
Yana selesai berbelanja kebutuhan sehari harinya di pusat perbelanjaan, dia melangkah keluar mall mendorong troli yang penuh dengan belanjaannya, Yana keluar dari dalam mall menuju halaman parkir pusat perbelanjaan, berjalan ke arah tempat parkiran mobilnya.
Saat Yana tiba di dekat mobilnya, dia tak melihat Badrun di situ, Yana menoleh ke kanan dan ke kiri mencari cari, tapi tidak dilihatnya Badrun, Yana meninggalkan troli belanja di belakang mobil, dekat bagasi, dia melihat pintu depan mobil sedikit terbuka, dan satu kaki Badrun menjulur keluar, Yana tersenyum melihat itu.
"Kasihan mas Badrun, lama nungguin aku belanja sampe ketiduran gitu." Gumamnya.
Yana lalu melangkah ke depan mobil mendekati Badrun, Yana membuka pintu depan mobil dan menegur Badrun.
"Bangun mas..." Ujar Yana sambil membuka pintu depan mobilnya, tiba tiba tubuh Badrun terkulai dan jatuh keluar dari dalam mobil dengan keadaan kepalanya yang patah. Yana melihat itu kaget se kaget kagetnya.
"Maaaaass !!! Aaaaaaggghhhhh !!" Teriak Yana histeris melihat tubuh kaku Badrun yang tergeletak disamping mobil , Yana terduduk lemas di lantai parkiran.
Selembar kertas bertinta merah dengan tulisan "Hell...lo...Kamu ke Neraka!" terjatuh ke lantai parkiran dari tubuh kaku Badrun.
Orang orang disekitar pusat perbelanjaan yang ada di area parkiran kaget mendengar teriakan histeris Yana, mereka lalu berlari cepat mendekati Yana, ingin tahu apa yang terjadi.
Begitu orang orang mendekat dan melihat ada mayat tergeletak di samping mobil mereka pun ikut kaget, dan ada juga yang histeris panik teriak teriak. Satpam mall berlari lari dengan tergesa gesa mendekat, Satpam melihat ada mayat yang terbujur kaku juga kaget, dia cepat mengamankan tempat itu.
"Minggir...minggir !! Jangan mendekat !" Ujarnya melarang orang orang mendekat, sementara Yana yang terduduk di lantai parkiran menangis sejadi jadinya meratapi kematian Badrun.
"Maaaas Badruuuunnnnn !!" Tangis histeris Yana meratapi kematian Badrun.
Satpam lainnya berlari mendekat, begitu melihat ada mayat, dia cepat bereaksi, menghubungi pusat keamanan untuk memberitahukan bahwa ada mayat di parkiran.
Dari dalam mobilnya, Randi yang memarkir mobilnya sedikit jauh dari tempat mobil Yana terparkir menyaksikan semua kejadian itu, dia menyeringai puas melihat Yana yang menangis meraung raung meratapi kematian Badrun.
"Itu akibatnya buatmu Badrun yang suka ikut campur masalahku dengan Yana." Ujar Randi pada dirinya sendiri. Dia menatap tajam ke arah Yana.
Tak berapa lama, datang mobil polisi beserta ambulance ke halaman parkir pusat perbelanjaan itu, melihat polisi polisi datang, orang orang segera mundur untuk memberikan jalan pada polisi, petugas paramedis dengan cepat berjalan ke tempat mayat ditemukan, mereka membawa tandu, tiba di tempat kejadian, polisi dengan cepat bergerak mengambil alih untuk pengamanan tempat kejadian pembunuhan itu, sementara petugas paramedis menggotong mayat Badrun dan membawanya masuk kedalam ambulance. Petugas kepolisian dan ahli forensik yang juga datang kelokasi menemukan lembar kertas bertuliskan "Hell...lo...Kamu ke Neraka!" , petugas kepolisian mengambil lembar kertas itu, menyimpannya sebagai bukti.
Randi yang melihat kedatangan polisi polisi di situ, lalu menyalakan mesin mobilnya, dia menjalankan mobilnya, pergi dari tempat parkiran tersebut, wajahnya terlihat menunjukkan kepuasan.
Di kantor polisi, Yana duduk disebuah kursi, dia terlihat lemah, raut wajahnya menunjukkan kesedihan yang mendalam atas kematian Badrun, Polisi yang duduk di kursi, dihadapan Yana mencatat semua keterangan Yana sebagai saksi yang menemukan mayat Badrun.
"Apa saya bisa minta perlindungan dari kepolisian ini pak? nyawa saya terancam, Randi pasti terus mengincar saya." Ujar Yana disela tangisannya pada petugas polisi.
"Baik bu, kami akan berusaha memberikan pengamanan dan perlindungan untuk ibu, karena memang selama ini ibu sebagai target perburuan dari Randi, tersangka pembunuh berantai yang sedang kami buru." Ujar petugas polisi.
"Kami akan melindungi ibu." Ujar petugas polisi pada Yana, Yana menghapus air matanya yang mengalir di pipinya, dia masih terisak isak menangis, raut wajahnya menunjukkan ketakutan yang begitu besar melihat apa yang terjadi pada Badrun.
Yana berada di kantor kepolisian lebih dari 2 jam, saat itu, paman Yana, yang menjabat sebagai lurah disalah satu kelurahan yang ada di kota Klaten itu datang menemui Yana, Paman Mulyono datang karena dihubungi pihak polisi, sebagai keluarga dari Yana.
Paman Mulyono melangkah cepat masuk ke kantor polisi itu, dia mendekat kearah Yana, melihat Yana yang duduk dihadapan polisi, dia menyapanya.
"Yana..." Sapa Paman Mulyono lembut pada Yana, melihat pamannya datang, Yana pun menangis dan langsung memeluk tubuh pamannya.
"Pamaann...!" Ujar Yana menangis dalam pelukan pamannya, paman Mulyono menepuk nepuk bahu Yana, memberinya ketenangan, wajah paman Mulyono menyiratkan keprihatinan atas apa yang terjadi pada Yana.
"Saya Mulyono, lurah Jetis, paman Yana, dan juga paman dari korban Badrun pak." Ujar Mulyono pada petugas polisi.
"Silahkan duduk pak." Ujar petugas polisi pada paman Mulyono yang lantas mendudukkan Yana kembali ke kursinya, lalu dia pun duduk di kursi yang ada disamping Yana.
"Apa yang terjadi sebenarnya dengan keponakan saya Badrun ?" Tanya Mulyono pada petugas polisi.
"Menurut bukti dan kesaksian yang kami dapat, korban Badrun mati dibunuh dengan kondisi patah leher dan luka tusuk diperut serta luka luka disekitar wajah terkena pukulan benda keras." Ujar petugas polisi menjelaskan pada Mulyono.
"Dari bukti yang didapat, apa bisa diketahui siapa pelakunya ?" Tanya paman Mulyono.
"Di sekitar halaman parkir mall tidak ada cctv, jadi kami tidak bisa menemukan bukti fisik pelaku saat pelaku membunuh korban." Ujar petugas polisi.
"Sesuai bukti yang ditemukan, kami menetapkan, pelakunya Randi, pembunuh berantai yang menjadi buronan kepolisian." Ujar petugas polisi.
"Randi ?" Tanya paman Mulyono, dia kaget.
"Mantan suamiku paman." Jawab Yana pada pamannya dengan suara lemah dan datar.
"Mantan? kamu cerai dengan Randi? kapan ? Paman gak tau kalo kamu sudah bercerai, kenapa selama ini kamu jarang menemui paman? Ujar paman Mulyono pada Yana.
"Apa masalahnya hingga Randi berbuat senekat itu membunuh ? apa dia punya masalah dengan Badrun ?" Tanya paman Mulyono.
"Bukan dengan mas Badrun, tapi dia mengincarku, mas Badrun jadi korban karena selama ini melindungi dan menjagaku." Ujar Yana lemah.
"Maafkan Yana paman, maafin Yana...! Karena Yana mas Badrun meninggal...!" Ujar Yana menangis, paman Mulyono menatapnya iba, dia menghela nafasnya.
"Aku gak tau harus bagaimana mengabarkan pada kedua anak mas Badrun, aku gak sanggup bertemu mereka." Ujar Yana menangis.
"Sudah, jangan menangis, mulai sekarang, biar paman yang urus." Ujar paman Mulyono menenangkan Yana.
"Mulai sekarang, kamu tinggal dirumah paman, sampai polisi berhasil menangkap Randi." Ujar paman Mulyono.
"Sebagai lurah, saya meminta tolong agar pihak kepolisian menugaskan beberapa perwira polisi untuk berjaga dirumah saya sebagai pengamanan." Ujar paman Mulyono memohon pada petugas polisi.
"Baik pak, nanti akan saya sampaikan kepada atasan saya." Jawab petugas polisi.
Paman Yana melirik Yana, dia menggenggam tangan Yana yang menangis tertunduk itu, memberinya ketenangan.
Di pemakaman Badrun, ramai keluarga, sanak family Badrun dan Yana yang datang mengantarkan Badrun keperistirahatannya terakhir, kedua anak Badrun, Yuli dan Yuni ada di lokasi pemakaman itu, Yuli dan Yuni menaburkan kembang disekitar makam Badrun, mereka menangis sedih, sementara Yana yang berdiri di dekat mereka tak sanggup melihat Yuli dan Yuni yang telah kehilangan bapaknya, dia menyalahkan dirinya sendiri karena kematian Badrun, Paman Mulyono yang ada disampingnya merangkul Yana, menenangkan Yana.
Setelah selesai proses pemakaman, orang orang yang hadir di pemakaman itu bubar, begitu juga dengan Yana yang berjalan dirangkul paman Mulyono, wajah Yana sedih dan penuh dengan rasa bersalah, dia melangkah gontai.
"Mbak Yana..." Tegur Yuli , Yana terdiam, menghentikan langkahnya, dia lalu berbalik menatap ke arah Yuli dan Yuni yang ada dibelakangnya tadi. Paman Mulyono pun memperhatikan mereka.
"Maafin mbak Yana, maafin mbak... karena mbak, papah kalian meninggal, mbak menyesal." Ujar Yana menangis, kakinya lemah, dia terjatuh dan duduk bersimpuh di tanah, melihat hal itu, cepat Yuli dan Yuni menggotongnya agar Yana berdiri.
"Mbak, Yuli dan Yuni gak pernah menyalahin diri mbak." Ujar Yuli memapah Yana untuk berdiri.
"Yuli udah tau semua kejadiannya dari paman dan kepolisian, Yuli tau semuanya kenapa papah meninggal dan siapa yang membunuhnya." Ujar Yuli menangis menatap wajah Yana.
"Kami tau, papah berusaha memberikan perlindungan buat mbak, karena memang mbak Yana selama ini dianggap papah sebagai adik kandungnya sendiri, papah sangat sayang pada mbak Yana." Ujar Yuni menangis.
"Iya Yana, kamu pasti ingat, bagaimana Badrun melindungi kamu dari kalian kecil dulu, siapapun yang mengganggu kamu, Badrun pasti melindungimu." Ujar paman Mulyono.
"Jangan pernah menyalahkan diri mbak Yana sendiri atas kematian papah, Yuli gak mau lihat mbak Yana tersiksa, Yuli mau mbak Yana kuat dan semakin kuat." Ujar Yuli.
"Tunjukkan pada Randi, bahwa mbak gak kan menjadi manusia lemah setelah kejadian ini, jangan tunjukkan kalo diri mbak tersiksa, Randi akan senang dan puas kalo tau mbak Yana tersiksa." Ujar Yuni.
"Yakin , mbak Yana bisa melewati semua masalah ini, bisa bangkit untuk melawan." Ujar Yuli.
"Iya Yana, kami, keluargamu, akan melindungimu." Ujar paman Mulyono, Yana semakin menangis, Yuli menghapus air mata Yana, lalu Yuli dan Yuni memeluk Yana, mereka berpelukan dalam tangisan.
Via tiba di Bandara Kulon progo Jogjakarta, ternyata, Via bukan ke Kalimantan, tapi tujuan awalnya memang ke Jogja untuk menemui papahnya dan mencegah papahnya agar tidak semakin berbuat nekat. Via berdiri di halaman luar bandara Kulon progo, dia menarik nafasnya.
"Welcome bandara kulon progo, aku datang Jogja." Ujar Via bergumam sendiri.
"Maafin Via Ma, Nek , udah membohongi kalian, Via terpaksa berbohong, karena Via yakin, kalo Via jujur, kalian gak kan izinin Via ke Jogja." Via menghela nafasnya lalu melangkahkan kakinya menuju ke tempat penjemputan taksi yang ada di bandara itu, Via masuk kedalam taksi, taksi pun pergi meninggalkan bandara, mengantarkan Via ketempat tujuannya.
Yana yang saat itu tinggal dirumah paman Mulyono untuk sementara waktu terlihat sedang melamun, tubuhnya terlihat semakin kurus, raut wajahnya masih menyimpan kesedihan, Yuli dan Yuni datang mendekati Yana, mencoba untuk menghibur Yana, agar tidak lagi bersedih, Yuli dan Yuni memberikan makanan pada Yana , dan memaksanya untuk makan, Yana menolak, tapi Yuli dengan senyum lembutnya memaksa, dia menyuapkan makanan kedalam mulut Yana, memaksa Yana agar makan, agar tubuhnya tidak semakin lemah. Yana pun mau tidak mau memakannya.
Via turun dari taksi, dia melihat alamat yang ada di ponselnya, mengamati sekitarnya.
"Tunggu sebentar ya pak." Ujar Via pada supir taksi agar menunggunya, Via ingin memastikan benar tidaknya tempat itu sesuai dengan alamat yang diberikan papahnya.
Via melangkah masuk ke dalam gang rumah Randi, taksi menunggu didepan gang, tidak masuk, karena gang itu sempit, hanya bisa masuk satu mobil berukuran mobil sedan saja.
Via berdiri di depan sebuah rumah berlantai dua, mengamati rumah itu, dia lalu melangkah ke teras rumah, memencet bel rumah, tak ada suara terdengar dari dalam rumah, Via memencet bel rumah kembali, tapi pintu tetap terkunci.
Pak Samsir, ketua erte di lingkungan itu melihat Via berdiri di depan rumah Randi dan Yana lalu mendekatinya.
"Orangnya gak ada mbak, rumah itu kosong." Ujar erte Samsir pada Via yang lantas menoleh ke arah erte Samsir.
"Oh, maaf pak, bapak mungkin tau kemana pemilik rumah ini ?" Tanya Via.
"Rumah ini udah dijual mbak, udah setahun lebih kosong, ganti pemilik." Ujar erte Samsir.
"Di jual ?" Ujar Via kaget, dia berfikir, kenapa papahnya memberikan alamat rumah ini padanya, apa maksudnya ? Via berfikir. Lalu Via menatap wajah erte Samsir.
"Maaf pak, bapak tau, orang yang membeli rumah ini ? Atau mungkin bapak tau, dimana bu Yana dan pak Randi pemilik lama rumah ini tinggal sekarang ?" Ujar Via.
"Yang saya tau, rumah ini di beli orang Jakarta, siapa ya namanya? Oh iya, pak Sandi kata bu Yana dulu ke saya pas ngabari kalo rumahnya udah laku." Ujar erte Samsir.
"Terus, kalo pak Randi yang saya tau di Jakarta kerja, dan bu Yana tinggal di rumahnya yang di Jetak kidul." Ujar erte Samsir menjelaskan.
Mendengar itu Via senang.
"Maaf pak, bapak tau alamat lengkap rumahnya ?" Tanya Via.
"Maaf ya sebelumnya, mbak ini siapanya bu Yana dan pak Randi ?" Tanya erte Samsir.
"Saya Via, anaknya pak Randi yang tinggal di depok jawa barat." Jelas Via pada erte Samsir yang mengangguk paham.
"Saya sengaja datang kesini gak kasih kabar, niatnya mau kasih kejutan ke bunda Yana dan papah Randi, eh malah saya yang terkejut." Ujar Via tertawa pada erte Samsir yang juga tertawa melihat Via.
"Ada kertas mbak? biar saya tuliskan alamat rumahnya bu Yana." Ujar erte Samsir.
"Baik, sebentar pak." Ujar Via lalu mengambil secarik kertas dan pulpen dari dalam tas, lalu memberikannya pada erte Samsir, erte Samsir menuliskan alamat rumah Yana pada Via yang menerimanya.
"Selain rumahnya, mbak juga bisa ke cafenya bu Yana, saya udah tulis juga alamat dan nama cafenya, cuma setau saya, cafenya sedang renovasi sekarang, habis kebakaran." Ujar erte Samsir menjelaskan pada Via.
"Baik pak, terima kasih sudah mau memberitahukan pada saya. Saya permisi pak." Ujar Via pamit.
"Iya, silahkan mbak." Ujar erte Samsir.
Via lalu pergi meninggalkan erte Samsir yang lantas juga berjalan meninggalkan rumah Randi itu, Via masuk kedalam taksi, dia memberikan alamat di secarik kertas pada supir taksi, memberitahukan tujuannya, supir taksi lalu menjalankan taksinya.
Via berhenti di depan cafe milik Yana, dia membaca plang cafe " Dewi Sekar " , melihat cafe itu tutup dan sedang ada para pekerja yang sedang merenovasi cafe, Via menghela nafasnya.
"Kita ke alamat rumah yang satunya pak." Ujar Via pada supir taksi.
"Baik mbak." Jawab supir taksi lalu menjalankan mobil taksinya meninggalkan tempat itu.
Setibanya Via di rumah Yana, dia mengamati rumah itu, setelah merasa benar alamat rumah yang di kasih erte Samsir padanya, dia turun dari taksi, melangkah , dia melihat pintu pagar rumah terkunci, rumah itu terlihat kosong dan sepi, Via memukul mukul kunci gembok pintu pagar.
"Buuunn...Bunda Yanaaa..." panggil Via, tak ada jawaban dan orang yang keluar dari dalam rumah, Via melihat seorang warga, tetangga Yana yang sedang menyapu halaman rumahnya, Via mendekati warga tersebut.
"Maaf ibu, numpang tanya, apa benar itu rumahnya bu Yana ?" Tanya Via sopan, warga mengamati Via dan menatap wajahnya.
"Mbak siapanya ?" Tanya warga, tetangga Yana itu.
"Saya Via, anaknya yang pertama, tinggal di depok jawa barat." Jawab Via tersenyum.
Mendengar penjelasan Via, warga itu mengangguk mengerti.
"Bu Yana gak tinggal di rumahnya, katanya sedang ngungsi sementara kerumah pamannya yang lurah." Ujar tetangga Yana .
"Oh begitu ya bu." Ujar Via sedikit ada rasa kecewa karena dia tidak bisa bertemu Yana.
"Pamannya sengaja membawa bu Yana kerumahnya setelah kejadian pembunuhan dirumahnya itu." Jelas tetangga Yana pada Via yang kaget mendengarnya.
"Pembunuhan ?" Tanya Via kaget.
"Iya, kabarnya, saudara yang nemani dia selama di teror juga mati di bunuh, makanya bu Yana di ungsikan sementara." Ujar tetangga Yana pada Via yang terdiam, Via berusaha tetap tenang mendengar hal itu, tidak menunjukkan kepanikan dan rasa kagetnya.
"Baiklah kalo begitu bu, terima kasih, saya permisi." Ujar Via pamit, tetangga Yana mengangguk, Via melangkah meninggalkan tetangga Yana itu, dia berjalan gontai menuju mobil taksi yang masih menunggunya.
"Papah semakin nekat." Gumam Via lalu masuk ke dalam taksi dan menyuruh supir taksi untuk jalan , pergi dari tempat itu.