Go To Hell

Go To Hell
Bab 73



   Via membaca pesan yang dikirimkan papahnya dengan ekspresi wajah datar dan tenang.


"Untuk putri papah. Terima kasih telah menjadi putri terbaik yang pernah aku miliki. Sebentar lagi papah akan pergi jauh darimu, Nak, Tetaplah menjadi putri papah yang baik, Waktu terbaik dalam hidupku adalah Ketika menjadi papahmu.


papah mencintai Via melebihi cinta pada diriku sendiri.Nak, kamu adalah harta yang paling berharga milikku, Harapan terbesar papah adalah agar kamu selalu tahu bahwa papah sangat mencintai kamu. Selama ini papah sulit memahami seorang wanita, hanya satu wanita yang papah terus berusaha untuk memahami dirinya, ya, itu kamu anakku. Papah tahu, Via sosok perempuan hebat, kuat. Jangan pernah bersedih anakku. Jangan biarkan air matamu jatuh karena kepergian papah ini, tetaplah tersenyum, Berjuanglah dengan sungguh-sungguh, kelak kamu pasti mendapatkan apapun yang kamu inginkan.Papah pamit, jaga dirimu baik baik." Tulis Randi mengakhiri pesannya pada Via yang terdiam tak bereaksi membaca isi pesan tersebut.


Via lalu membuka pesan suara yang juga di kirimkan Randi padanya. Dia mendengarkan suara papahnya.


"Hai Nak, sebelum terlambat, sebelum papah lupa dengan semuanya, papah ingin menyapamu, Nak, maafkan papah selama ini gak ada waktu menemani hari harimu sejak kamu kecil hingga dewasa sekarang, maafin papah karena gak bisa memberikan semua yang kamu inginkan. Maafin papah karena membuatmu kecewa, maafin papah yang ternyata bukanlah superhero, bukan malaikat pelindung seperti yang kamu anggap selama ini, maafin papah membuatmu kecewa setelah tau papah seorang bajingan gila, psikopat, pembunuh, maafin papah sudah merusak hidupmu dengan jiwa papah ini.


Anakku, berjanjilah, hiduplah dengan baik, tetaplah berjalan dijalan kebaikan, berbuatlah kebaikan, jangan pernah ikuti langkah dan jalan hidup papah yang hina ini, jadilah anak yang terus membuat bangga mama dan nenekmu, juga aku.


Papah ingin Via tidak seperti papah. Selamat tinggal anakku, maaf kita harus berpisah dengan cara ini. Papah mencintaimu, selamanya." Ujar Randi di pesan suara yang di kirimkannya, setelah tak ada lagi suara Randi terdengar di pesan suara ponselnya, Via menutup teleponnya, dia meletakkan ponsel kembali ke atas meja, tercenung, menatap dingin jauh ke depan.


"Terlambat pah, maafin Via, Via udah menyelesaikan apa yang belum papah selesaikan, Via udah membalasnya." Ujar Via bergumam pada dirinya sendiri, lalu dia menggerakkan kepalanya, menoleh ke arah tempat tidur dimana Yana terikat, di tempat tidur itu, terlihat Yana sudah tak bernafas, dari lehernya terlihat luka lebar menganga dan darah yang mengalir, Via menggorok leher Yana dan membunuhnya dengan keji di kamar itu.


"Mata dibalas mata, tangan dibalas tangan, hinaanmu ku balas dengan hinaan, kau hancurkan hidup papahku, maka hidupmu pun hancur, hidup papahku berakhir, hidupmu juga berakhir. Gak ada kebahagiaan yang terbesar saat ini kurasa, aku bahagia membunuh dan mengirimmu kedalam kerak neraka jahanam Yana." Ujar Via pada mayat Yana yang terbujur kaku di tempat tidurnya, tatapan mata Via tajam, raut wajahnya dingin, terlihat dari air mukanya menunjukkan kekejaman yang begitu mendalam.


Yah, Via ternyata tidak berbeda dengan papahnya, sama seperti halnya seperti Randi, dia pun memiliki darah pembunuh dalam dirinya, berasal dari Randi.


Mengapa Via bisa membunuh ? Apa yang terjadi sebenarnya ? Untuk mengetahuinya, ada baiknya kita kembali ke masa lalu Via, agar terungkap bagaimana selama ini Via pandai menyimpan sisi gelap yang ada dalam dirinya, lebih baik dan lebih bersikap tenang daripada Randi yang memiliki kepribadian ganda.


Mundur jauh kilas balik ke Masa silam beberapa tahun lalu dari Via kecil dahulu.


   Tubuh mungil Via yang saat itu berusia 9 tahun terbujur lemah tak berdaya di lantai ruang keluarga rumahnya, darah segar mengalir dari bekas sayatan yang menganga dari pergelangan tangannya, pisau silet tergeletak tak jauh dari dirinya, Via kecil mencoba untuk bunuh diri dengan memotong urat nadinya. Kejadian saat itu disaksikan Jumirah, Neneknya yang dengan cepat membawanya ke rumah sakit, jika terlambat menemukannya, maka hidup Via berakhir saat itu.


Via melakukan hal nekat itu karena frustasi dengan keadaan keluarganya, dia memiliki trauma yang besar, karena hampir setiap hari dia harus menyaksikan pertengkaran antara mama dan papahnya, dia juga harus menyaksikan bagaimana papahnya sering memukul dan menendang mamanya, Nenek dan mamanya tidak pernah tahu jika ternyata Via selalu menyaksikan kekerasan dalam rumah tangganya, hingga jiwanya tertekan, menjadi anak yang tertutup, pendiam, dan menyimpan sejuta misteri dalam dirinya, sikapnya pun sering berubah ubah, susah ditebak apa yang di fikir dan di inginkannya.


Melihat sikap dan perubahan diri Via, mamanya merasakan ada sesuatu yang ganjil terjadi, dan dia tak ingin anaknya itu menjadi seperti papahnya, mamanya, Sita berusaha untuk menemani hari hari Via, menghiburnya, membawanya ke psikiater anak agar hilang trauma kekerasan rumah tangga yang selalu disaksikannya, ada rasa bersalah pada diri Sita, mamanya Via karena anaknya harus menyaksikan keributan antara dirinya dengan Randi, papah Via.


Saat bersama mamanya atau neneknya, Via selalu bisa menunjukkan sikap dan wajah yang ceria, seolah tak terjadi apa apa pada dirinya, namun itu semua berbeda, jika dia sedang sendirian dan merasa dirinya terusik oleh seseorang.


Saat di sekolahan, Via yang memang sehari harinya tertutup, pendiam dan lebih memilih menyendiri, tidak bergaul dengan teman temannya di ganggu oleh Surti, salah satu temannya yang kita akan mengingat di bab sebelumnya diceritakan, bahwa bapak Surti inilah yang dihajar habis habisan oleh Randi, papahnya Via saat datang kesekolah karena keributan antara Via dan Surti hingga di sidang kepala sekolah dulu.


Saat itu, Via merasa dirinya di usik hanya diam saja, dia tak melawan sedikitpun saat Surti dan ke dua temannya mengganggu dan menjahili, mereka membully Via, karena benci dan tidak suka pada dirinya.


Namun,di waktu lainnya, saat itu Via yang berada di dalam kamar mandi sekolahannya bertemu dengan Surti yang juga hendak buang air kecil, Surti dengan wajah bencinya pada Via menyenggol tubuhnya dan mendorongnya hingga Via hampir terjatuh, melihat tidak ada orang lain di dalam kamar mandi, Via pun marah lalu tanpa disadari Surti menyerangnya, Via menarik rambut Surti sekuat kuatnya, menendang kakinya hingga terjatuh, Via dengan geram menarik rambut Surti, menyeretnya, Surti teriak kesakitan, perbuatan Via itu sama persis yang dilakukan papahnya saat menyiksa mamanya, yang pernah disaksikan Via, Via tak perduli Surti teriak kesakitan, dia menginjak injak perut Surti, persis yang dilakukan Randi dulu saat menyiksa Sita, mama Via dulu. Lalu Via mengangkat tubuh Surti ,saat Surti berdiri, dia mencekik lehernya, tatapan matanya tajam, sorot matanya menakutkan Surti yang teriak minta tolong, tiba tiba Via yang tangan kirinya mencekik leher Surti menampari dan memukuli wajahnya sendiri dengan tangan kanannya, menarik rambutnya sendiri hingga berantakan, dari pinggir bibirnya keluar darah, teman teman sekolah dan guru datang masuk ke dalam kamar mandi karena mendengar teriakan Surti yang keras, saat itu mereka melihat Via terjajar kebelakang terjatuh dan kepalanya sengaja dibenturkannya ke dinding kamar mandi, berpura pura seolah olah Surti saat itu sedang menyiksanya, melihat Via yang terjatuh dan berdarah di lantai guru segera menolong Via, teman temannya hanya diam menyaksikan, Guru menegur dan marah pada Surti karena membuat Via terluka, namun Surti berusaha menjelaskan bahwa dia tidak melakukan itu, tapi Via sendiri yang melakukannya, Guru tak mau mendengar, karena dia tahu bahwa selama ini Surti dan teman temannya suka mengganggu Via, jadi saat itu guru lebih melihat Via sebagai korban.


Tidak ada yang mengetahui dan menyadari bahwa Via saat itu sedang memainkan peran sebagai korban, Via sedang menampilkan PLAYING VICTIM dihadapan guru dan teman teman sekolahnya, saat Via dibantu guru untuk berdiri, terlihat senyum licik dari bibirnya, dia melirik Surti yang terlihat marah padanya, saat Via berjalan keluar dari kamar mandi bersama gurunya, Via mencoba menyerang Surti , menarik rambutnya, guru mencegah perbuatan Via, dengan cepat membawanya pergi menjauh dari Surti yang diam menatap geram dan sedikit heran melihat sikap Via yang begitu berani memukul dirinya sendiri, menyakiti diri sendiri, seolah olah dia sedang di pukuli.


Karena kejadian itulah kepala sekolah menghukum Surti dan Via yang berkelahi, karena penjelasan keduanya berbeda, maka kepala sekolah memutuskan memanggil orang tua Surti dan Via, karena itulah, Randi dan bapaknya Surti datang ke sekolah, seperti yang sudah pernah diceritakan dalam bab sebelumnya.


Ada banyak hal keganjilan keganjilan dalam diri Via yang sudah muncul sejak dia kecil hingga beranjak remaja, saat dia sekolah di SMP, Via pernah dengan sengaja menginjak dan membunuh hamster temannya saat belajar kelompok dirumah temannya, perbuatan Via itu membuat temannya marah dan mengusir Via dari rumahnya, dan tidak mau belajar kelompok lagi bersama Via. Via membunuh Hamster kesayangan temannya karena tidak suka melihat temannya itu terlihat menyayangi hewan tersebut, tiba tiba saja dia tak menyukai hal hal yang dilihatnya orang terlihat senang dan bahagia, dia ingin orang orang tersiksa dan sedih, maka dari itu Via membunuh hewan kecil lucu tanpa alasan apapun.


Ada peristiwa besar yang terjadi saat Via duduk dibangku sekolah SMA dulu, dan kejadian itu hingga saat sekarang tak terungkap dan diketahui penyebab sebenarnya.


Saat itu, saat Via sudah remaja dan menjadi gadis cantik yang duduk di sekolah SMA kelas 2, di lantai paling atas gedung sekolahannya, dia sedang berkelahi dengan seorang temannya, Via memang menjadi anak yang sering berkelahi, melampiaskan semua kekecewaan dalam dirinya karena sering melihat penyiksaan papahnya pada mamanya.


Saat itu, terlihat aksi tarik tarikan rambut antara Via dan Andin, lawan berkelahinya, Via menampar pipi Andin, Andin berusaha membalas, namun Via dapat menangkis tangannya, Via mendorong tubuh Andin kepagar tembok pembatas koridor sekolahnya, sementara teman teman sekolah hanya diam menyaksikan perkelahian itu, tak ada yang berani memisahkan, karena mereka tahu bagaimana karakter liar Via jika sudah marah, saat Via mendorong tubuh Andin, dengan tipuannya, Via berhasil menipu mata teman temannya, Via sengaja menjatuhkan dirinya dari lantai atas koridor sekolahannya itu, jatuh dari pagar pembatas, dengan tangan kanannya menarik tangan Andin kuat, hingga Andin ikut terjatuh, Via meraih pagar pembatas dengan tangan kirinya, bergelantungan, sementara Andin yang ikut jatuh karena ditarik paksa Via saat menjatuhkan dirinya itu posisinya berada dibawah Via dengan tangan Via memegang tangan Andin yang terlihat ketakutan melihat kebawah, dia takut jatuh. Teman teman sekolah histeris melihat keduanya terjatuh dan bergelantungan, guru guru cepat datang berlari ke lokasi kejadian, Andin berusaha memegang tangan Via dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya dipegang Via tangan kanannya berusaha memegang tangan Via, agar Via bisa mengangkatnya ke atas, saat melihat guru guru datang, dengan cepat Via melepaskan pegangan tangannya pada tangan Andin, dan Andinpun terjatuh dari ketinggian, tubuhnya jatuh dengan keras di lantai halaman sekolah, dari kepalanya mengeluarkan darah, Via berpura pura teriak histeris melihat Andin yang terjatuh itu, dia melihat Andin tak bergerak lagi, Via minta tolong agar dibantu naik ke atas, guru guru cepat mengangkat dan menolong Via, setelah berhasil diselamatkan, Via berpura pura menangis memeluk salah seorang guru, dalam pelukannya itu terselip senyum licik dari bibirnya, karena berhasil membunuh Andin yang sangat dibencinya, dan tidak ada yang tahu jika dia sengaja menjatuhkan diri dan melepas pegangan tangannya dari Andin, agar Andin jatuh seperti bunuh diri.


Via mengatakan bahwa Andin melepaskan pegangan tangannya dan tidak mau dia menolongnya, karena itu pegangan tangannya terlepas dan Andin terjatuh, guru guru serta teman temannya percaya dengan yang dikatakan Via, karena mereka melihat memang Andin seperti yang melepaskan tangannya dari pegangan tangan Via. 


Tanda tanda Via menjadi seorang psikopat seperti Randi, papahnya sudah muncul saat dia kecil, dan tak ada yang mengetahui jika Via mengidap penyakit kejiwaan, hanya mamanya yang memiliki firasat kuat menyadari perubahan sikap anaknya, Via lebih tertutup, suka berubah ubah sikapnya, kadang ceria, kadang pemurung, dan ucapannya sering berubah ubah, bahkan yang tak pernah diketahui orang, Via selalu bisa memainkan playing victim dengan sempurna, menjadikan dirinya korban untuk membalas dan menyakiti orang yang dibencinya, tak ada yang tahu, Via yang sebenarnya selalu juara kelas disekolahannya memiliki sisi gelap yang begitu menakutkan saat dia marah, tidak ada yang tahu juga jika Via selalu bisa berbohong dengan baik, memutar balik semua kenyataan menjadi sebuah kebohongan yang selalu dipercaya orang karena dia bisa membuat orang melihat dan merasa iba serta percaya pada dirinya.


Karena hal itu, Via sempat rutin menjalani perawatan dengan psikiater, dibawa mamanya, dan hal itu dirahasiakan Sita, mama Via dari Randi yang tidak pernah tahu jika anaknya sama seperti dirinya.


Hingga perlahan lahan, Via bisa merubah dirinya, sedikit demi sedikit dia pun menyimpan semua kenangan kelam yang pernah dilihat dan diperbuatnya, Via berubah menjadi gadis yang berbeda seperti yang terlihat dan diceritakan sebelumnya, namun masih menyimpan sisi gelapnya, ternyata semua yang dilakukan dan di ucapkan Via hanyalah kebohongan belaka.


Kita kembali ke masa sekarang, dimana saat ini Via duduk dengan santai dan cueknya di kursi, dia melepaskan sarung tangan latek ditangan kirinya, tersenyum puas melirik mayat Yana.


Lantas, bagaimana Yana bisa mati di bunuh Via? Apa yang terjadi sebelumnya antara Via dan Yana hingga akhirnya, Via memutuskan untuk mengakhiri hidup Yana dengan membunuhnya? Akan segera diketahui nanti dalam bab selanjutnya, bagaimana proses pembunuhan itu terjadi pada diri Yana didalam kamar rumah yang dikontrak Via itu.