kembali dirumah untuk yang terakhir kalinya, mengakhiri apa yang sudah kita mulai dulu." Ujar Sandi.
"Untuk memuluskan rencanaku, kami harus menyingkirkan semua orang orang yang menghalangi, kami bunuh selingkuhanmu , kami bunuh Badrun dan teman temannya yang sok jadi pahlawan kepagian melindungimu ." Ujar Sandi sinis menatap Yana.
"Bukan hanya itu saja Yana, kami pun menghancurkan usahamu, meledakkan dan membakar cafemu, itu semua sengaja kami lakukan agar kamu menderita seumur hidupmu !" Ujar Sandi tertawa kecil menatap tajam wajah Yana yang terdiam berfikir, karena dirinya heran mengapa Randi selalu menyebut dirinya dengan "Kami", siapa yang dimaksud Randi dengan "Kami" itu ? apakah Via, anak Randi membantu Randi , dan yang di sebut "Kami" itu Via ? Yana berfikir keras, dia memberanikan diri menatap wajah Randi yang saat ini sudah berubah menjadi sosok Sandi.
"Apa anakmu Via membantumu selama ini menjebakku ?" Tanya Yana menahan geramnya, ada rasa keingin tahuan dalam dirinya.
"Via gak ada hubungan dengan apa yang sudah kami lakukan dan rencanakan selama ini untukmu." Ujar Sandi menatap Yana.
"Anak Randi bahkan lebih sering menghalangi dan berusaha mencegah kami agar gak membunuhmu." Ujar Sandi menatap tajam wajah Yana.
"Kamu salah menjadikan Via sebagai tawanan, menyiksanya, memukul dan melukainya, bahkan membuatnya seperti anjing !" Ujar Sandi.
"Itu membangkitkan amarah kami Yana, aku gak bisa menerima perbuatanmu pada Via !" Ujar Sandi membentak Yana, Yana kaget, dia berusaha menenangkan dirinya.
"Itu sebabnya, aku harus memberimu pelajaran, memberikan luka dan rasa sakit yang lebih besar dari yang kami terima saat melihat Via diperlakukan bagai anjing !" Ujar Sandi marah pada Yana.
"Dengan amarah, kami bunuh anakmu Dewi !! Biarpun Via memohon agar gak membunuh Dewi, Roni tetap membunuhnya !!" Ujar Sandi tertawa terpingkal pingkal, Yana kaget dan heran karena Randi menyebut nama "Roni", dia bingung, siapa Roni yang dimaksud Randi saat ini ? Yana semakin bingung karena saat menyebut Via, Randi mengatakan Via , anak Randi ? Jika begitu, lalu siapa orang yang saat ini berdiri di hadapannya ? Yana menatap tajam wajah Randi yang saat ini sudah menjadi sosok Sandi, dia ingin menegaskan penglihatannya, apakah orang yang ada dihadapannya itu Randi atau orang lain ? Yana memperhatikan wajah Randi, gerak geriknya, memang dia rasakan ada perbedaan antara sosok Randi yang selama ini dia kenal dengan orang yang sekarang ada di hadapannya, Yana bingung, dirinya tidak tahu dan tidak mengerti apa yang terjadi pada Randi saat ini.
Sandi mengambil pisau yang tergeletak diatas meja, dengan menyeringai tajam dia mengarahkan pisau ditangannya kewajah Yana, Yana terlihat sangat ketakutan melihat Randi memegang pisau, Randi yang saat ini menjadi sosok Sandi tersenyum sinis padanya, untuk kemudian, pisau itu di hujamkannya ke paha Yana, Yana teriak keras meraung kesakitan, pahanya berdarah, luka menganga dari pisau yang tertancap di pahanya , dan Randi yang menjadi sosok Sandi itu membiarkan pisau itu tetap menancap di atas paha Yana yang merintih meraung raung menangis kesakitan. Tiba tiba badan Randi yang saat ini menjadi sosok Sandi bergetar hebat, lalu dia terjajar kebelakang dan terjatuh di lantai.
"Hentikaaan !! Jangan lukai lagi Yana, hentikan semuaaanyaaa !!" Teriak Randi, Sandi cepat berdiri dari lantai.
"Kenapa kamu mendorongku dan membentakku Randii ?!" Teriak Sandi marah pada Randi.
"Aku gak mau kalian menyiksa Yana, udah cukup, hentikaaan !!" Teriak Randi memegang kepalanya.
"Toloooooll ! Udah sejauh ini kamu mau berhenti ?! Gobloook ! laki laki lemaah !!" Ujar Roni yang muncul dalam diri Randi.
"Pergi kalian, pergi kamu Roni ! Jangan ikut campur urusanku lagi !! Aku gak mau membunuh Yanaaa !!" Teriak Randi pada Roni dan Sandi.
"Apa kamu kira, dia akan membiarkanmu begitu aja setelah semua yang udah kamu lakukan padanya ?!" Bentak Sanur yang muncul.
"Gak ada gunanya kamu membiarkan dia hidup Randi ! Kamu lupa dengan semua penghinaannya padamu ? kamu lupa kalo kamu dianggapnya seperti najis dan sampah yang dibuangnya begitu saja karena merasa jijik ?" Bentak Rahman yang muncul dengan suara keras membentak Randi.
Ke empat kepribadian dalam diri Randi saat ini muncul, Roni, Sandi, Sanur dan Rahman bertentangan dengan sosok Randi yang normal, mereka berdebat, Yana semakin heran dan takut melihat apa yang terjadi pada diri Randi, dia melihat sesaat Randi terjatuh ke lantai, sesaat kemudian bangun dan seperti orang yang sedang kena tamparan diwajah, sesaat Yana melihat tingkah Randi yang penuh amarah menunjuk nunjuk ke depan dirinya dengan menyebut nama orang lain, seolah ada orang lain yang bicara dihadapannya saat ini.
Yana terkesiap, dia kaget sekaget kagetnya, menyadari, bahwa saat ini Randi sedang menjadi beberapa kepribadian ganda, di dalam hatinya Yana pun akhirnya mengetahui sebuah jawaban, kenapa dia melihat Randi berubah ubah sikap dan karakternya, ternyata Randi memiliki beberapa kepribadian dalam dirinya, itu sebabnya dia menyebut "Kami", Yana takut, semakin takut, setelah menyadari bahwa Randi mempunyai kepribadian ganda, Yana menyimpan rasa takutnya pada Randi, tanpa sadar dengan geram Yana teriak.
"Psikopaaaattt gilllaaaaa kamu Randi !!" Teriak Yana sekeras kerasnya, Randi segera berbalik dan menatap tajam wajah Yana yang teriak ke arahnya, Randi berdiri ditempatnya, terdiam menatap tajam wajah Yana, dia menyeringai buas. Yana dan Randi saling menatap, Yana dengan tatapan penuh kebencian, sementara Randi menatap dengan rasa haus keinginan membunuhnya.