Go To Hell

Go To Hell
Bab 33



Bude Intan menghela nafas dan menghempaskan pantatnya ke sofa, dia duduk dan menatap wajah Via yang tampak menyimpan kesedihan.


"Apa yang Via mau tau dari Bude ?"


Tanya Bude Intan lemah lembut, Via menatap wajah Bude nya dengan mata sendu.


"Semua Bude, tentang masa kecil Papah, tentang kondisi sebenarnya diri Papah."


"Via mau tau, Bude pasti tau semua tentang Papah Via kan ?"


Ujar Via dengan mata berkaca kaca memandang wajah Bude Intan yang merasa iba pada Via, Keponakan yang sangat disayang nya itu.


"Kenapa kamu tiba tiba mau tau tentang Papahmu?"


Tanya Bude Intan.


"Via penasaran aja Bude, ada rahasia yang udah diceritain Mama ke Via tentang Papah."


"Tentang perceraian Mama dan Papah, tentang Papah yang menyiksa Mama, dan..."


Via menangis, dia tak melanjutkan perkataan nya, Bude Intan menghela nafas, dia memeluk tubuh Via, memberinya ketenangan.


Via melepaskan pelukan Bude Intan, menghapus air mata nya.


"Bude tau kalo Papah punya penyakit kejiwaan ?"


Bude Intan terhenyak mendengar itu, dia menatap Via terdiam, Via melanjutkan bicaranya.


"Apa benar Papah seorang Psikopat ?"


Tanya Via pada Bude Intan yang semakin kaget, dia tak menyangka Via akhir nya mengetahui jati diri Papah nya yang sebenar nya.


"Iya, Bude tau semua kisah kelam Papahmu."


Akhirnya Bude Intan pun menjawab pertanyaan Via dengan berat hati, dia menarik nafas berat, menatap wajah Via yang menangis.


"Bude juga tau kenapa Papahmu menjadi seorang Psikopat."


Ujar nya yang membuat Via kaget, dia menatap wajah Bude Intan dengan tatapan tajam, mengharap kebenaran dari ucapan Bude nya.


"Hidup Papahmu sejak kecil sangat menyedihkan bagi kami."


"Apa yang dialami Papahmu, membuat Nenek kamu merasa bersalah seumur hidup nya."


"Dia gak menyangka, kalo anak nya itu mendapat perlakuan yang buruk."


Ujar Bude Intan, Via menatap wajah nya dengan tatapan heran dengan penjelasan Bude Intan.


"Maksud Bude ?"


Tanya Via.


"Saat itu, Mama Bude, Nenekmu melahirkan Randi, Papahmu. Dia diberikan pada kakak sepupu Nenek yang menginginkan anak."


"Kakak sepupu nenekmu, dua puluh tahun menikah gak bisa punya anak, sampai suami nya meninggal, saat tau Nenekmu melahirkan anak, dia pun datang dengan menghiba dan menangis meminta agar dia di izinkan merawat Papahmu."


"Nenekmu yang merasa prihatin akhirnya memberikan bayi nya pada kakak sepupu nya itu, karena, Nenek sudah punya dua orang anak, Bude dan Bude Arfi yang tinggal di Palembang."


"Saat itu Om Rizal belum lahir."


"Akhirnya, Papahmu yang masih bayi di bawa dan di asuh, menjadi anak dari kakak sepupu nenekmu."


"Setelah Papahmu di asuh kakak sepupu nenekmu itu, dia mengadopsi anak perempuan lagi saat Papahmu umur tiga tahun."


"Nenek sempat meminta kembali Papahmu agar dia rawat karena mengetahui kalo Kakak sepupu nya itu punya anak adopsi lain."


"Tapi, kakak sepupu nya menolak, alasan nya mengadopsi justru buat teman Randi, agar Randi gak kesepian, punya teman, punya adik."


"Mau gak mau Nenekmu pun membiarkan Papahmu tetap dalam asuhan kakak sepupu nya."


"Nenekmu dulu, terlalu percaya, bahwa bayi nya akan dirawat dengan baik dan benar hingga dewasa."


"Nenekmu gak menyangka, kalau ternyata..."


Ujar Bude Intan lalu terdiam menahan tangisnya, dia pun tercenung, pandangan nya menatap pada ruang kosong, mengingat kembali pada masa lalu, tentang Randi.


Kilas balik Masa Lalu.


Saat itu, Randi kecil sedang dipukulin oleh Ibu nya, Mirna, Kakak sepupu dari Nenek Via Ibu kandung Papahnya yang sebenar nya.


Mirna dengan kalap nya memukuli Randi di depan rumah nya, tak perduli Randi meronta ronta kesakitan karena sabetan pukulan kayu ke badan nya.


Seorang Tetangga yang tak sengaja lewat di dekat rumah nya, mendengar teriakan Randi penasaran, dia mengintip dari kejauhan, melihat Randi sedang dipukulin Mirna tanpa ampun.


"Anak Sialan ! Anak Setan !!"


"Kamu bukan Manusia, tapi Monster !!"


Teriak Mirna sambil terus memukuli Randi kecil yang terjatuh di tanah, menahan rasa sakit dihantam kayu tubuh nya hingga mengeluarkan darah. Tangan Randi kecil meraih batu besar yang ada ditanah, dia raih batu itu lalu dengan cepat menghantamkan batu itu ke kepala Mirna yang tak sadar akan hal itu karena dia kalap terus memukuli Randi dengan posisi membungkuk.


Mirna Seketika terjatuh ke tanah, kepala bekas hantaman batu mengeluarkan darah segar, Randi kecil berdiri, tubuh nya kaku, tatapan mata nya tajam, menyeramkan, menatap pada Mirna yang terjerembab di tanah.


Randi kecil lalu menyerang Mirna yang masih sempoyongan lemah karena hantaman batu tak bisa melawan, Randi kecil menghantamkan batu itu ke wajah nya terus menerus, dengan kalap dan seperti orang yang tak sadar diri.


Melihat itu, tetangga yang melihat kejadian tersebut kaget, dia tak menyangka dengan apa yang di lihat nya itu, lalu dia berbalik arah, lari meninggalkan tempat itu.


Randi kecil menatap wajah Mirna yang terkulai dengan wajah berdarah darah, lemah tak berdaya.


"Aku memang monster, Kamu yang menciptakan aku jadi Monster."


Ujar Randi kecil menyeringai tajam pada Mirna yang mata nya melotot ketakutan melihat Randi kecil seperti itu, Randi kecil sekali lagi menghantam kan batu ditangan nya ke kepala Mirna, hingga akhir nya Mirna pun mati dengan mengenaskan ditangan Randi kecil.


Sesaat kemudian, Randi kecil terdiam, lalu dia tersadar, kembali normal , melihat Ibu nya terkapar di tanah dengan berdarah, Randi kecil panik, dia tak sadar apa yang sudah terjadi, Randi kecil mendekati Ibu nya yang sudah mati itu, mengguncang tubuh nya.


"Buuu.... bangun buuu.... Jangan tinggalin Randi...!!"


"Ibuuuu banguuun buuuu...."


Teriak Randi kecil menangis terus mengguncang tubuh Mirna yang sudah kaku tak bergerak lagi.


Beberapa saat kemudian, tetangga yang menyaksikan kejadian itu tiba di tempat itu dengan membawa Polisi dan beberapa warga lain nya, mendekati Randi kecil yang sedang duduk di tanah memeluk kedua kaki nya, diam tak bergerak.


Melihat tubuh Mirna tergeletak di tanah, dengan cepat Polisi mengamankan tempat itu.


Kembali ke Masa Sekarang.


Bude Intan menghentikan cerita nya, menarik nafas nya, melirik pada Via yang diam mendengar kan.


"Setelah kejadian itu, Papahmu di bawa dan di tahan."


"Karena dia masih di bawah umur, hukuman diberi keringanan, 2 tahun penjara anak, setelah itu, Papahmu di kirim ke panti rehabilitasi untuk melanjutkan masa tahanan dengan perawatan kejiwaan."


"Tentang kejadian itu, Nenekmu di kabari pihak kepolisian tentang kematian Nenek Mirna, Kakak sepupu nenekmu."


"Dari Polisi juga Nenek tau kalo Nenek Mirna mati di bunuh Papahmu."


"Nenek meminta keringanan dan memberikan jaminan pada pihak berwajib, untuk di izinkan membawa Papahmu agar dirawat di Pesantren milik Kakek Santoso, Ayah dari almarhum Paman Syamsul Bahri yang meneruskan Pesantren nya dulu."


Ujar Bude Intan pada Via yang masih terus mendengarkan dengan wajah yang serius.


"Tiap hari Nenek menemani Papahmu di Pesantren, memberinya perhatian, kasih sayang, cinta tulus seorang ibu kandung."


"Papahmu mendapatkan perlakuan istimewa dan cinta yang sebenarnya dari nenekmu, ibu kandung nya, yang selama dia lahir tidak di dapat dari orang tua angkatnya,Nenek Mirna."


ujar Bude Intan, dia diam sejenak, menarik nafas berat, lalu melanjutkan ceritanya.


"Lima Tahun Papahmu dalam masa tahanan dan perawatan rehabilitasi di pesantren, hingga berumur 15 tahun Papahmu keluar dari Pesantren dan hidup serta tinggal bersama kami di rumah."


"Sejak saat itu, kemurungan yang ada pada Papahmu perlahan hilang, dia mulai ceria, dia bahagia tinggal bersama kami."


"Nenekmu berusaha memberikan kasih sayang pada nya, menebus kesalahan nya pada Papahmu, berharap agar Papahmu bisa melupakan hal buruk yang terjadi dan memulai hidup baru."


"Tapi, kebahagiaan itu dirusak oleh hubungan antara Papahmu dan Om Rizal, adik kandung nya."


"Om Rizal yang nakal gak senang melihat Papahmu, apalagi melihat Nenekmu terus memberikan perhatian yang berlebihan."


"Sering sekali Om Rizal dan Papahmu bertengkar, Nenek mu selalu memisahkan mereka, agar gak terjadi apa apa."


"Nenek khawatir, sisi gelap Papahmu muncul lagi kalo terus menerus di ganggu dan di ajak ribut Om Rizal."


Bude Intan terdiam, kembali dia tercenung, mengingat sebuah kejadian di Masa Lalu.


Di Masa Lalu.


Saat itu Randi berusia 18 Tahun, dan Rizal berusia 14 Tahun, Saat itu Keluarga Randi sedang bertamasya, Mereka sedang berkemah di tempat Wisata.


Tempat Wisata itu terlihat Indah Panorama nya, dengan berjejer pohon pohon pinus yang tampak menawan.


Irmida, Mama dari Randi sedang memasak bersama Bude Intan, saat itu usia Bude Intan berumur 26 Tahun, mereka memasak dengan kompor khusus berkemah.


Sementara, Randi mengikuti langkah Rizal yang mengajak nya ke suatu tempat.


Setelah mereka tiba di pinggir jurang, Rizal berdiri di tepi jurang, menatap Randi, dia tersenyum licik.


"Kamu mau ngapain Zal, hati hati, dibelakangmu itu jurang."


Ujar Randi pada Rizal yang cuma tersenyum licik menatap wajah Randi.


"Kenapa kamu gak juga pergi dari rumah? Aku sudah sering bilang ke kamu, kalo kamu gak mau pergi dari rumah, bunuh aku."


Randi terdiam menatap wajah Rizal yang menatapnya tajam, menyeringai.


"Kenapa kamu gak bunuh saja aku sekarang ?"


"Kamu pasti selama ini ingin membunuhku kan ?"


"Kamu pasti punya niat buat bunuh aku setelah apa yang udah ku perbuat sama kamu selama ini."


"Aku tau, seorang pembunuh sepertimu pasti gak kan ragu membunuh lagi."


Ujar Rizal pada Randi, Dia tau juga kisah Randi yang pernah membunuh orang tua angkat nya karena membela diri nya yang di siksa, Rizal sangat benci pada nya karena, kasih sayang Mama nya terbagi, dia yang menjadi anak bungsu tidak mendapatkan kemanjaan seperti anak bungsu lain nya, Mama nya tidak membedakan antara dirinya dan Randi, itu yang membuat nya kesal, apalagi saat Rizal tahu masa lalu Randi, dia semakin jijik melihat Randi, walau pun abang kandung nya.


Randi masih saja terdiam, Bude Intan yang tak jauh berada melihat mereka yang berdiri di tepi jurang itu heran. tapi akhir nya dia cuek dan melanjutkan pekerjaan nya.


"Bukankah kamu dulu pernah bilang ke aku? Setelah apa yang udah kulakukan hingga kamu mendapat hukuman dari Mama ?"


"Saat itu aku sengaja memfitnahmu, mengatakan pada Mama bahwa kamu yang membunuh kucing kucing kesayangan Mama, padahal itu perbuatanku."


Ujar Rizal dengan tertawa kecil, Randi masih tetap diam saja tak bergeming.


"Saat itu, kamu menyeretku, membawaku ke lubang yang sudah kamu gali, melemparkan aku kedalam lubang, kamu ingin menguburku hidup hidup kan?"


Ujar Rizal tertawa menatap Randi yang lantas menatap tajam wajah rizal.


"Seorang Pembohong wajib di hukum atas perbuatan nya yang memfitnah orang lain."


Ujar Randi datar menatap wajah Rizal yang menyeringai, melihat wajah Randi mulai berubah, ada sedikit rasa ketakutan dalam diri Rizal, dia bersiap siap, berjaga jaga jika sewaktu waktu Randi menyerangnya.


"Kenapa?! Kamu mau membunuhku? Bunuh , ayo bunuh aku, lempar aku ke jurang ."


Ujar Rizal pada Randi, Randi menatap tajam wajah Rizal, lalu dia menggerak kan kaki nya, jalan satu langkah ke depan, Rizal bersiap, dia mundur satu langkah.


Randi menggerak kan kaki nya dan melangkah satu langkah lagi ke depan, Rizal pun bersiap mundur satu langkah ke belakang.


Intan yang melihat itu heran, melihat Randi yang melangkah mendekati Rizal, dan Rizal yang terus mundur melangkah mendekati tepi jurang kaget, dia cepat melompat berlari mendekati mereka.


"Hentikan Randi !"


Teriak Intan pada Randi yang tidak mendengarkan seruan Intan, dia terus melangkah satu langkah kedepan mendekati Rizal yang terus mundur, tiba tiba kaki Rizal berada di tepi Jurang, dia kaget hampir terjatuh. Intan panik.


"Rizaaalll !"


Intan lari hendak menangkap tubuh Rizal tapi tak jadi melangkah karena melihat Rizal sudah kembali berdiri dengan aman, mendengar teriakan Intan, Irmida, Mama mereka kaget melihat lalu lari ke arah mereka.


Wajah Randi tegang, tatapan mata nya tajam, dia melangkah perlahan mendekat pada Rizal yang mulai takut pada Randi.


Dia yang tadi nya memancing mancing dan menantang Randi akhirnya ciut juga nyali nya melihat Randi yang berubah sikap itu.


Saat Randi hendak melangkah kedepan mendekat pada Rizal, Irmida dengan cepat menahan dan memeluk tubuh nya erat erat.


"Jangan lakukan hal itu."


Bisik Mama nya pada Randi yang terdiam kaku mendengar suara Mama nya yang memeluk nya.


"Mama percaya dan yakin, Randi gak kan berbuat hal buruk."


"Mama yakin, Randi bisa menahan dan menyimpan semua, bahkan membuang jauh jauh apa yang ada dalam diri Randi."


Randi menggerakkan tubuh nya berusaha agar dilepaskan Mama nya pelukan nya, tapi Mama nya terus memeluk kuat dan erat tubuh Randi, menahan nya, sementara Intan menarik tangan Rizal, mengajak nya pergi menjauh dari tepi jurang itu.


"Randi orang baik, Mama yakin itu, Randi pasti bisa melawan nya, lawan apa yang ada didalam dirimu, jangan biarkan dia menguasai jiwa mu."


Ujar Mama nya dengan suara yang menahan tangisnya, Randi masih terdiam dalam pelukan erat Mama nya itu.


"Kalo Randi gak mau dengar Mama, biar Mama ikut dengan Rizal ke dalam jurang itu."


Mendengar ucapan Mama nya, Randi terkesiap, tubuh nya kaku, tangan nya menegang seperti mengalami keram , lalu Randi tersadar, dia kembali normal.


"Mama...Mama ngapain disini, nanti jatuh Ma."


Ujar Randi pada Mama nya, Randi bingung melihat Mama nya ada didepan nya, memeluk nya di dekat tepi jurang.


Melihat Randi sudah sadar dan kembali normal, Mama nya sangat senang sekali, dia memegang wajah Randi, menatap nya tersenyum.


"Mama tiba tiba kangen sama kamu, pengen peluk kamu."


Ujar Mama nya memeluk Randi, Randi pun merangkul dan memeluk tubuh Mama nya.


"Mama sayang sama Randi, Mama gak mau kehilangan Randi lagi."


Ujar Mama nya menangis.


"Randi juga sayang Mama, cinta Mama, gak mau kehilangan kasih sayang Mama lagi."


Ujar Randi meneteskan air mata nya, mereka berpelukan di saksikan Intan dan Rizal yang menunjukkan wajah benci akan hal itu.