Go To Hell

Go To Hell
Bab 51



  Marwan mengendarai motor maticnya dengan kecepatan tinggi, dia sengaja ngebut agar para polisi tidak bisa mengejarnya, di jalanan yang sekitar kiri kanannya pematang sawah motor Marwan melaju cepat, dia hampir saja menabrak pejalan kaki yang menyebrang dijalanan , Marwan dapat menghindari motornya dari pejalan kaki itu, meliuk liuk dan melanjutkan lagi pelariannya, di belokan sebuah jalan, hampir saja motor Marwan menabrak motor pengendara yang muncul berbelok ke arahnya, Marwan membanting stir motornya menghindar, lalu cepat pergi meninggalkan pengendara motor yang kaget hampir di tabrak motor Marwan, Marwan terus mengendari motornya, berusaha menghilang dari kejaran polisi.


2 mobil polisi melaju dijalanan itu dengan kecepatan tinggi, bunyi sirene mobil polisi terdengar dari salah satu mobil polisi yang dikendarai Handoko bertindak sebagai supir beserta 2 personil polisi, sementara satu mobil yang dikendarai Kuncoro yang duduk di depan stir dan Gunawan berada paling depan, berjalan menyusuri jalanan mengejar dan mencari Marwan.


Seluruh jalanan disusuri Gunawan cs, namun mereka tidak juga menemui dan melihat Marwan, Kuncoro menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


"Sepertinya dia berhasil melarikan diri." Ujar Gunawan. Kuncoro mengangguk menatap jalanan.


"Kita balik ke markas, lacak keberadaan Marwan dengan cara apapun, kita harus bisa menangkapnya, untuk mengetahui persembunyian Randi." Ujar Gunawan, Kuncoro mengangguk, lalu dia menjalankan mobilnya, putar balik dari jalan itu, melaju ke arah jalan sebaliknya di ikuti mobil Handoko dibelakangnya.


   Di tempat persembunyian Randi, saat itu, Randi akan pergi, dengan wajah penuh amarah dia melangkah keluar dari dalam rumah, tatapan matanya tajam, saat dia melangkah dihalaman depan rumah persembunyiannya, Marwan tiba tiba muncul dan menahan langkahnya.


"Tunggu bang, jangan pergi ." Ujar Marwan.


"Lepaskan Wan, aku akan membunuh Yana sekarang juga, dia udah membuatku marah karena berani menyandera anakku." Ujar Randi geram menatap Marwan.


"Sabar bang, jangan gegabah. Polisi saat ini sedang berkeliaran." Ujar Marwan.


"Polisi polisi datang kerumah dan kiosku, sepertinya mereka sudah tahu kalo aku yang membantu abang selama ini, mereka ingin menangkapku, aku berhasil kabur dari mereka." Ujar Marwan, Randi kaget mendengar itu, dia menatap wajah Marwan lekat.


"Kamu yakin mereka kehilangan jejakmu ?" Tanya Randi.


"Iya bang, aku berhasil kabur, dan polisi polisi itu gak bisa mengejarku." Ujar Marwan.


"Untuk sementara waktu, abang tunda dulu rencana abang, tunggu sampai beberapa hari keadaan tenang, baru kembali jalani rencana abang." Ujar Marwan.


"Untuk sementara waktu, aku akan bersembunyi, agar keberadaan kita berdua gak terlacak polisi." Ujar Marwan pada Randi .


"Abang tenang aja, aku pasti akan menemukan dimanapun abang nanti." Ujar Marwan.


"Baiklah kalo begitu, aku akan memikirkan cara untuk bisa bertemu Yana dan melepaskan anakku darinya." Ujar Randi menarik nafasnya.


"Iya bang, aku pergi dulu, sebaiknya abang bersembunyi, buat jaga jaga agar gak tercium keberadaan abang oleh polisi, ada baiknya nyari tempat baru untuk persembunyian abang." Ujar Marwan pada Randi yang menatap wajahnya.


"Nanti saya fikirkan dan cari tempat persembunyian baru itu." Ujar Randi.


"Iya bang, aku pergi dulu." Ujar Marwan, Randi mengangguk, Marwan memeluk tubuh Randi, lalu segera pergi meninggalkan Randi dengan mengendarai motornya, Randi yang melihat kepergian Marwan menatap tajam, fikirannya bermain main dalam benaknya, lalu Randi segera masuk kedalam rumah persembunyiannya.


Selama ini, Marwan yang telah membantu aksi aksi pembunuhan Randi, bagaimana awal mula Marwan membantu Randi sebagai kaki tangan membunuh orang orang ?


   Untuk mengetahuinya, kita akan kembali pada tahun sebelum kejadian menggemparkan tentang kematian Riyadi, tetangga samping rumah Yana dan Randi lama dulu.


Di Masa Lalu...


Marwan yang mengendari motornya masuk ke dalam gang rumah Randi dan Yana, berhenti di depan rumah Randi, Marwan memarkirkan motornya di tanah kosong yang berada di depan rumah Randi, saat itu, Riyadi datang membawa besi besi panjang, melihat Marwan yang memarkir motornya, Riyadi segera meletakkan besi besi yang dibawanya, lalu segera mendekati motor Marwan karena merasa terganggu untuk bekerja karena ada motor Marwan disitu. Riyadi memegang motor Marwan dan hendak mendorong dan memindahkannya, Marwan yang melihat itu kaget.


"Loh...loh, mau dibawa kemana motor saya pak?" Tanya Marwan.


"Ini bukan tempat parkir umum, kalo motor sampean disini, ganggu saya kerja, saya mau las besi buat pagar, jangan parkir di tanah dan jalanan ini." Ujar Riyadi dengan nada tinggi pada Marwan.


"Lah, ini kan jalan umum pak, dan apa tanah kosong ini punya bapak? saya udah sering ke sini pak, dan selama saya kesini saya biasa parkir ditanah kosong ini." Ujar Riyadi.


"Tanah ini milik keluarga saya ! Jalanan umum ini juga milik keluarga saya ! Sengaja dibuat jalan khusus untuk keluarga keluarga saya yang ada disini, bukan buat umum !" Bentak Riyadi menunjukkan wajah galaknya.


Riyadi mendorong motor Marwan dan melemparkan motornya tepat didepan teras rumah Randi.


"Parkir aja dirumah orang yang kayak ****** itu !" Ujar Riyadi menunjuk kearah rumah Randi. Marwan menatap tajam ke Riyadi, dia menghela nafasnya, lalu mendekati motor dan mengangkat motornya, lalu memarkirkannya tepat mepet pada teras rumah Randi.


"Lain kali, parkir di depan jalan sana, jangan disini kalo gak mau saya lempar lagi motor sampean !" Ujar Riyadi dengan angkuhnya pada Marwan, Riyadi lalu melanjutkan kembali pekerjaannya, dia mengambil peralatan lasnya, dan mulai mengelas besi besi yang dibawanya, besi besi itu untuk dibuatnya pagar.


Randi yang mengetahui kedatangan Marwan saat itu mengintip dari balik horden jendela didalam rumahnya, dia memutar kepalanya, bunyi "krek" dari lehernya, Randi menahan geram melihat semua perlakuan Riyadi pada Marwan, namun dia berusaha untuk tenang, kemudian berbalik melangkah kedalam ruangan lain rumahnya, hingga Marwan memencet bel rumah dan Randi membuka pintu menemui Marwan malam itu, untuk selanjutnya, seluruh kejadian seperti yang sudah di ceritakan pada bab awal kedatangan Marwan ke rumah Randi meminjamkan uang pada Randi.


Saat itu, Randi dan Marwan pergi dengan Randi membawa tabung gas seperti cerita di bab sebelumnya.


Randi dan Marwan sedang berada di warung nasi padang, di lantai samping Randi duduk, ada sebuah tabung berisi gas yang dibeli Randi saat itu. Marwan menatap wajah Randi.


"Tetangga abang itu orangnya gak punya tata krama yang baik ternyata ya." Ujar Marwan.


"Ya begitulah Wan, kamu kan udah sering dengar cerita dari saya dan istri saya tentang keluarga tetangga saya itu." Ujar Randi pada Marwan.


"Saya dan istri pernah ribut dengan istri dan anaknya yang datang masuk kedalam rumah, anaknya ikut campur masuk kerumah tanpa izin langsung ngancam ngancam saya mau dibunuh." Ujar Randi tersenyum kecil."


"Kayaknya harus dikasih pelajaran orang seperti itu, kalo dibiarin dan dimaklumi tabiat mereka, gak kan ada efek jeranya." Ujar Marwan.


"Iya, saya sedang cari cara dan waktu yang tepat untuk bikin perhitungan dengan mereka." Ujar Randi.


"Tanah kosong itu milik omnya, si Manto, Omnya aja gak suka sama Riyadi, orangnya main ngaku ngaku dan nguasai, seolah olah itu tanah miliknya, suka suka dia markir motor motor dia dan anak anaknya di tanah kosong milik Manto, bahkan sering parkir motor di tengah jalan umum, menghalangi motor motor atau mobil lain keluar masuk, kalo ditegur galakan dia." Ujar Randi.


"Jalanan depan rumah juga milik umum, bukan punya nenek moyangnya, semua pemilik rumah yang ada disitu sepakat untuk memberikan sebagian tanah untuk akses jalan umum, termasuk tanah rumah saya." Ujar Randi.


"Otaknya gak dipake tuh orang bang, gak tau peraturan pemerintah mewajibkan tiap perumahan apapun wajib kasih akses jalan umum dan saluran pembuangan air." Ujar Marwan.


"Ya begitulah orang sombong yang merasa jadi raja dan sok jadi jawara dikampungnya." Ujar Randi.


"Saya geram sama Riyadi. Boleh saya gulung dia bang ?" Ujar Marwan menatap wajah Randi, Randi terdiam, dia menatap wajah Marwan lekat.


"Saya mau kasih pelajaran dan bungkam mulutnya, biar gak bisa ngomong asal lagi." Ujar Marwan geram.


"Yakin kamu mau gulung dia ?" Tanya Randi menatap tajam wajah Marwan.


"Iya bang, yakin, saya tersinggung dengan dia." Ujar Marwan.


"Kalo gitu, kamu bisa bantu saya jalani rencana saya buat bungkam dia." Ujar Randi.


"Siap ." Ujar Marwan.


"Riyadi itu biasanya nongkrong di depan balai pertemuan erte sampe larut malam, kadang ada temannya, kadang duduk sendirian, saya tau kebiasaannya, karena sering liat dia kalo saya dan istri sering pulang tengah malam." Ujar Randi.


"Apalagi sekarang dia sedang buat pintu pagar, saya tau pagar itu buat Aula pertemuan erte. Kamu bisa bekuk dia disana saat keadaan sepi, saya nunggu di kebun kosong belakang aula balai pertemuan erte." Ujar Randi pada Marwan.


"Kalo kita jalani aksi pas tengah malam, lingkungan tempat saya itu udah sepi, gak kan ada siapa siapa, saya hafal situasi disana." Ujar Randi.


"Siap bang, malam ini langsung saya proses !" Ujar Marwan bersemangat.


Lalu, seperti yang diceritakan dalam bab awal sebelumnya, Randi pulang bersama Marwan, Randi masuk kedalam rumah dengan membawa tabung gas barunya, lalu Marwan segera pergi meninggalkan rumah Randi, melewati Riyadi yang cuek sedang melas besi membuat pagar.


   Saat tengah malam, terlihat Randi berada di atas atap rumahnya, dia melompat turun dari atap rumahnya, Randi berada di kebun bambu yang ada dibelakang rumahnya, sengaja dia keluar rumah melalui atas rumahnya agar tidak terekam cctv yang menyala dari rumahnya, Randi tahu, kalau dia pergi dan keluar dari depan rumah, pasti akan terekam cctv miliknya, Randi melangkah menyusuri kebun bambu bambu, menghindari tanah yang becek karena habis diguyur hujan tadi, dia segera pergi dari kebun bambu.


Riyadi datang ke aula balai pertemuan erte, dia melihat seorang warga yang duduk di situ.


"Pak erte sama lain mana ? Kan mereka yang tugas ambil jimpitan?" Tanya Riyadi lalu duduk disamping warga.


"Udah bubar, aku telat kok datang, baru ingat kalo malam ini, aku tugas ambil jimpitan sama erte, pas kesini udah sepi." Ujar seorang warga itu.


"Aku temani sekarang, dirumah gak bisa tidur ." Ujar Riyadi. Seorang warga itu mengangguk. Telepon Riyadi berbunyi, dia segera mengambil ponselnya dan menerima panggilan telepon itu, wajah Riyadi tampak senang saat bicara di telepon. Terlihat suaranya keras bicara ditelepon dengan tertawa tawa senang, melihat Riyadi yang asik sendiri itu, seorang warga yang menemaninya berdiri.


"Aku pulanglah. ngantuk liat kamu asik sendiri ditelpon ." Ujar seorang warga pada Riyadi yang hanya mengangkat tangannya mengiyakan . Seorang warga itu lalu pergi meninggalkan Riyadi yang sendiri, masih asik tertawa tawa bicara ditelepon dengan temannya.


Dari sisi lain, Randi menyelinap ke kebun belakang aula balai pertemuan erte, dia bersembunyi dibalik sebuah pohon besar yang ada di kebun itu, diam menunggu.


Sementara, terlihat sebuah motor dikejauhan depan rumah warga, disamping motor Marwan berdiri menunggu, dia melihat ke arah Riyadi, suasana malam itu sudah sangat sepi, tidak ada warga warga yang lewat disekitar jalanan itu.


Tak berapa lama menunggu, terlihat Riyadi selesai bicara diteleponnya, hujan gerimis turun, Riyadi melihat air hujan yang turun menarik nafasnya.


"Baru berhenti tadi udah hujan lagi." Ujarnya. Dia lalu berdiri hendak pulang, dikejauhan, Marwan yang melihat Randi hendak pergi, dengan cepat dia naik ke motornya dan menyalakan mesin motor lalu menjalankan motor ke arah Riyadi. Dengan cepat Marwan menjalankan motornya, mendekat kearah Riyadi yang sudah melangkah meninggalkan aula balai pertemuan erte, dengan cepat Marwan menghentikan motornya didepan Riyadi, lalu turun dari motor mendekati Riyadi yang kaget melihat Marwan tiba tiba ada didepannya menghadang, tanpa basa basi, Marwan langsung menusukkan pisau ke perut Riyadi beberapa kali, lalu segera Marwan menyeret tubuh Riyadi masuk ke kebun di belakang aula balai pertemuan erte.


Di kebun belakang aula balai pertemuan erte, Randi yang sudah menunggu keluar dari tempat persembunyiannya saat melihat Marwan datang membawa Riyadi yang sudah berdarah diperutnya karena luka tusuk.


Dengan kesakitan dan tubuh lemah karena mengeluarkan darah yang banyak, Riyadi menatap ke wajah Marwan dan Randi yang ada ditempat itu.


"Mau apa kamu?" Tanya Riyadi dengan suara meringis menahan sakit.


"Hell...lo Riyadi, aku akan mengantarkanmu ke Neraka malam ini." Ujar Randi menyeringai, tatapan matanya tajam menakutkan, dia menatap lekat wajah Riyadi.


"Kamu harus mendapat balasan dari semua perbuatanmu." Ujar Randi.


"Mulutmu itu harus di potong agar kamu gak bisa lagi ngomong sombong !" Ujar Randi melangkah mendekat, ditangannya ada gunting seng yang dibawa dan sudah dipersiapkan, dengan sadis Randi menggunting mulut Riyadi, Marwan mencekik kuat leher Riyadi agar dia tidak bisa teriak, dengan kasar Randi menggunting dan menyobek mulut Riyadi hingga mengeluarkan darah yang banyak, lalu Randi memegang tangan Riyadi, dengan paksa, dia mencabuti kuku kuku jari tangan Riyadi, Riyadi terlihat sangat kesakitan, untuk berteriak dia tak mampu, karena mulutnya terluka dan lehernya di cekik Marwan.


Setelah Randi selesai mencabuti kuku kuku jari tangan Riyadi hingga mengeluarkan darah, dia menyeringai buas menatap wajah Riyadi, saat itu, sosok Randi terlihat bukan seperti Randi yang dalam keadaan normal seperti biasa, sosok itu berubah menjadi sosok lain yang ada didalam diri Randi.


"Dadaaah Riyadi..." Ujar Randi berbisik ketelinga Riyadi, lalu menghujamkan gunting seng ke dada dan perut Riyadi dengan kuat dan kasar, Riyadi pun mati meregang nyawa ditangan Randi dan Marwan.


Setelah Riyadi mati, Marwan dan Randi menggotong mayatnya, membawanya pergi dari kebun itu, lalu membuang mayat Riyadi ke dalam selokan pembuangan air dekat aula balai pertemuan erte. Setelah beres , Marwan segera pergi dari tempat itu mengendarai motornya, dan Randi kembali kerumahnya.


Di dalam rumahnya, di lantai atas rumahnya, Randi masuk berjalan menuju kamar mandi, menutup pintu kamar mandi, dia mandi, membersihkan dirinya dari sisa bekas bekas darah Riyadi, Randi mandi seperti yang telah diceritakan pada bab awal saat Randi selesai mandi dirumahnya malam itu.


Itulah kejadian yang sangat mengerikan terjadi pada Riyadi, karena sikap sombong dan angkuh serta mulut kasarnya yang tidak menghormati orang, akhirnya dia harus meregang nyawa , mati dengan kondisi luka parah yang mengerikan, mayatnya tergeletak dalam selokan , hujan deras mengguyur mayat Riyadi, bekas darah milik Riyadi dijalanan terhapus air hujan yang turun dengan derasnya, mayat Riyadi berada ditempat itu, sampai mayatnya ditemukan oleh warga dan pihak kepolisian, seperti yang sudah diceritakan pada bab awal sebelumnya.