Go To Hell

Go To Hell
Bab 66



 Randi yang saat ini berubah menjadi kepribadian Roni yang ada dalam dirinya menatap tajam wajah Yana.


"Semua yang terjadi pada Sekar karena kesalahanmu." Ujarnya pada Yana yang lantas menatap tajam wajah Roni.


"Aku tau, kamu semakin sering menghindar dan menolakku untuk bersetubuh setiap aku memintanya  karena perselingkuhanmu." Ujar Roni.


"Aku sebenarnya ingin mengujimu, kamu masih mau melayaniku sebagai suami untuk berhubungan badan, atau menolak bahkan menghindarinya, karena kamu sudah berzinah." Ujar Roni lagi menatap tajam menahan geramnya.


"Sikap dan perlakuanmu yang semakin menjadi dan berani pisah ranjang dengan sengaja tidur di kamar tamu membuatku muak." Ujar Roni.


"Setiap kali kamu menolak permintaanku untuk melayaniku berhubungan badan, saat itu juga aku memikirkan bagaimana kamu begitu menikmati saat melakukan hubungan badan dengan selingkuhanmu yang sudah mampus itu." Ujar Roni mulai dengan tatapan penuh amarah pada Yana.


"Karena perbuatanmu itu, aku membantai dan membunuh, menyayat nyayat tubuh laki laki selingkuhanmu itu !" Ujar Roni tegas dengan menyeringai menyeramkan, Yana kaget mendengar itu, dia kini semakin yakin bahwa memang Randi yang membunuh Herry, kekasih yang menjadi selingkuhannya.


"Karena sikapmu yang semakin hari semakin menghindar dan menolak permintaanku, di saat itulah semua terjadi pada Sekar." Ujar Roni tersenyum sinis pada Yana.


"Kamu tau kan ? Sekar sangat manja padaku ? Jika anakmu itu merasakan sakit di tubuhnya, entah sakit kepala, pusing, sakit perut, bahkan sesak nafas karena asmanya kambuh, dia pasti selalu mendatangiku dan memintaku untuk memijat dan mengobatinya." Ujar Roni tersenyum sinis. Yana terdiam menatap tajam wajah Randi yang sudah menjadi sosok Roni tersebut.


Roni mengingat dan menceritakan kembali awal mula atas semua perbuatan yang dilakukannya pada Sekar di masa lalu.


   Kita kilas balik kembali kepada tahun tahun dimasa silam jauh sebelum beberapa bulan terjadinya perceraian antara Yana dan Randi.


Di tahun lalu itu...


   Sekar dengan manja pada Randi yang sedang duduk di ruang tamu, Sekar mengadu pada Randi dan mengatakan bahwa kepala dan badannya sakit, meminta Randi memijat dan mengobatinya, setiap merasakan sakit, Sekar terbiasa meminta Randi yang sudah dianggapnya sebagai bapak kandungnya sendiri itu untuk memijatnya, karena bagi Sekar, Randi bisa menghilangkan dan menyembuhkan sakit yang di rasakan Sekar.


Memang Randi dulu pernah belajar dan mengamalkan doa doa pengobatan saat dirinya berada di pesantren, ketika proses pemulihan penyakit yang dideritanya.


Entah karena sugesti atau Randi benar benar bisa menyembuhkan Sekar, yang jelas, Sekar merasa nyaman dan percaya, karena tiap kali Randi memijatnya, rasa sakit yang dialami Sekar hilang.


Karena kebiasaan Sekar yang manja pada Randi, Yana senang melihat anaknya manja dengan Randi, dan menganggap Randi seperti bapak kandungnya sendiri, Yana pun membiarkan Sekar bersikap manja bahkan sering rebahan tidur di pangkuan Randi, menggelendot manja bercanda ria dengan Randi. 


Hingga suatu saat, awal mula petaka itu menimpa diri Sekar...


Cuaca malam itu begitu dinginnya, hujan turun dengan derasnya, Randi tertidur, sementara Yana juga terlelap tidur dengan posisi membelakangi Randi, di tengah kasur antara mereka ada guling sebagai pembatas tidur yang sengaja dibuat Yana, agar Randi tidak mendekat ke tempat posisi Yana tidur.


Terdengar suara ketukan pintu berkali kali, dan suara tangisan Sekar dari luar kamar, Yana terbangun mendengar ketukan pintu yang keras dan suara Sekar memanggil manggil dengan menangis.


"Maaa...mamaa...papaahh... sakiiit...Sekar sakiiit, gak kuuaat, tolongin Sekar paah..." Ujar Sekar dari luar kamar dengan merintih menahan sakit.


Yana cepat terbangun dari tidurnya, dia segera berjalan dan membuka pintu kamar, Randi pun terbangun karena merasa terusik dengan suara berisik.


Yana melihat Sekar berdiri di depan pintu kamarnya dengan wajah menangis merintih memegang perutnya menahan rasa sakit yang sedang dialaminya.


"Kamu kenapa ? tengah malam hampir jam dua ganggu mama tidur?" Ujar Yana sedikit kesal pada anaknya.


"Perut Sekar sakit, dada nyesek, kaki Sekar juga nyeri , gak tau kenapa, sakit bangeeettt..." Ujar Sekar meringis nangis kesakitan.


Randi terbangun, dia turun dari ranjangnya mendekati Sekar dan Yana yang berdiri di depan pintu kamar.


"Ada apa ma ?" Tanya Randi.


"Ini Sekar, nangis nangis katanya sakit, kamu urus deh, aku ngantuk." Ujar Yana kesal lalu masuk ke kamarnya meninggalkan Randi dan Sekar, Yana menyerahkan semua pada Randi karena selama ini memang Randi yang selalu mengurus Sekar jika sakit.


"Ya udah, kamu ke kamarmu, tunggu papah, ntar papah obati." Ujar Randi lembut pada Sekar yang mengangguk lemah, Sekar lalu berbalik, dengan menahan sakitnya memegang perut, dia berjalan dengan pincang karena nyeri dan rasa sakit yang juga dirasakannya pada kakinya, Sekar berjalan menyusuri anak tangga, kembali ke kamarnya yang berada di lantai atas rumah. Randi masuk kembali ke kamarnya, dia mengambil obat gosok yang ada di meja pakaian, kemudian segera berjalan keluar kamar, Yana bangun dan jalan mengikuti Randi.


"Kamu tidur di kamar atas aja, jagain Sekar, biar dia gak bolak balik gedor kamar, ganggu aku tidur, kamar mau aku kunci dari dalam." Ujar Yana pada Randi dengan nada ketus, Yana memang sudah bersikap cuek pada Randi, karena dia sudah tidak ada rasa pada Randi, karena sudah berselingkuh, Randi keluar kamar, Yana pun menutup pintu kamar dan menguncinya, dia tak mau terganggu tidurnya, Yana kemudian merebahkan tubuhnya kembali di kasur.


   Di kamarnya, Sekar duduk di tepi ranjangnya, merintih mengerang erang memegang perut yang sakit, lalu memegang dadanya, dia merasa sesak, dia menangis karena tidak kuat menahan sakitnya itu, tak berapa lama, Randi datang dan masuk ke dalam kamar Sekar. Randi duduk di samping Sekar, dia mengoleskan obat gosok ke telapak tangannya.


"Kamu rebahan, biar papah obati perutmu." Ujar Randi.


"Nafas Sekar juga sesak pah, nyeri dada." Ujar Sekar meringis sakit.


Sekar merebahkan tubuhnya di kasur dengan posisi telentang, Randi lalu mengangkat baju tidur Sekar dan memegang perut Sekar, mulai mengobati, beberapa saat tangan Randi di perut Sekar, mengurutnya pelan untuk mengobati, Sekar diam menahan rasa sakit, Setelah berselang beberapa saat, Randi memegang dada Sekar, mengurutnya perlahan, kemudian naik ke atas leher sekar, memberikan pijatan, Sekar hanya diam saja saat Randi mengobatinya. Setelah itu, Randi pun memijat kepala Sekar, mengurutnya, Sekar mulai merasakan semua rasa sakit yang tadi di rasakannya berangsur angsur hilang.


"Kaki Sekar juga nyeri pah, dipangkal paha, gak tau kenapa, cuma bengkak, ada bekas biru dipaha." Ujar Sekar pada Randi dengan manjanya.


Sekar dengan cuek tanpa ada kesan risih pada Randi karena menganggap Randi seperti orang tua kandung dia sendiri membuka celana panjang tidurnya, agar Randi bisa melihat bekas biru di dekat pangkal pahanya dan mengobatinya. Celana tidur di gulung kebawah hingga dengkul Sekar, Randi mengoleskan obat gosok lagi di tangannya, lalu meletakkan telapak tangannya di paha atas Sekar, kemudian mulai memijatnya, mengobati Sekar yang diam saja. Randi melihat ada bekas biru di dekat pangkal paha Sekar, dia memegangnya, terasa ada benjolan di bekas biru itu, seperti terkena sesuatu, Randi mengurutnya pelan pelan Sekar meringis menahan sakit, Randi lalu mengarahkan tangannya ke pangkal paha Sekar, dia merasakan ada benjolan di situ, Randi pun segera memberikan pijatan untuk menghilangkan benjolan dipangkal paha Sekar, saat dia memberikan pijatan pelan disekitar paha dan pangkal paha Sekar, tanpa disengajanya jarinya menyentuh bagian paling intim Sekar, Sekar diam, dia memejamkan matanya, membiarkan dirinya di obati bapaknya. Randi terdiam sejenak karena tersadar dia baru saja menyentuh bagian pinggir kelamin Sekar, tiba tiba dia memutar kepalanya, mengerang menahan sakit di kepalanya tanpa bersuara, kemudian dalam hitungan detik matanya melotot tajam, menyeringai, dia berubah menjadi sosok Roni yang muncul dari dalam dirinya.


Randi yang sudah menjadi sosok Roni menatap tajam tubuh Sekar yang terlentang tidur di hadapannya, matanya melihat ****** ***** Sekar, sebuah ide gila muncul di benaknya saat itu juga.


Sekar membuka matanya karena Randi menghentikan pijatannya, dia melihat Randi yang terdiam menatap ke arah ****** ********, ke bagian intimnya.


"Kenapa pah?" Tanya Sekar lemah.


"Aah, udah, kamu tunggu ya, papah ambil air dulu buat kamu minum." Ujar Randi yang sudah menjadi sosok Roni berusaha bersikap normal pada Sekar yang mengangguk. Sekar tahu kebiasaan Randi, setelah selesai memijat dan mengobati dirinya, Randi pasti memberikannya air segelas besar untuk di minumnya sampai habis.


Randi yang sudah berubah menjadi Roni cepat berdiri dan melangkah keluar kamar, sikap dan gerak geriknya berbeda dari Randi, tapi Sekar tidak menyadari perubahan dalam diri Randi.


Di lantai bawah, tepatnya di dapur, Roni berjalan mundar mandir, memikirkan dan merencanakan sesuatu, kemudian cepat dia mengambil gelas besar, mengisi air ke dalam gelas, kemudian dia berjalan cepat ke arah ruang tamu, membuka laci aquarium berisi ikan arwana, Randi cepat mengambil obat bius cair dan obat perangsang yang memang selama ini di simpannya, dan Yana tidak pernah tahu karena tidak pernah menyentuh aquarium, apalagi membuka buka lacinya.


Obat bius cair itu ada karena memang selama ini Randi membeli dan menyimpannya, obat itulah yang digunakannya membius Riyadi, Bandi bahkan Antok sebelum membunuh mereka, sementara obat perangsang yang dimilikinya , dia beli sengaja untuk diberikannya pada Yana, istrinya karena sering menolaknya berhubungan badan, Randi kesal dan ingin melakukan secara paksa dengan memberikan Yana obat perangsang agar mau melayaninya, tapi niat dan keinginan itu tidak pernah bisa dilakukannya, karena Yana selalu menghindar dan menjauh darinya, tidak ada kesempatan Randi berduaan dengan Yana, apalagi memberikannya minuman yang sudah di campuri obat perangsang.


Sekarang, Randi bisa menggunakan obat itu dan memberikannya pada Sekar, dia lalu cepat menutup laci aquarium, kemudian berjalan kembali ke arah dapur.


Di dapur, saat dia hendak menuangkan obat bius cair ke dalam minuman, tiba tiba tangannya diam tak bergerak seperti di tahan seseorang.


"Hentikan Ron, apa yang mau kamu lakukan dengan anakku ?" Tanya Randi.


"Kamu diam saja ! Aku akan memberi pelajaran pada Yana." Ujar Roni.


"Apa maksudmu ?" Tanya Randi.


"Kamu diam saja ! Biar aku yang mengurus semuanya, ini akibatnya karena Yana terus menolakmu berhubungan badan." Ujar Roni geram.


"Gila kamu Ron ! Jangan lakukan itu! Sekar gak salah apa apa, jangan libatkan dia !" Ujar Randi marah.


"Sudah, diam kamu ! Jangan jadi laki laki lemah Randi ! Kamu lupa bagaimana kamu melihat dengan matamu sendiri istrimu Yana sedang di tindih dan di setubuhi laki laki sialan itu !!" Ujar Roni menatap tajam dengan geram pada Randi.


Dua sosok pribadi terjadi pertentangan dalam diri Randi saat itu, Randi menolak cara yang akan dilakukan Roni, sosok pribadi yang ada di dalam dirinya, namun, sosok Roni lebih kuat pengaruhnya saat itu, hingga bisa menyingkirkan sosok Randi dalam dirinya.


Randi pun menghilang, yang ada hanyalah sosok Roni saat itu dalam dirinya. Roni dengan cepat menaburkan obat bius cair ke dalam air di gelas besar, kemudian dia mengambil sebuah gelas plastik kecil, menaburkan obat perangsang dan memberikannya air pada gelas plastik, Roni kemudian mengaduk air dalam gelas besar dan gelas plastik kecil, dia menatap tajam menyeringai , dia melirik ke arah kamar Yana, dia tahu, saat ini Yana tidur lelap dikamar, dan kamar di kunci Yana, tentu Yana tak akan terbangun, dan dia bisa menjalankan semua rencananya dengan sempurna. Roni melirik pada boster cctv yang tergantung di atas meja makan, dia naik, dan mencabut satu kabel dari boster yang menempel di tembok, dia sengaja mematikan cctv yang berada di lantai atas rumahnya, agar tidak diketahui Yana saat dia melakukan rencananya.


Roni membawa gelas besar dan gelas plastik kecil ditangannya, segera naik ke lantai atas rumahnya.


Roni cepat masuk ke dalam kamarnya, dia melihat Sekar sedang terbaring sambil memijat mijat pelan kepalanya, rasa sakit di bagian kepala dan kaki serta pangkal pahanya sudah hilang, melihat papahnya masuk ke dalam kamar, segera Sekar bangun dan duduk di kasurnya, Randi yang berubah menjadi sosok Roni duduk disampingnya.


"Minum ini, habiskan semuanya." Ujar Randi yang berubah menjadi sosok Roni, memberikan gelas besar, Sekar pun meminum habis air yang ada di dalam gelas besar itu, kemudian Roni memberikan gelas plastik kecil pada Sekar yang lantas menerimanya dan meminum habis air di dalamnya.


"Sekarang kamu bisa istirahat tidur dengan tenang." Ujar Randi yang saat itu berubah menjadi sosok Roni, dan Sekar tidak mengetahui jika yang ada di hadapannya saat ini bukan Randi, melainkan sosok kepribadian lain yang dimiliki Randi dalam dirinya.


Beberapa saat kemudian Sekar terlihat sangat mengantuk dan lemah, pengaruh obat bius yang diberikan Roni mulai bekerja saat itu, Sekar menggigit bibirnya, memegang dan mengelus leher serta memegang dada dan menyentuh *********** sendiri, Sekar lalu merebahkan dirinya di kasur, tangannya mengelus paha hingga kepangkal pahanya, menggeliat sejenak, pengaruh obat perangsang mulai bekerja, Roni diam menatap tajam memperhatikan wajah Sekar yang mengeluarkan keringat dingin.


"Kok badanku kerasa sedikit panas dan keringatan ya pah?" Ujar Sekar dengan suara lemah menahan ***** yang mulai merangsang dirinya.


"Itu proses penyembuhan, airnya kan papah kasih obat sama bacaan doa , kayak biasanya." Ujar Roni pada Sekar.


"Tapi gak kayak biasanya pah." Ujar Sekar mencoba membuka matanya yang mulai hendak terpejam.


"Itu karena saat ini sakitmu banyak, kan nafasnya udah gak sesak lagi." Ujar Roni, Sekar mengangguk, tiba tiba dia sudah terlelap tidur, tak sadarkan diri lagi, Randi menatap wajah Sekar yang sudah terpejam tidur, dia memandang seluruh tubuh Sekar dari mulai atas rambutnya, menyapu pandangannya kebawah, kebagian dada, perut, hingga turun dan pandangannya berhenti menatap ****** ***** Sekar, Sekar belum merapikan celana panjang tidurnya, karena dia mengira masih akan di obati papahnya, Roni menatap lekat dan tajam pada tubuh Sekar.


"Indah, sangat indah pemandangan ini." Ujar Roni , dia menyeringai buas menatap Sekar yang saat itu sudah terlelap tidur, dalam keadaan pingsan karena pengaruh obat bius yang sangat kuat diberikan Randi, yang berubah menjadi sosok Roni yang bengis dan kejam saat itu.