Go To Hell

Go To Hell
Bab 21



   Randi yang melihat Sita berdiri diam dihadapannya lalu menunjukkan bungkusan yang dibawanya.


"Via ada? Aku mau kasih oleh oleh buatnya."


Ujar Randi tersenyum.


"Siapa Sit ?"


Tanya Jumirah, Ibunya Sita dari dalam rumah mendekati Sita yang masih diam tertunduk.


Jumirah yang melihat Randi berdiri didepan pintu rumah tersenyum ramah.


"Eh Randi, ayo masuk sini."


Sapa Jumirah ramah pada Randi.


"Terima kasih bu, saya kesini cuma mau kasih oleh oleh buat Via."


Ujar Randi.


"Via nya belum pulang kerja, lembur mungkin."


Jawab Jumirah. Sita lalu bergegas pergi masuk kedalam rumahnya.


"Saya titip ini aja buat Via bu."


Ujar Randi memberikan bungkusan bungkusan berisi oleh oleh makanan dan pakaian kepada Jumirah yang menerimanya lalu meletakkannya di sebuah sofa yang ada didekat pintu rumah.


"Saya pamit pulang bu."


Ujar Randi.


"Loh, gak nunggu Via pulang, nanggung udah datang."


Ujar Jumirah .


"Lain kali aja bu. Mari bu."


Ujar Randi mengangguk pada Jumirah.


Jumirah melihat kepergian Randi, lalu kemudian dia menutup pintu rumahnya kembali dan menguncinya.


Dikamarnya Sita tampak wajahnya tegang, cemas dan takut bercampur aduk didalam dirinya, dia duduk di kursi meja rias yang ada dikamar, memijat mijat tangannya, ketakutan yang sangat muncul dalam diri nya setelah melihat dan bertemu Randi tadi.


Jumirah,ibunya Sita masuk kedalam kamarnya, mendekati Sita yang tampak ketakutan. Jumirah memegang bahu Sita yang melamun itu, Sita kaget ketika Jumirah memegang bahunya, melihat Jumirah, Ibunya yang berdiri dibelakangnya, Sita perlahan membalikkan tubuhnya dan menghadap ke Jumirah.


"Kamu kenapa ?"


Tanya jumirah lembut pada Sita.


"Aku takut Ma, kenapa dia harus muncul lagi dalam hidupku?"


Ujar Sita.


"Siapa ? Randi maksudmu ?"


Tanya Jumirah. Sita mengangguk lemah. Jumirah tersenyum memandang wajah Sita.


"Memangnya kenapa, Randikan datang mau ketemu Via ngasih oleh oleh.Bukan ketemu kamu."


Jawab Jumirah .


"Ya pasti ketemu aku kalo dia kesini Ma."


"Aku gak sanggup dan gak bisa ketemu apalagi melihatnya."


"Ini yang membuat aku khawatir selama ini,pas tau dari Via kalo papahnya tinggal didekat kita sekarang setelah cerai dengan istrinya."


Ujar Sita pada Jumirah.


"Randi udah berubah, gak kayak dulu, itu cuma kekhawatiranmu yang gak beralasan aja."


Ujar Jumirah menenangkan Sita.


"Tetap aku gak bisa Ma, aku gak bisa melihat wajahnya setelah apa yang terjadi dulu saat kami bersama."


Ujar Sita mulai menangis takut.


"Apa yang harus aku lakukan Ma?"


Ujar Sita diantara isak tangis rasa takutnya pada Randi.


"Ya gak lakuin apa apa,kayak biasa aja. gak ada yang terjadi ke kamu."


Ujar Jumirah.


"Itu udah berlalu, udah lebih dari sepuluh tahun, dan Randi selama itu juga udah berubah, udah gak seperti dulu."


Jelas Jumirah.


"Mudah mudahan aja gak terjadi apa apa sama mantan istrinya yang sekarang Ma karena mereka cerai."


Ujar Sita.


"Udah, kamu gak usah mikirin orang lain, yang penting kamu baik baik aja."


"Udah tenangin dirimu, orangnya juga udah pergi, ngapain kamu begini terus."


Ujar Jumirah pada Sita yang mengangguk lemah. Jumirah lalu keluar dari kamarnya meninggalkan Sita yang masih ada sedikit rasa panik dan kekhawatiran yang mendalam pada dirinya.


Sita berdiri dari duduknya, pelan melangkah menuju ranjangnya, Dia lalu merebahkan tubuhnya di ranjangnya. mencoba memejamkan matanya.


Terdengar suara motor berhenti didepan rumah malam itu, klakson motor berbunyi, terdengar suara Via yang baru pulang masuk kerumah, pintu dibuka oleh Jumirah .


"Papahmu tadi ke sini."


Ujar Jumirah.


"Oh ya, terus nenek bilang apa ke papah?"


Tanya Via sambil mendorong masuk motornya kedalam rumah dan memarkirkannya diruang tamu itu.


"Ya nenek bilang kamu belum pulang kerja,lembur. Terus langsung pulang papahmu."


Jelas Jumirah pada Via.


"Tuh, papahmu bawa oleh oleh banyak banget buat kamu."


Ujar Jumirah menunjuk ke bungkusan bungkusan yang banyak tergeletak di sofa ruang tamu itu. Via langsung mendekati dan membuka bungkusan tersebut.


"Waah banyak bangeet."


Ujar Via membuka satu persatu bungkusan bungkusan itu dengan wajah senang.


"Ini ada daster buat nenek nih dibeliin papah."


Ujar Via pada Jumirah, dia memberikan 4 baju daster kepada Jumirah yang tampak senang menerimanya.


"Ingat juga papahmu sama nenek."


Ujar Jumirah.


"Ya ingatlah ."


Ujar Via membuka bungkusan lain.


Lalu dia mengambil beberapa pakaian yang ada dari dalam bungkusan itu.


"Waaah bagus bangeeet, mahal ini pastinya."


Ujar Via melihat pakaian yang diberikan Randi buat nya. ada 6 stel pakaian . Via mencoba dibadannya.


"Bagus gak nek?"


Tanya Via.


"Bagus, nambah cantik kamu kalo pake itu, pinter papah nyari baju yang cocok buatmu."


Ujar Jumirah mengacungkan jempolnya dan tersenyum pada Via yang tertawa senang.


"Ini ada makanan khas Jogja juga dibeliin papah Nek."


Ujar Via pada Jumirah yang lantas mengambil bungkusan bungkusan berisi aneka macam makanan khas Jogjakarta.


Jumirah lalu membawa pakaian pakaian buatnya dan bungkusan bungkusan berisi makanan khas jogja itu ke dapur untuk menyimpannya.


Via tampak wajahnya bahagia menerima oleh oleh yang diberikan Randi, Papahnya itu kepadanya. Dia membawa pakaian pakaian barunya itu masuk kedalam kamarnya,Dia bahagia sekali malam itu.


   Diruang tamu rumahnya malam itu, Tampak Randi sedang menerima telepon .


"Iya nak, maaf ya, cuma itu yang bisa papah kasih buat Via."


Ujar Randi bicara dihapenya.


"Terima kasih pah."


Ujar Via dari seberang telepon.


Ujar Via pada Randi dihapenya.


"Iya nak."


Ya udah, Via istirahat ya, udah malam, besokkan mau kerja lagi."


Ujar Randi, tak lama Randi menutup teleponnya, meletakkan hapenya di meja ruang tamu, Randi tersenyum senang, karena pemberiannya disukai anaknya yang tampak senang mendapatkan oleh oleh darinya.


Randi memang sangat menyayangi Via anak semata wayangnya itu, apapun yang terjadi pada diri Via, Randi sanggup berkorban seluruh dirinya.


Perhatian, cinta dan kasih sayang yang selalu diberikan Randi dan tak pernah melupakan Via selama ini tak pernah hilang,walau Randi tinggal jauh diluar daerah dan menikah lagi. 


Via selalu mendapatkan perhatian ďan kasih sayang dari Randi, selalu berkomunikasi dengannya, Randi pun selalu menyempatkan untuk datang ke Jakarta 2 x dalam sebulan untuk bertemu Via dan memberikannya uang untuk bekal uang jajan dan biaya sekolahnya, itu dilakukan Randi sejak Via SD kelas 6, setelah Via diambil hak asuhnya oleh Sita, Mantan istrinya, Ibu kandung Via.


Hingga Via lulus sekolah ,kuliah, dan sekarang bekerja Randi tetap memberikan Via uang dan kasih sayang.


Itu sebabnya Via sangat kesal dan kecewa pada Yana, Istri Randi yang selalu disebutnya dengan Bunda Yana karena telah mengusir papahnya dari rumah.


Dan Via sangat senang sekali bisa bertemu lagi dengan papahnya,bisa berdekatan dengan papahnya sekarang.


   Randi dan tim inti dari produksinya sedang bersiap siap, kru Randi sibuk mengemas barang dan memasukkannya kedalam mobil, mereka membawa barang yang hanya diperlukan untuk Hunting Lokasi .


Hari itu mereka akan bersiap untuk memulai Hunting dan berangkat ke Jogjakarta.


"Udah gak ada yang ketinggalan kan Win ?"


Tanya Pak Jay, pimpinan produksi pada Erwin, seorang Unit Manager di kantor nya.


"Udah semua pak Jay, udah saya cek ke tiap departemen."


Ujar Erwin.


Yang ikut Hunting ke jogja bersama Randi adalah chip art designer, Cameraman ,Unit Manager beserta Pimpinan Produksi.


Mereka lalu masuk kedalam satu Mobil. Mobil yang dipakai Hunting adalah Mobil Randi pribadi, Randi menyalakan mesin mobilnya.


"Biar Erwin aja yang nyetir pak Randi."


Ujar Pak Jay yang duduk di Jok depan samping Randi. Randi tersenyum.


"Gak apa pak, Nanti gantian aja kalo saya capek ."


Ujar Randi.


"Oke pak."


Jawab Erwin yang duduk di jok tengah mobil itu. Mobil Randi pun kemudian melaju keluar dari halaman kantor mereka.


   Di lain hari, saat subuh, Yana hendak menyapu teras rumahnya, membuka pintu depan rumahnya, ketika itu Yana sangat kaget sekali melihat ada Ayam mati berlumuran darah jatuh tepat dibawah kakinya.


Yana kaget hingga terjatuh dan duduk dilantai depan pintu rumahnya, melihat bangkai ayam berdarah itu, Yana jijik dan mual, Yana kemudian berdiri, dilihatnya di pintu bekas darah ayam tersebut, sepertinya ayam itu sengaja digantung didepan pintu rumah Yana.


Dengan rasa takutnya, Yana melihat ke kanan dan ke kiri sekitar teras rumahnya,sepi tidak ada siapa siapa dijalanan depan rumahnya subuh itu.


Yana menjadi takut, ia mengurungkan niatnya untuk menyapu dan membersihkan teras dan halaman rumahnya subuh itu, dengan cepat Yana menutup kembali pintu rumahnya dan menguncinya.


Yana lalu meletakkan sapu kemudian lari masuk ke kamarnya dengan penuh ketakutan.


   Pagi itu Yana meminta tolong tukang sampah yang biasa datang mengambil sampah kerumahnya untuk mengambil dan membuang bangkai ayam.


Setelah kepergian tukang sampah itu Yana lalu bergegas menuju motornya, mengeluarkan motornya dan pergi dari rumahnya, tak lama Dewi keluar dan menutup pagar rumahnya, kemudian masuk kembali kedalam rumahnya.


   Cafe Milik Yana masih sepi, belum ada costumer yang datang, Tak lama Yana datang dan masuk berjalan mendekati Kasirnya.


"Pak Herry belum datang juga ?"


Tanya Yana.


"Belum bu."


Ujar Kasir Cafe.


"Kemana tuh orang, udah hampir seminggu gak keliatan."


"Untung kamu pegang satu kunci serep pintu cafe, kalo gak bisa gak buka buka kita."


Ujar Yana pada Kasirnya.


Yana memang sengaja membuat kunci duplikat ,selain dipegang Herry kunci aslinya, Yana menyimpan satu kunci duplikat dan satu kunci duplikat lagi dipegang oleh karyawannya agar bisa membuka cafe tanpa harus menunggu Herry bangun tidur dan membuka Cafe.


Yana berbuat hal itu karena tidak ingin sesuatu hal terjadi,hingga menghambatnya untuk membuka cafenya. Dia melakukan itu juga dulu saat bersama Randi.


Seperti saat itu, Yana sudah hampir seminggu tidak melihat Herry, Dikamarnya yang ada dilantai atas cafe pun Herry tak ada, pintu kamar terbuka.


Yana tampak kesal pada Herry yang menghilang itu. Dia berkali kali mencoba menelpon ke hape Herry, tapi tak bisa dihubungi, Hape Herry mati. Yana tampak semakin kesal.


"Kemana sih kamu Mas ?"


Gumam Yana.


   Randi dan timnya tampak sedang berada di suatu lokasi perkampungan asri di Jogjakarta, tampak Erwin, unit managernya sedang bicara dengan salah seorang pemilik rumah, sementara Guntur, art Desainer memotret rumah rumah yang ada dan sekitar jalanan perkampungan itu, Sementara Wijaya, Cameraman sedang mengambil gambar perkampungan itu dengan camera yang dibawanya, Randi tampak mengamati mereka.


Jay berdiri disamping Randi menunggu, Tak lama Erwin berjalan ke arah Randi.


"Gimana Win ?"


Tanya Jay.


" Oke kata yang punya rumah, tinggal izin erte erwe sama kelurahan aja."


Ujar Erwin.


"Siiip, yuk lanjut."


Ajak Randi pada mereka, Jay, Erwin,Guntur dan Wijaya berjalan mengikuti Randi masuk kedalam mobil. Erwin menyetir mobil Randi.


Mobil pun pergi dari perkampungan itu ketempat lokasi hunting lainnya.


   Yana melangkah menuju motornya yang terparkir di tempat parkir cafenya, saat hendak memakai helmnya, datang seorang laki laki remaja mendekati Yana, memberikan sebuah amplop coklat besar pada Yana.


Yana heran melihat itu.


"Buat saya ?"


Tanya Yana.


Laki laki remaja itu mengangguk.


"Dari siapa ?"


Tanya Yana lagi sambil menerima amplop itu . Anak Remaja itu menggeleng lalu pergi lari tinggalkan Yana setelah Yana menerima amplop coklat itu.


Yana melihat amplop itu, tidak ada tulisan apapun diluar amplop. Yana berfikir, dia heran.


Yana lalu masuk kembali ke dalam Cafenya. mengurungkan niatnya untuk pergi karena penasaran dengan amplop itu.


Didalam Cafe, Yana duduk disebuah kursi dan meletakkan amplop diatas meja, sesaat Yana menatap ke amplop, menarik nafasnya, Lalu Yana memberanikan diri untuk membuka amplop tersebut.


Perlahan Yana menyobek bagian atas amplop coklat itu, setelah amplop terbuka, Yana melihat kedalam amplop. ada banyak lembaran photo photo didalamnya.


Yana kemudian menuangkan amplop itu ke meja, photo photo yang ada didalam amplop pun bertaburan di meja.


Saat melihat photo photo itu, Yana kaget luar biasa, tak menyangka apa yang dilihatnya pada photo itu.


Yana terdiam sejenak memandang ke photo photo yang berserakan diatas meja.


Beberapa menit kemudian Yana tersadar, lalu tangannya mengambil salah satu photo diatas meja, mengangkatnya dan melihat photo tersebut.


Yana kaget melihat isi photo itu.


"Mas Herry ??"


Terlihat di photo itu Herry sedang memegang tangan Yenni saat mereka bertemu didepan Cafe Yana waktu itu.


Melihat hal itu, Yana mengambil lagi photo photo lainnya, melihat photo photo itu.


Terlihat ada Herry bersama Yenni didepan rumah Yenni ,disalah satu photo terlihat Herry mencium seorang bayi usia 2 tahun yang digendong seorang wanita.


Yana mengambil photo photo lainnya, ada photo photo Herry bersama Yenni di Mall berjalan mesra, saat berbelanja,saat membeli pakaian ,saat berada direstoran dan tertawa mesra,saat berboncengan dimotor Herry dengan Yenni merangkul pinggang Herry mesra.


Yana terhenyak, tak percaya dengan apa yang dilihatnya itu, Yana melempar photo photo itu ke meja, photo photo itu berserakan.


Wajah Yana tampak menahan geram,marah dan rasa kecewa melihat photo photo itu.


"Apa yang kamu lakukan dibelakangku Mas ?"


Gumam Yana menahan geramnya karena mengetahui Herry bersama wanita lain di photo photo yang diterimanya itu.


Tatapan mata Yana kosong kedepan, jiwanya terguncang, dia terhenyak, tak percaya akan hal itu.