Go To Hell

Go To Hell
Bab 63



Saat itu, Rizal menemui Via di sebuah rumah kontrakan yang di sewa Via, Lokasi kontrakan itu berada jauh di perkampungan yang bernama Manisrenggo, masuk ke dalam wilayah Klaten.


"Kamu benar, papahmu datang mencari Yana dan hampir saja membunuh pamannya." Ujar Rizal pada Via.


"Aku tau gimana papah, dia akan memakai cara apapun agar mendapatkan yang dia mau, sekalipun harus membunuh." Ujar Via datar.


"Via minta Om lindungi kakek Mulyono karna dia baik dan udah nolongin Via, bebasin Via saat dijadikan sandera bunda Yana." Ujar Via, Rizal kaget mendengar Via sempat dijadikan sandera oleh Yana.


" Kamu di sandera Yana ?" Tanya Rizal menatap tajam wajah Via.


"Iya Om, tiba tiba bunda Yana ngamuk dan menunjukkan kebenciannya ke Via, dia mengikat, menampar bahkan memaksaku makan dengan cara seperti anjing." Ujar Via menjelaskan dengan raut wajah yang dingin.


"Waah...waah, makin kacau kalo gitu." Ujar Rizal.


"Iya Om, itu yang buat papah semakin ngamuk, dan gak peduli lagi dengan semuanya, aku tau, papah gak terima aku diperlakukan buruk, makanya dia bunuh anak bunda Yana , buat peringatan agar jangan sekali kali menyentuhku, anaknya." Ujar Via.


"Karena itu juga Via berfikir, papah pasti semakin nekat dan ingin cepat cepat membunuh bunda Yana, dia pasti nekat datang kerumah itu dan menyerangnya, makanya Via minta Om lindungi kakek Mulyono dirumahnya." Ujar Via memberi penjelasan, dari raut wajahnya tersimpan sesuatu hal yang berusaha di rahasiakannya pada Rizal, ada suatu rencana yang sedang di pikirkannya saat itu.


"Nekat Yana, kalo dia gak mengikatmu, Om yakin, anaknya gak kan dibunuh." Ujar Rizal, Via mengangguk lemah, masih dengan tatapan dingin.


"Via yakin, papah pasti akan datangi rumah bunda Yana karena gak puas dan gak bisa nemui dia di rumah kakek Mulyono." Ujar Via.


"Aah, kalo dia nekat, sama aja dia bunuh diri datang kerumah Yana. Polisi makin banyak menjaga rumah dan melindungi Yana, gak ada ruang sedikitpun buat Randi bisa masuk ke dalam rumah, apalagi sampe mendekati Yana." Ujar Rizal.


"Om mengawasi rumah Yana, dan Om liat, penjagaan semakin di perketat, menambah polisi polisi di setiap sudut rumah Yana berjaga jaga." Ujar Rizal, Via menatap tajam wajah Rizal.


"Papah pasti punya cara buat menjebak dan memancing bunda Yana agar jauh dari polisi polisi itu, aku yakin." Ujar Via.


"Om, tolong awasi gerak gerik papah, kalo dia nekat juga menerobos penjagaan dirumah itu, halangi dia, aku gak mau papah mati konyol." Ujar Via menatap lekat wajah Rizal.


"Ya...yaya...untuk kamu, Om pasti awasi papahmu." Ujar Rizal.


"Ngomong ngomong, kamu sekarang tinggal di rumah ini ? Gak di hotel lagi ?" Tanya Rizal sambil memandangi seisi ruangan rumah kontrakan sederhana itu.


"Iya Om, habis uangku kalo berhari hari di hotel terus, aku dapat kontrakan yang sangat murah ini, jadi selama urusan belum selesai, aku tinggal di sini, Om juga boleh kok tinggal di sini." Ujar Via pada Rizal.


"Aah, Om tetap di hotel aja, editor top dan handal kayak Om, banyak duitnya, tenang aja, kikikikikik." Ujar Rizal sambil tertawa khas, Via tersenyum , dia tahu kalo Omnya itu kerja sebagai editor film dan sinetron yang laku, dan punya banyak duit dari penghasilan yang didapatnya, jadi memang Via gak heran kalo Omnya itu hidup royal.


"Ya sudah, Om pergi dulu ya, nanti Om kabari kamu." Ujar Rizal.


"Iya Om."Jawab Via.


Rizal lalu pergi keluar dari rumah kontrakan Via, setelah kepergian Omnya, Via menarik nafasnya, raut wajahnya terlihat berfikir, dia merencanakan sesuatu, tatapan matanya dingin. 


Ada yang beda dengan sikap Via akhir akhir ini, berbeda dari yang biasanya, sejak perlakuan buruk yang didapatnya dari Yana, sikap, gerak gerik, tingkah, pembawaan diri Via berbeda, ada sesuatu yang terjadi dalam dirinya, kadang bersikap seperti biasa, kadang bersikap seakan tak peduli dengan semua hal, kadang menjadi orang yang asing sendiri. Ada yang tengah terjadi di dalam diri Via setelah penyanderaan dirinya.


Di hari lainnya, Randi mengintai rumah Yana, dengan memakai masker wajah dan jaket dia mengawasi rumah Yana, wajahnya terlihat kesal karena melihat begitu banyak polisi polisi yang berjaga di depan rumah Yana. Ternyata benar apa yang di katakan Rizal, setelah kejadian yang menimpa polisi dirumah paman Mulyono, Gunawan, menambah dan menugaskan petugas kepolisian untuk berjaga disekitar rumah Yana dan melindungi Yana, hal itu dilakukan agar kepolisian tidak lagi kecolongan oleh aksi Randi seperti saat dirumah paman Mulyono yang mengakibatkan kematian polisi polisi terbaiknya.


"Siaal, aku harus cari cara agar bisa menyulik Yana dari rumahnya." Ujar Randi menahan geramnya, dia lalu berbalik, menyelinap pergi meninggalkan rumah Yana untuk menyusun rencana lain.


Di dalam rumahnya, Yana masih sama seperti hari hari sebelumnya, dia tetap berada di tempatnya, duduk sambil memegang senapan angin yang dibelinya, bersiap siap untuk menyambut kedatangan Randi. Yana sudah siap jika Randi benar benar datang menemuinya, maka Yana akan menembak Randi dengan senapan berburu yang disiapkannya itu.


Sementara para petugas kepolisian berada dalam posisi dan pos mereka masing masing dirumah Yana, berjaga jaga.


Di rumah kontrakannya, Via terlihat berada di kamar kosong kontrakan yang di sewanya itu, memiliki 2 kamar tidur dan 1 kamar mandi, Via sengaja memilih rumah kontrakan di daerah Manisrenggo, agar jauh dari perkotaan, dia mencari tempat yang benar benar sepi dan sunyi, jauh dari riuh keramaian seperti di kota, dia membutuhkan ketenangan, untuk itu dia memilih daerah Manisrenggo untuk tempat tinggalnya sementara.


"Maafin Via pah, aku harus melakukannya, karena sepertimu, aku juga gak bisa menerima apa yang udah terjadi padaku ini." Ujar Via menatap ruang kosong dengan tatapan dingin, apa yang sedang di fikirkan dan di rencanakan Via saat ini ? 


   Di suatu tempat, terlihat Randi sedang berfikir keras mencari cara agar dia bisa cepat menangkap dan membunuh Yana, dia tidak mungkin bisa menerobos masuk ke dalam rumah Yana, jika dia nekat menerobos pertahanan para polisi yang banyak , sekitar 15 orang dirumah Yana, itu sama saja dia bunuh diri, sama halnya seperti yang dikatakan Marwan dulu dan apa yang terjadi pada Marwan saat di butik. Tidak ada jalan lain buat Randi, dia harus segera mencari cara yang lebih mudah, dia harus bisa menjauhkan Yana dari para polisi yang ada dirumahnya itu.


Setelah lama Randi berfikir, dia pun akhirnya menemukan cara yang menurutnya Yana pasti akan menurutinya. Randi cepat mengambil ponsel dari kantong celananya, menghubungi Yana, dia menunggu. 


   Dirumahnya, Yana yang sedang duduk menunggu berjaga jaga mendengar ponselnya berbunyi, Yana melirik ponsel yang ada di atas pahanya, ada nama Randi tertulis di layar ponsel, dengan cepat Yana mengambil ponsel dan menerima panggilan tersebut.


"Dimana kamu sekarang ! Temui aku, hadapi aku kalo kamu berani, aku gak takut denganmu !" Ujar Yana langsung menyerang Randi dengan ucapannya saat dia tahu yang menelponnya itu Randi.


"Aku memang mau mengajakmu ketemuan, agar kita bisa segera menyelesaikan urusan kita." Ujar Randi dari seberang telepon.


"Ayo datang temui aku, jangan bersembunyi ditempat persembunyianmu kayak tikus !" Ujar Yana geram pada Randi di teleponnya.


"Kalo polisi polisi gak banyak dirumahmu, dari kemaren kemaren aku pasti udah datang nemui kamu." Ujar Randi di teleponnya.


"Kalo kamu mau ketemu aku untuk membalaskan dendammu karena aku membunuh anakmu, keluarlah dari rumahmu, kita ketemu ditempat lain." Ujar Randi pada Yana.


"Dimana tempatnya, cepat bilang, biar aku datangi kamu, aku udah gak sabar ingin membunuhmu !" Ujar Yana semakin geram, dia menekan suaranya yang terlihat marah agar tidak terdengar oleh petugas polisi yang ada di sekitar rumahnya. Yana tidak ingin polisi mengetahui jika dia sedang berbicara dengan Randi.


"Pergilah, temui aku di rumah lama kita bareng lor, aku tunggu kamu disana mulai sekarang. Ingat ! Jangan sampai polisi tau kamu pergi dari rumah itu." Ujar Randi di teleponnya.


Yana terdiam sejenak, dia berfikir, mengapa Randi bisa berada di rumah lama mereka, bukankah rumah itu sudah laku terjual dan dibeli orang lain ? Yana berfikir, lalu dia bicara kembali di teleponnya.


"Kenapa harus dirumah itu ? rumah itu udah ku jual, kenapa kamu bisa masuk kesana ? atau...kamu yang membeli rumahku itu lagi dulu dengan menyamar jadi orang lain, karena Herry gak mengenalmu ?" Ujar Yana mencoba mencari tahu kebenarannya pada Randi. Terdengar suara tawa Randi dari seberang teleponnya.


"Hahahaha, kamu benar benar cerdas Yana, bisa cepat menyadarinya." Ujar Randi.


"Aku membeli rumah itu karena gak mau orang lain yang menempati, bagiku, rumah itu begitu banyak kenangannya." Ujar Randi di teleponnya.


"Dirumah itu kita mulai membangun kesuksesan dan kebahagiaan, dan aku ingin, dirumah itu juga kita mengakhiri segala hal yang pernah terjadi, aku akan menghapus semua kenangan dan dirimu di dalam rumah itu." Ujar Randi diteleponnya, Yana terlihat menahan marahnya.


"Tunggulah, aku pasti datang dan membunuhmu! Akan ku balas perbuatanmu membunuh Dewi anakku!" Ujar Yana geram.


"Cepatlah datang, aku udah gak sabar menunggumu." Ujar Randi lalu mematikan teleponnya, mengetahui teleponnya dimatikan Randi, Yana semakin marah, tatapan matanya tajam menahan luapan emosi amarah yang bergejolak di dadanya, Yana berdiri dari duduknya, dia melangkah cepat masuk ke dalam kamarnya, tak ada satu pun petugas polisi yang ada di dalam rumah Yana, polisi mematuhi permintaan Yana agar berjaga jaga hanya di luar rumahnya saja, tidak masuk ke dalam rumahnya.


Di dalam kamarnya, Yana cepat memasukkan senapan berburunya ke dalam tas senapan, memasukkan 3 kotak berisi peluru ke dalam tasnya, memeriksa ponselnya yang ada di kantong celananya, Yana terlihat terburu buru, dia ingin segera pergi menemui Randi, baginya lebih cepat bertemu Randi adalah hal yang baik, karena dia bisa segera menghadapi dan membunuh Randi dengan senapannya itu.


Yana pun segera keluar dari kamarnya, tas berisi senapan di letakkannya di bahunya, dia melangkah cepat , di ruang tamu, dia melihat ke arah luar rumahnya, ada beberapa polisi yang berjaga di teras depan rumahnya, dari balik horden jendela, Yana juga melihat ada polisi polisi yang berjaga jaga di halaman rumah dan depan pagar rumahnya, Yana menghela nafasnya, dia lalu berbalik melangkah menuju garasi mobil rumahnya, dengan mengendap endap dan bersembunyi agar tidak diketahui polisi, Yana berjalan menyelinap ke arah garasi, langkahnya terhenti saat melihat ada 2 polisi yang berjaga di garasi dekat mobilnya, Yana terlihat wajahnya kesal, lalu segera berbalik, kembali ke dalam rumahnya, dia berjalan cepat menuju belakang rumah, di belakang rumah, di dapur ada juga polisi polisi yang berjaga, Yana semakin kesal karena tidak ada ruang buatnya bisa melarikan diri dari rumahnya sendiri, karena tiap sudut ruangan rumahnya di jaga ketat oleh polisi polisi.


Yana berfikir sejenak, dia lalu melihat ke atas, pada loteng dilantai atas rumahnya, rumah Yana memang berlantai dua, sama seperti rumah lamanya dulu. Yana pun bergegas melangkah menaiki anak tangga menuju ke lantai atas loteng rumahnya, di lantai atas, Yana cepat membuka pintu yang ada di ruang lantai atas, dia lalu keluar ke teras luar lantai atas rumahnya, teras lantai atas itu biasa di gunakannya untuk menjemur pakaian pakaiannya, Yana terlihat lega karena tidak ada polisi yang berjaga di teras luar lantai atas rumahnya, Yana pun berjalan ke arah sisi tembok, saat dia hendak melompat, dia mengurungkan niatnya karena melihat dibawah, ada 2 orang polisi yang berjaga, Yana kesal, dia tidak bisa pergi dengan cara lompat dari tempatnya sekarang, Yana berfikir cepat, dia lalu melihat ke samping rumahnya, ke arah kebun miliknya, lalu dia melihat ke arah lain, ke rumah tetangganya yang berada tepat di samping rumahnya itu, Yana berfikir, dia menatapi rumah tetangganya itu, dia melihat ke bawah, mengukur jarak antara rumahnya dengan rumah tetangganya, dia mengatur nafasnya, menenangkan dirinya, lalu bersiap siap, Kemudian dengan cepat Yana berlari dan melompat ke arah genteng rumah tetangganya, Yana berhasil melompat ke rumah tetangganya itu, dia diam sejenak, karena saat melompat terdengar suara "bruuk", dia tak ingin suara itu memancing polisi, setelah dirasanya aman, lalu Yana dengan perlahan lahan jalan dengan cara merangkak, Yana berjalan di atas genteng rumah tetangganya, berhenti lalu melihat ke arah bawah pada tanah tempat kuburan keluarga, Kuburan keluarga itu sebagai pembatas antara komplek perumahan tempat tinggalnya dan kampung sebelah yang berbeda erte dan erwenya.


Yana segera menjatuhkan tas berisi senapannya ke tanah, lalu kemudian dia melompat turun dari atas atap genteng rumah tetangganya ke lokasi kuburan keluarga yang berada dibelakang rumah tetangganya, Yana terjatuh terguling ditanah area pemakaman keluarga itu. Kakinya keseleo, dia meringis menahan sakit, Cepat Yana berdiri, membersihkan dirinya dari kotoran tanah yang melekat di pakaiannya, lalu mengambil tas berisi senapannya dan meletakkannya di bahunya, lalu cepat Yana berlari meninggalkan lokasi pemakaman itu dengan terpincang pincang karena keseleo kakinya saat melompat turun dari atas genteng rumah tetangganya.


   Tiba di pinggir jalan raya tidak jauh dari rumahnya dari arah lain, berada di sebelah kampung rumah Yana, dia mendekati motor ojek yang sedang mangkal , melihat kedatangan Yana, tukang ojek yang tidak mengenal Yana karena berbeda kampung itu segera menyalakan motornya.


"Ayo mbak, mau kemana ?" Tanya tukang ojek sambil memakai helm pada Yana yang terlihat wajahnya penuh dengan kekhawatiran, dia melirik ke sana kemari, melihat lihat apakah ada polisi yang mengejar dirinya dan mengetahui kalau dia pergi dari rumahnya, setelah dirasanya aman, Yana segera naik ke jok motor tukang ojek.


"Kebareng lor pak, nanti saya tunjukkan arahnya." Ujar Yana.


"Siaap !" Ujar tukang ojek memberikan helm pada Yana yang lantas memakainya. Kemudian motorpun pergi meninggalkan tempat itu. Yana terlihat lega karena berhasil keluar dari rumahnya tanpa diketahui para polisi yang banyak berjaga di sekitar rumahnya. Di raut wajahnya terlihat wajah yang menahan amarah, dia ingin cepat cepat bertemu Randi dan mengakhiri semua penderitaannya akibat perbuatan Randi selama ini. Yana duduk diam dengan wajah tegang di atas motor yang terus melaju menyusuri sekitar jalanan.


   Di dalam rumah lamanya, Randi duduk dengan tenang dan santainya di sebuah sofa, dia saat itu sedang menunggu dan akan menyambut kedatangan Yana dirumah itu, wajah Randi terlihat menyiratkan kekejaman, dia tersenyum dan menyeringai, tatapan matanya tajam jauh ke depan.