Go To Hell

Go To Hell
Bab 46



  Di jalan raya lainnya, terjadi kejar mengejar antara mobil pelaku penabrakan dan mobil ke empat personil polisi, mobil pelaku tabrakan melaju dengan kecepatan tinggi dijalanan, di susul mobil ke empat personil polisi yang jauh tertinggal dibelakangnya, mobil si pelaku penabrak berbelok memasuki jalan lainnya, mobil ke empat personil polisi terus mengikuti dan mengejarnya, saat berada di pertigaan jalanan yang sangat sepi dengan di kiri kanannya pematang sawah, supir yang membawa personil polisi menghentikan mobilnya, mereka kehilangan jejak si pelaku penabrakan, sudah tidak terlihat mobil pelaku penabrakan di sekitar jalanan tersebut, salah seorang personil polisi kesal karena buruannya lolos.


"Sial ! Dia berhasil lolos !" Ujar Kuncoro dengan wajah kesal.


"Kita balik ke tekape sekarang." Ujar Kuncoro memberi perintah pada supir, supir mengangguk lalu memutar balik mobil untuk kembali ke lokasi tempat terjadinya tabrakan.


   Mobil ambulance sudah tiba di tempat kejadian, paramedis menggotong tubuh Santoso yang sudah meninggal, mereka berhasil mengeluarkan tubuh Santoso dari dalam mobil yang rusak parah terbalik dijalanan itu, tubuh Santoso dimasukkan ke dalam mobil ambulance, Kuncoro dan ketiga personil polisi tiba di lokasi, segera mereka turun dari mobil, ketiga personil polisi mengamankan tempat kejadian, sementara Kuncoro melangkah mendekati Gunawan yang saat itu berjalan menuju mobilnya.


Saat Gunawan hendak membuka pintu mobilnya, Kuncoro datang menegurnya.


"Orang itu berhasil lolos." Ujar Kuncoro pada Gunawan.


"Kalian balik ke kantor, saya menyusul." Ujar Gunawan.


"Siap." Ujar Kuncoro, lalu pergi meninggalkan Gunawan yang lantas masuk kedalam mobilnya.


Saat Gunawan duduk di jok depan stir mobilnya, Yana yang bersembunyi di jok belakang mobil duduk di jok belakang, dia bertanya pada Gunawan.


"Apa yang terjadi ?" Tanya Yana pada Gunawan.


"Santoso meninggal karena tabrakan, beruntung ibu sudah di pindahkan Santoso ke mobil saya." Ujar Gunawan. Mendengar Santoso yang kecelakaan dan meninggal, wajah Yana pucat, dia semakin takut.


"Saya akan antar ibu ke rumah sekarang." Ujar Gunawan menyalakan mesin mobilnya, Yana hanya mengangguk lemah, pandangannya kosong.


   Alunan musik bergema dengan suara kencang, memecahkan keheningan suasana malam, Randi meneguk minuman di gelas yang di pegangnya, seperti biasa, Randi menari nari, berputar putar berdansa ria, dia saat ini sedang menikmati kemenangannya karena berhasil menghancurkan Yana, dia menganggap bahwa Yana akhirnya mati dalam kecelakaan itu, wajah Randi terlihat merasa puas dengan rencana yang di jalaninya.


   Di dalam kantor, terlihat ada papan nama di meja kerja, " Kapten Harun Rasyid", di dalam ruang kantor itu, ada Gunawan yang sedang melapor pada Kapten polisi yang bernama Harun Rasyid. Wajah Kapten polisi terlihat sangat marah, dia menggebrak mejanya.


"Bagaimana bisa, kalian ber enam tidak mengetahui keberadaan Randi !" Ujarnya pada Gunawan yang ternyata selama ini kita sebut dengan Polisi 1, dan Santoso sebagai Polisi 2.


"Kami tidak menduga kalo Randi sudah menunggu di sisi barat lampu merah." Ujar Gunawan.


"Sebelumnya Santoso sudah memberitahu saya, kalo dia tau, Randi mengikuti kami sejak dari butik, Santoso yang punya ide memindahkan bu Yana ke mobil saya, agar dia bisa memancing Randi ke jalan lain, tapi ternyata, hal tak terduga terjadi pada dirinya." Ujar Gunawan.


"Sekarang juga cari Randi dan kaki tangan yang membantunya, jangan sampai dia lolos lagi, segera bekuk, saya tidak mau tau alasan apapun lagi !" Ujar Kapten Polisi Harun Rasyid tegas dengan nada suara tinggi.


"Siap kapten, laksanakan !" Ujar Gunawan hormat, lalu pamit pergi keluar dari ruangan kapten polisi yang terlihat kesal dan marah karena Santoso, salah satu anak buah terbaiknya mati.


   Kuncoro, personil polisi sedang mengecek cctv di area lampu merah perempatan jalan, tempat terjadinya tabrakan mobil Santoso.


Dari cctv terlihat jelas, jalanan itu sepi dan lengang, terlihat di gambar mobil Santoso yang berada paling depan di jalan itu menunggu lampu lalu lintas yang sedang menyala merah, sementara di sisi lain jalan perempatan lampu merah, terlihat mobil pelaku tabrakan yang menunggu di jalanan itu, saat lampu berganti hijau, begitu mobil Santoso mulai berjalan, mobil si pelaku tabrakan langsung menginjak gas dan melaju dengan kecepatan tinggi, kemudian menghantamkan mobilnya ke mobil Santoso hingga terjungkal mental dijalanan itu. Semua kejadian yang terjadi terekam dengan jelas dari cctv itu. Dari cctv itu juga Kuncoro mengetahui jika kecelakaan itu memang sudah direncanakan, dari bukti gambar cctv yang menunjukkan kalau mobil si pelaku penabrak sudah lama menunggu dijalanan itu, jauh sebelum kedatangan mobil Santoso, mobil Gunawan dan mobil dia dengan ketiga personil polisi. 


Kuncoro menemui Gunawan yang duduk diam di kursi kerjanya, melihat kedatangan Kuncoro, Gunawan segera bertanya padanya.


"Bagaimana hasilnya ?" Tanya Gunawan.


"Dari cctv, pelaku sengaja menunggu kedatangan kita di jalan itu, kalo Randi mengikuti kita seperti yang di bilang Santoso, berarti, yang menabrak mobil Santoso kaki tangannya." Ujar Kuncoro.


"Cari mobil dan pelaku yang menabrak Santoso itu, kerahkan tim buru sergap mencarinya." Ujar Gunawan.


"Siap !" Ujar Kuncoro lalu meninggalkan Gunawan yang tampak berfikir.


   Sejak kejadian tabrakan itu, setelah Gunawan mengantarkan Yana pulang kerumah pamannya, Yana terlihat lesu tak bersemangat, ketakutan ada dalam dirinya, dia termenung, duduk diam di sebuah sofa. Paman Mulyono mendekatinya. Melihat kedatangan pamannya, Yana menatap wajah paman Mulyono, tatapannya nanar.


"Jika aku gak pindah mobil, pasti aku sudah mati bersama pak Santoso semalam." Ujar Yana lirih.


"Tuhan sayang sama kamu, berterima kasih pada pak Santoso yang mengorbankan dirinya untuk menyelamatkanmu, doakan dia." Ujar paman Mulyono lembut, Yana mengangguk, dia menghapus air matanya yang mulai jatuh dipipinya, menarik nafas berat. 


"Aku semakin takut paman, jujur, tiap hari aku dihantui ketakutan, bayang bayang Randi selalu muncul didepanku, bagai hantu datang gak mau hilang." Ujar Yana.


"Jika dia tau aku selamat dari tabrakan itu, pasti dia semakin kalap dan akan berbuat lebih gila lagi sampai berhasil membunuhku." Ujar Yana.


"Aku takut, karena aku, terjadi hal buruk pada keluargaku, pada anakku." Ujar Yana menangis.


"Sudah, kamu tenangkan dirimu, paman udah minta tolong pak Gunawan buat menjemput Dewi dirumah jogja, biar dia berkumpul di sini bersama kamu dan paman." Ujar paman Mulyono, Yana menarik nafasnya berat. 


Via yang menginap dirumah paman Mulyono hanya bisa berdiri diam melihat Yana yang menangis sedih dan penuh ketakutan itu, Via terpaku diam, mengetahui kejadian yang menimpa Yana, dia tidak tahu harus bagaimana.


Tiba tiba ponsel Via berbunyi, ada pesan yang masuk di ponselnya . Via lantas melihat ke nomor yang mengirim pesan itu, tidak bernama, dia lantas mengklik pesan dan membacanya.


"Akhirnya papah berhasil menuntaskan dendam papah, Yana sudah mati, dan papah bisa tenang menjalani sisa hidup papah nak." Tulis pesan tersebut yang ternyata dari Randi, Via yang membaca pesan itu menghela nafas, dia menatap Yana yang bersama paman Mulyono, lalu dia berbalik melangkah berjalan menuju kamar mandi yang ada di ruangan lain rumah paman Mulyono.


Di dalam kamar mandi, Via mengambil ponsel pemberian Randi, lalu menghubungi ke nomor ponsel Randi. Tak berapa lama dia menunggu, telepon diangkat Randi, Via langsung bicara.


"Apa yang udah papah lakukan ?! Hentikan semua ini pah, jangan berbuat nekat !" Ujar Via bicara di ponsel dengan suara berbisik agar tidak terdengar orang orang yang ada dirumah itu.


"Aku senang papah gagal, Iya. Bunda Yana selamat, dia masih hidup, ada dirumah sekarang, yang ada di dalam mobil itu semalam cuma polisi menyamar." Ujar Via berbisik di ponselnya memberitahukan pada Randi.


"Kalo papah terus mengejar bunda Yana, Via bakal cegah papah !" Ujar Via menutup teleponnya, dia menarik nafasnya berat, lalu membuka pintu kamar mandi, keluar dari kamar mandi, dia melihat sekitar ruangan, tidak ada siapa siapa, lalu dia melangkah menuju ke ruang keluarga tempat Yana dan paman Mulyono berada.


"Siaaal , Siaaalll !! Bangsaaat !! Kau mau main main denganku Yana, lihat aja, liat aja Yanaaa, aku akan berbuat lebih gilaaa kepadamu !! Aaaaggghhhh !!" Randi teriak mengamuk, tubuhnya terduduk dilantai ruangan itu, dia memegang kepalanya, menahan rasa sakit di seluruh kepalanya, Randi mengerang kesakitan, meraung raung kesetanan, untuk kemudian tubuhnya terkulai jatuh ke lantai, pingsan.


   Dewi, anak Yana yang di jemput Gunawan tiba di rumah paman Mulyono siang itu, Dewi berlari masuk kedalam rumah, dia teriak memanggil mamanya.


"Mamaaa.... Dewi dataaang !" Teriak Dewi, Yana dengan cepat keluar dari kamarnya, berlari ke arah Dewi, dia memeluk anaknya penuh kerinduan, menciumi wajah anaknya berkali kali, wajah Yana lega karena Dewi ada didepannya.


"Mama kangen sama kamu." Ujar Yana.


"Dewi juga." Jawabnya.


"Kamu gak apa apa kan ? kamu baik baik aja kan ? Gak terluka kan?" Tanya Yana memeriksa tubuh anaknya itu, Dewi melihat sikap mamanya merasa aneh, dia tersenyum menatap wajah mamanya.


"Dewi baik baik aja kok ma, sehat." Ujarnya tersenyum, Yana lega mencium dahi Dewi.


Gunawan yang menjemput Dewi datang mendekati Yana, bersamaan dengan paman Mulyono yang juga datang , dia berdiri disamping Yana, Dewi yang melihat paman Mulyono segera mencium tangan paman Mulyono.


"Kakek." Sapa Dewi mencium tangan, paman Mulyono tersenyum padanya, mengelus kepala Dewi.


"Sekarang kamu bisa tenang karena Dewi udah berkumpul di sini, dan pak Gunawan akan memperketat penjagaan." Ujar paman Mulyono, Yana mengangguk, dia mengajak Dewi untuk duduk di sofa, Dewi mengikuti mamanya duduk di sofa.


"Iya, kami sudah mengerahkan tim buru sergap untuk menyusuri seluruh lokasi antara area klaten dan jogja, mencari keberadaan Randi dan kaki tangannya, saya juga sudah menambah personil polisi untuk berjaga dirumah ini, melindungi bu Yana beserta keluarga di sini." Ujar Gunawan menjelaskan.


"Terima kasih pak." Ujar Yana pada Gunawan.


Via yang datang ke ruangan itu menatap Dewi, dia tersenyum.


"Apa kabar ndut, eh udah gak gendut, agak kurusan sekarang ya." Sapa Via pada Dewi dengan becanda, Dewi yang melihat ada Via di rumah itu wajahnya senang, langsung berdiri menghampiri Via yang juga melangkah menghampirinya.


"Mbaaak Viaaa, Wie kangeeen." Ujar Dewi memeluk Via yang juga lantas memeluknya. paman Mulyono tersenyum melihat ke akraban mereka.


"Dewi dan Via memang akrab dari awal mereka ketemu dan kenal paman, tiap hari selama Via di rumah kami dulu saat liburan lebaran, pasti bersama Dewi, saling becanda." Ujar Yana menjelaskan pada pamannya.


"Sekar mana ? mbak kira sama mbak Sekar datang dari rumah jogja." Tanya Via pada Dewi yang lantas terdiam saat ditanya tentang Sekar, begitu juga dengan Yana, wajahnya berubah sedih mendengar nama Sekar disebut Via. Via yang tak mengerti menatap wajah Dewi yang diam, lalu dia menatap wajah Yana yang tertunduk diam.


"Bukannya selama ini Dewi sama Sekar sengaja tinggal dirumah jogja bun ?" Tanya Via pada Yana.


Yana menghela nafasnya dengan berat, dia menguatkan dirinya, menatap wajah Via .


"Sekar sudah meninggal Via, bunuh diri." Ujar Yana lirih memberitahukan pada Via yang langsung kaget dan syock mendengarnya, dia seakan tak percaya dengan semua itu.


"Bunuh diri ? Gak mungkin Sekar nekat." Ujar Via , air matanya mengambang di kelopak matanya, berusaha ditahannya agar tidak jatuh. Via sedih mendengar Sekar bunuh diri, karena Sekar juga sangat akrab dengannya, dan Via merasa sangat dekat dan menganggap Sekar serta Dewi seperti adik kandung sendiri selama itu.


"Sekar hamil diluar nikah, gak ada yang bertanggung jawab, gak tahan menanggung beban dan rasa malu, dia stres, syock, pikirannya terganggu, bunda rawat dia dirumah sakit jiwa sebelum akhirnya dia bunuh diri disana." Ujar Yana menangis, Via melangkah mendekati Yana, duduk di samping Yana.


"Maafin Via bun, gak tau tentang Sekar, maaf Via udah buat bunda mengingatnya." Ujar Via merasa bersalah, Yana menghapus air matanya, menarik nafasnya, dia menatap wajah Via dan tersenyum.


"Gak apa kok, kamu kan memang belum ketemu Sekar, wajar kamu nanya, karena tau Dewi pasti selalu sama Sekar." Ujar Yana. Via mengangguk.


   Malam itu, di kamarnya, Yana sedang rebahan, ponselnya berbunyi, dia melihat sebuah nomor yang tak ada nama, Yana ragu untuk menerima panggilan telepon itu, dia membiarkan ponselnya terus berbunyi, setelah ponsel mati, tak lama berbunyi kembali, terus begitu , akhirnya karena merasa berisik Yana pun menerima panggilan telepon tersebut.


"Siapa sih malam malam telpon, ganggu aja !" Ujar Yana kesal.


"Hell...lo Yana...kamu mau coba bermain main denganku ? " Ujar suara di telepon yang ternyata Randi yang saat itu menghubungi ponsel Yana. Mendengar dan mengetahui Randi yang menelponnya, wajah Yana tegang dan pucat.


"Tunggu permainan gilaku berikutnya untukmu Yana, lindungi dirimu, lindungi juga anak dan keluargamu, karena diantara kalian akan mati berikutnya." Ujar Randi dari seberang telepon , terdengar suara telepon di matikan, Yana tak bersuara, dia hanya diam tak bergeming, tubuhnya bergetar, wajahnya pucat pasi, ponsel terlepas dari tangannya jatuh kelantai, keringat dingin mulai keluar dari tubuhnya, ketakutan yang begitu hebatnya saat itu menyerang jiwa Yana saat mengetahui dan mendengarkan suara Randi yang mengancam dia beserta keluarganya. 


Tiba tiba Yana berteriak histeris.


"Aaaaaggghhhghhhgh...!! Apa maumuuuuuu !! " Teriaknya, suara Yana yang keras teriak melengking memecahkan keheningan suasana malam itu, membuat seisi rumah kaget dan panik mendengar teriakannya.


Gunawan menerobos masuk kedalam kamarnya di ikuti paman Mulyono, Kuncoro yang malam itu ada berjaga dirumah itu juga datang, mereka segera mendekati Yana yang panik terduduk dilantai kamar dengan memegangi rambut dan kepalanya, wajahnya penuh ketakutan.


"Ada apa Yana ?" Tanya paman Mulyono mendekati Yana.


"R..rr..Randi paman..." Ujar Yana gugup ketakutan, tubuhnya masih gemetar.


"Randi ? Maksud kamu, dia ada di kamarmu ?" Tanya pamannya.


Mendengar itu, Gunawan memberi isyarat pada Kuncoro agar segera menyelidiki sekitar rumah, mencari keberadaan Randi. Kuncoro mengangguk mengerti lalu cepat pergi keluar kamar.


"Randi...Randi menelponku paman, dia mengancamku." Ujar Yana menangis ketakutan. Paman Mulyono segera memeluk Yana untuk memberikannya ketenangan, Via dan Dewi masuk kedalam kamar itu, melihat mamanya menangis terduduk di lantai kamar Dewi segera lari mendekati mamanya, sementara Via terpaku berdiri diam melihat Yana.


Gunawan cepat mengambil ponsel Yana, melihat riwayat panggilan di ponsel Yana.


"Saya akan lacak nomor telponnya." Ujar Gunawan, paman Mulyono mengangguk, Gunawan lalu keluar dari kamar Yana, sementara Yana masih menangis gemetar dalam pelukan paman Mulyono. Via yang melihat Yana seperti itu hanya bisa diam menatapnya.