
Yana berjalan gontai masuk ke dalam rumahnya, dihempaskannya pantatnya di sofa ruang tamu, raut wajahnya menyiratkan kesedihan, dia masih teramat syock dengan kejadian yang menimpa cafenya. Badrun mendekati Yana yang tampak sedih itu, Yana menatap wajah Badrun.
"Apa salahku terlalu besar mas, hingga dia berbuat gila dengan menghancurkan tempat usahaku?" Ujar Yana pada Badrun yang menghela nafas.
"Kita gak bisa ambil kesimpulan sendiri, menuduh Randi otak dari pemboman cafe kamu." Ujar Badrun menjelaskan pada Yana.
"Kalau bukan dia siapa lagi ? Sejak dia muncul kembali setelah perceraian kami, banyak kejadian kejadian yang aku alami." Ujar Yana.
"Aku benar benar yakin kalo semua itu perbuatan Randi, dia sengaja ingin menghancurkan hidupku." Ujar Yana menahan geramnya.
"Kita tunggu hasil akhir dari kepolisian, pasti nanti akan ketahuan." Ujar Badrun menenangkan Yana yang diam menghela nafasnya.
Saat itu, Televisi menyampaikan sebuah berita tentang terjadinya pembunuhan , mendengar lokasi tempat terjadinya pembunuhan disebutkan nama komplek perumahan tempat tinggal Randi, Via yang sedang menonton berita itu terkesiap kaget, matanya menatap tajam ke arah tivi, mendengarkan dengan serius.
Dari televisi tampak gambar yang menampilkan lokasi rumah tempat terjadinya pembunuhan, melihat rumah itu, Via wajahnya berubah menjadi cemas.
"Itukan...komplek perumahaan tempat papah? bentuk rumahnya sama persis." Gumam Via sendiri, dia tercenung, berfikir, apa yang tengah terjadi di komplek perumahan papahnya, raut wajah Via berubah menjadi panik, cemas dan khawatir.
"Pembunuhan ?" Gumam Via , wajahnya menampakkan kecemasan mendengar hal itu, dia tiba tiba teringat papahnya.
"Papaah..." Ujarnya, cepat dia meraih ponselnya dari meja, memencet sebuah nomor untuk di hubungi, tapi nomor itu sedang tidak aktif, Via mencoba kembali, nada dari ponsel terputus, ponsel tidak juga tersambung. Wajahnya semakin cemas.
"Apa semua itu ada hubungannya dengan kamu pah?" Gumam Via memikirkan berita tentang pembunuhan yang terjadi di komplek perumahan papahnya, tampak Via berfikir keras saat itu.
Di kantor Polisi, saat itu Polisi 1 sedang menemui Kapten Polisi, dia memberi kabar.
"Lapor Kapten ! Saya dapat info dari Bareskrim Depok jawa barat, bahwa ditemukan kesamaan pola pembunuhan pada korban di lokasi dengan korban korban lainnya." Ujar Polisi 1.
"Ini berkas photo di tekape yang mereka kirimkan tadi." Lapor Polisi 1 menunjukkan berkas laporan. Kapten Polisi melihat laporan berkas yang dibawa oleh Polisi 1.
"Dari tekape ditemukan, mulut korban luka tersayat sobek, kuku kuku jari lepas, dan ada tulisan yang sama Hell...lo di sekitar korban. Seperti di photo photo itu." Jelas Polisi 1.
Kapten Polisi tampak geram mendengar penjelasan dari Polisi 1 itu.
"Semakin liar dia membunuh ! Kita harus bergerak cepat, jalin kerjasama dengan kepolisian daerah lain untuk mencari Randi, tetapkan dia sebagai DPO, buronan!" Tegas Kapten Polisi.
"Siap Kapten, Laksanakan !" Jawab Polisi 1, memberi hormat lalu segera pamit keluar dari ruangan Kapten Polisi.
Di kamarnya, malam itu Via tampak sedang termenung, wajahnya terlihat bingung, dia tengah berfikir apa yang harus dia lakukan, Via tiba tiba merasa cemas dengan papahnya. Di ambilnya ponselnya, mencoba menghubungi kembali nomor telepon papahnya, Via mendengar nada panggil, dia menunggu .
"Iya Naak, apa kabar." Jawab Randi dari seberang telepon, mendengar papahnya menjawab Via tampak senang.
"Papah dimana sekarang?!" Langsung Via menanyakan keberadaan papahnya, dia ingin tahu dimana papahnya.
"Papah ada urusan nak, maaf gak ngabari kamu, tapi pasti kamu udah baca surat papah kan?" Ujar Randi tidak menjawab pertanyaan Via.
"Papah kangen Via, makasih ya nak udah mau telpon papah." Ujar Randi diseberang telepon, Via menarik nafasnya.
"Iya pah, Via baca suratnya, sekarang papah dimana ? Via mau ketemu papah." Ujar Via mencecar papahnya agar memberitahu dimana dia berada.
"Papah lagi di luar kota nak, ada kerjaan yang harus papah selesaikan, nanti papah balik nemui kamu ya." Ujar Randi.
"Via kangen papah, mau ketemu papah, kasih tau dimana papah biar Via datang." Ujar Via.
"Papah jauh nak, nanti aja kalo papah dah balik ke jakarta kita ketemuan ya, gak lama kok, papah juga kangen sama kamu." Ujar Randi lalu menutup teleponnya.
Mengetahui telepon di tutup, Via kaget, dia cemas, mencoba menghubungi lagi, tapi telepon Randi sudah tak aktif.
"Papaaah..." Gumam Via dengan wajah sedih. Dia terdiam, berfikir sejenak.
"Jangan jangan....papah ke jawa nemui bunda Yana disana." Gumamnya dengan wajah cemas, dia khawatir terjadi yang tidak di inginkan nantinya jika papahnya benar benar ke Jawa dan bertemu bunda Yana, mantan istrinya disana. Via menghela nafas, bingung, cemas, khawatir bercampur aduk didalam dirinya.
Pagi itu, Yana hendak pergi bersama dengan Badrun, dia masuk ke dalam mobilnya setelah mengunci pagar garasi rumah, Badrun yang menyetir lalu menjalankan mobil meninggalkan rumah ke arah jalan raya, tidak jauh dari mereka, setelah mobil Yana pergi meninggalkan rumah, sebuah mobil mengikuti mereka, menjaga jarak dibelakangnya, didalam mobil tampak sosok pria memakai masker dan topi menyetir, mengikuti mobil Yana dan Badrun.
Di jalan raya, mobil yang di kemudikan Badrun melaju dengan kecepatan sedang, dari arah belakang mereka, tiba tiba mobil yang mengikuti mereka melaju dengan kecepatan tinggi, melaju ke arah mobil Yana dan Badrun, mobil itu semakin mendekat, lalu tiba tiba menyalip mobil Yana dan Badrun, melihat itu, Badrun kaget langsung banting stir menghindar agar tidak tabrakan dengan mobil lainnya, karena kaget Badrun membanting stir dan menghantam trotoar jalanan, Yana panik , mobil yang menyalip mobil mereka melaju menjauh dan menghilang dari jalan raya itu.
Yana meringis kesakitan di dalam mobil, Badrun melihat Yana.
"Kamu terluka Yan ?" Tanya Badrun.
"Nggak mas, cuma syok aja." Ujar Yana.
"Gila tuh mobil, tau tau main nyalip aja, bagusnya kamu langsung reflek banting stir ." Ujar Yana pada Badrun.
"Iya, aku juga kaget, langsung ngebuang ke trotoar, tapi mobilmu jadi rusak." Ujar Badrun pada Yana, Kap depan mobil Yana hancur beserta lampu depan, Yana menghela nafas.
"Gak apa mas, bawa ke bengkel aja, yang penting kita selamat." Ujar Yana, Badrun mengangguk.
Via mendekati neneknya yang sedang menonton tivi , melihat Via datang, nenek tersenyum.
"Sini nonton sama nenek, filmnya seru." Ujar Jumirah tersenyum pada Via yang lantas duduk disampingnya.
"Nek." Ujar Via pada Jumirah.
"Iya, kenapa ?" Tanya Jumirah melirik Via.
"Via nanti mau izin cuti kerja, mau nyusul mama ke kalimantan ya." Ujar Via pada neneknya, Jumirah mendengar itu langsung menatap wajahnya.
"Serius ? Kapan ?" Tanya Jumirah.
"Iya Nek, Via kangen sama mama, belum tau sih kapan dapat izin cutinya, paling Via ya ngajuin minggu depan, tergantung dari tempat kerjaan aja di kasih waktunya kapan." Ujar Via pada Jumirah.
"Oh gitu, ya nanti kabari aja mama kamu, biar dia bisa jemput nanti." Ujar Jumirah.
"Pasti mama senang kamu nyusul dia ke Kalimantan." Ujar Jumirah tersenyum, Via mengangguk tersenyum.
Polisi 1 menemui Kapten Polisi yang sedang membaca berkas laporan di ruang kerjanya.
"Saya dapat informasi dari salah seorang karyawan tempat Randi kerja, menurut pengakuan dan penjelasannya, saat mereka hunting di Jogja sekitarnya, Saudara Randi sering pergi sendiri meninggalkan timnya di hotel, dan terkadang dia di jemput seseorang." Jelas Polisi 1.
"Kenapa sebelumnya karyawannya gak menjelaskan hal ini ?" Tanya Kapten Polisi.
"Dia baru ingat saat saya datang dan bertanya lagi di kantornya, menurutnya, ada hal aneh juga yang gak sengaja dia temui didalam bagasi mobil Randi." Ujar Polisi 1.
"Apa itu ?" Tanya Kapten Polisi.
"Di bagasi mobil dia menemukan bercak darah di sudut mobil, dan juga ada beberapa peralatan senjata tajam, tali kabel, gunting pagar, menurutnya aneh aja kalo didalam mobil Randi yang seorang sutradara ada barang barang itu." Ujar Polisi 1.
"Mungkin kalo kita bisa menemukan Randi dan mobilnya, bisa kita selidiki apa saja yang ada didalam bagasi mobilnya." Ujar Kapten Polisi.
"Iya Kapten ." Jawab Polisi 1.
"Ya sudah, info kan ke saya jika ada perkembangan soal kasus ini." Ujar Kapten Polisi.
"Baik Kapten." Jawab Polisi 1.
Mobil yang menyalip mobil Yana dan Badrun di jalan raya tampak berhenti di depan sebuah rumah berbangunan sederhana, sosok pria itu turun dari mobilnya, dia melangkah menuju ke arah rumah, membuka pintu rumah dan masuk kedalam rumah itu.
Di dalam rumah, Sosok pria itu tampak tersenyum menatap seorang Pria yang duduk menunggunya di ruang tamu rumah. Pria yang duduk menunggu didalam ruangan tak lain adalah Randi, dia berdiri melihat sosok pria yang baru masuk kedalam rumah itu.
"Bagaimana ?" Tanya Randi.
"Sudah saya jalankan sesuai rencana kita, mereka hampir kecelakaan." Ujar Sosok Pria yang tak lain adalah Sugeng.
Siapa Sugeng ini ? Sugeng ini adalah seorang Pria yang di kenal Randi saat dulu di kantor pengadilan agama, saat Randi datang mengikuti sidang perceraian dengan Yana dan mereka terlibat pembicaraan di ruang tunggu.
Ternyata setelah perkenalan mereka di ruang sidang pengadilan agama itu, Randi dan Sugeng tetap berhubungan, dan hubungan mereka menjadi dekat satu sama lainnya.
Awal kedekatan itu terjadi saat Randi berkunjung ke rumah Sugeng untuk pertama kalinya.
Pada Waktu itu, Beberapa waktu yang lalu, saat Randi berkunjung ke rumah Sugeng.
Randi yang di bonceng Marwan berhenti di sebuah pekarangan rumah yang didepannya ada sebuah pohon besar berdiri kokoh, Randi turun dari motor, melepas helmnya, Marwan mematikan mesin motornya dan turun dari motor setelah melepas helmnya.
"Benar ini rumahnya?" Tanya Randi pada Marwan.
"Iya bang, sesuai alamat yang dia kasih, setau saya ya di sini alamatnya." Jelas Marwan.
Saat mereka sedang mengamati sekitar rumah, seorang pria datang dari arah samping rumah membawa rumput rumput yang sudah di ikat, Pria itu sedang menyiapkan rumput rumput itu untuk diberikannya pada kambing kambing ternaknya. Melihat Sugeng, Randi langsung menyapanya.
"Apa kabar pak Sugeng ?" Ujar Randi tersenyum, Sugeng yang mendengar namanya disebut, segera berbalik dan melihat ke arah Randi, dia amati sosok Randi, lalu wajahnya terlihat senang.
"Waaah Pak...apa kabar ?" Ujar Sugeng menghampiri Randi dan menyalaminya.
"Saya Randi, kita belum sempat kenalan, sementara saya udah tau nama bapak dari kertas alamat rumah yang bapak kasih ke saya waktu itu." Jelas Randi pada Sugeng.
"Ah, gak apa pak, saya senang bisa ketemu lagi, akhirnya mau juga main ke gubuk saya ini." Ujar Sugeng tampak senang, dia melihat ke arah Marwan yang berdiri di samping Randi.
"Maaf, ini dengan mas siapa ?" Tanya Sugeng pada Marwan yang tersenyum mengulurkan tangannya memperkenalkan diri.
"Saya Marwan." Ujarnya, Sugeng menyalami Marwan.
"Ayo masuk ke dalam, biar lebih enakan ngobrolnya." Ajak Sugeng pada Randi dan Marwan yang mengangguk, mereka mengikuti Sugeng yang melangkah masuk kedalam rumah.
Di ruang tamu yang berukuran kecil, Randi dan Marwan duduk di kursi bambu, Sementara Sugeng masuk kedalam rumah, lalu tak lama kemudian dia datang dengan membawa sebotol air dan dua gelas.
"Maaf , cuma air putih." Ujar Sugeng.
"Gak apa pak." Ujar Marwan tersenyum.
"Gimana jadinya setelah bercerai pak ?" Tanya Randi langsung pada Sugeng.
Wajah Sugeng tampak menunjukkan raut muka yang kecewa dan marah.
"Saya sebenarnya sampe kapan juga gak ikhlas pak karena merasa dikhianati mantan istri, di cerai karena dia selingkuh." Ujar Sugeng. Randi mengangguk, dia menatap wajah Sugeng.
"Kalo ada kesempatan, apa bapak benar benar mau melaksanakan apa yang bapak ucapkan ke mantan istri ?" Tanya Randi.
"Ucapan yang mana ya ?" Tanya Sugeng tidak ingat apa yang pernah di ucapkannya.
"Dulu, dipengadilan agama, bapak cerita ke saya, bapak akan bunuh istri bapak kalo dia tetap nekat cerai dan menjalin hubungan dengan pria lain?" Ujar Randi. Sugeng pun akhirnya ingat akan hal itu.
"Kalo ada kesempatan dan keberanian, mungkin sudah saya bunuh pak, karena saya memang dendam, tiga bulan kami resmi cerai, dia nikah dengan selingkuhannya." Ujar Sugeng menghela nafasnya.
"Itu yang membuat saya semakin marah dan dendam." Ujar Sugeng menahan geram.
"Kalo sekarang, ada yang membantu bapak mewujudkan niat bapak, apa bapak mau melakukannya ?" Tanya Randi, Sugeng terdiam, Randi menatap wajahnya tajam, ingin memastikan keseriusan dan keberanian Sugeng. Apakah itu hanya sebatas ucapan emosi atau tidak. Lama Sugeng diam berfikir, lalu dia menatap wajah Randi.
"Kalo saya sendiri, saya gak kan bisa melakukannya ." Ujar Sugeng.
Mendengar itu Randi tersenyum, dia menatap wajah Sugeng.
"Saya akan bantu bapak buat melakukan itu, dengan syarat." Ujar Randi menatap Sugeng, sementara Marwan hanya diam mendengarkan saja.
"Apa syaratnya ?" Tanya Sugeng pada Randi.
"Setelah niat bapak terlaksana, bantu saya jalani semua rencana saya, soal biaya dan yang lainnya, saya yang atur, yang penting, bapak bisa menjaga rahasia kita." Ujar Randi pada Sugeng yang mengangguk paham.
"Baik, saya setuju pak." Ujar Sugeng.
"Kapan kita mulai ?" Tanya Sugeng pada Randi yang tersenyum menatapnya .
"Nanti saya yang atur, akan saya kabari waktunya, kapan kita mulai beraksi." Ujar Randi pada Sugeng, Sugeng pun mengangguk, meneruti semua perkataan Randi itu.